Jumat, 18 April 2014

Materi Ceramah di hadapan Tokoh Agama, Tokoh Masyarakat dan Tokoh Adat



MENANTI MASA DEPAN GENERASI MUDA
YANG LEBIH SEJAHTERA

Oleh:
H.M.Norsanie Darlan
Guru Besar S-1 dan S-2 PLS Universitas Palangka Raya


Pendahuluan

Tulisan ini merupakan sebuah konsep ke masa depan generasi muda yang ingin maju menghadapi tantangan pembangunan bangsa. Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Provinsi Kalimantan Tengah, merupakan sebuah Institusi di negera kita dalam upaya mencerdaskan serta mensejahterakan bangsa dengan program pembangunannya tidak saja dalam hal kepemudaan. Tapi juga berbagai macam program pembangunan. Hal ini terbukti BKKBN bekerjasama dengan semua instansi pemerintah. Sejak dari tingkat pusat maupun daerah. Ini tidak dimiliki oleh Dinas, Badan dan Instansi lainnya.

Dalam paparan kali ini, penulis mencoba turut serta berpartisipasi dengan BKKBN setelah 15 tahun lebih tidak punya aktivitas karena melanjutkan pendidikan dan bekerja di Instansi lain yang baru setelah kembali ke kampus dan kenerima amanah dari Bapak Prof. dr.Fasli Jalan, Ph.D tanggal 1 Februari 2014 lalu, di Universitas Negeri Jakarta. Amanah kepala BKKBN ini adalah menyusun konsep bagaimana para calon pengantin turut serta dalam program Kependudukan dan Keluarga Berencana ini dapat ditanamkan kepada mereka yang akan memasuki masa perkawinan.

 

Tantangan Masa Depan

Berbicara tentang generasi muda kita harus ingat ketika mengikuti pelatihan kepemimpinan Pemuda beberapa bulan yang lalu, ketika itu pemuda yang terdiri dari para siswa dan siswi SMA/sederajat dikumpulkan di satu tempat untuk mengikuti pelatihan kepemimpinan pemuda selama 3 hari 2 malam. ya tentunya banyak pengalaman menarik ketika di pelatihan tersebut.
Hidup ini, kepada setiap orang adalah tantangan kata salah seorang pembicara di forum seminar yang pernah kita ikuti, semakin banyak tantangan yang kita miliki maka semakin dewasalah kita, akan tetapi tantangan yang seperti apa ? tantangan yang bisa membuat kita semakin dewasa adalah tantangan yang datang sendirinya yang mana kita bisa menyelesaikan tantangan tersebut dengan lancar dan baik tampa ada perseteruan antara satu pihak dengan pihal lainnya.

Kita sebagai generasi muda Indonesia harus bisa mempersiapkan diri dalam menghadapi tantanggan masa depan yang sangat besar, mengapa bisa aku ketakan demikian, bisa dilihat semakin hari semakin banyak permasalahan yang terjadi di bumi pertiwi ini, korupsi berkembang merajalela, keadilan yang sangat diharapkan oleh rakyat semacam tidak ada yang mau tau, di sektor pendidikan generasi muda Indonesia telah banyak terpegaruh oleh dunia luar yang lebih mementingkan kesenangan di masa muda dari pada belajar untuk masa depan yang cerah.
Saat ini bisa kita lihat telah banyak generasi muda kita yang tercandu dengan narkotika, yang mana narkotika tersebut memiliki efek besar dalam kehancuran generasi muda, dan juga ada sebagian generasi muda kita yang telah terjerumus oleh Free Sex (Sex bebas) bisa kita lihat di pemberitaan media akhir akhir ini, siswa SMP saja telah melakukan hal tersebut bagaimana besarnya, itu adalah sebagian tantanggan yang telah mulai kita rasakan para generasi muda
PersiaPkan diri kita mulai dari saat ini, dalam menghadapi tantangan masa depan telah menanti kita, jangan sampai tantangan dimasa depan bisa menghancurkan negeri ini, segala sesuatu itu perlu adanya persiapan, begitu juga kita sebagai generasi bangsa Indonesia yang harus bisa mempersiapan diri dalam menjawab tantangan masa depan yang sangat besar.
Menurut para ahli, tantangan besar bisa kita lewatkan dengan satu hal yang sangat penting, itu adalah kebersamaan para generasi muda, yaitu kita kita sekarang yang masih duduk di bangku sekolah, masa depan negeri ini ada ditanggan kita bukan ditanggan orang lain, sangat malu rasanya jika nanti di saat kepemimpinan kita (para generasi muda) Indonesia ini terpuruk,itu adalah hal yang sangat memalulan. sejarah mencata para pendahulu kita yakni para pahlawan pahlawan negeri ini mempertahankan NKRI ini hingga tetes darah terakhir, mereka rela nyawa mereka hilang ditembak oleh para penjajah.
Generasi muda adalah calon penerus bangsa, hal itu selalu ku ingat, aku ingin di masa depan dimasa kepemimpinan kita para generaasi muda, negeri ini bangsa ini bangsa Indonesia bebas dari yang namanya permasalahan permasalahn besar, seperti korupsi, kemiskinan, sesejahtraan rakyat yang sangat minim, dan lain sebagainya.. aku  ingin dimasa depan nanti Indonesia bisa menjadi negara berkembang, yang rakyatnya bebas dari kemiskinan, pengangguran, kesenganan sosial, dan yang nomor 1 itu adalah bebas dari koruptor. 
Mari mulai saat ini kita persiapkan diri untuk menuju masa depan yang penuh tantangan, bersama kita bisa katakan "Aku cinta Indonesia karena indonesia adalah bagian dari hidupku" tanamkan rasa cinta sedalam dalamnya untuk Indonesia, masa depan Indonesia di tanggan kita dan mari kita para generasi muda teriakan.

"Generasi muda siap menjawab tantangan masa depan"
 Tantangan masa depan pasti datang, akan tetapi kita jangan pernah khawatir selama kita telah mempersiapkan segala sesuatu dengan matang, termasuk mempersiapkan diri dalam menjawab tantangan masa depan yang kira hadapi sangat besar, aku yakin generasi penerus bangsa ini bisa menjawab tantangan tersebut jika, kita saling bahu-membahu, jangan pernah katakan menyerah selama nyawa masih dikandung badan.
        kalau kata melirik sejarawan "bangsa yang baik itu adalah bangsa yang merhargai sejarahnya" kalau kata saya "generasi muda yang baik adalah generasi muda yang siap menjawab tantangan masa depan" salam SUKSES buat semua generasi muda indonesia dari sabang sampai maroke, kita semua satu nusa, satu bangsa mari kita menjawab tantangan masa depan.  
Tiga Tantangan Generasi Muda
Menurut Darlan (2011) bahwa ada 3 (tiga) tantangan yang dihadapi para pemuda generasi muda  dewasa ini, yang ternyata tidak sebatas pada kaum muda saja yang merasakannya. Tapi orang tuapun juga merasakan hal itu. Ke 3 hal tersebut di atas adalah:
1.Tantangan masuk sekolah;
2.Tantangan masuk Perguruan Tinggi; dan
3.Tantangan masuk lapangan kerja.
Untuk lebih jelasnya ke 3 hal di atas, secara sederhana akan diuraikan satu persatu sebagai berikut:

Tantangan masuk sekolah
Sejak akhir tahun 70-an sudah melaui bermunculan satu-persatu di daerah yang menginformasikan bahwa tahun demi tahun anak usia sekolah dirasakan untuk masuk sekolah apakah sekolah dasar ataukah SLTP mapun SLTA ternyata jumlah kursi tidak sebanding dengan jumlah anak yang mau masuk sekolah. Hal ini pasti jauh berbeda.  Dengan kata lain daya tampung sekolah mulai kurang. Sementara penambahan setiap tahun sepertinya tetap tidak terbendung. Sekolah-sekolah swasta dengan tampil seadanya pun di daerah tertentu, juga dengan sangat banyak masih ada yang tak tertampung. Ini sebuah akibat ledakan penduduk masa lalu.
Dalam istilah lain adalah, “Sejak lama di negeri ini”, masuk sekolah ”para calon murid” sudah mendapatkan tantangan yang terkadang di perkotaan terdapat komentar masyarakat ”siapa berduit, ialah yang bakal dapat” dalam meraih pendidikan anaknya yang lebih baik dan kualitasnyapun tidak diragukan.
Namun kita sama maklumi bersama bahwa masyarakat pemukimannya tidak menumpuk di perkotaan. Melainkan mereka sebagian besar penduduk negeri ini, bertempat tinggal di pedesaan. Kita sama maklumi  tidak seluruh desa terlebih masa lalu terdapat sekolah dasar. Sehingga tidak menutup kemungkinan ada warga masyarakat kita yang karena sesuatu dan lain hal selama hidupnya, tidak sempat mengenyam atau menikmati dunia pendidikan formal. Atau bersekolah.
Fasilitas pendidikan di atas tidak saja untuk sekolah dasar. Padahal wajib belajar kita tidak lagi Wajar 6 tahun. Tapi sudah bergeser ke 9 – 12 tahun. Sementara gedung SMP dan SLTA belum juga tersedia hingga anak mau belajar ke SMP dan SLTA terkendala. Hal ini menuntut agar kita dapat memikirkan bersama masalah tersebut. Karena kesempatan pendidikan yang ada di negeri kita disebabkan fasilitas pndidikan yang masih dirasakan kurang. Dipihak lain menurut M. Saad Arfani (2011) ia mengungkapkan bahwa: ”...jauhnya sekolah jadi penyebab anak-anak pedesaan tak melanjutkan pendidikan...”. kalimat di depan sungguh di temukan di mana-mana baik di daerah kita maupun di daerah lain.
Hal seperti di atas, tidak saja dirasakan di pedesaan. Tapi di perkotaan sekalipun penduduk kita yang fasilitas pendidikan sudah dianggap mendekati cukup, namun masih ditemukan penduduk kota yang belum berkesempatan mecicipi pendidikan formal. Sehingga pemulis berasumsi tidak tuntas pendidikan ini, kalau hanya dipikirkan dan di fasilitas Cuma pada pendidikan formal. Peran pendidikan non formal, ternyata sangat penting, namun  karena ketidak mengertian, ketidak fahaman mereka yang didudukkan pada bidang pendidikan non formal. Maka hal-hal di atas, tidak bisa dituntaskan. Alasan yang penulis asumsikan adalah mereka yang ditempatkan pada Subdin/Bidang pendidikan non formal masih tidak profesional. Penempatan sarjana “...atau tenaga yang bukan ahlinya, tunggu kehancurannya...”.

Tantangan Pemuda masuk Perguruan Tinggi
Kalau kita melihat mulai munculnya istilah: “UMPTN” yang kepanjangannya adalah Ujian masuk perguruan tinggi negeri ini, digulir juga sejak tahun 80-an juga. Yang terkadang anak lulusan SLTA yang mau masuk perguruan tinggi tujuan Bandung, ternyata tes-nya lulus di Palangka Raya. Kenapa demikian seperti uraian ini masyarakat turut berpartisipasi menyelenggarakan pendidikan tinggi. Ternyata perguruan tinggi swasata tidak masuk UMPTN sehingga dengan tidak diperkirakan sebelumnya ia harus kuliah di Unpar-Universitas Palangka Raya. Karena di kota Bandung juga ada perguruan tinggi diberi nama Unpar. Tapi punya yayasan swasta.
Dengan seleksi yang relatif ketat disertai beratnya persaingan, 1 berbanding 15 maka tidak menutup kemungkinan calon mahasiswa yang kapasitasnya bila dibawah standar dengan sangat menyesal terpaksa harus tidak lulus pada jurusan/program studi pilihannya. Karena dengan system seleksi sekarang calon dari sumatera utara, Aceh, Papua, Sulawesi dan berbagai provinsi di Jawa dengan mudah lulus di Unpar. Sementara putra daerah, hanya gigit jari. Karena ada dugaan standar pendidikan yang ada di provinsi kita relatif rendah. Mudah-mudahan mulai terjadi perbaikan masa sekarang dan masa datang. Sehingga standar kita sama dengan kawasan yang lebih maju.
Kita sama maklumi bahwa dalam 20 tahun terakhir, sudah dirasakan di tanah air kita bahwa tes masuk perguruan tinggi negeri sungguh dirasakan betapa sulitnya. Namun seleksi ini, semakin tahun semakin tambah berat. Sehingga upaya memberikan berbagai pendidikan luar sekolah atau pendidikan non formal pada lembaga kursus pada bidangnya oleh orang tua kepada anaknya sungguh memberatkan biaya. Terlebih biaya yang diperlukan. Ada kalanya sang anak kurang perhatian, tapi orang tuanya justru sibuk mendaftar anak untuk kursus itu dan ini, dengan tujuan bahwa anaknya berhasil lulus dalam seleksi masuk perguruan tinggi.

Tantangan masuk lapangan kerja
Kaum generasi muda dewasa ini menghadapi masa sulit, sebagai akibat ledakan pendudukan di negeri kita masa lalu sangat tinggi. Hal itu memberikan efek negatif kepada generasi mncari kerja dimasa sekarang.
Selain hal di atas, bergulirnya era reformasi, yang selama ini, kurang mendukung terhadap kebijakan masa lalu. Ebagai contoh yang sdr boleh perhatikan. Kebijakan masa lampau, dinas pendidikan yang doeloe disebut Kantor Wilayah Pendidikan. Kepala Katornya paslu lulusan ”alumnus” IKIP atau FKIP. Dewasa ini ternyata dapat diduduki oleh bukan kesarjaan itu. Sehingga pastilah ada bagai perahu layar putus kemudi. Contoh lain dengan kebebasan dewasa ini, bisa terjadi juga kepala Rumah Sakit dipimpin oleh bukan dokter. Kepala Kejaksaan bisa dipimpin oleh orang yang bukan Sarjana Hukum. Jika hal itu terjadi, apa yang bakal terjadi. Ini sebagai bukti derasnya arus reformasi.
Sekarang bagaimana dengan tantangan pada sarjana sekarang. Ada dugaan kemudahan yang muncul dari pihak penentu kebijakan, seperti: penerimaan calon pegawai negeri diusulannya sangat tidak sesuai dengan tenaga kerja pada bidang-bidang yang ada di instansi yang di pimpinnya. Karena ada indikasi untuk menolong keluarga


Tantangan Harga Diri
Dalam menghadapi perkembangan dunia lebih dekat. Sehingga setelah ia masuk, apa yang harus ia kerjakan. Karena KKN-nya sudah bisa kemunculkan Korupsinya.

Pemuda pelopor bisa juga ia melepaskan diri dari perbuatan yang melanggar budaya, agama dan kebiasaan di masyarakat yang bersifat negatif seperti:
Menghindari 5 M + 1 P untuk lebih jelasnya adalah:
  1. Minun;
  2. Main;
  3. Madat;
  4. Madon;
  5. Maling dan;
+   Polisi
Jika bisa mengajak sesama pemuda, remaja untuk tidak berbuat 5 M di atas, maka pemuda itu bisa disebut juga sebagai seorang pemuda pelopor.

Selangkah ke hadapan, Menanti masa depan

Di bagian ini sebuah cerita tentang pengamalan seseorang terhadap sebuah peristiwa pada dirinya yaitu: semalam genaplah usiaku menjangkau 31 tahun. Aku menerima lebih 40 ucapan dan doa sempena tarikh kelahiranku semalam daripada rakan kenalan yang dihantar melalui media sosial, Facebook. Tidak kurang juga yang mengucapkan "Selamat Hari Lahir" melalui mesej secara personal di Facebook, Whatsapp dan sistem pesanan ringkas (sms).
Walaupun tiada sambutan diadakan, maupun hadiah istimewa diterima, tetapi saya bersyukur kerana masih ramai rakan dan kenalan yang mengingati dan ringan jari untuk memberi ucapan khas untuk kelahiranku. Ia merupakan satu daripada kesan media sosial, Facebook, yakni dapat berhubung melalui alam maya dan boleh mengetahui tarikh (sejarah) kelahiran rakan kenalan kita.
Disaat nyawaku masih berfungsi, nadiku masih berdenyut, nafasku masih menghembus, akalku masih waras, dan pancainderaku masih sempurna, aku ingin mengucapkan penghargaan dan terima kasih kepada sahabatku, Sdra Mohd Nizar Hamild dan isteri beliau, Sdri Kasmah Sulo kerana sudi meluangkan masa untuk meraikan hari kelahiranku di sebuah restoran di bandar Tawau semalam. Walaupun ianya ringkas tetapi ia begitu bermakna bagi aku.
Sebenarnya, aku tidak kisah samada kedatangan tarikh kelahiran ini diraihkan atau tidak. Pun begitu, sejak umur meningkat ini, semacam ada rasa ingin diri ini hargai dan diingati. Mungkin ianya normal. Terima seadanya.
Sekali lagi aku ucapkan terima kasih dan penghargaan kepada semua rakan, kenalan, sahabat handai dan keluarga yang menyokong perjalanan hidupku yang baru bermula ini. Secebis kasih, cinta dan sayang ku berikan kepada kalian semua. Semoga apa yang didoakan oleh kalian itu dimakbulkan oleh Allah S.W.T. Insya ALLAH, melangkah ke satu lagi tangga usia baharu tentunya ada matlamat dan objektif kehidupan yang perlu dipenuhi. Usaha, tekad dan iltizam berterusan tanpa putus asa akan diteruskan demi mencapai matlamat dan objektif agar kejayaan dapat dikecapi. Insya ALLAH.

Mutu Pendidikan dan Daya Saing Bangsa
Setiap bangsa tentu mempunyai visi tentang masa depan. Visi itu biasanya tergambar pada berbagai rencana strategis yang telah ditetapkan. Tetapi gambaran masa depan yang ada dalam rumusan visi pengembangan tetap saja tidak cukup untuk meyakinkan satu bangsa tentang masa depannya, karena ketepatan dan keterwujudan satu visi sangat tergantung pada agenda-agenda pengembangan yang menyertainya, dan efektifitas dari agenda-agenda tersebut sangat ditentukan oleh validitas data, ketepatan perhitungan, dan akurasi prediksi. Salah satu cara yang sangat mudah untuk memprediksi masa depan satu bangsa adalah dengan berkaca pada sistem pendidikannya. Melihat dan memahami sistem pendidikan satu bangsa sama halnya dengan meneropong masa depan bangsa tersebut. Apa yang terjadi hari ini dalam sistem pendidikan satu bangsa mencerminkan apa yang akan terjadi pada bangsa tersebut di masa yang akan datang.
Bangsa yang memiliki sistem pendidikan bermutu dapat diperkirakan akan menjadi bangsa yang kuat dan berdaya saing tinggi. Sebaliknya, bangsa yang sistem pendidikannya tidak bermutu dapat diperkirakan akan menjadi bangsa yang lemah. Dengan sistem pendidikan bermutu, satu bangsa tidak hanya mampu mengubah peruntungannya untuk menjadi bangsa yang lebih baik, tetapi juga akan mampu mengubah dunia. “Education,” kata Nelson Mandela, “is the most powerful weapon which you can use to change the world.”  Sebaliknya, bangsa yang sistem pendidikannya amburadul atau karut marut akan menjadi bangsa pesakitan, tanpa keunggulan, martabat, dan kedaulatan. Bangsa seperti ini akan selalu kalah sebelum berperang dan gampang dijajah oleh bangsa-bangsa lain. Jangankan mengubah dunia, bangsa seperti ini tidak akan mampu mengatasi masalahnya sendiri.
Sistem pendidikan yang bermutu akan melahirkan generasi muda bangsa yang bermutu pula, yaitu generasi muda yang beriman, berilmu, dan berkarakter, yang mampu menjalankan tugas dan tanggung jawabnya dengan baik, memahami berbagai permasalahan yang dihadapi bangsanya, dan memiliki komitmen serta kompetensi tinggi untuk mengatasi permasalahan yang dihadapi bangsanya. Generasi muda bermutu akan menjadi bagian dari pemecahan masalah (part of problem solvers) bagi bangsanya. Pada saatnya, generasi muda bangsa yang beriman, berilmu, dan berkarakter akan menjadi pemimpin yang visioner dan mampu menginspirasi bangsanya untuk terus bekerja keras dan cerdas, dengan penuh semangat, motivasi, komitmen, dan disiplin tinggi. Mereka akan menjadi agen perubahan (agent of change) dan lokomotiof pengembangan bagi bangsanya menuju destinasi masa depan yang lebih baik, sebagai bangsa yang unggul, berdaulat, bermartabat, dan berperadaban tinggi.
Sebaliknya, sistem pendidikan yang tidak bermutu akan melahirkan generasi muda bangsa yang tidak bermutu pula, yaitu generasi yang tidak beriman, tidak berilmu dan tidak berkarakter. Generasi muda seperti ini tidak punya visi yang jelas tentang masa depan bangsanya. Mereka tidak memahami siapa dirinya, permasalahan bangsanya, dan apa yang harus dilakukan untuk bagsanya. Mereka akan selalu menjadi bagian dari masalah (part of the prolems). Ketika kelak menjadi pemimpin, generasi bangsa yang tidak bermutu akan menjadi pemimpin yang selalu ragu, cemas, dan berkeluh kesah, karena tidak memahami apa yang terjadi, tidak tahu pasti apa yang sebaiknya dan seharusnya dilakukan, dan selalu tidak siap menerima resiko dari keputusan dan tindakannya. Para pemimpin seperti ini tidak akan mampu menjadi penyemangat dan inspirator bagi bangsanya untuk maju dan berubah. Mereka hanya akan berkeluh kesah, saling menyalahkan, dan meratapi setiap permasalahan. Mereka tidak punya landasan idiil untuk menatap masa depan bangsanya. Mereka tidak punya karakter untuk secara disiplin, konsisten, adil, dan bertangung jawab memperjuangkan kepentingan bangsanya. Mereka tidak punya agenda strategis untuk mengubah peruntungan bangsanya. Pada saatnya para pemimpin seperti ini hanya akan mewariskan bangsa yang “penakut,” “peniru,” dan “pengekor,” yang masa depannya ditentukan atau didikte oleh bangsa lain, sehingga lambat laun akan menjadi bangsa yang “tergadai” dan “terjajah.”
Hubungan antara mutu sistem pendidikan kita hari ini dan masa depan bangsa kita sangatlah jelas dan akan terbukti. Hubungan tersebut dilandasi oleh logika yang sangat sederhana, bahwa pendidikan bermutu akan melahirkan SDM bermutu pula, dan SDM bermutu dapat diandalkan untuk mengatasi berbagai persoalan bangsa, dan untuk membangun peradaban bangsa. Dengan logika tersebut, jelaslah bahwa pendidikan yang bermutu adalah elan vital bagi kemajuan satu peradaban. Bangsa-bangsa berperadaban tinggi adalah bangsa-bangsa yang memiliki sistem pendidikan sangat bermutu. Membangun sistem pendidikan bermutu adalah satu-satunya cara untuk membangun bangsa yang kuat dan berperadaban tinggi.

Pendidikan sebagai Prioritas Utama
Bagi para pemimpin yang visioner dan memiliki karakteristik kenegarawanan, kepentingan pendidikan adalah hal yang paling utama. Pendidikan menjadi “panglima” dalam agenda-agenda besar mereka, selalu menjadi prioritas utama dalam kebijakan-kebijakan mereka. Visi ini dimiliki oleh banyak pemimpin di dunia, antara lain Tony Blair, mantan Perdana Menteri Inggris. Setiap kali ditanyakan tentang prioritas utamanya, pria yang memiliki nama lengkap Anthony Charles Lynton Blair ini selalu menjawab: "Education, education, education." Selama menjadi Perdana Menteri Inggris, Blair menambah dana pendidikan, memperbaiki dan mengupgrade sarana dan prasarana pedidikan, mengintegrasikan TIK dalam sistem pelayanan pendidikan, meningkatkan jumlah tenaga pendidik dan kependidikan dan menaikkan gaji mereka.
Pada masa kepemimpinan Tony Blair, jumlah penambahan tenaga pendidik dan kependidikan di Inggris melebihi jumlah penambahan tenaga kerja dalam bidang militer. Pada masa itu, hampir 75% dari pekerja di Inggris adalah tenaga pendidik dan kependidikan, sehingga rasio guru-murid di Inggris menjadi satu berbanding 11, jauh lebih baik dari rasio guru-murid di negara-negara maju lainnya, seperti Amerika Serikat, dimana rasio guru-murid adalah satu berbanding 24. Meskipun belum sepenuhnya berhasil meningkatkan prestasi anak-anak di Inggris dan mengatasi berbagai permasalahan pendidikan di negaranya, komitmen dan kemauan politik Tony Blair untuk kemajuan pendidikan patut diapresiasi dan diteladani.
Visi pendidikan Blair juga dimiliki oleh para pemimpin dunia lainnya. Mantan Presiden Amerika Serikat, George W. Bush, misalnya, menegaskan bahwa satu-satunya cara bagi satu bangsa untuk dapat bersaing di abad ke-21 ini adalah dengan membangun sistem pendidikan yang bermutu. Dalam ungkapan beliau: “You see, we’ll never be able to compete in the 21st century unless we have an education system that doesn’t quit on children, an education system that raises standards, an education that makes sure there’s excellence in every classroom.” Bagi Bush, membenahi sistem pendidikan adalah langkah awal sebagai titik tolak bagi langkah-langkah berikutnya untuk mengatasi berbagai persoalan bangsa. Dia mengatakan: “Think about every problem, every challenge, we face. The solution to each starts with education.” Berbagai persoalan sosial, ekonomi, dan politik yang melanda satu bangsa, seperti kemiskinan, keputusasaan, kepasrahan, dan ketidaksabaran, dan kebodohan, umumnya bermuara pada satu hal, yaitu sistem pendidikan, sehingga hanya dapat diatasi melalui penataan sistem pendidikan dan meningkatkan efektifitas lembaga-lembaga pendidikan. “He who opens a school door,” kata Victor Hugo, “closes a prison”.
Ada hubungan yang erat antara sistem pendidikan dan sistem politik di satu negara. Sistem pendidikan akan mewarnai sistem politik, dan begitu juga sebaliknya, sistem politik akan mewarnai sistem pendidikan. Realitas sistem pendidikan satu bangsa adalah refleksi dari realitas sistem politiknya, dan realitas sistem politik satu bangsa adalah refleksi dari sistem pendidikannya. Karut marut kehidupan politik adalah bukti paling autentik dari kegagalan sistem pendidikan, dan karut marut sistem pendidikan adalah bukti autentik dari kegagalan sistem politik. Pendidikan dan politik bahu membahu membentuk karakter satu bangsa dan mewarnai masa depannya. Bersama-sama, pendidikan dan politik membentuk dan mewarnai cara berpikir, bersikap, dan bertindak satu bangsa. Wajah bangsa kita hari ini adalah refleksi dari wajah pendidikan dan politik kita pada masa lalu, dan wajah bangsa kita di masa yang akan datang dapat kita bayangkan pada wajah pendidikan dan politik kita hari ini.

Nilai Strategis Pendidikan
Ada 6 nilai strategis yang membuat pendidikan begitu penting bagi satu bangsa dan menentukan masa depannya:
Pertama, pendidikan adalah katalisator untuk mengubah informasi menjadi ilmu pengetahuan, baik pengetahuan yang ada dalam buku-buku teks, maupun pengetahuan yang ada dalam kehidupan. Pendidikan mengingatkan kita bahwa segala sesuatu ada ilmunya, dan dengan ilmu, kita dapat melakukan pencerahan (enlightenment) dan membuat setiap individu memiliki rasa percaya diri (self confidence) untuk mengambil setiap keputusan, menghadapi kehidupan, dan untuk menerima keberhasilan dan kegagalan. Ilmu pengetahuan adalah kekuatan (knowledge is power) yang dapat menjadi senjata pamungkas untuk menaklukkan medan kehidupan menuju masa depan. Kekuatan dan daya saing satu bangsa tidak ditentukan oleh uang dan senjata, tetapi ditentukan oleh mutu sistem pendidikan dan tingkat penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi. Bangsa yang menguasai dunia saat ini dan akan menguasai dunia pada masa yang akan datang, bukanlah bangsa yang memiliki persenjataan lengkap, tetapi bangsa yang memiliki sistem pendidikan bermutu tinggi dan menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi.
Kedua, pendidikan adalah jendela dunia (window of the world). Pendidikan menuntun kita untuk menjelajah, memahami, dan memaknai dunia di sekitar kita. Dari penjelajahan, pemahaman, dan pemaknaan itu kita akan mendapatkan perspektif untuk menjalani kehidupan dan mengembangkan pemikiran serta pandangan tentang hal-hal yang ada dalam kehidupan kita. Dalam konteks ini, pendidikan membuat kita memiliki kemampuan untuk menginterpretasi berbagai hal yang ada di sekitar kita dengan benar. Pendidikan yang baik menjauhkan kita dari berbagai illusi dan menghapus semua bentuk keyakinan yang salah dalam pikiran kita. Pendidikan membantu kita menciptakan gambaran yang jelas dan menghapus kebingungan kita tentang segala sesuatu yang ada di sekitar kita. Pendidikan mengungkap berbagai pertanyaan dan juga membantu kita mendapatkan jawaban yang tepat untuk pertanyaan-pertanyaan tersebut.
Ketiga, pendidikan adalah jendela kesempatan (window of opportunities). Pendidikan mengembangkan potensi diri kita dan membekali kita dengan berbagai kompetensi dan karakter yang kita butuhkan untuk mewujudkan mimpi-mimpi kita. Kompetensi dan karakter secara bersama-sama membuka pintu-pintu kesempatan bagi kita untuk menentukan dan mengembangkan karir, dalam rangka merenda masa depan yang kita inginkan. Semakin baik dan strategis pendidikan yang kita dapatkan, maka akan semakin baik dan strategis pula jendela kesempatan yang terbuka untuk kita. Semua jenis pekerjaan membutuhkan orang-orang yang terdidik (well-educaed), yaitu orang-orang yang berilmu (knowlegable), terampil (skillful), kreatif, innovatif, dan berkarakter. Menurut Jean Piaget (1896-1980), seorang ahli psikologi kognitif (cognitive psychologist) asal Swiss,the principal goal of education is to create men who are capable of doing new things, not simply of repeating what other generations have done” (tujuan utama pendidikan adalah utuk menghasilkan manusia yang mampu mengerjakan sesuatu yang baru, tidak hanya mengulang apa-apa yang telah dilakukan oleh generasi sebelumnya).
Keempat, pendidikan adalah sarana mobilitas sosial. Semua bentuk kualifikasi, kompetensi, dan prestasi yang diraih melalui pendidikan adalah energi positif yang akan mendorong seseorang ke posisi sosial tertentu. Pendidikan yang baik akan memberikan kompetensi keilmuan dan ketrampilan yang baik, lalu kompetensi keilmuan dan keterampilan yang baik akan membuka kesempatan bagi pekerjaan atau profesi yang lebih baik, pekerjaan atau profesi yang lebih baik tentu saja menjanjikan insentif atau kepercayaan (trust) lebih baik pula, dan tingkat pengakuan yang terus meningkat akan menaikkan status sosial.  
Kelima, pendidikan adalah kebutuhan dasar manusia (basic human needs). Setiap warganegara membutuhkan pendidikan dan harus diberi akses pendidikan (education for all), dan semua komponen bangsa harus berpartisipasi dalam meningkatkan mutu pelayanan pendidikan (all for education). Mengabaikan hak-hak pendidikan warga negara dan tidak memberikan kontribusi apapun dalam kegiatan pendidikan adalah sebuah tindakan yang egois dan tidak bertanggung jawab. Jika kebutuhan pendidikannya dipenuhi, maka rakyat akan siap untuk berubah dan membangun. Sebaliknya, jika kebutuhan pendidikannya tidak terpenuhi masyarakat tidak akan siap untuk berubah, apalagi membangun. Masyarakat yang tidak terdidik akan mudah frustasi, pemarah, dan cenderung apatis terjhadap lingkungannya.
Keenam, pendidikan adalah peta jalan (road map) menuju masa depan. Setiap individu, masyarakat, dan bangsa membutuhkan pendidikan sebagai peta jalan (road map) untuk menyongsong masa depan. Pendidikan membuka mata kita tentang corak masa depan yang bagaimana yang seharusnya kita wujudkan, mengapa kita harus menuju ke sana, jalan mana yang harus kita tempuh untuk tiba di sana, dan bagaimana atau dengan kendaraan jenis apa seharusnya kita menuju ke sana.

Berani Menatap Masa Depan

Ada beberapa sebagian orang yang ketika berhadapan dengan tahun yang baru, biasanya akan membuat semacam resolusi atau impian yang ingin diwujudkan. Namun ada juga beberapa yang menganggap biasa-biasa saja. Iyaah, memang itu semua bergantung pada masing-masing orang. Tapi kalau saya sih sebenarnya sependapat dengan orang-orang yang mau membuat semacam target atau resolusi seperti itu. Tujuannya iyaa mudah-mudahan dengan begitu setiap tahunnya nanti akan ada perubahan yang lebih baik pada diri kita. Kan bagus tuh, bisa untuk jadi motivasi + bahan untuk evaluasi diri.
Nah, disaat ada waktu luang kitapun iseng-iseng nyoba belajar desain poster. Sebenarnya ini pun karena waktu itu saja ada dimintain tolong buat poster untuk tugas kampus temen. Abis dari situ saya malah jadi pengen juga buat poster untuk saya sendiri. Dan berikut ini dia hasilnya :
Konsepnya adalah disitu kita sedang berpikir serius dan seolah-olah sedang menatap sesuatu. Echeknya mari bila kita sedang membayangkan tentang masa depan begitu. Sekiranya di tahun 2014 ini nanti perjalanan bagaimana yang akan saya perjuangkan. Secara garis besar, yang saat ini saya rasa benar-benar menjadi bagian dari passion saya adalah dua hal, yaitu Dunia Entrepreneur dan Ilmu Design.
Walaupun saya belum begitu ahli di bidang yang dua itu, tapi setidaknya saya punya beberapa target untuk bisa berhasil disitu nantinya. Semampunya saya akan mencoba terus belajar dan belajar. Tentu juga sambil dibarengi dengan praktek, praktek dan praktek. Masalahnya, kedua bidang itu memang terlepas dari ilmu yang sedang saya pelajari di bangku kuliahan. Mungkin agak gak nyambung juga kan saya anak Teknik Listrik.
Tapi kalau saya pikir-pikir sih gak ada salahnya. Pun kalau kita memang merasa punya kemampuan lain yang juga menonjol, gak mungkin dipendem-pendem terus kan? Bagi kita sebenarnya Pendidikan Formal itu bukan lah segalanya. Yang jauh lebih penting adalah bagaimana kita untuk bisa memaksimalkan segala potensi yang ada dari dalam diri kita. Paling iya susah-susah dikit lah untuk membagi waktu agar semuanya bisa berhasil berjalan dengan sekaligus. Ternyata pendidikan non formal sangat membantu dalam penyelesaian di luar pendidikan formal.

Meniti Karier Demi Masa Depan

Perjalanan karir menurut Rizal diibaratkan sebagai usaha menabung dalam menanti sebuah masa depan yang diinginkan, karena menabung dalam berkarir merupakan segi awal meraih cita-cita. Background pendidikan saat ini, menjadi bahan perbincangan para perusahaan saat memilih kandidat baru yang capable. Faktor pendidikan dengan lulusan ternama menjadi point plus. Dengan memiliki ijazah sarjana merupakan momentum awal dalam meniti karir. Gambaran ini menjadi tolak ukur awal yang dapat diartikan sebagai perencanaan karir di awali dengan faktor pendidikan. Perencanaan  meniti karir dimulai sejak awal dalam memandang sejauh mana kita merencanakan.

Dalam kehidupan Anda harus memiliki target akan pencapain yang mencakup 3 prinsip yaitu visi, misi dan tujuan. Bagaimana Anda melihat diri Anda, diri Anda sendiri dalam melihat sisi kehidupan, profesi, serta hubungan Anda 5 tahun yang akan datang?

Value Kepribadian
Mencapai sukses harus didukung dengan motivasi pada diri sendiri. Sebagai contoh, dalam lingkungan sosial apakah Anda rela mementingkan kepentingan orang lain dari pada kepentingan Anda pribadi, dalam hal membantu lingkungan dan orang-orang disekitar Anda.

Skill & Expertise 
Setiap individu memiliki kemampuan dan keahlian yang berbeda-beda, kenali kepribadian seperti apa yang Anda miliki? Sebagai contoh, apakah Anda adalah seorang yang sering berkata jujur, terbuka dan antusias. Maksimalkan keahlian yang Anda miliki saat ini, karena hal ini menjadi sangat berguna dalam aktivitas Anda sehari-hari dan pekerjaan anda nantinya.

Tidak Perlu Khawatir Dengan Kegagalan?

Orang-orang seperti itu menurut Admin, tidak pernah mencoba sesuatu hal yang baru. Namun anda adalah seseorang yang berbeda …… lho dari mana tahu? …. Karena anda berkunjung ke blog saya dan membaca artikel-artikel saya ini, yang berarti anda ingin merubah kehidupan anda menjadi lebih baik dari saat ini. Anda ingin mencari sesuatu hal yang baru yang dapat anda terapkan di kehidupan anda.
Anda mempunyai semangat dan yakin anda juga mempunyai pengalaman hidup yang luar biasa. Mungkin sudah banyak sekali kegagalan yang anda rasakan dan mungkin juga sebagian dari anda sudah sampai pada taraf ragu akan keyakinan anda sendiri untuk meraih apa yang anda inginkan. Mampukah saya? Berhasilkah atau tidak? Sepertinya tidak sanggup lagi menghadapi kegagalan. (lihat juga : Jangan Biarkan Kekurangan Anda Membatasi Diri Anda Untuk Maju).
Hal-hal dibawah ini adalah beberapa point tentang kegagalan yang ingin sharingkan kepada anda. Berkonsentrasi penuh selama 3 hari menyusun artikel ini, mudah-mudahan dapat menjadi sesuatu yang bermanfaat untuk anda. Setidaknya jika ada orang yang sangat terbantu dengan artikel ini, tentu saja akan membuat bahagia karena jerih payah tidak sia-sia.

Menciptakan pilihan-pilihan baru

Mungkin anda tidak dapat menyerap semua pelajaran yang anda terima dari kegagalan anda, namun tetap saja hal tersebut menjadi harta tak ternilai untuk anda. Kegagalan juga menjadi momen yang tepat dimana anda merenungkan kembali tujuan awal anda, melihat di sekeliling dan memutuskan alasan mengapa anda tidak boleh menyerah.

 

Kegagalan melatih kesabaran anda

Jika anda adalah orang yang cepat emosi, apalagi ketika anda mengalami kegagalan, itu adalah satu hal yang sangat alamiah. Seperti rasa hampir semua orang merasakan kekesalan atau kemarahan ketika menghadapi kegagalan. Namun poin yang pentingnya adalah jangan memendam kekesalan atau kemarahan anda.
Poin kedua adalah jangan berusaha mencari hal-hal untuk dijadikan alasan kegagalan anda. Seperti,  tidak mendapat dukungan dari pasangan, ini berakibat tidak mempunyai modal yang cukup, kita tidak mempunyai kendaraan pribadi untuk mobilitas, kita memang dilahirkan dari keluarga yang bermental kecil, dsb.
Sekali anda menjadikan hal-hal tersebut sebagai alasan kegagalan anda, maka itu akan menjadi bagian dalam diri anda. Anda akan membawa alasan itu kemanapun anda pergi sehingga lama kelamaan akan meracuni anda.
Silahkan lampiaskan emosi anda, tentunya dalam batas-batas wajar. Mungkin anda ingin melampiaskannya dengan menangis, menangislah. Mungkin anda ingin melampiaskannya dengan pergi ke cafe untuk mendengarkan life musik, pergilah ke cafe. Atau berolah raga.
Namun cukup sampai disitu. Masa depan yang sangat cerah masih menanti anda. Bangkit dan berjalanlah kembali.

 

Kegagalan merupakan sumber dari kreatifitas

Siapa yang menghendaki kegagalan? Namun jika anda tidak pernah berharap untuk mengalami kegagalan maka pikiran anda tidak dirangsang untuk berkembang.

Kegagal akan mendorong anda menjadi lebih kreatif
Coba anda ingat-ingat kembali masa kecil. Jika anda lupa, anda bisa melihat pada anak anda sendiri atau anak-anak kecil di sekitar anda. Mereka tidak pernah takut akan berbuat kesalahan ataupun mengalami kegagalan. Mereka melakukan semua hal yang ingin mereka lakukan tanpa berpikir panjang resikonya. Kadang mereka jatuh namun dalam sekejap mereka bangkit dan berlari-lari kembali. Mereka kadang menemukan jalan buntu ketika melakukan sebuah permainan namun mereka tidak berhenti, mereka berusaha mencari solusi-solusi yang baru. Akibatnya pikiran mereka begitu kreatif. Kita semua bisa mencontoh pikiran murni mereka yang belum banyak terkontaminasi oleh lingkungan sekitarnya.

 

Kegagalan akan mengoptimalkan potensi anda

Mungkin anda mempunyai seorang ’guru’ dalam hidup anda atau atasan bagi mereka yang berkarir. Kita harus percaya bahwa guru atau atasan yang baik akan mengarahkan anda untuk berani mengambil resiko. Mereka mempunyai suatu keyakinan bahwa pikiran yang konservatif tidak akan membuat potensi diri keluar dengan optimal.
Semakin sering anda mengalami kegagalan, otak anda akan semakin dilatih untuk menghadapi permasalahan dan bagaimana mencari jalan keluarnya.
Kita meyakini bahwa setiap orang memiliki potensi diri yang sangat besar dengan keunikannya masing-masing. Anda dapat mengetahui kedahsyatan potensi yang anda miliki hanya dengan keberanian menghadapi masalah, tidak ada jalan lain.
Anda dapat melihat di salah satu TV swasta yang setiap malam menyiarkan suksesnya tukang bubur naik haji. Ini sebuah cerita kehidupan yang sangat berharga jika kita ingin melihat jalan sukses.

Hidup Sejahtera
Nyaris tidak ada orang yang mau hidup tanpa dengan predikat sejahtera. Namun hal itu ditentukan oleh nasib seseorang. Sebagai generasi penerus bangsa, tentu untuk mencapai hidup sejahtera. Ada 2 hal yang harus diperhatikan untuk mencapai sejahtera: Pertama: tingkatkan kualitas pendidikan dari kebanyakan orang. Bila tingkat pendidikan di atas rata-rata penduduk. Maka kesejahteraan seseorang atau keluarga pasti masa depannya akan lebih sejahtera; Kedua: pelihara kesehatan. Bagi mereka yang memperhatikan kesehatannya dengan baik. Maka angka kesekitan pasti terhindar. Mereka keluarga atau individu yang dapat memelihara kesehatannya dengan baik, tentu ia sejahtera. Sebab memelihara kesehatan dengan baik, tentu hidupnya akan sehat dan sejahtera.
Kedua hal di atas terjadi tidak seluruh mereka yang berpendidikan bidang kesehatan saja. Tapi kita yang tidak berpendidikan dokter atau kesehatan lainnya saja kalau bisa memelihara kesehatan dirinya. Maka tidak pernah sakit, atau kesakitan dapat dikurangi. Berarti masuk dalam kelompok sejahtera.
Dengan demikian kesejahteraan yang dimaksud di sini  tidak terbatas hal di atas saja. Dalam keluarga kecil pada setiap keluarga juga dapat disebut yang sejahtera. Bagaimanapun, dalam keluarga bila jumlahnya anggkotanya besar. Tentu tingkat kesejahteraan keluarga itu akan menyandang beban yang sangat berat. Sehingga tingkat kesejahterannya akan lebih rendah. Dibanding keluarga kecil pasti lebih sejahtera.
Untuk mencapai kesejahteraan bagi masa depan generasi muda, alangkah indahnya sedini mungkin sudah memiliki konsep keluarga kecil sejahtera. Dengan keluarga kecil sejahtera tentu adanya kesamaan konsep antara pasangan suami isteri yang mengatur keturunannya tidak menjadikan beban dalam kehidupan keluarganya. Caranya bila menikah harus memperhitungkan kapan baru mendapatkan momongan. Apa lagi jika penghasilan yang masih sedikit, tentu pengaturan keluarga lebih diperhatikan. Dengan demikian masa depan keluarga itu akan dapat mencapai kesejahteraan yang diidamkan kita semua.

SELAMAT & SUKSES SELALU


Daftar Pustaka

Admin, 2013. Mengapa Anda Tidak Perlu Khawatir Dengan Kegagalan, Artikel Bebas, Jakarta.

Darlan, H.M.Norsanie, 2006. Konsep Dasar Pendidikan Luar Sekolah, FKIP Unpar, Palangka Raya.
------------, 2012. Membangun dan Memberdayakan Pemuda Untuk Menjadi Wirausaha Muda, Kantor Dinas Pemuda dan Olahraga, Provinsi Kalimantan Tengah, Palangka Raya.

Harun, Hasidy, 2012. Selangkah ke hadapan, Menanti masa depan, Surabaya.

Rizal, 2013.Meniti Karier Demi Masa Depan yang Kaya Raya, Artikel, Yogyakarta.
Sirozi, Muhammad, 2013. Sistem Pendidikan Dan Masa Depan Bangsa, IAIN Raden Fatah, Harian Sumatera Ekspress pada tanggal 13 Mei 2013, Palembang.  

Jabatan Fungsional Sebaiknya Banyak Penulis:


PENULISAN KARYA ILMIAH SEBAGAI  SALAH SATU CARA PENGEMBANGAN PROFESI JABATAN FUNGSIONAL

Penulis   :
H. M. Norsanie Darlan
Pendahuluan
Angka kredit  bagi mereka yang memilih jabatan fungsional adalah bagian dari kegiatan pengembangan profesi sebagai seorang guru, pengawas, penilik, perawat dan lainnya merupakan suatu persyaratan wajib untuk meraih kenaikan jenjang jabatan fungsional sebagai guru atau tenaga fungsional lainnya,  yang berada pada pangkat pembina/ golongan IV/a ke atas. Dalam retrospektif pengalaman di lapangan menunjukkan bahwa, membuat karya tulis ilmiah sebagai bagian kegiatan pengembangan profesi yang masih memerlukan lebih banyak penjelasan / pembelajaran secara rinci dari berbagai  pertanyaan yang sering terdengar dan diluntarkan di berbagai kalangan, seperti:

“Apa keterkaitan kegiatan pengembangan profesi dengan karya tulis ilmiah?”.

Selain itu, “Apa dan bagaimana kriteria suatu karya tulis ilmiah, yang dapat disebut sebagai karya ilmiah?”.


Dan “Bagaimana langkah menyusun karya tulis, yang sesuai guna memenuhi kriteria kegiatan pengembangan profesi?” (Suhardjono, 1995).


Buku kecil ini, disusun atas dasar kenyataan di lapangan dalam tahun-tahun belakangan ini, semakin besar ditemukan banyaknya guru, perawat dan pengawas, penilik yang menghadapi kendala dalam upaya kenaikan pangkat mereka selalu tak terselesaikan.  Terlebih bagi kalangan tenaga fungsional guru. Terutama dalam golongan kepangkatan tertentu. Sementara kasus demi kasus dalam kejadian yang sama semakin tahun semakin bertambah. Inilah yang menjadi dasar dari penulisan buku kecil ini.

              Untuk penulisan karya ilmiah ini, sebagai salah satu upaya kenaikan pangkat bagi guru dan pengawas, pnilik, pamong belajar dan lain-lain dalam jajaran yang selama ini,  mereka belum banyak membantu terhadap kelancaran dimaksud. Sehingga dengan diterbitkan buku ini, diharapkan akan dapat membantu mereka baik secara individu maupun kelompok dalam upaya untuk perubahan nasib mereka khususnya melalui kepangkatan, dirasa perlu dibuatkan sebuah petunjuk walau menurut penulis masih sangat sederhana agar dapat membantu mereka mengatasi berbagai kesulitan dalam upaya mengusul kenaikan pangkatnya.


Mengenali Arti Karya Ilmiah
                Untuk menilik terhadap konsep yang tertera pada judul di atas, tentunya kita memerlukan para ahli dalam mengenali hal ini. Untuk itu, kita mengambil pendapat ahli seperti: Poerwadarminto (1986) dan Moeliono (1989) apa yang disebut dengann Karya itu adalah: ”...suatu pekerjaan atau perbuatan seseorang, ciptaan (terutama hasil karangan); dipihak lain, yang disebut karya erat hubungannya dengan berprofesi dalam mengarang, melukis dan sebagainya...”. 
Kemudian bila kita bicara tentang Ilmiah menurut Norsanie Darlan (1983) adalah:”...bersifat secara ilmu pengetahuan; yang memenuhi segala persyaratan (hukum),  dalam ilmu pengetahuan itu sendiri; dalam penerbitan majalah, jurnal, buletin, koran dan sebagainya yang berkembang dengan pesat seperti sekarang ini...”.
Dengan demikian karya tulis ilmiah adalah suatu pekerjaan/ciptaan seseorang dalam bentuk karangan yang disusun dalam tulisan berdasar persyaratan hukum ilmu pengetahuan  yang layak untuk dipublikasikan / diterbitkan pada media atau jurnal tertentu. Dan tidak berbenturan dengan perbuatan plagiatisme.

A. Pengembangan Profesi

1.    Kegiatan yang termasuk pengembangan profesi
                            Untuk mengetahui bagaimana kegiatan pengem-bangan profesi dimaksud ada beberapa hal yang harus diperhatikan meliputi:
a.     Karya tulis/karya ilmiah di bidang pendidikan;
b.    Menemukan teknologi tepat guna;
c.     Membuat alat pengajaran/alat peraga atau alat bimbingan;
d.    Menciptakan karya seni; dan
e.    Mengikuti kegiatan pengembangan kurikulum.
    Untuk memenuhi jumlah angka kredit dari pengembangan profesi ini, anda dapat  memilih kegiatan di antara lima jenis kegiatan  tersebut, sesuai dengan kemampuan masing-masing. Namun, bila seseorang guru merasa mampu menyusun kelima - limanya,    juga   diper-bolehkan. Dan perlu diingat, sesuaikan dengan kemampuan profesi penulisnya masing-masing.

2.         Kegiatan pengembangan profesi
Apabila Anda merasa tidak mampu, tidak perlu bingung atau resah dan tidak perlu memaksakan diri untuk melaksanakan sesuatu yang tidak dapat dilaksanakan.  Hal ini secara jelas tertuang dalam buku petunjuk praktis pengembangan profesi bagi jabatan fungsional guru untuk kalangan Depdiknas (2001;1) Namun akibatnya, kenaikan pangkat/jabatan anda berhenti sampai dengan Pembina (IV/a) selama anda menjadi guru atau jabatan fungsional  misalnya sampai dengan Guru Pembina (IV/a) selama anda menjadi PNS.  Memang dalam sistem angka kredit, contoh seorang guru tidak harus naik pangkat sampai dengan IV/e sebagai seorang Guru Utama.  Pangkat dan jabatan tersebut disediakan hanya bagi guru yang mampu. Apabila  merasa mampu, maka pilihlah kegiatan pengembangan profesi yang anda kuasai, anda dapat membuat karya tulis/karya ilmiah di bidang pendidikan; atau menemukan teknologi tepat guna; atau membuat alat pelajaran/alat peraga; atau alat bimbingan; atau menciptakan karya seni; dan atau mengikuti kegiatan pengembangan kurikulum.  Kalau anda mampu boleh menghasilkan 2 (dua) jenis kegiatan; atau 3 (tiga) jenis kegiatan; atau bahkan kelima-limanya sangat lebih baik. Tetapi bila satu, cukup satu saja, dan jika tidak dapat  apa boleh  buat,   itu   tidak mengapa.   Sebab   jika   kita memaksakan, kemungkinan juga akan dapat merugikan diri kita sendiri.

3.    Menulis karya ilmiah, jenis karya tulis/karya ilmiah bidang pendidikan
                             Jenis karya tulis/karya ilmiah bagi guru, pengawas, penilik, pamong belajar, perawat dan jabatan fungsional lainnya adalah sebagai berikut:
a.     Karya tulis/ilmiah hasil penelitian, pengkajian, survey, dan atau evaluasi.
b.     Karya tulis/makalah berupa tinjauan atau ulasan ilmiah hasil gagasan sendiri.
c.     Tulisan ilmiah populer.
d.     Prasaran berupa tinjauan, gagasan atau ulasan ilmiah yang disampaikan pada pertemuan ilmiah.
e.     Buku pelajaran atau modul.
f.      Diktat pelajaran.
g.     Mengalihbahasakan buku pelajaran/ karya ilmiah (Jangan plagiat).
h.     Buku Sumber (Daftar Pustaka)
                                Bagi tenaga yang berprofesi selain guru, tentu ia akan menyesuaikan dengan  bidang kajian Masing-masing yang ada di tempat tugasnya bagi jabatan fungsional dimaksud.

4.    Cara memilih di antara 7 (tujuh) jenis karya tulis ilmiah
          Dari 7 jenis karya tulis ilmiah tersebut di atas, anda dapat memilih karya tulis ilmiah yang anda merasa paling mampu membuatnya menulisnya.
               
5.    Tidak wajib membuat 7 jenis karya ilmiah
                                       Dari 7 jenis karya ilmiah tersebut seorang guru atau tenaga fungsional lainnya, tidak diwajibkan membuat seluruhnya, Anda dapat memilih salah satu atau lebih di antara 7 (tujuh) jenis karya tersebut yang anda merasa paling menguasainya.  Apabila anda tidak menguasai dan tidak mempunyai keahlian untuk itu, anda tidak perlu memaksakan diri untuk membuatnya karena akan memboroskan waktu, tenaga dan pikiran. Dan sebaiknya lebih baik anda mempelajarinya dahulu metodologi penulisannya, baru mencoba untuk menulisnya.

6.    Cara membuat karya tulis/karya ilmiah
Sebelum menulis karya tulis/karya ilmiah, bacalah Pedoman Penyusunan karya Ilmiah di Bidang Pendidikan dan Angka Kredit Pengembangan Profesi: “Terbitan Ditjen Dikdasmen, Depdikbud tahun 1995” yang biasanya tersedia di sekolah-sekolah atau petunjuk lainnya yang dapat dijadikan acuan asal berpanduan pada petunjuk penulisan ilmiah. Sebagai bahan untuk menambah wawasan calon penulis, juga disarankan untuk tidak terfokus pada buku pedoman tersebut saja. Buku pedoman tersebut hanya merupakan salah satu sumber bacaan. Disarankan untuk membaca buku sumber lainnya yang ada hubungannya dengan cara dan teknis penulisan karya ilmiah sebagai rujukan. Ini sangat penting dan memberikan pengayaan yang tak terhingga manfaatnya.
                                       Apabila mengalami kesulitan, bisa berdiskusi dengan teman-teman sejawat atau menanyakan kepada orang lain yang memiliki keahlian bidang karya ilmiah seperti dengan para dosen di perguruan tinggi, peneliti dan sebagainya. Karena mereka juga naik pangkat dengan cara angkat kredit, terlebih yang sudah berstatus Guru Besar.

B. Penyusunan karya Tulis Ilmiah

1.    Cara menulis karya ilmiah hasil penelitian,
     pengkajian survey dan atau evaluasi
                                       Dalam menulis karya ilmiah hasil penelitian, sebaiknya anda mempertimbangkan titik perhatian anda yang diperkirakan dapat dilakukan.  Apabila anda termasuk guru, pengawas, penilik, pamong Belajar yang senang hitung-menghitung atau lebih percaya pada angka-angka, anda dapat memilih jenis penelitian kuantitatif sebagai metode pengumpul data. Dan apabila anda termasuk orang yang senang pada penelitian yang bersifat mendalam, tidak begitu saja percaya pada angka-angka, maka anda dapat memilih jenis penelitian kualitatif sebagai metode pengumpul data dan sebagainya.

2.     laporan hasil penelitian
Laporan hasil penelitian dapat dituangkan dalam bentuk buku, dalam majalah ilmiah atau dalam bentuk makalah dapat di uraikan secara singkat termasuk angka perolehan kredit sebagai berikut.

a. Karya Tulis Dalam bentuk buku
                Apabila laporan hasil penelitian dalam bentuk buku yang dipublikasikan atau diedarkan secara nasional, minimal dicetak  sebanyak 300 eksemplar dan diedarkan minimal ke 13 provinsi di Indonesia, maka angka kreditnya 12,5
           setiap karya.  Tetapi apabila laporan dalam bentuk buku yang tidak dipublikasikan tetapi didokumentasikan di perpustakaan sekolah dibukti-kan dengan surat keterangan dan disyahkan oleh organisasi profesi atau organisasi ilmiah tingkat kabupaten/kota maka angka kreditnya 8 setiap karya.

b. Karya Tulis Dalam majalah ilmiah
                Apabila laporan hasil penelitian tersebut ditulis dan diterbitkan dalam majalah ilmiah, majalah tersebut diakui oleh Depdiknas atau LIPI atau dikelola oleh LPTK atau organisasi profesi tertentu, dan bila demikian,  betul-betul yang bersangkutan penulisnya. Maka akan mendapatkan 6 angka kredit setiap karya tulis ilmiah.

c. Karya Tulis Dalam bentuk makalah
Apabila laporan hasil sebuah penelitian, yang ditulis dalam bentuk makalah. Maka harus didokumentasikan di perpustakaan sekolah atau perpustakaan lainnya dengan surat keterangan dan disyahkan sekurang-kurangnya oleh organisasi profesi atau organisasi ilmiah tingkat kabupaten/ kota.  Dalam bentuk makalah, tentu harus ada surat permintaan dari panitia seminar. Bila karya tulis itu demikian, maka akan mendapat 4 angka kredit setiap karya tulisnya.

3.    Karya tulis/karya ilmiah yang dapat dinilai angka kreditnya
Karya tulis ilmiah yang dapat dinilai angka kreditnya adalah karya tulis ilmiah yang dibuat/disusun setelah periode penilaian terakhir.
Contoh:
Pada bulan Juni 1999, anda mengajukan usul kenaikan pangkat/jabatan untuk dinilai pada periode penilaian Juni 1999, dan penetapan angka kreditnya pada tanggal 1 Juli 1999.  Dalam hal demikian, karya tulis ilmiah anda yang dapat dinilai angka kreditnya adalah setelah tanggal 1 Juli 1999;

4.    Kerangka penulisan laporan hasil penelitian
  Ada beberapa jenis kerangka penulisan ilmiah yang dipakai dalam penulisan laporan hasil penelitian.  Namun isi laporan hasil penelitian sekurang-kurangnya akan memuat:
a.        Judul penelitian;
b.       Latar belakang dan masalah;
c.        Tujuan penelitian;
d.       Kajian teori/tinjauan pustaka;
e.       Metodologi penelitian;
f.         Hasil penelitian;
g.        Analisis hasil penelitian; dan
h.       Kesimpulan dan saran.
i.         Daftar pustaka
  Untuk mempermudah bagi pembaca yang sibuk dalam kegiatan tertentu, sebaiknya dimasukkan sebuah abstrak di letakkan pada lembaran depan agar pembaca tidak kesulitan untuk mengetahui apa isi laporan ilmiah itu. Sedangkan isinya abstrak terdiri dari: tujuan, metode dan hasil (kesimpulan). Abstrak cukup 1 (satu) halaman.

5.    Cara menulis karya tulis/makalah berupa tinjauan atau ulasan ilmiah hasil gagasan sendiri?
  Karya tulis berupa tinjauan atau ulasan ilmiah hasil gagasan sendiri dapat ditulis dalam bentuk buku, dalam majalah, dan dalam bentuk makalah, adalah:

a.        Dalam bentuk buku
                Apabila karya tulis tinjauan atau ulasan ilmiah ditulis dalam bentuk buku yang dipublikasikan atau di edarkan secara nasional atau disebarluaskan minimal ke 13 provinsi di Indonesia dan dicetak minimal 300 eksemplar, maka angka kreditnya adalah 8 setiap karya.  Tetapi apabila tidak diedarkan, maka buku tersebut harus disyahkan oleh organisasi profesi atau organisasi ilmiah tingkat kabupaten/kota seperti PGRI, PPN, dan harus didokumentasikan di perpustakaan sekolah dengan surat keterangan, dan angka kreditnya adalah 7 setiap karya.

           b. Dalam majalah ilmiah
 Karya tulis tinjauan atau ulasan ilmiah dapat ditulis dalam majalah ilmiah/jurnal ilmiah dengan syarat majalah tersebut diterbitkan secara nasional, atau dikelola oleh perguruan tinggi atau organisasi profesi atau organisasi ilmiah.  Angka kreditnya adalah 4 setiap karya.

6. Kerangka penulisan karya tulis/makalah berupa
    tinjauan atau ulasan ilmiah hasil gagasan sendiri
Sebagaimana kerangka penulisan laporan hasil pene-litian, banyak jenis kerangka penulisan yang dipakai. Namun sekurang-kurangnya, materi yang dilaporkan dalam tulisan yang berupa tinjauan atau ulasan ilmiah hasil gagasan sendiri adalah memuat:
a.        Judul;
b.       Latar belakang masalah;
c.        Tinjauan;
d.       Kajian teori/tinjauan pustaka;
e.       Metodologi yang dipakai;
f.         Penyajian data;
g.        Analisis data, dan;
h.       Kesimpulan dan saran;
i.         Daftar pustaka.

7.       Bagaimana cara membuat makalah prasaran berupa tinjauan, gagasan, atau ulasan ilmiah dalam pertemuan ilmiah
Pembuatan makalah sebenarnya sama dengan cara pembuatan makalah berupa tinjauan atau ulasan ilmiah hasil gagasan sendiri sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya. Hanya saja makalah/prasaran ini disampaikan pada pertemuan ilmiah dengan surat permintaan secara resmi.  Dan angka kreditnya adalah 2,5 setiap kali.

8.    Persyaratan makalah prasaran berupa tinjauan, gagasan, atau ulasan ilmiah dalam pertemuan ilmiah
Makalah prasaran tersebut membahas bidang pendidikan, dan pertemuan ilmiah tersebut minimal tingkat kabupaten/kota demikian juga tingkat provinsi dan nasional. Perlu perhatian bahwa apabila pertemuan tersebut diselenggarakan pada tingkat kecamatan atau kelurahan/desa atau tingkat sekolah tidak dapat dinilai angka kreditnya.
Tempat penyelenggaraan pertemuan ilmiah diperbolehkan di tingkat kecamatan, kelurahan atau tingkat sekolah, tetapi penyelenggara pertemuan ilmiah atau pesertanya mewakili kabupaten/kota.

9.    Cara membuat tulisan ilmiah populer di bidang pendidikan dan kebudayaan melalui media massa
Pada prinsipnya, penulisan karya ilmiah populer sama dengan karya ilmiah lainnya.  Namun karena dimuat di media massa, pembaca, pendengar, dan penontonnya beraneka ragam, maka format penulisan disusun sedemikian rupa sehingga lebih menarik dan dimengerti oleh pembaca.  Materi tulisan tersebut tetap dibuat dengan mangacu pada proses berpikir ilmiah (ada kajian teori, data, dan analisis dan sebagainya).  Dalam hal ini, sangat dianjurkan agar bagi jabatan fungsional dapat menulis dalam bidang pendidikan atau bidang kajian lainnya, agar yang bersangkutan dapat nilai angka kreditnya.  Pilihlah media massa yang sangat mungkin untuk memuat tulisan  misalnya koran atau majalah atau kalau dimungkinkan bisa media elektronik radio dan televisi.  Kalau disiarkan radio atau ditayangkan pada televisi. Perlu mengajukan naskah yang disiarkan oleh radio atau naskah yang ditayangkan oleh televisi untuk dinilai angka kreditnya.  Jangan lupa naskah tersebut diketahui/disyahkan oleh pimpinan media massa yang menyiarkan. Akan lebih baik lagi ada surat permintaan secara resmi dari pihak penyelenggara.

10. Cara menulis buku pelajaran
Dalam menulis buku pelajaran, langkah pertama yang perlu dilakukan adalah melihat kurikulum yang berlaku, materi, pokok bahasan atau sub pokok bahasan apa yang tercantum dalam kurikulum.  Dengan kegiatan tersebut tidak akan sia-sia menulis buku pelajaran, yang sudah dise-suaikan dengan kurikulum yang berlaku.
Buku pelajaran ada yang bertarap nasional dan ada bertarap provinsi.  Apabila buku tersebut bertarap nasional, maka harus disyahkan oleh Direktur Jenderal Dikdasmen atau oleh instansi lain yang ditunjuk.  Nilai angka kredit buku bertarap nasional adalah 5 setiap buku.
Apabila buku tersebut bertarap provinsi, maka harus disyahkan oleh Kepala Kanwil Depdiknas/Kepala Dinas Pendidikan di Provinsi setempat, dan buku tersebut digunakan di seluruh sekolah pada provinsi yang bersangkutan.  Nilai angka kredit buku bertarap provinsi adalah 3 setiap buku.

11. Diperbolehkan menulis buku pelajaran
Dalam menulis buku pelajaran, semua guru boleh menulis buku mata pelajaran apa saja yang disukai. Dan tidak harus sesuai dengan tugas mengajar guru yang
bersangkutan di sekolah.  Tentu tidak setiap guru mampu menulis semua mata pelajaran. Oleh karena itu, pilihlah materi pelajaran yang  dikuasai.  Apabila  menulis sesuai dengan kemampuan, akan mudah dalam penulisannya. Disamping isinya juga akan lebih baik.
Untuk diketahui bahwa materinya bukan saduran dari karya tulis orang lain. Bila ternyata terbukti secara syah karya tulis ilmiah ini seluruhnya hasil karya orang lain. Maka materi yang disadur itu, bathal demi hukum.

12. Bila ada guru yang menulis buku pelajaran dan dicetak oleh penerbit swasta
Sepanjang buku tersebut belum disyahkan oleh Direkktur Jenderal Dikdasmen atau oleh pejabat yang ditunjuk, atau belum disyahkan oleh Kepala Kantor Wilayah Depdiknas/Kepala Dinas Pendidikan di Provinsi, maka buku tersebut belum diakui sebagai buku pelajaran.

13. Kerangka penulisan buku pelajaran
Kerangka penulisan buku pelajaran sekurang-kurang-nya memuat:
a.        Tujuan pembelajaran umum;
b.       Tujuan pembelajaran khusus;
c.        Judul/sub judul;
d.       Uraian singkat isi pokok bahasan;
e.       Uraian isi pelajaran;
f.         Ringkasan isi/rangkuman;
g.        Latihan/tugas/soal;
h.       Daftar pustaka.

14. Menulis modul
Modul pada prinsipnya sama dengan buku pelajaran, hanya dituangkan dalam bahasa yang komunikatif dan interaktif.  Modul dapat diartikan sebagai pengganti guru, karena biasanya modul dipakai untuk belajar jarak jauh.  Oleh karena itu bahasa yang digunakan dalam modul harus dipahami dan dimengerti oleh para pembaca.
Kemudian jika hal ini, materinya hanya saduran dari karya tulis orang lain, ia harus secara jantan menyebut sumber. Bila ternyata terbukti secara syah karya tulis ilmiah ini seluruhnya hasil karya orang lain, dan tidak menyebut sumber. Maka materi yang disadur itu bathal demi hukum. Dan tidak berlaku untuk angka kredit naik pangkat.

15. Kriteria penulisan modul
Modul ada yang bertarap nasional dan ada pula yang bertarap regional/provinsi.
a.        Modul yang bertarap nasional harus disyahkan oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah atau instansi yang ditunjuk.  Isi modul sesuai dengan kurikulum yang berlaku.  Modul yang bertarap nasional angka kreditnya 5 setiap modul.
b.       Modul yang bertarap provinsi, harus disyahkan oleh Kepala Dinas Pendidikan di provinsi setempat. Modul yang bertarap provinsi angka kreditnya 3 setiap modul.

16. Kerangka penulisan modul
      Kerangka penulisan modul tersebut selain judul materi meliputi:
a.     Tujuan pembelajaran umum;
b.     Tujuan pembelajaran khusus;
c.     Besar rincian kegiatan belajar;
d.     Petunjuk belajar;
e.     Materi pokok;
f.      Uraian materi;
g.     Contoh;
h.     Latihan dan kunci;
i.       Rangkuman;
j.       Tugas/tes;
k.     Tes akhir modul;
l.       Kunci tugas/tes;
m.   Rangkuman seluruh modul;
n.     Daftar istilah.
o.     Daftar Pustaka
Dalam penulisan modul ini, dapat memilih pola/ model yang diterapkan oleh Universitas Terbuka atau pola/model yang diterapkan oleh Pusat teknologi Komuni-kasi Pendidikan Nasional, Depdiknas, Balitbang Diknas atau pola/model lainnya.  Atau yang sesuai dengan jabatan fungsionalnya. Yang penting anda dapat menulis modul sekurang-kurangnya dapat memenuhi kriteria tersebut di atas.

17. Menulis diktat pelajaran
    Dalam menulis diktat pelajaran langkah pertama yang harus dilaksanakan adalah melihat kurikulum yang berlaku, kemudian melihat pokok bahasan dan sub pokok bahasannya.  Dalam penulisan diktat harus melihat atau menentukan pokok bahasan atau sub pokok bahasan mana yang belum tercantum  atau ditulis dalam buku pelajaran atau buku paket yang telah diterbitkan Depdiknas/ pusat atau Kepala Dinas lain di Provinsi setempat.
      Diktat pelajaran bersifat menambah materi selain yang telah dijelaskan oleh guru atau yang belum ada dalam buku pelajaran.  Bila isi diktat yang disusun guru atau bagi jabatan fungsional lainnya sama dengan buku pelajaran (bahan belajar), guru yang bersangkutan tidak mendapat angka kreditnya.

18. Kriteria membuat diktat pelajaran
      Diktat mata pelajaran dapat dinilai angka kreditnya apabila:
a.     Disyahkan oleh kepala sekolah;
b.     Isi diktat sesuai dengan kurikulum yang berlaku;
c.     Diktat pelajaran ditulis dan digunakan untuk satu tahun pelajaran; dan
d.     Materi diktat diharuskan lebih baik jika sesuai dengan bidang tugas mengajar guru yang bersang-kutan.
Apabila diktat ditulis untuk satu catur wulan, maka harus jelas matreri ini ada pada catur wulan lainnya, yang terdiri dari: (Cawu I, Cawu II, dan Cawu III) dan dihitung satu tahun pelajaran, yang angka kreditnya adalah 1 setiap diktat.

19.    Kerangka penulisan diktat pelajaran
       Kerangka penulisan diktat pelajaran sekurang-kurang-nya memuat 6 hal berikut:
a.        Judul/sub judul;
b.       Tujuan pembelajaran umum;
c.        Tujuan pembelajaran khusus;
d.       Uraian materi; dan
e.       Latihan/tugas/soal;
f.         Daftar pustaka.
Dari kerangka tersebut di atas, agar dapat mengembangkannya sehingga lebih lengkap akan lebih baik.
   Dengan disusunnya Buku Petunjuk Praktis Pengem-bangan Profesi bagi Jabatan Fungsional ini, diharapkan para guru dan tenaga fungsional lainnya dapat memahami dan mengerti mengenai kegiatan pengembangan profesi khususnya mengenai cara membuat karya tulis ilmiah, juga diharapkan para guru dapat termotivasi untuk membuat  karya tulis ilmiah sebagai salah satu syarat untuk dapat mengajukan angka kredit  kenaikan jabatan / pangkat Pembina golongan IV/a ke atas.

      Kenaikan Jabatan/pangkat Guru

1.    Apa persyaratan agar dapat naik jabatan/ pangkat?
Apabila akan mengajukan usul kenaikan pangkat/ jabatan, maka harus memenuhi persyaratan yang telah ditentukan dan salah satu persyaratannya adalah memenuhi jumlah angka kredit yang ditetapkan.


2.    Angka kredit diperoleh
Angka kredit dapat diperoleh dari unsur utama dan unsur penunjang.  Unsur utama terdiri dari sub unsur pendidikan, proses belajar mengajar atau bimbingan dan pengembangan profesi. Sedangkan unsur penunjang terdiri dari sub unsur pengabdian pada masyarakat dan pendukung pendidikan.

3.    Kenaikan pangkat/jabatan fungsional seperti Guru Pratama (II/a) sampai dengan Guru Dewasa Tingkat I (III/d), angka kredit dari kegiatan yang harus dipenuhi
Untuk Guru Pratama (II/a) sampai dengan Guru Dewasa Tingkat I (III/d) agar dapat naik pangkat/jabatan, angka kredit yang harus dipenuhi adalah dari kegiatan unsur pendidikan dan atau, proses belajar mengajar atau bimbingan. Demikian juga bagi jabatan fungsional lainnya, akan menyesuaikan pada tugasnya.

4.    Untuk kenaikan pangkat/jabatan Guru Pembina (IV/a) sampai dengan Guru Utama (IV/e) angka kredit dari kegiatan apa saja yang harus dipenuhi?
Khusus untuk kenaikan pangkat/jabatan fugsional Guru Pembina (IV/a) ke atas, di samping harus memenuhi jum-lah angka kredit kumulatif yang dipersyaratkan, juga harus memenuhi jumlah angka kredit dari unsur pengembangan profesi sekurang-kurangnya berjumlah 12 (dua belas).

5.    Guru Pratama (II/a) sampai dengan Guru Dewasa Tingkat I (III/d) diperbolehkan melaksanakan kegiatan pengembangan profesi
          Sangat dianjurkan, dan bila melaksanakannya akan mendapatkan angka kredit, walaupun bagi guru jenjang tersebut belum diwajibkan.  Namun kalau ternyata yang bersangkutan mampu dan ternyata menghasilkan karya tulis ilmiah misalnya, segera diajukan ke Tim Penilai yang sesuai. Bila yang bersangkutan menunda penilaiannya sampai yang bersangkutan mencapai Guru Pembina, karya tersebut tidak dapat dinilai karena sudah kadalu-warsa.
Untuk diketahui bahwa setiap kegiatan tentu mempunyai arti jika dilakukan dengan cara baik. Misalnya seorang guru dan perawat, mendapat tugas mengadakan bakti sosial di masyarakat dengan dasar adanya surat resmi dari pihak berwenang dan bakti sosial ini betul-betul terlaksana dengan baik dan dapat dipertanggung jawabkan hasil kerja tersebut, maka surat resmi dari pihak berwenang dimaksud dapat dimanfaatkan untuk bahan persyaratan naik pangkat  bagi seorang guru. Atau bagi jabatan fung-sional lainnya tentu harus pula membuat laporan tertulis sebagai bahan pertimbangan tim penilainya.
Bahan-bahan sebagai upaya para guru dalam menyusun usul kenaikan pangkat, dalam dilihat dalam buku-buku  Jilid yang lain.

*******

Daftar Pustaka

Darlan, H.M.Norsanie, 2003. Petunjuk  Penulisan Karya Ilmiah Sebagai Salah Satu Cara Pengembangan Profesi Bagi Jabatan Fungsional, Palangka Raya.

------------, 2006. Teknik Penulisan Karya Ilmiah Kontemporer, Pusat Penelitian dan Pengembangan Pendidikan Lemlit Unpar, Palangka Raya.

Depdiknas RI, 2001. Petunjuk Praktis Pengembangan Profesi Bagi Jabatan Fungsional Guru, Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Direktorat Tenaga Kependidikan, Jakarta.

Moeliono, Anton, 1989. Kamus Besar Bahasa Indonesia, Depdiknas RI, Jakarta.
Poerwadarminto, WJS, 1986. Kamus Umum Bahasa Indonesia, Balai Pustaka, Jakarta.
Suhardjono, Hoesien dan Suharta, 1995. Pedoman Penyusunan Karya Tulis Ilmiah di Bidang Pendidikan dan Angka Kredit Pengembangan Profesi Guru, Depdiknas, Jakarta.