Selasa, 06 Maret 2018

Laporan Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Kalimantan Tengah Dalam Rapat Kerja Nasional MPKU Di Surabaya, 06 – 08 Maret 2018

Oleh: H. M. Norsanie Darlan Pendahuluan Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Kalimantan Tengah telah memiliki sebuah rumah sakit yang diberinama Rumah Sakit Islam RSI PKU) Muhammadiyah yang berlokasi di kota Palangka Raya, yang siap memberikan layanan kesehatan kepada warga kota dan sekitarnya dengan tujuan untuk memberikan layanan umum sesuai dengan misi Muhammadiyah yang diharapkan. Sebelum membicarakan tentang sekelumit sejarah PKU, akan dikemukan Thema Seminar Nasional ini adalah : “...Muhammadiyah Membangunan Kesehatan Bangsa...”. Thema di atas adalah sangat besar untuk membangun umat dan Bangsa. Sejarah Pendirian Rumah Sakit Islam PKU Muhammadiyah Palangka Raya Bahwa pada dasarnya pembangunan kesehatan adalah penyelenggaraan upaya kesehatan, merupakan kebutuhan yang sangat penting bagi setiap orang agar dapat menjalankan tugas dan fungsinya sebagai makhluk Allah SWT dimuka bumi secara maksimal. Pembangunan kesehatan tidak saja menjadi tanggung jawab pemerintah saja, tetapi juga menjadi tanggung jawab masyarakat, termasuk usaha swasta, baik berbentuk organisasi, yayasan maupun perorangan. Perkembangan rumah sakit disuatu daerah sangat dipengaruhi oleh pertumbuhan penduduk di daerah yang bersangkutan. Semakin banyak jumlah penduduknya, maka kebutuhan masyarakat terhadap jasa rumah sakit juga akan semakin meningkat. RSI PKU Muhammadiyah Siap Memberikan Layanan Umat Pembangunan dan penyelenggaraan Rumah Sakit Islam PKU Muhammadiyah Palangka Raya merupakan salah satu wujud dan bentuk tanggung jawab kita untuk turut serta dalam tugas meningkatkan derajat kesehatan masyarakat yang optimal, dan merupakan amal usaha Muhammadiyah sebagai perwujudan dari amal shalih serta sarana ibadah yang dilandasi iman dan taqwa kepada Allah SWT, memikul tugas dan tanggung jawab untuk meningkatkan pelayanan kesehatan kepada seluruh masyarakat di Kalimantan Tengah, khususnya di kota Palangka Raya. Sejarah Berdinya Rumah Sakit Islam PKU Muhammadiyah Palangka Raya yang terletak di jalan RTA. Milono km. 2,5 Palangka Raya, perkembangan dan pembangunannya diawali dari poliklinik umum, BKIA dan Rumah bersalin, dengan surat ijin kepala dinas Kesehatan Provinsi kalimantan tengah Nomor 466/BYK-IV/III-2003 tanggal 03 maret 2003. Rumah sakit Islam PKU Muhammadiyah Palangka Raya dibangun di atas tanah seluas 6000 m2, dengan luas bangunan antara 2.900-3.000 m2. namun di lokasi yang sama telah berdiri polik linik sejak tahun 1992. sebuah hibah dari Luar Negeri (Abu Dhaby). Pembangunan rumah sakit ini, dicetuskan oleh tokoh-tokoh Muhammadiyah Kalimantan Tengah yaitu Bapak Drs. H. Saiful Fadhlani G., pada saati itu sebagai ketua PW Muhammadiyah Kalimantan Tengah, dengan harapan dapat melayani masyarakat Kalimantan Tengah di bidang kesehatan. Peletakan batu pertama pembangunan Rumah sakit islam PKU Muhammadiyah Palangka Raya dilakukan pada tahun 2004 oleh bapak Tarmidzi Taher mantan Mentri Agama, didampingi Gubernur Kalimantan Tengah waktu itu Bapak Drs. H. Asmawi Agani. Rumah Sakit Islam PKU Muhammadiyah Palangka Raya ini dibangun sebagai salah satu upaya PW Muhammadiyah Kalimantan Tengah membantu pemerintah dibidang kesehatan serta kepada masyarakat untuk memperoleh dan mendapatkan layanan kesehatan. Sejak tanggal 3 juli 2009 Rumah Sakit Islam PKU Muhammadiyah Palangka Raya mulai operasional, khususnya untuk rawat jalan IGD 24 jam, karena masih terkendala terbatasnya pasokan listrik. Namun seiring dengan dibangunnya jaringan distribusi SUTM, SUTR, Transformator dan kelengkapannya dengan daya 147 KVA/ 147.000 VA, dan ditunjang 2 (dua) buah mesin diesel berkekuatan 80 KVA dan 100 KVA, maka sejak pertengahan bulan desember 2009 telah dimulai menerima pasien rawat inap dan pelayanan kesehatan lainnya. Selanjutnya pada tanggal 18 januari 2010 dilakukan grand opening rumah sakit Islam PKU Muhammadiyah Palangka Raya oleh Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Bapak Prof. Dr. H.M Din Syamsuddin, M.A. ditandai dengan penandatanganan Prasasti. Prasasti RSI PKU Muhammadiyah Palangka Raya “…Dengan Berbekal Ilmu dan Hati Menuju Ridho Ilahi…”. B.Kondisi Obyektif 1. Deskriptif siatuasi dan isu kesehatan umum a.Kesehatan Masyarakat Tujuan usaha Kesehatan Masyarakat ialah agar setiap warga masyarakat dapat mencapai derajat kesehatan yang setinggi-tingginya baik jasmani, rohani, maupun sosialnya serta diharapkan berumur panjang. Kesehatan masyarakat di Palangka Raya memerlukan suatu perhatian khusus, terlebih di kalangan umat Islam. Karena diawali dengan kurangnnya tenaga dan fasilitas dan masyarakat sedang mencari bentuk pelayanan yang sesuai dengan harapan mereka. Sebab dewasa itu dengan keadaan kondisi rumah sakit umum yang ada, sebagian masyarakat memerlukan pelayanan yang lebih spesifik. Terlebih kalangan umat Islam. Namun ternyata tidak demikian, sebab kalangan umat lainpun berharap demikian. Hal ini terbuksi dengan terdapatnya pasein dari masyarakat yang bukan Islam yang turut serta untuk mendapatkan pelayanan di Rumah Sakit Islam PKU Muhammadiyah. b.Fasilitas layanan kesehatan Di Palangka Raya khususnya dan di Kalimantan Tengah pada umumnya umumnya fasilitas kesehatan sangat kurang. Ternyata tidak saja dalam pelayanan Klinik dan Rumah Sakit Muhammadiyah masih belum tersedia di mana-mana. Yang ada hanya sebatas pelayanan kesehatan di Puskesmas dan Rumah Sakit Umum. Itupun belum maksimal. RSIslam PKU Muhammadiyah Palangka Raya Saat Persmian Dalam rangka memberikan layanan kesehatan yang memadai, RSI PKU Muhammadiyah Palangka Raya membeli sebidang tanah di lokasi yang sama sebelah Utara Rumah Sakit, yang sejak awal berdirinya telah merencanakan tanah sekitar 1000 m2 harusnya dimiliki oleh rumah sakit. Dan di tahun 2017 ternyata ditawarkan ke pihak Pimpinan Wilayah Muhammadiyah seharga Rp 4 M. Lengkap dengan 10 kamar tidur. Dari hasil rapat pimpinan Wilayah Muhmmadiyah dengan Pimpinan Rumah sakit, tanah itu disepakati harus di beli, walau dengan berbagai cara serta harga yang agak tiggi. Sementara Rimah Sakit belum memiliki uang sebesar itu. Namun tanah tersebut harus dibeli. Akhirnya yang sebelumnya 3 buah Bank telah menyampaikan proposal/ tawaran pinjaman dari hasil kesepakatan Rp 4.000.000.000,- (empat Milyar Rupiah) tersebut setelah diketahui Bank menggelunturkan dana sebesar Rp 6.000.000.000,- kepada RSI PKU Muhammadiyah. Dengan uang yang berlebih sebesar Rp. 2.000.000.000,- itu, dapat melakukan renovasi bangunan berupa kamar-kamar rumah yang baru dibeli terhadap bangunan yang baru dibeli itu beserta perlengkapannya untuk keperluan kamar eksikutif dan sisanya meningkatkan bangunan utama RSI PKU Muhammadiyah Palangka Raya semula di bagian depan hanya 2 lantai, di naikkan menjadi 3 lantai. Semula di lantai 2 dijadikan perkantoran dirubah menjadi ruang ICU guna meningkatkan pelayanan kepada pasien pasca Operasi. Sedangkan di lantai 3 yang baru di buat dijadikan ruang-ruang perkantoran. Dengan demikian pimpnan wilayah berharap RSI PKU Muhammadiyah Palangka Raya harus Memiliki Layanan Unggulan dalam Bidang. RSU Milik Swasta/Lainnya Kota Palangka Raya ini Memiliki Luas Tanah 6000 + 1000 meter dengan Luas Bangunan 3016 c.Kebijakan Pemerintah Bila berbicara tentang kebijakan pemerintah di Kalimantan Tengah khususnya di Palangka Raya dalam 2 tahun terkhir sudah bagus. Karena baik dari pihak pemerintah di tingkat Provinsi maupun kotamadya Palangka Raya terhadap Rumah Sakit PKU Muhammadiyah belum ada yang mengecewakan. d. Partisipasi masyarakat Sejak berdirinya klinik tahun 1992, hingga diresmikannya Rumah Sakit Islam PKU Muhammadiyah di Palangka Raya sudah berjalan baik. Dengan berdirinya RSI PKU Muhammadiyah ternyata masyarakat yang ada di sekitar Palangka Raya berduyun-duyung datang ke RSI PKU Muhammadiyah untuk mendapatkan pelayanan kesehatan yang memadai dalam berbagai aspek. Hal itu tidak saja sebagai warga Muhammadiyah, tapi umat Islam secara umum tapi juga ada agama lain, yang turut berparisipasi untuk mendapatkan layanan kesehatan. Sehingga pihak RSI PKU Muhammadiyah harus berupaya untuk meningktkan layanan kesehatan dengan tanpa memperhakan siapa pasien yang dilayani. Kurangnya fasilitas dan SDM kita yang memerlukan pengkaderan sangat diperlukan. Namun hal ini masih sangat sedikit yang dapat bersaing untuk mengikuti seleksi di berbagai tempat untuk peningkatan dari dokter umum ke dokter spesialis. Mudah-mudahan PPMuhammadiyah dapat memfasilitasi ke arah itu. Kalau minat para dokter muda sungguh tinggi untuk peningkatan SDMnya, namun baru 1 orang kader kita, yang dapat lulus tes di Gajah Mada. Dan mudah-mudahan ada jatah yang disediakan untuk RSI PKU kami. Setiap tahun ke depan. e.Lain-lain yang dianggap perlu dan sesuai Dengan memperhatikan perhatian masyarakat terhadap kesehatan di atas, maka rumah sakit Islam PKU Muhammadiyah secara perlahan tapi pasti untuk meningkatkan layanannya, dengan memperhatikan aspek kebutuhan masyarakat. Namun masih dirsakan kurang dari aspek SDM kita yang seharusnya setiap saat untuk mendapatkan peningkatan berupa pendidikan apakah ke Spesialis ataukan melalui pendidikan non formal ainnya, seperti diberangkatkan pendidikan jangka pendek baik terhadap tenaga medis maupun para medis. Guna meningatkan layanan RSI PKU Muhammadiyah kita di Kalimantan Tengah dan khususnya kota Palangka Raya. 2. Deskriptif Amal Usaha Kesehatan a.Jumlah AUK dan besarannya Dalam upaya mewujudkan AUK besarannya masih belum dapat kami sampaikan dalam kesempatan ini. Mudah-mudahan dalam kesempatan lain akan dapat kami paparkan sesuai yang diharapkan. b.Klasifikasi AUK berdasarkan jenis AUK, jumlah Bed, Kelas Jumlah Tempat Tidur Menurut Tipe sebelumnya: • VVIP : 0 kamar • VIP : 13 kamar • I : 1 kamar • II : 8 kamar • III : 12 kamar • ICU : 0 kamar • PICU : 0 kamar • NICU : 0 kamar • HCU : 6 kamar • ICCU : 0 kamar • TT di IGD : 6 kamar • TT Bayi Baru Lahir : 0 kamar • TT Kamar Bersalin : 5 kamar • TT Ruang Operasi : 2 kamar • TT Ruang Isolasi : 0 kamar c.SDM (dokter umum, dokter spesialis, perawat, farmasi dsb) Berbicara tentang sumber daya manusia (SDM) dipaparkan dalam uraian pada butir tenaga kesehatan (Lihat 8 Data di bawah). 3. Deskripsi kepemimpinan dan organisasi MPKU RSPKU Muhammadiyah di Palangka Raya, dalam hal kepemimpinan silih berganti. Hal ini sejak awal berdirinya RSI PKU Muhammadiyah tahun 2003 diawali dengan pergantian dari Klinik menjadi RSI PKU Muhammadiyah ada terjadi perubahan. Pada awal berdiri dan dioperasikan RSI PKU Muhammadiyah di Palangka Raya dipimpin oleh dr. Wildan dibantu dengan 2 orang wakil direktur masing-masing Drs. Ansari Safri, dan Mulyadi, SH. Sejak tahun 2010 hingga tahun 2016. Setelah berjalan cukup maju, kepemimpinan di serahkan kepada dr. Faisal, Sp.PD dibantu oleh 2 orang wail direktur sebelumnya hingga dr. Faisal, Sp.PD mendapat tugas baru di Rumah Sakit Sardjito Yogyakarta. Maka kepemimpinan secara langsung juga berganti kepada direktur baru dr. Suyanto, Sp.PD diserta pergantian wakil-wakil Direktur. Dan pada bulan Maret 2018, wakil direktur Dr. Jairi, M.Pd dan dr. Alfan Syahputra Nasution, Sp.BS. dengan mengingat kesibukannya di rumah sakit umum dr. Duris Sylvanus, maka dr. Alfan Syahputra Nasution, Sp.BS. akan diganti dengan dr. Sulistyaningsih, Sp.KK. yang proses surat menyurat sekarang sedang berlangsung. Keadaan RSI PKU Muhammadiyah Palngka Raya saat ini 4. Deskripsi jaringan Eksternal a.Kerjasama dengan pemerintah Dalam hal kerjasama dengan pihak pemerintah baik di tingkat Provinsi maupun kotamadya Palangka Raya, berjalan dengan baik. Dengan pihak pemerintah provinsi Alhamdulillah RSI PKU Muhammadiyah selalu mendapatkan bantuan rutin setiap tahun. Sedangkan dengan pihak pemerintah kota Palagka Raya, RSI PKU Muhammadiyah mendapatkan perbaikan nasib dari Kelas D telah dinaikan menjadi Type C. Hal ini merupakan sebuah penghargaan yang luar biasa diserta dengan gigihnya tenaga baik ekternal maupun internal di RSPKU Muhammadiyah kita. Masih banyak lagi hal-hal yang mendukung terhadap RSI PKU Muhammadiyah kita. Namun dalam laporan ini belum dapat kami sampai secararinci dikesempatan ini. b.Kerjasama dengan lembaga swasta, ormas dan lembaga iternasioal Adapun kerjasama dengan lembaga ormas dan lembaga Internasional dilaporkan sebagai berikut: Dengan lembaga ormas RSI PKU Muhammadiyah sudah menjalin kerjasama yang harmunis. Sedangkan terhadap lembaga Internasional masih belum, karena masih keterbatasan kami. Walau demikian, sebagai cikal bekal berdirinya klinik Muhammadiyah di Palangka Raya tahun 1992 itu dulu adalah bantuan bagunan polik lonik 100% bantuan luar negeri(Abudhaby). Selain hal di atas, kerjasama kita dengan pihak BPJS. Sebab makin typenya ada perbaikan, maka rumahsakit kita akan mendapatkan perbaikan kerjasama dan mdah-mudahan lebih besar dari sekarang. Sebenarnya masih ada kerjasama lain yang belum diuraikan dalam kesempatan ini, namun akan disampaikan dalam kesempatan lain. C. Program kerja 1.Pengembangan rumah sakit dan klinik Sejak didirikan dan diresmikan RSI PKU Muhammadiyah sudah dipikirkan pengembangan berupa adanya beberapa klinik pratama di sekitar kota Palangka Raya, yang tugasnya memberikan pelayanan kepada masyarakat di sekitar kota Palangka Raya, sehingga jika ditemukan pasien yang harusnya dirawat di rumah sakit harus dokter yang bertugas merujuk ke RSI PKU Muhammadiyah Palangka Raya. Namun hal ini masih sedikit belum banyak yang dilakukan. Mudah-mudahan dalam waktu yang tidak terlalu lama lagi cita-cita ini dapat diwujudkan. Walau demikian dokter-dokter orang Muhammadiyah yang praktek di sore hari baik di klinik maupun di Apotek sudah melakukan demikian. Dalam hal pengembangan, tentu saja rumah sakit RSI PKU Muhammadiyah Palangka Raya ini sudah bercita-cita membangunan di atas tanah yang semula Klinik Muhmmadiyah awal, akan direhab dan didirikan bangunan berlantai 4 dengan yang dananya belum diketahui dari mana sumbernya. Tentu saja mengharap adanya donator yang mau penginfakan hartanya ke RSI PKU Muhammadiyah Palangka Raya. Atau bisa dengan cara lain. 2.Tenaga kesehatan Dalam menunjang terlaksananya pelayanan kesehatan RSI PKU Muhammadiyah Palangka Raya dengan segala keterbatasan baik dokter, dokter spesialis, para medis dan karyawan dapat dilihat dalam tabel berikut ini: 1.Data dokter Spesialis 2.Data Bidan 3.Data Farmasi 4.Data dan Pramusaji 5.Data Perawat 6.Data Laborat 7.Data Radiolog 8.Data Sicorety Untuk lebih jelasnya ke 8 data di atas, akan diuraikan sebagai berikut : No Data Ketenagaan RSI PKU Muhammadiyah Jumlah 1. Dokter Spesealis 29 2. Bidan 8 3. Apoteker 11 4. Pramusaji 8 5. Perawat 70 6. Laborat 11 7. Radiolog 3 8. Sicurity 8 Jumlah 158 1.Data dokter Spesialis RUMAH SAKIT ISLAM PKU MUHAMMADIYAH PALANGKA RAYA Jalan RTA. Milono Km. 2,5 Palangka Raya Telp. (0536) 3244801 Fax (0536) 3239444 http : www.rsi-palangkaraya.net E-mail : rsipalangkaraya@yahoo.co.id NO NAMA JABATAN 1 dr. Suyanto, Sp.PD Dokter Spesialis Penyakit Dalam 2 dr. Alfan Syahputra Nasution, Sp.BS. Dokter Spesialis Bedah Saraf 3 dr. Sulistyaningsih, Sp.KK. Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin 4 dr. Dini Mirsanti, Sp.KJ. Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa 5 dr. Sutopo Marsudi Widodo, Sp.KFR Dokter Spesialis Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi 6 dr. Sanggap Indra Sitompul, Sp.JP Dokter Spesialis Penyakit Jantung dan Pembuluh Darah 7 dr. Perwira Bintang, Sp.OT Dokter Spesialis Orthopaedi dan Traumatologi 8 dr. Ahmad Faizal, Sp.PD Dokter Spesialis Penyakit Dalam 9 dr. Itna Warnida, Sp.P Dokter Spesialis Paru 10 dr. Abdul Samad, Sp.An Dokter Spesialis Anestesi 11 dr. Donny Bastian, Sp.OT Dokter Spesialis Orthopaedi dan Traumatologi 12 dr. Uusara, Sp.Rad. Dokter Spesialis Radiologi 13 dr. Nuriatun, Sp.M Dokter Spesialis Mata 14 dr. Menik Utami, Sp.OG Dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi 15 dr. Dayang Nurbayati, Msc, Sp.PD Dokter Spesialis Penyakit Dalam 16 dr. Moelyadi, Sp.THT Dokter Spesialis Telinga, Hidung, Tenggorokan 17 dr. Dessy Sensia Saragih, Sp.PD Dokter Spesialis Penyakit Dalam 18 drg. Munifah, Sp.BM Dokter Gigi Spesialis Bedah Mulut 19 dr. Yudi Y. Ambeng, Sp.U Dokter Spesialis Urologi 20 dr. Darmo Sumitro, Sp.B Dokter Spesialis Bedah 21 dr. Ida Bagus Wicaksana, Sp.OG Dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi 22 dr. Hygea Talita, Sp.S Dokter Spesialis Saraf 23 dr. Hotma, Sp.KJ Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa 24 dr. Ni Made Yuliari, Sp.A Dokter Spesialis Anak 25 dr. Arietha, Sp.A Dokter Spesialis Anak 26 dr. Yusuf Galenta, Sp.JP. Dokter Spesialis Penyakit Jantung dan Pembuluh Darah 27 dr. Yudika Iwan Kaharap, Sp.M. Dokter Spesialis Mata 28 dr. Fraulein Aryati, Sp.PK Dokter Spesialis Patalogi Klinik 29 dr. Erlina Ana Sepra Liber Sigai, Sp. AN Dokter Spesialis Anestesi 2.Data Bidan RUMAH SAKIT ISLAM PKU MUHAMMADIYAH PALANGKA RAYA Jalan RTA. Milono Km. 2,5 Palangka Raya Telp. (0536) 3244801 Fax (0536) 3239444 http : www.rsi-palangkaraya.net E-mail : rsipalangkaraya@yahoo.co.id No. Nama Jabatan 1 Tien Wulan Dhuri, Amd.Keb. Bidan 2 Putri Dwi Wayuningsih, Amd.Keb. Bidan 3 Siti Qomariah, Amd.Keb. Bidan 4 Tia Yulianti, Amd.Keb Bidan 5 Herindianti Latif Pertiwi, Amd.Keb. Bidan 6 Ceria Trinoviany, Amd.Keb. Bidan 7 Mutia Alfisah, Amd.Keb. Bidan 8 Peni Rosita, Amd.Keb. Bidan 3.Data Farmasi RUMAH SAKIT ISLAM PKU MUHAMMADIYAH PALANGKA RAYA Jalan RTA. Milono Km. 2,5 Palangka Raya Telp. (0536) 3244801 Fax (0536) 3239444 http : www.rsi-palangkaraya.net E-mail : rsipalangkaraya@yahoo.co.id No. Nama Jabatan 1 Lilis Tampiasih, S.Farm.Apt. Apoteker Pendamping 2 Rahimah, Amd.Farm. Staf Instalasi Farmasi 3 Akhmad Ilham, Amd.Farm. Staf Instalasi Farmasi 4 Nur Arini, Amd.Farm. Staf Instalasi Farmasi 5 Rusmiati, Amd.Farm. Staf Instalasi Farmasi 6 Miftahul Khair, Amd.Farm. Staf Instalasi Farmasi 7 Enik Yuliantin Staf Instalasi Farmasi 8 Basmal Staf Instalasi Farmasi 9 Evi Mulyani, S.Farm.Apt. Kepala Instalasi Farmasi 10 Hepy Faranita, S.Farm.Apt. Apoteker Pendamping 11 Linda Dwi Rahayu, S.Farm.Apt. Apoteker Pendamping 4.Data dan Pramusaji RUMAH SAKIT ISLAM PKU MUHAMMADIYAH PALANGKA RAYA Jalan RTA. Milono Km. 2,5 Palangka Raya Telp. (0536) 3244801 Fax (0536) 3239444 http : www.rsi-palangkaraya.net E-mail : rsipalangkaraya@yahoo.co.id NO NAMA JABATAN 1 Muthmainah Pramusaji 2 Juwairiyah Pramusaji 3 Anna Purnamasari, AMG Staf Instalasi Gizi 4 Arina Yuliana Hidayah Pramusaji 5 Fitri Natha Pramusaji 6 Isro Imawaningsih, AMG Kepala Instalasi Gizi 7 Isnaniah Pramusaji 8 Reny Rahmawati Lubis, AMG Staf Instalasi Gizi 5.Data Perawat RUMAH SAKIT ISLAM PKU MUHAMMADIYAH PALANGKA RAYA Jalan RTA. Milono Km. 2,5 Palangka Raya Telp. (0536) 3244801 Fax (0536) 3239444 http : www.rsi-palangkaraya.net E-mail : rsipalangkaraya@yahoo.co.id No. Nama Masa Kerja Keterangan TMT Tahun Bulan 1 Kurnaeni, S.Kep.Ns. 01/07/2010 7 8 tetap 2 Nurliya Damayanti, S.Kep.Ns. 01/08/2012 5 7 tetap 3 Evi Fitriyani, S.Kep.Ns. 01/03/2014 4 0 tetap 4 Muhammad Nizar, S.Kep.Ns. 01/03/2014 4 0 tetap 5 Irma Sari Djafar, S.Kep 01/03/2015 4 0 tetap 6 Nyai Eka Sari, S.Kep.Ners 01/04/2015 3 11 tetap 7 Sulistyowati, S.Kep. 01/06/2016 1 10 Penyesuaian Ijazah 8 Sulatini, Amd.Kep. 01/07/2009 8 8 tetap 9 Mahmudah, Amd.Kep 01/07/2009 8 8 tetap 10 Rahimah, Amd.Kep. 01/07/2009 8 8 tetap 11 Noor Hidayati, Amd.Kep. 01/07/2009 8 8 tetap 12 Noor Chotimah, Amd.Kep. 01/07/2009 8 8 tetap 13 Eddy Saputra, Amd.Kep. 01/07/2009 8 8 tetap 14 Budiannor, Amd.Kep 01/08/2009 8 7 tetap 15 Gemiati, Amd.Kep. 01/12/2009 8 3 tetap 16 Rafi’i Hamdi, Amd.Kep. 01/01/2010 8 2 tetap 17 Wannur Hayati, Amd.Kep. 01/01/2010 8 2 tetap 18 Karlina Melianti, Amd.Kep. 01/02/2010 8 1 tetap 19 Megayanti, Amd.Kep. 01/08/2010 7 7 tetap 20 Rahayu, Amd.Kep. 01/01/2011 7 2 tetap 21 Veronica Chressy, Amd.Kep. 01/01/2011 7 2 tetap 22 Olyvia Ogylvi Valentina, Amd.Kep. 01/01/2011 7 2 tetap 23 Sucipto, Amd.Kep. 01/01/2012 6 2 tetap 24 Ananda Zulfikar, Amd.Kep. 01/01/2012 6 2 tetap 25 Hairul Elmi, Amd.Kep. 01/05/2012 5 10 tetap 26 Sarbani, Amd.Kep. 01/05/2012 5 10 tetap 27 Dara Widya, Amd.Kep 01/08/2012 5 7 tetap 28 Adityawarman, Amd.Kep. 01/08/2012 5 7 tetap 29 Muryatun, Amd.Kep. 01/08/2012 5 7 tetap 30 Zein Handayani, Amd.Kep. 01/08/2012 5 7 tetap 31 Siti Amanah, Amd.Kep. 01/02/2013 5 1 tetap 32 Heri Muhsadi, Amd.Kep. 01/02/2013 5 1 tetap 33 Rizali Hafizi, Amd.Kep. 01/02/2013 5 1 tetap 34 Riza Qomariah, Amd.Kep. 01/02/2013 5 1 tetap 35 Julanda Atma Sanjaya, Amd.Kep. 01/09/2013 4 6 tetap 36 Malinda Evaluasi Putir, Amd.Kep 01/09/2013 4 6 tetap 37 Muh. Hasbi Ash Shiddiqi, Amd.Kep. 01/03/2014 4 0 tetap 38 Irfan Sukmana, Amd.Kep. 01/03/2014 4 0 tetap 39 Muzdalifah, Amd.Kep. 01/03/2014 4 0 tetap 40 Tri Hartati, Amd.Kep. 01/03/2014 4 0 tetap 41 Elina, Amd.Kep. 01/03/2014 4 0 tetap 42 Marseni, Amd.Kep. 01/03/2014 4 0 tetap 43 Samsul Bahri, Amd.Kep. 01/03/2014 4 0 tetap 44 Helvi Jayanti, Amd.Kep 01/03/2015 3 0 tetap 45 Debby Syntia Rais, Amd.Kep 01/03/2015 3 0 tetap 46 Eko Sri Hariyanto, Amd.Kep 01/03/2015 3 0 tetap 47 Amelia Wahyu Salsabillah, Amd.Kep 01/03/2015 3 0 tetap 48 Novi Maya Sari, Amd.Kep 01/03/2015 3 0 tetap 49 Betty Angryana, AMK 01/03/2015 3 0 tetap 50 Santi Ayunica Wulandari, Amd.Kep 01/04/2015 2 11 tetap 51 Hafsah, Amd.Kep 01/04/2015 2 11 tetap 52 Agna Maksita, AMK 01/05/2015 2 10 tetap 53 Guntras Sanjaya, Amd.Kep 01/05/2015 2 10 tetap 54 Muhamad Rafi'I, Amd.Kep 01/12/2015 2 3 tetap 55 Agus Mustofa 01/07/2009 8 8 tetap 56 Dwi Prihati 01/07/2009 8 8 tetap 57 Nur Fatayati, S.Kep.Ns. 01/04/2017 0 11 sebelum nya Kontrak TMT 1/2/2016 58 Erika Candra Sari, Skep.Ns. 01/04/2017 0 11 sebelum nya Kontrak TMT 1/6/2016 59 Hermawati, S.Kep.Ns. 01/04/2017 0 11 sebelum nya Kontrak TMT 1/12/2016 60 Inten Titis Purnamasari, S.Kep.Ns. 01/04/2017 0 11 sebelum nya Kontrak TMT 1/12/2016 61 Pratiwi Hasanah Sam, S.Kep.Ns 01/04/2017 0 11 sebelum nya Kontrak TMT 1/12/2016 62 Jamaluddin, S.Kep.Ns 01/04/2017 0 11 sebelum nya Kontrak TMT 1/12/2016 63 Rahmansyah, Amd.Kep 01/04/2017 0 11 sebelum nya Kontrak TMT 1/12/2016 64 Grace Valen Araini, Amd.Kep 01/04/2017 0 11 sebelum nya Kontrak TMT 1/12/2016 65 Muhammad Norkipli, S.Kep.Ns. 01/04/2017 0 11 Calon Pegawai Tetap 66 Zelvi Oktaviana, S.Kep.Ns. 01/04/2017 0 11 Calon Pegawai Tetap 67 Reza Utama Putra, A.Md.Kep. 01/04/2017 0 11 Calon Pegawai Tetap 68 Fitria Supiawati, A.Md.Kep. 01/04/2017 0 11 Calon Pegawai Tetap 69 Eko Prasetya, Amd.Kep. 01/02/2018 0 1 Kontrak 70 Farida Rusmiasih, Amd.Kep. 01/02/2018 0 1 Kontrak 6.Data Laborat RUMAH SAKIT ISLAM PKU MUHAMMADIYAH PALANGKA RAYA Jalan RTA. Milono Km. 2,5 Palangka Raya Telp. (0536) 3244801 Fax (0536) 3239444 http : www.rsi-palangkaraya.net E-mail : rsipalangkaraya@yahoo.co.id No. Nama Jabatan 1 Mahmudiyah, Amd.AK. Kepala Ruangan Instalasi Laboratorium 2 Lamia Putri, Amd.AK. Staf Instalasi Laboratorium 3 Sri Wahyuni, Amd.AK. Staf Instalasi Laboratorium 4 Annisa Farida, Amd.AK. Staf Instalasi Laboratorium 5 Nurhayati, Amd.AK. Staf Instalasi Laboratorium 6 Qomariah, Amd.AK Staf Instalasi Laboratorium 7 Sandra Dewi Swatan, Amd.AK Staf Instalasi Laboratorium 8 Nor Atikah, Amd.AK Staf Instalasi Laboratorium 9 Dwi Purwati, Amd.AK Staf Instalasi Laboratorium 10 Ika Setiany, Amd.AK Staf Instalasi Laboratorium 11 Alpianoor, Amd.AK Staf Instalasi Laboratorium 7.Data Radiolog RUMAH SAKIT ISLAM PKU MUHAMMADIYAH PALANGKA RAYA Jalan RTA. Milono Km. 2,5 Palangka Raya Telp. (0536) 3244801 Fax (0536) 3239444 http : www.rsi-palangkaraya.net E-mail : rsipalangkaraya@yahoo.co.id No. Nama Jabatan 1 Dessyana, Dip. Rad. Kepala Instalasi Radiologi 2 Fakhrul Aldia Nugraha, Amd.Rad. Staf Instalasi Radiologi 3 Randy Januardi, Amd.Rad. Staf Instalasi Radiologi 8.Data Sicorety RUMAH SAKIT ISLAM PKU MUHAMMADIYAH PALANGKA RAYA Jalan RTA. Milono Km. 2,5 Palangka Raya Telp. (0536) 3244801 Fax (0536) 3239444 http : www.rsi-palangkaraya.net E-mail : rsipalangkaraya@yahoo.co.id No Nama Jabatan 1 Muhammad Ruslan Abdul Gani, SPd. Kepala Security 2 Midiyanto Security 3 Tariq Aziz Security 4 Liberson Security 5 Arbani Security 6 Yogam Avissa Security 7 Muhammad Noor Eksan Security 8 Masrul Rudiawan Security 3.Kesehatan masyarakat Salah satu prioritas pembangunan Kota Palangka Raya adalah “Peningkatan Mutu Pelayanan Kesehatan.” Guna mewujudkan hal tersebut pemerintah Kota Palangka Raya telah menetapkan 5 (lima) poin utama peningkatan mutu pelayanan kesehatan, yaitu: a) implementasi pelayanan prima di puskesmas; b) pemenuhan sarana dan prasarana puskesmas; c) peningkatan kapasitas SDM kesehatan; d) peningkatan jangkauan pelayanan kesehatan; dan e) peningkatan layanan kegawatdaruratan. Dengan demikian RSI PKU Muhammadiyah berkesempatan untuk turut serta dalam upaya meningkatan kesehatan masyarakat dimaksud. Perencanaan dan pengelolaan SDM yang baik dengan dasar yang sederhana tetapi berbasis pada kebutuhan nyata telah mendukung perbaikan kualitas pelayanan kesehatan bahkan meningkatkan derajat kesehatan masyarakat. 1. Dasar pengelolaan SDM kesehatan di Kota Palangka Raya: konsep sederhana, optimalisasi- revitalisasi, efisiensi, strategis dan intuitif, kebersamaan, pemenuhan regulasi, berbasis kebutuhan nyata, modernisasi, rewards (and punishment), dan upaya-upaya inovatif. 2. Beberapa tindakan nyata yang telah dilakukan berkaitan dengan pengelolaan SDM kesehatan di Kota Palangka Raya RSI PKU Muhammadiyah turut serta dalam hal ini. 3. Problema ada 2 Rumah Sakit Islam yang selama ini terekan adalah masing-masing sebagai berikut : 1.Internal Dalam aspek internal masih ditemukan kurangnya berbagai hal seperti ketenagaan, peralatan, dan SDM yang masih belum maksimal. 2.Ekternal Dalam aspek ekternal sebagai tantangan yang sangat serius adalah Rusah Sakit Katholik sudah mulai beroperasi. Dan Rumah Sakit Seloam dalam beberapa bulan ke depan juga akan beoperasi. Belum lagi Rumah Sakit Kristen Palangka Raya. 4.Jaringan kerjasama Jaringan kerjasama ada 2 dari Rumah Sakit Islam PKU Muammadiyah yang selama ini terekan adalah masing-masing sebagai berikut : 1.Internal Dalam aspek internal masih ditemukan sudah dilakukan kerjasama dengan Pimpinan Walayah Muhammadiyah, Universitas Muhammadiyah untuk menata ke dalam guna menghadapi tantangan yang lebih jauh ke depan. Demikian pula terhadap kabupaten yang berpotensi membangun fasilitas kesehatannya. 2.Ekternal Dalam aspek ekternal sebagai Rumah Sakit Islam PKU Muhammadiyah bekerjasama dengan pemerintah daerah. Baik ke tingkat provinsi maupun kota Madya Palangka Raya, BPJS dan lain sebagainya. Demi masa depan yang lebih baik. Termasuk juga akan mengadakan pendekatan kepada Rumah-Rumah Sakit Islam Muhamadiyah di luar Kalimantan Tengah. E. Penutup Demikian laporan Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Kalimantan Tengah yang dapat kami laporkan. Atas kerjasama yang baik dari berbagai pihak tidak lupa kami mengucapkan terima kasih. Semoga amal usaha RSI PKU Muhammadiyah Palangka Raya memberikan setitik manfaat buat kemanusiaan melalui amal usaha Muhammadiyah di Kaimantan Tengah baik sekarang maupun yang akan datang. Wassalam

Jumat, 23 Februari 2018

A research result THE ROLE OF NON FORMAL EDUCATION IN DEALING WITH THE ASEAN ECONOMIC COMMUNITY (MEA)

By: H.M.Norsanie Darlan 2014 A b s t r a k The writing aims to: (1) Want to know how preparedness of society in facing society of economic of asean; (2) What is the government's concern in facing the MEA and what is the role of non-formal education (3) What efforts are being made in the face of free competition in the coming years. While the method used in this study is qualitative research to resource persons are officials related to the problem of regional promotion by using approach on the subject of research that is by asking for their time while providing services in taking care of the future of Asea Economic Community. While the data collection tools are: interview, observation and documentation. To find the truth in a simple analysis in this study tested: Credibility, triangulation, Transferability, Dependability, Confirmability and others, so that the data analyzed manghasilkan in accordance with the expected. The results obtained are (1) the readiness of society in facing the society of ASEAN economy is still not seen. What else is the region of the economic market. So from the market economy will emerge. But this happens as part of a change in development; (2) There has not been much government attention in dealing with the Asian economic community (MEA) because it has not been widely publicized with not yet many people who are still passive towards it, and the role of non-formal education should be able to adjust to the situation. (3) That the efforts undertaken in the face of free competition in the coming years still have not seen festive. This should be the role of the government to appeal to various parties, including hotels and others with in memmasyaratkan various things, including banners to enliven it. Keywords: Society, Economy, Asean Background Issues Derived this paper, is nothing but to answer to the preparation of the presence of Aseian economic community conducted in order to face the transitional period We hope we do not feel kaket with various changes and regulations set by the government. So each PLS study program will give its own color in the future. And keep in mind that in the non-formal education perspective that PLS in order to face the Asean Economic Community (MEA) we do not stay silent and stand idly, but non-formal education must participate proaktif to welcome the year 2020 from now. For more details of these things, the author will describe one by one as follows: What is our role, When we pay attention to the role, it means more to the function of adjustment, and as a process. A person's role includes three things: a.Peran includes norms associated with a person's position within a community group. So, the role here, can mean the rules that guide a person in society. b.Peran is something that someone does in society. c.Peran is also a person's behavior that is important for the social structure of society. While the ideal role, can be translated as the role expected to be performed by the holder of the role. For example, the Transportation Department as a certain formal organization is expected to function in law enforcement. According to Soerjono Soekamto, it can act as an umbrella for the community in order to achieve order, security which has the ultimate goal of the welfare of society, meaning the real role. Role is a dynamic aspect of the status (status) owned by a person, while the status is a set of rights and obligations owned by someone if a person performs rights and obligations in accordance with his position, then he runs a function. The nature of the role can also be formulated as a series of certain behaviors caused by a particular position as well. A person's personality also influences how the role should be run. The role played essentially no difference, whether played / played by upper, middle and lower level leaders will have the same role Roles are the actions or behaviors undertaken by a person who occupies a position within the social status of the role requirement to include 4 (four) ) things, namely: Role is a concept of what behavior can be implemented by individuals in society as an organization. Roles can also be regarded as individual behavior, which is important for the social structure of society. Role is an organized sequence that is generated by a position. Humans as social beings have a tendency to live in groups. In group life there will be interaction between members of one community with other members of society. The growing interaction between them is interdependent. In the life of society that emerged what is called the role (role), in education outside school. Role is a dynamic aspect of a person's position, if a person exercises his / her rights and obligations in accordance with his / her position then the person performs a role. To provide a clearer understanding there is a good idea first understand about understanding the role. The role of education personnel in carrying out their duties in taking the role to achieve the purpose of education outside of school. Of course there must be and clear, in an effort to educate the life of the nation. Thus, our role as educational personnel education, should be involved in facing the community so that PLS we are not too far behind in an effort to face market share in the era of MEA. Expectation Expectation is not a hope. Expectation is a possibility that can arise and can be calculated by a quantitative method, whereas expectation is not something that can be quantified with quantitative numbers nor with the quantity of prayer you do. On the other hand, Expectation is a big expectation that is loaded on something that is deemed to be able to bring a good or better impact with the work he hopes can make progress our company. Expectations and Expectations Anyone may choose to live according to his wishes, no one forbids. According to: Ryan Aldo (2012) that: ego and confidence in freedom can make everyone happy, may be used as a handle. But it must be admitted, sometimes the ideals and desires must run aground because of a hope that is too forced. As Shakespeare says, "Expectation is the root of all heartache". Hope is the root of all heartache. Is that so? In English Purpose: The purpose of this research are: 1.Want to know how readiness of society in facing society of economics of asean. 2. How the government's attention in dealing with the MEA, and how the role of non-formal education. 3. What efforts are being made in the face of free competition in the coming years. 3. Educational philosophy Educational philosophy As for education usually begins when a baby is born and lasts a lifetime. In this philosophy, not apart from the lifelong educational term always expressed by the PLS leaders. Education can start from before the baby is born as is done by many people by playing music and reading to the baby in the womb in the hope that she can teach their baby before birth. For some, the experience of daily life is more meaningful than formal education. As Mark Twain says, "I never let the school interfere with my education, family members have a profound teaching role, often more profound than they realize, even though the teaching of family members goes unofficially." Educational function When we look at what Horton and Hunt, educational institutions are concerned with the following manifest functions: • Preparing community members to earn a living • Developing individual talents for personal satisfaction and for the benefit of the community • Preserving culture • Inculcating necessary skills for participation in democracy Function etc., from educational institutions are as follows • Reduces parental control Through education, parents delegate their duties and authority in educating children • Provide means for disobedience Outside Schools have the potential to instill the value of dissent in the community. with the difference of view between school and society about something. Understanding education Education is the most important thing in a person's life. Through formal or non-formal education, a person can be regarded as honorable, has a good career and can behave according to prevailing norms. Education is a conscious and planned effort in an ethical, systematic, intentional and creative way in which learners develop their own potential, intelligence, self-control and skills to make themselves useful in society. Understanding education according to the Law of SISDIKNAS number 20 year 2003, is a conscious effort and planned to create an atmosphere of learning and learning process in such a way that learners can develop their potentials actively in order to have self-control, intelligence, skills in the community, spiritual spiritual strength, personality and noble morals. Non-formal education is an educational path outside formal education that can be implemented in a structured and tiered manner. 4.Arti PLS / PNF The meaning of Norsanie Darlan Extra School Education (2012) is: "... every opportunity where there is regular and directional communication outside the school, where a person obtains information of knowledge, practice and guidance appropriate to the age and the need for his life ... ", by developing the skill levels, attitudes and values that make it possible for him to become an active and efficient participant in his work environment and even in the community of his country. 5. Characteristics of PNF To know clearly the PNF or PLS when reviewing the various literatures stating that Outer Education (PLS) which is based on the National Education System Act number 20 of 2003 clearly that PLS or non-formal education is not described in detail in characteristic of education outside the school. The author on this occasion, trying to unravel the features of PLS or non-formal education according to Norsanie Darlan (2001) are: (1) the time is short; (2) the material is diverse; (3) the students vary and; (4) the place to adjust For more details that is: short time, meaning non-formal education or non-formal education, no more than 12 months. In fact there is only one day. Likewise the hours of study. Whether morning, afternoon or evening. So as not to interfere with the working hours of studying citizens. In its development, in primary and secondary education today there is certainly more than a year. For example in the program package A, B and C. In order to improve the quality of functions and roles are increasingly improved. So residents learn package A, B and C not mungikin within 3 - 4 months have received a diploma. They must learn with sincerity, accompanied by a test to determine the graduation. The learning materials of adult education is diverse. This means adjusting to the needs of the community (learning based on community needs). Different with education or formal education. At the Bali Summit in October 2003, ASEAN leaders stated that the ASEAN Economic Community (MEA) will be the goal of regional economic integration by 2020, the ASEAN Security Community and the ASEAN Socio-Cultural Community are two inseparable pillars of the ASEAN Community. All parties are expected to work strongly in building the ASEAN Community by 2020. The question that arises is: What should we do? Do PLS / PNF simply stand idly by? The answer according to Norsanie Darlan, (2012) is none other than: as educator personnel of education, need to build entrepreneur spirit among student. In addition, every student before entering the workplace, why not educate the centers: PKBM TBM Course Other Training Institutions. So the presence of the ASEAN Economic Community (MEA) we do not need to flinch, while involving ourselves in the effort to establish the Asean market in 2020. Furthermore, the ASEAN Economic Ministers Meeting, held in August 2006 in Kuala Lumpur, Malaysia, agreed to advance the ASEAN Economic Community (MEA) with clear targets and schedule for implementation. At the 12th ASEAN Summit in January 2007, the Leaders affirmed their strong commitment to accelerate the establishment of the ASEAN Community by 2015 proposed in ASEAN Vision 2020 and ASEAN Concord II, and signed the Cebu Declaration on the Acceleration of the Establishment of ASEAN Community by 2015 specifically, leaders agreed to accelerate the establishment of the ASEAN Economic Community by 2015 and to transform ASEAN into an area with free trade in goods, services, investments, skilled labor, and freer capital flows. Characteristics And Elements of ASEAN Economic Community (MEA) Characteristic Definition Etymologically, the term characteristic of interpretation is a two-word arrangement consisting of words; characteristics and exegesis. The term characteristic is taken from the English characteristic, which means it contains the characteristic. It reveals the peculiar properties of something. In the complete dictionary of Chaplin's psychology, it is explained that the characteristics are synonymous of the words character, character, and attributes that have an understanding among them: 1. A quality or nature that remains constant and eternal that can be used as a cirri to identify a person, an object , an event. 2. Integration or synthesis of individual traits in the form of a thread or unity. 3. Personality of a person, considered from an ethical or moral point of view. So among the above notions as suggested by Chaplin, it can be concluded that the characteristic is a peculiar trait, attached to a person or an object. For example, the characteristic of interpretation means a characteristic that is contained in the interpretive literature, such as systematic writing, the source of interpretation, method, style of interpretation and other sebainya. The ASEAN Economic Community (MEA) is the realization of the ultimate goal of economic integration embraced in Vision 2020, which is based on the convergence of the interests of ASEAN member countries to deepen and expand economic integration through existing and new initiatives with clear deadlines. in establishing the ASEAN Economic Community (MEA), ASEAN must act in accordance with the principles of open, outward-oriented, inclusive, and market-oriented economies consistent with multilateral rules and compliance to systems for compliance and implementation of rules-based effective economic commitments. The ASEAN Economic Community (MEA) will establish ASEAN as a single market and production base to make ASEAN more dynamic and competitive with mechanisms and measures to strengthen the implementation of new existing economic initiatives; accelerate regional integration in priority sectors; facilitate the movement of business, skilled labor and talents; and strengthening the institutional mechanism of ASEAN. As a first step towards the realization of the ASEAN Economic Community, ASEAN Economic Community (MEA) will tackle development gaps and accelerate integration of Cambodia, Laos, Myanmar and Viet Nam through the Initiative for ASEAN Integration and other regional initiatives. Forms of Cooperation are: 1. Human resources development and capacity building; 2. Recognition of professional qualifications; 3. A closer consultation on macroeconomic and financial policies; 4. Trade financing measures; 5. Improving infrastructure. 6. Development of electronic transactions through e-ASEAN; 7. Integrating industries throughout the region to promote regional resources; 8. Increasing private sector involvement to build the ASEAN Economic Community (MEA). The importance of external trade to ASEAN and the need for the ASEAN Community as a whole to keep in the future, the main characteristics of the ASEAN Economic Community (MEA): 1. Single market and production base 2. Competitive economic area 3. Equitable economic development area 4 The region is fully integrated in the global economy. These characteristics are very strongly interconnected. By Including the required elements of each characteristic and should ensure consistency and integrity of the elements as well as their proper implementation and mutual coordination among relevant stakeholders. What should we do? As an effort we humanize human beings in non-formal education must also remember what exactly will happen in the ASEAN Economic Community (MEA) for our nation among them, namely: 1. The flow of goods that we can not control 2. Free labor. From the two things above with so many programs from the ASEAN Economic Community (MEA) is a daunting challenge if we are not ready to face it then we will be crushed. For example Free flow of goods without the need to be selected. Stay the quality of which is better, it will enter the market share with ease. Likewise in the face of free labor. They easily occupy the existing jobs in this country. The challenge faced is the readiness of the PLS scholars in the mastery of skills. To overcome the above things our lecturers / academics in non-formal education must early on to conduct a variety of innovative research in the field of non-formal education. Without it, we will miss it. The results of existing research, need a deeper study with the aim to find out which one is innovation. If we are late, then our products of non-formal education graduates / PLS will not be able to participate in the ASEAN Economic Community (MEA) in 2020. The PNF lecturers should do research when we have to find out which one is innovative. Particularly in PNF studies we have to find out where the innovative findings are. If it has been found, then this innovative is used to be developed in order to enter the market world that competes with the expected MEA. May we succeed in facing the ASEAN Economic Community (MEA). But if we do not pay attention from sekrang, when again. When it is too late then we will be crushed by the advancement of society from outside. Also referred to as the ASEAN Economic Community (MEA). Just to know: in the final part of this paper is: Out of School Education (PLS) that existed at Palangka Raya University was established since Unpar was founded. (See History) The establishment of the original Unpar IKIP Bandung Branch Palangka Raya and there is also the Faculty of Economics. Then two private universities, made the forerunner of the establishment of the largest state university in Central Kalimantan. At IKIP Bandung Branch Palangka Raya there is Faculty of Education (FIP) which has 2 majors. Individual Outside Education (PLS) and General Education Department (PU). This PLS Outside Education Study Program, has never ceased until now. In 1986, there was a severe shock, namely: the entire PLS Study Program, Extension Guidance (BP) and Educational Administration (AP) also stopped receiving SLA input students. Because there are rumors the government wants to stop. This is reportedly applicable to FKIP throughout Indonesia. PLS Unpar keeps running by accepting Undergraduate and Undergraduate students. Until 1996 again accepting Input SLA students until now. Originally with the blessing of Unpar Rector. Dr. Ir. Ali Hasymi, MS, MA. PLS Palangka Raya University entered the history of the homeland in the world of education outside school that can survive without stopping. Because during the 10 years running that period, only 2 colleges in the homeland that survive until now are: PLS FKIP University of Jember in East Java and PLS FKIP University Palangka Raya in Central Kalimantan. Since 2008, even though the Professor is only one, PLS Palangka Raya University is on the rise. Because until now PLS University of Palangka Raya not only build and produce undergraduate S-1 but also S-2 (Master Program / M.Pd) and spawned hundreds more M.Pd in Central Kalimantan. Students are not limited to Palangkaraya, also from various regions and provinces. In Central Kalimantan almost all municipal regencies study at S-2 PLS. While other provinces such as West Kalimantan and East Kalimantan are also studying in S-2 PLS Unpar. South Kalimantan this year also signed up. The appointment soon (in July) will be closed. The persistence of Outsourced education. The method used in this research is qualitative research to resource persons are officials related to the problem of promotion area by using approach in research subject that is by asking their time while giving service in pay attention to future of society of economics of asea. While the data collection tools are: interview, observation and documentation. To find the truth in a simple analysis in this study tested: Credibility, triangulation, Transferability, Dependability, Confirmability and others, so that the data analyzed manghasilkan in accordance with the expected. 8.Results The results of non-formal education can be rewarded equivalent to the outcome of a formal education program after going through an equivalency assessment process by an agency designated by the Government or the Regional Government with reference to the national standard of education. Non-formal Education Objectives Non-formal education is provided to citizens who need education services that serve as a substitute, addition, and / or complement of formal education in order to support lifelong education. Function of Non-formal Education Non-formal education serves to develop the potential of learners with an emphasis on mastery of knowledge and functional skills as well as the development of professional attitude and personality. Types of Non-formal Education Non-formal education includes life skills education, early childhood education, youth education, women's empowerment education, literacy education, vocational education and job training. Equality education includes Package A, Package B and Package C, as well as other education aimed at developing learners' abilities such as: Community Learning Center (PKBM), course institutions, training institutes, study groups, assemblies taklim, studio, etc., as well as other education aimed at developing the ability of learners. Educational unit of the organizer • Kindergarten (TK) • Koran Education Park • Play group (KB) • TPA • Course institution • Studio • Training institute • Study group • Community learning center • Assembly Taklim Courses and training are organized for people who need knowledge, skills, life skills, and attitudes to develop themselves, develop their profession, work, independent business, and / or continue their education to a higher level. Meaning and Examples of Formal, Nonformal and Informal Education No. Type of Educational Institution Meaning Example form of educational institution 1 Formal Education organized by School or Higher Education. TK SD, MI SMP, MTS SMA, SMK, MA University 2 Non formal Education organized by institutions outside of school or college. Course TPA Tutoring 3 Informal Education in the community and family Parent education (family) to children What is Non Formal Education? 1.Pengertian Pendidikan Nonformal What is meant by nonformal education monurut: H. M. Norsanie Darlan (2014) is any education service programs held outside the school system, and an integral part of the national education system that lasts a lifetime towards the formation of pancasila human character. Based on pre-school education whose content is related to the expansion of insight, improvement of skills and family welfare, it is called nonformal education program. According to Soedamo, one prominent figure of Outside Education (PNF) Indonesia in his book entitled: Non Formal Education according to: Soedamo, and Norsanie (1984: 11). It clearly states that: "... Nonformal Education is every opportunity where and there is regular, directional communication outside school (outside the formal) where a person obtains information, knowledge, training or guidance according to his age and needs, with the aim of developing the level of skills, attitudes and values that make it possible for him to be an efficient and effective active participant in his family, his work and even the environment of his community and country .... "Meanwhile, according to Phillips H. Combs, his book entitled: concept education beyond school, Jakarta (1986: 50) states: "... Any educational activity organized and organized outside the formal system, either alone or part of a broad activity, intended to provide services to a particular educational goal in order to achieve learning goals ... ". According to Sanapiah Faisal, in his book entitled: Nonformal Education in the system of education and national development, Surabaya (1981: 37), simply mentions: "... organized education outside the school system, the content of education is programmed, the existence of material sequence that. Thus it can be concluded that the main function of Non-formal Education is to teach the community, anytime and take advantage of good value and more beneficial to the personal life of family, community and nation. 3. Non-formal Education Objectives In the operational achievement of institutional objectives of Non-formal education, it is possible for citizens to have: the ability to develop personality and self-actualization; Providing the ability to face the challenges of life, whether in the family or community; Have the ability to foster prosperous families in order to advance the general welfare; Extensive insight into the rights and obligations of citizens; Awareness of statehood, and society in the framework of development of human and society of Pancasila; Ability to create / help create employment in accordance with the expertise possessed; Because this goal asserts that non-formal education seeks to develop harmonious, harmonious and balanced. Intelligence attitude, creativity, and efforts to improve the quality and standard of living of individuals, families, communities and nations. Attempts to achieve these institutional goals are essentially devolved to institutional institutions of family education, extension education, and skills education. 4. Non-formal Scope of Education Non-formal education scope involves various aspects of life of various ages, places and needs, the scope of non-formal education services reaching the entire educational service activities outside the schooling system of services organized by education outside the school. Non-formal education is not only done by the government / department, but also implemented by all people who are able to guide and implement it. The scope of nonformal education can be viewed from several aspects such as: Services, institutions, Program Mining. The three aspects are as follows: In terms of age of schooling services Efforts of educational equipment related to age-related children include: daycare, and groups sepermainan. These educational institutions also include non-formal education institutions. The function of the institution is different from the kindergarten function which is the preparation for entering the elementary school. By sex According to the statistics list of women turns out to be more than men. Nevertheless, women's participation is still lacking in increased production or social, economic education carried out jointly with men. Given that women are more involved in family welfare activities, the participation of women in this case needs to be improved again. Non-formal education programs that are very prominent in these activities are: PKK, KB and so on. Delivery system can be done by using: Group, organization and institution existing in society; Social, cultural mechanisms such as competitions and matches; Traditional arts such as wayang, ludruk, slapstick, or modern technology such as: TV, magazine film, and newspapers; Infrastructure and facilities such as village hall, mosque, school church, learning equipment, and work equipment. The role of non-formal education is to strengthen education providers in courses and training institutions and Community Learning Center (PKBM) in order to promote education beyond the school system. Public preparedness in facing the society of ASEAN economics is still not seen much, because it has not been dilakukaan that every hotel office, restaurant menyambuat and enliven the economic community asean. This is indispensable. In the world of out-of-school education, there is a surprise that 2014 is a PLS study program, changing its nomenclator to PNF; The government's attention in dealing with the MEA and what the role of non-formal education is still only slightly perceived. While what efforts are made in the face of free competition in the coming years is still not felt. 9. The role of non-formal education The role of non-formal education or non-formal education in facing the society of Asean Economy (MEA) is that since 2014 it has prepared itself by changing its momenklator, from the title of Non-Formal Education (PLS) to Non Formal Education (PNF) as efforts to ensure the Asean free market is not an obstacle. In addition, the organizers of study programs / non-formal education programs improve institutions such as Courses and Training, Community Learning Center (PKBM) so for those who for something and others do not have time to enjoy formal education. Thus PKBM provides various instructional packages based on the Act in the PKBM equality package. 10. Discussion In this discussion see from the goal is a readiness of society: Non-formal education in the system of education and national development, Surabaya (1981: 37), simply mentions: "... Organizing organized education outside the school system, the content of education is programmed. From the above point that the importance of non-formal education is fostered to participate in supporting the success of the Asian economic community. Because in non-formal education has seen will happen the free market, so that since 2014 has made the change of PLS nomenklator turned into PNF. So the change in the nomenclator referred to the effort to face the Asean community in the aspect of non formal education. 11. Conclusion 1. That the readiness of society in facing the society of ASEAN economy is still not seen. What else is the region of the economic market. But this happens as part of a change in development; 2. There has not been much government attention in dealing with the Asian economic community (MEA) because it has not been widely publicized with not yet many people who are still passive towards it, and the role of non-formal education should be able to adjust to the situation. 3.That the efforts undertaken in the face of free competition in the coming years are still not seen festive. This should be the role of the government to appeal to various parties, including hotels and others with in requiring various things, including banners to enliven them. BIBLIOGRAPHY Darlan, H.M.Norsanie, 2001. Basic Concepts of Out-of-School Education, FKIP Unpar, Palangka Raya. ------------, 2010. Character Education In the Development of Learning Tools, Training Competence profession teacher Tamiang Layang, Kalteng. ------------, 2012. Efforts to Optimize the Functions and Roles of PKBM as a Community Resources Development Institute, Lemlit Unpar, Palangka Raya. ------------, 2014. Out of School Education, FKIP Unpar, Palangka Raya. Faisal, Sanapiah, 1983. Sociology Society of towns and villages, National Enterprises, Surabaya. H. Combs, Philip 1986. concept education beyond school, Jakarta. Hasmi, Ali, 2096. The Importance of PLS in Central Kalimantan, Palangka Raya. KATT ASEAN, 2007. The ASEAN Economic Community (MEA) in January, Jakarta. Soedamo, 1984. Non Formal Education, National Business Surabaya. Soedamo, and Norsanie, 1984. Non Formal Education in Indonesia, IKIP Malang, Malang. Soekamto, Soerjono 1998. pengayom for the community in order to realize order, security that has prosperity, Jakarta. --------------------------- Author, H.M. Norsanie Darlan, Prof. Dr., MS. PH. Professor of S-1 and S-2 PLS / PNF University of Palangka Raya.

Non Formal Education of Endangered Goods - Prof. Dr. HM Norsanie Darlan MSPH

Author admin imadiklus bay: H.M.Norsanie Darlan The educational expert who is also Professor of University of Palangkaraya (Unpar) Prof. Dr. HM Norsanie Darlan MSPH assessed Overseas Education (PLS) today is a rare and increasingly forgotten. "How not rare because not all provinces in Indonesia organize PLS," said Chairman of the Public Policy Council of Muhammadiyah Regional Leaders of Central Kalimantan Province while in Banjarmasin on Sunday. According to him, the scarcity as the impact of the circulation of "news of birds" in 1986 which states, department / study program (Prodi) PLS in almost all the Faculty of Teacher Training and Education (FKIP) throughout Indonesia do not accept new students. "Except that, PLS FKIP Unpar Kalsel and PLS FKIP Universitan Jember, East Java, which survived until now held the program PLS," said former activist of Indonesian Student Press Association (IPMI). "As a result of 'passing out' it turns out that the last two lamps have been badly affected, among others seen from the number of illiteracy in the country," continued the former Head of Education and Training Agency (Diklat) Central Kalimantan Province. The situation can not be denied, he said, because the energy prepared in that direction (for the handling of PLS), slowly but surely more depleted, in addition to experts have experienced scarcity. Therefore, the name of PLS ​​or Non Formal Education (PNF) increasingly disappears. continued child kelahitan Anjir Kapuas village, the unfortunate Kalteng melintan in the world of education. While in the era of reform in the placement of manpower in Subdin PLS / Non Formal Education and Informasil (PNFI) / early childhood is no longer the remaining PLS staff, making the management of PLS-an so not managed by the experts. In fact, according to him, educational personnel educator (PTK), not only formal education or schooling, but PLS-was also associated with PTK but more focused on PNFI. "Because the role of professional education PTK PNFI is a joint concept and requires us together as well," continued professor Unpar who many wrestle PLS / PNFI. "The issue of the PLS I conveyed to the National Workshop Forum of Schools / Prodi Pendidikan Luar Luar Sekolah, with the theme 'Strengthening Network and PNFI Academics' in Malang, East Java 7-9 last December, source http://harian-pelita.pelitaonline.com/cetak/2012/12/30/pendidikan-luar-search-barang-langka#.UOSwtZipfSg

GAIT PNF IN COMMUNITY EMPOWERMENT OF THE REGIONAL VILLAGE REGION

Bay : H.M.Norsanie, 12 Februari 2014 KIPRAH PNF IN COMMUNITY EMPOWERMENT OF THE REGIONAL VILLAGE REGION A Little Research About: PNF KIPRAH IN COMMUNITY EMPOWERMENT OF THE REGIONAL VILLAGE AREA (Between Hope and Reality) 0leh: H.M. Norsanie Dalan ABSTRACT This paper is aimed at 1.Want to introduce about the PLS / PNF's work in the society; and 2. Want to know how the PLS / PNF work in community development and 3. Want to know clearly how the Program Mehaga lewu in Central Kalimantan, and (4) Want to know how the community knowledge about PLS / PNF in disadvantaged areas. The methodology of this study used qualitative research with subjects in three community groups: urban, suburban and rural (disadvantaged villages) communities. To obtain more accurate data using research tools in the form of: (1) interview guides, (2) observation guidelines and (3) documentation closely related to the problem. After the data was obtained, triangulation was also done. To obtain data analysis consists of data collection, data reduction, data presentation, and withdrawal of conclusions or verification. The results of this study were obtained: (1) By introducing about PLS / PNF gait so far in society. Because PLS / PNF activities so far less known to the public. So many efforts have been made, whether by lecturers, students with various programs. Maupan non-formal education figures. But still have not found the most effective way. (2) the gait of PLS ​​/ PNF educators in the community empowerment has started to happen movement with various things. However, it still finds a significant obstacle that the community believes in formal education rather than non-formal education and (3) clearly how the Mehaga Lewu Program in Central Kalimantan has been initiated by the government with the community. But the question of it is still low in various kangan. So the program needs to be routinely mobilized by the government. Because the community there is a sense of dependence with government involvement; and (4) Whereas public knowledge about PLS / PNF in underdeveloped area is very low. That there are still many people of our community who do not understand what is out of school education / PNF. Keywords: Gait PNF, Mahaga Lewu, Disadvantaged Area.

Selasa, 20 Februari 2018

TUGAS INDIVIDUAL ANTROPOLOGI SOSIAL

Jangan lupa menulis nama, prodi, mata kuliah. 1.Kenapa masyarakat hidup dalam berpantang? Jelaskan. 2.Kenapa harus ada kelakuan masyarakat dalam budaya tradisionalnya? 3.Mengapa harus ada sistem kepercayaan yang lebih tinggi? Jelaskan; 4.Jelaskan salah satu dari 8 peralatan hidup manusia yang sdr ketahui. 5.Kenapa saat terjadinya konflek antar Etnis di Kal-Teng doeloe, muncul emosional kedaerahan? Jelaskan menurut sdr. 6.Sepengetahuan Sdr di mana masyarakat kalteng yang masih hidup dalam budaya aslinya? 7.Kenapa mereka mempertahankan budaya tradisional itu? Jelaskan. 8.Dengan modernisasi seperti dewasa ini, apakah mereka itu ada cara sdr untuk memberikan motivasi ? 9.Jika sekiranya sdr sebagai antroplog apakah sdr mau mengerjakan dan mengambil tulang belulang manusia yang ditemukan di reruntuhan bangunan tua. 10.Dikalteng Peristiwa Tiwah, adalah sebuah peristiwa kebudayaan nenek moyang kita. Coba sdr ceritakan tentang peristiwa tiwah itu. SELAMAT BELAJAR

Minggu, 26 November 2017

APAKAH PERLU PERAN PENDIDIKAN NON FORMAL DALAM MENGHADAPI MASYARAKAT EKONOMI ASEAN (MEA) Oleh : H.M.Norsanie Darlan 2014 A b s t r a k Adapun tulisan ini bertujuan untuk: (1) Ingin mengetahui bagaimana kesiapan masyarakat dalam menghadapi masyarakat ekonomi asean; (2) Bagaimana perhatian pemerintah dalam menghadapi MEA tersebut dan apa saja peran pendidikan non formal (3) Upaya apa yang dilakukan dalam menghadapi persaingan bebas dalam tahun-tahun mendatang. Sedangkan metoda yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kualitatif kepada Nara Sumber adalah para pejabat yang terkait dengan masalah promosi daerah dengan menggunakan pendekatan pada subyek penelitian yaitu dengan meminta waktu mereka sambil memberikan pelayanan dalam memperhatikan masa depan masyarakat Ekonomi Asea. Sedangkan alat pengumpulan data berupa: wawancara, observasi dan dokumentasi. Untuk mencari kebenaran dalam analisa sederhana dalam penelitian ini dilakukan uji: Kredibilitas, triangulasi, Transferabilitas, Dependabilitas, Confirmabilitas dan lain-lain, agar data yang dianalisis manghasilkan sesuai dengan yang diharapkan. Hasil yang diperoleh adalah (1) kesiapan masyarakat dalam menghadapi masyarakat ekonomi asean masih belum terlihat. Apa lagi dikawasan nanjauh dari pasar perkonomian. Sehingga dari perekonomian pasar akan muncul. Namun hal ini terjadi sebagai bagian akan terjadinya perubahan dalam pembangunan; (2) Belum banyak perhatian pemerintah dalam menghadapi masyarakat ekonomi asean (MEA) tersebut karena masih belum dipublikasikan secara luas disertai belum banyak masyarakat yang masih bersifat pasif terhadap hal itu, dan peran pendidikan non formal harus mampu menyesuaikan diri terhadap keadaan tersebut. (3) Bahwa upaya yang dilakukan dalam menghadapi persaingan bebas dalam tahun-tahun mendatang masih belum terlihat meriah. Hal ini sebaiknya peran pemerintah memberikan himbauan kepada berbagai pihak, termasuk hotel dan lain-lain dengan dalam memmasyaratkan berbagai hal, termasuk spanduk guna memeriahkannya. Kata kunci: Masyarakat, Ekonomi, Asean 1.Latar Belakang Masalah Diturunkannya tulisan ini, tidak lain untuk menjawab terhadap persiapan kehadiran masyarakat ekonomi Aseian yang dilaksanakan dalam rangka menghadapi masa peralihan Diharapkan kita tidak terasa kaket dengan berbagai perubahan dan peraturan yang ditetapkan oleh pemerintah. Sehingga masing-masing program studi PLS akan memberikan warna sendiri-sendiri dalam masa datang. Dan perlu diketahui bahwa dalam sudut pandang pendidikan non formal bahwa PLS dalam rangka menghadapi Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) kita tidak tinggal diam dan berpangku tangan, melainkan pendidikan non formal harus turut serta proaktif menyongsong tahun 2020 mendatang dari sekarang. Untuk lebih jelasnya hal-hal itu, penulis akan menguraikan satu persatu sebagai berikut: Apa peran kita, Bila kita memperhatikan tentang peran itu, berarti ia lebih menunjukkan pada fungsi penyesuaian diri, dan sebagai sebuah proses. Peran yang dimiliki oleh seseorang mencakup tiga hal antara lain: a.Peran meliputi norma-norma yang dihubungkan dengan posisi seseorang di dalam kelompok masyarakat. Jadi, peran di sini, bisa berarti peraturan yang membimbing seseorang dalam masyarakat. b.Peran adalah sesuatu yang dilakukan seseorang dalam masyarakat. c.Peran juga merupakan perilaku seseorang yang penting bagi struktur sosial masyarakat. Sedangkan peran ideal, dapat diterjemahkan sebagai peran yang diharapkan dilakukan oleh pemegang peranan tersebut. Misalnya dinas perhubungan sebagai suatu organisasi formal tertentu diharapkan berfungsi dalam penegakan hukum. Menurut: Soerjono Soekamto hal itu dapat bertindak sebagai pengayom bagi masyarakat dalam rangka mewujudkan ketertiban, keamanan yang mempunyai tujuan akhir kesejahteraan masyarakat, artinya peranan yang nyata. Peran merupakan aspek dinamis dari kedudukan (status) yang dimiliki oleh seseorang, sedangkan status merupakan sekumpulan hak dan kewajiban yang dimiliki seseorang apabila seseorang melakukan hak-hak dan kewajiban sesuai dengan kedudukannya, maka ia menjalankan suatu fungsi. Hakekatnya peran juga dapat dirumuskan sebagai suatu rangkaian perilaku tertentu yang ditimbulkan oleh suatu jabatan tertentu pula. Kepribadian seseorang juga mempengaruhi bagaimana peran itu harus dijalankan. Peran yang dimainkan hakekatnya tidak ada perbedaan, baik yang dimainkan / diperankan pimpinan tingkat atas, menengah maupun bawah akan mempunyai peran yang sama Peran merupakan tindakan atau perilaku yang dilakukan oleh seseorang yang menempati suatu posisi di dalam status sosial syarat-syarat peran mencangkup 4 (empat) hal, yaitu: Peran adalah suatu konsep perilaku apa yang dapat dilaksanakan oleh individu-individu dalam masyarakat sebagai organisasi. Peran juga dapat dikatakan sebagai perilaku individu, yang penting bagi struktur sosial masyarakat. Peran adalah suatu rangkaian yang teratur yang ditimbulkan karena suatu jabatan. Manusia sebagai makhluk sosial memiliki kecenderungan untuk hidup berkelompok. Dalam kehidupan berkelompok tadi akan terjadi interaksi antara anggota masyarakat yang satu dengan anggota masyarakat yang lainnya. Tumbuhnya interaksi diantara mereka ada saling ketergantungan. Dalam kehidupan bermasyarakat itu munculah apa yang dinamakan peran (role), dalam pendidikan luar sekolah. Peran merupakan aspek yang dinamis dari kedudukan seseorang, apabila seseorang melaksanakan hak-hak dan kewajibannya sesuai dengan kedudukannya maka orang yang bersangkutan menjalankan suatu peranan. Untuk memberikan pemahaman yang lebih jelas ada baiknya terlebih dahulu kita pahami tentang pengertian peran. Peran tenaga pendidikan tenaga kependidikan dalam menjalankan tugasnya dalam mengambil peran untuk mencapai tujuan pendidikan luar sekolah. Tentu harus ada dan jelas, dalam upaya mencerdaskan kehidupan bangsa. Dengan demikian, peran kita sebagai pendidikan tenaga kependidikan, harus harus terlibat dalam menghadapi masyarakat agar PLS kita tidak terlalu jauh ketinggalan dalam upaya menghadapi pangsa pasar di era MEA. Ekspektasi Ekspektasi bukanlah sebuah harapan. Ekspektasi adalah kemungkinan yang bisa timbul dan dapat dihitung dengan sebuah metode kuantitatif, sedangkan harapan bukanlah sesuatu yang dapat dihitung dengan angka kuantitatif maupun dengan kuantitas do’a yang anda lakukan. Dipihak lain, Ekspektasi adalah sebuah harapan besar yang di bebankan pada sesuatu yang di anggap akan mampu membawa dampak yang baik atau lebih baik dengan diperkerjakan dia ekspektasinya bisa membuat maju perusahaan kita. Ekspektasi dan Harapan Siapa saja boleh memilih untuk hidup menurut keinginannya, tidak ada yang melarang. Menurut: Ryan Aldo (2012) bahwa: Ego dan percaya diri dalam kebebasan mampu membuat setiap orang bahagia, boleh saja dijadikan pegangan. Namun harus diakui, kadang cita dan keinginan harus kandas karna sebuah harapan yang terlalu dipaksakan. Seperti kata Shakespeare, “Expectation is the root of all heartache“. Harapan adalah akar dari semua sakit hati. Apakah memang demikian? Dalam bahasa Inggris, kita dapat menerjemahkan harapan dari kata Hope dan expectation. Kedua kata ini kelihatannya sama, namun dalam pemahamannya adalah tidak harus sama atau berbeda. Hope dan expectation adalah dua kata yang sering membuat kita bingung karena kesamaan dalam konotasinya. Sebenarnya ada beberapa perbedaan antara kedua kata atau istilah tersebut. Expectations sering dicirikan untuk sebuah keinginan yang tidak terpenuhi. Di sisi lain hope bukan tentang keinginan yang terpenuhi. Hope selalu mengenai sesuatu yang mungkin terjadi. Sedangkan Expectations lebih luas bahkan sebagian besar mengenai sesuatu yang tidak mungkin terjadi (sulit terjadi). Pemahaman ini paling tidak menurut ukuran kondisi seseorang pada saat ini terhadap sesuatu yang diinginkan dapat terjadi di masa depan. Ini adalah salah satu perbedaan utama dari keduanya. Sehingga pendidikan luar sekolah diperlukan untuk pengembangan ke masa depan yang lebih baik dari masa sebelumnya. Hope adalah semua tentang imajinasi yang sangat mungkin terjadi sedangkan expectation sering menyangkut imajinasi yang berlebihan dan sulit terjadi. Expectations membuat anda seolah-olah dapat mengendalikan hidup anda karena gairah dan obsesi, sementara hope adalah chance (kesempatan) atau probabilitas dimana anda cenderung berbuat pasrah. Sebetulnya tidak boleh demikian. PLS harus maju terus, para tenaga akademisi yang tak kenal lelah. Expectation adalah pola pikir yang jauh lebih aktif bila dibandingkan dengan hope. Hal ini karena fakta menunjukan bahwa ketika anda berharap (hope) akan sesuatu, anda kadang lebih berserah diri pada takdir (destiny). Sedangkan dalam kasus Expectation, anda mengupayakan segala upaya untuk menggapai atau merealisasikannya apa yang telah direncanakan. Termasuk perencanaan dalam pendidikan non formal. Pemikir berkeyakinan bahwa expectation kadang-kadang dapat disamakan dengan keadaan “berharap-harap cemas”. Perbedaan penting lainnya antara hope dan expectation adalah bahwa expectation mungkin tidak realistis. Di sisi lain hope selalu tentang sesuatu yang realistis. Dalam pengertian ini terkadang Expectation seolah-olah merupakan wujud dari Fantasy atau Illusion. Pendidikan adalah pembelajaran pengetahuan, keterampilan, dan kebiasaan sekelompok orang yang diturunkan dari satu generasi ke generasi berikutnya melalui pengajaran, pelatihan, atau penelitian. Pendidikan sering terjadi di bawah bimbingan orang lain, tetapi juga memungkinkan secara otodidak. Setiap pengalaman yang memiliki efek formatif pada cara orang berpikir, merasa, atau tindakan dapat dianggap pendidikan. Sebuah hak atas pendidikan telah diakui oleh beberapa pemerintah. Pada tingkat global, Pasal 13 PBB 1966 Kovenan Internasional tentang Hak Ekonomi, Sosial dan Budaya mengakui tentang hak setiap orang atas pendidikan. Meskipun pendidikan adalah wajib di sebagian besar tempat sampai usia tertentu, bentuk pendidikan dengan hadir di sekolah sering tidak dilakukan, dan sebagian kecil orang tua memilih untuk pendidikan home-schooling, e-learning atau yang serupa untuk masa depan anak-anak mereka. 2.Tujuan : Adapun tujuan penelitian ini adalah : 1.Ingin mengetahui bagaimana kesiapan masyarakat dalam menghadapi masyarakat ekonomi asean. 2.Bagaimana perhatian pemerintah dalam menghadapi MEA tersebut, dan babagaimana peran pendidikan non formal. 3.Upaya apa yang dilakukan dalam menghadapi persaingan bebas dalam tahun-tahun mendatang. 3.Filosofi pendidikan Filosofi pendidikan Adapun pendidikan biasanya berawal saat seorang bayi itu dilahirkan dan berlangsung seumur hidup. Dalam filosofi ini, tidak terlepas dari istilah pendidikan sepanjang hayat yang selalu dikemukakan oleh para tokoh PLS. Pendidikan bisa saja berawal dari sebelum bayi lahir seperti yang dilakukan oleh banyak orang dengan memainkan musik dan membaca kepada bayi dalam kandungan dengan harapan ia bisa mengajar bayi mereka sebelum kelahiran. Bagi sebagian orang, pengalaman kehidupan sehari-hari lebih berarti daripada pendidikan formal. Seperti kata Mark Twain, "Saya tidak pernah membiarkan sekolah mengganggu pendidikan saya. Anggota keluarga mempunyai peran pengajaran yang amat mendalam, sering kali lebih mendalam dari yang disadari mereka, walaupun pengajaran anggota keluarga berjalan secara tidak resmi. Fungsi pendidikan Bila kita memperhatikan apa menurut Horton dan Hunt, lembaga pendidikan berkaitan dengan fungsi yang nyata (manifes) berikut: • Mempersiapkan anggota masyarakat untuk mencari nafkah. • Mengembangkan bakat perseorangan demi kepuasan pribadi dan bagi kepentingan masyarakat. • Melestarikan kebudayaan. • Menanamkan keterampilan yang perlu bagi partisipasi dalam demokrasi. Fungsi lain, dari lembaga pendidikan adalah sebagai berikut. • Mengurangi pengendalian orang tua. Melalui pendidikan, orang tua melimpahkan tugas dan wewenangnya dalam mendidik anak. • Menyediakan sarana untuk pembangkangan. Luar Sekolah memiliki potensi untuk menanamkan nilai pembangkangan di masyarakat. Hal ini tercermin dengan adanya perbedaan pandangan antara sekolah dan masyarakat tentang sesuatu. Pengertian pendidikan Pendidikan adalah hal terpenting dalam kehidupan seseorang. Melalui pendidikan formal ataukah non formal, seseorang dapat dipandang terhormat, memiliki karir yang baik serta dapat bertingkah sesuai norma-norma yang berlaku. Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana secara etis, sistematis, intensional dan kreatif dimana peserta didik mengembangkan potensi diri, kecerdasan, pengendalian diri dan keterampilan untuk membuat dirinya berguna di masyarakat Pengertian pendidikan menurut Undang-Undang SISDIKNAS nomor 20 tahun 2003, adalah sebagai usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran sedemikian rupa supaya peserta didik dapat mengembangkan potensi dirinya secara aktif supaya memiliki pengendalian diri, kecerdasan, keterampilan dalam bermasyarakat, kekuatan spiritual keagamaan, kepribadian serta akhlak mulia. Pendidikan non formal adalah jalur pendidikan di luar pendidikan formal yang dapat dilaksanakan secara terstruktur dan berjenjang. 4.Arti PLS/PNF Adapun arti Pendidikan Luar Sekolah Norsanie Darlan (2012) adalah: ”...setiap kesempatan dimana terdapat komunikasi yang teratur dan terarah di luar sekolah, di mana seseorang memperoleh informasi pengetahuan, latihan dan bimbingan yang sesuai dengan usia dan kebutuhan hidupnya...”, dengan mengembangkan tingkat keterampilan, sikap dan nilai-nilai yang memungkinkan baginya menjadi peserta aktif dan efesien dalam lingkungan pekerjaannya bahkan lingkungan masyarakat negaranya. 5.Ciri PNF Untuk mengetahui secra jelas PNF atau PLS bila mengkaji berbagai literatur yang menyebutkan bahwa Pendidikan Luar sekolah (PLS) yang berdasarkan dalam Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional nomor 20 tahun 2003 secara jelas bahwa PLS atau pendidikan nonformal itu tidak dijelaskan secara rinci dalam hal ciri pendidikan luar sekolah itu. Penulis dalam kesempatan ini, mencoba mengurai ciri tentang PLS atau pendidikan nonformal ini menurut Norsanie Darlan (2001) adalah: (1) waktunya pendek; (2) materinya beragam; (3) siswanya bervariasi dan; (4) tempatnya menyesuaikan Untuk lebih jelasnya yaitu: waktunya pendek, artinya pendidikan luar sekolah atau pendidikan nonformal ini, tidak lebih dari 12 bulan. Bahkan ada yang hanya satu hari. Demikian juga jam belajarnya. Apakah pagi, sore atau malam hari. Sehingga tidak mengganggu jam kerja warga belajar. Dalam perkembangannya, pada pendidikan dasar dan menengah dewasa ini tentu ada yang lebih dari setahun. Misalnya dalam program paket A,B dan C. Guna meningkatkan kualitas disertai fungsi dan peran yang makin diperbaiki. Maka warga belajar paket A, B dan C tidak mungikin dalam waktu 3 – 4 bulan sudah terima ijazah. Mereka harus belajar dengan kesungguhan, disertai mengikuti ujian untuk menentukan kelulusan. Adapun materi pembelajaran pendidikan orang dewasa ini, beragam. Artinya menyesuaikan dengan kebutuhan masyarakat (belajar berdasarkan bebutuhan masyarakat). Beda dengan pendidikan persekolahan atau pendidikan formal. 6.Peran Pendidikan Non Formal Dalam pendidikan luar sekolah atau pendidikan nonformal ini, materi dibuat berdasarkan kesepakatan. Para mahasiswa yang mengambil program studi / jurusan Pendidikan Luar Sekolah (PLS) tahu persis cara rancang bangun dan rekayasa dalam materi belajar yang berdasar kesepakatan itu. Kalau tidak maka kelompok belajarnya akan bubar. Siswanya atau istilah di PLS Warga belajarnya bervariasi, dengan berdasar konsep pendidikan luar sekolah atau pendidikan nonformal ini, kepada mereka yang karena sesuatu dan lain hal dalam pendidikan formal belum sempat menikmati dunia pendidikan. Namun telah berusia 35 tahun baru ia sadar akan pentingnya sekolah dasar. Padahal pada usia itu tidak akan ada lagi murid SD. Maka ia harus mengikuti jalur ke 2 yaitu pendidikan luar sekolah atau pendidikan nonformal ini, dengan belajar paket A. Sehingga ia harus mengikuti paket A-1 sampai A-100. Atau pendidikan keaksaraan lainnya. Selain itu tutor harus mengerti betul yang didik ini orang dewasa. Materi selingan perlu ada agar warga belajar tidak bosan, maka ia harus merancang bangun dan rekayasa materi belajar lain yang sesuai kebutuhan warga belajar (WB)-nya. Yang dimaksud bervariasi di atas tidak lain usia peserta beragam. Ada yang usia 25 tahun ada pula 35 tahun dan sebagainya. Bahkan pengalaman penulis ada warga belajar (siswanya) lebih tua dari tutor (guru) ini adalah wajar, dan motivasi ingin tahunya sangat tinggi. Bicara tentang tempat tidak seperti dunia persekolahan atau pendidikan formal. Melainkan pendidikan luar sekolah atau pendidikan nonformal ini, berdasarkesepakatan bersama. Terkadang di ruang kelas sekolah, di rumah ketua RT, RK/RW, di rumah warga belajar sendiri atau di balai desa. Yang penting ada kesepakatan. Dengan demikian dalam memperhatikan pendidikan luar sekolah atau pendidikan nonformal ini, tentang: waktu, materi, wb bervariasi dan tempat tentu beda dengan sistem persekolahan atau pendidikan formal. Dan kalau kita terpaku pada salah satu jalur saja di dunia pendidikan ini, maka kapan lagi kepincangan pendidikan itu dapat kita luruskan. Dalam Menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA). MEA adalah bentuk integrasi ekonomi ASEAN dalam artian adanya system perdagaangan bebas antara Negara-negara asean. Indonesia dan sembilan negara anggota ASEAN lainnya telah menyepakati perjanjian Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) atau ASEAN Economic Community (AEC). Pada KTT di Kuala Lumpur pada Desember 1997 Para Pemimpin ASEAN memutuskan untuk mengubah ASEAN menjadi kawasan yang stabil, makmur, dan sangat kompetitif dengan perkembangan ekonomi yang adil, dan mengurangi kemiskinan dan kesenjangan sosial-ekonomi (ASEAN Vision 2020). Pada KTT Bali pada bulan Oktober 2003, para pemimpin ASEAN menyatakan bahwa Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) akan menjadi tujuan dari integrasi ekonomi regional pada tahun 2020, ASEAN Security Community dan Komunitas Sosial-Budaya ASEAN dua pilar yang tidak terpisahkan dari Komunitas ASEAN. Semua pihak diharapkan untuk bekerja secara yang kuat dalam membangun Komunitas ASEAN pada tahun 2020. Pertanyaan yang timbul adalah: Apa yang harus kita lakukan? Apakah PLS/PNF cukup berpangku tangan ? Jawabnya menurut Norsanie Darlan, (2012) tidak lain adalah: sebagai tenaga pendidik tenaga kependidikan, perlu membangun jiwa wira usaha di kalangan mahasiswa. Selain itu setiap mahasiswa sebelum masuk dunia kerja, kenapa tidak mendidikan pusat-pusat: Kursus PKBM TBM Lembaga Pelatihan lainnya. Sehingga kehadiran Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) kita tidak perlu gentar, sambil melibatkan diri dalam upaya menjalin pasar Asean pada tahun 2020 mendatang. Selanjutnya, Pertemuan Menteri Ekonomi ASEAN yang diselenggarakan pada bulan Agustus 2006 di Kuala Lumpur, Malaysia, sepakat untuk memajukan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) dengan target yang jelas dan jadwal untuk pelaksanaan. Pada KTT ASEAN ke-12 pada bulan Januari 2007, para Pemimpin menegaskan komitmen mereka yang kuat untuk mempercepat pembentukan Komunitas ASEAN pada tahun 2015 yang diusulkan di ASEAN Visi 2020 dan ASEAN Concord II, dan menandatangani Deklarasi Cebu tentang Percepatan Pembentukan Komunitas ASEAN pada tahun 2015 Secara khusus, para pemimpin sepakat untuk mempercepat pembentukan Komunitas Ekonomi ASEAN pada tahun 2015 dan untuk mengubah ASEAN menjadi daerah dengan perdagangan bebas barang, jasa, investasi, tenaga kerja terampil, dan aliran modal yang lebih bebas. Karakteristik Dan Unsur Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) pengertian karakteristik Secara etimologis, istilah karakteristik tafsir merupakan susunan dua kata yang terdiri dari kata; karakteristik dan tafsir. Istilah karakteristik diambil dari bahasa Inggris yakni characteristic, yang artinya mengandung sifat khas. Ia mengungkapkan sifat-sifat yang khas dari sesuatu. Dalam kamus lengkap psikologi karya Chaplin, dijelaskan bahwa karakteristik merupakan sinonim dari kata karakter, watak, dan sifat yang memiliki pengertian di antaranya: 1. Suatu kualitas atau sifat yang tetap terus-menerus dan kekal yang dapat dijadikan cirri untuk mengidentifikasikan seorang pribadi, suatu objek, suatu kejadian. 2. Intergrasi atau sintese dari sifat-sifat individual dalam bentuk suatu untas atau kesatuan. 3. Kepribadian seeorang, dipertimbangkan dari titik pandangan etis atau moral. Jadi di antara pengertian-pengertian di atas sebagaimana yang telah dikemukakan oleh Chaplin, dapat disimpulkan bahwa karakteristik itu adalah suatu sifat yang khas, yang melekat pada seseorang atau suatu objek. Misalnya karakteristik tafsir artinya suatu sifat yang khas yang terdapat dalam literature tafsir, seperti sistematika penulisan, sumber penafsiran, metode, corak penafsiran dan lain sebainya. Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) adalah realisasi tujuan akhir dari integrasi ekonomi yang dianut dalam Visi 2020, yang didasarkan pada konvergensi kepentingan negara-negara anggota ASEAN untuk memperdalam dan memperluas integrasi ekonomi melalui inisiatif yang ada dan baru dengan batas waktu yang jelas. dalam mendirikan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA), ASEAN harus bertindak sesuai dengan prinsip-prinsip terbuka, berorientasi ke luar, inklusif, dan berorientasi pasar ekonomi yang konsisten dengan aturan multilateral serta kepatuhan terhadap sistem untuk kepatuhan dan pelaksanaan komitmen ekonomi yang efektif berbasis aturan. Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) akan membentuk ASEAN sebagai pasar dan basis produksi tunggal membuat ASEAN lebih dinamis dan kompetitif dengan mekanisme dan langkah-langkah untuk memperkuat pelaksanaan baru yang ada inisiatif ekonomi; mempercepat integrasi regional di sektor-sektor prioritas; memfasilitasi pergerakan bisnis, tenaga kerja terampil dan bakat; dan memperkuat kelembagaan mekanisme ASEAN. Sebagai langkah awal untuk mewujudkan Masyarakat Ekonomi ASEAN, Pada saat yang sama, Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) akan mengatasi kesenjangan pembangunan dan mempercepat integrasi terhadap Negara Kamboja, Laos, Myanmar dan Viet Nam melalui Initiative for ASEAN Integration dan inisiatif regional lainnya. Bentuk Kerjasamanya adalah : 1. Pengembangan sumber daya manusia dan peningkatan kapasitas; 2. Pengakuan kualifikasi profesional; 3. Konsultasi lebih dekat pada kebijakan makro ekonomi dan keuangan; 4. Langkah-langkah pembiayaan perdagangan; 5. Meningkatkan infrastruktur 6. Pengembangan transaksi elektronik melalui e-ASEAN; 7. Mengintegrasikan industri di seluruh wilayah untuk mempromosikan sumber daerah; 8. Meningkatkan keterlibatan sektor swasta untuk membangun Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA). Pentingnya perdagangan eksternal terhadap ASEAN dan kebutuhan untuk Komunitas ASEAN secara keseluruhan untuk tetap melihat ke depan, karakteristik utama Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA): 1. Pasar dan basis produksi tunggal, 2. Kawasan ekonomi yang kompetitif, 3. Wilayah pembangunan ekonomi yang merata 4. Daerah terintegrasi penuh dalam ekonomi global. Karakteristik ini saling berkaitan yang sangat kuat. Dengan Memasukkan unsur-unsur yang dibutuhkan dari masing-masing karakteristik dan harus memastikan konsistensi dan keterpaduan dari unsur-unsur serta pelaksanaannya yang tepat dan saling mengkoordinasi di antara para pemangku kepentingan yang relevan. Apa yang harus kita perbuat ? Sebagai upaya kita memanusiakan manusia dalam pendidikan non formal harus pula ingat dengan apa sebenarnya yang bakal terjadi dalam Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) bagi bangsa kita diantaranya, yaitu: 1.Aliran Barang masuk yang tak bisa kita kendalikan 2.Tenaga kerja bebas. Dari 2 hal di atas dengan sekian program dari Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) tersebut merupakan tantangan yang menakutkan bila kita tidak siap untuk menghadapinya maka kita akan tergilas. Misalnya Aliran barang yang bebas tanpa perlu diseleksi. Tinggal kualitas mana yang lebih baik, ia akan masuk pangsa pasar dengan mudah. Demikian juga dalam menghadapi tenaga kerja yang bebas. Mereka dengan mudah menempati lapangan kerja yang ada di negeri ini. Tantangan yang dihadapi adalah kesiapan para sarjana PLS dalam penguasaan skill. Untuk mengatasi hal-hal di atas para dosen/akademisi kita di pendidikan non formal harus sejak dini melakukan berbagai penelitian yang inovasi dalam bidang pendidikan non formal. Tanpa hal itu, kita akan ketinggalan. Hasil-hasil penelitian yang telah ada, perlu pengkajian yang lebih mendalam dengan tujuan untuk mencari mana yang inovasi. Bila kita terlambat, maka produk kita para sarjana pendidikan non formal /PLS akan tidak bisa turut serta dalam Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) tahun 2020 mendatang. Para dosen PNF seharusnya bila melakukan penelitian kita harus mencari mana yang inovatif. Khususnya dalam penelitian-penelitian PNF kita harus mencari dimana ditemukannya inovatif itu. Jika telah ditemukan, maka yang inovatif inilah yang dijadikan untuk dikembangkan agar dapat masuk dunia pasar yang bersaing dengan MEA yang diharapkan. Semoga kita sukses dalam menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA). Tapi kalau tanpa kita perhatikan dari sekrang, kapan lagi. Bila terlambat maka kita akan tergilas oleh majunya masyarakat dari luar. Yang juga disebut dengan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) tersebut. Sekedar tahu: dalam bagian akhir tulisan ini adalah: Pendidikan Luar Sekolah (PLS) yang ada di Universitas Palangka Raya itu berdiri sejak Unpar di didirikan. (Lihat Sejarah) Berdirinya Unpar semula ada IKIP Bandung Cabang Palangka Raya dan ada pula Fakultas Ekonomi. Lalu 2 perguruan tinggi swasta ini, dijadikan cikal bakal berdirinya Universitas negeri terbesar di Kalimantan Tengah. Pada IKIP Bandung Cabang Palangka Raya di sana ada Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) yang memiliki 2 jurusan. Masing-masing Pendidikan Luar Sekolah (PLS) dan jurusan pedidikan Umum (PU). Program Studi Pendidikan Luar Sekolah PLS ini, tidak pernah terhenti hingga sekarang. Dalam tahun 1986, ada goncangan berat, yaitu: seluruh Program Studi PLS, Bimbingan Penyuluhan (BP) dan Administrasi Pendidikan (AP) turut menghentikan menerima mahasiswa input SLA. Karena ada kabar burung pemerintah mau menghentikan. Hal ini kabarnya berlaku pada FKIP seluruh Indonesia. PLS Unpar tetap berjalan dengan menerima mahasiswa input Sarjana Muda dan Diploma. Hingga tahun 1996 kembali menerima mahasiswa Input SLA hingga sekarang. Semula atas restu Rektor Unpar Prof. Dr. Ir. Ali Hasymi, MS, MA. PLS Universitas Palangka Raya masuk dalam sejarah di tanah air dalam dunia pendidikan luar sekolah yang mampu bertahan tanpa berhenti. Karena selama 10 tahun berjalan masa itu, hanya 2 perguruan tinggi di tanah air yang bertahan hingga sekarang yaitu: PLS FKIP Universitas Jember di Jatim dan PLS FKIP Universitas Palangka Raya di Kalteng. Sejak tahun 2008 walau Profesornya hanya seorang, PLS Universitas Palangka Raya naik daun. Karena hingga sekarang PLS Universitas Palangka Raya tidak saja membina dan memproduk sarjana S-1 tapi juga S-2 (Program Magister/M.Pd) dan menelurkan ratusan lebih M.Pd di Kalimantan Tengah. Mahasiswa tidak sebatas di Palangka Raya, juga dari berbagai daerah dan provinsi. Di Kalimantan Tengah hampir semua kabupaten kota kuliah di S-2 PLS. Sedangkan Provinsi lain seperti Kalimantan Barat dan Kalimantan Timur juga kuliah di S-2 PLS Unpar. Kalimanan Selatan tahun ini juga mendaftar. Pendapaftaran sebentar lagi (bulan Juli) akan ditutup. Bertahannya pendidikan Luar Sekolah ini untuk tetap menjalankan pengabdiannya karena meresaran pendidikan non formal ini, belum banyak mendapatkan perhatian dari berbagai pihak. Hal ini karena ketidak tahuan saja. Namun mahasiswa S-2 PLS sejak tahun 2008 mayoritas dari tenaga guru, yang berminat menyandang gelar Sarjana S-2 (M.Pd). selain itu dari berbagai PNS dari Dinas dan Badan serta Swasta dari berbagai instansi ikut kuliah di PLS. Dalam pertemuan dosen PLS secara nasional dosen –dosen dari berbagai perguruan tinggi di tanah air selalu bertanya dan angkat jempol kepada Unpar. Karena S-2 PLS di negeri tercinta ini, yang hanya satu-satunya ada di luar Jawa adalah di Palangka Raya. Sementara di PLS Surabaya 6 orang guru besar PLS kok kenapa proposalnya untuk mendirikan S-2 selalu kandas. Sementara di Universitas Palangka Raya agustus 2008 sudah mendapat restu secara resmi dan mendapat izin operasional dari Mendikbud RI, melalui Dirjen Pendidikan Tinggi. Alumnus kami sudah menempati di berbagai Instansi pemerintah dan swasta di tanah air. 7.Metoda Metoda yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kualitatif kepada Nara Sumber adalah para pejabat yang terkait dengan masalah promosi daerah dengan menggunakan pendekatan pada subyek penelitian yaitu dengan meminta waktu mereka sambil memberikan pelayanan dalam memperhatikan masa depan masyarakat Ekonomi Asea. Sedangkan alat pengumpulan data berupa: wawancara, observasi dan dokumentasi. Untuk mencari kebenaran dalam analisa sederhana dalam penelitian ini dilakukan uji: Kredibilitas, triangulasi, Transferabilitas, Dependabilitas, Confirmabilitas dan lain-lain, agar data yang dianalisis manghasilkan sesuai dengan yang diharapkan. 8.Hasil Penelitian Hasil pendidikan non formal dapat dihargai setara dengan hasil program pendidikan formal setelah melalui proses penilaian penyetaraan oleh lembaga yang ditunjuk oleh Pemerintah atau Pemerintah Daerah dengan mengacu pada standar nasional pendidikan. Sasaran Pendidikan Non formal Pendidikan non formal diselenggarakan bagi warga masyarakat yang memerlukan layanan pendidikan yang berfungsi sebagai pengganti, penambah, dan/atau pelengkap pendidikan formal dalam rangka mendukung pendidikan sepanjang hayat. Fungsi Pendidikan Non formal Pendidikan non formal berfungsi mengembangkan potensi peserta didik dengan penekanan pada penguasaan pengetahuan dan keterampilan fungsional serta pengembangan sikap dan kepribadian profesional. Jenis Pendidikan Non formal Pendidikan non formal meliputi pendidikan kecakapan hidup, pendidikan anak usia dini, pendidikan kepemudaan, pendidikan pemberdayaan perempuan, pendidikan keaksaraan, pendidikan keterampilan dan pelatihan kerja. Pendidikan kesetaraan meliputi Paket A, Paket B dan Paket C, serta pendidikan lain yang ditujukan untuk mengembangkan kemampuan peserta didik seperti: Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM), lembaga kursus, lembaga pelatihan, kelompok belajar, majelis taklim, sanggar, dan lain sebagainya, serta pendidikan lain yang ditujukan untuk mengembangkan kemampuan peserta didik. Satuan pendidikan penyelenggara • Taman kanak-kanak (TK) • Taman Pendidikan Al-Qur'an • Kelompok bermain (KB) • Taman penitipan anak (TPA) • Lembaga kursus • Sanggar • Lembaga pelatihan • Kelompok belajar • Pusat kegiatan belajar masyaraka • Majelis taklim Kursus dan pelatihan diselenggarakan bagi masyarakat yang memerlukan bekal pengetahuan, keterampilan, kecakapan hidup, dan sikap untuk mengembangkan diri, mengembangkan profesi, bekerja, usaha mandiri, dan/atau melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Arti dan Contoh Pendidikan Formal, Nonformal dan Informal No. Jenis Lembaga Pendidikan Arti Contoh bentuk lembaga pendidikan 1 Formal Pendidikan yang diselenggarakan oleh Sekolah atau Perguruan Tinggi. TK SD, MI SMP, MTS SMA, SMK, MA Universitas 2 Non formal Pendidikan yang diselenggarakan oleh lembaga di luar sekolah atau perguruan tinggi. Kursus TPA Bimbingan Belajar 3 Informal Pendidikan di dalam masyarakat dan keluarga Pendidikan orang tua (keluarga) kepada anak Apa Pendidikan Non Formal itu ? 1.Pengertian Pendidikan Nonformal Yang dimaksud dengan pendidikan nonformal monurut: H. M. Norsanie Darlan (2014) adalah setiap program pelayanan pendidikan yang diselenggarakan di luar sistem persekolahan, dan merupakan bagian terpadu dari sistem pendidikan nasional yang berlangsung seumur hidup menuju terbentuknya manusia pancasila yang berkarakter. Berdasarkan pendidikan pra sekolah yang isi kegiatannya berkenaan dengan perluasan wawasan, peningkatan keterampilan dan kesejahteraan keluarga, disebut program pendidikan nonformal. Menurut Soedamo, salah seorang tokoh Pendidikan Luar Sekolah (PNF) Indonesia dalam bukunya berjudul: Pendidikan Non Formal menurut: Soedamo, dan Norsanie (1984: 11). Secara jelas menyebutkan bahwa: “...Pendidikan Nonformal adalah setiap kesempatan dimana dan terdapat komunikasi yang teratur dan terarah, diluar sekolah (diluar formal), di mana seseorang memperoleh informasi, pengetahuan, latihan, atau pun bimbingan sesuai dengan usia dan kebutuhan hidupnya, dengan tujuan mengembangkan tingkat keterampilan, sikap dan nilai-nilai yang memungkinkan baginya menjadi peserta aktif yang efesien dan efektif dalam keluarganya, pekerjaanya bahkan lingkungan masyarakat dan negaranya....” Sedangkan menurut Phillips H. Combs, dalam bukunya yang berjudul : concept education beyond school, Jakarta thn (1986 : 50) menyebutkan : “...Setiap kegiatan pendidikan yang terorganisir dan diselenggarakan di luar system formal, baik tersendiri maupun merupakan bagian dari suatu kegiatan yang luas, yang dimaksudkan untuk memberikan layanan kepada sasaran didik tertentu dalam rangka mencapai tujuan-tujuan belajar...”. Menurut Sanapiah Faisal, dalam bukunya yang berjudul : Pendidikan Nonformal didalam system pendidikan dan pembangunan nasional, Surabaya thn (1981 : 37), secara sederhana menyebutkan : “...Penyelengaraan Pendidikan yang terorganisir di luar system persekolahan, isi pendidikannya terprogram, adanya sekuensi materi yang disampaikan didalam proses suatu pendidikan yang berlangsung, berada dalam suatu medan inter-aksi belajar mengajar yang sedikit banyak terkontrol, serta adanya kredensial meskipun tidak selalu memiliki saksi legal contoh konkritnya seperti kursus, penataran, dan training...”. 2. Fungsi Pendidikan Non formal Fungsi Pendidikan Non formal adalah membelajarkan individu agar mampu mengembangkan potensi yang ada pada diri kearah perwujudan pribadi yang utuh, dan membelajarkan masyarakat sehingga terwujud masyarakat gemar belajar. Gemar belajar ini dalam arti luas, meliputi berupa: membaca, menulis dan berhitung. Tidak itu saja tapi juga itu mereka juga perlu diberikan berbagai keperluan hidup berupa keterampilan-keterampilan yang sebaiknya memberikan fungsi terhadap sumber daya alam di sekitar untuk diolah menjadi suatu kecakapan hidupnya. Pelaksanaan Pendidikan Non formal tidak terikat oleh ruang dan waktu dapat dilakukan kapan saja, dimana saja, oleh dan untuk siapa saja seseorang yang pada suatu ketika menjadi peserta didik pada saat ini dia dapat menjadi tutor ataupun instruktur. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa fungsi utama Pendidikan Non formal adalah membelajarkan masyarakat, kapan saja dan memanfaatkan nilai yang baik dan lebih bermanfaat bagi kehidupan pribadi keluarga, masyarakat bangsa dan Negara. 3. Tujuan Pendidikan Non formal Dalam pencapaian secara operasional tujuan institusional pendidikan Non formal, memungkinkan bagi warga masyarakat untuk memiliki : memberikan kemampuan mengembangkan kepribadian dan mengaktualisasikan dirinya; Memberikan kemampuan menghadapi tantangan hidup, baik dalam lingkungan keluarga atau masyarakat; Punya kemampuan membina keluarga sejahtera dalam rangka memajukan kesejahteraan umum; Wawasan yang luas tentang hak dan kewajiban sebagai warga Negara; Kesadaran berbangsa bernegara, dan bermasyarakat dalam rangka pembangunan manusia dan masyarakat pancasila; Kemampuan menciptakan /membantu menciptakan lapangan kerja sesuai dengan keahlian yang dimiliki; Karena tujuan ini menegaskan bahwa pendidikan Non formal berusaha mengembangkan secara selaras, serasi dan seimbang. Kecerdasan sikap, kreativitas, dan upaya peningkatan mutu dan taraf hidup individu, keluarga, masyarakat bangsa dan negara. Upaya pencapaian tujuan yang institusional tersebut pada hakikatnya dilimpahkan kepada pranata kelembagaan pendidikan keluarga, pendidikan perluasan wawasan, dan pendidikan keterampilan. 4. Ruang Lingkup Pendidikan Non formal Ruang lingkup pendidikan Non formal menyangkut berbagai aspek kehidupan dari berbagai usia, tempat dan kebutuhan, ruang lingkup pelayanan pendidikan nonformal menjangkau keseluruhan kegiatan pelayanan pendidikan di luar sistem persekolahan pelayanan diselenggarakan oleh pendidikan di luar persekolah. Pendidikan Non formal tidak hanya dilakukan oleh pemerintah / departemen, tapi juga dilaksanakan oleh seluruh masyarakat yang mampu membimbing dan melaksanakannya. Ruang lingkup pendidikan nonformal dapat ditinjau dari beberapa segi seperti : Pelayanan, pranata, Pelambangan Program. Ketiga segi itu sebagai berikut : Dari segi pelayanan Usia Persekolahan Upaya peralatan pendidikan yang berhubungan dengan anak usia berhubungan antara lain adalah: tempat penitipan anak, dan kelompok sepermainan. Lembaga-lembaga pendidikan semacam ini juga termasuk lembaga pendidikan nonformal. Fungsi lembaga tersebut berbeda dengan fungsi taman kanak-kanak yang merupakan persiapan untuk memasuki sekolah dasar. Berdasarkan jenis kelamin Menurut daftar statistik wanita ternyata jumiah lebih banyak dari pada pria. Meskipun demikian, partisipasi wanita masih kurang dalam peningkatan produksi atau pendidikan sosial, ekonomi yang dilaksanakan bersama dengan pria. Mengingat bahwa wanita lebih berperan dalam kegiatan kesejahteraan keluarga, partisipasi wanita dalam hal ini perlu ditingkatkan lagi. Program pendidikan nonformal yang sangat menonjol dalam kegiatan itu ialah : program PKK, KB dan sebagainya. Sistem penyampaian dapat dilakukan dengan menggunakan : Kelompok, organisasi clan lembaga yang ada dalam masyarakat; Mekanisme sosial, budaya seperti perlombaan dan pertandingan; Kesenian tradisional seperti wayang, ludruk, dagelan, maupun teknologi modem seperti : TV, film majalah, dan surat kabar; Prasarana dan sarana seperti: balai desa, masjid, gereja sekolah, alat perlengkapan belajar, dan alat perlengkapan kerja. Peran pendidikan non formal adalah harus memperkuat lembaga penyelenggara pendidikan pada lembaga kursus dan pelatihan beserta Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) dalamuaya memajukan pendidikan di luar sistem persekolahan tersebut. Kesiapan masyarakat dalam menghadapi masyarakat ekonomi asean masih belum banyak terlihat, karena belum dilakukaan bahwa setiap kantor hotel, restoran menyambuat dan memeriahkan masyarakat ekonomi asean. Hal ini sangat diperlukan. Dalam dunia pendidikan luar sekolah ada kebuah kejutan tahun 2014 yaitu program studi PLS, dirubah nomenklatornya menjadi PNF; Perhatian pemerintah dalam menghadapi MEA tersebut dan apa saja peran pendidikan non formal hanya masih sedikit yang dirasakan. Sedangkan upaya apa yang dilakukan dalam menghadapi persaingan bebas dalam tahun-tahun mendatang masih belum dirasakan. 9.Peran Pendidikan Luar Sekolah Peran Pendidikan Luar Sekolah atau pendidikan non formal, dalam menghadapi masyarakat Ekonomi Asean (MEA) adalah sejak tahun 2014 sudah mempersiapkan diri dengan merubah momenklatornya, dari sebutan Pendidikan luar sekolah (PLS) menjadi Pendidikan Non Formal (PNF) sebagai upaya agar pasar bebas Asean tidak menjadi kendala. Selain itu pihak pengelenggara program studi/jurusan pendidikan non formal meningkatkan lembaga-lembaga seperti Kursus dan Pelatihan, Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) sehingga bagi mereka yang karena sesuatu dan lain hal tidak sempat menikmati pendidikan formal. Maka PKBM menyediakan berbagai paket pembelajaran yang berdasarkan Undang-Undang ada di PKBM paket-paket kesetaraan. 10.Pembahasan Dalam pembahasan ini melihat dari tujuan adalah suatu kesiapan masyarakat dalam menghadapi masyarakat ekonomi asean. Dalam aspek teori menurut: Soedamo, dan Norsanie (1984 : 11). Secara jelas menyebutkan bahwa: “...Pendidikan Non formal adalah setiap kesempatan dimana dan terdapat komunikasi yang teratur dan terarah, diluar sekolah (diluar formal), di mana seseorang memperoleh informasi, pengetahuan, latihan, atau pun bimbingan sesuai dengan usia dan kebutuhan hidupnya, dengan tujuan mengembangkan tingkat keterampilan, sikap dan nilai-nilai yang memungkinkan baginya menjadi peserta aktif yang efesien dan efektif dalam keluarganya, pekerjaanya bahkan lingkungan masyarakat dan negaranya....” Dengan demikian peran pendidikan non formal sudah mulai kelihatan walau teori di atas sudah tampil sebelum perjanjian tentang masyarakat ekonomi asean. Adapun tujuan yang berikut adalah bagaimana perhatian pemerintah dalam menghadapi MEA tersebut dan apa saja peran pendidikan non formal. Dalam teori terhadap hasil penelitian yang telah ada, perlu pengkajian yang lebih mendalam dengan tujuan untuk mencari mana yang inovasi. Bila kita terlambat, maka produk kita para sarjana pendidikan non formal /PLS akan tidak bisa turut serta dalam Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) tahun 2020 mendatang. Para dosen PNF seharusnya bila melakukan penelitian kita harus mencari mana yang inovatif. Dengan demikian masih ditemukan bahwa belum banyaknya perhatian pemerintah terhadap persiapan menghadapi masyarakat ekonmi asean ini. Sehingga diperlukan cara yang lebih proaktif dimasa datang. Seperti pembinaan lembaga kursus dan pelatihan (LKP) serta Pusat Kegitan Belajar Masyarakat (PKBM) harus ditampilkan. Dalam tujuan penelitian ini diperlukan upaya apa yang dilakukan dalam menghadapi persaingan bebas dalam tahun-tahun mendatang sehingga punya bahan yang lebih positif dimasa datang. Teori yang mendukungan terhadap hal ini adalah Sedangkan menurut Phillips H. Combs, dalam bukunya yang berjudul : concept education beyond school, Jakarta thn (1986 : 50) menyebutkan: “...Setiap kegiatan pendidikan yang terorganisir dan diselenggarakan di luar system formal, baik tersendiri maupun merupakan bagian dari suatu kegiatan yang luas, yang dimaksudkan untuk memberikan layanan kepada sasaran didik tertentu dalam rangka mencapai tujuan-tujuan belajar...”. Menurut Sanapiah Faisal, dalam bukunya yang berjudul: Pendidikan Non formal didalam system pendidikan dan pembangunan nasional, Surabaya thn (1981 : 37), secara sederhana menyebutkan : “...Penyelengaraan Pendidikan yang terorganisir di luar system persekolahan, isi pendidikannya terprogram. Dari hal di atas bahwa pentingnya pendidikan non formal merupakan dibina untuk turut serta mendukung suksesnya masyarakat ekonomi asean. Sebab dalam pendidikan non formal sudah melihat akan terjadiya pasar bebas, sehingga sejak tahun 2014 sudah melakukan perubahan nomenklator PLS berubah menjadi PNF. Jadi perubahan nomenklator dimaksud menjukkan upaya menghadapi masyarakat asean dalam aspek pendidikan non formal. 11.Kesimpulan 1. Bahwa kesiapan masyarakat dalam menghadapi masyarakat ekonomi asean masih belum terlihat. Apa lagi dikawasan nanjauh dari pasar perkonomian. Namun hal ini terjadi sebagai bagian akan terjadinya perubahan dalam pembangunan; 2. Belum banyak perhatian pemerintah dalam menghadapi masyarakat ekonomi asean (MEA) tersebut karena masih belum dipublikasikan secara luas disertai belum banyak masyarakat yang masih bersifat pasif terhadap hal itu, dan peran pendidikan non formal harus mampu menyesuaikan diri terhadap keadaan tersebut. 3.Bahwa upaya yang dilakukan dalam menghadapi persaingan bebas dalam tahun-tahun mendatang masih belum terlihat meriah. Hal ini sebaiknya peran pemerintah memberikan himbauan kepada berbagai pihak, termasuk hotel dan lain-lain dengan dalam memesyaratkan berbagai hal, termasuk spanduk guna memeriahkannya. 12.DAFTAR PUSTAKA Darlan, H.M.Norsanie, 2001. Konsep Dasar Pendidikan Luar Sekolah, FKIP Unpar, Palangka Raya. ------------, 2010. Pendidikan Karakter Dalam Pengembangan Perangkat Pembelajaran, Diklat Kompetensi profesi guru Tamiang Layang, Kalteng. ------------, 2012. Upaya Mengoptimalkan Fungsi dan Peran PKBM Sebagai Lembaga Pengembang Sumber Daya Masyarakat, Lemlit Unpar, Palangka Raya. ------------, 2014. Pendidikan Luar Sekolah, FKIP Unpar, Palangka Raya. Faisal, Sanapiah, 1983. Sosiologi Masyarakat kota dan desa, Usaha Nasional, Surabaya. H. Combs, Philip 1986. concept education beyond school, Jakarta. Hasmi, Ali, 2096. Pentingnya PLS di KalimantanTengah, Palangka Raya. KATT ASEAN, 2007. Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) pada bulan Januari, Jakarta. Soedamo, 1984. Pendidikan Non Formal, Usaha Nasional Surabaya. Soedamo, dan Norsanie, 1984. Pendidikan Non Formal di Indonesia, IKIP Malang, Malang. Soekamto, Soerjono 1998. pengayom bagi masyarakat dalam rangka mewujudkan ketertiban, keamanan yang mempunyai Kemakmuran, Jakarta. --------------------------- Penulis, H.M. Norsanie Darlan, Prof. Dr., MS. PH. Guru Besar S-1 dan S-2 PLS/PNF Universitas Palangka Raya