Minggu, 22 Mei 2016
KALTENG DAPAT PAGU AKREDITASI 300 PENYELENGGARA PLS
Banjarmasin, 21/5 (Antara) - Badan Akreditas Pendidikan Kalimantan Tengah mendapatkan pagu mengakreditasi 300 lembaga penyelenggara pendidikan luar sekolah (PLS) di provinsi itu tahun 2016.
Ketua Badan Akreditasi Pendidikan (BAP) Kalimantan Tengah (Kalteng) Prof Dr HM Norsanie Darlan MS PH mengemukakan itu di Banjarmasin, Sabtu.
Lembaga penyelenggara PLS atau pendidikan non formal (PNF) itu terdiri dari Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), Lembaga Kursus Pelatihan (LKP) serta Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM).
"Padahal di provinsi yang kini terdiri atas 14 kabupaten/kota memiliki 800 lembaga penyelenggara PLS," ujar Norsanie yang juga Guru Besar pada Universitas Palangka Raya (Unpar), Kalteng.
Oleh sebab itu, lanjutnya, dalam mengakreditasi. PAUD, LKP dan PKBM tersebut sudah barang tentu akan dibagi berdasarkan porsinya secara berimbang pada setiap kabupaten/kota se-Kalteng.
Ia memperkirakan, mengakreditasi lembaga penyelenggara PLS/PNF di "Bumi Isen Mulang" (pantang mundur) Kalteng itu selesai oktober atau Nopember.
"Kita berharap 500 lembaga penyelenggara PLS/PNF di Kalteng, BAP provinsi ini kembali mendapat pagu mengakreditasi tahun 2017 - 2018," ujar dosen pacasarjana pendidikan luar sekolah pada perguruan tinggi negeri tertua di Bumi Isen Mulang atau "Tambun Bungai" Tersebut.
"Dengan diakreditasinya lembaga-lembaga pendidikan penyelenggara PLS/PNF, maka akan terlihat dan dapat diketahui apakah lembaga-lemabaga itu layak untuk diikuti," tuturnya.
Bagi yang mendapat akreditasi A, maka lembaga itu punya hak menandatangani Ijazah sendiri, tanpa melalui Dinas Pendidikan (Disdik), namun yang belum lulus akreditasi boleh mengulang tahun berikutnya.
Dalam kaitan lembaga penyelenggara PLS/PNF di Kalteng, lanjutnya, dari provinsi tersebut mengikuti rapat kerja nasional (Rakernas) di Jakarta 17 - 19 Mei di Grand Sahid Jaya Hotel Sudirman Jakarta.
Delegasi dari Kalteng menghadiri Rakernas atau bertemu 34 provinsi lain di Indonesia itu, Ketua dan Sekretaris BAP provinsi setempat masing-masing Prof Dr HM Norsanie Darlan MS PH dan Ratna Sarmila Sari S.IP.
Selain itu, Kepala Bidang Pendidikan Non Formal (dulu PLS) Dinas Pendidikan Kalteng Drs Suladeri M Pd. ***4***
(T.KR-SKR/B/F.C. Kuen/F.C. Kuen) 21-05-2016 18:21:09
Minggu, 24 April 2016
PENGAMAT : PAHANDUT PALANGKA RAYA MILIKI HANYA SATU TENAGA PENILIK
D0240416000191 24-04-2016 IBU BJM
Banjarmasin, 24/4 (Antara) - Palangka Raya memiliki hanya satu tenaga penilik padahal menurut peraturan semestinya minimal tiga orang, menurut akademisi dan pengamat pendidikan masyarakat di Kalimantan Tengah Prof Dr HM Norsanie Darlan MS PH.
"Hal itu terungkap dari hasil penelitian seorang mahasiswa S2 Pendidikan Luar Sekolah atau Pendidikan Non Formal (PLS/PNF) pada Universitas Palangka Raya (Unpar) Kalimantan Tengah (Kalteng)," ujarnya kepada Antara Kalimantan Selatan di Banjarmasin, Minggu.
Berdasarkan penelitian mahasiswa S2 PLS/PNF Unpar itu, di "kota cantik" Palangka Raya, ibukota Kalteng atau khususnya di Kecamatan Pahandut hanya ada seorang penilik.
Oleh karena hanya seorang penilik pada Kecamatan Pahandut itu, maka dengan nada menyindir Norsanie, Guru Besar PLS/PNF Unpar mengatakan, Palangka Raya memiliki tenaga penilik tangguh.
Karena berdasarkan Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara (Permenpan) RI Nomor 14 tahun 2010 pasal 27 ayat (2) secara jelas formasi penilik minimal tiga maksimal 12 dalam sebuah kecamatan.
Oleh sebab itu, menurut akademisi perguruan tinggi negeri tertuan di "Bumi Isen Mulang" (pantang mundur) Kalteng tersebut, sedikit lucu Palangka Raya sebagai ibukota provinsi hanya memiliki seorang penilik.
"Apakah tidak pernah membaca peraturan atau kah karena salah tempat dalam tugas pokok dan fungsi (tupoksi) petugas. Karena memandang PLS/PNF seperti biasa saja," ujar mantan Kepala Badan Pendidikan dan Pelatihan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kalteng itu.
Padahal, lanjutnya, banyak "suku cadang" yang pejabat bukan PLS/PNF tidak mengetahui bahwa bidang pendidikan luar sekolah itu ada kala menjadi rebutan oleh berbagai keilmuan lain. Sementara yang dididik bidang itu diam-diam saja.
Mereka yang berpendidikan PLS/PNF tidak dapat tempat untuk menduduki jabatan yang sesuai dengan keahliannya. "Jadi semua rusak, bagaikan pedati yang bautnya ada yang cocok tidak dipakai, tapi yang dipasang baut yang bukan peruntukannya," ujarnya.
Ia mempertanyakan, mau diapakan jalur pendidikan non formal. Padahal jalur ini secara jelas menampung masyarakat yang karena sesuatu dan lain hal tidak sempat mengikuti pendidikan formal. Karenanya pemerintah membantu mereka malalui jalur PLS/PNF.
"Anehnya lagi di Palangka Raya yang semestinya menjadi barometer kabupaten lainnya di Kalteng tersebut, belum memiliki sanggar kegiatan belajar (SKB). Lucunya lagi, Palangka Raya satu-satunya kabupaten/kota di Indonesia tak punya SKB," ujarnya.
Wali Kota Palangka Raya pernah merencanakan untuk mendirikan SKB seperti kabupaten/kota di tanah air. Ternyata nota Wali Kota 27 Agustus 2015 yang isinya memerintahkan instansi terkait, bahwa konsep yang telah dibuat tokoh PLS segera masuk program 2016.
Sedangkan yang non fisik masuk dalam perubahan anggaran tahun 2015. Tapi perintah orang nomor satu jajaran pemerintah kota (Penkot) Palangka Raya terabaikan, mungkin karena faktor kesibukan, demikian Norsanie Darlan.***4***
(T.KR-SKR/B/F. Assegaf/F. Assegaf) 24-04-2016 08:53:02
Sabtu, 23 April 2016
D0230416000235 23-04-2016 KSR BJM
AKADEMISI : MENINGKATKAN BUDAYA BACA PERLU KERJA SAMA
Banjarmasin, 23/4 (Antara) - Akademisi Universitas Palangka Raya Kalimantan Tengah Prof Dr HM Norsanie Darlan berpendapat, upaya meningkatkan budaya baca terutama bagi pelajar dan mahasiswa, perlu kerja sama antara perpustakaan dan pendidik, baik guru atau pun dosen.
"Kerja sama itu penting dalam upaya meningkatkan minat atau budaya baca masyarakat, terutama bagi pelajar dan mahasiswa," ujarnya di Banjarmasin, Sabtu.
Ia menyampaikan pendapat itu dalam rapat kerja perpustakaan seprovinsi tersebut di Buntok, ibu kota Kabupaten Barito Selatan, Kalimantan Tengah (Kalteng) beberapa hari lalu, dengan topik "Upaya Memasyarakatkan Budaya Baca".
Menurut dosen pascasarjana Pendidikan Luar Sekolah atau Pendidikan Non Formal (PLS/PNF) itu, upaya memasyarakat budaya baca, antara lain mengajak warga untuk datang ke perpustakaan supaya mereka rajin membaca.
"Khusus bagi pelajar dan mahasiswa supaya rajin datang ke perpustakaan, perlu kerja sama antara pengelola perpustakaan dan guru atau dosen," tegas guru besar pada perguruan tinggi negeri tertua di "Bumi Isen Mulang" (pantang mundur) Kalteng itu.
Sebagai salah satu contoh kerja sama itu, agar guru mengajak muridnya datang ke perpustakaan untuk membaca maupun meminjam buku-buku yang ada di perpustakaan.
Profesor yang berasal dari Desa Anjir Serapat Kabupaten Kapuas, Kalteng itu mencontohkan pengalaman dirinya sendiri ketika mahasiswa Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) Malang, Jawa Timur (Jatim).
"Karena setiap hari datang ke perpustakaan. Ternyata pihak perpustakaan memberikan penilaian kepada siapa saja mahasiswa yang mau datang secara rutin dalam waktu tertentu ke perpustakaan," tuturnya.
Dari pengalaman kuliah di IKIP (kini Universitas Negeri Malang) tersebut, dia menyarankan, sebaiknya ada hadiah tertentu kepada mereka yang rajin datang ke perpustakaan. Walau sesederhana mungkin hadiah itu, sarannya.
"Mereka yang mendapat hadiah itu memberitahu kepada teman-temannya agar kawannya termotivasi untuk datang juga ke perpustakaan," kata Norsanie Darlan.
Sementara itu, lanjut dia, Kepala Badan Perpustakaan dan Arsip Daerah Kalteng Drs H Rudiansyah Iden mengajak akademisi agar mahasiswa untuk datang ke perpustakaan daerah dan mencari buku terutama saat mereka menulis skripsi dan thesis.
Berbicara tentang budaya baca, Kepala Perpusda Kalteng mengatakan, masyarakat di Bumi Isen Mulang atau provinsi yang terdiri atas 14 kabupaten/kota tersebut memang terjadi peningkatan.
"Karena masyarakat Kalteng yang juga disebut 'Bumi Tambun Bunga' itu mulai sadar dan mengerti bahwa buku merupakan sebuah informasi yang sangat berguna bagi dirinya," kata Rusdianyah Iden. ***4***
(T.KR-SKR/B/T. Subagyo/T. Subagyo) 23-04-2016 07:30:10
Sabtu, 16 April 2016
AKADEMISI UNPAR SARANKAN TES NARKOBA PENERIMAAN MAHASISWA
D0170416000258 17-04-2016 KSR BJM
Banjarmasin, 17/4 (Antara) - Akademisi Universitas Palangka Raya (Unpar) Kalimantan Tengah Prof Dr HM Norsanie Darlan MS PH menyarankan sebaiknya perguruan tinggi melakukan tes urine terlebih dahulu dalam penerimaan calon mahasiswa (Cama).
"Tes urine tersebut untuk mengetahui, apakah cama itu mengonsumsi narkoba. Bila mengonsumsi narkoba, maka agar perguruan tinggi tersebut menolak menerima cama itu," sarannya dalam percakapan dengan Antara Kalimantan Selatan di Banjarmasin, Minggu.
Saran Guru Besar Unpar itu berkaitan dengan musim pendaftaran cama baru pada berbagai perguruan tinggi, baik negeri maupun swasta di Indonesia belakangan ini, dengan pelamarnya cukup beragam.
Menurut Koordinator Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Kalimantan Tengah (Kalteng) itu, tes urine atau menghindari cama narkoba tersebut penting agar citra perguruan tingginya tetap terjaga dan tidak bagaikan peribahasa terbeli kucing dalam karung.
Sebab, lanjut dia, kalau perguruan tinggi kecolongan, seperti sampai menerima mahasiswa narkoba bisa berdampak luas, bukan cuma pada kalangan sesama mahasiswa lain dan kampus itu sendiri, tapi juga kepada masyarakat umum.
"Lebih dari itu mau kemana negara dan bangsa ini, kalau generasinya sebagai colon intelektual mendatang adalah orang-orang yang mengonsumsi narkoba," ujar laki-laki asal Desa Anjir Serapat Kabupaten Kapuas, Kalteng tersebut.
Karena, lanjut profesor yang berkarir mulai dari pegawai rendahan (pesuruh) itu, kemungkinan lima lima tahun ke depan, cama-cama tersebut akan menjadi sarjana S1 yang notabene tergolong intelektual.
Oleh sebab itu pula, sebaiknya perguruan tinggi lebih berhati-hati dalam menerima cama baru. "Karena kalau sudah terlanjur menerima mahasiswa narkoba misalnya, bisa bagaikan makan buah si mala kama - membuang sayang dan dimakan tak enak.
Mantan Kepala Badan Pendidikan dan Pelatihan Pemerintah Provinsi Kalteng itu berdapat, mungkin ada baiknya kalau secara berkala/sewaktu-waktu dengan dadakan perguruan tinggi tersebut melakukan tes urine kepada mahasiswanya.
Begitu pula terhadap keluarga besar perguruan tinggi lainnya, seperti karyawan dan dosen, mungkin tidak salah tes urine, apakah juga pengonsumsi narkoba, demikian Norsanie Dalan. ***4***
(T.KR-SKR/B/T. Susilo/T. Susilo) 17-04-2016 08:13:28
AKADEMISI UNPAR APRESIASI ARTIS UJIAN PAKET C
D0160416000272 16-04-2016 IBU BJM
Banjarmasin, 16/4 (Antara) - Akademisi Universitas Palangka Raya (Unpar) Kalimantan Tengah Prof Dr HM Norsanie Darlan MS PH mengapresiasi banyak artis mengikuti ujian Paket C tahun ini.
"Terlepas di balik banyaknya keikutsertaan artis ujian Paket C atau setara Sekolah Lanjutan Tingkat Atas (SLTA), kita apresiasi," ujarnya kepada Antara Kalimantan Selatan di Banjarmasin, Sabtu.
Keikutsertaan artis ujian Paket C, apakah mau ikut mencalonkan anggota legislatif atau kepala daerah, profesor tersebut tidak mempersoalkan, karena sebagai salah satu bentuk penghargaan terhadap pendidikan non formal (PNF).
Guru Besar S1 dan S2 Pendidikan Luar Sekolah (PLS) atau PNF Unpar itu mengaku kagum membaca koran, mendengar/melihat berbagai tayangan TV, banyak artis tahun ini mengikuti ujian Paket C.
Kekaguman itu dengan group Aurel anak perempuan Anang Hermansyah dan kawan-kawan, walau di tengah-tengah kesibukan mereka harus menyempatkan diri turun ke Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) dalam belajar berbagai paket, yang sesuai dengan pendidikan yang dimilikinya.
"Mahasiswa saya yang kebetulan bukan program studi (prodi) PLS/PNF pernah bertanya, apa sebenarnya Paket C itu? Saya spontan menjawab, Paket C berdasarkan Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional Nomor 20 tahun 2003 adalah pendidikan yang disetarakan SLTA," tuturnya.
Semula peserta ujian Paket C tidak saja para pemuda-pemudi seperti: Stuart Collin, Ochi Rosdiana, Aurel anak perempuan Anang Hermansyah dan Krisdayanti dan lain-lain. Tapi pada masa lalu, mereka yang ikut Paket C tergolong sudah berusia.
Karena, lanjutnya, pendidikan itu secara ilmiah tidak akan terpecahkan hanya satu jalur, seperti pada pendidikan formal saja, misalnya Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan SLTA saja, tapi juga melalui jalur PLS atau PNF.
"Memang kalau kita perhatikan pendidikan itu tidak semua orang ada kesempatan menempuh jalur persekolahan. Nah karena sesuatu dan lain hal itulah, ada sekelompok masyarakat yang sudah berusia baru sadar bagaimana mereka mendapatkan merasakan pendidikan," ujarnya.
"Sementara usianya sudah 30-40 tahunan, kan masuk sekolah formal tidak sesuai lagi karena faktor usia. Seperti murid lebih tua dari guru, tentu saja tidak cocok," lanjut mantan aktivis Ikatan Pers Mahasiswa Indonesia (IPMI) tersebut.
Oleh sebab itu, mereka yang berumur itu harus ikut jalur PLS/PNF. Di Unpar ada prodi S1 dan S2 PLS/PNF satu-satunya di luar jawa' kini sedang penerimaan mahasiswa baru, demikian Norsanie Darlan.***4***
(T.KR-SKR/B/O. Tamindael/O. Tamindael) 16-04-2016 09:25:55
Jumat, 25 Maret 2016
AKADEMISI UNPAR KALTENG SARANKAN WASPADAI SMS
D0250316000286 25-03-2016 HKM BJM
Banjarmasin, 25/3 (Antara) - Akademisi Universitas Palangka Raya (Unpar) Kalimantan Tengah Prof Dr HM Norsanie Darlan MS PH menyarankan agar pihak berwenang bersama masyarakat meningkatkan kewaspadaan terhadap SMS atau pengirim pesan singkat.
Pasalnya tidak semua SMS dari telepon seluler benar, dan bahkan bisa mengganggu, menyesatkan serta merugikan orang lain, baik secara materil maupun moril, ujarnya kepada Antara Kalimantan Selatan (Kalsel) di Banjarmasin, Jumat.
Guru Besar pada perguruan tinggi negeri tertua di "Bumi Isen Mulang" (pantang mundur Kalimantan Tengah (Kalteng) itu mengaku cukup merasa terganggu dengan berbagai penawaran via telepon selular/SMS.
Ia mencontohkan dirinya merasa terganggu ketenangan, dan bahkan membuat seorang bertanya, karena ada sesuatu yang terkesan aneh.
Sebagai contoh, tutur Koordinator Satuan Wilayah Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Kalteng itu, ada tokoh masyarakat yang menanyakan dirinya apakah beralih agama/kepercayaan.
"Saya pun kaget atas pertanyaan itu. Kemudian saya cek nada tunggu HP saya menggunakan HP orang lain, ternyata yang muncul lagu-lagu rohani non Muslim," ungkap laki-laki kelahiran Desa Anjir Serapat Kabupaten Kapuas, Kalteng tersebut.
Guru Besar pada Unpar itupun memperkirakan hal tersebut karena penawaran sesuatu via SMS lewat Nomor 12xxxx yang menawarkan berlangganan NSP yang isinya nyanyian rohani.
Kemudian ada pula 12xxxx, NSP 12xx, serta 12xxxx, yang juga bisa menyesatkan atau mengganggu pemikiran, lanjut sang profesor yang berkarir dari pegawai rendahan (pesuruh) di perguruan tinggi ternama dan kebanggaan masyarakat Kalteng tersebut.
Ia berharap pembuat NSP melalui SMS itu dihentikan, dan kalau melanggar hukum perlu penindakan, guna keadilan.
Begitu pula pihak terkait atau berwenang agar melakukan pengawasan yang lebih intensif atau berupaya maksimal bagaimana cara sehingga SMS yang bisa menyesatkan itu terbloker, demikian Norsanie Darlan.***2***
(T.KR-SKR/B/H. Zainudin/H. Zainudin) 25-03-2016 09:40:46
Kamis, 03 Maret 2016
VILLAGE IN THE COMMUNITY AREAS BACKWARD
VILLAGE IN THE COMMUNITY AREAS BACKWARD A Small Research About: PNF gait VILLAGE IN THE COMMUNITY AREAS BACKWARD (Between Hope and Reality) 0leh: HM Norsanie Dalan lowered ABSTRACT This paper aims to introduce about gait 1.Ingin PLS / PNF during the time in the community; and 2.Ingin know how gait PLS / PNF in society and 3.Ingin pembardayaan know clearly how Mehaga Lewu Program in Central Kalimantan, and (4) Want to know how people's knowledge of PLS / PNF in disadvantaged areas. Methodology This study uses qualitative research subjects in 3 groups of each community: Community urban, suburban and rural communities (rural villages). To obtain more accurate data using research tools such as: (1) interview, (2) observation and (3) the documentation related to problems. Once the data is obtained, also conducted triangulation. To obtain the data analysis consists of data collection, data reduction, data presentation, and conclusion or verification. The research results obtained are: (1) By introducing about the pursuit of PLS / PNF during the time in the community. Because the activities of PLS / PNF has been less known to the public. So that various attempts have been made, whether by lecturers, students with a variety of programs. Maupan figures of non-formal education. But still have not found the most effective way. (2) the pursuit of educators PLS / PNF in pembardayaan people have started going movement with various things. But there are still some constraints mean that people have more confidence in formal education than non-formal education and (3) clearly how Mehaga Lewu Program in Central Kalimantan has been initiated by the government and society. However kesaran of it is still low in many Kangan. So that this program needs to be driven regularly by the government. Because there is a sense of community dependence on government involvement; and (4) While the public's knowledge about the PLS / PNF in disadvantaged areas, are very low. That our society still many people who do not understand what it's school education / PNF. Keywords: Gait PNF, Mahaga Lewu, Underdeveloped Regions. posted by norsanie Darlan in 14:59 No comment: Labels PM Share to Twitter Share to Facebook Share to Pinterest Academics: EDUCATE NOT weaken KPK Early norsanie Avatarnorsanie Commission syamsuddin.hasan@ymail.com To sanie_da@yahoo.co.id Feb 9 at 6:21 AM D0070216000809 07-02-2016 HKM BJM Academics: EDUCATE NOT weaken KPK Banjarmasin, 7/2 (Antara) - Academics Palangkaraya University (Unpar) Central Kalimantan Prof Dr HM Noersani Darlan MS PH argues, the task of weakening the KPK deed that does not educate. Professors at public universities oldest "Earth Isen Mulang (persist) in Central Kalimantan (Kalimantan) that express their opinions in perkecapakan with Antara South Kalimantan (Kalimantan) in London on Sunday. According to Professor of School Education / Non-Formal Education (PLS / PNF) Postgraduate Unpar it, since the existence of the Corruption Eradication Commission (KPK) early in 2000 in this country a lot done in an effort to save the state or local governments. the presence of the Commission in this country, said former activists of the Association of Student Press Indonesia (IPMI) that, provide early warning to anyone who wants menggrogoti money state or local government. "for those who want menggrogoti state money or the money of local government must have felt aghast to do nonsensical, with the presence of the Commission," said the former Head of Education and Training of government provincial (provincial) Kaltwng it. Because according to him, the Commission an institution formation of interest to save the state money in this beloved country, including in the regions. "With the presence of the Commission make potential criminals are afraid to do. It's educating them not to commit corruption. But today tamapknya no plans to weaken KPK tasks on time so that the Commission no longer helpless," he said. The Commission now has a lot to do with a superiority in the form of a way of tapping, but belakngan must be authorized by a particular party, then tapping will certainly trouble. Because it tapped into a conversation or SMS someone. "Especially when a conversation or SMS should be reported first and ask permission to certain parties. There is a possibility that it would arrest to a particular party. Useless Commission do to ask for permission first," he continued. "Because, temporarily would ask permission of cases handled by the KPK, the perpetrators of corruption has passed and fled from the place. The weakening of the Commission as he wants the plan now, making them carry out their duties so barren," said Norsanie *** 2 *** (T.KR-SKR / B / H. Zainudin / H. Zainudin) 07-02-2016 22:12:56 posted by norsanie Darlan in 14:48 No comment: Labels PM Share to Twitter Share to Facebook Share to Pinterest Sunday, February 14, 2016 PROFESSORS CONTRIBUTE UNPAR Kalteng BACK BOOK 13-02-2016 D0130216001409 MOM BJM Kuala Kapuas, Central Kalimantan, 13/2 (ANTARA) - Professor of the University of Palangkaraya (Unpar) Central Kalimantan Prof Dr HM Norsanie Darlan, MS PH again donated books were the work / own writing. This occasion, he contributed some 42 titles with 150 copies to the Mujahidin Mosque Anjir tightly Km 9 Kapuas District of East (about 40 kilometers west of Banjarmasin) Kapuas, Central Kalimantan (Kalimantan), Saturday. The delivery of these books in an atmosphere of activities of the Regional Council (Musda) 7th Muhammadiyah Kapuas, who also attended the Central Leadership of the organization, Prof. Dr. H. Dadang MSc him as well as the Director of the Graduate University of UIN once IAIN Sunan Gunung Jati Cibiru, as well as the Regional Board of Muhammadiyah Central Kalimantan. According to the man born as close Anjir East Kapuas, the contribution of these books for more prosperity of the local mosque in particular, but it is possible also for the public who want to read. "Because the book one of the doors or warehouse of knowledge, so naturally it is for everyone to read or to know," continued the former activist of the Student Press Association of Indonesia (IPMI) is. Previous professors career since from clerks (messenger) was also donated books to the Library Unpar the year 2012 as many as 80 titles (180 copies), which received the rector of the state university. In addition, Regional Library, 102 Central Kalimantan with 190 former title, the delivery of which in the framework of Independence Day were accepted by Central Kalimantan Governor Agustin Teras Narang, SH. Then the Muhammadiyah University Library Palangkaraya (UMP) CK completed shortly Scientific delivered speeches on the campus, which received its president as well as the Director of Graduate in IAIN Antasari Banjarmasin while giving a lecture to students of S-2. In a series of Musda 7th Muhammadiyah Kapuas 2016, Prof Norsanie also donated 30 ex on "History of Muhammadiyah in Central Kalimantan," to the Committee of Musda, to be distributed to the participants Musda. Before starting the 7th Musda also peresemian Mujahidin Mosque and the hostel, which is managed tightly Board of Muhammadiyah Anjir Km 9 Kupuas East. Things maching band of each contingent of participants Musda enliven the activities of Muhammadiyah in the "City of Water" Kapuas it. guest participants also attended by delegates from Hulu Sungai Utara like: Muhammadiyah branches and twigs from South Kalimantan: Alabio, Hambuku and Babirik. Likewise, from Hulu Sungai Selatan (Cage) a presence of more than 200 people it demonstrates marcing band and martial arts his Holy Site *** 4 *** (T.KR-SKR / B / FC Kuen / FC Kuen) 13- 02-2016 22:11:23 Powered by Telkomsel BlackBerry
Diposkan oleh norsanie darlan di 06.15
Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke FacebookBagikan ke Pinterest
Langganan:
Postingan (Atom)