Kamis, 27 November 2014
Tutor (guru) Pendidikan Non Formal
Mengenali Tutor Pendidikan Non Formal
Oleh:
H. M. Norsanie Darlan
Bila kita memperhatikan siapa tutor pendidikan non formal itu. dengan memperhatikan selama ini tutor belum mendapatkan upah/gaji yang layak. Padahal kalau boleh dibandingkan dengan buruh, mungkin tutor lebih terhormat. Sebab, tutor tidak beda dengan seorang guru.
Karena itu, dinas pendidikan memberi upah/gaji yang layak kepada tutor. Pasalnya, berdasarkan hasil penelitian, perhatian terhadap tutor selama ini terkesan belum memadai, perlu perhatian dinas terkait terhadap tutor PNF ini agar mereka juga bisa hidup lebih layak di mata masyarakat. oleh sebab itu, pemerintah daerah dalam hal ini dinas terkait agar dapat menaikkan honor mereka secara layak.
Sebagai contoh, peran tutor dalam menjalankan tugasnya di Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) dalam upaya mencerdaskan bangsa, sangat besar, dalam upaya mencerdaskan kehidupan bangsa. seperti mereka yang karena sesuatu dan lain hal tidak sempat mendapatkan layanan pendidikan, maka tutor di PKBM dapat membantu menuntaskan mereka dari wajib belajar di negeri kita.
Tutor (guru non formal) ini dilibatkan di PKBM, karena keterbatasan tenaga sekretariat, sehingga mereka turut berperan guna lancarnya upaya mencerdaskan kehidupan bangsa ini. Mengenai keberadaan PKBM di Indonesia, dia menerangkan, kehadirannya lembaga kependidikan nonformal tersebut di tengah-tengah kondisi negara dan bangsa yang mengalami krisis sosial ekonomi pada Tahun 1998.
Kehadiran PKBM memiliki latar belakangan yang relatif panjang. Dimana fakta menunjukkan, pendidikan formal dan sistem persekolahan ternyata tidak cukup untuk menjawab berbagai masalah yang dihadapi masyarakat Indonesia.
Ditambahkan permasalahan itu dapat dilihat dari masih rendahnya tingkat pendidikan masyarakat, tingginya tingkat buta aksara bagi orang dewasa, tingginya tingkat pengangguran, tingginya tingkat kemiskinan dan sebagainya.
Di pihak lain, kebijakan pemerintah dalam pembangunan pendidikan sangat menitik beratkan pada pendidikan formal dan sistem persekolahan. Perhatian pada pendidikan nonformal masih sangat terbatas.
Keterbatasan perhatian terhadap pendidikan nonformal tersebut, antara lain dapat dilihat dari alokasi anggaran dan fasilitas maupun berbagai sumberdaya lainnya yang jauh lebih besar dicurahkan bagi pendidikan formal dan sistem persekolahan.
Selasa, 25 November 2014
PERLU KTP YANG JELAS
jurnas.com NEWS | TOP SOCCER | BISNIS | LIFESTYLE | KICAU | REDAKSI CARI Inilah Masalah yang Muncul Bila Kolom Agama Dihapus Selasa, 11 November 2014 , 08:51:00 WIB
Ant AKADEMISI Universitas Palangka Raya Kalimantan Tengah Prof Dr HM Norsanie Darlan MS PH mempertanyakan tujuan penghapusan kolom agama pada KTP. Hal itu dinilai kurang baik dan dapat menyulitkan dalam urusan tertentu. Penghilangan kolom agama dalam KTP, katanya, malah memunculkan masalah baru. "Pencantuman kolom agama pada kartu tanda penduduk (KTP) itu berlangsung sejak lama karena merupakan identitas mendasar bagi warga negara Republik Indonesia," katanya kepada Antara Kalimantan Selatan, di Banjarmasin, Selasa (11/11/2014). Lebih dari itu, lanjut guru besar Universitas Palangka Raya (Unpar) tersebut, identitas agama merupakan hak bagi seseorang, yang menjadi bagian dari hak asasi manusia (HAM). Oleh sebab itu, mantan aktivis Ikatan Pers Mahasiswa Indonesia (IPMI) tersebut mempertanyakan wacana pemerintah yang bakal tidak mencantumkan kolom agama pada KTP di negeri ini. "Saya tidak mengerti, apa tujuan di balik semua itu? Pencantuman kolom agama pada KTP sudah menjadi identitas seseorang bahwa dia warga negara Indonesia yang sah," tegasnya. Koordinator Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) "Bumi Isen Mulang" (pantang mundur) Kalteng itu mencontohkan permasalahan yang mungkin timbul dengan ketiadaan kolom agama pada KTP, antara lain dalam hal perkawinan. "Misalnya, bagaimana jika seseorang mau menikah, jika indentitas agamanya tidak jelas. Apakah ia Islam, Kristen atau Katolik, dll. Ini bisa membuat masalah baru jika identitas di KTP-nya tidak menyebut agama," katanya. "Apakah yang bersangkutan menikah secara Islam, atau datang ke perempuan lain dengan menikah menggunakan agama yang lain pula, karena identitasnya tidak jelas. Ini baru dalam hal perkawinan," tuturnya. Contoh lain, lanjutnya, jika terjadi suatu peristiwa yang tak dikehendaki, misalnya seseorang kecelakaan lalu lintas. Ia meninggal, dan tidak diketahui di mana keluarganya. Permasalahan yang bakal muncul, dalam kasus kecelakaan dan meninggal dunia itu, kemudian jenazah-nya dimakamkan dengan cara apa? "Katakan korban bisa dimakamkan di pekuburan muslimin, tetapi yang bersangkutan tidak diketahui secara pasti agamanya. Ini bukan memecahkan masalah, tapi ide yang bakal menimbulkan masalah, " ujar Norsanie. " Saya melihat dengan mencantumkan kolom agama seperti selama ini atau masa sekarang tidak akan merugikan bagi pemerintah. Begitu pula bagi masyarakat," ujar mantan Kepala Badan Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) Pemprov Kalteng itu.
Reporter : Redaktur : Fransiskus Saverius Herdiman - See more at: http://m.jurnas.com/news/156627/Inilah-Masalah-yang-Muncul-Bila-Kolom-Agama-Dihapus--2014/1/News/Politik-Keamanan/#sthash.cULsR7Wx.dpuf
Sabtu, 22 November 2014
CPNS PERLU TES URINE
D0211114000373 21-NOV-14 PLK BJM
AKADEMISI PERTANYAKAN PEMINDAHAN PUSAT PEMERINTAHAN INDONESIA
Oleh Syamsuddin Hasan
Banjarmasin, 21/11 (Antara) - Akademisi Universitas Palangka Raya, Kalimantan Tengah, Prof Dr HM Norsanie Darlan mempertanyakan realisasi pemindahan pusat pemerintahan Indonesia dari Jakarta ke daerah lain.
"Pasalnya banjir kembali melanda Jakarta, baik sebagai ibu kota negara maupun pusat pemerintahan Indonesia," ujarnya kepada Antara Kalimantan Selatan, di Banjarmasin, Kamis malam.
Wacana pemintahan Ibu Kota Republik Indonesia dari Daerah Khusus Istimewa (DKI) Jakarta beberapa waktu lalu mendapat perhatian dan tanggapan beragam dengan tinjuan dari berbagai aspek. Namun mulai dilupakan, lanjutnya.
Padahal, lanjut Guru Besar pada Universitas Palangka Raya (Unpar) yang merupakan perguruan tinggi negeri tertua di "Bumi Isen Mulang" (pantang mundur) Kalteng itu, musim penghujan tiap tahun terjadi.
"Dengan musim penghujan tersebut, berarti Jakarta atau Betawi yang pada Hindia Belanda disebut Batavia itu bakal menjadi langganan banjir tahunan. Tinggil kondisi banjir itu sendiri, apakah kecil, sedang atau berat," katanya.
Memang, lanjut sang profesor yang berkarir dari pegawai rendahan (pesuruh) itu, meninggalkan Ibu Kota yang sudah demikian maju, sulit rasanya untuk dipindahkan.
"Tapi kalau banjir setiap tahun melanda Jakarta. Apakah tidak ada pemikiran untuk masa depan kita semua. Apakah dibiarkan seperti selama ini kota Jakarta selalu kebanjiran," ujarnya.
"Padahal negeri kita sangat luas dan hampir sama dengan benua Eropa. Kenapa Jakarta dijadikan satu-satunya Ibu Kota Pemerintahan Indonesia," tanya anak Desa Anjir Serapat Kabupaten Kapuas, Kalteng itu.
Mantan aktivis Ikatan Pers Mahasiswa Indonesia (IPMI) itu mengungkapkan, di banyak negara sudah memindahkan ibu kota pemerintahannya, seperti negeri jiran Malaysia, dan Australia.
"Bahkan juga negeri Amerika Serikat atau United State of Amerika (USA) yang sangat terkenal itu, ibu kota pemerintahannya pindah ke daerah lain. Tentu mereka dengan perencanaan yang cukup matang," ungkapnya.
"Mungkin istana negara 'Paman Sam' USA itu tidak sempat kebanjiran. Mereka sudah memindahkannya ke tempat yang aman. Selain itu, di kawasan baru akan berkembang lagi dengan penataan yang rapi tentunya," tuturnya.
Menurut dia, Indonesia untuk memindahkan Ibu Kota pemerintahan ke Palangkaraya yang lokasinya di tengah-tengah negeri ini, mungkin tidak terlalu masalah, terutama dari segi keterdiaan lahan.
"Apalagi 'kota cantik' Palangkaraya posisinya berada di tengah-tengah nusantara Indonesia, sehingga mempermudah pertemuan nasional baik yang dari Sabang maupun dari Merauke persis tidak sejauh masa sekarang," katanya.
"Sementara ibu kota negeri kita saat ini sudah kebanjiran penduduk dan kebanjiran banjir. Jakarta saat sekarang sebaiknya mungkin menjadi pusat perdagangan. Sedangkan Ibu Kota pemerintahan perlu emikiran lebih jauh," demikian Norsanie. ***1***
(T.KR-SHN/B/H. Zainudin/H. Zainudin) 21-11-2014 18:48:16
MASALAH KTP
Home > Nasional > Umum
Pakar: Pengosongan Kolom Agama Persulit Kehidupan Seseorang
Rabu, 12 November 2014, 06:21 WIB
REPUBLIKA.CO.ID, PALANGKARAYA -- Akademisi Universitas Palangka Raya Prof Dr HM Norsanie Darlan menilai secara logika pengosongan kolom agama dalam kartu tanda penduduk seperti wacana dalam beberapa pekan terakhir, agaknya tidak baik secara sosial, karena mempersulit kehidupan seseorang.
Dalam surat elektronik yang diterima Antara di Palangka Raya, Rabu, dia mengatakan kartu tanda penduduk (KTP) yang tidak disebutkan agamanya (kosong) bisa keliru besar bila terjadi kecelakaan yang berakibat fatal seperti meninggal dunia, lalu tidak diketahui akan dikebumikan secara apa dan bagaimana proses fardhu kifayahnya.
"Saya melihat wacana pemerintah yang tidak mencantumkan kolom agama pada KTP tidak mengerti apa tujuannya. Karena KTP yang mencantumkan agama adalah identitas seorang warga negara republik Indonesia yang sudah sah sejak lama," katanya.
Jika di KTP tidak dicantumkan agama, bagaimana seseorang mau menikah karena indentitas agamanya tidak jelas, apakah dia Islam, Kristen atau Katholik, dan sebagainya. "Ini bisa membuat masalah baru yang mana seseorang nantinya jika identitas di KTPnya tidak menyebut agama," katanya.
Guru besar pendidikan non formal (PNF) itu menyatakan apakah ia menikah secara Islam, atau datang ke perempuan lain menikah menggunakan agama lain pula, karena identitasnya yang tercantum di KTP tidak jelas.
"Ini baru dalam hal perkawinan. Jika terjadi suatu peristiwa yang tidak dikehendaki, misalnya seseorang kecelakaan lalu lintas. Ia meninggal, dan tidak diketahui di mana keluarganya. Masalah yang bakal muncul adalah, apakah jenazah orang itu dimakamkan dengan cara apa," kata dia.
Katakanlah dia dikubur di pemakaman Muslimin, padahal yang bersangkutan beragama lain, sehingga wacana itu bukan memecahkan masalah, tapi ide yang bakal menimbulkan masalah baru dalam kehidupan masyarakat di masa mendatang.
"Saya melihat dengan mencantumkan kolom agama seperti masa sekarang tidak akan merugikan bagi pemerintah. Begitu juga bagi masyarakat. Tapi jika menghilangkan kolom agama itu, apakah pasti lebih menguntungkan, karena kehidupan sosial justru kacau," katanya dengan nada tanya.
Ia menyarankan jika belum teruji sebaiknya gunakan apa yang sudah ada agar tidak membuat rakyat jadi pro dan kontra di negeri Pancasila ini. "Bukankah pemerintah masih banyak pekerjaan lain yang belum terselesaikan," demikian Norsanie Darlan.
Jumat, 21 November 2014
PEMIKIRAN PUSAT PEMERINTAHAN
D0211114000373 21-NOV-14 PLK BJM
AKADEMISI PERTANYAKAN PEMINDAHAN PUSAT PEMERINTAHAN INDONESIA
Oleh Syamsuddin Hasan
Banjarmasin, 21/11 (Antara) - Akademisi Universitas Palangka Raya, Kalimantan Tengah, Prof Dr HM Norsanie Darlan mempertanyakan realisasi pemindahan pusat pemerintahan Indonesia dari Jakarta ke daerah lain.
"Pasalnya banjir kembali melanda Jakarta, baik sebagai ibu kota negara maupun pusat pemerintahan Indonesia," ujarnya kepada Antara Kalimantan Selatan, di Banjarmasin, Kamis malam.
Wacana pemintahan Ibu Kota Republik Indonesia dari Daerah Khusus Istimewa (DKI) Jakarta beberapa waktu lalu mendapat perhatian dan tanggapan beragam dengan tinjuan dari berbagai aspek. Namun mulai dilupakan, lanjutnya.
Padahal, lanjut Guru Besar pada Universitas Palangka Raya (Unpar) yang merupakan perguruan tinggi negeri tertua di "Bumi Isen Mulang" (pantang mundur) Kalteng itu, musim penghujan tiap tahun terjadi.
"Dengan musim penghujan tersebut, berarti Jakarta atau Betawi yang pada Hindia Belanda disebut Batavia itu bakal menjadi langganan banjir tahunan. Tinggil kondisi banjir itu sendiri, apakah kecil, sedang atau berat," katanya.
Memang, lanjut sang profesor yang berkarir dari pegawai rendahan (pesuruh) itu, meninggalkan Ibu Kota yang sudah demikian maju, sulit rasanya untuk dipindahkan.
"Tapi kalau banjir setiap tahun melanda Jakarta. Apakah tidak ada pemikiran untuk masa depan kita semua. Apakah dibiarkan seperti selama ini kota Jakarta selalu kebanjiran," ujarnya.
"Padahal negeri kita sangat luas dan hampir sama dengan benua Eropa. Kenapa Jakarta dijadikan satu-satunya Ibu Kota Pemerintahan Indonesia," tanya anak Desa Anjir Serapat Kabupaten Kapuas, Kalteng itu.
Mantan aktivis Ikatan Pers Mahasiswa Indonesia (IPMI) itu mengungkapkan, di banyak negara sudah memindahkan ibu kota pemerintahannya, seperti negeri jiran Malaysia, dan Australia.
"Bahkan juga negeri Amerika Serikat atau United State of Amerika (USA) yang sangat terkenal itu, ibu kota pemerintahannya pindah ke daerah lain. Tentu mereka dengan perencanaan yang cukup matang," ungkapnya.
"Mungkin istana negara 'Paman Sam' USA itu tidak sempat kebanjiran. Mereka sudah memindahkannya ke tempat yang aman. Selain itu, di kawasan baru akan berkembang lagi dengan penataan yang rapi tentunya," tuturnya.
Menurut dia, Indonesia untuk memindahkan Ibu Kota pemerintahan ke Palangkaraya yang lokasinya di tengah-tengah negeri ini, mungkin tidak terlalu masalah, terutama dari segi keterdiaan lahan.
"Apalagi 'kota cantik' Palangkaraya posisinya berada di tengah-tengah nusantara Indonesia, sehingga mempermudah pertemuan nasional baik yang dari Sabang maupun dari Merauke persis tidak sejauh masa sekarang," katanya.
"Sementara ibu kota negeri kita saat ini sudah kebanjiran penduduk dan kebanjiran banjir. Jakarta saat sekarang sebaiknya mungkin menjadi pusat perdagangan. Sedangkan Ibu Kota pemerintahan perlu emikiran lebih jauh," demikian Norsanie. ***1***
(T.KR-SHN/B/H. Zainudin/H. Zainudin) 21-11-2014 18:48:16
RAKYAT BOERNEO KECEWA
Home > Nasional > Politik
'Tak Ada Putra Kalimantan di Kabinet, Kami Kecewa'
Monday, 27 October 2014, 13:59 WIB
Komentar : 6
REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA--Akademisi kelahiran Kalimantan Prof Dr HM Norsanie Darlan, MS PH menyatakan kecewa karena tidak ada putra terbaik daerah itu masuk dalam kabinet Presiden Joko Widodo yang diumumkan Minggu (26/10).
"Saya merasa kecewa, karena Kalimantan yang memiliki lima Provinsi tapi kok tidak ada putra terbaik yang masuk dalam jajaran pembantu Presiden Jokowi," katanya melalui surat elektronik yang dikirim kepada Antara di Palangka Raya, Senin.
Pernyataan itu disampaikan Norsanie Darlan pasca pengumuman Kabinet Kerja Presiden Jokowi-Jusuf Kalla yang di dalamnya tidak ada putra kelahiran Kalimantan yang terdapat lima Provinsi, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Utara itu.
Guru besar pendidikan luar sekolah (PLS)atau Pendidikan Non formal Universitas Palangka Raya (Unpar) itu mengatakan, pulau Kalimantan tercatat sebagai daerah terluas di Indonesia, dan banyak akademisi yang bisa "dilirik" jika dari partai gagal mengajukan calonnya.
Norsanie Darlan yang aktif memantau perkembangan nasional itu mempertanyakan apakah dianggap tidak ada manusia di sana (Kalimantan) yang pulaunya terluas dan terbesar di tanah air. Kenapa tidak dilirik dari perguruan tinggi besar di kelasnya di Kalimantan.
"Saya dalam kesempatan ini mengucapkan selamat atas 34 Menteri yang menjadi wakil rakyat dari 250 juta penduduk Indonesia. Mereka ini terpilih diantara ratusan juta penduduk negeri ini. Namun apakah mereka itu sudah sesuai dengan keahliannya," ujarnya.
Dia mengatakan, pembangunan yang berjalan lebih dari setengah abad di negeri tercinta ini, diimbangi dengan majunya bidang pendidikan sudah tidak layak lagi jika seorang menteri yang menempuh pendidikan cuman di sekolah menengah.
"Saya salut pula dengan bapak Presiden melibatkan sejumlah ahli profesor dari perguruan tinggi dalam Kabinet Kerjanya. Namun harapan kita semua, pekerjaan yang mereka lakukan tentu lebih baik dari mereka yang berpendidikan di bawahnya," katanya.
Prof Norsanie mengatakan, terjadi pemisahan/pemecahan kementerian pendidikan nasional pada Dirjen Pendidikan Tinggi sepertinya akan menimbulkan kesulitan. Karena Dirjen Dikti salah satunya bertugas memproduk professor (guru besar).
KTP PERLU JELAS
jurnas.com
NEWS | TOP SOCCER | BISNIS | LIFESTYLE | KICAU | REDAKSI
CARI
Inilah Masalah yang Muncul Bila Kolom Agama Dihapus
Selasa, 11 November 2014 , 08:51:00 WIB
Ant AKADEMISI Universitas Palangka Raya Kalimantan Tengah Prof Dr HM Norsanie Darlan MS PH mempertanyakan tujuan penghapusan kolom agama pada KTP. Hal itu dinilai kurang baik dan dapat menyulitkan dalam urusan tertentu.
Penghilangan kolom agama dalam KTP, katanya, malah memunculkan masalah baru.
"Pencantuman kolom agama pada kartu tanda penduduk (KTP) itu berlangsung sejak lama karena merupakan identitas mendasar bagi warga negara Republik Indonesia," katanya kepada Antara Kalimantan Selatan, di Banjarmasin, Selasa (11/11/2014).
Lebih dari itu, lanjut guru besar Universitas Palangka Raya (Unpar) tersebut, identitas agama merupakan hak bagi seseorang, yang menjadi bagian dari hak asasi manusia (HAM).
Oleh sebab itu, mantan aktivis Ikatan Pers Mahasiswa Indonesia (IPMI) tersebut mempertanyakan wacana pemerintah yang bakal tidak mencantumkan kolom agama pada KTP di negeri ini.
"Saya tidak mengerti, apa tujuan di balik semua itu? Pencantuman kolom agama pada KTP sudah menjadi identitas seseorang bahwa dia warga negara Indonesia yang sah," tegasnya.
Koordinator Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) "Bumi Isen Mulang" (pantang mundur) Kalteng itu mencontohkan permasalahan yang mungkin timbul dengan ketiadaan kolom agama pada KTP, antara lain dalam hal perkawinan.
"Misalnya, bagaimana jika seseorang mau menikah, jika indentitas agamanya tidak jelas. Apakah ia Islam, Kristen atau Katolik, dll. Ini bisa membuat masalah baru jika identitas di KTP-nya tidak menyebut agama," katanya.
"Apakah yang bersangkutan menikah secara Islam, atau datang ke perempuan lain dengan menikah menggunakan agama yang lain pula, karena identitasnya tidak jelas. Ini baru dalam hal perkawinan," tuturnya.
Contoh lain, lanjutnya, jika terjadi suatu peristiwa yang tak dikehendaki, misalnya seseorang kecelakaan lalu lintas. Ia meninggal, dan tidak diketahui di mana keluarganya.
Permasalahan yang bakal muncul, dalam kasus kecelakaan dan meninggal dunia itu, kemudian jenazah-nya dimakamkan dengan cara apa?
"Katakan korban bisa dimakamkan di pekuburan muslimin, tetapi yang bersangkutan tidak diketahui secara pasti agamanya. Ini bukan memecahkan masalah, tapi ide yang bakal menimbulkan masalah," ujar Norsanie.
"Saya melihat dengan mencantumkan kolom agama seperti selama ini atau masa sekarang tidak akan merugikan bagi pemerintah. Begitu pula bagi masyarakat," ujar mantan Kepala Badan Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) Pemprov Kalteng itu.
Reporter :
Redaktur : Fransiskus Saverius Herdiman
- See more at: http://m.jurnas.com/news/156627/Inilah-Masalah-yang-Muncul-Bila-Kolom-Agama-Dihapus--2014/1/News/Politik-Keamanan/#sthash.cULsR7Wx.dpuf
Langganan:
Postingan (Atom)