Selasa, 23 November 2021
ANTROPOLOGI KE DUA BELAS
ingat identitsnya
1.Dalam antropologi ada istilah antropologi sosial, bisakah sdr menjelaskan dalam jika pada teman akrab sdr.
2.Bagaimana jika sdr bertemu dengan masyarakat terasing. Seagai orang Pendidikan Masyarakat . Apa yang sdr lakukan ?
3.Apa yang sdr lalukan dalam filsafat Antropologi dalam masyarakat terasing ? Jelaskan
4.Dalam filsafat psikoloagi apa yang kau ketahui tentang psikologi itu ? Jelaskan
5.Sebagai seorang pendidikan masyarakat, dalam bergau dengan masyarakat kota. Apa yang sdr lakukan ? jelaskan
6.Sebutkan minimal 7 tokoh Antropologi terkenal dunia.
7.Siapa sang Bapak Antropologi Indonesia, dan apa karyanya ?
8.Apa antropologi ragawi yang mereka lakukan ?
9. memelajari variasi biologis dan perilaku manusia, makhluk primata bukan manusia kenapa ? Jelaskan
10.Apa yang harus sdr lakukan dalam masa libur semester nan ? Jelaskan.
SELAMAT BEKERJA.
Minggu, 21 November 2021
KONSEP DASAR PENDIDIKAN MASYARAKAT KE DUA BELAS
INGAT IDENTITAS SDR:
1.Bagaimana tanda-tanda orang cerdas ? Jelaskan.
2.Kenapa disebut pendidikan Holisik ?
3.Apa kata Ainun Najib ? Menurut sdr
4. Jelaskan 3 kecerdasan dalam pendidikan
5.Bagaimana konsep Burns menurut sdr.
6.Apa saja menurut para tokoh tentang pendidikan ?
7.Bagaimana menurut Sdr tentang watak
8.Apa sebenarnya tentang temperamen itu
9.Bisakah watak dan temperamen itu bersatu ?
10.Bagaimana menurut Arif Budiman ? Jelaskan
11.Adakah yang sdr tokohkan dari sejumlah tokoh yang diuraikan sebelumnya ?
12.Kenapa olah raga catur memakan waktu cukup panjang ?
13.Kalau sekiranya sdr punya keterampilan lebih dari kawan yang lain, dipertunjukan. Apakah sdr dilarang ? Jelaskan.
SELAMAT BELAJAR
Minggu, 08 Agustus 2021
Tokoh Masyarakat Berkomentar: Jembatan Kahayan Perlu Perhatian Kita Semua
Kamis, 5 Januari 2012 - 11:55
Banjarmasin, Seruu.com -
Seorang tokoh masyarakat Kalimantan Tengah, Prof HM Norsanie Darlan mengharapkan instansi berwenang untuk melakukan penelitian terhadap kekuatan Jembatan Barito di Kabupaten Barito Kuala (Batola) Kalimantan Selatan.
"Pasalnya, tiap kali truk besar melintas jembatan tersebut sangat terasa ada goyangan di jembatan itu, seakan mau runtuh saja," kata guru besar Universitas Palangkaraya (Unpar), di Banjarmasin, Kamis (05/1/201).
Melihat kondisi yang cukup rawan tersebut, sebaiknya instansi terkait melakukan penelitian ulang lagi atas kekuatan Jembatan tersebut, agar runtuhnya jembatan serupa, di Kutai Kertanegara, atau jembatan di Sungai Mahakam tak terulang lagi.
Ia menyebutkan, Jembatan Barito yang diresmikan akhir dari era Orde Baru tersebut sangat membantu warga dua wilayah, untuk membuka keterisoleran antara Kalimantan Tengah dan Kalimantan Timur.
"Dulu sebelum ada jembatan Barito berpergian antara Palangkaraya (Kalteng) ke Banjarmasin (Kalsel) menelan waktu berhari-hari sekarang setelah adanya jembatan itu disamping kian baiknya jalan trans wilayah itu perjalanan hanya sekitar tiga jam saja," tuturnya.
Berdasarkan pengamatannya, intensitas lalu lintas menyeberangi Jembatan Barito begitu besar.
Setiap hari raturan truk besar dan membawa beban yang sangat berat seperti, Besi Beton,pasir, batu, semen, kelapa sawit, bahkan truk kontainer melewati jembatan yang berada di Desa Anjir tersebut.
Melihat intensitas lalu-lintas yang begitu tinggi membuat Pemerintah Kabupaten Barito Kuala hampir tidak pernah berhenti memperbaiki jalan di kawasan tersebut.
Melihat kondisi jalan begitu cepat rusak berarti beban yang melalui jalan kawasan itu begitu berat, dan tentunya mempengaruhi terhadap kondisi Jembatan Barito.
Belum lagi aktivitas lainnya di atas Jembatan Barito juga begitu tinggi,karena lokasi itu objek wisata seringkali terlihat mobil parkir di atas jembatan, bahkan begitu banyak orang menggelar dagangan di atas jembatan itu.
Bicara jembatan Kahayan, semakin tahun semakin meningkat volume lalu lintas. termasuk mereka yang mau melintas mau ke Buntok, Bartim, Barut dan Murung Raya. Bisa pula dari Bartim ini untuk menuju ke Banjarmasin atau ke utara ke Samarainda. Selain hal itu, ada 1 kabupaten lagi ke arah Gunung Mas.
Dengan memperhatikan banyaknya tujuan dari Palangka Raya yang ke 5 kabupaten di Kaliteng, dan 2 provinsi tetangga seperti Kalsel dan Kantim. bahkan ada pula ke Kalimantan Utara bisa melintas jembatan Kahayan ini. sehingga dengan faktor usia jembatan Kahayan yang kian tahun, kian memakan usia. dirasakan perlu untuk mendapatkan perhatian para teknisi jempatan di Kalimantan Tengah. agar tidak terjadi seperti di Kutai Kertanegara.
Mengingat begitu berat beban jembatan itu maka sewajarnya adanya penelitian ulang,atau kalau perlu rehabilitasi atau penambahan material bangunan lagi guna memperkuat ketahanan jembatan tersebut, demikian Norsanie Darlan yang kelahiran Desa Anjir tersebut. [ndis]
SUMBANGAN BUKU KARYA TULIS ILMIAH KE REKTOR UPAR
Prof.Norsanie Darlan Sumbangkan Ribuan Buku Ke UPR
BeritaKalteng.com 20/04/2021 Akademika Leave a comment 151 Views
FOTO : Rektor Universitas Palangka Raya (UPR), Dr. Andrie Elia, SE,MSi ketika menerima sejumlah buku yang disumbangkan oleh Kepala Unit Pelayanan Terpadu (UPT) Perpustakaan UPR, Prof. Dr. H. M. Norsanie Darlan, MS PH, selasa (20/4/2021)
Beritakalteng.com, PALANGKA RAYA -Rektor Universitas Palangka Raya (UPR), Dr. Andrie Elia, SE,MSi mendapat kunjungan dari Kepala Unit Pelayanan Terpadu (UPT) Perpustakaan UPR, Prof. Dr. H. M. Norsanie Darlan, MS PH diruang kerja Rektor, Selasa (20/4/2021).
Pertemuan tersebut terkait dengan niat baik dari Prof. Dr. H. M. Norsanie Darlan, MS PH selaku Kepala Unit Pelayanan Terpadu (UPT) UPR yang berkeinginan untuk menyumbangkan koleksi buku yang ia miliki untuk koleksi perpustakaan UPR.
Adapun koleksi buku yang akan disumbangkan untuk UPR berjumlah 4000 (empat ribu) exsemplar, 200 judul diantaranya adalah koleksi karya tulis pribadi yang dibukukan.
“saya berharap buku yang ia sumbangkan kepada perpustakaan UPR dapat menjadi sumber ilmu dan literatur bagi seluruh warga UPR. Juga sebagai bentuk dukungan untuk meningkatkan SDM unggul dan berdaya saing serta memiliki tingkat literasi yang tinggi,” kata Norsanie Darlan.
Hal tersebut bukan kali pertama Norsanie Darlan menyumbangkan buku koleksi pribadi nya. Dimana tahun 2011 lalu dirinya juga pernah menyumbangkan buku-buku ke Perspustakaan daerah Kalteng.
Norsanie Darlan berharap buku-buku yang ia sumbangkan dapat berguna dan juga dapat tersimpan serta terpelihara dengan baik di perpustakaan UPR.
Demikian juga untuk Dosen tenaga pengajar yang ada di UPR. Dirinya kembali berpesan agar turut serta menyimpan buku-buku yang dimiliki di perpustakaan UPR agar dapat dibaca oleh mahasiswa, dosen serta masyarakat lain yang memerlukan.
Sementara Rektor UPR DR. Andrie Elia S.E.,, MS.i. menyampaikan ucapan terimakasih dan apresiasi atas keputusan Prof. Dr. H. M. Norsanie Darlan, MS PH yang telah menyumbangkan ribuan koleksi buku yang dimiliki untuk perpustakaan UPR.
” saya berharap bahwa dengan bertambahnya koleksi buku di UPR semakin memotivasi mahasiswa dan Masyarakat untuk berkunjung dan membaca secara aktif di perpustakaan UPR,” tutup Andrie Elia.(*)
Sabtu, 05 Juni 2021
PROF. NORSANIE SUMBANGKAN BUKU KARYA TULISNYA KE REKTOR UPR
Akademika Leave a comment 91 Views
FOTO : Rektor Universitas Palangka Raya (UPR), Dr. Andrie Elia, SE,MSi ketika menerima sejumlah buku yang disumbangkan oleh Kepala Unit Pelayanan Terpadu (UPT) Perpustakaan UPR, Prof. Dr. H. M. Norsanie Darlan, MS PH, selasa (20/4/2021)
Beritakalteng.com, PALANGKA RAYA -Rektor Universitas Palangka Raya (UPR), Dr. Andrie Elia, SE,MSi mendapat kunjungan dari Kepala Unit Pelayanan Terpadu (UPT) Perpustakaan UPR, Prof. Dr. H. M. Norsanie Darlan, MS PH diruang kerja Rektor, Selasa (20/4/2021).
Pertemuan tersebut terkait dengan niat baik dari Prof. Dr. H. M. Norsanie Darlan, MS PH selaku Kepala Unit Pelayanan Terpadu (UPT) UPR yang berkeinginan untuk menyumbangkan koleksi buku yang ia miliki untuk koleksi perpustakaan UPR.
Adapun koleksi buku yang akan disumbangkan untuk UPR berjumlah 4000 (empat ribu) exsemplar lebih, dan 200 judul adalah koleksi karya tulis pribadi serta sejumlah artikel yang telah dipublikasikan baik pada jurnal dalam maupun internasional.
“saya berharap buku yang ia sumbangkan kepada perpustakaan UPR dapat menjadi sumber ilmu dan literatur bagi seluruh warga UPR. Juga sebagai bentuk dukungan untuk meningkatkan SDM unggul dan berdaya saing serta memiliki tingkat literasi yang tinggi,” kata Norsanie Darlan.
Hal tersebut bukan kali pertama Norsanie Darlan menyumbangkan buku koleksi pribadi nya. Dimana tahun 2011 lalu dirinya juga pernah menyumbangkan buku-buku ke Perspustakaan daerah Kalteng tanggal 17 Agustus 2011 melalui gubernur Ir. Teras Narang. Hardiknas 2 Mei dengan Rektor Universitas Palangka Raya Drs. Henry Singarasa, MS dan Perpustakaan Universitas Muhammadiyah juga tahun yang sama.
Norsanie Darlan berharap buku-buku yang ia sumbangkan dapat berguna dan juga dapat tersimpan serta terpelihara dengan baik di perpustakaan UPR.
Demikian juga untuk Dosen tenaga pengajar yang ada di UPR. Dirinya kembali berpesan agar turut serta menyimpan buku-buku yang dimiliki di perpustakaan UPR agar dapat dibaca oleh mahasiswa, dosen serta masyarakat lain yang memerlukan.
Sementara Rektor UPR DR. Andrie Elia S.E.,, MS.i. menyampaikan ucapan terimakasih dan apresiasi atas keputusan Prof. Dr. H. M. Norsanie Darlan, MS PH yang telah menyumbangkan ribuan koleksi buku yang dimiliki untuk perpustakaan UPR.
” saya berharap bahwa dengan bertambahnya koleksi buku di UPR semakin memotivasi mahasiswa dan Masyarakat untuk berkunjung dan membaca secara aktif di perpustakaan UPR,” tutup Andrie Elia.(*)
Senin, 24 Mei 2021
Prof. Norsanie, mengapa Jakarta Banjir ?
Jakarta Banjir
Rabu, 30 Juli 2014 14:36 WIB Presiden Baru Tampilkan Model Baru BAMSOETNEWS-- Akademisi dari Universitas Palangka Raya, Kalimantan Tengah Prof Dr HM Norsanie Darlan MS, PH berpendapat, presiden baru harus menampilkan model baru pula. "Kalau tidak, kurang indah hanya melanjutkan program lama. Harusnya menunjukkan program baru pula," katanya menjawab Antara Kalimantan Selatan, di Banjarmasin, Selasa. Putra Kalteng dengan motto daerahnya Isen Mulang (Pantang Mundur) itu mencontohkan kota Jakarta sebagai Ibu Kota Negara RI yang beberapa tahun belakangan di mana-mana banjir. "Sedangkan lokasi baru di sekitar sulit atau tidak mungkin untuk menghindar dari banjir," ujar anak Desa Anjir Serapat, Kabupaten Kapuas, Kalteng yang berkarir dari pegawai rendahan (pesuruh) yang kini bergelar profesor itu. "Sementara Kalteng lahan tersedia yang luas. Kenapa tidak dialihkan ke Kalteng saja Ibu Kota Negara atau Pusat Pemerintahan Indonesia," lanjut Guru Besar Universitas Palangka Raya (Unpar) tersebut. Menurut dosen pascasarjana Pendidikan Luar Sekolah (PLS) Unpar tersebut, pengalihan pusat pemerintahan atau Ibu Kota Negara itu tentu ada ketertautan dengan pembangunan daerah tertinggal. "Sebenarnya masih banyak lagi program yang harus dialihkan dari Ibu Kota atau Pulau Jawa agar tidak terjadi kesenjangan sosial," tutur Koordinator Wilayah Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (Korwil ICMI) Kalteng itu. "Jadi kita tak perlu risih atas pemindahan Ibu Kota Negara atau pusat pemerintahan. Apalagi kita tahun tidak ada permasalahan mendasar dalam pemindahan pusat pemerintahan tersebut," lanjutnya. Sebagai contoh dalam pemindahan kota/pusat pemerintahan negara, antara lain Malaysia, Amerika Serikat, dan Australia, mereka tak pernah rugi, bahkan tambah maju, demikian Norsanie Darlan. Mantan aktivis Ikatan Pers Mahasiswa Indonesia (IPMI) atau pegiat pers kampus Unpar tahun 1980-an itu mengingatkan wacana presiden pertama Republik Indonesia Ir Soekarno yang mau mengalihkan Ibu Kota Negara ke Pahandut, Kalteng. Pahandut asal nama kota Palangkaraya, ibu kota Kalteng, yang peresmiannya oleh Presiden Soekarno pada 1957. Dalam perkembangannya provinsi yang luasnya hampir satu setengah kali luas Pulau Jawa tersebut, kini ada 14 kabupaten/kota. Sebelum era otonomi daerah tahun 1999, provinsi yang kaya dengan sumber daya hutan itu hanya terbagi delapan kabupaten/kota, yaitu Kota Palangkaraya, dan Kabupaten Kapuas. Selain itu, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Kotawaringin Barat (Kobar), Barito Selatan (Barsel) dan Kabupaten Barito Utara (Barut). Pada era reformasi/otonomi daerah terjadi pemekaran, Kabupaten Kapuas, Kotim dan Kobar masing-masing dimekarkan menjadi tiga kabupaten. Sementara Barsel dan Barut masing-masing dimekarkan menjadi dua kabupaten. Pemekaran dari Kabupaten Kapuas yaitu Kabupaten Pulang Pisau dan Gunung Mas, dari Kotim tambah Kabupaten Katingan dan Seruyan, Kobar tambah Kabupaten Lamandau dan Sukamara. Untuk pemekaran Basel tambah Kabupaten Barito Timur (Bartim) dan Barut ditambah Kabupaten Murung Raya (Mura). (ant)
Prof. Norsanie, Mengapa Keluhan Dosen Di Bandung itu ?
Keluhan Dosen Di Bandung
Dosen-Dosen Pendidikan Luar Sekolah Menanti Perubahan Nomenklatur Sejak hari kamis 26 Juni 2014 para dosen Pendidikan Luar Sekolah (PLS) menanti realisasi surat dari Kementian Pendidikan dan Kebudayaan RI Dirjen Pendidikan tinggi saat itu dengan nomor: 2300/E3/2014, tertanggal 28 Mei lalu, yang isinya memerintahkan perubahan Nomenklatur Program Studi pendidikan luar sekolah (PLS) menjadi pendidikan non formal (PNF). Tujuannya agar sarjana PLS jika diganti nama, akan mempermudah komunikasi dengan alumnus mereka di berbagai negara. Karena ada kesamaan pendidikan non formal tersebut. Namun setelah dosen-dosen dan guru besar PLS seluruh jurusan/Program se-Indonesia bertemu di hotel Griyo AVI Jalan Raya Darmo nomor 6 Surabaya. Tepatnya sejak jam 08.00-15.00 bersepakat merubah nomenklatur dari jurusan/Program studi PLS menjadi Program studi Pendidikan Nonformal. Pada hari itu kamis 26 Juni 2014. kesepakatan itu dengan merubah nomenklaturnya dari PLS menjadi Pendidikan non formal (PNF). Tapi hingga saat ini surat resmi dengan berubahnya status Dirjen pendidikan tinggi dari kemendiknas ke kementrian lain. Belum ada realisasi nomenklatur itu. Hal tersebut dipertanyakan oleh dosen-dosen dalam seminar Nasional dan pertemuan Akademisi PLS di Universitas Pendidikan Indonesia Bandung belum lama ini. Ternyata satupun tidak ada perguruan tinggi dari 32 Perguruan tinggi di tanah air yang memiliki jurusan/program studi PLS yang menerima surat tentang perubahan nomenklatur itu dari Dikti. Sementara sejumlah perguruan tinggi sudah turut merubah nama ke pendidikan non formal (PNF) itu di negeri ini. Jika surat nomor 2300/E3/2014, tertanggal 28 Mei 2014 itu, tidak diturunkan. Bagaimana Universitas jurusan/Program Studi PLS itu sudah merubah nomenklaturnya tapi surat resminya tidak ada. Apa jadinya bagi sarjana PLS kami.
Langganan:
Postingan (Atom)