Senin, 20 Mei 2013

Komentas di Palangka Raya, terbit di Medan

Tribun Medan
Selasa, 21 Mei 2013
Dua Harga BBM Sulitkan Pengawasan
Tribun Medan - Senin, 29 April 2013 09:09 WIB
TRIBUN-MEDAN.com, BANJARMASIN - Pengamat sosial kemasyarakatan dari Universitas Palangka Raya (Unpar), Prof Dr HM Norsanie Darlan MS PH berpendapat, bila pemerintah memberlakukan dua harga Bahan Bakar Minyak (BBM) yang berbeda, maka pengawasan akan  makin sulit.

Sebagai contoh pengangkutan BBM untuk daerah pedalaman, seperti di Kalimantan masih banyak menggunakan angkutan sungai, sehingga sulit melakukan pengawasan, lanjut dosen Unpar tersebut kepada Antara Kalimantan Selatan, di Banjarmasin, Senin.

"Karena masyarakat pada umumnya tak mengetahui mana BBM bersubsidi dan non subsidi, sehingga berpotensi pula penyimpangan peruntukan. Penyimpangan peruntukan itu bisa terjadi di perkotaan, terlebih di daerah pedalaman," ujarnya.

Sedangkan aparat keamanan tak mungkin melakukan pengawasan terus menerus atau dalam jangka panjang, karena banyak pula tugas lain yang menjadi tanggung jawab mereka, lanjutnya.

Ia mencontohkan bentuk penyimpangan peruntukan, yaitu sebuah angkutan umum yang tidak beraktivitas/tak mengangkut penumpang, mengatre di Stasiun Pengisian Bahan bakar Umum (SPBU) untuk mendapatkan BBM bersubsidi. Namun BBM itu dia jual dengan harga non subsidi.

"Nah, mungkinkah aparat kepolisian bisa mengawasi praktek seperti itu. Sementara personel kepolisian terbatas dan mereka yang berbuat penyimpangan itu biasanya sembunyi-sembunyi," ujarnya.

Selain itu, dengan dua harga BBM yang berbeda, bisa menimbulkan kecemburuan sosial, baik di perkotaan maupun daerah pedalaman, tambah Guru Besar pada perguruan tinggi negeri tertua dan terbesar di "Bumi Isen Mulang" Kalimantan Tengah (Kalteng) tersebut.
Oleh karenanya, anak desa Anjir Kapuas, Kalteng yang meniti karir dari pegawai bawahan (pesuruh) hingga menjadi profesor itu, menyarankan, sebaiknya harga BBM disamakan saja atau ada perbedaan.

Sebagai contoh rencana penetapan harga BBM per liter untuk mobil pribadi Rp6.500 dan sepedamotor atau angkutan penumpang umum Rp4.500, lanjut mantan Kepala Badan Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) Pemprov Kalteng itu.

Sebab itu pula, mantan aktivis Ikatan Pers Mahasiswa Indonesia (IPMI) dari "Bumi Isen Mulang" Kalteng tersebut sependapat atau setuju kalau pemerintah menaikan harga BBM dengan batas-batas kewajaran, sehingga cuma ada satu jenis harga.

"Penetapan satu harga BBM tersebut, guna memudahkan pengawasan serta menghindari kecemburua sosial yang bisa berunjung pada hal-hal yang tak kita inginkan bersama," demikian Norsanie Darlan.

Editor : Raden Armand Firdaus
Sumber : Kompas.com

Sabtu, 18 Mei 2013

KOMPASIANA

Banjir Memicu Hangatnya Kembali Wacana Pemindahan Ibu Kota

OPINI | 21 January 2013 | 15:01 Dibaca: 292   Komentar: 0   Nihil
Ibu kota pindah. Ide ini sudah lama dilontarkan oleh berbagai pihak. Tidak mudah memang. Banyak yang masih memandang sinis ide ini. Bagi mereka, opsi pindah ibu kota itu adalah opsi pesimis. Bagi yang mendukung, opsi memindahkan ibukota adalah ide yang matang dengan pertimbagan sempurna.
Saat ibukota disibukkan dengan banjir, ide ini dilontarkan kembali. Hari ini (Senin, 21 Januari 2013) Jokowi bertemu dengan pimpinan MPR di Gedung MPR RI. Dalam pertemuan itu Pak Jokowi berkata “Kalau memang sudah kita mentok dan kesulitan untuk mengatasi banjir Jakarta, tidak ada jalan lain. Ya, saya sangat setuju dengan Bapak Ketua MPR untuk dipindah,” (sumber : www.kompas.com). Jadi jelaslah sudah sang Gubernur Jakarta termasuk pihak yang setuju ibukota pindah, dengan catatan Kalau memang sudah kita mentok dan kesulitan untuk mengatasi banjir Jakarta, tidak ada jalan lain.
Sebenarnya masih sanggupkah Jakarta menyandang gelar ibukota? Mari kita coba cari jawabannya, berdasarkan data-data berikut :
1. Sejak Indonesia masih berpresidenkan Soekarno, ide pindah ibukota ke Palangkaraya sudah sering diajukan. Ide ini digagas oleh beliau sekitar tahun 1957. Saat ini, banyak ahli yang mendukung pendapat ini karena memiliki lahan luas serta dimungkinkan dibangun sejumlah perkantoran kementerian. Kota Palangkaraya juga berada di atas bukit sehingga tidak akan terjadi banjir. Pendapat ini kembali diamini oleh Prof HM Norsanie Darlan (Guru Besar Universitas Palangkaraya)
2. Pendapat para pakar mengenai pemindahan ibu kota :
Andrinof Chaniago (Dosen di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia) berpendapat daya dukung Pulau Jawa khususnya Jakarta dan sekitarnya tak memadai lagi untuk Ibukota. Satu bom sosial siap meledak di Jakarta 20 tahun lagi. Kesenjangan sosial kian tajam, kriminalitas tinggi, taraf kesehatan menurun. Gangguan jiwa meningkat
Yayat Supriyatna (Planolog dari Universitas Trisakti) berpendapat Jakarta tidak pernah disiapkan secara matang untuk menjadi Ibukota dengan skala sebesar sekarang, Dari sekadar kota perdagangan, kemudian harus menampung aktivitas pemerintahan dalam skala besar sehingga fungsi dan perannya tidak jelas.
Haryo Winarso (Haryo Winarso) berpendapat Ibukota tidak dapat pindah ke dalam lokasi berdekatan karena hal tersebut hanya akan memperpanjang kemacetan diakrenakan orang-orang yang terlibat pemerintahan tetap tinggal di Jakarta sehingga akan tetap macet
Sonny Harry B. Harmadi (Pakar demografi Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia) berpendapat pemindahan Ibukota ke luar Jakarta dan bahkan ke luar Jawa. kepadatan penduduk dan pemusatan aktivitas yang terus meningkat di kawasan Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi menjadikan daerah ini tidak lagi ideal sebagai kandidat Ibukota baru Republik Indonesia
M Jehansyah Siregar (doktor di bidang perencanaan kota dari Universitas Tokyo) berpendapat Berdasarkan berbagai kajian yang telah ada, Kalimantan pulau yang telah siap secara infrastruktur dan secara geografis Kalimantan jauh dari pusat gempa dan gunung berapi.
Dari data-data diatas, dapat disimpulkan Jakarta berbeban terlalu berat, disamping sebagai pusat pemerintahan, ia juga mengemban tugas sebagai pusat ekonomi dan perdagangan. Maka dapat dilihat dari pendapat para ahli tersebut termasuk Pak Karno juga, untuk membantu Jakarta jadi “sehat” pindahkanlah satu tugas ke kota lain, dan yang paling mendukung dipindahkan adalah tugas sebagai pusat pemerintahan. Jadi, jika ibukota negara pindah, yang berpindah adalah pusat pemerintahannya.
Metode seperti ini bukanlah metode baru, sudah banyak negara yang mempraktekannya, lihat saja Amerika Serikat yang memusatkan pemerintahan di Washington sementara ekonomi tetap dipusatkan di New York. Demikian halnya dengan Australia, ibukota (pemerintahan) sudah dipindahkan ke Canberra. Bahkan saudara sebelah kita –Malaysia-, juga memindahkan pusat pemerintahannya ke Putrajaya.
Tampaknya, ide memindahkan pusat pemerintahan ini kita setujui saja ya.^_^
Salam,

Kamis, 16 Mei 2013

Norsanie fisiknya di Kalteng, Beritanya di Kalsel

Harga BBM Naik, Suplai Lancar
Selasa, 30 April 2013 | 00:41 Wita A- A A+ Dibaca: 113 kali

Dua Harga Sulit Pengawasan

 Oleh: HM Norsanie Darlan
  Palangka Raya

KITA Setuju jika harga BBM dinaikan. Ini kemauan pemerintah dengan berbagai pertimbangan yang kabarnya sudah dimatangkan. Namun permasalah bakal timbul setelah harga yang jauh berbeda, membuat kecemburuan sosial.

Bakal terjadi, terlebih di wilayah pedalaman.

Mungkin untuk waktu pendek baik di perkotaan ataupun pedesaan dapat diawasi dalam kurun waktu tertentu. Sementara untuk jangka panjang, apakah pihak keamanan mampu bertahan berlama-lama. Karena petugas keamanan tidak saja pekerjaannya untuk mengamankan pendistribusian BBM, karena mereka juga masih banyak tugas-tugas lainnya. Sehingga dua harga BBM itu memungkinkan terjadi kesulitan pengawasan secara berkepanjangan.

Sekarang bagaimana BBM yang ada di kawasan pedalaman. Karena di pedalam khususnya di Kalimantan pendistribusian  minyak masih sebagian besar melewati air. Artinya melalui sungai. Permasalahan yang bakal timbul, nantinya mana BBM bersubsidi dan mana pula yang nonsubsidi.

Masyarakat di pedalaman memang terbiasa membeli harga BBM lebih mahal dari perkotaan, ini mungkin karena transprotasinya jauh dan sulit. yang penting ada BBM-nya walau harga mahal. Dan bisakah mereka mengetahui, mana BBM bersubsidi untuk mereka atau yang non subsidi. (*)

Rabu, 15 Mei 2013

Unpar Teliti Pengaruh Keasaman Air Bagi Kesehatan

Sumber: kapanlagi.com
Selasa, 22 Desember 2009 08:13:00

Kapanlagi.com

1
 


Kapanlagi.com - Staf pengajar Universitas Palangkaraya (Unpar), Kalimantan Tengah (Kalteng) melakukan penelitian pengaruh tingkat keasaman air di kawasan Anjir Serapat, Kecamatan Kapuas Timur, Kabupaten Kapuas terhadap kesehatan warga setempat. "Akibat tingkat keasaman air tersebut ternyata penyakit yang banyak diderita masyarakat setempat adalah tukak lambung dan penyakit jaringan bawah kulit," demikian hasil penelitian yang diterbitkan guru besar Unpar, Prof HM Norsanie, edisi kesembilan yang diperoleh di Palangkaraya, Minggu.
Hasil penelitian diperoleh ternyata air di terusan Anjir serapat pH air sampai titik kulminasi terendah 3,88 dan tertinggi 5,5.
Dari data tersebut berarti air di Anjir Serapat tidak mencapai batas terendah pada nilai ambang batas (NBA) 5,6 dan dengan demikian kasus kesehatan masyarakat yang diperoleh dari data Puskesmas setempat adalah tukak lambung dan jaringan bawah kulit itu.
Oleh karena itu hasil penelitian merekomendasikan agar warga masyarakat setempat perlu diberikan skill untuk mengolah air minum yang memenuhi standard yang telah ditetapkan, agar warga setempat memperoleh hidup yang layak seperti warga masyarakat yang bertempat tinggal di daerah lain.
Disebutkan metode penelitian ini sifatnya kausal komparatif untuk menyelidiki kemungkinan hubungan sebab akibat dengan cara mengukur beberapa kali terhadap keasaman air di Anjir Serapat dalam interval waktu setiap tiga bulan sebanyak empat kali pengukuran dalam setahun.
Populasi penelitian seluruh air di sepanjang terusan Anjir Serapat dalam wilayah Kecamatan Kapuas Timur, Kabupaten Kapuas Kalteng, sedangkan pengambilan sampelnya diambil tujuh lokasi masing-masing lokasi diukur setiap dua kilometer.
Alat penelitian terdiri dari pH meter buatan Australia, pedoman observasi pH meter untuk mengetahui dan mengukur setiap sampel air di masing-masing lokasi, serta mencatat setiap perbedaan setiap waktu pengukuran.
Sedangkan pedoman observasi untuk melihat kasus yang terjadi pada Puskesmas atas keluhan masyarakat dan hasil pemeriksaan dokter terhadap keluhan yang terbanyak. Sedangkan analisis menggunakan uji statistik korelasional.
Perlu diketahui terusan Anjir Serapat merupakan kawasan bergambut di Kabupaten Kapuas dengan warna air agak kecoklatan, terusan ini merupakan jalur lalu-lintas angkutan air yang padat. (ant/roc)

Sabtu, 27 April 2013


Republika, sabtu 26 April 2013

Seharusnya Kita Bangga dengan Tucuxi

Sabtu, 12 Januari 2013, 08:50 WIB
Komentar : 1
  Mobil sport listrik Tucuxi saat diperkenalkan di Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, Ahad (23/12).  (Republika/Yasin Habibi)
Mobil sport listrik Tucuxi saat diperkenalkan di Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, Ahad (23/12). (Republika/Yasin Habibi)
REPUBLIKA.CO.ID, BANJARMASIN---Prof Dr HM Norsanie Darlan, seorang pengamat sosial ekonomi dan kemasyarakatan dari Universitas Palangkaraya (Unpar) Kalimantan Tengah, berpendapat, Tucuxi mobil listrik nasional merupakan "ajang promosi" bagi Indonesia.

"Sebab itu, sebagai bangsa yang besar, kita harus berbangga hati atas kehadiran Tucuxi, sebuah mobil karya cipta anak bangsa sendiri," tandasnya dalam perbincangan dengan ANTARA Kalimantan Selatan, di Banjarmasin, Sabtu.

"Karenanya, atas kehadiran mobil yang diberi nama`Tucuxi` harus kita hargai. Sebab bisa menjadi sebuah ajang promosi," lanjut Guru Besar pada perguruan tinggi negeri di "Bumi Isen Mulang" Kalimantan Tengah (Kalteng) tersebut. Oleh sebab itu pula, mengenai masalah perjalanan Tucuxi Solo, Jawa Tengah - Surabaya, Jawa Timur, dia menyatakan sependapat dengan Faisal Halimi atas kontraversi di media masa merupakan hak semua orang.

"Tapi sebagai bangsa yang besar, sebaiknya kita harus menghargai karya cipta anak bangsanya sendiri," ajak sang profesor yang berkarir sejak dari pegawai rendahan (pesuruh) itu.

"Seharusnya kita bersyukur, bahwa ada dari ratusan juta anak bangsa, punya karya cipta diantaranya mobil Tucuxi yang sementara ini di sebut-sebut milik Dahlan Iskan," lanjutnya.

Tanpa ada maksud lain, anak desa kelahiran Anjir Kapuas, Kalteng itu menyatakan, kurang sependapat jika selalu menyalahkan Dahlan Iskan, yang Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dan pendiri "Jawa Pos" sebuah koran besar di Indonesia.

"Sebetulnya rusakan kendaraan yang karena remnya blong, atau kerusakan lain dan ditabrakkan pada tebing adalah sebuah `eksperimtal` perusahaan. Itu wajar-wajar saja," ujarnya.

"Karena tidak mungkin semua produk, langsung jadi dan selalu baik. Pasti ada sesuatu sebagai kendala dan harus diperbaiki," lanjut mantan aktivis Ikatan Pers Mahasiswa Indonesia (IMPI) tersebut.

Sebagai contoh, banyak juga kendaraan buatan luar yang belum matang uji cobanya seperti, Kymco Trend Jetmatic yang banyak menelan kurban, serta adanya penarikan produk mobil tertentu karena ada alat yang belum layak pakai.

"Kenapa hal itu tidak kita ributkan. Padahal meributkan produk dalam negeri ada kemungkinan menurunkan minat pembeli untuk produk Indonesia. Baik sesama warga Indonesia, maupun bangsa lain," lanjutnya.

"Runtuhnya IPTN juga membuat harga diri Indonesia menurun, ini juga karena anak bangsa yang kurang menghargai karya cipta bangsa," demikian Norsanie Darlan.
Redaktur : Endah Hapsari
Sumber : antara

Rabu, 17 April 2013

Khusus Untuk Mahasiswa PLS, ini sebagai peluang:


Sejuta Peluang di PKL Jurusan/Prodi: PLS

Sejuta Peluang di PKL Jurusan PLSReviewed by Agung FirmansyahonThis Is Article AboutSejuta Peluang di PKL Jurusan PLSBerikut Kisah salah satu pengalaman mahasiswa yang PKL di Dirjen PAUDNI Jakarta. Kementerian Pendidikan dan  Pebudayaan Republik Indonesia Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Nonformal dan Informal.          Disinilah tempat kami mengabdi, mencari ilmu dan tentunya pengalaman. Kesan pertama ketika kami menginjakkan kaki di Direktorat Jenderal PAUDNI adalah kami hanyalah mahasiswa kecil rantauan kota pahlawan yang [...]
Berikut Kisah salah satu pengalaman mahasiswa yang PKL di Dirjen PAUDNI Jakarta.

PKL KEMENDIKBUD UNESA
Kementerian Pendidikan dan  Pebudayaan Republik Indonesia
Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Nonformal dan Informal.
         Disinilah tempat kami mengabdi, mencari ilmu dan tentunya pengalaman. Kesan pertama ketika kami menginjakkan kaki di Direktorat Jenderal PAUDNI adalah kami hanyalah mahasiswa kecil rantauan kota pahlawan yang memiliki tekat kuat untuk mencari pengalaman, dapatkah kami bersanding bersama mereka? Jawabannya adalah “dapat” iya begitulah hati kecil kami mengatakan, walaupun pada kenyataannya banyak hal yang belum kami ketahui. Kami harus lebih banyak belajar dan lebih banyak berusaha untuk menyesuaikan diri dengan kehidupan di kota besar ini.
         Hal yang paling mendasar atas kekaguman kami pada kinerja di Direktorat Jenderal PAUDNI adalah mengetahui secara pasti perbedaan antara praktisi dan akademisi. Etos kerja yang tinggi, disiplin, mandiri, dan tangguh semua itu harus benar-benar kami tanamkan pada diri kami karena kami masih pada tahap belajar untuk bekerja sebagai seorang praktisi.
Satu cerita yang mungkin bisa menyejukkan hati kita, cerita sembilan mahasiswa yang bertekad menimba, mencari ilmu dan mendapatkan pengalaman di Direktorat Jenderal PAUDNI. Sungguh tidak mudah sebenarnya bagi kami, berjalan di tempat yang asing yang belum pernah terbayang sebelumnya bahwa kami bisa sampai disini. Namun semuanya berubah ketika kami mengenal orang-orang hebat, dan orang-orang inspiratif yang benar-benar membuat kami berangan-angan untuk bisa menjadi seperti mereka. Dengan beragam karakter, beragam kebudayaan dan latar belakang kehidupan itulah yang membuat kami semakin kaya dengan ilmu-ilmu PLS.
Sampai pada akhirnya kami mendapatkan tugas untuk menjadi panitia dalam kegiatan “International Seminar on Improving Literacy Based on Mother Tongue and ICTs” di hotel Atlet Century Park Jakarta. Acara ini di hadiri oleh orang-orang besar dari semua penjuru dunia, salah satunya dari UNESCO. Tidak hanya itu, kami juga diberi tugas untuk menjadi tim evaluasi dampak program Pendidikan Kewirausahaan Masyarakat dan tim validasi NILEM PKBM di seluruh wilayah Indonesia. Kami mendapatkan tugas untuk pergi ke daerah-daerah diantaranya Tulungagung, Jombang, Sidoarjo, Malang, Madura, dan Bojonegoro. Luar Biasa. Sujud syukur kami panjatkan atas segala kenikmatan yang di berikan Allah kepada kami. Disinilah ilmu PLS kami terapkan.Untuk itu, jangan pernah ragu untuk menekuni ilmu PLS, sejuta makna, sejuta pengalaman ada di Pendidikan Luar Sekolah (PLS).
Kami juga banyak membaca tulisan dari komentar Prof. Norsanie Darlan, tokoh PLS di Kalimantan tentang baiknya nasib sarjana PLS jika tidak mendapatkan atau sambil menunggu PNS dengan mendirikan PKBM yang bisa di mana-mana. ada beberapa hal yang dapat kami ambil dari manfaat PKBM diantaranya yaitu: PKBM dapat  menciptakan lapangan kerja, juga buat sarjana PLS akan dapat membuktikan mata kuliah: perencanaan dan  pengelolaan PLS betul-betul memberikan arti untuk kami sebagai generasi penerus bangsa.
Untuk itu, sejuta kata terima kasih kami ucapkan pada sang pahlawan tanpa tanda jasa dosen-dosen kami tercintadi Jurusan PLS, Ibu Kajur, Bapak sekjur, Dosen Tim PKL: Pak Cahyo, Pak Wid dan Bu Wiwin yang telah membentangkan sayap, berusaha untuk memberikan yang terbaik untuk kami mengabdi. Dengan disebar diseluruh wilayah di Indonesia, tentu kami mempunyai banyak cerita beragam yang mungkin tidak dimiliki banyak orang yang berprofesi sama seperti kami.
Terima kasih untuk semuanya, Ilmu PLS kami benar-benar sangat berguna ketika kami sudah dihadapkan pada sebuah kenyataan. Sabar, ikhlas, dan telaten merupakan serangkaian kata yang harus terpatri dalam hati kami. Semoga kita tidak termasuk orang yang merugi, yaitu orang yang tidak menyadari potensinya, dan orang-orang yang menyalahkan keadaan…..jadikan apa yang kita miliki hari ini sebagai alat peraih apa yang harus kita miliki hari esok. Masa Depan tidak ada yang datang secara tiba-tiba, masa depan ada karena apa yang kita lakukan saat ini.
Salam PLS.
by (Rezka Arina Rahma – PLS UNESA 2009)

melirik sejumlah media cetak di tanah air tentang:

Kamis 18 April 2013
Wed, 04/17/2013 - 16:28

Nasib Tutor Kurang Diperhatikan

Editor: 
Hendry Sihaloho

Nasib Tutor Kurang Diperhatikan

Foto: Ilustrasi/Ist
SHARE
Share
IRNewscom | Banjarmasin: GURU Besar Universitas Palangka Raya (Unpar), Norsanie Darlan, mengatakan, tutor kurang mendapat perhatian pemerintah, baik pada tingkat pusat maupun daerah. Padahal, peran tutor tidak beda dengan guru, untuk mencerdaskan kehidupan bangsa melalui Pendidikan Luas Sekolah (PLS) atau non formal.

Hal tersebut disampaikannya kepada Antara, di kampus "Bumi Isen Mulang", Kalimantan Tengah, Sabtu (16/2). Pengamat pendidikan itu, menjelaskan, biasanya guru bertugas pada lembaga pendidikan formal atau persekolah. Sedangkan peran tutor kebanyakan di Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) atau PLS, yang disebut dengan pendidikan non formal.

Itu sebabnya, dia menyangkan kurangnya perhatian pemerintah terhadap tutor atau jauh lebih banyak tertumpu pada persekolahan (pendidikan formal). Norsanie berpendapat, kurangnya perhatian pemerintah terhadap tutor terlihat pada sistem pengajian hampir sama dengan upah buruh atau jauh lebih kecil/rendah dibandingkan dengan gaji seorang guru. "Bahkan untuk gaji seorang tutor, tak jarang harus mengupayakan sumbangan/bantuan dari masyarakat, terutama terhadap mereka yang mengikuti penidikan non formal tersebut," tukas dia.

Profesor yang mengawali karirnya dari pegawai rendahan (pesuruh) itu berharap, agar pemerintah lebih meningkatkan perhatian terhadap tutor, yang peran dan jasanya juga cukup besar dalam upaya mencerdaskan kehidupan bangsa. "Memang banyak orang yang tak mengenal apa itu tutor dan perannya. Padahal, tutor juga seorang pendidik, yang perannya banyak pada pendidikan non formal, seperti pemberantasan buta huruf/buta aksara," kata dia. [ant]