Minggu, 08 Agustus 2021
Tokoh Masyarakat Berkomentar: Jembatan Kahayan Perlu Perhatian Kita Semua
Kamis, 5 Januari 2012 - 11:55
Banjarmasin, Seruu.com -
Seorang tokoh masyarakat Kalimantan Tengah, Prof HM Norsanie Darlan mengharapkan instansi berwenang untuk melakukan penelitian terhadap kekuatan Jembatan Barito di Kabupaten Barito Kuala (Batola) Kalimantan Selatan.
"Pasalnya, tiap kali truk besar melintas jembatan tersebut sangat terasa ada goyangan di jembatan itu, seakan mau runtuh saja," kata guru besar Universitas Palangkaraya (Unpar), di Banjarmasin, Kamis (05/1/201).
Melihat kondisi yang cukup rawan tersebut, sebaiknya instansi terkait melakukan penelitian ulang lagi atas kekuatan Jembatan tersebut, agar runtuhnya jembatan serupa, di Kutai Kertanegara, atau jembatan di Sungai Mahakam tak terulang lagi.
Ia menyebutkan, Jembatan Barito yang diresmikan akhir dari era Orde Baru tersebut sangat membantu warga dua wilayah, untuk membuka keterisoleran antara Kalimantan Tengah dan Kalimantan Timur.
"Dulu sebelum ada jembatan Barito berpergian antara Palangkaraya (Kalteng) ke Banjarmasin (Kalsel) menelan waktu berhari-hari sekarang setelah adanya jembatan itu disamping kian baiknya jalan trans wilayah itu perjalanan hanya sekitar tiga jam saja," tuturnya.
Berdasarkan pengamatannya, intensitas lalu lintas menyeberangi Jembatan Barito begitu besar.
Setiap hari raturan truk besar dan membawa beban yang sangat berat seperti, Besi Beton,pasir, batu, semen, kelapa sawit, bahkan truk kontainer melewati jembatan yang berada di Desa Anjir tersebut.
Melihat intensitas lalu-lintas yang begitu tinggi membuat Pemerintah Kabupaten Barito Kuala hampir tidak pernah berhenti memperbaiki jalan di kawasan tersebut.
Melihat kondisi jalan begitu cepat rusak berarti beban yang melalui jalan kawasan itu begitu berat, dan tentunya mempengaruhi terhadap kondisi Jembatan Barito.
Belum lagi aktivitas lainnya di atas Jembatan Barito juga begitu tinggi,karena lokasi itu objek wisata seringkali terlihat mobil parkir di atas jembatan, bahkan begitu banyak orang menggelar dagangan di atas jembatan itu.
Bicara jembatan Kahayan, semakin tahun semakin meningkat volume lalu lintas. termasuk mereka yang mau melintas mau ke Buntok, Bartim, Barut dan Murung Raya. Bisa pula dari Bartim ini untuk menuju ke Banjarmasin atau ke utara ke Samarainda. Selain hal itu, ada 1 kabupaten lagi ke arah Gunung Mas.
Dengan memperhatikan banyaknya tujuan dari Palangka Raya yang ke 5 kabupaten di Kaliteng, dan 2 provinsi tetangga seperti Kalsel dan Kantim. bahkan ada pula ke Kalimantan Utara bisa melintas jembatan Kahayan ini. sehingga dengan faktor usia jembatan Kahayan yang kian tahun, kian memakan usia. dirasakan perlu untuk mendapatkan perhatian para teknisi jempatan di Kalimantan Tengah. agar tidak terjadi seperti di Kutai Kertanegara.
Mengingat begitu berat beban jembatan itu maka sewajarnya adanya penelitian ulang,atau kalau perlu rehabilitasi atau penambahan material bangunan lagi guna memperkuat ketahanan jembatan tersebut, demikian Norsanie Darlan yang kelahiran Desa Anjir tersebut. [ndis]
SUMBANGAN BUKU KARYA TULIS ILMIAH KE REKTOR UPAR
Prof.Norsanie Darlan Sumbangkan Ribuan Buku Ke UPR
BeritaKalteng.com 20/04/2021 Akademika Leave a comment 151 Views
FOTO : Rektor Universitas Palangka Raya (UPR), Dr. Andrie Elia, SE,MSi ketika menerima sejumlah buku yang disumbangkan oleh Kepala Unit Pelayanan Terpadu (UPT) Perpustakaan UPR, Prof. Dr. H. M. Norsanie Darlan, MS PH, selasa (20/4/2021)
Beritakalteng.com, PALANGKA RAYA -Rektor Universitas Palangka Raya (UPR), Dr. Andrie Elia, SE,MSi mendapat kunjungan dari Kepala Unit Pelayanan Terpadu (UPT) Perpustakaan UPR, Prof. Dr. H. M. Norsanie Darlan, MS PH diruang kerja Rektor, Selasa (20/4/2021).
Pertemuan tersebut terkait dengan niat baik dari Prof. Dr. H. M. Norsanie Darlan, MS PH selaku Kepala Unit Pelayanan Terpadu (UPT) UPR yang berkeinginan untuk menyumbangkan koleksi buku yang ia miliki untuk koleksi perpustakaan UPR.
Adapun koleksi buku yang akan disumbangkan untuk UPR berjumlah 4000 (empat ribu) exsemplar, 200 judul diantaranya adalah koleksi karya tulis pribadi yang dibukukan.
“saya berharap buku yang ia sumbangkan kepada perpustakaan UPR dapat menjadi sumber ilmu dan literatur bagi seluruh warga UPR. Juga sebagai bentuk dukungan untuk meningkatkan SDM unggul dan berdaya saing serta memiliki tingkat literasi yang tinggi,” kata Norsanie Darlan.
Hal tersebut bukan kali pertama Norsanie Darlan menyumbangkan buku koleksi pribadi nya. Dimana tahun 2011 lalu dirinya juga pernah menyumbangkan buku-buku ke Perspustakaan daerah Kalteng.
Norsanie Darlan berharap buku-buku yang ia sumbangkan dapat berguna dan juga dapat tersimpan serta terpelihara dengan baik di perpustakaan UPR.
Demikian juga untuk Dosen tenaga pengajar yang ada di UPR. Dirinya kembali berpesan agar turut serta menyimpan buku-buku yang dimiliki di perpustakaan UPR agar dapat dibaca oleh mahasiswa, dosen serta masyarakat lain yang memerlukan.
Sementara Rektor UPR DR. Andrie Elia S.E.,, MS.i. menyampaikan ucapan terimakasih dan apresiasi atas keputusan Prof. Dr. H. M. Norsanie Darlan, MS PH yang telah menyumbangkan ribuan koleksi buku yang dimiliki untuk perpustakaan UPR.
” saya berharap bahwa dengan bertambahnya koleksi buku di UPR semakin memotivasi mahasiswa dan Masyarakat untuk berkunjung dan membaca secara aktif di perpustakaan UPR,” tutup Andrie Elia.(*)
Sabtu, 05 Juni 2021
PROF. NORSANIE SUMBANGKAN BUKU KARYA TULISNYA KE REKTOR UPR
Akademika Leave a comment 91 Views
FOTO : Rektor Universitas Palangka Raya (UPR), Dr. Andrie Elia, SE,MSi ketika menerima sejumlah buku yang disumbangkan oleh Kepala Unit Pelayanan Terpadu (UPT) Perpustakaan UPR, Prof. Dr. H. M. Norsanie Darlan, MS PH, selasa (20/4/2021)
Beritakalteng.com, PALANGKA RAYA -Rektor Universitas Palangka Raya (UPR), Dr. Andrie Elia, SE,MSi mendapat kunjungan dari Kepala Unit Pelayanan Terpadu (UPT) Perpustakaan UPR, Prof. Dr. H. M. Norsanie Darlan, MS PH diruang kerja Rektor, Selasa (20/4/2021).
Pertemuan tersebut terkait dengan niat baik dari Prof. Dr. H. M. Norsanie Darlan, MS PH selaku Kepala Unit Pelayanan Terpadu (UPT) UPR yang berkeinginan untuk menyumbangkan koleksi buku yang ia miliki untuk koleksi perpustakaan UPR.
Adapun koleksi buku yang akan disumbangkan untuk UPR berjumlah 4000 (empat ribu) exsemplar lebih, dan 200 judul adalah koleksi karya tulis pribadi serta sejumlah artikel yang telah dipublikasikan baik pada jurnal dalam maupun internasional.
“saya berharap buku yang ia sumbangkan kepada perpustakaan UPR dapat menjadi sumber ilmu dan literatur bagi seluruh warga UPR. Juga sebagai bentuk dukungan untuk meningkatkan SDM unggul dan berdaya saing serta memiliki tingkat literasi yang tinggi,” kata Norsanie Darlan.
Hal tersebut bukan kali pertama Norsanie Darlan menyumbangkan buku koleksi pribadi nya. Dimana tahun 2011 lalu dirinya juga pernah menyumbangkan buku-buku ke Perspustakaan daerah Kalteng tanggal 17 Agustus 2011 melalui gubernur Ir. Teras Narang. Hardiknas 2 Mei dengan Rektor Universitas Palangka Raya Drs. Henry Singarasa, MS dan Perpustakaan Universitas Muhammadiyah juga tahun yang sama.
Norsanie Darlan berharap buku-buku yang ia sumbangkan dapat berguna dan juga dapat tersimpan serta terpelihara dengan baik di perpustakaan UPR.
Demikian juga untuk Dosen tenaga pengajar yang ada di UPR. Dirinya kembali berpesan agar turut serta menyimpan buku-buku yang dimiliki di perpustakaan UPR agar dapat dibaca oleh mahasiswa, dosen serta masyarakat lain yang memerlukan.
Sementara Rektor UPR DR. Andrie Elia S.E.,, MS.i. menyampaikan ucapan terimakasih dan apresiasi atas keputusan Prof. Dr. H. M. Norsanie Darlan, MS PH yang telah menyumbangkan ribuan koleksi buku yang dimiliki untuk perpustakaan UPR.
” saya berharap bahwa dengan bertambahnya koleksi buku di UPR semakin memotivasi mahasiswa dan Masyarakat untuk berkunjung dan membaca secara aktif di perpustakaan UPR,” tutup Andrie Elia.(*)
Senin, 24 Mei 2021
Prof. Norsanie, mengapa Jakarta Banjir ?
Jakarta Banjir
Rabu, 30 Juli 2014 14:36 WIB Presiden Baru Tampilkan Model Baru BAMSOETNEWS-- Akademisi dari Universitas Palangka Raya, Kalimantan Tengah Prof Dr HM Norsanie Darlan MS, PH berpendapat, presiden baru harus menampilkan model baru pula. "Kalau tidak, kurang indah hanya melanjutkan program lama. Harusnya menunjukkan program baru pula," katanya menjawab Antara Kalimantan Selatan, di Banjarmasin, Selasa. Putra Kalteng dengan motto daerahnya Isen Mulang (Pantang Mundur) itu mencontohkan kota Jakarta sebagai Ibu Kota Negara RI yang beberapa tahun belakangan di mana-mana banjir. "Sedangkan lokasi baru di sekitar sulit atau tidak mungkin untuk menghindar dari banjir," ujar anak Desa Anjir Serapat, Kabupaten Kapuas, Kalteng yang berkarir dari pegawai rendahan (pesuruh) yang kini bergelar profesor itu. "Sementara Kalteng lahan tersedia yang luas. Kenapa tidak dialihkan ke Kalteng saja Ibu Kota Negara atau Pusat Pemerintahan Indonesia," lanjut Guru Besar Universitas Palangka Raya (Unpar) tersebut. Menurut dosen pascasarjana Pendidikan Luar Sekolah (PLS) Unpar tersebut, pengalihan pusat pemerintahan atau Ibu Kota Negara itu tentu ada ketertautan dengan pembangunan daerah tertinggal. "Sebenarnya masih banyak lagi program yang harus dialihkan dari Ibu Kota atau Pulau Jawa agar tidak terjadi kesenjangan sosial," tutur Koordinator Wilayah Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (Korwil ICMI) Kalteng itu. "Jadi kita tak perlu risih atas pemindahan Ibu Kota Negara atau pusat pemerintahan. Apalagi kita tahun tidak ada permasalahan mendasar dalam pemindahan pusat pemerintahan tersebut," lanjutnya. Sebagai contoh dalam pemindahan kota/pusat pemerintahan negara, antara lain Malaysia, Amerika Serikat, dan Australia, mereka tak pernah rugi, bahkan tambah maju, demikian Norsanie Darlan. Mantan aktivis Ikatan Pers Mahasiswa Indonesia (IPMI) atau pegiat pers kampus Unpar tahun 1980-an itu mengingatkan wacana presiden pertama Republik Indonesia Ir Soekarno yang mau mengalihkan Ibu Kota Negara ke Pahandut, Kalteng. Pahandut asal nama kota Palangkaraya, ibu kota Kalteng, yang peresmiannya oleh Presiden Soekarno pada 1957. Dalam perkembangannya provinsi yang luasnya hampir satu setengah kali luas Pulau Jawa tersebut, kini ada 14 kabupaten/kota. Sebelum era otonomi daerah tahun 1999, provinsi yang kaya dengan sumber daya hutan itu hanya terbagi delapan kabupaten/kota, yaitu Kota Palangkaraya, dan Kabupaten Kapuas. Selain itu, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Kotawaringin Barat (Kobar), Barito Selatan (Barsel) dan Kabupaten Barito Utara (Barut). Pada era reformasi/otonomi daerah terjadi pemekaran, Kabupaten Kapuas, Kotim dan Kobar masing-masing dimekarkan menjadi tiga kabupaten. Sementara Barsel dan Barut masing-masing dimekarkan menjadi dua kabupaten. Pemekaran dari Kabupaten Kapuas yaitu Kabupaten Pulang Pisau dan Gunung Mas, dari Kotim tambah Kabupaten Katingan dan Seruyan, Kobar tambah Kabupaten Lamandau dan Sukamara. Untuk pemekaran Basel tambah Kabupaten Barito Timur (Bartim) dan Barut ditambah Kabupaten Murung Raya (Mura). (ant)
Prof. Norsanie, Mengapa Keluhan Dosen Di Bandung itu ?
Keluhan Dosen Di Bandung
Dosen-Dosen Pendidikan Luar Sekolah Menanti Perubahan Nomenklatur Sejak hari kamis 26 Juni 2014 para dosen Pendidikan Luar Sekolah (PLS) menanti realisasi surat dari Kementian Pendidikan dan Kebudayaan RI Dirjen Pendidikan tinggi saat itu dengan nomor: 2300/E3/2014, tertanggal 28 Mei lalu, yang isinya memerintahkan perubahan Nomenklatur Program Studi pendidikan luar sekolah (PLS) menjadi pendidikan non formal (PNF). Tujuannya agar sarjana PLS jika diganti nama, akan mempermudah komunikasi dengan alumnus mereka di berbagai negara. Karena ada kesamaan pendidikan non formal tersebut. Namun setelah dosen-dosen dan guru besar PLS seluruh jurusan/Program se-Indonesia bertemu di hotel Griyo AVI Jalan Raya Darmo nomor 6 Surabaya. Tepatnya sejak jam 08.00-15.00 bersepakat merubah nomenklatur dari jurusan/Program studi PLS menjadi Program studi Pendidikan Nonformal. Pada hari itu kamis 26 Juni 2014. kesepakatan itu dengan merubah nomenklaturnya dari PLS menjadi Pendidikan non formal (PNF). Tapi hingga saat ini surat resmi dengan berubahnya status Dirjen pendidikan tinggi dari kemendiknas ke kementrian lain. Belum ada realisasi nomenklatur itu. Hal tersebut dipertanyakan oleh dosen-dosen dalam seminar Nasional dan pertemuan Akademisi PLS di Universitas Pendidikan Indonesia Bandung belum lama ini. Ternyata satupun tidak ada perguruan tinggi dari 32 Perguruan tinggi di tanah air yang memiliki jurusan/program studi PLS yang menerima surat tentang perubahan nomenklatur itu dari Dikti. Sementara sejumlah perguruan tinggi sudah turut merubah nama ke pendidikan non formal (PNF) itu di negeri ini. Jika surat nomor 2300/E3/2014, tertanggal 28 Mei 2014 itu, tidak diturunkan. Bagaimana Universitas jurusan/Program Studi PLS itu sudah merubah nomenklaturnya tapi surat resminya tidak ada. Apa jadinya bagi sarjana PLS kami.
Prof. Norsanie, mengapa CPNS PERLU TES URINE ?
CPNS PERLU TES URINE
D0211114000373 21-NOV-14 PLK BJM AKADEMISI PERTANYAKAN PEMINDAHAN PUSAT PEMERINTAHAN INDONESIA Oleh Syamsuddin Hasan Banjarmasin, 21/11 (Antara) - Akademisi Universitas Palangka Raya, Kalimantan Tengah, Prof Dr HM Norsanie Darlan mempertanyakan realisasi pemindahan pusat pemerintahan Indonesia dari Jakarta ke daerah lain. "Pasalnya banjir kembali melanda Jakarta, baik sebagai ibu kota negara maupun pusat pemerintahan Indonesia," ujarnya kepada Antara Kalimantan Selatan, di Banjarmasin, Kamis malam. Wacana pemintahan Ibu Kota Republik Indonesia dari Daerah Khusus Istimewa (DKI) Jakarta beberapa waktu lalu mendapat perhatian dan tanggapan beragam dengan tinjuan dari berbagai aspek. Namun mulai dilupakan, lanjutnya. Padahal, lanjut Guru Besar pada Universitas Palangka Raya (Unpar) yang merupakan perguruan tinggi negeri tertua di "Bumi Isen Mulang" (pantang mundur) Kalteng itu, musim penghujan tiap tahun terjadi. "Dengan musim penghujan tersebut, berarti Jakarta atau Betawi yang pada Hindia Belanda disebut Batavia itu bakal menjadi langganan banjir tahunan. Tinggil kondisi banjir itu sendiri, apakah kecil, sedang atau berat," katanya. Memang, lanjut sang profesor yang berkarir dari pegawai rendahan (pesuruh) itu, meninggalkan Ibu Kota yang sudah demikian maju, sulit rasanya untuk dipindahkan. "Tapi kalau banjir setiap tahun melanda Jakarta. Apakah tidak ada pemikiran untuk masa depan kita semua. Apakah dibiarkan seperti selama ini kota Jakarta selalu kebanjiran," ujarnya. "Padahal negeri kita sangat luas dan hampir sama dengan benua Eropa. Kenapa Jakarta dijadikan satu-satunya Ibu Kota Pemerintahan Indonesia," tanya anak Desa Anjir Serapat Kabupaten Kapuas, Kalteng itu. Mantan aktivis Ikatan Pers Mahasiswa Indonesia (IPMI) itu mengungkapkan, di banyak negara sudah memindahkan ibu kota pemerintahannya, seperti negeri jiran Malaysia, dan Australia. "Bahkan juga negeri Amerika Serikat atau United State of Amerika (USA) yang sangat terkenal itu, ibu kota pemerintahannya pindah ke daerah lain. Tentu mereka dengan perencanaan yang cukup matang," ungkapnya. "Mungkin istana negara 'Paman Sam' USA itu tidak sempat kebanjiran. Mereka sudah memindahkannya ke tempat yang aman. Selain itu, di kawasan baru akan berkembang lagi dengan penataan yang rapi tentunya," tuturnya. Menurut dia, Indonesia untuk memindahkan Ibu Kota pemerintahan ke Palangkaraya yang lokasinya di tengah-tengah negeri ini, mungkin tidak terlalu masalah, terutama dari segi keterdiaan lahan. "Apalagi 'kota cantik' Palangkaraya posisinya berada di tengah-tengah nusantara Indonesia, sehingga mempermudah pertemuan nasional baik yang dari Sabang maupun dari Merauke persis tidak sejauh masa sekarang," katanya. "Sementara ibu kota negeri kita saat ini sudah kebanjiran penduduk dan kebanjiran banjir. Jakarta saat sekarang sebaiknya mungkin menjadi pusat perdagangan. Sedangkan Ibu Kota pemerintahan perlu emikiran lebih jauh," demikian Norsanie. ***1*** (T.KR-SHN/B/H. Zainudin/H. Zainudin) 21-11-2014 18:48:16
Prof. Norsanie, MELIRIK KARAKTER ANAK BANGSA
MELIRIK KARAKTER ANAK BANGSA
BAGAIMANA KARAKTER ANAK BANGSA Oleh : H.M. Norsanie Darlan Pendahuluan Karakter anak bangsa, memerlukan banyak pemikiran. Karena dewasa ini sering terjadiakibat perselisihan yang sederhana menimbulkan rasa permusuhan yang mendalam. Dan tidak menutup kemungkinan munculnya demo-demo. Walau sebenarnya persoalan sebelumnya tidaklah berat. Upaya dalam memecahkan masalah ini, mulai dirasakan. Terlebih di saat adanya pemilihan langsung pada calon-calon bupati/walikota termasuk juga gubernur. Peristiwa itu sering terjadi berbuntut anarkis. Apakah hal-hal seperti itu perlu diteruskan? Tentu kurang baik. Sehingga menimbulkan karekter anak bangsa sering kabablasan. Bisa terjadi pula menimbulkan perselisihan bersaudara, karena mereka tidak sama pilihan. Karakter Anak Bangsa Dewasa ini, sudah banyak yang menyangsikan bahwa masa depan lebih cerah. Namun sebaliknya bangsa kita dalam kurun waktu relatif singkat berubah menjadi karakter yang keras, mudah tersinggung, dan bisa dijual belikan oleh kelompok berkepentingan. Bila kita memperhatikan perubahan karakter dimaksud, seperti karakter keras dihampir setiap hari kita menyaksikan terjadinya perkelahian apakah adu mulut ataukan fisik, termasuk juga demo-demo terhadap hal-hal tertentu yang ditayangkan media cetak maupun elektronik. Demo atau tawuran di mana-mana tidak memandang manfaat atau modharat. Karakter masyarakat yang mudah tersinggung, seperti apa pun pernyataan kepala negara, ternyata ada yang menyanggah. Terlepas benar atau salah. Sehingga tidak terlihat lagi batas formal antara pemimpin dengan rakyat jelata. Bupati, KPU, Pores, pengadilan, Kejaksaan, perusahaan sering di demo oleh karyawanya dll. Tidak lepas dari sasaran masa untuk menyampaikan kebebasan berpendapat. Terlepas betul ataukah salah. Guru di demo oleh murid dan orang tuanya,. Hal ini betul-betul lupa ia dan anaknya diberikan didikan oleh sang guru. Kok guru itu di demo ?. Untuk kepentingan tertentu sekelompok masyarakat mau menerima bayaran untuk melakukan demo. Walau yang di demo itu adalah keluarga atau kerabatnya sendiri. Bila kita memperhatikan pada suatu peristiwa kejaksaan Batang Jawa Tengah di demo oleh mereka yang tidak puas terhadap tuntutan hukum. Hal-hal di atas adalah sebagian dari sekian contoh karakter bangsa kita yang saat ini disebut demokrasi yang kebablasan. Sehingga karakter bangsa kita dewasa ini, perlu diperbaiki. Namun belum diketahui dari mana memulai perbaikannya. Perubahan karakter bangsa memang punyaq proses yang sangat cepat. Sebab dengan berubahnya kondisi negeri ini dari masa orde baru menjadi orde reformasi terasa mencengangkan. Karena di masa sebelumnya rakyat dengan mentaati berbagai peraturan. Siapa yang berbuat kurang baik, apa lagi melakukan demo dan berbagai keonaran lainnya. Pemerintah segera mengatasi hal itu. Dan ternyata rakyat segera menurut. Sehingga jarang terjadi keonaran. Namun menjelang berakhir era ode baru bermunculan berbagai tuntutan. Tapi setelah dituruti, negeri cercinta ini jadi kebablasan. Karakter Bangsa yang diharapkan Dari karakter bangsa yang saat ini masih sulit dikendalikan, memang sebenarnya tidak terlintas dalam cita-cita semua orang. Masyarakat Indonesia, sebenarnya berharap negeri yang aman luh jinawi, Negeri yang baldatul thaybatun warabbun gafur, adalah impian semua rakyat bangsa di negeri ini. Hanya saja reformasi negeri kita yang belum tuntas ini, membuat bangsanya jadi beringas. Banyak upaya yang sudah dilakukan oleh berbagai pihak, namun belum juga terwujud. Mungkinkah ada istilah tantangan ini tidak semudah membalik telapak tangan ?. Kini kita sebagai anak bangsa, marl bersama-sama mencari pemecahan ini, agar situasi (karakter) bangsa kita jadi tidak mudah marah, bersikap Bantu-membantu, tut wuri handayani, yang punya prinsip saling menghargai, saling menghormati dan saling percaya mempercayai. Insya Allah negeri kita akan muncul kembali karakter bangsa yang diharapkan/diidam-idamkan masyarakat semua. Sebaiknya jika kita sebagai orang tua berprinsip seperti teori Langavelt yang bercita-cita:"...jika seandainya saya sebagai seorang buruh tani, maka ia berharap anaknya satupun tidak akan menjadi buruh tani. Tapi anak-anak saya akan menjadi juragan tani yang santun terhadap buruh taninya..." Hal ini sebuah karakter yang lebih maju dari masa sekarang. Proses untuk memperoleh harapan di atas, tentu saja proses pendidikan yang menanamkan karakter santun dan hormat-menghormati dengan sesamanya itu, membutuhkan waktu yang cukup panjang. Inipun jika sekiranya kurikulum yang disusun belum memenuhi harapan semua orang itu, tentu punya dampak ke masa depan anak bangsa. Karakter Ber-etika Sungguh sulit mencari manusia sekarang yang masuk pada golongan, Menurut Norsanie Darlan (2010) bahwa:”...masih banyak orang punya karakter ber-Etika. Namun dari hasil diskusi dikalangan dosen, ternyata masih banyak juga ditemukan manusia-¬manusia yang berkarakter sopan santun, tidak mudah terumbang ambing dari berbagai arus zaman yang dewasa ini sering menyesatkan...”. Kementrian pendidikan nasional sudah menetapkan:"... kode etik guru..." namun belum ditetapkan siapa wasitnya. Oleh sebab itu Kementrian Pendidikan Nasional bersama PB PGRI sudah mulai menata hal itu. Dewasa ini, dikalangan kampus sungguh banyak terjadi demo apakan mahasiswa dengan mahasiswa. Bahkan sering pula demo antara mahasiswa dengan doses. Peran Pembantu Rektor III bidang kemahasiswaan kurang nampak. Padahal jika dikaji secara etika, mahasiswa mendemo doses tidaklah wajar, Karena doses guru mereka sendiri. Karakter ber-etika juga di masyarakat. Para tokoh masyarakat dan tokoh agama adalah orang yang harus kita hormati. Ternyata sungguh tidak menggembirakan, sering kali etika itu di langgar. Senin pagi tanggal 2 Agustus 2010, jam 06.00 TV-One menyiarkan di bekasi Jawa Barat yang berbatasan dengan DKI Jakarta seorang pendeta mau memimpin kebaktian ditolak oleh kelompoknya sendiri. Karena dijauhkan hal-hal yang negatif. Sebenarnya perlu pemisahan antara kegiatan keagamaan dengan masalah demo. Pendidikan Karakter Tidak Semata Tugas Guru Berbicara pendidikan secara umum, maka tugas tersebut tidak seluruhnya dibebankan kepada guru. Sudah menjadi kesepakatan secara luas, bahwa pendidikan itu bisa berhasil dengan baik, bila adanya keterlibatan dari semua pihak. Guru, orang tua murid, masyarakat dan pemerintah. Karena pendidikan itu, tidak semata dibebankan kepada guru, melainkan tanggung jawab bersama. Untuk majunya suatu bangsa tentu kita saling menghargai, saling toleransi dan saling menghormati. Kenapa guru kurang dihargai masyarakat terlebih muridnya sendiri karena mereka melihat kehidupan guru dalam 25 tahun terakhir ini sungguh menyedihkan. Dulu guru kita hormati, karena mereka dianggap orang yang terpelajar, orang berilmu pengetahuan. Dalam kurun waktu tertentu menjadikan profesi guru sebagai pilihan paling akhir. Mudah¬-mudahan masa datang guru kembali menjadi yang dihormati. Dan geliat sekarang pendidikan guru menjadi rebutan. Karena lapangan kerjanya masih dicari. Dengan demikian, sebaiknya calon guru dicari orang pilihan. Sekiranya seleksinya ini betul-betul ketat dan tes wawancara betul-betul dilaksanakan berdasarkan apa syarat bagi seorang calon guru. Termasuk guru tidak merokok, tidak peminum dan pemabuk. Apa lagi pemain judi. Maka karakter guru masa depan tentu lebih baik, dari seleksi yang asal-asalan.
Langganan:
Postingan (Atom)