Kamis, 08 November 2018

PEMAPARAN MAKALAH DI MAKASSAR

Makalah : Kompetensi Untuk Memenangkan Kompetisi Pada Pasar Kerja Nasional dan Global Oleh : H.M. Norsanie Darlan Guru Besar PLS/PNF Univeritas Palangka Raya Pendahuluan Lembaga Kursus dan Lembaga Pelatihan merupakan dua satuan pendidikan Non formal seperti yang tertera dalam pasal 26 ayat (4) Undang-Undang Nomor: 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Secara umum dalam pasal 26 ayat (5) dijelaskan bahwa Kursus dan pelatihan diselenggarakan bagi masyarakat yang memerlukan bekal pengetahuan, keterampilan, kecakapan hidup, dan sikap untuk mengembangkan diri, mengembangkan profesi, bekerja, usaha mandiri, dan/atau melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Selain itu kembali diperlengkap dalam pasal 103 ayat (1) Peraturan Pemerintah Nomor: 17 tahun 2010 tentang pengelolaan dan penyelenggaraan pendidikan bahwa: kursus dan pelatihan diselenggarakan bagi masyarakat, dalam rangka untuk mengembangkan kepribadian profesional dan untuk meningkatkan kompetensi vokasional dari peserta didik (Warga Belajar) dalam sebuah kursus dan pelatihan guna meningkatkan kualitas generasi muda ke masa depan yang penuh tantangan. Pendidikan non formal/Pendidikan luar sekolah merupakan pendidikan yang juga harus dimiliki oleh setiap manusia Indonesia yang memerlukannya. Hal ini sebagai tatanan yang sangat penting dalam dunia pendidikan formal. Karena selama ini pendidikan formal yang sudah tersedia diberbagai bidang keahlian, namun masih dirasakan bahwa tidak cukup hanya dengan pendidikan formal, tapi peran pendidikan non formal (pendidikan luar sekolah) adalah pendidikan yang semakin tahun semakin dirasakan kalau pendidikan formal saja, sudah mulai dirasakan masih belum tuntas. Hal ini jika tidak dilengkapi dengan pendidikan non formal. Penulis pernah berdiskusi dengan seorang tokoh Pendidikan Nasional, Prof. Djudju Sudjana (1999). Beliau menggambarkan di Benua Erofa yang selama waktu beliau menempuh pendidikan bahwa sangat dirasakan pentingnya pendidikan luar sekolah. Untuk itu PNF harus ada di setiap bidang. Sehingga beliau memberikan /mengambil contoh di Indonesia peran pendidikan luar sekolah (Pendidikan Non Formal) belum banyak diperankan. Padahal makin maju suatu negara, maka makin maju pula pendidikan luar sekolah. Tapi nyatanya di tanah air kita, tidaklah demikian. Penulis tahun 2002 saat itu ditugasi oleh Bapak Gubernur Kalimantan Tengah sebagai kepala Badan Diklat Provinsi. Dan merasakan dalam Diklat Prajabatan ternyata tidak menemukan para Calon PNS saat itu, yang masuk kerja telah memiliki sertifikat kahlian. Kecuali guru dan dokter yang di Ijazahnya terlampir dengan Akta IV bagi guru sebagai sertifikat keahlian mengajar. Dan dokter dengan sertifikat Uji Kompetensi dokter Indonesia. Sementara CPNS yang lain saat itu, belum pernah mensyaratkan sertifikat kahliannya dalam memasuki lapangan kerja. Adapun sertifikat keahlian tersebut sama halnya dengan yang dikeluarkan Lembaga Kursus dan Pelatihan (LKP) salah satu diantaranya di kota Sampit LPP Quantum sekarang ini. Masih ada contoh singkat sebuah persyaratan kerja di Asia Timur Raya (Jepang) misal seseorang dalam kesarjanaannya Sarjana Listrik. Dalam tes masuk di perusahaan ia diterima bekerja di perusahaan Listrik. Tapi saat mau masuk kerja, ia belum boleh bekerja. Karena tidak memiliki sertifikat keahlian (kompetensi) dalam mengolah Listrik. Sehingga yang bersangkutan harus ikut kursus di LKP tentang Listrik. Kalau tidak. ia tidak boleh masuk kerja di perusahaan tempatnya ia diterima bekerja. Ini sebuah bukti peran Lembaga Kursus di negeri yang telah maju. Harusnya di Indonesia juga demikian. Berbagai pengertian Pengertian kompetensi adalah suatu kewenangan (kekuasaan) untuk menentukan (memutuskan sesuatu) dalam pemberian pengetahuan dan keterampilan kepada peserta didik (WB). Arti Memenangkan Kompetisi menyebabkan (menjadikan) menang contoh: 'bukan hanya kekuatan senjata, tetapi dengan melalui jalur pendidikan non formal bukan melalui kekuatan ekonomi juga dapat memenangkan memalui peperangan. Pasar tenaga kerja dapat diartikan sebagai suatu pasar yang mempertemukan pencari tenaga kerja. Dalam pasar ini, adalah para pencari kerja (Pemilik Tenaga Kerja), sedangkan sebagai pencari adalah lembaga yang memerlukan tenaga kerja. Arti Nasional dan Global adalah Nasional berlaku untuk menyatakan satu negara saja. Misalnya Nasional Indonesia, Nasional Singapura dan lainnya. Sedangkan Internasional berarti bersifat seluruh dunia. Jadi hubungan negara dari Asia Tenggara dengan negara dari Asia Timur itu bersifat internasional dan juga sebaliknya. Tujuannya: Bahwa ingin memberikan motivasi dan pemahaman yang baik kepada peserta didik (warga Belajar), dan telah merasakan pentingnya kompetensi dalam memenangkan persaingan kerja. Ingin memberikan wawasan kepada orang tua wisudawan akan pentingnya pendidikan secara formal maupun non formal (pendidikan luar sekolah) khususnya yang berbasis vokasional untuk modal mengembangkan krisis di masa depan mereka. Dalam Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 Bagian Kelima Pendidikan Non formal Pasal 26 secara jelas telah mengisyaratkan bahwa : (1)Pendidikan non formal diselenggarakan bagi warga masyarakat yang memerlukan layanan pendidikan yang berfungsi sebagai pengganti, penambah, dan/atau pelengkap pendidikan formal dalam rangka mendukung pendidikan sepanjang hayat (Leve Long Education). (2)Pendidikan non formal berfungsi mengembangkan potensi peserta didik (WB) dengan penekanan pada penguasaan pengetahuan dan keterampilan fungsional serta pengembangan sikap dan kepribadian yang profesional. (3)Pendidikan non formal meliputi pendidikan kecakapan hidup, pendidikan anak usia dini, pendidikan kepemudaan, pendidikan pemberdayaan perempuan, pendidikan keaksaraan, pendidikan keterampilan dan pelatihan kerja, pendidikan kesetaraan, serta pendidikan lain yang ditujukan untuk mengembangkan kemampuan peserta didik. (4)Satuan pendidikan non formal terdiri atas lembaga kursus, lembaga pelatihan, kelompok belajar, pusat kegiatan belajar masyarakat, dan majelis taklim, serta satuan pendidikan yang sejenis. (5)Para alumnus kursus dan pelatihan ini diselenggarakan bagi masyarakat yang memerlukan bekal pengetahuan, keterampilan, kecakapan hidup, dan sikap untuk mengembangkan diri, mengembangkan profesi, bekerja, usaha mandiri, dan/atau melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. (6)Adapun hasil pendidikan non formal dapat dihargai setara dengan hasil program pendidikan formal setelah melalui proses penilaian penyetaraan oleh lembaga yang ditunjuk oleh Pemerintah atau Pemerintah Daerah dengan mengacu pada standar nasional pendidikan. Sekilas kita berbicara tentang sertifikasi, hal ini secara jelas tertuang Dalam Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 pasal 16 sebagai berikut: (1)Sertifikat berbentuk Ijazah dan sertifikat kompetensi. (2)Ijazah diberikan kepada peserta didik sebagai pengakuan terhadap prestasi belajar dan/atau penyelesaian suatu jenjang pendidikan setelah lulus ujian yang diselenggarakan oleh satuan pendidikan yang terakreditasi. (3)Sertifikat kompetensi diberikan oleh penyelenggara pendidikan dan lembaga pelatihan kepada peserta didik dan warga masyarakat sebagai pengakuan terhadap kompetensi untuk melakukan pekerjaan tertentu setelah lulus uji kompetensi yang diselenggarakan oleh satuan pendidikan yang terakreditasi atau lembaga sertifikasi. Sedangkan pada bagian lain berbicara tentang Akreditasi termuat dalam Pasal 60 adalah: (1)Akreditasi dilakukan untuk menentukan kelayakan program dan satuan pendidikan pada jalur pendidikan formal dan non formal pada setiap jenjang dan jenis pendidikan. (2)Akreditasi terhadap program dan satuan pendidikan dilakukan oleh Pemerintah dan/atau lembaga mandiri yang berwenang sebagai bentuk akuntabilitas publik. (3)Akreditasi dilakukan atas dasar kriteria yang bersifat terbuka. (4)Untuk saat ini, Akreditasi terdiri atas sebutan: A, B dan C. Namun pemilik PKBM, LKP dan PAUD, tidak perlu harus A dan harus bercermin pada diri sendiri. Dewasa ini, dari Litbang Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan RI mengisyaratkan bahwa Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) dalam proses akreditasi harus diutamakan. Karena di PKBM ada pendidikan kesetaraan berupa paket A = setara sekolah Dasar/MI, paket B = setara dengan SLTP/MST demikian juga paket C = setara dengan SLA/MA. Lembaga ini harus mengutamakan akreditasinya, dengan alasan bahwa PKBM dalam ujian nasional mereka tidak bisa dilaksanakan di PKBM itu, kalau belum terakreditasi. Nah bagaimana warga belajarnya. Jadi agar mereka tidak kabur dalam ujian, maka PKBM tersebut harus di akreditasi. Tidak perlu: A, B atau C. yang penting sudah terakreditasi. Peran LKP Mencerdaskan bangsa Adapun Peran Lembaga Kursus dan Pelatihan, setiap hari para instruktur dalam lembaga pelatihan atau kursus melakukan berbagai kegiatan belajar mengajar dengan peserta kursus (WB) dan mereka juga harus berpikir tentang cara peserta kursus belajar dan pengetahuan yang diberikan agar dapat diserap oleh peserta kursus. Ketika instruktur ingin mengajarkan kepada peserta kursus (WB) tentang proses belajar sebagai suatu tugas terstruktur dan memiliki ragam metode, maka instruktur memperlihatkan media yang mampu memberi gambaran tentang hal itu. Dengan menunjukkan gambar atau alat media tertentu, instruktur mengatakan kepada peserta kursus dalam hal ini adalah WB: “Peserta kursus semua mencoba memperhatikan, inilah proses menggambar pola yang benar, lalu potongan pola dengan ukuran yang jelas pula” Metode ini, sering dijumpai di berbagai lembaga pelatihan. Melalui cara ini, peserta kursus lebih banyak diberikan berupa: pengetahuan tentang objek tanpa memberikan kesempatan pada mereka untuk terlibat atau menyentuh langsung dengan benda yang diperkenalkannya. Akibatnya mereka tidak mengetahui betul bagaimana prosesnya dan hasilnya jadi seperti apa atau gambar yang diberikan guru itu bagaimana. Para peserta kursus dengan pelatihan tidak bisa menggunakan seluruh panca inderanya untuk memahami benda atau gambar tersebut. Seandainya saja setiap peserta kursus diberikan kesempatan untuk melihat, menyentuh, menggunakan, mempraktikan bagaimana proses itu berlangsung. Pelajaran yang peserta kursus terima akan dapat lebih bermakna dan bisa diingat secara lebih baik. Instruktur bisa melakukan berbagai cara membangun pengetahuan peserta kursus. Misalnya mengenalkan tentang semua alat-alat yang akan digunakan dalam pelatihan itu. Peserta kursus harus dikenalkan dahulu, bagaimana cara menggunakannya dan kegunaan dari alat-alat yang digunkan tersebut. Jika guru, totur, Instruktur menginginkan peserta kursus untuk memiliki pemikiran yang lebih, mereka tidak hanya harus mengetahui konsep proses tetapi bagaimana mereka tahu dan mengerti serta bisa mempraktekkan bagaimana teknik-teknik menjahit /komputer, dan keterampilan lainya yang baik itu dan bagai mana teknik-teknik untuk menghasilkan suatu pekerjaan yang berkualitas. Menurut Piaget (dalam Foreman, 1993 : 121) cara yang dapat digunakan untuk membangun pengetahuan dalam proses pelatihan diantaranya adalah sebagai berikut : a.Pertanyaan atau melakukan tanya jawab dengan peserta kursus. Dalam suatu proses pelatihan dapat menggunakan untuk membangun pengetahuan dasar. Pertanyaan - pertanyaan tersebut secara tidak langsung dapat membangun pengetahuan baru dan membangun motivasi belajar, demikian juga dalam menghadapi perkejaan. b.Menghadirkan semua hal yang dibutuhkan dalam proses pelatihan selama proses belajar itu berlangsung. Lembaga harus mampu menyediakan sarana praktek yang lengkap, dan metode yang digunakan dalam pelatihan atau kursus lebih menekankan pada kerja nyata atau praktek langsung bukan pada pemberian materi secara teori saja, ketersediaan alat-alat sebagai sarana belajar yang berupa benda yang tidak dapat diubah atau benda yang dapat diubah menjadi sangat vital. Fungsi pendidik dalam proses pembelajaran orang dewasa adalah membantu belajar orang dewasa yang mengandung makna membantu. Tujuan pelatihan Karyawan: 1. Untuk meningkatkan keterampilan para karyawan sesuai dengan perubahan teknologi. 2. Untuk meningkatkan produktivitas kerja organisasi kerja. 3. Memberi wawasan kepada para karyawan untuk lebih mengenal organisasinya dan meningkatkan kemampuan peserta latihan mengerjakan tugasnya yang sekarang. 4. Memberikan kemampuan menumbuhkan sikap empati dan melihat sesuatu dari “kacamata” orang lain. 5. Meningkatkan kemampuan menginterpretasikan data dan daya nalar para karyawan dan meningkatkan kemampuan dan keterampilan para karyawan dalam menganalisis suatu permasalahan serta pengambilan keputusan. 6. Meningkatkan kualitas keahlian karyawan sejalan dengan majunya perubahan teknologi. Melalui pelatihan, pelatih (trainer) memastikan bahwa setiap karyawan dapat secara efektif dan efisien mengembangkan kapasitas potensi yang dimilikinya. 7. Menghemat waktu belajar karyawan untuk menjadi kompeten dalam pekerjaan membantu memecahkan persoalan operasional secara kreatif. 8. Mendorong setiap karyawan memahami dan menjalankan visi dan misi organisasi. 9. Mengembangkan kemampuan di atas rata-rata (extra miles) dalam melaksanakan tugas dalam bekerja. 10.Mempertajam dan memperlengkapi tingkat professionalisme para karyawan dengan standar terbaik. Manfaat Pelatihan Di LKP Adapun tujuan umum pelatihan dan pengembangan, harus diarahkan untuk meningkatkan produktifitas organisasi perusa-haan. Tujuan pelatihan di LKP dan pengembangan merupakan langkah untuk meningkatkan produktivitas organisasi melalui berbagai kegiatan antara lain: 1. Mengembangkan pengetahuan, sehingga pekerjaan di perusahaan dapat diselesaikan secara rasional. 2. Dengan Pelatihan akan mengembangkan keterampilan atau keahlian, sehingga pekerja di perusahaan dapat diselesaikan lebih cepat dan efektif. Tujuan pengembangan : 1. Mewujudkan hubungan yang serasi antara atasan dan bawahan di perusahaan. 2. Menyiapkan para manajer yang berkompeten untuk lebih cepat masuk ke tingkat senior (promosi jabatan). 3. Untuk membantu mengisi lowongan jabatan tertentu. 4. Meningkatkan semangat kerja seluruh tenaga kerja dalam organisasi dengan komitmen organisasional yang lebih tinggi. 5. Mendorong sikap keterbukaan manajemen melalui gaya manajerial yang partisipatif. 6. Meningkatkan kepuasan kerja. 7. Memperlancar jalannya komunikasi yang efektif yang dapat memperlancar proses perumusan kebijakan organisasi dan operasionalnya. 8. Mengembangkan atau merubah sikap, sehingga menimbulkan kemauan kerja sama dengan sesama karyawan dan manajemen ( pimpinan ) di perusahaan yang dipimpin. Manfaat Pelatihan dan Pengembangan Adapun manfaat dari suatu pelatihan dan pengembangan sumber daya manusia di LKP seperti LPP Quantum dapat dilihat dalam dua sisi diantaranya: a) Dari sisi individu pegawai: 1. Menambah pengetahuan terutama penemuan terakhir dalam bidang ilmu pengetahuan yang bersangkutan, misalnya prinsip dan filsafat manajemen yang terbaik dan terakhir. 2. Menambah dan memperbaiki keahlian dalam bidang tertentu sekaligus memperbaiki cara pelaksanaan yang lama. 3. Merubah sikap jadi positif 4. Memperbaiki atau menambah imbalan atau balas jasa yang diperoleh dari organisasi tempat bekerja. b) Dari sisi organisasi: 1. Menaikkan produktivitas pegawai. 2. Menurunkan biaya. 3. Mengurangi turn over pegawai. 4. Kemungkinan memperoleh keuntungan yang lebih besar, karena direalisirnya kedua manfaat tersebut terlebih akan terlihat lebih mudah. Dalam segi pendidikan atau education secara umum, training merupakan usaha yang sengaja diadakan dan dilakukan secara sistematis serta terus-menerus dalam jangka waktu tertentu, sesuai dengan tingkatannya, guna menyampaikan, menumbuhkan dan mendapatkan pengetahuan, sikap, nilai, kecakapan atau keterampilan yang dikehendaki. Banyak sekali manfaat yang dapat dieksplore dari hasil training atau pelatihan pengembangan. Berikut ini adalah sejumlah ringkasan manfaat training dan pelatihan karyawan secara umum, dari sudut pandang berbagai pihak yang terlibat di dalamnya. Manfaat training bagi perusahaan : Bila perusahaan mengirimkan tenaga kerjanya ke LKP akan tercipta hal-hal sebatai berikut : 1. Memiliki tenaga kerja yang ahli dan terampil 2. Meningkatkan efisiensi dan efektivitas kerja 3. Meningkatkan produktivitas kerja 4. Mengurangi biaya karena waktu yang terbuang akibat kesalahan-kesalahan 5. Meningkatkan mutu hasil kerja 6. Meningkatkan sales dan profit Manfaat training bagi manajer : Dalam setiap perusahaan, pasti memiliki manajer yang seringkali terlupakan untuk training. Dengan demikian maka LKP merasakan adanya manfaat bagi manajer sebagai berikut: 1. Memiliki anak buah yang ahli dan terampil 2. Dapat mendelegasikan lebih banyak tugas dan tanggung jawab kepada bawahan 3. Terlepas dari hal-hal kecil yang bukan porsinya untuk ditangani 4. Tugas dan pekerjaan berjalan lancar walau anda tidak di tempat 5. Menunjang karir anda untuk memperoleh jabatan yang lebih tinggi Menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) Pada bagian Akhir orasi saya kali ini, bagaimana LPP Quantum dalam menghadapi masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) sebuah bentuk integral dalam artian adanya sistem perdagangan bebas dan pasar kerja antar negara-negara Asean. Indonesia dan 9 negara anggota yang menyepakati perjanjian dalam Asean Ekonomic Comunity (AEC). Pada KTT di Kuala Lumpur Desember 1997 para pemimpin ASEAN memutuskan untuk mengubah ASEAN menjadi kawasan yang stabil, makmur, dan sangat berkumpetitif dengan perkemangan ekonomi yang adil, dan mengurangi kemiskinan kesenjangan sosial-ekonomi (ASEAN Vision 2020) mendatang. Dengan konsep di atas, kesiapan tenaga yang terlatih, sejak sekarang sudah memikirkan dalam menghadapi pasar kerja melalui pendidikan dan pelatihan kearah itu. Termasuk akan didirikannya Pendidikan Perhotelan dan Pariwisata setingkat DIPLOMA I untuk meningkatkan Kompetensi warga belajar Untuk Memenangkan Kompetisi Pada Pasar Kerja Nasional dan mengglobal tersebut. Dengan demikian kita harus bersusah payah dalam tahun-tahun belakangan ini, mempersiapkan kurikulum, instruktur yang berkualitas demi menghasilkan pasar kerja alumnusnya yang kompetitif. Daftar Pustaka Darlan, H.M. Noesanie, 2005. Konsep Dasar PLS, FKIP Unpar, Palangka Raya. ------------, 2003. Pendidikan dan Latihan Calon Pegawai Negeri, Diklat Provinsi Kalteng, Palangka Raya. ------------, 2015. Peran dan Ekspektasi Pendidikan Non Formal Dalam Menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA), Seminar Nasional Ikatan Akamemisi PNF, Semarang. Peaget dan Foreman, 1993. Pendidikan dan Latihan dalam Masyarakat Sedang Berkembang, Jakarta. Sudjana, Djudju, 1999.Pendidikan Non Formal di Erofa, IKIP Bandung. ------------, 2001. Pendidikan dan Pelatihan di Masyarakat Pedesaan, Al-Flah, Bandung. Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional Nomor 20 tahun 2003, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI Jkt. sanie_da@yahoo.co.id +62 813-5283-7138

Senin, 05 November 2018

A Concept About : NATION AND STATE LIFE

A Concept About : NATION AND STATE LIFE By: H.M. Norsanie Darlan and H. Saifullah Darlan Preliminary Already ten days have passed, we have passed the holy month of Ramadan. The Muslims have completed the pillars of Islam by fasting for a month. Now we have entered a new era in the life of the nation and state to continue the development of our country based on what profession is for the future of the nation's nation. If we understand about the origin and history of Halal Bi Halal, we first learn about the meaning of "halal bi halal", this cannot be translated in language, because the definition of halal bi halal was born from the culture of Indonesian society itself. If translated simply, it will contain incorrect meanings with the halal purpose and intentions of the law itself. This is because there is no Arabic gramer (nahwu sharaf) with halal bi halal rules. Even Arabs can read halal bi halal because there is no specific understanding of what it means halal bi halal. Lafalz "halal" comes from the Arabic language that has been absorbed into Indonesian, which is the opposite of the word haram. Halal means "allowed" or not prohibited, while the word "bi" is the jar letter which is usually interpreted "with". Virtually, halal bi halal is actually interpreted as "permissible". Halal bi halal cannot be interpreted in a language but is interpreted as a cultural aspect (culture), namely the culture of mutual forgiveness or by visiting each other's homes (silaturrahim) to ask and give ma'af which is continued by shaking hands. The origin of Halal bi Halal In this beloved country, if after a holy service and a month of fasting in the month of Ramadan, Muslims around the world celebrate Eid al-Fitr on 1 Shawwal every year. Celebrations are colored with takbir, tasbih and tahmid all day long. Next after Id praying, congregation greet each other and pray for one another. Cheers appear on everyone's face. We meet this kind of atmosphere at the time of Eid. But, there is one unique tradition in Indonesia at this Eid-ul-Fitr moment, a halal bi-halal tradition that emerges itself from the cultural roots of the country's population. The most popular history of the origins of this bi halal halal tradition is a tradition that was started by Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Mangkunegara I, otherwise known as Prince Sambernyawa, who at that time led Surakarta to gather the retainer and soldiers at the palace hall to do the courtesy to The King and Empress after the Eid celebration. This is done to save energy, time and costs. Since then, visits to older people, or people with a higher position to ask for ma'af on the Eid celebration become a separate cultural tradition. Eid al-Fitr and Halal Bi Halal Eid al-Fitr according to: Ustadz Ahmad Faiz Asifuddin (2011) is one of the two major holidays in Islam. Usually in Idul Fithri, in this beloved country, it is always synonymous with halal bi halal events. As for its origin, it is a tradition as described earlier. Ibn Manzhur in Lisan al-Arab said the words of Mrs. al-A'rabiy: "Hari Raya (‘ Id) is called ‘Id, because that day is always repeated every year with always new excitement" Al-Allamah Ibn Abidin rahimahullah he said, "Hari Raya is referred to as‘ Id, because in that day Allah Subhanahu wa Ta'ala has various kinds of goodness which all that good returns to His servants. Among other things: (Kindness) breaking the fast after previously having a ban on food, as well as zakat fithri. Also perfecting the pilgrimage (on Eid al-Adha) with thawaf pilgrimage, eating sacrificial meat, and others. Because his habits on that day always contained joy, pleasure, and joy. In another history (mentioned). The Prophet sallallaahu ‘alaihi wa sallam said. يَا أَبَا بَكْرِ ، إِنَّ لِكُلَّ قَوْم عِيْدًا ، وَهَذَا عِيْدُنَا O Abu Bakr, in fact every group of people has Hari Raya. And (today) we are Hari Raya (id). Shaykh Ali bin Hasan hafizhahullah quoted Imam Baghawi's words rahimahullah who said as follows, "Bu'ats is a day known among Arabs. Historically, on that day there was a massacre by the Aus army against the Khazraj tribal army. The battle between the two tribes continued for a hundred and twenty years until the arrival of Islam. Then, with the words of the Prophet sallallaahu ‘alaihi wa sallam," today is our "Id (feast)", it is understandable that showing joy on two Islamic holidays is a symbol of religion. That day is not like other days. Thus, the halal bi halal or whatever the term is, is an activity that is changed, if it is only intended to express joy on holidays, Eid al-Fithri and Eid al-Adha, for example to eat together, meet family and friends. Because indeed the musilmin is allowed to express the joy of their hearts during the holidays, as long as the excitement does not deviate from the provisions of syar'i. Meaning of life Once again talking about halal bi halal most of us have their own life goals. This future life goal might be like wanting to be a person: teacher, doctor, security force, etc., or want to be rich and famous and can represent the country in certain fields abroad. Whatever the purpose, for most of us, but we are just as understandable that the goal is more dominant in the world. Our existing education system has been organized to help us pursue that worldly goal. We as parents, we also instill the same goals of worldly life in our children, by encouraging them to study and enter professions that provide more financial benefits than other professions. There is still no one among us who has the age to find something that is not yet owned by the findings of other people in the world. We recommend that teachers, lecturers and parents let us both find findings that have not been obtained by others in order to raise the dignity of the nation, in the life of the nation. One might ask, "How can the purpose of this worldly life be in line with the purpose of spiritual life and the reason for our birth on planet Earth?" It requires the attention of thinkers, as an aspect of nation and state in the unitary state of the Republic of Indonesia. A fairly simple answer. We strive for worldly goals primarily because we seek satisfaction and happiness in life. The effort to achieve "peak and eternal happiness" is essentially what drives all our actions. However, after we achieve worldly goals, of course the happiness and satisfaction produced only lasts a little, then we pursue the next dream for us to achieve in the world. What is the meaning of life Some people might ask; what does our life mean in this world? According to: Ari Wahyudi, (2012). If we look at the many answers to that one question. Some answer, that life is money. So that every second of this life that is sought is money. This means that if he does not have money, as if his life has been lost. Others answered, that life is a position. So that every second that is sought is position. Some see that life is an opportunity to have fun. So for this group worldly pleasures are the main goal sought. Ladies and gentlemen - may God bless us - this life is a very valuable opportunity for us. Do not let us waste life in this world for something that is not clear and will disappear. The pleasure of this world even if we want to think well, it is not long. Just a moment, isn't that so? Allah ta'ala said (which means), "As if when they saw that Day of Judgment, they were not alive (in the world) except for a moment in the afternoon or in the time of dhuha." (Surat an-Naziat: 46) By remembering God, we will be careful in living this life. Because God always watches over us and knows what we say, what we do, wherever and whenever. There is nothing hidden from him in the slightest case. This is what we should always instill in the hearts of all of us. We must fear Allah both when at home, on the road, at work, campus, in the market or wherever we are. Thus according to (Ari Wahyudi, 2011) that: when we are with other people or when alone it is the same. Then what should we do in this world? An interesting question is also in the life of this nation. we find the answer in the Qur'an. Allah ta'ala says (which means): "I did not create jinn and humans but that they worship me." (Surat adz-Dzariyat: 56). What is the righteous person? Let us think together - may Allah show us - that piety we will achieve when we always remember the day of vengeance and prepare to face it by carrying out His teachings. As said by Ali ibn Abi Talib radhiyallahu'anhu that piety, "Fear of Allah, charity with revealed revelations, and preparing to welcome the Day of Judgment." Allahu a'lam. How do we nation If we examine the various things above it has 3 meanings. Nation comes from the basic words of the nation. Nation is a homonym because its meanings have the same spelling and pronunciation but the meaning is different. Nation has meaning in verb or verb class so that the nation can state an action, existence, experience, or other dynamic understanding. So thus the term nation cannot be in a small sense. But what is meant by this nation is nothing but a single entity, which is inseparable from one another. Is it different in terms of ethnicity, class, but is it united that is inseparable from each other is a country in the territory of the Unitary Republic of Indonesia. We are equally aware that in this Republic of Indonesia, no one feels that our tribe is the most, our group is the most powerful. But as a country that has the principle of Bheneka Tunggal Ika (Unity in Diversity), it is descended or not according to Aburizal Bakri (2018) that: "our lives are nation and state, basically we are brothers ...". So that Bhinneka Tunggal Ika is certainly no stranger to the ears of the Indonesian people. That's because these words are often spoken and played everywhere. Since elementary school, Bhinneka Tunggal Ika has been taught by social science teachers. Since elementary school is taught about the meaning, history and meaning of Unity in Diversity with the aim that from a young age or human shoot, the Indonesian people can still easily understand what Bhinneka Tunggal Ika is. Because if it is not taught since childhood or since young, it is feared that Indonesia's young generation cannot maintain the integrity and unity of the Indonesian state. so that divisions arose in various parts of Indonesia. Deep understanding is needed to accept all the diversity of nations in our country. From another point of view the understanding of the life of a nation and state according to: Hadipranata (2015) is "... a group of people who have a shared identity, and have in common descent, language, ideology, culture, and history and self-government ...". Whereas the nation is a human being who has a foundation of ethics, morality, and noble character in the attitude of realizing social meaning and fairness. The state is an area whose power is in political, military, economic, social and cultural aspects governed by a government in the region. While the state here is a man who has the same interests and declares himself as a nation and processes in one area and has ideals based on the intention to unite in building a sense of nationalism. What is meant by "national and state awareness", is aware that we are in the same place with the same language, ideology, culture and / or history and have rules in the political, military, economic, social and cultural fields that are regulated by the State. National and state awareness is an attitude that must be in accordance with the personality of our nation which is linked to the ideals and life goals of the nation itself. SUPPORTING FACT AND NATIONAL AWARENESS FACTORS The level of trustworthiness of an official. If the official is mandated in carrying out his duties, of course all elements will be honest in carrying out their duties properly. Not corruption and really the task given to him is a noble task. Equitable welfare of each region. With equity, each citizen will feel from the same rules and the same treatment as citizens of that country. Trust in representatives of the people or government who are honest and trustworthy. With us giving confidence to the government it will grow a sense of pride that we have a country that has a sense of pride. And the representatives of the people will gladly carry out the mandate. Strict law and government rules. With strict and fair laws and rules, peace will be created so that a sense of trust will grow, pride in the State. We must feel that we have a proud and proud Indonesian nation and realize that we are one nation and one state does not forget to speak one Indonesian language. THE FACTORS OF DECREASING THE NATION AND STATE AWARENESS, we must have a sense of shame if the nation and state of Indonesia if those who are mandated do not carry out their duties on the oath and promise that he has received. What's more, it is very embarrassing if acts of corruption commit public money or state money. Ignorance of the positive values / wealth of the State of Indonesia. The decline in the level of security of the State of Indonesia. Public distrust of the government if acts against the law are not enforced. The invalidity of leaders. The lack of legal validity. A feeling of wanting to highlight each group. Declining tolerance values a Threat to the Nation and State. Non-Military Threats of Drug Abuse which is now being eradicated by the government, participation in the defense of the state. On the other hand Hadipranata, (2015) says that there is no scientific formula that can be designed to define the term nation objectively, but the national phenomenon remains current to this day. In the dictionary of political science found the term nation, namely "natie" and "nation", meaning that society whose form is realized by history which has elements of our country as follows: 1. One language unit; 2. One regional unit; 3. One economic entity; 4. One unity of soul that is painted in cultural unity. Understanding of the State: An organization among a group / several groups of people who together inhabit a particular area by recognizing the existence of a government that manages the order, as a rule according to: Prof. R Djokosotono, SH termed that the State is a human or human organization under a government. Whereas according to: G. Pringgodigdo, SH. The state is an organization of authority or authority organization that must meet the requirements or elements, namely there must be a sovereign government, a certain region and people who live regularly so that it is a nation. The author is in the same concept, but there are elements of different countries namely Consists of three elements in an egra namely: 1. There are people, namely the community or as citizens; 2. The intended area is; 3. There is a government. If the three elements above are fulfilled, then that is the condition of the main element in the establishment of a country. This includes the Unitary Republic of Indonesia that we love. Meaning of Understanding Radicalism On this occasion a little bit of radicalism in the sense of language means understanding or flow that wants social or political change or renewal in a violent or drastic way. However, in another sense, the essence of radicalism is the concept of the attitude of the soul in carrying out change. Meanwhile Radicalism According to Wikipedia is an understanding made up by a group of people who want drastic social or political change or renewal using violent methods. However, when viewed from a religious point of view it can be interpreted as a religious understanding that refers to a very basic religious foundation with very high religious fanaticism, so it is not uncommon for adherents of this sect to use violence to people who understand different schools to actualize religious adhered to and believed to be forcibly accepted. This will damage the national order. So what is meant by radicalism is an old-fashioned movement and often uses violence in teaching their beliefs. While Islam is a religion of peace. Islam never justifies the practice of using violence in spreading religion, religious understanding and political understanding. A character named: Dawinsha said that the definition of radicalism equates it with terrorists. But he himself uses radicalism by distinguishing between the two. Radicalism is also a policy and terrorism part of the radical policy. The definition of Dawinsha is more evident that the radicalism contains a mental attitude that leads to actions that aim to weaken and change the order of establishment and replace it with new ideas in accordance with their beliefs. This last meaning, radicalism is a negative understanding and can even be dangerous as extreme left or right. This should let us stay away. Examples of radicalism According to the author, an example of radicalism was one of the events of the Bali Bombing, the explosion of Kampong in Jakarta suicide on May 24, 2017, including the Poso incident, Central Sulawesi. They reasoned that to eradicate forms of deviation in Islam. That is because the clothes used by the Balinese tourists are "WAOW", so they feel called to uphold the truth. Crime or violence is a phenomenon that we often hear and see, both in the mass media and in the realities that surround our environment and society. The latest and warmest news is discussed, audiences and mass media and electronics, namely terrorism. Terrorism is always synonymous with terror, violence, extremism and intimidation so that it often causes negative consequences to bring down many victims. The emergence of extreme radicalism and international terrorism in the international political arena or in international relations has existed as a phenomenon whose existence emerged in the 1960s when terrorist activities have taken place in many parts of the world. Groups that are motivated to oppose the political status quo by means of violence and organizing their efforts transnationally, transcending State borders. However, the position of international terrorism is once again emphasized as a non-state actor like an MNC, TNC, international non-governmental institutions, financial institutions and other international organizations. It is said as a non-state actor at the international level, because basically the members involved in it, the network and the objectives of the action are on an international scale. Terrorism of radicalism and extremism emerged as part of the phenomena produced by the international system. Dissatisfaction with the decisions of international organizations, such as the United Nations, which in the viewpoint of terrorist groups are more likely to represent the interests of Western countries, has made them distrustful and frustrated at the effectiveness of these institutions in addressing global issues. Radicalism, extreme understanding and terrorism are one of the real threats to global world life. The impact of radical and terrorist movements can have implications for economic and political dynamics that can experience not small shocks, so as to create a sense of insecurity in the wider community. Violence in the name of religion / belief is often linked to the realm of radicalism and terrorism, since the inception of the Global War on Terror (GWoT) program by the United States after the events of September 11, 2001. Labeling violence and extremes inherent creates a view / assumption that between radicalism and terrorism ( especially those in the name of religion) are related to one another. Therefore, groups of people around the community will discuss the phenomenon of radicalism, extremism and terrorism in domestic and world. The things described above are very detrimental. And cause damage to the order of nation and state in the country. We must stay away from this kind of action. On this occasion I encourage young students, lecturers on campuses and other communities, who have radicalism to change their intentions and actions towards radicalism from now on. Because it understands and acts, there will be no benefit for us. And let's go back to the life of the nation and state that created this country that is safe and peaceful. Because actions like radicalism cause hostility. Seruang Aburizal Bakri (2018) is that: "... now let's increase friendship, to strengthen the Unitary Republic of Indonesia which we love together ...". Supporting Factors Level of Nation and State Awareness The level of trustworthiness of an official. If officials are mandated in carrying out their duties, of course all individuals will be honest in carrying out their duties. Equitable welfare of each region. With equity, each citizen will feel from the same rules and the same treatment as citizens of that country. Trust in representatives of the people or government. By giving confidence to the government there will be a sense of pride that it has a country that can be proud of. And the representatives of the people will gladly carry out the mandate. Strict law and government rules. With strict and fair laws and rules, peace will be created so that a sense of trust will grow, be proud of the State We must feel ownership and pride in the Indonesian nation and realize that one nation and state. Factors for Declining Nation and State Awareness The shame of Indonesian nation and state. Ignorance of the positive values / wealth of the State of Indonesia. The decline in the level of security of the State of Indonesia. Unbelief in government. The invalidity of leaders. The lack of legal validity. A feeling of wanting to highlight each group. Declining values of tolerance and mutual respect. We need to be aware of the above matters, and be shunned, so that they will harm our own nation and country. BIBLIOGRAPHY Asifuddin, Ahmas Faiz, 2011. As-Sunnah magazine Edition 04 Surakarta Lajnah Istiqomah Foundation Publisher. Chotib et al., 2006. Citizenship leads to civil society. Second edition: first printing, Yudistira, Jakarta. Darlan, H.M. Norsanie, 2017. PANCASILA AS AN IDEOLOGY FOR THE DEVELOPMENT OF RADICALALISM, Papers, IAIN Palangka Raya. Ibn Manzhur in Lisan al-Arab delivered the words of Mrs. al-A'rabiy Pranata, Nurhadi 2012. Pancasila as Ideolgi Bangsa, Jakarta.

THE EFFECT OF MUSEUM VISITS ON RESULT LEARNING SOCIAL ANTROPOLOGY IN MATERIAL DAYAK CULTURE

THE EFFECT OF MUSEUM VISITS ON RESULT LEARNING SOCIAL ANTROPOLOGY IN MATERIAL DAYAK CULTURE By: H.M. Norsanie Darlan and M. Affandi A b s t r a k The purpose of this research are: (1) Want to know Is there any influence of result of visit either individual or group to a cultural activity of Dayak society in the past, which is kept in museum Balanga Palangka Raya. (2) Want to know how the form of strengthening the course of Social Anthropology, especially on the cultural material of Dayak people in Central Kalimantan; The method used in this research is qualitative research to resource person and a number of extension workers at Balanga Museum Palangkaraya using approach on research subject that is to resource person and Balanga museum officer, by asking for their time while giving service in museum visit. While the data collection tool in the form of: interviews, observation and documentation and camera. To find the truth in this research analysis tested: Credibility, triangulation, Transferability, Dependability, Confirmability and others, so that the data analyzed manghasilkan in accordance with the expected. While the results of this study are: (1) It has been seen concretely the influence of the results of visits to museums whether individuals or groups to whether students who have been lectured anthropology and social and social society. This is an activity to see the cultural heritage of the past in the Dayak community, which in the museum collected into a collection, which is stored in Balanga Palangka Raya museum. And various cultural results of the Dayak community in various aspects of life. So the result of visit to the museum for students really get a set of knowledge about Dayak culture and have memories for each who visit; (2) The reinforcement of subjects of cultural and social anthropology, especially on the cultural material of the Dayak people in Central Kalimantan, does require a way of its own. And how to display a way of life and patterns affect a culture or strength that arises from something. Both the human form and the objects and everything that exists in nature, thus affecting what is around him. Keywords: Museum, Culture, Dayak Society. 1.Background Problem Every student of non-school/non-formal education has the obligation to follow education in the subject of cultural anthropology and social anthropology. Prior to programming this course, also students have been given previous courses of cultural anthropology. It provides material on various cultures of society, including Dayak community or people in the homeland since western kawasa west (Aceh), to the east (Papua). Although all of the material is aware of all this stuff, but this provision is none other than if the students of education outside of school or now called non-formal education (PNF) if the students were later very forced to be a teacher, the provision given for 2 semesters either anthropology cultural and social anthropology will provide a concept for them to stand in front of the class in giving students about Anthropology subjects in high school. But if they do not choose a job as a teacher, the course is enriching his life in preparing for their future. Although the alumnus of PLS / PNF in the alumnus gathering 10 - 11 nopember 2017, it turns out that students / alumnus who had been present have worked in various lines in the community. 80% of them work not as teachers. In the course of social anthropology is given stock to them as a student, to get to know the cultural heritage of the past is now stored in many museums. Including Balanga Palangka Raya as the center of this study. From the various materials given to the students who follow the course to find out how to strengthen the course of social anthropology, especially on the cultural material of Dayak community in Central Kalimantan given to the students. So the material given so that their students can understand the material given. And can apply it if he is a teacher. In the research given to the students, it will be sought whether there has been an impact on the outcomes of individual or group visits to a past cultural activity in the Dayak community, which has been collected and stored in Balanga Palangka Raya museum and various tools of Dayak culture in various aspects whether in their past lives such as farming, fishing, hunting, gathering and so on. Siti Khoirnafiya Directorate of Museum (2006) Neverthless, as museums are repositories of cultural relics, educacted people and moreover have a mission to impart cultural informations to society. They need to be arranged in the event that most coommunicative for their respective target visitors. So according to Siti Khoirnafiya (2006) Society and culture is like a currency whose one side is the expression of social system and the other is the cultural system. The interaction of physical and human nature through time and space fosters various social and cultural institutions that are in harmony with the needs of people's lives, while various social and cultural institutions are the human response to solve problems and meet the urge of life while willing to face challenges in the future. The material of all kinds of social institutions is not only seen as a set of inheritance of the past. But it is also a marker of dynamism and resources that is able to adapt to the insistence, both within and outside of the socio-cultural system itself. The cultural aspects of society can be universally observed in every society. Culture is a manifestation of human creativity, taste, and initiation in this mortal world. Culture is an important thing that connects people to their environment. Culture is also a blue print or a guide for humans. It is with this culture that man looks different from animals. With culture, man can survive and live his life. There are several ways we can know the culture of society. One way that a person or group to know the cultural image of the local community is to come to the museum. That's because in museumlah they can see the picture of a civilization of regional culture, both antiquity and in modern times. 2. Research Objectives The purpose of this research is as follows: 1. Want to know how the form of strengthening courses Social Anthropology, especially on the cultural material of the Dayak community in Central Kalimantan. 2. Want to know whether there have been any influence of individual or group visits on an activity of a past culture in Dayak society, which has been collected and stored in Balanga Palangka Raya museum and various tools of Dayak culture result in various aspects of its life. 3. Understanding of the Museum When we talk about the definition of Museum is an institution dedicated to the general public. Originally the museum functioned to collect, treat, and present and preserve the cultural heritage of society for the purpose of study, research and pleasure or entertainment in other words (Let's Know Museum, 2009). Based on RI Government Regulation no. 19 In 1995, the museum is an institution, storage, care, security and utilization of material evidence material results of human culture and nature and environment in order to support efforts to protect and preserve the nation's cultural wealth. Meanwhile, according to the International Council of Museums (ICOM): in the Guides of the Museum of Indoneisa, 2008. museum is a permanent institution, not seeking profit, serving the community and its development, open to the public, obtaining, maintaining, connecting and exhibiting artefacts about teak past human self and its environment for study, education and recreation purposes. 4. Museum Functions As mentioned above and based on Government Regulation No. 19/1995: in the Guidance of Indonesian Museum, 2008. the museum has the task of storing, maintaining, securing and utilizing museum collections in the form of objects as cultural heritage. Thus the museum has two major functions: a.As a place of conservation, the museum should carry out the following activities: • Storage, which includes collection of objects to collections, collection records, numbering systems and collection arrangements. • Treatment, which covers activities to prevent and control damage to the collection. • Security, which includes safeguards to safeguard the collection from harassment or damage by natural and human factors. b.As a source of information, museums carry out utilization activities through research and presentation. • Research was conducted to develop national culture, science and technology. • Presentation should keep the conservation and security aspects in mind. 5. Types of Museums Just to our knowledge that the museum contained in Indonesia is distinguished through several types of classification (Let's Know Museum, 2009), namely as follows: a. Type of museum based on the collection owned, which there are two types: The Public Museum, a museum whose collection consists of a collection of human material and / or environmental evidence relating to various branches of art, disciplines and technology. Special Museums, museums whose collections consist of a collection of human or environmental material evidence relating to one branch of art, a branch of science or a branch of technology. b. The type of museum based on its position, there are three types: • National Museum, a museum whose collection consists of a collection of objects originating, representing and relating to the material evidence of human beings and / or the environment from all regions of Indonesia of national value. • The Provincial Museum, a museum whose collection consists of a collection of objects originating, representing and relating to human material evidence and / or its environment from the province where the museum is located. Including Belanga museum in Palangka Raya, Central Kalimantan province. • Local Museum, a museum whose collection consists of a collection of objects originating, representing and relating to the material evidence of man and / or his environment from the county or municipality where the museum is located. 6. Cultural Anthropology Little if we pay attention to cultural anthropology in order to help us understand the different customs and behaviors adopted by different communities. In England, the field of cultural anthropology was originally referred to as social anthropology. This field deals with cultural studies related to social, religious, political, and other factors. The scope of this anthropology, is vast. Any changes that occur in society will be reflected in custom, behavior, and language. In every citizen who became the center of anthropology studies. All these changes together create a picture of a particular society called the culture of that society. Many facts and concepts are very interesting to learn in cultural anthropology. It is not limited to local captives, but also the problem of cultural anthropology in other blood 7. A Glimpse of Cultural Anthropology Cultural anthropology is a branch of anthropology that studies the variations of human culture. Cultural anthropology studies the facts about the political, economic, and other factors of the local culture of a particular region. Experts or people working in this field are known as cultural anthropologists. Cultural facts are usually obtained through various methods such as: interviews, observation, documentation and other equipment. 8. Contribution of Edward Tylor Edward Tylor was a British anthropologist in the 19th century. He described the culture as human thought and behavior formed by society. In 1872, the British Association for the Advancement of Science began preparations for the inventory of cultural categories. Edward Tylor helps this committee in doing the work. The result of this project is 76 cultural topics, although still in random order. 9. The Core Concept of Cultural Anthropology In various studies cultural anthropology is done differently by different scholars. However, there are some basic or basic concepts that remain the same. For example, the basic component of cultural anthropology is about what humans think, do, and produce. All the concepts and theories of cultural anthropology revolve around basic concepts. This concept is used as a guide to study the culture of a particular society. Differences in cultural characteristics of a society show that cultures can be learned, shared, transmitted, adapted, and can be symbolically integrated. 10. Research Methods The method used in this research is qualitative research to resource person and a number of curator in English language that comes from word curator. According to one dictionary the meaning of this word is officially an officer who has the authority to organize and supervise something in a limited field in the museum. The curator is responsible for the existence of valuables. He is responsible for the existence of historical evidence. Even he is responsible for the success of an art exhibition at the museum. The curator at Balanga Museum Palangkaraya using the approach as the subject of research is to resource persons (curators) and Balanga museum officials, by requesting their time while providing services in museum visits. While the data collection tool in the form of: interview guides, observation and documentation and camera. To find the truth in this research analysis also tested: Credibility, triangulation, Transferability, Dependability, Confirmability and others, so that the data analyzed manghasilkan in accordance with the provisions. While the time this study lasted from April to July 2017 with the following results: 11. Research Results 11.1. Field General Data General data from the results of this study, obtained that Balanga Museum is a museum located in the City of Palangka Raya, Central Kalimantan province, Indonesia. Balanga Museum is located on Jalan Tjilik Riwut, only about 2.5 km from the Great Roundabout. If you do not use private vehicles, public transportation is also very easy. The existence of Balanga Museum is not yet widely known by the public. Even the people of Central Kalimantan itself many who still do not know the existence of this museum, but this museum, has existed since 1973. Founded by the Regional Government of Central Kalimantan as a museum area. Along with the central government policy that every province has a museum that displays the uniqueness of local culture and natural wealth, then in 1990 Museum Balanga became a museum of Central Kalimantan province. Balanga Museum has various types of collections of material culture (cultural objects) are grouped into a collection of ethnography, historica, archeology, ceramics, numismatika & heraldika. While natural objects are grouped into biological and geological collections. Collection of the museum is partially displayed in 2 buildings as a permanent exhibition, the rest are arranged in a collection gundang. When you enter the exhibition hall then you will feel the atmosphere of traditional Dayak life. Collections are arranged based on life cycle, starting from ceremonial equipment of birth phase, marriage and last death. There is also a divide into the phases: Marriage, pregnancy, birth, and new death. The guide will not forget to tell you about the uniqueness of the Tiwah ceremony. Here you will see the uniqueness of traditional weapons such as Chopsticks, Duhung, Mandau, miniature longhouses called Betang, fishing gear called Mihing, Sapundu and Hampatung Karuhei statues, Talisman amulets, brass merchandise, various Chinese ceramic pots from Ming dynasty and Ching called Balanga and Malawen dishes. There are many more other unique collections. The Balanga Museum also received about a thousand confiscated weapons used during an ethnic conflict in Sampit in 2001 as a historical collection. Balanga Museum serves both individual and group visits during working hours: • Monday-Thursday: 07.00 - 14.00 Friday ; 07.00 - 10.30 •Saturday : 07.00 - 2.30 For the group you should contact the museum via mail, fax or telephone so that service during the visit in the museum can be maximized. Ticket • For kindergarten, elementary, junior and senior high school students: Rp.1.000, - per person • For students and adults: Rp.2.500, - per person Thus many visitors to come to Balanga museum are the students and elementary school students, a small number of students. Balanga Museum As a way to introduce about the cultural heritage of Dayak tribe and civilization in Central Kalimantan. Each of us who visit each region must arise what the question of the attraction of the area and how to summarize we know and know it all. When you first visit Palangkaraya City is the capital of Central Kalimantan Province and want to do recreational activities or tourism. I suggest starting with visiting Balanga Museum. For what is curiosity, the introduction of Central Kalimantan, can be answered and known in detail. When several times visit this museum bring tourists. It seems that they are interested to see historical objects of the Dayak tribe such as the Historical, Archaeological and Keramological collections. If your visit brings a group or tourists in the museum there pemadunya that will direct and explain about what is in museum.Koleksi various objects that exist in the Museum Balanga consists of 10 classifications of the collection are: 1. Geological, 188 collections 2. Biologics, totaling 40 collections 3. Ethnographic, totaling 1,383 collections 4. Archeology, numbered 112 collections 5. Historics, totaling 1,116 collections 6. Numismatika / Heraldika, numbered 781 collections 7. Philology, numbered 4 collections 8. Keramologika, amounting to 572 collections 9. Fine Arts, totaling 5 collections 10. Teknologika, totaling 53 cameras With the large collection in the museum gives a positive influence on the visitors to increase the knowledge that they still have not much. Thus the role of the curator as an officer who plays a role in his role helps the smoothness of the museum to become known to the public. Thus the role of museum Balanga Palangka Raya very positive influence on the people who want to visit. Includes students attending lectures on cultural and social anthropology. 11.2. Data of research result It has been seen concretely the effect of the results of visits to museums whether individuals or groups to whether students who have been lectured by cultural and social anthropology and society. This is an activity to see the cultural heritage of the past in the Dayak community, which there collected into a collection, which is stored in Balanga Palangka Raya museum. And various cultural results of the Dayak community in various aspects of life. So the result of visit to the museum for students really get a set of Dayak cultural knowledge and have memories for every visit; The reinforcement of cultural and social anthropology, especially on the cultural material of the Dayak people in Central Kalimantan, does require a way of its own. And how to display a way of life and patterns affect a culture or strength that arises from something. Both human form and objects and everything that exists in nature, so it also affects what is around him. 11.3. The effect of visits The influence of visits of individuals or groups to a past cultural activity in the Dayak community, which has been collected and stored in Balanga Palangka Raya museum and various tools of Dayak culture results in various aspects. From field interviews to resource persons, the visit of the terrorists to the balanga museum did affect the development of the museum and the number of visits the following year. In the course of cultural anthropology and social anthropology clearly the students get a picture that the cultural objects that exist in the museum of Balanga really is a very high study of the price for science, especially in the study of anthropology courses. Therefore, students who are given lectures for 2 smesters and brought to visit museum balanga provide added value and cultural khuasanah. Kususnya Dayak culture in central kalimantan. Therefore, a collection of past cultural perennials that are held and displayed on this museum is very beneficial for visitors. What else for students who have been equipped with scientific knowledge with us as a coach of cultural anthropology courses and courses of social anthropology. In the influence of visits found in museums such as: cultural heritage, farming, shifting cultivation of the visit was also found cultural heritage of Dayak people such as ceremonies: engagement, marriage, pregnancy, birth, as well as in the ceremony of death to tiwah. 12. Discussion From the first objective: research that has been seen concretely the influence of the results of visits to museum either individual or group to whether students who have been provided at the lecture of cultural and social anthropology and society. This is an activity to see the cultural heritage of the past in the Dayak community, which there collected into a collection, which is stored in Balanga Palangka Raya museum. And various cultural results of the Dayak community in various aspects of life. So the result of visit to the museum for students really get a set of Dayak cultural knowledge and have memories for every visit; International Theory of the Council of Museums (ICOM): in the Indonesian Museum Guides, 2008 on museums is a fixed, non-profit organization, serving the community and its development, open to the public, obtaining, caring for the Balangka Palangka Raya musseum. From the results of research that has been done that Balanga museum is a place to collect cultural collections on the calendar of the past which is stored in this museum so that all the things that are worth it, stored there that tertunya will be stored for generations as a collection area. While the second goal: is a form of reinforcement subjects Cultural and social anthropology, especially on the cultural material of the Dayak community in Central Kalimantan, it requires a way of its own. And how to present a way of life and the pattern that affects a culture or strength that arises from something. Both human form and objects and everything that exists in nature, so it also affects what is around him. The theory according to: Siti Khoirnafiya (2006) Society and culture is like a currency that one side of the expression of social systems and the other is the cultural system. The interaction of physical and human nature through time and space fosters various social and cultural institutions that are in harmony with the needs of people's lives. Thus in the above objectives and theories, it is clear to explain to us that the interaction between museums with cultured communities especially to the cultural heritage of these predecessors, has begun to collect past cultural perennials so as not to just disappear. So that the government has collected the objects of the past, must be museum to be a collection of government that is stored in the museum. Including Balanga Palangka Raya museum. So the museum can solve problems for those who want to know about the culture of the past. 13. Conclusio 13.1. It has seen concretely the influence of the results of visits to the museum either individuals or groups to include students who have been lectured anthropology and social and social society. This is an activity to see the cultural heritage of the past in the Dayak community, which there collected into a collection, which is stored in Balanga Palangka Raya museum. And various cultural results of the Dayak community in various aspects of life. So the result of visit to the museum for students really get a set of Dayak cultural knowledge and have memories for every visit; 13.2. The reinforcement of cultural and social anthropology, especially on the ultural material of the Dayak people in Central Kalimantan, does require a way of its own. And how to display a way of life and patterns affect a culture or strength that arises from something. Both human form and objects and everything that exists in nature, so it also affects what is around him. 14. References Darlan, H.M. Norsanie, 2006. Recognizing Community Culture, Anthropology Material, PLS FKIP, University of Palangka Raya. Khoirnafiya, Siti, 2006. Directorate of Museum, Jakarta. Museum, 1995. RI Government Regulation no. 19, on Storage Goods Equipment Museum, Jakarta. ------------, 2008. Guideline for Indonesian Museum, Jakarta. ------------, 2009. Let's Know Museum, Jakarta. Balanga Museum, 2015. Balanga Museum Handbook Palangka Raya. Trigangga et al, 2013. Inscription & Kings Nusantara, Jakarta ------------, 2015. Collection of National Museum of Indonesia, Jakarta. Author: Prof. Dr. H. M. Norsanie Darlan, MS PH. Professor at the S-1 and S-2 Non-Formal Education Program, Palangka Raya University- 73112.

Selasa, 12 Juni 2018

PERAN PENDIDIKAN NON FORMAL DALAM MENGHADAPI MASYARAKAT EKONOMI ASEAN (MEA) By: H.M.Norsanie Darlan A b s t r a c The writing aims to: (1) Want to know how preparedness of society in facing society of economic of asean; (2) What is the government's concern in facing the MEA and what is the role of non-formal education (3) What efforts are being made in the face of free competition in the coming years. While the method used in this study is qualitative research to resource persons are officials related to the problem of regional promotion by using approach on the subject of research that is by asking for their time while providing services in taking care of the future of Asea Economic Community. While the data collection tools are: interview, observation and documentation. To find the truth in a simple analysis in this study tested: Credibility, triangulation, Transferability, Dependability, Confirmability and others, so that the data analyzed manghasilkan in accordance with the expected. The results obtained are (1) the readiness of society in facing the society of the Asian economy is still not seen. What else is the region of the economic market. So from the market economy will emerge. But this happens as part of a change in development; (2) There has not been much government attention in dealing with the Asian economic community (MEA) because it has not been widely publicized with not yet many people who are still passive towards it, and the role of non-formal education should be able to adapt to the situation. (3) That the efforts undertaken in the face of free competition in the years future still not look festive. This should be the role of the government to appeal to various parties, including hotels and others with in memmasyaratkan various things, including banners to enliven it. Keywords: Society, Economy, Asean 1.Latar Belakang Masalah Diturunkannya tulisan ini, tidak lain untuk menjawab terhadap persiapan kehadiran masyarakat ekonomi Aseian yang dilaksanakan dalam rangka menghadapi masa peralihan Diharapkan kita tidak terasa kaket dengan berbagai perubahan dan peraturan yang ditetapkan oleh pemerintah. Sehingga masing-masing program studi PLS akan memberikan warna sendiri-sendiri dalam masa datang. Dan perlu diketahui bahwa dalam sudut pandang pendidikan non formal bahwa PLS dalam rangka menghadapi Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) kita tidak tinggal diam dan berpangku tangan, melainkan pendidikan non formal harus turut serta proaktif menyongsong tahun 2020 mendatang dari sekarang. Untuk lebih jelasnya hal-hal itu, penulis akan menguraikan satu persatu sebagai berikut: Apa peran kita, Bila kita memperhatikan tentang peran itu, berarti ia lebih menunjukkan pada fungsi penyesuaian diri, dan sebagai sebuah proses. Peran yang dimiliki oleh seseorang mencakup tiga hal antara lain: a.Peran meliputi norma-norma yang dihubungkan dengan posisi seseorang di dalam kelompok masyarakat. Jadi, peran di sini, bisa berarti peraturan yang membimbing seseorang dalam masyarakat. b.Peran adalah sesuatu yang dilakukan seseorang dalam masyarakat. c.Peran juga merupakan perilaku seseorang yang penting bagi struktur sosial masyarakat. Sedangkan peran ideal, dapat diterjemahkan sebagai peran yang diharapkan dilakukan oleh pemegang peranan tersebut. Misalnya dinas perhubungan sebagai suatu organisasi formal tertentu diharapkan berfungsi dalam penegakan hukum. Menurut: Soerjono Soekamto hal itu dapat bertindak sebagai pengayom bagi masyarakat dalam rangka mewujudkan ketertiban, keamanan yang mempunyai tujuan akhir kesejahteraan masyarakat, artinya peranan yang nyata. Peran merupakan aspek dinamis dari kedudukan (status) yang dimiliki oleh seseorang, sedangkan status merupakan sekumpulan hak dan kewajiban yang dimiliki seseorang apabila seseorang melakukan hak-hak dan kewajiban sesuai dengan kedudukannya, maka ia menjalankan suatu fungsi. Hakekatnya peran juga dapat dirumuskan sebagai suatu rangkaian perilaku tertentu yang ditimbulkan oleh suatu jabatan tertentu pula. Kepribadian seseorang juga mempengaruhi bagaimana peran itu harus dijalankan. Peran yang dimainkan hakekatnya tidak ada perbedaan, baik yang dimainkan / diperankan pimpinan tingkat atas, menengah maupun bawah akan mempunyai peran yang sama Peran merupakan tindakan atau perilaku yang dilakukan oleh seseorang yang menempati suatu posisi di dalam status sosial syarat-syarat peran mencangkup 4 (empat) hal, yaitu: Peran adalah suatu konsep perilaku apa yang dapat dilaksanakan oleh individu-individu dalam masyarakat sebagai organisasi. Peran juga dapat dikatakan sebagai perilaku individu, yang penting bagi struktur sosial masyarakat. Peran adalah suatu rangkaian yang teratur yang ditimbulkan karena suatu jabatan. Manusia sebagai makhluk sosial memiliki kecenderungan untuk hidup berkelompok. Dalam kehidupan berkelompok tadi akan terjadi interaksi antara anggota masyarakat yang satu dengan anggota masyarakat yang lainnya. Tumbuhnya interaksi diantara mereka ada saling ketergantungan. Dalam kehidupan bermasyarakat itu munculah apa yang dinamakan peran (role), dalam pendidikan luar sekolah. Peran merupakan aspek yang dinamis dari kedudukan seseorang, apabila seseorang melaksanakan hak-hak dan kewajibannya sesuai dengan kedudukannya maka orang yang bersangkutan menjalankan suatu peranan. Untuk memberikan pemahaman yang lebih jelas ada baiknya terlebih dahulu kita pahami tentang pengertian peran. Peran tenaga pendidikan tenaga kependidikan dalam menjalankan tugasnya dalam mengambil peran untuk mencapai tujuan pendidikan luar sekolah. Tentu harus ada dan jelas, dalam upaya mencerdaskan kehidupan bangsa. Dengan demikian, peran kita sebagai pendidikan tenaga kependidikan, harus harus terlibat dalam menghadapi masyarakat agar PLS kita tidak terlalu jauh ketinggalan dalam upaya menghadapi pangsa pasar di era MEA. Ekspektasi Ekspektasi bukanlah sebuah harapan. Ekspektasi adalah kemungkinan yang bisa timbul dan dapat dihitung dengan sebuah metode kuantitatif, sedangkan harapan bukanlah sesuatu yang dapat dihitung dengan angka kuantitatif maupun dengan kuantitas do’a yang anda lakukan. Dipihak lain, Ekspektasi adalah sebuah harapan besar yang di bebankan pada sesuatu yang di anggap akan mampu membawa dampak yang baik atau lebih baik dengan diperkerjakan dia ekspektasinya bisa membuat maju perusahaan kita. Ekspektasi dan Harapan Siapa saja boleh memilih untuk hidup menurut keinginannya, tidak ada yang melarang. Menurut: Ryan Aldo (2012) bahwa: Ego dan percaya diri dalam kebebasan mampu membuat setiap orang bahagia, boleh saja dijadikan pegangan. Namun harus diakui, kadang cita dan keinginan harus kandas karna sebuah harapan yang terlalu dipaksakan. Seperti kata Shakespeare, “Expectation is the root of all heartache“. Harapan adalah akar dari semua sakit hati. Apakah memang demikian? Dalam bahasa Inggris, kita dapat menerjemahkan harapan dari kata Hope dan expectation. Kedua kata ini kelihatannya sama, namun dalam pemahamannya adalah tidak harus sama atau berbeda. Hope dan expectation adalah dua kata yang sering membuat kita bingung karena kesamaan dalam konotasinya. Sebenarnya ada beberapa perbedaan antara kedua kata atau istilah tersebut. Expectations sering dicirikan untuk sebuah keinginan yang tidak terpenuhi. Di sisi lain hope bukan tentang keinginan yang terpenuhi. Hope selalu mengenai sesuatu yang mungkin terjadi. Sedangkan Expectations lebih luas bahkan sebagian besar mengenai sesuatu yang tidak mungkin terjadi (sulit terjadi). Pemahaman ini paling tidak menurut ukuran kondisi seseorang pada saat ini terhadap sesuatu yang diinginkan dapat terjadi di masa depan. Ini adalah salah satu perbedaan utama dari keduanya. Sehingga pendidikan luar sekolah diperlukan untuk pengembangan ke masa depan yang lebih baik dari masa sebelumnya. Hope adalah semua tentang imajinasi yang sangat mungkin terjadi sedangkan expectation sering menyangkut imajinasi yang berlebihan dan sulit terjadi. Expectations membuat anda seolah-olah dapat mengendalikan hidup anda karena gairah dan obsesi, sementara hope adalah chance (kesempatan) atau probabilitas dimana anda cenderung berbuat pasrah. Sebetulnya tidak boleh demikian. PLS harus maju terus, para tenaga akademisi yang tak kenal lelah. Expectation adalah pola pikir yang jauh lebih aktif bila dibandingkan dengan hope. Hal ini karena fakta menunjukan bahwa ketika anda berharap (hope) akan sesuatu, anda kadang lebih berserah diri pada takdir (destiny). Sedangkan dalam kasus Expectation, anda mengupayakan segala upaya untuk menggapai atau merealisasikannya apa yang telah direncanakan. Termasuk perencanaan dalam pendidikan non formal. Pemikir berkeyakinan bahwa expectation kadang-kadang dapat disamakan dengan keadaan “berharap-harap cemas”. Perbedaan penting lainnya antara hope dan expectation adalah bahwa expectation mungkin tidak realistis. Di sisi lain hope selalu tentang sesuatu yang realistis. Dalam pengertian ini terkadang Expectation seolah-olah merupakan wujud dari Fantasy atau Illusion. Pendidikan adalah pembelajaran pengetahuan, keterampilan, dan kebiasaan sekelompok orang yang diturunkan dari satu generasi ke generasi berikutnya melalui pengajaran, pelatihan, atau penelitian. Pendidikan sering terjadi di bawah bimbingan orang lain, tetapi juga memungkinkan secara otodidak. Setiap pengalaman yang memiliki efek formatif pada cara orang berpikir, merasa, atau tindakan dapat dianggap pendidikan. Sebuah hak atas pendidikan telah diakui oleh beberapa pemerintah. Pada tingkat global, Pasal 13 PBB 1966 Kovenan Internasional tentang Hak Ekonomi, Sosial dan Budaya mengakui tentang hak setiap orang atas pendidikan. Meskipun pendidikan adalah wajib di sebagian besar tempat sampai usia tertentu, bentuk pendidikan dengan hadir di sekolah sering tidak dilakukan, dan sebagian kecil orang tua memilih untuk pendidikan home-schooling, e-learning atau yang serupa untuk masa depan anak-anak mereka. 2.Tujuan : Adapun tujuan penelitian ini adalah : 1.Ingin mengetahui bagaimana kesiapan masyarakat dalam menghadapi masyarakat ekonomi asean. 2.Bagaimana perhatian pemerintah dalam menghadapi MEA tersebut, dan babagaimana peran pendidikan non formal. 3.Upaya apa yang dilakukan dalam menghadapi persaingan bebas dalam tahun-tahun mendatang. 3.Filosofi pendidikan Filosofi pendidikan Adapun pendidikan biasanya berawal saat seorang bayi itu dilahirkan dan berlangsung seumur hidup. Dalam filosofi ini, tidak terlepas dari istilah pendidikan sepanjang hayat yang selalu dikemukakan oleh para tokoh PLS. Pendidikan bisa saja berawal dari sebelum bayi lahir seperti yang dilakukan oleh banyak orang dengan memainkan musik dan membaca kepada bayi dalam kandungan dengan harapan ia bisa mengajar bayi mereka sebelum kelahiran. Bagi sebagian orang, pengalaman kehidupan sehari-hari lebih berarti daripada pendidikan formal. Seperti kata Mark Twain, "Saya tidak pernah membiarkan sekolah mengganggu pendidikan saya. Anggota keluarga mempunyai peran pengajaran yang amat mendalam, sering kali lebih mendalam dari yang disadari mereka, walaupun pengajaran anggota keluarga berjalan secara tidak resmi. Fungsi pendidikan Bila kita memperhatikan apa menurut Horton dan Hunt, lembaga pendidikan berkaitan dengan fungsi yang nyata (manifes) berikut: • Mempersiapkan anggota masyarakat untuk mencari nafkah. • Mengembangkan bakat perseorangan demi kepuasan pribadi dan bagi kepentingan masyarakat. • Melestarikan kebudayaan. • Menanamkan keterampilan yang perlu bagi partisipasi dalam demokrasi. Fungsi lain, dari lembaga pendidikan adalah sebagai berikut. • Mengurangi pengendalian orang tua. Melalui pendidikan, orang tua melimpahkan tugas dan wewenangnya dalam mendidik anak. • Menyediakan sarana untuk pembangkangan. Luar Sekolah memiliki potensi untuk menanamkan nilai pembangkangan di masyarakat. Hal ini tercermin dengan adanya perbedaan pandangan antara sekolah dan masyarakat tentang sesuatu. Pengertian pendidikan Pendidikan adalah hal terpenting dalam kehidupan seseorang. Melalui pendidikan formal ataukah non formal, seseorang dapat dipandang terhormat, memiliki karir yang baik serta dapat bertingkah sesuai norma-norma yang berlaku. Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana secara etis, sistematis, intensional dan kreatif dimana peserta didik mengembangkan potensi diri, kecerdasan, pengendalian diri dan keterampilan untuk membuat dirinya berguna di masyarakat Pengertian pendidikan menurut Undang-Undang SISDIKNAS nomor 20 tahun 2003, adalah sebagai usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran sedemikian rupa supaya peserta didik dapat mengembangkan potensi dirinya secara aktif supaya memiliki pengendalian diri, kecerdasan, keterampilan dalam bermasyarakat, kekuatan spiritual keagamaan, kepribadian serta akhlak mulia. Pendidikan non formal adalah jalur pendidikan di luar pendidikan formal yang dapat dilaksanakan secara terstruktur dan berjenjang. 4.Arti PLS/PNF Adapun arti Pendidikan Luar Sekolah Norsanie Darlan (2012) adalah: ”...setiap kesempatan dimana terdapat komunikasi yang teratur dan terarah di luar sekolah, di mana seseorang memperoleh informasi pengetahuan, latihan dan bimbingan yang sesuai dengan usia dan kebutuhan hidupnya...”, dengan mengem-bangkan tingkat keterampilan, sikap dan nilai-nilai yang memungkinkan baginya menjadi peserta aktif dan efesien dalam lingkungan pekerjaannya bahkan lingkungan masyarakat negaranya. 5.Ciri PNF Untuk mengetahui secra jelas PNF atau PLS bila mengkaji berbagai literatur yang menyebutkan bahwa Pendidikan Luar sekolah (PLS) yang berdasarkan dalam Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional nomor 20 tahun 2003 secara jelas bahwa PLS atau pendidikan nonformal itu tidak dijelaskan secara rinci dalam hal ciri pendidikan luar sekolah itu. Penulis dalam kesempatan ini, mencoba mengurai ciri tentang PLS atau pendidikan nonformal ini menurut Norsanie Darlan (2001) adalah: (1) waktunya pendek; (2) materinya beragam; (3) siswanya bervariasi dan; (4) tempatnya menyesuaikan Untuk lebih jelasnya yaitu: waktunya pendek, artinya pendidikan luar sekolah atau pendidikan nonformal ini, tidak lebih dari 12 bulan. Bahkan ada yang hanya satu hari. Demikian juga jam belajarnya. Apakah pagi, sore atau malam hari. Sehingga tidak mengganggu jam kerja warga belajar. Dalam perkembangannya, pada pendidikan dasar dan menengah dewasa ini tentu ada yang lebih dari setahun. Misalnya dalam program paket A,B dan C. Guna meningkatkan kualitas disertai fungsi dan peran yang makin diperbaiki. Maka warga belajar paket A, B dan C tidak mungikin dalam waktu 3 – 4 bulan sudah terima ijazah. Mereka harus belajar dengan kesungguhan, disertai mengikuti ujian untuk menentukan kelulusan. Adapun materi pembelajaran pendidikan orang dewasa ini, beragam. Artinya menyesuaikan dengan kebutuhan masyarakat (belajar berdasarkan bebutuhan masyarakat). Beda dengan pendidikan persekolahan atau pendidikan formal. 6.Peran Pendidikan Non Formal Dalam pendidikan luar sekolah atau pendidikan nonformal ini, materi dibuat berdasarkan kesepakatan. Para mahasiswa yang mengambil program studi / jurusan Pendidikan Luar Sekolah (PLS) tahu persis cara rancang bangun dan rekayasa dalam materi belajar yang berdasar kesepakatan itu. Kalau tidak maka kelompok belajarnya akan bubar. Siswanya atau istilah di PLS Warga belajarnya bervariasi, dengan berdasar konsep pendidikan luar sekolah atau pendidikan nonformal ini, kepada mereka yang karena sesuatu dan lain hal dalam pendidikan formal belum sempat menikmati dunia pendidikan. Namun telah berusia 35 tahun baru ia sadar akan pentingnya sekolah dasar. Padahal pada usia itu tidak akan ada lagi murid SD. Maka ia harus mengikuti jalur ke 2 yaitu pendidikan luar sekolah atau pendidikan nonformal ini, dengan belajar paket A. Sehingga ia harus mengikuti paket A-1 sampai A-100. Atau pendidikan keaksaraan lainnya. Selain itu tutor harus mengerti betul yang didik ini orang dewasa. Materi selingan perlu ada agar warga belajar tidak bosan, maka ia harus merancang bangun dan rekayasa materi belajar lain yang sesuai kebutuhan warga belajar (WB)-nya. Yang dimaksud bervariasi di atas tidak lain usia peserta beragam. Ada yang usia 25 tahun ada pula 35 tahun dan sebagainya. Bahkan pengalaman penulis ada warga belajar (siswanya) lebih tua dari tutor (guru) ini adalah wajar, dan motivasi ingin tahunya sangat tinggi. Bicara tentang tempat tidak seperti dunia persekolahan atau pendidikan formal. Melainkan pendidikan luar sekolah atau pendidikan nonformal ini, berdasarkesepakatan bersama. Terkadang di ruang kelas sekolah, di rumah ketua RT, RK/RW, di rumah warga belajar sendiri atau di balai desa. Yang penting ada kesepakatan. Dengan demikian dalam memperhatikan pendidikan luar sekolah atau pendidikan nonformal ini, tentang: waktu, materi, wb bervariasi dan tempat tentu beda dengan sistem persekolahan atau pendidikan formal. Dan kalau kita terpaku pada salah satu jalur saja di dunia pendidikan ini, maka kapan lagi kepincangan pendidikan itu dapat kita luruskan. Dalam Menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA). MEA adalah bentuk integrasi ekonomi ASEAN dalam artian adanya system perdagaangan bebas antara Negara-negara asean. Indonesia dan sembilan negara anggota ASEAN lainnya telah menyepakati perjanjian Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) atau ASEAN Economic Community (AEC). Pada KTT di Kuala Lumpur pada Desember 1997 Para Pemimpin ASEAN memutuskan untuk mengubah ASEAN menjadi kawasan yang stabil, makmur, dan sangat kompetitif dengan perkembangan ekonomi yang adil, dan mengurangi kemiskinan dan kesenjangan sosial-ekonomi (ASEAN Vision 2020). Pada KTT Bali pada bulan Oktober 2003, para pemimpin ASEAN menyatakan bahwa Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) akan menjadi tujuan dari integrasi ekonomi regional pada tahun 2020, ASEAN Security Community dan Komunitas Sosial-Budaya ASEAN dua pilar yang tidak terpisahkan dari Komunitas ASEAN. Semua pihak diharapkan untuk bekerja secara yang kuat dalam membangun Komunitas ASEAN pada tahun 2020. Pertanyaan yang timbul adalah: Apa yang harus kita lakukan? Apakah PLS/PNF cukup berpangku tangan ? Jawabnya menurut Norsanie Darlan, (2012) tidak lain adalah: sebagai tenaga pendidik tenaga kependidikan, perlu membangun jiwa wira usaha di kalangan mahasiswa. Selain itu setiap mahasiswa sebelum masuk dunia kerja, kenapa tidak mendidikan pusat-pusat: Kursus PKBM TBM Lembaga Pelatihan lainnya. Sehingga kehadiran Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) kita tidak perlu gentar, sambil melibatkan diri dalam upaya menjalin pasar Asean pada tahun 2020 mendatang. Selanjutnya, Pertemuan Menteri Ekonomi ASEAN yang diselenggarakan pada bulan Agustus 2006 di Kuala Lumpur, Malaysia, sepakat untuk memajukan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) dengan target yang jelas dan jadwal untuk pelaksanaan. Pada KTT ASEAN ke-12 pada bulan Januari 2007, para Pemimpin menegaskan komitmen mereka yang kuat untuk mempercepat pembentukan Komunitas ASEAN pada tahun 2015 yang diusulkan di ASEAN Visi 2020 dan ASEAN Concord II, dan menandatangani Deklarasi Cebu tentang Percepatan Pembentukan Komunitas ASEAN pada tahun 2015 Secara khusus, para pemimpin sepakat untuk mempercepat pembentukan Komunitas Ekonomi ASEAN pada tahun 2015 dan untuk mengubah ASEAN menjadi daerah dengan perdagangan bebas barang, jasa, investasi, tenaga kerja terampil, dan aliran modal yang lebih bebas. Karakteristik Dan Unsur Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) pengertian karakteristik Secara etimologis, istilah karakteristik tafsir merupakan susunan dua kata yang terdiri dari kata; karakteristik dan tafsir. Istilah karakteristik diambil dari bahasa Inggris yakni characteristic, yang artinya mengandung sifat khas. Ia mengungkapkan sifat-sifat yang khas dari sesuatu. Dalam kamus lengkap psikologi karya Chaplin, dijelaskan bahwa karakteristik merupakan sinonim dari kata karakter, watak, dan sifat yang memiliki pengertian di antaranya: 1. Suatu kualitas atau sifat yang tetap terus-menerus dan kekal yang dapat dijadikan cirri untuk mengidentifikasikan seorang pribadi, suatu objek, suatu kejadian. 2. Intergrasi atau sintese dari sifat-sifat individual dalam bentuk suatu untas atau kesatuan. 3. Kepribadian seeorang, dipertimbangkan dari titik pandangan etis atau moral. Jadi di antara pengertian-pengertian di atas sebagaimana yang telah dikemukakan oleh Chaplin, dapat disimpulkan bahwa karakteristik itu adalah suatu sifat yang khas, yang melekat pada seseorang atau suatu objek. Misalnya karakteristik tafsir artinya suatu sifat yang khas yang terdapat dalam literature tafsir, seperti sistematika penulisan, sumber penafsiran, metode, corak penafsiran dan lain sebainya. Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) adalah realisasi tujuan akhir dari integrasi ekonomi yang dianut dalam Visi 2020, yang didasarkan pada konvergensi kepentingan negara-negara anggota ASEAN untuk memperdalam dan memperluas integrasi ekonomi melalui inisiatif yang ada dan baru dengan batas waktu yang jelas. dalam mendirikan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA), ASEAN harus bertindak sesuai dengan prinsip-prinsip terbuka, berorientasi ke luar, inklusif, dan berorientasi pasar ekonomi yang konsisten dengan aturan multilateral serta kepatuhan terhadap sistem untuk kepatuhan dan pelaksanaan komitmen ekonomi yang efektif berbasis aturan. Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) akan membentuk ASEAN sebagai pasar dan basis produksi tunggal membuat ASEAN lebih dinamis dan kompetitif dengan mekanisme dan langkah-langkah untuk memperkuat pelaksanaan baru yang ada inisiatif ekonomi; mempercepat integrasi regional di sektor-sektor prioritas; memfasilitasi pergerakan bisnis, tenaga kerja terampil dan bakat; dan memperkuat kelembagaan mekanisme ASEAN. Sebagai langkah awal untuk mewujudkan Masyarakat Ekonomi ASEAN, Pada saat yang sama, Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) akan mengatasi kesenjangan pembangunan dan mempercepat integrasi terhadap Negara Kamboja, Laos, Myanmar dan Viet Nam melalui Initiative for ASEAN Integration dan inisiatif regional lainnya. Bentuk Kerjasamanya adalah : 1. Pengembangan sumber daya manusia dan peningkatan kapasitas; 2. Pengakuan kualifikasi profesional; 3. Konsultasi lebih dekat pada kebijakan makro ekonomi dan keuangan; 4. Langkah-langkah pembiayaan perdagangan; 5. Meningkatkan infrastruktur 6. Pengembangan transaksi elektronik melalui e-ASEAN; 7. Mengintegrasikan industri di seluruh wilayah untuk mempromosikan sumber daerah; 8. Meningkatkan keterlibatan sektor swasta untuk membangun Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA). Pentingnya perdagangan eksternal terhadap ASEAN dan kebutuhan untuk Komunitas ASEAN secara keseluruhan untuk tetap melihat ke depan, karakteristik utama Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA): 1. Pasar dan basis produksi tunggal, 2. Kawasan ekonomi yang kompetitif, 3. Wilayah pembangunan ekonomi yang merata 4. Daerah terintegrasi penuh dalam ekonomi global. Karakteristik ini saling berkaitan yang sangat kuat. Dengan Memasukkan unsur-unsur yang dibutuhkan dari masing-masing karakteristik dan harus memastikan konsistensi dan keterpaduan dari unsur-unsur serta pelaksanaannya yang tepat dan saling mengkoordinasi di antara para pemangku kepentingan yang relevan. Apa yang harus kita perbuat ? Sebagai upaya kita memanusiakan manusia dalam pendidikan non formal harus pula ingat dengan apa sebenarnya yang bakal terjadi dalam Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) bagi bangsa kita diantaranya, yaitu: 1.Aliran Barang masuk yang tak bisa kita kendalikan 2.Tenaga kerja bebas. Dari 2 hal di atas dengan sekian program dari Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) tersebut merupakan tantangan yang menakutkan bila kita tidak siap untuk menghadapinya maka kita akan tergilas. Misalnya Aliran barang yang bebas tanpa perlu diseleksi. Tinggal kualitas mana yang lebih baik, ia akan masuk pangsa pasar dengan mudah. Demikian juga dalam menghadapi tenaga kerja yang bebas. Mereka dengan mudah menempati lapangan kerja yang ada di negeri ini. Tantangan yang dihadapi adalah kesiapan para sarjana PLS dalam penguasaan skill. Untuk mengatasi hal-hal di atas para dosen/akademisi kita di pendidikan non formal harus sejak dini melakukan berbagai penelitian yang inovasi dalam bidang pendidikan non formal. Tanpa hal itu, kita akan ketinggalan. Hasil-hasil penelitian yang telah ada, perlu pengkajian yang lebih mendalam dengan tujuan untuk mencari mana yang inovasi. Bila kita terlambat, maka produk kita para sarjana pendidikan non formal /PLS akan tidak bisa turut serta dalam Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) tahun 2020 mendatang. Para dosen PNF seharusnya bila melakukan penelitian kita harus mencari mana yang inovatif. Khususnya dalam penelitian-penelitian PNF kita harus mencari dimana ditemukannya inovatif itu. Jika telah ditemukan, maka yang inovatif inilah yang dijadikan untuk dikembangkan agar dapat masuk dunia pasar yang bersaing dengan MEA yang diharapkan. Semoga kita sukses dalam menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA). Tapi kalau tanpa kita perhatikan dari sekrang, kapan lagi. Bila terlambat maka kita akan tergilas oleh majunya masyarakat dari luar. Yang juga disebut dengan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) tersebut. Sekedar tahu: dalam bagian akhir tulisan ini adalah: Pendidikan Luar Sekolah (PLS) yang ada di Universitas Palangka Raya itu berdiri sejak Unpar di didirikan. (Lihat Sejarah) Berdirinya Unpar semula ada IKIP Bandung Cabang Palangka Raya dan ada pula Fakultas Ekonomi. Lalu 2 perguruan tinggi swasta ini, dijadikan cikal bakal berdirinya Universitas negeri terbesar di Kalimantan Tengah. Pada IKIP Bandung Cabang Palangka Raya di sana ada Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) yang memiliki 2 jurusan. Masing-masing Pendidikan Luar Sekolah (PLS) dan jurusan pedidikan Umum (PU). Program Studi Pendidikan Luar Sekolah PLS ini, tidak pernah terhenti hingga sekarang. Dalam tahun 1986, ada goncangan berat, yaitu: seluruh Program Studi PLS, Bimbingan Penyuluhan (BP) dan Administrasi Pendidikan (AP) turut menghentikan menerima mahasiswa input SLA. Karena ada kabar burung pemerintah mau menghentikan. Hal ini kabarnya berlaku pada FKIP seluruh Indonesia. PLS Unpar tetap berjalan dengan menerima mahasiswa input Sarjana Muda dan Diploma. Hingga tahun 1996 kembali menerima mahasiswa Input SLA hingga sekarang. Semula atas restu Rektor Unpar Prof. Dr. Ir. Ali Hasymi, MS, MA. PLS Universitas Palangka Raya masuk dalam sejarah di tanah air dalam dunia pendidikan luar sekolah yang mampu bertahan tanpa berhenti. Karena selama 10 tahun berjalan masa itu, hanya 2 perguruan tinggi di tanah air yang bertahan hingga sekarang yaitu: PLS FKIP Universitas Jember di Jatim dan PLS FKIP Universitas Palangka Raya di Kalteng. Sejak tahun 2008 walau Profesornya hanya seorang, PLS Universitas Palangka Raya naik daun. Karena hingga sekarang PLS Universitas Palangka Raya tidak saja membina dan memproduk sarjana S-1 tapi juga S-2 (Program Magister/M.Pd) dan menelurkan ratusan lebih M.Pd di Kalimantan Tengah. Mahasiswa tidak sebatas di Palangka Raya, juga dari berbagai daerah dan provinsi. Di Kalimantan Tengah hampir semua kabupaten kota kuliah di S-2 PLS. Sedangkan Provinsi lain seperti Kalimantan Barat dan Kalimantan Timur juga kuliah di S-2 PLS Unpar. Kalimanan Selatan tahun ini juga mendaftar. Pendapaftaran sebentar lagi (bulan Juli) akan ditutup. Bertahannya pendidikan Luar Sekolah ini untuk tetap menjalankan pengabdiannya karena meresaran pendidikan non formal ini, belum banyak mendapatkan perhatian dari berbagai pihak. Hal ini karena ketidak tahuan saja. Namun mahasiswa S-2 PLS sejak tahun 2008 mayoritas dari tenaga guru, yang berminat menyandang gelar Sarjana S-2 (M.Pd). selain itu dari berbagai PNS dari Dinas dan Badan serta Swasta dari berbagai instansi ikut kuliah di PLS. Dalam pertemuan dosen PLS secara nasional dosen –dosen dari berbagai perguruan tinggi di tanah air selalu bertanya dan angkat jempol kepada Unpar. Karena S-2 PLS di negeri tercinta ini, yang hanya satu-satunya ada di luar Jawa adalah di Palangka Raya. Sementara di PLS Surabaya 6 orang guru besar PLS kok kenapa proposalnya untuk mendirikan S-2 selalu kandas. Sementara di Universitas Palangka Raya agustus 2008 sudah mendapat restu secara resmi dan mendapat izin operasional dari Mendikbud RI, melalui Dirjen Pendidikan Tinggi. Alumnus kami sudah menempati di berbagai Instansi pemerintah dan swasta di tanah air. 7.Metoda Metoda yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kualitatif kepada Nara Sumber adalah para pejabat yang terkait dengan masalah promosi daerah dengan menggunakan pendekatan pada subyek penelitian yaitu dengan meminta waktu mereka sambil memberikan pelayanan dalam memperhatikan masa depan masyarakat Ekonomi Asea. Sedangkan alat pengumpulan data berupa: wawancara, observasi dan dokumentasi. Untuk mencari kebenaran dalam analisa sederhana dalam penelitian ini dilakukan uji: Kredibilitas, triangulasi, Transferabilitas, Dependabilitas, Confirmabilitas dan lain-lain, agar data yang dianalisis manghasilkan sesuai dengan yang diharapkan. 8.Hasil Penelitian Hasil pendidikan non formal dapat dihargai setara dengan hasil program pendidikan formal setelah melalui proses penilaian penyetaraan oleh lembaga yang ditunjuk oleh Pemerintah atau Pemerintah Daerah dengan mengacu pada standar nasional pendidikan. Sasaran Pendidikan Non formal Pendidikan non formal diselenggarakan bagi warga masyarakat yang memerlukan layanan pendidikan yang berfungsi sebagai pengganti, penambah, dan/atau pelengkap pendidikan formal dalam rangka mendukung pendidikan sepanjang hayat. Fungsi Pendidikan Non formal Pendidikan non formal berfungsi mengembangkan potensi peserta didik dengan penekanan pada penguasaan pengetahuan dan keterampilan fungsional serta pengembangan sikap dan kepribadian profesional. Jenis Pendidikan Non formal Pendidikan non formal meliputi pendidikan kecakapan hidup, pendidikan anak usia dini, pendidikan kepemudaan, pendidikan pemberdayaan perempuan, pendidikan keaksaraan, pendidikan keterampilan dan pelatihan kerja. Pendidikan kesetaraan meliputi Paket A, Paket B dan Paket C, serta pendidikan lain yang ditujukan untuk mengembangkan kemampuan peserta didik seperti: Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM), lembaga kursus, lembaga pelatihan, kelompok belajar, majelis taklim, sanggar, dan lain sebagainya, serta pendidikan lain yang ditujukan untuk mengembangkan kemampuan peserta didik. Satuan pendidikan penyelenggara • Taman kanak-kanak (TK) • Taman Pendidikan Al-Qur'an • Kelompok bermain (KB) • Taman penitipan anak (TPA) • Lembaga kursus • Sanggar • Lembaga pelatihan • Kelompok belajar • Pusat kegiatan belajar masyaraka • Majelis taklim Kursus dan pelatihan diselenggarakan bagi masyarakat yang memerlukan bekal pengetahuan, keterampilan, kecakapan hidup, dan sikap untuk mengembangkan diri, mengembangkan profesi, bekerja, usaha mandiri, dan/atau melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Arti dan Contoh Pendidikan Formal, Nonformal dan Informal No. Jenis Lembaga Pendidikan Arti Contoh bentuk lembaga pendidikan 1 Formal Pendidikan yang diselenggarakan oleh Sekolah atau Perguruan Tinggi. TK SD, MI SMP, MTS SMA, SMK, MA Universitas 2 Non formal Pendidikan yang diselenggarakan oleh lembaga di luar sekolah atau perguruan tinggi. Kursus TPA Bimbingan Belajar 3 Informal Pendidikan di dalam masyarakat dan keluarga Pendidikan orang tua (keluarga) kepada anak Apa Pendidikan Non Formal itu ? 1.Pengertian Pendidikan Nonformal Yang dimaksud dengan pendidikan nonformal monurut: H. M. Norsanie Darlan (2014) adalah setiap program pelayanan pendidikan yang diselenggarakan di luar sistem persekolahan, dan merupakan bagian terpadu dari sistem pendidikan nasional yang berlangsung seumur hidup menuju terbentuknya manusia pancasila yang berkarakter. Berdasarkan pendidikan pra sekolah yang isi kegiatannya berkenaan dengan perluasan wawasan, peningkatan keterampilan dan kesejahteraan keluarga, disebut program pendidikan nonformal. Menurut Soedamo, salah seorang tokoh Pendidikan Luar Sekolah (PNF) Indonesia dalam bukunya berjudul: Pendidikan Non Formal menurut: Soedamo, dan Norsanie (1984: 11). Secara jelas menyebutkan bahwa: “...Pendidikan Nonformal adalah setiap kesempatan dimana dan terdapat komunikasi yang teratur dan terarah, diluar sekolah (diluar formal), di mana seseorang memperoleh informasi, pengetahuan, latihan, atau pun bimbingan sesuai dengan usia dan kebutuhan hidupnya, dengan tujuan mengembangkan tingkat keterampilan, sikap dan nilai-nilai yang memungkinkan baginya menjadi peserta aktif yang efesien dan efektif dalam keluarganya, pekerjaanya bahkan lingkungan masyarakat dan negaranya....” Sedangkan menurut Phillips H. Combs, dalam bukunya yang berjudul : concept education beyond school, Jakarta thn (1986 : 50) menyebutkan : “...Setiap kegiatan pendidikan yang terorganisir dan diselenggarakan di luar system formal, baik tersendiri maupun merupakan bagian dari suatu kegiatan yang luas, yang dimaksudkan untuk memberikan layanan kepada sasaran didik tertentu dalam rangka mencapai tujuan-tujuan belajar...”. Menurut Sanapiah Faisal, dalam bukunya yang berjudul : Pendidikan Nonformal didalam system pendidikan dan pembangunan nasional, Surabaya thn (1981 : 37), secara sederhana menyebutkan : “...Penyelengaraan Pendidikan yang terorganisir di luar system persekolahan, isi pendidikannya terprogram, adanya sekuensi materi yang disampaikan didalam proses suatu pendidikan yang berlangsung, berada dalam suatu medan inter-aksi belajar mengajar yang sedikit banyak terkontrol, serta adanya kredensial meskipun tidak selalu memiliki saksi legal contoh konkritnya seperti kursus, penataran, dan training...”. 2. Fungsi Pendidikan Non formal Fungsi Pendidikan Non formal adalah membelajarkan individu agar mampu mengembangkan potensi yang ada pada diri kearah perwujudan pribadi yang utuh, dan membelajarkan masyarakat sehingga terwujud masyarakat gemar belajar. Gemar belajar ini dalam arti luas, meliputi berupa: membaca, menulis dan berhitung. Tidak itu saja tapi juga itu mereka juga perlu diberikan berbagai keperluan hidup berupa keterampilan-keterampilan yang sebaiknya memberikan fungsi terhadap sumber daya alam di sekitar untuk diolah menjadi suatu kecakapan hidupnya. Pelaksanaan Pendidikan Non formal tidak terikat oleh ruang dan waktu dapat dilakukan kapan saja, dimana saja, oleh dan untuk siapa saja seseorang yang pada suatu ketika menjadi peserta didik pada saat ini dia dapat menjadi tutor ataupun instruktur. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa fungsi utama Pendidikan Non formal adalah membelajarkan masyarakat, kapan saja dan memanfaatkan nilai yang baik dan lebih bermanfaat bagi kehidupan pribadi keluarga, masyarakat bangsa dan Negara. 3. Tujuan Pendidikan Non formal Dalam pencapaian secara operasional tujuan institusional pendidikan Non formal, memungkinkan bagi warga masyarakat untuk memiliki: memberikan kemampuan mengembangkan kepribadian dan mengaktuali-sasikan dirinya; Memberikan kemampuan menghadapi tantangan hidup, baik dalam lingkungan keluarga atau masyarakat; Punya kemampuan membina keluarga sejahtera dalam rangka memajukan kesejahteraan umum; Wawasan yang luas tentang hak dan kewajiban sebagai warga Negara; Kesadaran berbangsa bernegara, dan bermasyarakat dalam rangka pembangunan manusia dan masyarakat pancasila; Kemampuan menciptakan /membantu menciptakan lapangan kerja sesuai dengan keahlian yang dimiliki; Karena tujuan ini menegaskan bahwa pendidikan Non formal berusaha mengembangkan secara selaras, serasi dan seimbang. Kecerdasan sikap, kreativitas, dan upaya peningkatan mutu dan taraf hidup individu, keluarga, masyarakat bangsa dan negara. Upaya pencapaian tujuan yang institusional tersebut pada hakikatnya dilimpahkan kepada pranata kelembagaan pendidikan keluarga, pendidikan perluasan wawasan, dan pendidikan keterampilan. 4. Ruang Lingkup Pendidikan Non formal Ruang lingkup pendidikan Non formal menyangkut berbagai aspek kehidupan dari berbagai usia, tempat dan kebutuhan, ruang lingkup pelayanan pendidikan nonformal menjangkau keseluruhan kegiatan pelayanan pendidikan di luar sistem persekolahan pelayanan diselenggarakan oleh pendidikan di luar persekolah. Pendidikan Non formal tidak hanya dilakukan oleh pemerintah / departemen, tapi juga dilaksanakan oleh seluruh masyarakat yang mampu membimbing dan melaksanakannya. Ruang lingkup pendidikan nonformal dapat ditinjau dari beberapa segi seperti: Pelayanan, pranata, Pelambangan Program. Ketiga segi itu sebagai berikut : Dari segi pelayanan Usia Persekolahan Upaya peralatan pendidikan yang berhubungan dengan anak usia berhubungan antara lain adalah: tempat penitipan anak, dan kelompok sepermainan. Lembaga-lembaga pendidikan semacam ini juga termasuk lembaga pendidikan nonformal. Fungsi lembaga tersebut berbeda dengan fungsi taman kanak-kanak yang merupakan persiapan untuk memasuki sekolah dasar. Berdasarkan jenis kelamin Menurut daftar statistik wanita ternyata jumiah lebih banyak dari pada pria. Meskipun demikian, partisipasi wanita masih kurang dalam peningkatan produksi atau pendidikan sosial, ekonomi yang dilaksanakan bersama dengan pria. Mengingat bahwa wanita lebih berperan dalam kegiatan kesejahteraan keluarga, partisipasi wanita dalam hal ini perlu ditingkatkan lagi. Program pendidikan nonformal yang sangat menonjol dalam kegiatan itu ialah : program PKK, KB dan sebagainya. Sistem penyampaian dapat dilakukan dengan menggunakan : Kelompok, organisasi clan lembaga yang ada dalam masyarakat; Mekanisme sosial, budaya seperti perlombaan dan pertandingan; Kesenian tradisional seperti wayang, ludruk, dagelan, maupun teknologi modem seperti : TV, film majalah, dan surat kabar; Prasarana dan sarana seperti: balai desa, masjid, gereja sekolah, alat perlengkapan belajar, dan alat perlengkapan kerja. Peran pendidikan non formal adalah harus memperkuat lembaga penyelenggara pendidikan pada lembaga kursus dan pelatihan beserta Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) dalamuaya memajukan pendidikan di luar sistem persekolahan tersebut. Kesiapan masyarakat dalam menghadapi masyarakat ekonomi asean masih belum banyak terlihat, karena belum dilakukaan bahwa setiap kantor hotel, restoran menyambuat dan memeriahkan masyarakat ekonomi asean. Hal ini sangat diperlukan. Dalam dunia pendidikan luar sekolah ada kebuah kejutan tahun 2014 yaitu program studi PLS, dirubah nomenklatornya menjadi PNF; Perhatian pemerintah dalam menghadapi MEA tersebut dan apa saja peran pendidikan non formal hanya masih sedikit yang dirasakan. Sedangkan upaya apa yang dilakukan dalam menghadapi persaingan bebas dalam tahun-tahun mendatang masih belum dirasakan. 9.Peran Pendidikan Luar Sekolah Peran Pendidikan Luar Sekolah atau pendidikan non formal, dalam menghadapi masyarakat Ekonomi Asean (MEA) adalah sejak tahun 2014 sudah mempersiapkan diri dengan merubah momenklatornya, dari sebutan Pendidikan luar sekolah (PLS) menjadi Pendidikan Non Formal (PNF) sebagai upaya agar pasar bebas Asean tidak menjadi kendala. Selain itu pihak pengelenggara program studi/jurusan pendidikan non formal meningkatkan lembaga-lembaga seperti Kursus dan Pelatihan, Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) sehingga bagi mereka yang karena sesuatu dan lain hal tidak sempat menikmati pendidikan formal. Maka PKBM menyediakan berbagai paket pembelajaran yang berdasarkan Undang-Undang ada di PKBM paket-paket kesetaraan. 10.Pembahasan Dalam pembahasan ini melihat dari tujuan adalah suatu kesiapan masyarakat dalam menghadapi masyarakat ekonomi asean. Dalam aspek teori menurut: Soedamo, dan Norsanie (1984 : 11). Secara jelas menyebutkan bahwa: “...Pendidikan Non formal adalah setiap kesempatan dimana dan terdapat komunikasi yang teratur dan terarah, diluar sekolah (diluar formal), di mana seseorang memperoleh informasi, pengetahuan, latihan, atau pun bimbingan sesuai dengan usia dan kebutuhan hidupnya, dengan tujuan mengembangkan tingkat keterampilan, sikap dan nilai-nilai yang memungkinkan baginya menjadi peserta aktif yang efesien dan efektif dalam keluarganya, pekerjaanya bahkan lingkungan masyarakat dan negaranya....” Dengan demikian peran pendidikan non formal sudah mulai kelihatan walau teori di atas sudah tampil sebelum perjanjian tentang masyarakat ekonomi asean. Adapun tujuan yang berikut adalah bagaimana perhatian pemerintah dalam menghadapi MEA tersebut dan apa saja peran pendidikan non formal. Dalam teori terhadap hasil penelitian yang telah ada, perlu pengkajian yang lebih mendalam dengan tujuan untuk mencari mana yang inovasi. Bila kita terlambat, maka produk kita para sarjana pendidikan non formal /PLS akan tidak bisa turut serta dalam Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) tahun 2020 mendatang. Para dosen PNF seharusnya bila melakukan penelitian kita harus mencari mana yang inovatif. Dengan demikian masih ditemukan bahwa belum banyaknya perhatian pemerintah terhadap persiapan menghadapi masyarakat ekonmi asean ini. Sehingga diperlukan cara yang lebih proaktif dimasa datang. Seperti pembinaan lembaga kursus dan pelatihan (LKP) serta Pusat Kegitan Belajar Masyarakat (PKBM) harus ditampilkan. Dalam tujuan penelitian ini diperlukan upaya apa yang dilakukan dalam menghadapi persaingan bebas dalam tahun-tahun mendatang sehingga punya bahan yang lebih positif dimasa datang. Teori yang mendukungan terhadap hal ini adalah Sedangkan menurut Phillips H. Combs, dalam bukunya yang berjudul : concept education beyond school, Jakarta thn (1986 : 50) menyebutkan: “...Setiap kegiatan pendidikan yang terorganisir dan diselenggarakan di luar system formal, baik tersendiri maupun merupakan bagian dari suatu kegiatan yang luas, yang dimaksudkan untuk memberikan layanan kepada sasaran didik tertentu dalam rangka mencapai tujuan-tujuan belajar...”. Menurut Sanapiah Faisal, dalam bukunya yang berjudul: Pendidikan Non formal didalam system pendidikan dan pembangunan nasional, Surabaya thn (1981 : 37), secara sederhana menyebutkan : “...Penyelengaraan Pendidikan yang terorganisir di luar system persekolahan, isi pendidikannya terprogram. Dari hal di atas bahwa pentingnya pendidikan non formal merupakan dibina untuk turut serta mendukung suksesnya masyarakat ekonomi asean. Sebab dalam pendidikan non formal sudah melihat akan terjadiya pasar bebas, sehingga sejak tahun 2014 sudah melakukan perubahan nomenklator PLS berubah menjadi PNF. Jadi perubahan nomenklator dimaksud menjukkan upaya menghadapi masyarakat asean dalam aspek pendidikan non formal. 11.Kesimpulan 1. Bahwa kesiapan masyarakat dalam menghadapi masyarakat ekonomi asean masih belum terlihat. Apa lagi dikawasan nanjauh dari pasar perkonomian. Namun hal ini terjadi sebagai bagian akan terjadinya perubahan dalam pembangunan; 2. Belum banyak perhatian pemerintah dalam menghadapi masyarakat ekonomi asean (MEA) tersebut karena masih belum dipublikasikan secara luas disertai belum banyak masyarakat yang masih bersifat pasif terhadap hal itu, dan peran pendidikan non formal harus mampu menyesuaikan diri terhadap keadaan tersebut. 3.Bahwa upaya yang dilakukan dalam menghadapi persaingan bebas dalam tahun-tahun mendatang masih belum terlihat meriah. Hal ini sebaiknya peran pemerintah memberikan himbauan kepada berbagai pihak, termasuk hotel dan lain-lain dengan dalam memesyaratkan berbagai hal, termasuk spanduk guna memeriahkannya. 12.DAFTAR PUSTAKA Darlan, H.M.Norsanie, 2001. Konsep Dasar Pendidikan Luar Sekolah, FKIP Unpar, Palangka Raya. ------------, 2010. Pendidikan Karakter Dalam Pengembangan Perangkat Pembelajaran, Diklat Kompetensi profesi guru Tamiang Layang, Kalteng. ------------, 2012. Upaya Mengoptimalkan Fungsi dan Peran PKBM Sebagai Lembaga Pengembang Sumber Daya Masyarakat, Lemlit Unpar, Palangka Raya. ------------, 2014. Pendidikan Luar Sekolah, FKIP Unpar, Palangka Raya. Faisal, Sanapiah, 1983. Sosiologi Masyarakat kota dan desa, Usaha Nasional, Surabaya. H. Combs, Philip 1986. concept education beyond school, Jakarta. Hasmi, Ali, 2096. Pentingnya PLS di KalimantanTengah, Palangka Raya. KTT ASEAN, 2007. Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) pada bulan Januari, Jakarta. Soedamo, 1984. Pendidikan Non Formal, Usaha Nasional Surabaya. ------------, dan Norsanie, 1984. Pendidikan Non Formal di Indonesia, IKIP Malang, Malang. Soekamto, Soerjono 1998. pengayom bagi masyarakat dalam rangka mewujudkan ketertiban, keamanan yang mempunyai Kemakmuran, Jakarta. --------------------------- Penulis, H.M. Norsanie Darlan, Prof. Dr. MS. PH. Guru Besar S-1 dan S-2 PLS/PNF Universitas Palangka Raya