Sabtu, 22 Mei 2021

STRATEGI PENATAAN RENCANA PEMINDAHAN IBU KOTA NEGARA KE PALANGKA RAYA

STRATEGI PENATAAN RENCANA PEMINDAHAN IBU KOTA NEGARA KE PALANGKA RAYA Oleh : H.M.Norsanie Darlan Pendahuluan Dalam upaya menyambut satu abad kemerdekaan RI pemerintah dalam hal ini panitia Musyawarah Nasional Kedaulatan (Bangsa) Indonesia menyongsong tahun 2045 adalah sangat besar manfaatnya jika dilakukan bagini untuk negeri. Selain kita mengenang betapa besar dan gigihnya perjuangan pendahulu kita, sehingga negeri kita dapat merebut kemerdekaannya. Oleh sebab itu, menjelang peristiwa seabad NKRI sangat pantas dimeriahkan dengan sebuah konsep mengumpulkan pendapat para ahli dari berbagai pelosok negeri untuk memberikan masukan bagi generasi penerus bangsa. Tidak semua ibu kota negara yang didirikan dan berkembang sampai sekarang, ada pula yang karena sesuatu dan lain hal, yang didorong oleh faktor alam, lingkugan dan lainnya sebagainya, membuat kota itu tidak menciptakan rasa aman, tenteram damai dan sejahtera. Sehingga`muncul pemikiran untuk mencari tempat pemukiman yang lebih cocok buat tempat tinggal yang baru dengan harapan di tempat baru itulah akan merasakan ketenangan dan ketenteraman mereka harapkan masa depan menghadapi seabad negeri ini ditahun 2045 mendatang. Jakarta yang sudah berusia tua dengan kepadatan penduduknya yang sudah luar biasa dirasakan sulit untuk ditata kembali. Karena arealnya sudah terlalu sempit. Tentang pasti ada pemikiran untuk menata yang lebih baik dari keadaan sekarang tentu kehendak yang Maha Kuasa. Saat ini dengan jumlah penduduk yang padat tentu berdampak sulitnya penataan tata ruang yang memadai sementara wilayah lain ada yang memungkinkan. Sementara areal yang ditempati semangkin tahun semangkin meyempit disebabkan penataan permukiman yang sulit diatur. Karena jumlah penduduk tidak seimbang dengan areal lokasi pemukiman penduduk. Ini membuat penataannya sulit dikendalikan. Dipihak lain faktor alam yang sulit dikendalikan bila curah hujan dari kawasan Bogor dan sekitarnya tinggi, maka tidak dapat difungkiri lagi kota Jakarta jadi kebanjiran. Sudah berbagai upaya oleh pemerintah memberikan memberikan sulusi berupa membangun bendungan, namun tak kunjung terpecahkan. Karena berhasil yang satu yang lain lagi bermasalah. Karena luapan air dari Bogor yang tak terkembali untuk menerjang ibu kota negara Jakarta. Dipihak lain permukiman penduduk yang jumlahnya banyak mereka lambat laun menempati kawasan pemukiman di tepi kali (bantaran kali), dan setuju atau tidak bila musim hujan tiba, penduduk di pemukiman itu, kebanjiran dan air meluap tidak hanya di kali, melainkan menggenang ke dalam rumah-rumah penduduk mencapai 1 – 2 meter atau lebih karena ke laut jawa tinggi permukaan air laut sama dengan di darat. Sementara di cari areal pemukiman baru di sekitar luasnya terlalu sempit, tentu saja sulit untuk pemecahan kalau tidak mencari loksi baru yang arealnya sangat luas dan tidak mengganggu masalah pemukiman beberapa abad ke depan. Yang artinya pada tahun 2045 (seabad negeri kita) tidak akan kebanjiran. Melirik sejarah kota Palangka Raya terdiri dari kata "Palangka dan Raya". Palangka Raya berasal dari suatu wadah Palangka (bagian muka dan belakang, melukiskan bentuk gambar Burung Elang, Enggang). Pendapat lain Y. Salillah, (1977) tentang "Palangka" adalah tempat sesajen. yang menurut kepercayaan leluhur/nenek moyang suku dayak, dipakai oleh Mahatala Langit (Tuhan Yang Maha Esa) untuk menurunkan manusia pertama ke planet bumi di dunia. Kota Palangka Raya adalah kota terluas ke 3 di Indonesia. Dan Kalimantan Tengah wilayah terluas ke 2 di Republik Indonesia. Palangka Raya dapat dilihat sebagai kota yang memiliki 3 wajah; wajah perkotaan, wajah pedesaan dan wajah hutan. Namun wajah mulai dewasa ini, mulai merubah wajahnya seperti sekarang. Provinsi Kalimantan Tengah terbentuk melalui proses yang panjang. Sejarah pembentukan Pemerintahan Kota Palangka Raya adalah bagian integral dari pembentukan Provinsi Kalimantan Tengah berdasarkan Undang-Undang Darurat Nomor 10 Tahun 1957, lembaran Negara Nomor 53 berikut penjelasannya (Tambahan Lembaran Negara Nomor 1284) berlaku mulai tanggal 23 Mei 1957, yang selanjutnya disebut Undang-Undang Pembentukan Daerah Swatantra Provinsi Kalimantan Tengah. Berdasarkan Undang-Undang Nomor 21 Tahun 1958, Parlemen Republik Indonesia, tanggal 11 Mei 1959 mengesah¬kan Undang-Undang Nomor 27 Tahun 1959, yang menetapkan pembagian Provinsi Kalimantan Tengah dalam 5 Kabupaten dan Palangka Raya sebagai Ibukotanya. Kota Palangka Raya secara geografis terletak pada 113°30'¬114°07' Bujur Timur dan 1°35'- 2°24' Lintang Selatan, dengan luas wilayah 2.678,51 Km2 (267.851 Ha) dengan topografi terdiri dari tanah datar dan berbukit dengan kemiringan kurang dari 40%. Untuk memperjelas apa arti dari kata dalam judul makalah ini, penulis mencoba mengurai dan berbagai dapat secara sederhana sebagai berikut: Beberapa Pengertian STRATEGI adalah; sebuah pendekatan secara keseluruhan yang berkaitan dengan pelaksanaan sebuah gagasan, perencanaan, untuk memindahkan ibu kota negeri ini ke Palangka Raya dan eksekusi sebuah aktivitas dalam kurun waktu tertentu, sehingga dalam tahun 2045 mendatang negera kita sudah punya ibu kota Negara yang baru sebagaimana halnya berbagai Negara di dunia. Menurut: Norsanie (1998) mengartikan bahwa Strategi adalah: “…salah satu cara dalam mencapai tujuan…”. PENATAAN adalah; memiliki arti. Penataan berasal dari kata dasar tata. Penataan memiliki arti dalam menyusun atau kata benda sehingga penataan dapat menyatakan nama dari seseorang atau sekelompok orang, ke tempat yang baru seperti ibu kota negara ditata untuk ditempatkan yang baru ke Palangka Raya. Karena di tempat lain sudah tidak memunginkan lagi. RENCANA adalah; hasil proses sebuah perencanaan berupa ketetapan tentang langkah tindakan pada masa depan menyangkut kegiatan dari sulitnya menata kota Jakarta, yang sudah sulit untuk ditata dan tentu harus ada sumber daya manusia yang akan digunakan, dalam rangka mencapai hasil yang diharapkan. PEMINDAHAN Pemindahan berasal dari kata dasar pindah. Pemindahan memiliki arti kata benda sehingga pemindahan ibu kota dapat menyatakan nama dari tempat, seperti perpindahan ibu kota Jakarta ke daerah yang kosong penduduknya Palangka Raya. IBU KOTA NEGARA Ibu kota (juga dieja ibukota), dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, Poerwadarminta (1986) adalah kota tempat kedudukan pusat pemerintahan suatu negara, tempat dihimpun unsur administratif, yaitu eksekutif, legislatif, dan yudikatif. Sehingga di ibu kota mereka yang disebut di atas itu pasti ada. PALANGKA RAYA, TEMPO.CO, Palangka Raya - Salah satu tokoh masyarakat Dayak, yang juga pendiri Provinsi Kalimantan Tengah, Cilik Riwut menjelaskan, Palangka Raya berasal dari dua kata yang berbeda arti. Dalam bahasa Dayak Ngaju, “Palangka” berarti tempat, wadah, atau juga piring, sebagai tempat orang Dayak menaruh sesaji. (Juli 10, 2017) Tempat Tiang Pancang Pertama Kota Palangka Raya 17 Juli 1957 Bila kita memperhatian terhadap arti selain dalam judul di atas. Ada 3 hal yang dianggap perlu penulis uraikan selain hal-hal dalam judul dalam dalam buku ini dimuat juga hal-hal sebagai berikut: 1. Prospektif adalah Asal Kata Retro yang dari beberapa sumber penulis baca kebanyakan mengungkap tentang kejadian kebelakang artinya peristiwa kemasa lampau, seperti halnya kota Palangka Raya pemasangan tiang pancang pertama oleh putra terbaik bangsa sekaligus Presiden RI yang pertama Bung Karno. Dengan pendekatan oleh Pahlawan Nasional asal Kalimantan Tengah: Cilik Riwut. 2. Prospektif adalah prospeknya; dapat (mungkin) terjadi; ada harapan (baik) ke masa depan. Termasuk jika hal ini terjadi, kota Palangka Raya menjadi ibu kota negara, sebagai kota pemerintahan. Tentu bukan lagi dijadikan kawasan tertinggal, melainkan menjadi daerah yang lebih maju dari sekarang. 3. Menuju Ibu Kota Negara adalah sebuah harapan yang disertai dengan perencanaan yang lebih matang. Pemerintah telah menurunkan tenaga ahli dari Litbang Depdagri dengan pengkajian yang matang. Tentu hasilnya tidak sebagai konsep biasa, melainkan konsep yang mapan untuk berdirinya ibu kota negara RI. Publikasi Via Media Penulis Rabu, 30 Juli 2014 diwawancarai Syamsudin Hasan, SH (Wartawan LKBN Antara) Banjarmasin. Walau penulis berada di Erofa saat itu, pertanyaannya tepat saat itu, Presiden Baru Tampilkan bagaimana apakah perlu Model Baru. Penulis selaku Akademisi dari Universitas Palangka Raya, Kalimantan Tengah Prof Dr H.M Noranie Darlan MS, PH sudah berpendapat, presiden baru harus menampilkan model baru pula. "Kalau tidak, kurang indah hanya melanjutkan program lama. Harusnya menunjukkan program baru yang lebih baru pula," saat menjawab pertanyaa Antara Kalimantan Selatan, di Banjarmasin. Penulis selaku putra Kalteng dengan motto daerahnya Isen Mulang (Pantang Mundur) itu mencontohkan kota Jakarta sebagai Ibu Kota Negara RI yang beberapa tahun belakangan di mana-mana banjir. "Sedangkan lokasi baru di sekitarnya sulit atau tidak mungkin untuk menghindar dari banjir," "Sementara Kalteng lahan tersedia yang luas. Kenapa tidak dialihkan ke Kalteng saja Ibu Kota Negara atau Pusat Pemerintahan Indonesia," pengalihan pusat pemerintahan atau Ibu Kota Negara itu tentu ada ketertautan dengan pembangunan daerah tertinggal. "Sebenarnya masih banyak lagi program yang harus dialihkan dari Ibu Kota atau Pulau Jawa agar tidak terjadi kesenjangan sosial," tutur Ketua Dewan Pakar Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (Korwil ICMI) Kalteng itu. "Jadi kita tak perlu risih atas pemindahan Ibu Kota Negara atau pusat pemerintahan. Apalagi kita tidak ada permasalahan mendasar dalam pemindahan pusat pemerintahan tersebut," lanjutnya. Sebagai contoh dalam pemindahan kota/pusat pemerintahan negara, antara lain Malaysia, Amerika Serikat, dan Australia, mereka tak pernah rugi, bahkan tambah maju, mengingatkan wacana presiden pertama Republik Indonesia Ir. Soekarno yang mau mengalihkan Ibu Kota Negara ke Pahandut, Kalteng. Pahandut asal nama desa di tepi sungai dan kota Palangka Raya, ibu kota Kalteng, yang peresmiannya oleh Presiden Soekarno pada 17 Juli 1957. Dalam perkembangan provinsi yang luasnya hampir satu setengah kali luas Pulau Jawa tersebut, kini berkembang menjadi 14 kabupaten/kota. Sebelum era otonomi daerah tahun 1999, provinsi yang kaya dengan sumber daya hutan itu hanya terbagi enam kabupaten/kota, yaitu Kota Palangka Raya, dan Kabupaten Kapuas. Selain itu, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Kotawaringin Barat (Kobar), Barito Selatan (Barsel) dan Kabupaten Barito Utara (Barut). Pada era reformasi/otonomi daerah terjadi pemekaran, Kabupaten Kapuas, Kotim dan Kobar masing¬-masing dimekarkan menjadi tiga kabupaten. Sementara Barsel dan Barut masing-masing dimekarkan menjadi dua kabupaten. Pemekaran dari Kabupaten Kapuas yaitu Kabupaten Pulang Pisau dan Gunung Mas, dari Kotim tambah Kabupaten Katingan dan Seruyan, Kobar tambah Kabupaten Lamandau dan Sukamara. Untuk pemekaran Basel tambah Kabupaten Barito Timur (Bartim) dan Barut ditambah Kabupaten Murung Raya (Mura), (ant), (BAMSOETNEWS). Menyimak Masa Lampau Seorang reporter salah satu media: Adhi (2016) Senin, 07 November 2016 otonomi,co.id mengomentari tentang: Jakarta Macet, banjir, polusi udara, pemukiman padat penduduk, dan masih ada lagi segudang masalah lainnya yang mendera Ibu Kota DKI Jakarta. Parahnya, yang diawali parahnya sejak 2009 silam, Badan Kesehatan Dunia (WHO) sempat menempatkan Jakarta sebagai kota terjorok ketiga di dunia setelah Meksiko dan Thailand. Menurut: Purwo Santoso, (2009) bahwa: apakah Jakarta masih ideal diagung-agungkan sebagai ibu kota negara? Ya, wacana untuk memindahkan ibu kota negara dari Jakarta ke kota lain memang bukan kabar baru. Di era Orde Baru, Presiden Soeharto sempat berencana memindahkan ibu kota pemerintahan dari Jakarta ke Jonggol, Bogor, Jawa Barat. Terbaru, pemerintah di bawah arahan Presiden Joko Widodo (Jokowi) juga sempat membahas ide memindahkan ibu kota dari Jakarta ke Pulau Kalimantan. Apakah Kota Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur dan Pangkalan Bun, Kabupaten Kotawaringan Barat pun sempat mengemuka sebagai calon ibu kota baru. Namun arealnya tidak seluas wilayah di sekitar kota Palangka Raya. Sebetulnya, ide memindahkan ibu kota dari Jakarta sendiri sudah sernpat diwacanakan di era Presiden Soekarno. Memasuki tahun 1950-an, (Penulis Belum Lahir) Bung Karno sudah meramalkan Jakarta akan menjadi kota yang pertumbuhannya tak terkendali. Berdasarkan hal itu, Soekarno yang sedang melakukan safari kenegaraan ke beberapa negara pun memanfaatkan momen tersebut untuk melakukan studi banding melihat kota-kota di negara lain. Pada 1956, Soekarno akhirnya membuka kepada publik bahwa ia memiliki rencana untuk memindahkan ibu kota Indonesia dan Jakarta ke Palangka Raya, Kalimantan Tengah. Mengapa Palangka Raya? Dikutip dari laman harian Merdeka, ada beberapa pertimbangan Ir. Soekarno. Foto Bung Karno Diabadikan di sekitar Tiang Pancang Pertama Pertama, Kalimantan adalah pulau terbesar di Indonesia dan letaknya di tengah-tengah gugus pulau Indonesia. Alasan Kedua, Soekarno ingin berusaha menghilangkan sentralisasi Jawa. Ketiga Selain ke 2 hal di atas, pembangunan Kota Jakarta dan Jawa secara umum adalah konsep peninggalan Belanda. Soekarno ingin membangun sebuah ibu kota dengan konsepnya sendiri. Bukan peninggalan penjajah, tapi sesuatu yang orisinil oleh bangsanya sendiri, "Jadikanllah Kota Palangka Raya sebagai modal dan model," ujar Ir. Soekarno saat pertama kali mendirikan tonggak pembangunan Kota Palangka Raya pada 17 Juli 1957 lalu". Di tengah hutan belantara yang masih perawan masa itu. Adinda Nurrizki, (2017). bahwa kota Palangka Raya saat ini sering disebut-sebut karena menjadi kandidat terkuat ibu kota Indonesia yang baru. Kota ini disebut sebagai kota ideal karena berada di pulau yang luas, di tengah-tengah gugusan pulau NKRI, dan minimnya potensi bencana. Jika memang ibu kota akan dipindahkan ke Palangka Raya, maka tentu ada saja tempat wisata yang indah dan bisa Anda nikmati di berbagai tempat sekarang, seperti melayari alur sungai dan menangkaran urang Hutan. Peristiwa 60 Tahun Silam Sebuah peristiwa yang sangat tidak begitu berarti jika kita melakukan retrospektif 60 tahun silam. Kenapa demikian, desa Pahandut yang terletak tidak jauh dari persimpangan sungai kahayan dengan sungai Rungan. Ada desa kecil yang berpenduduk tidak seberapa. Mengingat kota Sampit terlalu dekat dengan pesisir laut Jawa. Demikian juga Kuala Kapuas disamping dekat pesisir yang sama, juga hanya 40 Km di sebelah barat Kota Banjarmasin (Ibu kota Kalimantan Selatan). Maka diambil lokasi yang agak di tengah-tengah yaitu desa Pahandut. Yang saat itu penuh dengan hutan balantara, oleh Gubernur Kalimantan Tengah yang pertama: Cilik Riwut. Bung Karno yang melihat lokasi Pahandut menjadi kota Palangka Raya itu sangat strategis dengan berbagai pertimbangan: 1. Tidak pernah terjadi bencana Banjir, 2. Tidak ada Gunung Meletus, dan 3. Di tempat ini berada di tengah-tengah pulau terbesar di negeri kita. (saat tulisan ini Diturunkan, Kalteng provinsi terluas/terbesar ke dua setelah Papua). Perlu kita ketahui bersama konsep Bung Karno yang bisa kita ingat kota Palangka Raya bukan kota peninggalan Belanda. Jika diperhatikan dalam peta, jarak ke Aceh maupun ke Papua dan kota Palangka Raya juga hampir sama. Berarti Palangka Raya betul-betul di tengah-tengah negeri. Dan sekarang menjadi provinsi terluas ke 2 itu di tanah air, wajar Palangka Raya) dijadikan ibu kota negara. Kehadiran Bung Kamo ke Pahandut/Palangka Raya tidak hanya sekali, tapi berulang kali. Walau hanya naik kapal Sungai (Bus Air) dengan menghabiskan waktu yang panjang. Dan membawa para dosen Fakultas Teknik apakah dari Universitas Gadjah Mada (UGM) maupun Universitas Indonesia (UI). Untuk merancang bangun dan rekayasa sebagai kota idaman, yang akan dijadikan ibu kota negara. buktinya sekarang jalan-jalan yang dikonsep saat itu, selalu lebar dan tertata baik. Jakarta Terendam Banjir Banyak sumber menyebutkan, bahwa ibu kota negara semakin tahun semakin menghawatirkan. Apa lagi. Kali Sunter yang melintasi Cipinang Melayu, ditambah, curah hujan yang tinggi sepanjang hari kemarin. (KOMPAS.com / GARRY Andrew Lotulung). Jakarta, KOMPAS.com — Hujan deras yang mengguyur wilayah Jabodetabek pada Selasa (21/2/2017) pagi menyebabkan sejumlah wilayah terendam banjir. Setidaknya ada 54 wilayah di lbu Kota yang terendam banjir. "Ribuan rumah dan jalan terendam banjir dengan ketinggian bervariasi, 10-150 sentimeter. Terdapat 54 titik banjir dan genangan, yaitu di Jakarta Selatan (11 titik), Jakarta Timur (29 titik), dan Jakarta Utara (14 titik)," ujar Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho (2017) dalam keterangan tertulisnya, Selasa. Sutopo (2017) menjelaskan, bahwa banjir ini disebabkan drainase yang tidak mampu menampung aliran air di permukaan. Selain itu, banjir juga disebabkan luapan dari sungai yang statusnya naik mulai dari Siaga I hingga II. "Akibatnya, aliran air permukaan dari drainase tidak dapat dialirkan ke sungai," kata Sutopo. Mengatasi Padat Penduduk Penduduk kalimantan tengah saat ini, tidak begitu jauh berbeda dengan jumlah penduduk Jakarta. Sementara luas wilayahnya terbesar/terluas ke 2 di negeri ini setelah Papua. Dengan kota Palangka Raya dijadikan ibu kota negara, maka penduduk yang padat di berbagai daerah khususnya di Jakarta lambat laun akan dapat di atasi. Sebab kota Palangka Raya sebagai kota pusat pemerintahan jumlah penduduknya pasti cepat bertambah. Yang disebabkan orbanisasi, transmigrasi, perpindahan spontan akan terjadi ke Palangka Raya. Sementara kepadatan penduduk Jakarta akan dapat ditekan. Wacana Pemindahan Ibu Kota Negara Dalam Wacana Pemindahan Ibukota Pemerintahan RI ke Palangka Raya dibahas pada Rakornas Kelitbangan tertanggal, 16 Maret 0 Comments/in Berita Terkini oleh: Andika Afriadhy (2017). MEDIA CENTER, Palangka Raya-Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Kelitbangan yang diselenggarakan di Swiss Bel Hotel Danum Palangka Raya resmi dibuka oleh Menteri Dalam Negeri yang diwakilkan kepada Pelaksana Tugas Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kemendagri, Dodi Riyadmadji, (15/3/2017) Rabu malam pukul 20.00 WIB. Pembukaan Rakornas Kelitbangan ini dihadiri oleh ratusan peserta dari seluruh Indonesia. Hadir pula perwakilan Plt Sekda Provinsi Kalimantan Tengah, Sahrin Daulay mewakili gubernur, perwakilan DPRD provinsi, perwakilan DPRD Kota, dan beberapa Bupati serta Wakil Bupati. Dalam sambutan Menteri Dalam Negeri yang dibacakan Plt Kepala Badan Litbang Kemendagri, Dodi Riyadmadji, mengatakan Rakornas Kelitbangan yang diselenggarakan di Kota Palangka Raya memiliki nilai strategic berkenaan dengan ide yang disampaikan Presiden Joko Widodo yang mewacanakan Palangka Raya sebagai ibukota pemerintahan Republik Indonesia. Ide tersebut diwacanakan kembali oleh Presiden Joko Widodo saat melakukan kunjungan kerja ke Kota Palangka Raya dalam rangka menghadiri acara Hari Kesetiakawanan Sosial Nasional (HKSN) pada 20 Desember 2016 yang lalu. Mendagri menjelaskan alasan diwacanakannya kembali Kota Palangka Raya sebagai calon ibukota pemerintahan RI karena letak wilayah Palangka Raya dinilai jauh dari ancaman bahaya kebencanaan, akan tetapi proses tersebut tidak mudah, mengingat banyak aspek lain yang masih perlu dikaji secara mendalam seperti untung dan ruginya bila ibukota negara jadi dipindah ke Provinsi Kalimantan Tengah. Untuk itu, Kemendagri berharap Badan Litbang Provinsi, Kabupaten/Kota diharapkan bisa menyumbangkan buah pikirannya dalam rangka wacana pemindahan ibukota pemerintahan RI ke Palangka Raya. (MC Isen Mulang) Musim Kemarau Tempoe Doeloe siklus alam dimusim kemarau terjadi dalam 5 tahun sekali sekali seperti tahun: 1962, 1967, 1972 dan tahun 1997 dst. Sekarang sepertinya tidak lagi demikian. Musim-musim kemarau bisa terjadi berderet tanpa mengenal tahun ganjil ataupun genap. Ciri menjelang kemarau diawali 4¬5 bulan sebelumnya. Didahului adanya luapan air dari hulu (bagian Utara di Kalteng), yang luar biasa (berlebihan). Penduduk yang tinggal di tepi sungai seperti: Barito, Kahayan, Katingan, Mentaya, seruyan, Lamandau, Arut, dll. Sering meluap. Dan sekitar bulan agustus suhu panas mulai terjadi. Bila tidak terjadi turun hujan, dalam waktu 6-8 minggu maka kawasan bergambut mulai berasap di pagi hari. Bila terjadi tiupan angin kencang, maka asappun menipis. Hal ini, mengakibatkan asap tebal karena tiupan angin yang sangat rendah. Asap tebal tidak mengenal apakah siang ataukah malam hari selalu tebal. Menurut Darlan (2014) bahwa:"...Peristiwa ini, adalah peristiwa alam, di kawasan gambut sekitar Khatulistiwa yang sejak dulu demikian. Bila terjadi hujan, asappun berkurang dan hilang...". Dunia Penerbangan Dalam beberapa tahun belakangan ternyata kabut asap mulai terpecahkan. Menurut: Darlan (2015) bahwa:"...Tempo doeloe kalau musim kabut tiba, secara otomatis dunia penerbangan dari dan ke Palangka Raya terhenti selama musim kemarau...". Belakangan ini, dunia penerbangan dilaku¬kan di malam hari. Sedangkan disiang hari jarak pandang sangat terbatas. Tapi jika dimalam hari dengan dipandu oleh lampu-lampu di landasan pacu, membuat dunia penerbangan lebih leluasa di malam hari. Melirik Ibu Kota Lain Dunia Bila kita perhatikan, ternyata negara-negara lain dengan berbagai alasan sudah banyak yang memisahkan antara kota pemerintahan dengan kota perdagangan antara lain seperti: Malaysia, Amereka dan Australia, dan banyak kota lainnya di dunia. Negeri tetangga kita, Malaysia Punya Putrajaya, Kapan Indonesia memindahan Ibukota pemerintahannya, Hanz Jimenez Salim (2013) "Kebanyakan penduduk Putrajaya adalah kaki tangan pemerintah (pegawai pemerintah/PNS). suasana kalau Sabtu dan Minggu, apalagi masa pilihan Raya, banyak yang pulang kampung untuk undi (memilih)," kata M. Rofiq, kepada Liputan 6.com, di Putrajaya. "Kalau mau, coba saja tidur-tiduran di jalan. Tak apa" hal serupa tidak banyak berbeda dengan kota Jakarta menjelang libur. Penduduk Jakarta tujuan Bandung, Jawa Tengah dan Timur untuk memanfaatkan hari liburnya. Di sisi lain, suasana sepi makin menegaskan figur Putrajaya: bangunan¬bangunan megah bernuansa mediterania, jalanan lebar dan mulus, tata kota yang teratur, taman serta tumbuhan di sana. Sebuah kota modern yang ditata apik, oleh pemerintah Malaysia. Putrajaya dibangun tahun 1999, dimulai dari nol di bekas ladang sawit seluas 46 hektar. Jaraknya 25 km dari Kuala Lumpur. Palangka Raya yang dipersiapkan tentu lebih luas dari itu. Putrajaya yang tetap menyandang predikat sebagai ibukota. Jarak yang makin terasa pendek karena didukung sistem transportasi yang baik: kereta api dan bus yang menghubungkan dengan daerah sekitar. Bus, taksi, dan buat melayani perpindahan orang di dalam Putrajaya. "Dengan pusat-pusat kerajaan berkumpul seperti ini makin memudah¬kan urusan. Di sini juga tidak ada macet seperti di Kuala Lumpur. Meski ada juga yang anggap pembangunan Putrajaya pemborosan," tutur M Rofiq. Sementara menurut Imam Kaedi (2013) putra Malaysia mengaku bangga dengan ibukota barunya itu. "Saya pernah dialog dengan tamu dari Jerman. Dia kagum Malaysia punya ibukota seperti ini," kata dia. Bagaimana Indonesia? Soal ketegasan untuk memutuskan pemindahan ibukata, meski hanya administrasinya, harus diakui negeri jiran maju beberapa langkah dari kita. Karena Sejak lama, wacana pemindahan ibukota Indonesia timbul tenggelam juga dimasa sebelumnya. Berkali-kali mencuat jadi kontroversial, lalu redam. Palangka Raya yang diimpikan Presiden Soekarno Pertama atau sedikit melipir ke Jonggol yang pernah diwacanakan Soeharto, dua-duanya tak jelas realisasinya. Sementara, Jakarta makin padat, sesak, dan macet. Dan tak ketinggalan, banjir! Ibukota saat ini tak kuat lagi menanggung beban pertambahan penduduk dan pesatnya pembangunan. Makin jauh dari gambaran sebuah ibukota yang ideal. Sebuah wacana tentang pemindahan ibukota juga jadi pertimbangan Pemerintah Susilo Bambang Yudhoyono, (SBY) meminta para jajaran stafnya untuk merampung-kan rencana pemindahan Ibukota secara matang. "Dan Bapak Presiden yang kita ingat kata-kata beliau adalah kita harus berpikir hari ini sebelum kita terlambat," ujar Staf Khusus Presiden Bidang Pembangunan Daerah dan Otonomi Daerah Velix Wanggai Januari 2013 lalu. Dan alasannya tak semata-mata macet dan banjir di DKI Jakarta, melainkan untuk meratakan pembangunan. Sementara, Pengamat Perkotaan, Nirwana Yoga justru mengatakan, saat ini belum perlu untuk memindahkan ibukota dari Jakarta. "Karena yakin dananya juga pasti belum ada secrs jelas. Pasti juga dibutuhkan dana yang besar untuk memindahkan suatu ibukota negara," kata dia saat dihubungi Liputan6.com baru-baru ini. Nirwana Yoga (2013) menyarankan, lebih baik saat ini dana dan energi difokuskan untuk menyelesaikan masalah-masalah di Jakarta. "Kita benahi Jakarta dulu agar lebih baik, jangan membahas wacana-wacana seperti itu, sama saja kita debat kusir. Tidak ada penyelesaiannya." Soal Putrajaya, dinilai, Malaysia punya alasan yang kuat untuk membuat keputusan itu. "Di Putrajaya hanya untuk ibukota pemerintahan dan steril dari kegiatan ekonomi." (Ein) Data Negara Yang Memindahkan ibu kota di Dunia Dalam data literatur menyebutkan bahwa ibu kota yang dipindahkan sangat banyak di dunia seperti: Erofa Barat 46 ibu kota negara yang dipindahkan, Erofa tengah dan Timur 46 ibu kota negara yang dipindahkan, di Asia ada 65 ibu kota yang dipindahkan. Termasuk di Indonesia Jakarta 1945-1948 ke Yogyakarta dan Jakarta ke Bukit Tinggi 1948-1949, Afrika ada 13 ibu kota negara yang dipindahkan, Oseania ada 5 ibu kota, Amerika Utara ada 14 ibu kota, Amerika Selatan ada 4 ibu kota negara yang dipindahkan. Jadi memperhatikan data literatur di atas, Jakarta yang akan dipindahkan ke Palangka Raya, hampir tidak ada alasan yang berarti untuk menolaknya. Kebijakan Pemda Sampai tanggal 14 April 2017 Gubernur Kalimantan Tengah H. Sugianto Sabran dalam acara Musyawarah Wilayah Muhammadiyah Kalimantan Tengah di Aula Universitas Muhammadiyah Palangka Raya. Ia berharap agar ibu kota negeri ini nanti di Palangka Raya. lni sebuah kebijakan yang positif terhadap prospektif negeri kita di masa datang. Sejak tahun 2013 penulis ke kabupaten/kota di Kalimantan Tengah selalu membawa sebuah instrumen sederhana. Melakukan sebuah wawancara kepada berbagai lapisan masyarakat, tentang Palangka Raya dijadikan ibu kota negara tak satupun menemukan orang yang menentang. Bahkan ada yang berdo'a agar dipanjangkan umurnya, supaya ia sempat melihat bagaimana Istana Negara itu, ada di Palangka Raya. Demikian pula sejumlah artikel yang penulis baca, dan ditulis sebagai ahli hanya segelintir satu atau dua % yang meminta agar jangan membuang energi dan menyedot dana pembangunan buat memindahkan ibukota negara. Sebenarnya tidak demikian. Karena dalam membangun ibu kota negara tidak akan mampu dengan dana APBN. Tapi dana cadangan negara yang dikonsepkan dan diperuntukan di luar APBN. Disudut lain, masih ada tokoh masyarakat yang menyaksikan pidato Ir. Sukarno yang mengatakan bahwa di saat peletakan tiang pancang kota Palangka Raya, beliau menyebutkan: "...hanya 2 nama kota di negeri ini yang ada sebutan Raya, yaitu: Jakarta RAYA dan Palangka RAYA...". B erdo' alah. Secara Prosfektif Di bagian akhir tulisan ini, penulis mencoba menguraikan secara prosfektif Palangka Raya menuju Ibu Kota Negara ke masa depan, minimal 4 hal adalah: Pertama: Kota ini berkembang akan menyatu atau kembar dengan Kasongan dan Pulang Pisau, Palangka Raya. Walau dalam waktu lama. Sama halnya antara Jakarta dengan: Tangerang dan Bekasi. Atau akan ada, muncul kota baru sebagai akibat lajunya pertumbuhan penduduk, di daerah ini. Kedua: Kota Palangka Raya pada saatnya akan terbagi menjadi 5 wilayah yaitu: Palangka Raya Pusat, Palangka Raya Timur dan Barat, serta Palangka Raya Utara dan Selatan. Karena tidak mungkin Palangka Raya ini tetap seperti sekarang. Ketiga: Dengan jumlah penduduk yang akan bertambah, diserta banyaknya tamu yang datang maupun pergi tidak sebatas dalam negeri, tapi juga manca negara. Maka bandara Cilik Riwut tidak dapat lagi dipertahankan seperti sekarang. Tentu harus dibangun yang lebih besar. Keempat: Disamping hal-hal di atas, jalanpun tidak cukup yang ada. Tentu akan tercipta sejumlah jalan besar, namun luasnya areal lahan di kawasan sekitar Palangka Raya untuk menuju ibu kota negara tidaklah menggangu permukiman penduduk. Karena areal tanah kosong/tanah negara masih luas. Kelima: Pada bagian akhir tulisan ini, Jika Retrospektif dan Prosfektif Palangka Raya menuju Ibu Kota Negara terwujud. 'Maka Palangka Raya inilah sebuah kota yang dibangun oleh bangsanya sendiri. Terlebih oleh putra terbaik bangsa saat itu Bung Karno. Karena banyak kota tua di Indonesia dibangun sejak zaman penjajahan. Disisi lain Jika Ibu kota negara dipindahkan ke Palangka Raya, belum terlihat kecemasan penduduk se tempat atas bakal terjadinya perubahan luar biasa yang sangat besar. Kehadiran ibu kota ke provinsi terluas ke 2 di Indonesia setelah Papua itu, menyebut ucapan Walikota yang ditanya penulis sehari sebelum ulan tahun ke 70 kota Palangka Raya: Dr. Riban Setia, MAP (2017) menyebutkan: ”...Kami tidak meminta Palangka Raya dijadikan ibu kota negara. Tapi kalau memang kehendak Bung Karno 70 tahun silam itu di kabulkan, kami juga tidak menolak...”. Semoga Sukses Selalu DAFTAR PUSTAKA Adhi, 2016. Jakarta Macet, banjir, polusi udara, pemukiman padat penduduk, dan masih ada lagi segudang masalah lainnya yang mendera Ibu Kota DKI Jakarta. Darlan, H.M. Norsanie, 1998. Strategi adalah salah satu cara dalam mencapai tujuan, materi Bahan Ajar FKIP, Palangka Raya. ------------, 2014. Palangka Raya Slap Jadi Ibu kota Negara, Antara, Jakarta. ------------, 2015. Jakarta Can Lokasi Baru Ke KALTENG, Antara, Banjarmasin. ------------, 2017. Retrospektif Dan Prospektif Palangka Raya Menuju Ibu Kota Negara, Pidato Pengokohan, ICMI Orwil Kalteng, Palangka Raya. Kaedi, Imam, 2013. Pemuda Malaysian Mengaku Bangga Dengan Ibukota Barunya, Putrajaya, Malaysia Kristanti, Elin Yunita, 2013. Lalu lintas di Putrajaya, Malaysia, Jakarta. Lotulung, Andrew, 2017. Hujan deras yang mengguyur wilayah Jabodetabek pada Selasa (21/2/2017)X, KOMPAS.com —Jakarta. Media, Wild, 2016. Daftar bekas ibu kota negara di Dunia, Dan Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas. MC Isen Mulang, 2016. Iletak wilayah Palangka Raya dinilai jauh dari ancaman bahaya kebencanaan, Palangka Raya. Nurrizki, Adinda, 2017. Palangka Raya, Jadi Calon Ibu Kota Republik Indonesia, Ini Tempat Wisata Indah, Publik, Jakarta. Rofiq, M. 2013. Liputan6.com, tentang Putrajaya, Jakarta. Reyadmadji, Dodi, 2017. Badan Penelitian dan Pengembangan Kemendagri, Palangka Raya. Sabran, H. Sugianto, 2017. Sambutan Gubernur Kalteng Dalam Musw i I Salim, Hanz Jimenez , 2013. Malaysia Punya Putrajaya, Kapan Indonesia Purdah Ibukota, Jakarta. Santoso, Purwo, 2009. Kalimantan Tengah Membangun Dari Pedalaman, Sukarno, 1957. Kota Palangka Raya sebagai Modal dan Model. Pidato saat Peletakan Batu Pertama, Palangka Raya. Sutopo, 2017. Hujan deras yang mengguyur wilayah Jabodetabek, Kompas, Jakarta. Sejarah Kota Palangka Raya 1952-1972 Y, 1977. Membangun Kalimantan Tengah, Palangka Raya. Yunita Kristanti, Elin, Lalu lintas di Putrajaya, Malaysia, Jakarta. WHO, 2009 silam, Badan Kesehatan Dunia (WHO) sempat menempatkan Jakarta sebagai kota terjorok ketiga di dunia setelah Meksiko dan Thailand, Jakarta. Yoga, Nirwana, 2013. Menyarankan, lebih baik saat ini dam dan energi difokuskan untuk menyelesaikan masalah-masalah di Jakarta ------------ Penulis: Prof. Dr. H.M. Norsanie Darlan, MS PH Ketua Program Magister Pendidikan Luar Sekolah / PNF Dosen S-1 dn S-2 PLS/PNF Universitas Palangka Raya. SELAMAT & SUKSES SELALU

PENINGKATAN MUTU DAN SUMBER DAYA MANUSIA

PENINGKATAN MUTU DAN SUMBER DAYA MANUSIA PENDIDIKAN NON FORMAL INFORMAL Oleh : H. M. Norsanie Darlan PENDAHULUAN Tulisan ini disiapkan dalam rangka menyongsong seminar nasional yang diselenggarakan Universitas Negeri Malang di penghujung bulan Oktober 2015. Dan kita sama maklumi bahwa Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 sangat menjanjikan terhadap tugas kita sebagai akademisi pendidikan luar sekolah/PNF untuk berkarya. Hanya saja tidak semua orang tahu dan mengayomi profesi kita. Apakah mereka memang tidak tahu, ataukah sengaja tidak menghiraukannya. Pendidikan Luar Sekolah/Pendidikan Non Formal ini seharusnya kita bersama-sama berupaya untuk meningkatkan. Tapi peningkatan itu, tidak akan terwujud kalau Sumber Daya Manusia yang kita produk sebagai sarjana PLS/PNF dan mari kita bersama-sama untuk memperbaikinya. Peningkatan kualitas selama mahasiswa kita bina dengan harus dapat terlihat nilai tambah di mata mereka. Baru sarjana PLS/PNF yang kita produk itu mau mereka pakai. Sebab disadari atau tidak oleh kita semua adalah mereka yang lain pun akan mengunggulkan kesarjanaan yang melekat pada diri. Sehingga bagaimana kesarjanaan PLS/PNF kita ini dapat diterima oleh banyak orang. Tentu tidak lain memperbaiki mutu/kualitas kesarjanaan kita. Apa lagi di akhir tahun 2015 ini, MEA mulai memasuki kawasan negeri kita dan berbagai negara di ASEAN. PENINGKATAN MUTU Menurut seorang ahli bernama Adi S, (2015) peningkatan berasal dari kata tingkat. Yang berarti lapis atau lapisan dari sesuatu yang kemudian membentuk susunan. Tingkat juga dapat berarti pangkat, taraf, dan kelas. Sedangkan peningkatan berarti kemajuan. Secara umum, peningkatan merupakan upaya untuk menambah derajat, tingkat, dan kualitas maupun kuantitas. Peningkatan juga dapat berarti penambahan keterampilan dan kemampuan agar menjadi lebih baik. Selain itu, peningkatan juga berarti pencapaian dalam proses, ukuran, sifat, hubungan dan sebagainya. Kata peningkatan biasanya digunakan untuk arti yang positif. Contoh penggunaan katanya adalah peningkatan mutu pendidikan, peningkatan kesehatan masyarakat, serta peningkatan keterampilan para penyandang cacat. Peningkatan dalam contoh diatas memiliki arti yaitu usaha untuk membuat sesuatu menjadi lebih baik daripada sebelumnya. Suatu usaha untuk tercapainya suatu peningkatan biasanya diperlukan perencanaan dan eksekusi yang baik. Perencanaan dan eksekusi ini harus saling berhubungan dan tidak menyimpang dari tujuan yang telah ditentukan. Kata peningkatan juga dapat menggambarkan perubahan dari keadaan atau sifat yang negatif berubah menjadi positif. Sedangkan hasil dari sebuah peningkatan dapat berupa kuantitas dan kualitas. Kuantitas adalah jumlah hasil dari sebuah proses atau dengan tujuan peningkatan. Sedangkan kualitas menggambarkan nilai dari suatu objek karena terjadinya proses yang memiliki tujuan berupa peningkatan. Hasil dari suatu peningkatan juga ditandai dengan tercapainya tujuan pada suatu titik tertentu. Dimana saat suatu usaha atau proses telah sampai pada titik tersebut maka akan timbul perasaan puas dan bangga atas pencapaian yang telah diharapkan. SUMBER DAYA MANUSIA Sumber daya manusia (SDM) adalah salah satu faktor yang sangat penting bahkan tidak dapat dilepaskan dari sebuah organisasi, baik institusi maupun perusahaan. SDM juga merupakan kunci yang menentukan perkembangan perusahaan. Sumber daya manusia (SDM) adalah salah satu faktor yang sangat penting bahkan tidak dapat dilepaskan dari sebuah organisasi, baik institusi maupun perusahaan. SDM juga merupakan kunci yang menentukan perkembangan perusahaan. Pada hakikatnya, SDM berupa manusia yang dipekerjakan di sebuah organisasi sebagai penggerak untuk mencapai tujuan organisasi itu. Dewasa ini, perkembangan terbaru memandang karyawan bukan sebagai sumber daya belaka, melainkan lebih berupa modal atau aset bagi institusi atau organisasi. Karena itu kemudian muncullah istilah baru di luar H.R. (Human Resources), yaitu H.C. atau Human Capital. Di sini SDM dilihat bukan sekedar sebagai aset utama, tetapi aset yang bernilai dan dapat dilipatgandakan, dikembangkan (bandingkan dengan portfolio investasi) dan juga bukan sebaliknya sebagai liability (beban,cost). Di sini perspektif SDM sebagai investasi bagi institusi atau organisasi lebih mengemuka. Pengertian SDM dapat dibagi menjadi dua, yaitu pengertian mikro dan makro. Pengertian SDM secara mikro adalah individu yang bekerja dan menjadi anggota menurut Zaien (1982) adalah:”…suatu perusahaan atau institusi dan biasa disebut sebagai pegawai, buruh, karyawan, pekerja, tenaga kerja dan lain sebagainya…”. Sedangkang pengertian SDM secara makro adalah penduduk suatu negara yang sudah memasuki usia angkatan kerja, baik yang belum bekerja maupun yang sudah bekerja. Berbicara tentang sumber daya menurut Sudjana (1982; 4) dan Darlan (2002; 13) bahwa: “…sumber daya terdiri dari sumber daya manusia, sumber daya alam, sumber daya buatan, sumber daya laut, sumber daya angina, sumber daya mata hari, sumber daya air, dsb…” Sedangkan Muhadjir (1987; 26 dan Prawoto (1980;19) adalah kualitas manusia dan interaksi yang berlangsung di dalam kelompok manusia itu sangat menentukan nilai penghargaan sebagai sumber daya manusia…”. Secara garis besar, pengertian Sumber Daya Manusia adalah individu yang bekerja sebagai penggerak suatu. organisasi, baik institusi maupun perusahaan dan berfungsi sebagai aset yang harus dilatih dan dikembangkan kemampuannya. Bila kita memperhatikan pemahaman tentang definisi manajemen sumber daya manusia yang dilontarkan oleh para ahli, diantaranya sebagai berikut: 1.Menurut Hasibuan Manajemen sumber daya manusia adalah ilmu dan seni mengatur hubungan dan peranan tenaga kerja agar efektif dan efisien membantu terwujudnya tujuan perusahaan, karyawan dan masyarakat. Permasalah yang kita`hadapi adalah erat hubungannya dengan sumber daya manusia PLS/PNF. Analisis: Dari definisi di atas dapat dilihat bahwa Hasibuan (2000; 16) memberikan penekanan dalam pemahaman MSDM yaitu: sebagai sebuah ilmu dan seni mengatur hubungan dan peranan tenaga kerja. Dalam melakukan kegiatan manajemen sumber daya tidak hanya bagaimana seseorang pimpinan mengetahui potensi pegawainya, namun lebih pada bagaimana seorang pemimpin mendesain sebuah formulasi tertentu dalam mengaplikasikan para sumber daya pegawai yang ada sesuai dengan kemampuan sumber daya yang kita dimiliki. Desain yang telah dibuat tersebut diharapkan mampu mengkoordinir keinginan-keinginan para pegawai serta koordinasi antara pegawai dan pimpinan serta antar pegawai. Melalui skema desain yang tepat diharapkan mampu meningkatkan kinerja para pegawai secara efektif dan efisien sehingga mampu mencapai tujuan yang telah ditetapkan. 2. Moses N. Kiggundu (1989) dalam Ambar Teguh Sulistyani dan Rosidah (2003: 11); Human resources management is the development and utilization of personnel for the effective achievement of individual, organizational, community, national, and international goals and objectives. (MSDM adalah pengembangan dan pemanfaatan pegawai dalam rangka tercapainya tujuan dan sasaran individu, ….., masyarakat, bangsa dan internasioanal yang efektif). Analisis: Dalam definisi menurut Kinggundu (1989) tersebut dapat dilihat bersama bahwa pendapat Kiggundu (1989), memberikan penekanan pada kata “development and utilization of personnel for the effective achievement”. Secara garis besar kalimat tersebut memiliki pemahaman MSDM sebagai sebuah upaya mengembangkan potensi para pegawai melalui beberapa pelatihan, baik yang sifatnya umum maupun khusus guna memunculkan pegawai yang benar-benar berkompetensi dalam bidangnya termasuk dalam keahlian kita sebagai orang-orang PLS/PNF. Menurut Notoatmodjo (1992: 5) pengembangan sumber daya secara mikro adalah suatu proses perencanaan pendidikan dan pelatihan dan pengelolaan tenaga atau karyawan untuk mencapai suatu hasil yang optimum. Sebagai tindak lanjutnya ketika seorang pegawai sudah mampu meningkatkan kapasitasnya, para pegawai tersebut diproyeksikan dalam upaya mencapai tujuan yang telah ditetapkan di awal baik itu keberhasilan individu, masyarakat, maupun organisasi. Namun, dalam pemahaman tentang pengertian MSDM tersebut masih sangat terbatas belum terlalu kompleks hanya sebatas upaya pengembangan serta pendayagunaan pegawai saja dalam mencapai sebuah tujuan yang telah ditetapkan. 3. Menurut Tulus (1992) dalam Suharyanto dan Hadna (2005 : 13); Manajemen sumber daya manusia adalah perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, dan pengawasan atas pengadaan, pengembangan, pemberian kompensasi, pengintegrasian, pemeliharaan dan pemutusan hubungan tenaga kerja dimaksud membantu tujuan organisasi, individu dan masyarakat. Sedikit Analisis: Dalam pemahaman definisi MSDM menurut Tulus (1992) dirasa telah sedikit lebih kompleks jika dibandingkan dengan pemahaman yang sebelumnya dengan melihat beberapa fungsi yang telah mulai dijabarkan sebagai bagian penting dari kegiatan manajemen sumber daya manusia PLS/PNF. Dalam pendapat Tulus (1992) tersebut dapat dilihat bagaimana beliau mencoba menjabarkan pemahaman MSDM yang ditekankan pada empat fungsi yaitu perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, dan pengawasan. Selain itu, dalam definisi di atas dapat dilihat bagaimana Tulus (1992) mencoba memperjelas ataupun memberikan poin-poin penting dalam pemahamannya tentang MSDM, yaitu meliputi pengadaan, pengembangan, pemberian kompensasi, pengintegrasian, pemeliharaan, dan pemutusan hubungan kerja. Dalam poin-poin penting yang telah dijabarkan tersebut dinilai mampu melengkapi pemahaman yang digunakan Tulus (1992) dalam mendefinisikan MSDM. Melalui berbagai kegiatan-kegiatan dalam upaya meningkatkan kemampuan para pegawai diharapkan mampu bekerja secara efektif serta efisien tersebut guna mewujudkan tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya baik itu individu, masyarakat 4. Menurut Armstrong (1990: 1) ; Sumber Daya Manusia adalah suatu pendekatan terhadap manajemen manusia yang berdasarkan empat prinsip dasar. Pertama, sumber daya manusia adalah harta paling penting yang dimiliki oleh suatu organisasi, sedangkan manajemen yang efektif adalah kunci bagi keberhasilan organisasi tersebut. Kedua, keberhasilan ini sangat mungkin dicapai jika peraturan atau kebijaksanaan dan prosedur yang bertalian dengan manusia dari perusahaan tersebut saling berhubungan, dan memberikan sumbangan terhadap pencapaian tujuan perusahaan dan perencanaan strategis. Ketiga, kultur dan nilai perusahaan, suasana organisasi dan perilaku manajerial yang berasal dari kultur tersebut akan memberikan pengaruh yang besar terhadap hasil pencapaian yang terbaik. Serta yang terakhir adalah manajemen sumber daya manusia berhubungan dengan integrasi yakni semua anggota organisasi anggota tersebut terlibat dan bekerja sama untuk mencapai tujuan bersama. Analisis: Dari definisi di atas dapat dilihat bagaimana MSDM mempunyai empat prinsip dasar yang utama, diantaranya adalah sumber daya manusia menjadi harta paling penting dalam sebuah organisasi (termasuk organisasi PLS), harus dikelola dan diatur dengan baik, sehingga dapat menimbulkan peran aktif dari pegawai sehingga manajemen organisasi yang efektif serta efisien. Yang kedua adalah keberhasilan sangat mungkin dicapai jika kebijaksanaan dan prosedur yang berkenaan dengan manusia dari perusahaan tersebut saling berhubungan dan memberikan sumbangan terhadap pencapaian tujuan dan perencanaan strategis perusahaan. Dari pernyataan tersebut dapat dipahami sebagai pentingnya bagaimana suatu kebijakan dibuat serta bagaimana perlakuan yang diberikan kepada para pegawai sehingga dapat meningkatkan kinerja pegawai untuk mau berkontribusi secara optimal dalam upaya mencapai tujuan suatu organisasi. Yang ketiga adalah kultur dan nilai perusahaan, suasana organisasi dan perilaku manajerial yang berasal dari kultur tersebut akan memberikan pengaruh yang besar terhadap hasil pencapaian yang terbaik. Dari pernyataan tersebut dapat dipahami bahwa kultur, nilai, suasana serta perilaku manajerial organisasi memiliki pengaruh yang cukup besar dalam mempengaruhi tingkat kinerja pegawai agar sesuai dengan harapan suatu organisasi. Ketika suasana kekeluargaan dibawa dalam sebuah sistem manajerial suatu organisasi kiranya akan lebih efektif dibanding dengan gaya kepemimpinan yang otoriter, serta mengaanggap bahwa pegawai bukan hanya sekedar mesin akan tetapi diperlakukan sebagai sekelompok rekan kerja dalam sebuah tim. Hal tersebut harus dikelola dengan baik sehingga apa yang menjadi tujuan organisasi bisa tercapai. Yang terakhir adalah MSDM menjadikan semua anggota organisasi terlibat dan bekerja sama untuk mencapai tujuan bersama. Melalui fungsi yang terakhir tersebut dapat dilihat bagaimana para pegawai menjadi sebuah faktor penting dalam sebuah kinerja suatu organisasi dalam mencapai tujuan suatu organisasi secara efektif serta efisien. Dari seluruh definisi serta pemahaman yang telah dilampirkan, penulis dapat membangun sebuah definisi serta pemahaman pribadi tentang manajemen sumber daya manusia yaitu merupakan sebuah ilmu serta seni dalam kegiatan perencanaan, pengelolaan dan pengembangan segala potensi sumber daya manusia yang ada serta hubungan antar manusia dalam suatu organisasi ke dalam sebuah desain tertentu yang sistematis sehingga mampu mencapai efektifitas serta efisiensi kerja dalam mencapai tujuan, baik individu, masyarakat, maupun organisasi. PENDIDIKAN NON FORMAL INFORMAL 1. Pendidikan formal : pendidikan yang didapat dari suatu lembaga pendidikan (sekolah sd/smp/sma). 2. Pendidikan nonformal : pendidikan yang didapat dari lembaga pendidikan selain sd/smp/sma (bimbingan belajar/kursus). 3. Pendidikan informal : pendidikan yang didapat dari lingkungan keluarga. PELUANG SDM NON FORMAL Dari awal tahun 2015 tenaga SDM Non Formal memang tidak seluruhnya menguntungkan. Namun dipenghujung tahun ini, Akademisi mendapatkan tawaran untuk menunjukkan kepiawan profesinya dalam pendidikan luar sekolaah/pendidikan non formal. Karena ada surat dari Direktorat Jend Pendidikan Anak Usia Dini dan Pendidikan Masyarakat nomor: 70C.C3/TU/2015. yang menawarkan kalangan akademisi profesional PLS untuk ikut pelatihan calon pelatih Nasional Pendidikan Keluarga. Pekerjaan itu tidak haanya sampai pelatihan ”TOT” itu saja, tapi sudah dijadwal di negeri ini setiap provinsi menyemenggarakan pelatihan pendidikan keluarga. Tenaga instrukturnya adalah mereka yang pernah dilatih pada tanggal 19-23 oktober 2015 di Bogor. Ini baru salah satu peluang dan masih banyak peluang lainnya yang terkadang tidak diketahui oleh dosen/akademisi yang terkadang kita sering lalai dalam menghadapi keadaan. Peluang akademisi sungguh banyak, tapi mungkin tidak semua hal itu kita mengetahui atau belum menemukan jalan menuju hal itu. Karena tidak semua akademisi PLS/PNF dikenal oleh kita dimana tempat-tempat pelayanan PLS/ pendidikan non formal. Karena tempat-tempat penyelenggara PLS/PNF tidak seluruhnya diselenggarakan oleh akademisi dan sarjana PLS/PNF. SUMBER DAYA PLS/PNF Memang sering kita terperanjat dalam melihat keadaan di masyarakat. Sepertinya keadaan ini seharusnya pekerja kita tenaga sarjana dari PLS/PNF, tapi kenyataannya di kerjakan oleh mereka yang berlakang belakang pendidikan lain. Salah satu contoh: tenaga lapangan dikmas (TLD). Trus kenapa hal ini terjadi ?. penulis menganggap hal seperti ini, adalah kelalaian kita semua. Dan bagaimana memperbaikinya ?. Sungguh banyak keperluan Sumber Daya Manusia seperti: Bidang/Subdin PLS, BP2PNFI, SKB, PKBM, LKP dll. Namun masih dapat dihitung dengan jari jumlah sarjana PLS/PNF yang diserap di sana. Tapi anehnya dizaman reformasi ini, tenaga kita tidak seluruhnya dipakai. Apakah karena dengan jalur bebas menerima tenaga kerjanya ataukah sarjana PLS/PNF sendiri yang mulai kehilangan arah. Pengalaman penulis ikut duduk di pemerintah daerah di awal reformasi menunjukan bahwa setiap tahun dari badan kepegawaian daerah (BKD) menyurati / meminta kepada semua Dinas, Badan di lingkungan pemerintah daerah untuk masing-masing instansi mendapat jatah tenaga / SDM baru dalam tahun berikutnya. Namun siapa calon yang akan diterima adalah atas usul kepala instansi itu. Sarjana PLS/PNF tidak mereka usulkan. Padahal sangat diperlukan. Karena Sarjana PLS/PNF tidak banyak mereka kenal, karena masih banyak sarjana lain. Oleh sebab itu, mari kita sama-sama mempromosikan PLS/PNF kita secara bersama-sama. Dan belajar dari pengalaman tersebut, kalau seseorang kepala Dinas, Badan mengingat keluarganya tidak bekerja. Maka keluarganya itulah yang ia usulkan. Walau di instansi tersebut tidak memerlukan tenaga sarjana yang ia usulkan. Akhirnya munculah sarjana yang tidak seharusnya dikehendaki yang berdasarkan kebutuhan. Dan sarjana PLS/PNF jadi ditinggalkan lambat laun tentu jadi tertinggal. Contohnya penerimaan tenaga TLD tidak memperhatikan kesarjanaan. Sehingga setelah mereka selesai prajabatan, pegawai baru ini mulai mengurus pindah. Karena alasannya kesarjaannya tidak cocok dengan pekerjaan PLS/PNF tadi. Dan kita ketahui bersama, bahwa Subdin PLS itu adalah mengerjakan, pekerjaan teknis. MENGHADAPI MEA Setuju atau tidak setuju, masyarakat ekonomi asean (MEA) akan menggrogoti PLS. Kenapa ?, karena nama PLS sudah tidak aktual lagi. Mengingat pasar bebas Indonesia Desember 2015 mulai memasuki kawasan negeri kita. Sehingga tidak jadi terkenal sarjana PLS dimata, telinga negara-negara Asean. Karena sarjana-sarjana mereka menggunakan nama bahasa Inggris Non Formal Education. Sedangkan PLS pasarannya hanya terbatas di tanah air, tapi kalau kita membawa ijazah sarjana PLS ke Singapora nama PLS tidak mereka kenal. Yang mereka kenal adalah sarjana Pendidikan Non Formal. Demikian juga negara-negara lainnya seperti: Piliphina, Thailand, Laos dan berbagai negara Asean lainnya. Dengan demikian hasil rapat kita di Surabaya tahun 2013 lalu, perlu kita ulang lagi ke Dirjen Pendidikan tinggi, agar sarjana-sarjana PLS laku dan dipakai hanya di tanah air, tapi juga di berbagai negara Asean lainnya. Bila kita tidak menghiraukan ini, nasip mahasiswa kita jadi suram. Bila kita para akademisi PLS/PNF membiarkan hal seperti sekarang, maka suram nasib kita semua. Sekarang kita perlu bangkit dengan menyamakan status sarjana kita antara pendidikan non formal dari berbagai negara mereka akan masuk ke berbagai negeri. Termasuk ke Indonesia. Tapi bagaimana sarjana PLS, kalau namanya saja tetap PLS, maka ke Singapora pun orang tidak tahu dengan PLS. Apa lagi ke Philina, Laor, Muang Thai. Pasti tidak laku sarjana kita. Karena nama kesarjanaan kita masih PLS. Karena problema tidak diketahui orang apa itu PLS. Berarti kita membuat nama yang dikenal orang lain seperti: Sarjana Pendidikan Non Formal. SARJANA PLS PUNYA JALAN Bila kita memperhatikan terhadap kesarjanaan PLS/PNF yang punya pengalaman lapangan, punya keterampilan pendidikan kewiraswastaan, dan berbagai pengalaman mereka dalam pengelola kelompok belajar masyarakat tentu. Sekarang apa harusnya sarjana PLS agar punya jalan di luar PNS. Bila sarjana PLS/PNF menekuni pengalaman pendidikan kewirausahaan di saat ia mahasiswa. Maka ia mengetahui warga masyarakat Indonesia membutuhkan pendidikan yang layak. Kenapa tidak setelah menjadi sarjana PLS/PNF ? kenapa tidak mendirikan Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM). Pendirian PKBM oleh seorang sarjana PLS/PNF berarti membuka kesempatan kepada sarjana lain. Artinya dengan PKBM dibuka oleh sarjana PLS/PNF secara profesional, maka PKBM merupakan sebuah lapangan kerja usaha. Ia dapat mempekerjakan para sarjana lain. Misalnya PKBM merasa perlu ada kursus bahasa Inggris, maka sarjana bahasa Inggris, bisa kita jadikan tutor/instruktur bahasa di PKBM. Demikian juga sarjana matimateka. Dengan memperkatikan hal di atas, para sarjana PLS/PNF akan` dapat sejahtera kalau kita dapat menanfaatkan ilmu kita sebagai bidang ilmu yang luas sekali. Tapi kalau akademisi memberikan wacana kepada mahasiswa agat tidak selalu berharap ke PNS. Tapi arahkan mahasiswa kita agar bisa berwira usaha. PELIBATAN SDM PLS/PNF Peningkatan Sumber daya manusia pendidikan luar sekolah/pendidikan non formal adalah dengan berbagai cara yaitu: tenaga pendidikan luar sekolah tidak hanya sekedar berteori. Tapi bagaimana para sarjana PLS/PNF berjuang aktif dalam mendirikan PKBM-PKBM baru untuk berwirausaha dalam pendidikan luar sekolah. Selain itu, bagi penyelenggara pendidikan luar sekolah/pendidikan non formal harusnya ada menempatkan tenaga sarjana PLS/PNF sebagai tenaga ahlinya. Karena selama ini, di kawasan Kalimantan Tengah dari hasil penelitian penulis tempat-tempat penyelenggaraan pendidikan luar sekolah/Pendidikan Non Formal hanya sebagai penonton. Dan para penyelenggara di atas, bebas berasal dari berbagai bidang keilmuan. Sehingga muncul anggarapan masyarakat pendidikan non formal itu tanpa dengan tenaga ahli PLS/PNF mereka sudah bisa menyenggarakan pendidikan non formal. Dan untuk apa melibatkan tenaga ahli PLS/PNF ?. Sementara dalam pendirian PKBM, Lembaga Kursus dan Pelatihan, masih belum mempersyaratkan adanya keterlibatan sarjana PLS/PNF. Mudah-mudahan dimasa datang ada peraturan ke arah ini. Dan bagi pemilik PKBM/LKP dan sejenisnya, harus mendidikan keluarganya ke PLS/PNF. DAFTAR PUSTAKA Adi S, 2015. Greer, Charles R, 1995. Strategy and Human Resources: a General Managerial Perspectiv, Peningkatan, New Jersey. Armstrong, 1990. Manajemen sumber daya manusia, suatu pendekatan terhadap manajemen manusia, makalah, Jakarta. Darlan, H.M. Norsanie, 2002. Pengembangan Model Pelatihan Keterampilan Bagi Masyarakat Desa Tertinggal Kawasan Pantai (Studi Kasus Pemberdayaan Kaum Perempuan Keluarga Nelayan Desa Sei Pudak Kecamatan Kahayan Kuala Kabupaten Kapuas Kalimantan Tengah), Disertasi, Bandung. Hasibuan 2000, Manajemen sumber daya manusia, Artikel, Jakarta. N. Kiggundu, Moses. 1989. Sulistyani, Ambar Teguh dan Rosidah 2003. pengembangan dan pemanfaatan pegawai dalam rangka tercapainya tujuan, Makalah, Jakarta. Muhadjir, Noeng, 1987. Kepemimpingan Adopsi Untuk Pembangunan Masyarakat, Disertasi, Rake Press, Yogyakarta. Notoatmodjo, 1992. pengembangan sumber daya secara mikro, Prawoto, Ruslan, H. 1980. Ekonomi Sumber daya manusia, Alumni, Bandung. Sudjana, Djudju, 1982. Pendidikan Luar Sekolah, (wawasan Sejarah perkembangan filsafat, teori pendukung Asas), Al-Falah Production, Bandung. Tulus, 1992 dalam Suharyanto dan Hadna, 2005. Manajemen sumber daya manusia, pengarahan, dan pengawasan atas pengadaan, Zein, M.T. 1981. Manajemen sebuah rintisan. membantu dengan mengembangkannya. ------------, 1982. Sumber daya Konsep yang berubah sepanjang sejarah, Prisma Volume 11, Jakarta. Prof. Dr. H.M. Norsanie Darlan, MS PH, guru besar program Studi S-1 dan S-2 PLS/PNF Pascasarjana Universitas Palangka Raya. Malang, 30 Oktober 2015

upaya menasyarakatkan budaya baca di provinsi kalimantan tengah

Makalah: UPAYA MEMASYARAKATKAN BUDAYA BACA DI PROVINSI KALIMANTAN TENGAH Oleh : H.M.Norsanie Darlan Pendahuluan Buku kecil berjudul Upaya Pemasyarakatan Perpustakaan dan Minat Baca Masyarakat ini, merupakan sebuah tulisan sederhana, yang dituangkan di atas kertas untuk tujun agar menjadi bahan bacaan masyarakat luas, berbagai bahan bacaan telah warga dituangkan baik dalam sebuah buku, majalah, koran, spanduk, poster dan berbagai media lainnya. Hal itu tidak lain adalah sebagai bagian untuk mensejahterakan setiap pembaca dalam upaya menuntasan buta aksara di negeri tercinta ini. Namun dalam dunia pendidikan luar sekolah/pendidikan non formal yang penulis tekuni, sebenarnya belajar membaca itu, tidak seluruhnya dalam bentuk tulisan seperti: buku, majalah, koran, tabloit dan sebagainya. Tapi kita bisa belajar pada lingkungan alam sekitar. Dan jika lingkungan sekitar itu, bisa kita tulis dan dituangkan dalam sebuah buku, alangkah indahnya karya kita itu. Dan dapat disumbangkan bagi generasi penerus bangsa. Walau masa sudah berlalu, tapi ide yang kita tulis selama masih belum hilang buku yang kita tulis itu, walau seabad atau lebih berlalu, ia tersimpan di perpustakaan dengan rapi, maka generasi penerus bangsa dapat membacanya apa dan bagainya peristiwa masa lampau. Hal ini terbukti seperti: teori Fransys Bacon, David Jones: Adult Education And Cultural Development, Alan Rogers, Ivan Elich, Paulo Freire, John Loce. Jhon Dewey, dll (mohon ma’af kalau keliru menulis namanya). Buku ini mengurai berbagai masalah tentang pemanfaatan perpustakaan dan motivasi budaya membaca yang dewasa ini siapapun yang kurang membaca, ia akan ketinggalan. Untuk lebih jelaskan isi buku ini, penulis akan mengurai secara sederhana hal-hal yang berkaitan dengan tersebut akan di urai di bagian lain: Arti Upaya Apa pengertian dari kata "upaya"? Yaitu: upaya adalah usaha yang dilakukan untuk tujuan tertentu ( dalam arti sebuah proses yang ditujukan untuk mencapai tujuan tertentu) usaha; ikhtiar untuk mencapai suatu maksud, memecahkan persoalan, mencari jalan keluar, dsb. Arti Memasyarakatkan Berbicara apa sebenarnya memasyarakatkan adalah: 1 berupaya menjadikan seseorang sebagai anggota di masyarakat yang gemar membaca; 2 menjadikan sesuatu program agar mudah dikenal oleh masyarakat. Apakah dalam budaya baca ataupun yang lainnya : usaha - gerakan budaya membaca itu sudah menunjukkan hasil. Rendahnya Budaya Baca Bila kita berbicara tentang rendahnya budaya baca, di berbagai kalangan memang tidak semua perpustakaan dapat dikunjungi masyarakat. Karena budaya membaca tentu sebaiknya tertanam sejak dari anak-anak. Karena kalau sudah dewasa baru muncul minat baca adalah sebagai kesadaran yang hampir terlambat. Kita sama maklumi setiap tanggal 17 Mei di peringati sebagai Hari Buku Nasional. Memang, pamor momentum tersebut, kalah jika dibandingkan dengan momentum lainnya, seperti Hari Pendidikan Nasional (2 Mei) atau Hari Kebangkitan Nasional (21 Mei). Itu disebabkan banyak faktor, salah satunya ialah karena buku dan aktivitas yang terkait dengannya, seperti membaca dan menulis, tidak begitu populer di kalangan masyarakat Indonesia. Benarkah demikian? Tentu tergantung pada kemajuan daerahnya. Menurut Admin, (2008) adalah: “...Semasa ia duduk di bangku sekolah, ada satu ungkapan menarik yang sering diungkapkan oleh guru-gurunya. Yaitu, ungkapan “membaca adalah kunci ilmu, sedangkan gudangnya ilmu adalah buku.” Sepintas ungkapan itu sederhana, namun di dalamnya terkandung makna penting...”. Bahwa membaca (iqra) ternyata merupakan perintah Allah SWT kepada seluruh umat manusia, sebagaimana tertuang dalam QS Al-Alaq [96] ayat 1-5. Selain itu artinya membaca menurut Admin, (2008) dan Norsanie Darlan (2014): “...Bacalah dengan nama Tuhanmu Yang Menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah. Yang mengajarkan (manusia) dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya....” Dengan demikian, berkat membaca kelak kita bisa lebih mengenal apa yang ada di sekitar kita. Tak hanya itu, kita juga bisa mengenal alam semesta beserta ininya dan diri kia sendiri. Sedangkan menurut: writingsdy, (2007) bahwa:”...bagaimana kondisi minat baca di Indonesia?...”. sebuah pertanyaan di atas dengan berat hati kita katakan, minat baca masyarakat Indonesia masih sangat rendah. Itu terlihat dari data yang dikeluarkan Badan Pusat Statistik (BPS) pada 2006. Bahwa:”... masyarakat kita belum menjadikan kegiatan membaca sebagai sumber utama mendapatkan informasi. Orang lebih memilih menonton TV (85,9%) dan/atau mendengarkan radio (40,3%) ketimbang membaca koran (23,5%)...”. Data lainnya, misalnya International Association for Evaluation of Educational (IEA). Tahun 1992, IAE melakukan riset tentang kemampuan membaca murid-murid sekolah dasar (SD) kelas IV 30 negara di dunia. Kesimpulan dari riset tersebut menyebutkan bahwa Indonesia menempatkan urutan ke-29. Angka-angka itu menggambarkan betapa rendahnya minat baca masyarakat Indonesia, khususnya anak-anak SD. Data di atas, sungguh mencengangkan dengan kita semua. Padahal, jika dikaitkan dengan perintah Yang Maha kuasa di atas, seharusnya bangsa Indonesia yang mayoritas penduduknya beragama Islam mampu melakukan aktivitas membaca. Apa pasal? Sebab, aktivitas membaca merupakan suatu perintah dari Allah SWT melalui Al-quran. Jadi, aktivitas membaca bisa dianggap sebuah kewajiban bagi setiap manusia. Hanya saja, dalam realitasnya aktivitas tersebut tidak gampang diwujudkan. Banyak faktor yang menyebabkan kemampuan membaca anak-anak Indonesia tergolong rendah, adalah sebagai berikut: Pertama: ketiadaan sarana dan prasarana, khususnya perpustakaan dengan buku-buku yang bermutu dan memadai. Bisa dibayangkan, bagaimana aktivitas membaca anak-anak kita tanpa adanya buku-buku bermutu. Untuk itulah, ketiadaan sarana dan prasarana, khususnya perpustakaan dengan buku-buku bermutu menjadi suatu motivasi tinggi bagi kita. Kalimat di atas dengan kata lain, ketersediaan bahan bacaan memungkinkan tiap orang dan/atau anak-anak untuk memilih apa yang sesuai dengan minat dan kepentingannya. Dari situlah, tumbuh harapan bahwa masyarakat kita akan semakin mencintai bahan bacaan. Implikasinya, taraf kecerdasan masyarakat akan kian meningkat; dan oleh karena itu, isyarat baik bagi sebuah kerja perbaikan mutu perikehidupan suatu masyarakat dengan motivasi membaca. Kedua: banyaknya keluarga di Indonesia yang belum mentradisikan/membudayakan kegiatan membaca. Padahal, jika ingin menciptakan anak-anak yang memiliki pikiran luas dan baik akhlaknya, mau tidak mau kegiatan membaca perlu ditanamkan sejak dini. Bahkan, Fauzil Adhim, (2007) dalam bukunya Membuat Anak Gila Membaca mengatakan, bahwa semestinya memperkenalkan membaca kepada anak-anak sejak usia 0-2 tahun. Dan sebenarnya pada usia ini bukan dalam arti membacara tulisan, melainkan mereka membaca gambar-gambar yang disediakan oleh orang tua. Sebab, pada masa 0-2 tahun perkembangan otak anak amat pesat (80% kapasitas otak manusia dibentuk pada periode dua tahun pertama) dan amat reseptif (gampang menyerap apa saja dengan memori yang kuat). Bila sejak usia 0-2 tahun sudah dikenalkan dengan membaca, kelak mereka akan memiliki minat baca yang tinggi. Dalam menyerap informasi baru, mereka akan lebih enjoy membaca buku ketimbang menonton TV atau mendengarkan radio. Namun, apa sajakah usaha-usaha yang perlu dilakukan guna menumbuhkan minat baca anak-anak sejak dini? Dalam buku Make Everything Well, khusus bab “Menciptakan Keluarga Sukses buah karya Mustofa W Hasyim ” (2005), menganjurkan :”...agar tiap keluarga memiliki perpustakaan keluarga...”. Sehingga perpustakaan bisa dijadikan sebagai tempat yang menyenangkan ketika ngumpul bersama istri dan anak-anak. Di samping itu, orangtua juga perlu menetapkan jam wajib baca. Tiap anggota keluarga, baik orangtua maupun anak-anak diminta untuk mematuhinya. Di tengah kesibukan di luar rumah, semestinya orangtua menyisihkan waktunya untuk membaca buku, atau sekadar menemani anak-anaknya membaca buku. Dengan begitu, anak-anak akan mendapatkan contoh teladan dari kedua orang tuanya secara langsung. Penulis setiap bepergian ke luar kota, apakah ke Banjarmasin, Jakarta, Surabaya, Makassar, Medan selalu membeli buku bacaan. Alangkah indahnya buku bacaan yang dibeli selain untuk keperluan orang tua, juga buka bacaan untuk anak-anak di rumah. Sehingga anak lebih banyak di rumah untuk membaca dari pada pergi ke luar rumah untuk bermain ke tempat teman-temannya. Sedangkan di tingkat sekolah, rendahnya minat baca anak-anak bisa diatasi dengan perbaikan perpustakaan sekolah. Seharusnya, pihak sekolah, khususnya Kepala Sekolah bisa lebih bertanggung jawab atas kondisi perpustakaan yang selama ini cenderung memprihatinkan. Padahal, perpustakaan sekolah merupakan sumber belajar yang sangat penting bagi siswanya. Dengan begitu, masalah rendahnya minat baca akan teratasi. Padahal perpustakaan adalah “...jantung sekolah...”. artinya perpustakaan yang di dalamnya tersedia buku bacaan. Dan penulis pernah menyebutkan di berbagai tempat bahwa:”...buku adalah guru ke dua dari orang sukses...”. Selanjutnya, pemerintah daerah dan pusat bisa juga menggalakkan program perpustakaan keliling atau perpustakaan menetap di daerah-daerah. Sementara soal penempatannya, pemerintah bisa berkoordinasi dengan pengelola RT/RW atau pusat-pusat kegiatan masyarakat desa (PKMD). Semakin besar peluang masyarakat untuk membaca melalui fasilitas yang tersebar, semakin besar pula stimulasi membaca sesama warga masyarakat. Selain hal-hal di atas, rendahnya budaya membaca menurut pustawan Indonesia H.Athaillah Baderi (2005) adalah:”...Kemampuan membaca (Reading Literacy) anak-anak Indonesia sangat rendah bila dibandingkan dengan negara-negara berkembang lainnya, bahkan dalam kawasan ASEAN sekali pun. International Association for Evaluation of Educational (IEA) pada tahun 1992 dalam sebuah studi kemampuan membaca murid-murid Sekolah Dasar Kelas IV pada 30 negara di dunia, menyimpulkan bahwa Indonesia menempati urutan ke 29 setingkat di atas Venezuela yang menempati peringkat terakhir pada urutan ke 30....”. Data di atas relevan dengan hasil studi dari Vincent Greannary yang dikutip oleh Worl Bank dalam sebuah Laporan Pendidikan “Education in Indonesia From Cricis to Recovery“ tahun 1998. Hasil studi tersebut menunjukkan bahwa kemampuan membaca anak-anak kelas VI Sekolah Dasar kita hanya mampu meraih kedudukan paling akhir dengan nilai 51,7 setelah Filipina yang memperoleh nilai 52,6 dan Thailand dengan nilai 65,1 serta Singapura dengan nilai 74,0 dan Hongkong yang memperoleh nilai 75.5 Buruknya kemampuan membaca anak-anak kita sebagaimana data di atas berdampak pada kekurangmampuan mereka dalam penguasan bidang ilmu pengetahuan dan matematika. Hasil tes yang dilakukan oleh Trends in International Mathematies and Science Study (TIMSS) dalam tahun 2003 pada 50 negara di dunia terhadap para siswa kelas II SLTP, menunjukkan prestasi siswa-siswa Indonesia hanya mampu meraih peringkat ke 34 dalam kemampuan bidang matematika dengan nilai 411 di bawah nilai rata-rata internasional yang 467. Sedangkan hasil tes bidang ilmu pengetahuan mereka hanya mampu menduduki peringkat ke 36 dengan nilai 420 di bawah nilai rata-rata internasioal 474. Dibandingkan dengan anak-anak Malaysia mereka telah berhasil menduduki peringkat ke 10 dalam kemampuan bidang matematika yang memperoleh nilai 508 di atas nilai rata-rata internasional. Dan dalam bidang ilmu pengetahuan mereka menduduki peringkat ke 20 dengan nilai 510 di atas nilai rata-rata internasional. Dengan demikian tampak jelas bahwa kecerdasan bangsa kita sangat jauh ketinggalan di bawah negara-negara berkembang lainnya. Data dalam berita TVRI Palangka Raya, tanggal 9 Desember 2011. jam 18.30 mnyebutkan bahwa ada 200 desa telah memiliki perpustakaan masing-masing desa 1000 eks buku. Tidak jelas apakah hal ini Taman Bacaan Masyarakat (TBM) ataukah Perpustakaan Desa. Penyediaan buku ini harus diikuti dengan serkuliasi. Kalau buku yang tersedia tidak terjadi perubahan, minat baca mereka tentu akan turun. Rendahnya tingkat Pendidikan Masyarakat Menurut H. Athaillah Baderi (2005) adalah: ”...United Nations Development Programme (UNDP) menjadikan angka buta huruf dewasa (adult illiteracy rate) sebagai suatu barometer dalam mengukur kualitas suatu bangsa...”. Tinggi rendahnya angka buta huruf akan menentukan pula tinggi rendahnya Indeks Pembangunan Manusia (Human Development Index – HDI) bangsa itu. Berdasarkan laporan UNDP tahun 2003 dalam “Human Development Report 2003” bahwa Indeks Pembangunan Manusia (Human Development Indeks – HDI) berdasarkan angka buta huruf menunjukkan bahwa “pembangunan manusia di Indonesia“ menempati urutan yang ke 112 dari 174 negara di dunia yang dievaluasi. Sedangkan Vietnam menempati urutan ke 109, padahal negara itu baru saja keluar dari konflik politik yang cukup besar. Namun negara mereka lebih yakin bahwa dengan “membangun manusianya“ sebagai prioritas terdepan, akan mampu mengejar ketinggalan yang selama ini mereka alami. Melihat beberapa hasil studi di atas dan laporan United Nations Development Programme (UNDP) maka dapat diambil kesimpulan (hipotesis) bahwa “ kekurangmampuan anak-anak kita dalam bidang matematika dan bidang ilmu pengetahuan, serta tingginya angka buta huruf dewasa (adult illiteracy rate) di Indonesia adalah akibat membaca belum menjadi kebutuhan hidup dan belum menjadi budaya bangsa. Oleh sebab itu membaca harus dijadikan kebutuhan hidup dan budaya bangsa kita. Mengingat membaca merupakan suatu bentuk kegiatan budaya menurut H.A.R Tilaar (1999; 381) maka untuk mengubah perilaku masyarakat gemar membaca membutuhkan suatu perubahan budaya atau perubahan tingkah laku dari anggota masyarakat kita. Mengadakan perubahan budaya masyarakat memerlukan suatu proses dan waktu panjang sekitar satu atau dua generasi, tergantung dari “politicaal will pemerintah dan masyarakat“ Ada pun ukuran waktu sebuah generasi adalah berkisar sekitar 15 – 25 tahun. Merperhatikan Minat Baca Dalam mencari Cara Meningkatkan Minat Baca Siswa di Sekolah menurut Ari Es (2011) adalah:”...Masyarakat di Indonesia memiliki karakter yang berbeda-beda di setiap daerah begitu juga dengan karakter pelajar di sekolah. Dalam bidang budaya membaca seringkali media dalam mempublikasikan selalu di dominasi dengan pemberitaan yang menyatakan bahwa minat baca pelajar di Indonesia Rendah. Padahal secara fakta pasti ada (mungkin banyak) sekolah yang pelajarnya banyak yang suka membaca tapi hampir tidak pernah (sangat jarang) di publikasikan…”. Berdasarkan pengalaman penulis yang sering berkunjung di beberapa sekolah dan mendengarkan “…curhatan dari pengelola perpustakaan sekolah…” melalui jejaring social menyatakan, jika sebenarnya minat baca pelajar tinggi. Melalui tulisan ini penulis ingin berbagi tips bagaimana supaya minat baca siswa di sekolah, tinggi. Untuk lebih jelasnya ada 3 hal dalam uraian sebagai berikut: 1. Tersedianya Perpustakaan yang Dikelola dengan Baik Bicara terkait dengan budaya baca tidak lepas dengan adanya peran penting sebuah perpustakaan terlebih di lingkungan sekolah. Sebuah perpustakaan harus memberikan pelayanan dan manajemen yang baik, dalam memberikan kebutuhan referensi siswa di sekolah. Jika perpustakaan adalah sebuah produk maka dia harus menjamin kwalitasnya dengan baik dan disukai oleh konsumen dalam hal ini oleh pelajar. Pustakawan juga harus cerdas dalam menganalisa koleksi buku apa yang diinginkan dan disukai oleh pelajar, jika perlu dilakukan penelitian atau request. 2. Promosi Gerakan Gemar Membaca di Lingkungan Sekolah Jika belajar dari perusahaan produk-produk yang mendunia, akan tahu betapa faktor penentu laku tidaknya sebuah produk adalah ditentukan faktor promosi (iklan), Tentunya poin pertama diatas (kwalitas) harus diutamakan. Jika poin pertama (Tersedianya Perpustakaan yang Dikelola dengan Baik) sudah terpenuhi, maka promosi wajib gencar dilakukan. Cara untuk melakukan promosi ini bisa bekerjasama dengan pihak kepala sekolah bersama jajaranya. Akan lebih baik lagi jika Kepala Sekolah, Guru, dan staff sekolah menjadi orang pertama yang mengawali gerakan gemar membaca di sekolahnya. Bisa juga membuat baliho atau spanduk di sekitar sekolah yang berisi seruan rajin membaca misalnya “Kami Ingin Pintar makanya Kami Suka Membaca”, Ingin jadi Juara dan Berprestasi ? Rajinlah Membaca” begitu dan sejenisnya. Cara lain bisa juga dengan cara kebijakan sekolah yang mewajibkan semua siswa pada seminggu sekali atau dua kali diwajibkan membaca sebuah buku diperpustakaan yang kemudian disuruh merangkum buku yang dipinjam serta menjelaskan apa point penting dari buku yang sudah mereka baca. Selanjutnya jangan terlalu sering menyalahkan para siswa ”malas membaca” jika para guru di sekolah sendiri tidak pernah memberikan contoh bahwa para guru juga gemar membaca. Pemasyarakatan Adapun apa maksud pemasyarakatan ini tidak lain adalah sosialisasi perpustakaan agar menjadi sumber belajar masyarakat di mana saja. Termasuk di Perpustakaan Daerah Kalimantan Tengah. Sedangkan arti secara harpiah dari pemasyarakatan menurut Syaikh Taqyuddin An-Nabhani (2007) adalah:”... sekelompok manusia dapat dikatakan sebagai sebuah masyarakat apabila memiliki pemikiran, perasaan, serta sistem/aturan yang sama. Dengan kesamaan-kesamaan tersebut, manusia kemudian berinteraksi sesama mereka berdasarkan kemaslahatan...”. Sedangkan arti pemasyarakatan adalah keselompok manusia yang terpelajar dalam budaya membaca, untuk masa depan yang lebih baik dari masa sebelumnya. Menurut: Darlan (2011) adalah Masyarakat. Jika kita mengkaji konsep lama tentang masyarakat adalah sekelompok manusia yang menempati di suatu wilayah. Penulis mengambil pendapat salah seorang tokoh senior PLS kita: Sanapiah Faisal (1981) bahwa: “… masyarakat dibagi dalam 3 kelompok besar, masing-masing; Pertama: masyarakat perkotaan; Kedua: masyarakat pinggiran kota; dan Ketiga: masyarakat desa pedesaan...”. Dengan demikian dalam hal minat membaca bagi masyarakat ini, apakah di perkotaan, pinggiran kota, apa lagi desa pedesaan masih sulit kita wujudkan. Kecuali ada jamping yang sungguh dapat menjadikan masyarakat berdaya. Arti Budaya Membaca Budaya merupakan pikiran, akal budi, adat istiadat, sesuatu yang sudah menjadi kebiasaan yang sudah sukar diubah (KBBI,2007: 169). Budaya adalah bentuk jamak dari kata budi dan daya yang berarti cinta, karsa, dan rasa. Kata budaya sebenarnya berasal dari bahasa sanskerta buddhayah yaitu bentuk jamak kata buddhi yang berarti budi atau akal. Ahmadi membedakan pengertian budaya dan kebudayaan. Budaya adalah daya dari budi yang berupa cipta, karsa, dan rasa, sedangkan kebudayaan adalah hasil dari cipta, karsa dan rasa tersebut (Ahmadi,2007: 58). Menurut tokoh Antropolog Indonesia Koentjraningrat dalam Setiadi (2008: 26), kebudayaan adalah keseluruhan sistem gagasan, milik diri manusia dengan belajar. Menurut Selo soemardjan dan soelaiman soemardi, mengatakan bahwa kebudayaan adalah semua hasil karya, rasa, dan cipta masyarakat.Sedangkan menurut Tylor dalam Setiadi (2008: 27), budaya adalah suatu keseluruhan kompleks yang meliputi pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, keilmuan, hukum, adat istiadat, dan kemampuan yang lain serta kebiasaan yang didapat oleh manusia sebagai anggota masyarakat. Berdasarkan definisi tersebut dapat diperoleh pengertian mengenai budaya, yaitu sistem pengetahuan yang meliputi sistem ide atau gagasan yang terdapat dalam pikiran manusia menjadi suatu kebiasaan yang diperoleh melalui belajar. Sedangkan kebudayaan merupakan hasil dari karya, rasa, dan cipta yang di dapat oleh manusia sebagai masyarakat. Membaca adalah melihat serta memahami isi dari apa yang ditulis (dengan melisankan atau hanya dalam hati), mengeja atau melafalkan apa yang tertulis, mengucapkan, mengetahui, meramalkan, memperhitungkan, dan memahami (KBBI,2007: 83). Menurut Bond dan Wagner dalam Bafadal, (2008: 192 – 193) mendefinisikan membaca sebagai suatu proses menangkap atau memperoleh konsep – konsep yang dimaksud oleh pengarangnya, menginterpretasi, mengevaluasi konsep – konsep pengarang, dan merefleksikan atau bertindak sebagaimana yang dimaksud dari konsep tersebut. Menurut Soedarso dalam Abdurrahman (2003: 200), mengemukakan bahwa membaca merupakan aktivitas kompleks yang memerlukan sejumlah besar tindakan terpisah pisah, mencakup penggunaan pengertian, khayalan, pengamatan dan ingatan. Berdasarkan uraian tersebut, budaya membaca adalah suatu kebiasan yang didalamnya terjadi proses berfikir yang kompleks, terdiri dari sejumlah kegiatan seperti keterampilan menangkap atau memahami kata – kata atau kalimat yang tertulis, menginterpretasikan, dan merefleksikan. Dalam kegiatan membaca juga perlu memiliki kondisi fisik yang baik sehinnga konsentrasi tercurahkan sepenuhnya kepada teks atau tulisan yang sedang dibaca. Selanjutnya Sutarno (2006: 27), mengemukakan bahwa budaya baca adalah suatu sikap dan tindakan atau perbuatan untuk membaca yang dilakukan secara teratur dan berkelanjutan. Seorang yang mempunyai budaya baca adalah bahwa orang tersebut telah terbiasa dan berproses dalam waktu yang lama di dalam hidupnya selalu menggunakan sebagian waktunya untuk membaca. Budaya membaca adalah keterampilan seseorang yang diperoleh setelah seseorang dilahirkan, bukan keterampilan bawaan. Oleh karena itu budaya baca dapat dipupuk, dibina dan dikembangkan. Untuk tujuan akademik membaca adalah untuk memenuhi tuntutan kurikulum. Buku sebagai media transformasi dan penyebarluasan ilmu dapat menembus batas – batas geografis suatu negara, karena itulah buku disebut jendela dunia (Wikipedia,2011) Agar siswa dapat membaca dengan efesien perlulah memiliki kebiasaan – kebiasaan yang baik. Kebiasaan – kebiasaan membaca yang baik itu menurut Gie dalam Slameto, (2003: 84) adalah sebagai berikut: memperhatikan kesehatan membaca, ada jadwal, membuat tanda – tanda/ catatan – catatan, memanfaatkan perpustakaan, membaca sungguh – sungguh semua buku yang perlu untuk setiap mata pelajaran sampai menguasai isinya, dan membaca dengan konsentrasi penuh. Menurut Rozin (2008) Budaya membaca adalah kegiatan positif rutin yang baik dilakukan untuk melatih otak untuk menyerap apa – apa saja informasi yang terbaik diterima seseorang dalam kondisi dan waktu tertentu. Sumber bacaan bisa diperoleh dari buku, surat kabar, tabloid, internet, dan sebagainya. Dianjurkan untuk membaca berbagai hal yang positif. Informasi yang baik akan membuat hasil yang baik pula bagi anda. Salah satu sarana yang sangat menunjang tercapainya tujuan pendidikan adalah budaya membaca. Melalui perpustakaan siswa / mahasiswa dapat menambah wawasan dan pengetahuan yang dimiliki, sehingga dapat menunjang proses belajar mengajar. Salah satu unsur penunjang yang paling penting dalam dunia pendidikan adalah keberadaan sebuah perpustakaan. Adanya sebuah perpustakaan sebagai penyedia fasilitas yang dibutuhkan terutama untuk memenuhi kebutuhan belajar akan sangat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat sekolah itu sendiri. Pada dasarnya Perpustakaan Perguruan Tinggi merupakan sebuah pusat pelayanan dan informasi. Untuk itu setiap pengunjung terutama civitas akademik, berhak mengetahui palayanan dan informasi apa saja yang dapat diperoleh di Perpustakaan Perguruan Tinggi Tersebut. Berdasarkan pada Peraturan Pemerintah/PP No.5 tahun 1980 tentang pokok-pokok organisasi universitas atau institute, bahwa Perpustakaan Perguruan Tinggi termasuk kedalam Unit Pelayanan Teknis (UPT), yaitu sarana penunjang teknis yang merupakan perangkat kelengkapan universitas atau institute dibidang pendidikan dan pengajaran, penelitian dan pengabdian pada masyarakat (Fahmi, 2008). Menurut Bafadal (2008: 8) fungsi perpustakaan adalah sebagai berikut: 1. Fungsi edukatif Adanya perpustakaan sekolah dapat meningkatkan kemampuan membaca siswa, guru, dan karyawan. Selain itu, perpustakaan sekolah tersedia buku – buku yang sebagian besar pengadaannya disesuaikan dengan kurikulum sekolah sehingga dapat menunjang penyelenggaraan pendidikan di sekolah. 2. Fungsi informasi Bahan – bahan perpustakaan yang disediakan oleh perpustakaan sekolah baik buku – buku maupun non – buku seperti majalah, koran peta dan sebagainya, semua ini akan memberikan informasi atau keterangan yang diperlukan siswa, guru dan karyawan. 3. Fungsi riset Adanya bahan pustaka yang lengkap, siswa dan guru dapat melakukan riset yaitu mengumpulkan data atau keterangan – keterangan yang diperlukan. Tersedianya sarana dan prasarana perpustakaan yang ada diharapkan dapat menumbuhkan budaya membaca oleh seluruh warga sekolah / perguruan tinggi. Perpustakaan menjadi salah satu faktor penunjang dalam melestarikan budaya membaca. Selain itu, yang menjadi pendorong atas bangkitnya minat baca ialah ketertarikan, kegemaran dan hobi membaca. Sedangkan pendorong tumbuhnya kebiasaan membaca adalah kemauan dan kemampuan membaca. Kebiasaan membaca terpelihara dengan tersedianya bahan bacaan yang baik, menarik, memadai baik jenis, jumlah maupun mutunya. Oleh karena itu, kebiasaan membaca dapat menjadi landasan bagi berkembangnya budaya membaca. Sehubungan dengan minat, kebiasaan dan budaya membaca tersebut Sutarno (2006: 28 - 29) mengemukakan paling tidak ada 3 tahapan yang harus dilalui, yaitu: 1.Dimulai dengan adanya kegemaran karena tertarik bahwa buku – buku tersebut dikemas dengan menarik, baik desain, gambar, bentuk dan ukurannya. 2.Setelah kegemaran tersebut dipenuhi dengan ketersediaan bahan dan sumber bacaan yang sesuai dengan selera, ialah terwujudnya kebiasaan membaca. Kebiasaan itu dapat terwujud manakala sering dilakukan, baik atas bimbingan orang tua, guru atau lingkungan di sekitarnya yang kondusif, maupun atas keinginan anak tersebut. 3.Jika kebiasaan membaca itu dapat terus dipelihara, tanpa “gangguan” media elektronik, yang bersifat “entertainment”, dan tanpa membutuhkan keaktifan mental. Oleh karena seorang pembaca terlibat secara konstruktif dalam menyerap dan memahami bacaan, maka tahap selanjutnya ialah bahwa membaca menjadi kebutuhan yang harus dipenuhi. Menanamkan Minat Baca Dan Budaya Baca Minat seseorang terhadap sesuatu adalah kecendrungan hati yang tinggi, gairah atau keinginan seseorang tersebut terhadap sesuatu. Minat baca seseorang dapat dartikan sebagai kecendrungan hati yang tinggi orang tersebut kepada suatu sumber bacaan tertentu. Sedangkan budaya adalah pikiran atau akal budi yang tercermin di dalam hidupnya. Budaya diawali dari sesuatu yang sering atau biasa dilakukan sehingga akhirnya menjadi suatu kebiasaan atau budaya. Menurut Sutarno NS, (2001) Budaya baca seseorang adalah suatu sikap dan tindakan atau perbuatan untuk membaca yang dilakukan secara teratur dan berkelanjutan. Seorang yang mempunyai budaya baca adalah bahwa orang tersebut telah terbiasa dalam waktu yang lama di dalam hidupnya selalu menggunakan sebagian waktunya untuk membaca. Pendorong bagi bangkitnya minat baca ialah kemampuan membaca, dan pendorong bagi berseminya budaya baca adalah kebiasaan membaca, sedangkan kebiasaan membaca terpelihara dengan tersedianya bahan bacaan yang baik, menarik, memadai, baik jenis, jumlah, maupun mutunya. Inilah formula secara ringkas untuk pengembangan minat baca dan budaya baca. Dari rumus tersebut tersirat tentang pentingnya minat baca itu dikembangkan sejak dini, dimulai dengan perkenalan bentuk-bentuk huruf dan angka pada masa prasekolah hingga mantap penguasaan baca-tulis-hitung pada awal pendidikan di Sekolah Dasar. Perlu dicatat bahwa dalam dunia belajar modern setiap anak mulai berkenalan dengan bentuk-bentuk huruf dan tanda-tanda yang mempunyai arti tertentu. Menurut Fuad Hasan, (2001) akan lebih baik lagi kalau anak tersebut mulai menyadari bahwa rangkaian huruf-huruf itu mempunyai suatu cerita yang menarik, maka tentu mendorongnya untuk berkenalan dengan kata-kata dan selanjutnya berniat untuk dapat membaca. Demikianlah perkembangan anak sejak usia dini sudah mengenal berbagai bentuk huruf dan tanda yang kemudian diketahuinya memiliki makna. Oleh karenanya sangat diperlukan untuk membangkitkan rasa ingin tahu (curlousity) yang kuat pada diri seorang anak. Dengan begitu sejak usia dini pula perlu sudah tersedia bahan bacaan yang menarik, baik untuk dibacakan kepada anak atau dibaca sendiri olehnya sebagai titik awak membangkitkan minat baca. Bangkitnya minat baca juga terdorong sejauh mana perkenalan anak dengan bacaan dalam bentuk buku. Minat baca yang dikembangkan pada usia dini selanjutnya dapat dijadikan landasan bagi berkembangnya budaya baca. Subur dan terpupuknya perkembangan budaya baca tentu sangat bergantung pada tersedianya bahan bacaan yang memadai. Kita baru bisa bicara tentang budaya baca apabila membaca sudah terasa sebagai kebutuhan dan menjadi kebiasaan untuk dilakukan secara berkelanjutan. Jadi, tanpa tersedianya bahan bacaan kebutuhan tersebut tidak dapat dipenuhi atau dipuaskan, dan mungkin saja kebiasaan tersebut akan menyusut. Apalagi kalau kebiasaan membaca tersebut mudah dipengaruhi oleh kebiasaan menonton melalui media elektronik yang sajiannya bersifat audio visual dan tidak dapat di pungkiri di zaman modern seperti ini kehadirannya semakin canggih dan suguhannya juga bervariasi dan sangat menarik perhatian. Sehubungan dengan minat dan budaya baca tersebut paling tidak ada tiga tahapan yang harus dilalui, yaitu : pertama, dimulai adanya kegemaran karena tertarik bahwa di dalam bacaan tertentu terdapat sesuatu yang menyenangkan diri pembacanya. Kedua, setelah kegemaran tersebut terpenuhi dengan ketersediaan bahan dan sumber bacaan yang sesuai dengan selera, maka terwujudlah kebiasaan membaca. Kebiasaan tersebut dapat terwujud manakala sering dilakukan, baik atas bimbingan orang tua, guru atau lingkungan disekitarnya yang kondusif, maupun atas keinginan anak itu sendiri. Ketiga, jika kebiasaan membaca itu dapat terpelihara tanpa gangguan media elektronik yang bersifat entertainment, dan tanpa membutuhkan keaktifan fungsi mental, karena seorang pembaca terlibat secara konstruktif dalam menyerap dan memahami bacaan, maka tahap selanjutnya ialah bahwa membaca menjadi kebutuhan yang harus dipenuhi. Setelah tahap-tahap tersebut dapat dilalui dengan baik, maka pada diri seseorang tersebut mulai terbentuk adanya suatu budaya baca. Idealnya minat baca ditanamkan sejak dini dalam asuhan orang tua ketika mereka belum memasuki bangku sekolah. Kemudian minat ini ditumbuhkan mengikuti perkembangan dan pendidikan anak selanjutnya. Memang agak susah dalam meningkatkan minat baca pada anak kalau orang tua tidak memulai dari dirinya sendiri. Peran keluarga sangat dominan dalam perkembangan literasi anak. Hasil riset menunjukkan bahwa anak pada umumnya mulai belajar membaca dan menulis dari orang tua di rumah. Mereka akan gemar membaca jika melihat orang tua atau anggota keluarga lain di rumah sering membaca buku, koran, atau majalah. Anak sebenarnya sudah bisa dirangsang untuk gemar membaca bahkan ketika masih dalam kandungan ibunya. Bahkan Glenn Doman dalam bukunya “Mengajar Bayi Anda Membaca” menyebutkan bahwa anak usia 18 bulan hingga empat tahun memiliki “rasa ingin tahu” yang amat besar. Keingintahuan tersebut tidak hanya muncul ketika melihat simbol yang tertera dalam buku. Maka saat seperti itulah orang tua bisa memulai perannya untuk mengarahkan anak kepada bahan bacaan dalam upaya meningkatkan minat baca dan membudayakan membaca pada anak. Banyak orang sejak masa kanak-kanaknya sama sekali tidak pernah berkenalan dengan minat baca. Dengan demikian, usaha membudayakan minta baca (kegemaran dan kecintaan akan membaca) bukanlah usaha yang mudah dan dapat ditangani dalam waktu sesaat saja. Bagi orang tua, ada berbagai cara yang dapat dilakukan untuk menumbuhkan minat baca anak. Pertama, Sediakanlah waktu luang untuk membacakan buku untuk anak setiap hari. Dengan membacakan menggunakan sara lantang pada anak secara rutin kepada anak akan menghasilkan perkembangan yang signifikan pada pemahaman membaca, kosakata, dan pemenggalan kata. Baik anak dalam usia belum sekolah maupun yang sudah, hal itu akan membuat mereka berkeinginan untuk membaca dengan sendirinya. Kedua, Kelilingi anak-anak dengan berbagai buku bacaan. Bujuklah anak untuk membaca dengan mengoleksi buku-buku bacaan yang menarik dan majalah yang sesuai dengan umur mereka. Letakkan buku bacaan di mobil, tempat tidur, ruang keluarga, dan bahkan di ruang TV. Ketiga, Buatlah waktu membaca bersama keluarga. Sediakan waktu setiap untuk seluruh anggota keluarga membaca bersama-sama dengan tenang. Dengan melihat anda membaca akan membuat anak anda ikut membaca. Ke-empat, Berikan dukungan pada berbagai aktivitas membaca mereka. Jadikan membaca sebagai bagian dari kehidupan anak. Biarkan mereka membaca menu, rambu jalanan, petunjuk pada mainan, ramalan cuaca, acara TV, dan semua informasi praktis harian. Dan juga, pastikan mereka selalu memiliki bacaan untuk waktu luang mereka. Kelima, Biasakan pergi ke perpustakaan. Ajak anak agar lebih banyak membaca dengan membawa mereka pergi ke perpustakaan setiap beberapa minggu untuk mendapatkan buku bacaan yang baru. Ke-enam, Ikuti terus perkembangan membaca anak. Cari tahu kemampuan membaca yang bagaimana untuk setiap level kelas. Kurikulum sekolah akan memberikan informasi tentang ini. Ikuti terus perkembangan mereka mendapatkan kemampuan dasar membaca melalui raport mereka. Hal ini juga dapat dilakukan dengan meluangkan waktu untuk mendengarkan mereka membaca. Ketujuh, Perlu diperhatikan oleh orang tua, apakah mereka ada kesulitan dalam membaca buku bacaannya. Cari tahu apakah anak dapat melafalkan kata-kata, mengetahui kata-kata yang dilihatnya, menggunakan susunan kalimat untuk mengidentifikasi kata-kata yang tidak diketahui, dan mengetahui sepenuhnya apa yang mereka baca. Jika terdapat masalah pada anak dalam membaca, maka orang tua dapat mengarahkan anak mengikuti bimbingan belajar untuk membaca. Masalah dalam membaca tidak dapat hilang begitu saja seiring berlalunya waktu jika dibiarkan saja. Kedelapan, Pakailah cara yang bervariasi untuk membantu anak. Untuk membantu anak dalam mengembangkan kemampuan membaca mereka, gunakan berbagai buku pedoman, program komputer, tape, dan materi-materi lain yang tersedia di toko. Menggunaka permainan merupakan pilihan yang baik, karena cara ini akan dapat membantu anak-anak mengembangkan kemampuan mereka sambil bergembira. Perlihatkan pula antusias anda saat anak membaca buku bacaannya. Reaksi anda memiliki pengaruh yang besar pada seberapa tinggi motivasi mereka untuk berusaha menjadi pembaca yang baik. Pastikan anda memberikan pujian yang tulus atas usaha keras mereka. Apabila perlu beri incentive kepada mereka sebagai hadiah dan pendorong atas aktivitas mereka dalam membaca. Sehingga upaya ini akan memberikan dorongan bagi anak untuk lebih gemar membaca dan mencintai buku-buku. Tidak ada yang lebih penting untuk kesuksesan akademik seseorang, selain menjadi pembaca yang baik. Orang tua mengenal anak-anak mereka dengan baik dan dapat menyediakan waktu dan perhatian yang akan membimbing mereka berhasil dalam membaca. Kemudian menurut Oleh : Siti Sarina, (2014) meningkatkan minat membaca dan menulis merupakan sebuah investasi jangka panjang. Layaknya sebuah investasi, yang hasilnya mungkin baru bisa dirasakan lima, sepuluh atau duapuluh tahun kedepan, dengan jaminan akan generasi yang tanggap, cerdas dan cekatan. Aspek Budaya Iman Sukwana (2014) tentang Aspek budaya baca menyebutkan: “…Sebenarnya apabila dikatakan budaya baca masyarakat Indonesia rendah bisa jadi merupakan kesimpulan yang tergesa-gesa. Dalam kehidupan sehari-hari masih dapat kita jumpai pengemudi becak, supir angkot atau profesi lain yang tidak termasuk kumunitas masyarakat intelektual begitu bernafsu terhadap bahan bacaan….” Sering kita jumpai pengemudi becak yang menemukan sobekan koran tidak serta merta mereka membuangnya tetapi akan dinikmatinya terlebih dahulu. Tidak sedikit pula dari kalangan ini yang membeli koran untuk mengisi waktu luang mereka sembari menunggu penumpang. Apabila indikator budaya membaca adalah minat membaca koran, maka tidak dapat dikatakan bahwa masyarakat Indonesia tidak memiliki budaya membaca. Permasalahannya barangkali tidak dapat digambarkan sesederhana itu. Akan tetapi sejauh mana kemauan membaca tersebut mampu mendorong terwujudnya kualitas sumber daya manusia. Bagaimanakah golongan terpelajar sebagai kalangan yang diidam-idamkan sebagai agen perubahan memiliki kebiasaan membaca. Kebiasaan bukan sesuatu yang datang dengan tiba-tiba, demikian pula dengan membaca. Membaca bukan suatu yang menyangkut aspek vokasi sementara. Kebiasaan membaca juga tidak bisa ditumbuhkan secara instan, karema kebiasaan membaca menyangkut perilaku seseorang. Dalam teori prilaku, kebiasaan dapat ditumbuhkan kalau dilakukan secara terus menerus tetapi juga diperlukan pemaksaan, dalam artian hal ini diperlukan penekanan pada seseorang agar melakukan kegiatan membaca, sehingga terbentuk kebiasaan membaca. Kebiasaan membaca tidak bisa dilepaskan dari budaya masyarakatnya. Artinya, untuk menumbuhkan budaya membaca juga tidak lepas dari aspek yang menyangkut budaya. seperti telah kita ketahui bersama bahwa masyarakat Indonesia cenderung memiliki budaya lisan dibanding dengan budaya menulis, banyaknya seni pertunjukan rakyat yang diwariskan secara lisan adalah contoh kuatnya budaya lisan, demikian juga budaya yang berkembang di masyarakat sehari-hari. Masyarakat pedesaan dengan kultur petani tradisional memiliki kebiasaan sanja atau ngerumpi sambil mencari kutu bagi sebagaian kaum perempuan untuk mengisi waktu luang mereka. Atau tradisi orang tua dulu yang mempunyai kebiasaan mendongeng sebelum tidur, walaupun cerita yang disampaikan hanya berkisar pengulangan belaka. Lonjakan perubahan budaya masyarakat yang seharusnya dari lisan kemudian ke tulisan lalu membaca, diperparah dengan keadaan perkembangan teknologi komunikasi yang dahsyat. Masyarakat cenderung mengambil alih teknologi terlebih dahulu ketimbang membaca. Oleh karena itu, untuk menumbuhkan minat membaca apalagi menumbuhkan budaya membaca, selain membutuhkan waktu yang panjang juga dibutuhkan sentuhan yang bernuansa budaya dalam artian yang lebih luas. Secara teoritis, merubah perilaku bukan persoalan mudah, apalagi yang menyangkut persoalan sistem nilai. Budaya membaca lebih terkait pada pembiasaan. Merubah perilaku yang tidak terkait dengan nilai, memiliki kemungkinan untuk diubah dibanding dengan budaya yang menyangkut nilai. Untuk menumbuhkan budaya membaca perlu merubah pola pikir masyarakat. Artinya masyarakat perlu ditanamkan secara terus menerus arti penting dan keuntungan membaca. Dapat ditarik suatu pengertian bahwa secara kultural bangsa Indonesia adalah masyarakat yang lebih cenderung memiliki budaya melihat dan bicara dibanding budaya atau kebiasaan membaca. Dalam kehidupan sehari-hari, masyarakat Indonesia pada umumnya memiliki minat yang tinggi untuk melihat sesuatu. Keterbatasan Fasilitas Barangkali keterbatasan fasilitas merupakan permasalahan klasik. Akan tetapi hal tersebut merupakan fakta yang tak terbantahkan. Kondisi ini tidak lepas dari kebijakan makro dalam pelaksanaan pembangunan. Konsep pertumbuhan ekonomi yang sejak masa orde baru menjadi tema besar pembangunan nasional sehingga membawa konsekuensi yang bersifat ekonomis juga. Dalam artian ini dapat dikatakan juga bahwa faktor material menjadi ukuran dari berbagai aspek kehidupan masyarakat. Akibatnya, sesuatu yang tidak memberikan keuntungan ekonomis secara langsung cenderung tidak terprioritaskan. Dalam proses pembangunan harus diakui kemajuan fisik melesat secara spektakuler. Program pembangunan yang bernuansa ekonomis memperoleh porsi yang cukup menguntungkan. Sementara sektor yang tidak memberi keuntungan secara langsung cenderung kurang diperhatikan. Bidang perpustakaan, sekalipun diakui sebagai kunci dalam proses pembentukan dan pengembangan SDM tetapi tidak memperoleh porsi sebanding dengan sektor ekonomis. Akibatnya pemenuhan kebutuhan kepustakawanan relatif banyak menemui hambatan. Bahan pustaka, ruang baca, dan fasilitas lainnya jauh dari memadai. Kemauan masyarakat untuk membaca buku barangkali tidak diimbangi dengan kemampuan untuk membeli buku. Sisi lain lembaga publik di bidang perpustakaan pun belum mampu memenuhi kebutuhan masyarakat tersebut. Perkembangan Teknologi Informasi Masyarakat moderen sebagai produk globalisasi dan revolusi teknologi informasi memunculkan berbagai masalah sosial. Pengaruh kehidupan moderen, arus informasi maupun semakin membudayanya nilai sosial mempengaruhi tingkat perkembangan, perilaku, dan permasalahan yang dihadapi anak. Media masa, khususnya televisi merupakan biang keladi yang paling handal untuk mempengaruhi perilaku anak. Fenomena tersebut merupakan trend yang tidak dapat dihindari. Perkembangan teknologi informasi juga berdampak pada sikap dan perilaku siswa SD. Tidak sedikit dari mereka yang sudah menggunakan teknologi informasi baik berupa handphone, facebook, twiter maupun internet. Tidak jarang kondisi ini menimbulkan efek negatif bagi mereka. Kehadiran teknologi informasi semestinya disikapi secara proporsional. Sikap gagap teknologi adalah suatu yang tidak boleh terjadi, tetapi sikap kaget akan memalukan dan merugikan. Kecenderungan yang terjadi pada generasi muda pada umumnya saat ini adalah hanya mampu menggunakan teknologi komunikasi bukan memanfaatkannya. Istilah menggunakan lebih memberikan kesan netral yang belum tentu memiliki nilai positif, tetapi istilah memanfaatkan lebih memiliki nuansa positif. Selamat Membaca. DAFTAR PUSTAKA Bafadal, 2008. definisi membaca sebagai suatu proses Belajar, Artikel, Jakarta Darlan, H.M. Norsanie, 2011. Upaya Pemasyarakatab Perpustakaan Dan Minat Baca Masyarakat, makalah, Badan Perpustakaan dan Arsip Daerah, Kalteng, Palangka Raya Hasan, Fuad, 2001. Akan lebih baik lagi kalau anak tersebut mulai menyadari bahwa rangkaian huruf-huruf, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta. Rozin, 2008, Budaya membaca adalah kegiatan positif dan rutin, Yogyakarta Sukwana, Iman, 2014, Peran Budaya Baca di masyarakat umum, Perpustakaan Daerah, Banten, Serang. Sutarno 2006, mengemukakan bahwa budaya baca adalah suatu sikap dan tindakan atau perbuatan, Jakarta. Slameto, 2003, memperhatikan kesehatan membaca, Artikel, Jakarta. Ahmadi,2007, Budaya adalah daya dari budi yang berupa cipta, karsa, dan rasa, sedangkan kebudayaan adalah hasil dari cipta, karsa dan rasa, Jakarta. Fahmi, 2008. pengabdian pada masyarakat, Artikel, Yogyakarta. Sutarno NS, 2001. Budaya baca seseorang adalah suatu sikap dan tindakan atau perbuatan untuk membaca, Artikel, Jakarta. Sutarno, 2006. mengemukakan paling tidak ada 3 tahapan yang harus dilalui, Artikel, Jakarta. Siti Sarina, 2014. meningkatkan minat membaca dan menulis merupakan sebuah investasi jangka panjang, Artikel, Jakarta. Sukwana, Iman, 2011. tentang Aspek budaya baca, Makalan, Jurnal Pendidikan, Jakarta. Penulis: H.M.Norsanie Darlan, Prof. Dr. MS PH. Guru Besar S-1 dan S-2 PLS/PNF Universitas Palangka Raya, 2016

Kamis, 20 Mei 2021

PENDIDIKAN KESEHATAN MASYARAKAT KE 8

1. Apa sebetulnya arti dari promosi kesehatan itu ? jelaskan 2..Apa perbedaan antara pendidikan kesehatan dengan promosi kesehatan ? Jelaskan. 3.Siapa saja yang menjadi sasaran promosi kesehatan itu ? jelaskan 4.Dalam Health Educator, bagaimana petugas kesehatan yang diharapka 5.Kenapa PLS kok ikut-ikutan penyuluhan kesehatan ? jelaskan 6.Bagaimana bila di suatu desa orang tidak setuju, menggunakan air masak sebagai air minumnya ? 7.Adakah konsep yang kiranya bisa sdr bawa dalam promosi kesehatan ? 8.Maukah sdr menjadi penyuluh kesehatan ? 9.Bila sdr bertemu dalam tugas dengan penyuluh KB bagaimana cara sdr untuk menyatukan konsep penyulhan itu ? jelaskan 10.Bila bertemu dengan sekelompok masyarakat. Mereka memerlukan memberantas penyakit diare. Bagaimana cara sdr menghadapinya. 11.Coba sdr uraikan bagaimana membuat ORALIT itu. 12.Sebutkan kepanjangan poryandi utu ? 13.Bagaimana hasilnya kalau ibu hamil makan makanan yang tidak bergizi ? 14.Kalau anak lahir berat badannya 2,4 Kg. Apa sebabya ? 15.Bagai mana kalau anak lahir berat badannya (BB) 7 Kg. Apa sebanya ?

Rabu, 19 Mei 2021

SEJARAH ANTROPOLOGI SOSIAL KE 7

(KHUSUS YANG TURUT RABU SIANG) 1. Mengapa Van Kemanade (1969) mempersoalan pendidikan jangan hanya dianggap melulu persoalan pedagogis didaktis metodis tidak menjadi masalah kebijakan sosial, dan perlu analisis emperik ttg konsep kehidupan masyarakat. 2. Apa akibat dari masalah etnografi, digunakan secara luas oleh dunia ilmiah masalah relegi ini ? Jelaskan. 3. Kenapa Teori bermuatan pertentangan budaya yang bersifat global dibangun atas gejala interdependensi antarnegara di mana teori multicultural masuk kedalamnya. 4.Menurut Keesing (1975) terjadinya sistem kekerabatan menjadi pusat perhatian banyak ahli dalam ilmu antropologi itu. Betulkan demikian ? 5.Mengapa lembah raja-raja ada di Mesir, tidak di negara lain ? Jelaskan 6. Mengapa menurut Pendapat: Ayi Olim (2007), menjelaskan bahwa ilmu antropologi pendidikan ini, baru menjadi obyek sejak pertengahan abad ke 20 pada waktu itu banyak pertanyaan yang dipertanyakan kepada para tokoh pendidikan; 7. Bagaimana tentang Teori bermuatan pertentangan budaya, apa hal itu betul ? Jelaskan. 8. Apa sebabnya bahwa pentingnya kajian ilmu antropologi budaya belajar pada suatu masyarakat ? jelaskan; 9. Jelaskan tentang perjalanan para ilmuan yg mengunjungi keompok masy. Didukung oleh laporan administrais kolonial ttg keadaan lingkungan ttg ada istiadat masyarakat. Mengapa Ayat Suryatna dan Achmad Hufat (2009) masyarakat perkotaan dan pedesaan menciptakan perubahan sosial. Perwujudan kebudayaan, pendidikan berorientasi pada perubahan sosial mendapat perhatian. Kenapa penggalapan ilmu antropologi itu belum tuntas hingga sekarang ? Jelaskan Bagaimana pendapat 2 ahli seperti scribner dan cole ke 5 benua hanya memprioritaskan tentang pendidikan formal saja. ? Jelaskan Selmat belajar

Jumat, 07 Mei 2021

PENDIDIKAN KESEHATAN KE 8

INGAT IDENTITAS KAMI 1.Bagaimana kalau bertemu dengan anggota masyarakat yang menderita penyakit diare apa yang sdr lakukan ? jelaskan 2.Bagaimana jika seorang bayi yang lahir Tanpa tulang ? jelaskan 3.Jika air sulit di desa, bagaimana mendidik masyarakat agar desa mereka mudah diserang penyakit ? jelaskan 4.Apakah pendidikan kesehatan itu dapat merubah perilaku seseorang? Jelaskan 5.Bagaimana jika sdr menemukan penyakit anjing gila ? jelaskan 6.Betulkan pendidikan kesehatan itu memberikan konsep kesehatan kepada individu dan masyarakat? Jelaskan. 7.Seorang nelayan yang tidak dapat melalut, bagaimana cari agar mereka mendapatkan penghasilan tambahan ? 8.Apa kata Mubarak, bahwa kesehatan itu selalu tidak mendapatkan perhatian ? Apakah pengetahuan itu berpengaruh kepada perilaku warga masyarakat ? Jelaskan. 9.Apakah dengan terbentuknya kesehatan itu akibat pengetahuan kesehatan seseorang ? Jelaskan. 10.Apa hasil penelitian kesehatan di masyarakat negeri paman sam yang sdr ketahui ? Jelaskan. 11.Siapa yang harus memerlukan dibina agar keluarga bisa mengobati dirinya sendiri jelaskan. 12.Kenapa anak hanyak beberapa minggu ternyata mendapat minggu habis dilahirkan ? Jelaskan. Selamat belajar