Jumat, 08 Mei 2015
MENGENALI KEHIDUPAN PROF. NORSANIE DARLAN DALAM PROSES BELAJAR MENGAJAR
RIWAYAT MENGAJAR S-1 DAN S-2 DI KALIMANTAN
No Mengajar Lokasi Tahun
1. Mengajar di Program Studi PLS FKIP Unpar 1979
2. Mengajar di Fakultas Tarbiyah Palangka Raya Faktas Tarbiyah Palangka Raya 1980
3. Mengajar di Fakultas Kedokteran Masyarakat Program Pendidikan Kedokteran Komunitas (PPKK) UGM Kedoktera
UGM Yogyakarta 1986
4. Mengajar di Universitas Muhammadiyah UMP 1989
5. Mengajar di Universitas PGRI Palangka Raya FKIP/Fisip PGRI Palangka Raya 1992
6. Mengajar di Akademi Kebidanan Palangka Raya AKBID 1998
7. Mengajar S-2 di Pascasarjana PLS Unpar Program Magister PLS 2008
8. Mengajar di S-2 Pascasarjana STAIN/IAIN Palangka Raya STAIN/IAIN 2013
9. Mengajar di S-2 Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Palangka Raya (UMP) MAP 2014
10. Mengajar S-2 di Program Pasca Sarjana IAIN Antasari Banjmarsin IAIN Antasari 2014
AKADEMISI PLS/PNF BERTEMU DI SEMARANG
Hari Ini pada 6:24 AM
D0080515000734 08-MAY-15 IBU BJM
AKADEMISI : INDONESIA HARUS SIAPKAN GENERASI PENERUS BANGSA
Oleh Sukarli
Banjarmasin, 8/5 (Antara) - Akademisi Universitas Palangka Raya (Unpar), Kalimantan Tengah, Prof Dr HM Norsanie Darlan MS PH menyarankan, Indonesia harus benar-benar menyiapkan generasi penerus bangsa.
"Apalagi dalam era Masyarakat Ekonomi Asean (MEA), kita harus betul-betul menyiapkan generasi penerus bangsa," ujarnya kepada Antara Kalimantan Selatan di Banjarmasin, sebelum bertolak ke Semarang, Jawa Tengah, Jumat.
Pasalnya, menurut dosen Pendidikan Luar Sekolah atau Pendidikan Non Formal (PLS/PNF) Unpar itu, tantangan ke depan atau lebih dekat lagi pada tahun 2020, semakin berat dalam persaingan perdagangan bebas di era MEA.
Karena itu bila tak disiapkan sejak sekarang, maka produk dalam negeri bisa kalah bersaing, dan pada gilirannya berdampak terhadap perekonomi rakyat Indonesia, lanjutnya.
Saran Guru Besar dari perguruan tinggi negeri tertua di "Bumi Isen Mulang" Kalteng itu, dalam makalahnya yang dipaparkan pada pertemuan Ikatan Pendidikan Non Formal Indonesia (IKAPENFI) di di Hotel Grasia Semarang, 8 - 10 Mei 2015.
Dalam makalah berjudul "Peran dan Ekspektasi Pendidikan Non Formal Dalam Menghadapi Masyarakat Ekonomi Asean" itu, dia memaparkan tentang masa depan PNF/PLS menghadapi tantangan mendatang atau pada 2020.
Permasalahan yang dia kemukakan, antara lain dalam kaitan dunia pasar kerja bagi generasi bangsa Indonesia, seperti perlunya peningkatan pengetahuan dan keterampilan yang lebih memadai/maksimal.
Peningkatan keterampilan itu, terlebih bagi mahasiswa sebelum menyandang gelar sarjana, karena tenaga kerja dari luar negeri tampaknya sudah siap ke arah tersebut, ujar mantan aktivis Ikatan Pers Mahasisa Indonesia tersebut.
Mantan Kepala Badan Diklat pemerintah provinsi Kalteng itu juga memimpin delegasi PNF Unpar menghadiri pertemuan IKAPENFI seluruh Indonesia yang diselenggarakan Fakultas Ilmu Pendidkan (FIP) Universitas Negeri Semarang.
Pertemuan IKAPENFI itu dihadiri akademisi dari semua jurusan/program studi PLS baik, S1 maupun S2 dan S3 yang ada di berbagai perguruan tinggi di tanah air, demikian Norsanie Darlan. ***4***
(T.KR-SKR/B/H. Zainudin/H. Zainudin) 08-05-2015 22:22:
Rabu, 29 April 2015
PKBM Kotawaringin Timur Butuh Bantuan Dana
Empat Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat di Kotawaringin Timur, Kalteng, perlu perhatian pemda.
22 Agustus 2013 11:08 Pendidikan dibaca: 1022
inShare
Dok / smkhepweti.wordpress.com
Banyak warga yang jadi penjahit setelah mengikuti PKBM menjahit/Ilustrasi.
BANJARMASIN - Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) di Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah, masih membutuhkan bantuan dana dari pemerintah setempat.
"Dalam kunjungan ke Kotawaringin Timur (Kotim) beberapa waktu lalu, terlihat beberapa PKBM menunjukkan perkembangan dan kemajuan, namun masih perlu dukungan perhatian dari pemerintah setempat," kata Profesor Dr HM Norsanie Darlan MS, PH, peneliti Universitas Palangka Raya (Unpar) di Banjarmasin, Kalimantan Selatan, Kamis (22/8).
"Saya sengaja mengunjungi 'Bumi Habaring Hurung' (kebersamaan) Kotim, untuk melihat dari dekat bagaimana proses pembelajaran di PKBM di kabupaten itu," kata guru besar perguruan tinggi negeri tertua di "Bumi Isen Mulang" Kalteng tersebut.
Di Bumi Habaring Hurung, dia meninjau aktivitas PKBM di perkotaan, serta dua unit lain yang di berada di daerah penggiran atau luar Kota Sampit, ibukota Kabupaten Kotim.
Ketiga PKBM tersebut memiliki spesifikasi kegiatan sesuai kemampuan serta kondisi peserta pembelajaran. Dia mencontohkan, peserta PKBM Teratai Mekar di Jalan Kapten Mulyono Sampit sudah bisa membuat kerupuk dengan bahan ikan gabus. Begitu pula PKBM Sei Paku, Kecamatan Kota Besi, sudah punya gedung permanen dengan 13 unit mesin jahit, tiga mesin obras, dan satu unit bordir. Sedangkan, PKBM yang berada jauh di luar kota Sampit itu, juga sudah menghasilkan banyak warga dengan kemampuan menjahit.
Beberapa peserta PKBM Sei Paku kemudian juga membuka usaha menjahit di rumah masing-masing. PKBM Sei Paku mempunya fasilitas lengkap, termasuk mesin pengolah rotan.
"Namun keberadaan PKBM tersebut masih perlu perhatian dari dinas/instasi terkait, agar peralatan atau fasilitas yang relatif mahal tersebut tidak sampai mubazir. Peralatan yang ada harus bisa lebih berdayaguna dan berhasilguna, terutama untuk masyarakat sekitar," kata dia.
Hal lain yang mengesankan, ungkap sang profesor yang berkarier mulai dari pegawai rendahan sebagai pesuruh hingga sempat menjadi aktivis Ikatan Pers Mahasiswa Indonesia (IPMI) tersebut, yaitu mereka yang menimba pengetahuan dan keterampilan di PKBM itu, tidak dipungut biaya alias gratis.
"Kalau gratis, siapa yang membayar tutor atau instruktur pelatihannya? Karena itu, pengelolaan PKBM masih perlu perhatian pemerintah, termasuk untuk pembayaran insentif bagi tutor," kata Norsanie
Sabtu, 25 April 2015
PROFESOR DARI MALANG "BERBURU" BATU AKIK
D0250415000805 25-APR-15 IBU BJM
Banjarmasin, 25/4 (Antara) - Seorang Guru Besar dari kota Malang, Jawa Timur, Prof Dr H Suprioyo MPd saat berkunjung ke Kota Palangka raya, ibu kota Provinsi Kalimantan Tengah, menyempatkan diri "berburu" atau mencari batu akik.
Hal tersebut diungkapkan guru besar Pendidikan Luar Sekolah (PLS) Universitas Palangka Raya (Unpar)Prof Dr HM Norsanie Darlan MS PH kepada Antara Kalsel, di Banjarmasin, Sabtu.
Perburuan batu akik oleh Suprioyo yang juga Dekan Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) Universitas Negeri Malang itu dilakukan usai pertemuan dengan mahasiswa Unpar atau sebelum ke Banjarmasin dan Martapura, Kalimantan Selatan.
Dalam kunjungan selama dua hari di Palangka raya sejak 24 April lalu, tamu itu bertemu dengan mahasiswa S1 dan S2 Unpar membahas tentang "evaluation and monitoring program non formal education" di masyarakat luar sekolah.
Kemudian pada malam harinya, pembahasan bersama dosen-dosen dalam semiloka tentang kurikulum Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI) pada ruang kuliah yang sama di perguruan tinggi negeri tertua di Kalteng itu.
"Banyak hal yang menjadi pembicaraan dalam pertemuan itu, baik dengan mahasiswa maupun para dosen di Unpar, terutama dalam kaitan menatap masa depan dunia pendidikan luas sekolah kita yang lebih baik," ujar Norsanie tanpa merinci.
Tapi yang jelas, lanjutnya, kedatangan tamu dari Malang itu menjadi sebuah pembelajaran dan pencerahan bagi mahasiswa Unpar khususnya pendidikan luar sekolah, sebuah perguruan tinggi negeri kebanggaan masyarakat Kalteng.
Sebelum meninggalkan Kalteng menuju Banjarmasin dan Martapura, tamu dari Malang tersebut berpamitan dengan Direktur Pascasarjana Unpar Prof Dr Ir Sih Winarti MS. ***4***
(T.KR-SKR/B/H. Zainudin/H. Zainudin) 25-04-2015 18:05:21
Selasa, 21 April 2015
Pengelola PAUD Se-Kalimantan Ikuti Workshop
Home > Lintas Kalimantan > Pengelola PAUD Se-Kalimantan Ikuti Workshop Di Palangkaraya
Pengelola PAUD Se-Kalimantan Ikuti Workshop Di Palangkaraya
Komentar (0)
16 April 2014, 10:02:43 WIB oleh Admin | dilihat: 72 kali
Print
Kalimantan Selatan - BANJARMASIN, (Kalimantan-News) - Sebanyak 40 pengelola Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) se-Kalimantan mengikuti Workshop Pengembangan Pembelajaran PAUD Berbasis Kearifan Lokal Untuk Penguatan Karakter Anak Usia Dini, di Palangka raya, ibu kota Provinsi Kalimantan Tengah.
Ketika membuka workshop tersebut, Selasa malam, Kepala Balai Pengembangan Pendidikan Nonformal dan Informal (BP2PNFI) Regional IV Kalimantan Dr Samto M.Pd menerangkan kegiatan itu bertujuan menyatukan konsep dalam membina karakter anak.
"Karena sebagaimana rencana pembangunan, satu PAUD satu desa, sehingga para pengelola perlu mendapatkan konsep yang sama, setelah mengikuti workshop ini," kata Kepala BP2PNFI Regional IV yang berkedudukan di Banjarbaru, Kalsel, tersebut.
Oleh sebab itu, dia mengharapkan peserta workshop tersebut mengikuti dengan sungguh-sungguh sehingga keluarannya membuahkan hasil yang betul-betul bermanfaat bagi PAUD atau yang akan menjadi generasi bangsa.
"Sejak dini atau melalui PAUD, kita membangun karakter generasi bangsa mendatang, agar mereka nanti berguna bagi nusa dan bangsanya," demikian Samto pada pembukaan workshop di Swissbel Danum Hotel Palangkaraya.
Salah seorang pemateri workshop tersebut tokoh pendidikan luar sekolah (PLS) atau pendidikan nonformal dari Universitas Palangka Raya (Unpar) Prof Dr HM Norsanie Darlan MS PH.
Sedangkan materi dari Guru Besar Unpar atau perguruan tinggi negeri tertua di "Bumi Isen Mulang" Kalteng itu tentang "Implementasi Kearifan Lokal Dalam Pembelajaran PAUD".
Menurut Norsanie yang juga peneliti dari Unpar tersebut, penerapan kearifan lokal dalam pembelajaran PAUD, cukup penting dan memiliki peran yang cukup strategis, dikaitkan dengan pembangunan karakter anak usia dini.
"Dengan berbekal kearifan lokal tersebut, sama dengan mendidik anak untuk mencintai negerinya, bila kelak mereka dewasa atau melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi," demikian Norsanie Darlan.
Peserta workshop yang berlangsung selama tiga hari hingga 17 April 2014 itu perutusan dari Kalimantan Utara, Kaltim, Kalsel, Kalbar dan tuan rumah Kalteng. (das/ant
Jumat, 10 April 2015
Profil Norsanie Darlan
IDENTITAS PRIBADI :
1. Nama lengkap : Prof. Dr. H.M. Norsanie Darlan, MS PH
2. Tempat tanggal lahir : Anjir Serapat Kapuas, 14 Oktober 1956
3. NIP : 19521014197701100 1
4. Agama : Islam
5. Jabatang fungsional : Guru Besar PLS FKIP Universitas Palangka Raya
6. Pangkat/Golongan : Pembina Utama ( IV/ E )
7. Alamat : Jalan Sangga Buana Selatan 059/A
Telp (0536) 3222070
Palangka Raya – 73112 Hp 08122170038
8. Pengalaman Jabatan : 1. Pembantu Dekan III Kemahasiswaan FKIP
Sturuktural Universitas Palangka Raya tahun 1995 Eselon II/A
2. Kepala Badan DIKLAT Provinsi Kalimantan
Tengah tahun 2002 Eselon II/A
3. Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan
Pendidikan Lembaga Penelitian Universitas
Palangka Raya tahun 2006.
4. Ketua Program Magister PLS Universitas Palangka Raya tahun 2008. Ketua Badan Akreditasi Nasional (BAN) Provinsi Kalimantan Tengah 2016-2018. Kepala UPT. Perpustakaan Universitas Palangka Raya 2018 hingga sekarang.
9. Mengajar Untuk S-1 Pendidikan Luar Sekolah
Untuk S-2 1.Program Magister Pascasarjana PLS Universitas Palangka Raya
2.Pascasarjana TAIN sekarang IAIN Palangka Raya
3.Pascasarjana MAP Univ. Muhammadiyah Palangka Raya
4.Pascasarjana IAIN Antasari Banjarmasin
10. Anggota Badan Stándar Pendidikan (Nasional) Jakarta.
11.Aktif memberikan makalah dalam Seminar lokal, regional dan Nasional
12.Aktif memberikan komentar dalam hal sosial dan kemasyarakatan pada media cetak dan elektronik.
13.Sudah berkeluarga dan dikaruniai 2 orang putra. Mereka berdua menekuni bidang kedokteran.
14.Hobby menulis dan olahraga tens lapangan
Selasa, 07 April 2015
Pemecahan Kementerian Pendidikan Diharapkan tidak Munculkan Masalah
> Dunia Kampus
Wednesday, 29 October 2014, 11:22 WIB
Komentar : 0
Republika/ Tahta Aidilla
Presiden Jokowi dan Wapres Jusuf Kalla saat membacakan pengumuman kabinet di Istana Negara, Ahad (26/10)
A+ | Reset | A-
REPUBLIKA.CO.ID, BANJARMASIN -- Akademisi Universitas Palangka Raya Kalimantan Tengah Prof. Norsanie Darlan berharap, pemecahan Kementerian Pendidikan Nasional menjadi dua pada Kabinet Kerja Jokowi - JK, tidak menimbulkan masalah.
"Saya khawatir dengan adanya dua kementerian yang mengurusi pendidikan di negeri ini bisa menimbulkan kesulitan atau masalah," ujar dosen Universitas Palangka Raya (Unpar) tersebut kepada Antara, Rabu (29/10).
Seperti diketahui, dalam Kebinet Kerja Jokowi - JK ada dua Menteri yang hampir sama atau banyak bersinggungan satu sama lain dalam tugas dan fungsi, yaitu Menteri Kebudayaan dan Pendidikan Dasar dan Menengah, serta Menteri Riset dan Pendidikan Tinggi.
Kekhawatiran itu, menurut Norsanie, karena tugas Direktorat Jenderal (Ditjen) Pedidikan Tinggi (Dikti) salah satunya bertugas memproduk profesor."Saya belum yakin semua profesor yang diproduk orang-orang perguruan tinggi/dosen. Siapa tahu non dosen juga bisa muncul masalah baru," katanya
Langganan:
Postingan (Atom)