Rabu, 08 Juli 2020

PERPUSTAKAAN JANTUNG PERGURUAN TINGGI

PERPUSTAKAAN JANTUNG PERGURUAN TINGGI Oleh: H.M.Norsanie Darlan Pendahuluan Penulis pernah menawarkan sebuah lomba bagi kalangan dosen yang isinya siapa diantara dosen yang banyak menulis apakah dalam bentuk: buku, artikel dan karangan lainnya. Namun tak ada jawaban atas ide yang digulirkan itu. Kalau demikian sudahlah untuk seadanya. Memang sebaiknya ada pula yang mensponsorinya seperti pemberian hadiah walau sekecil mungkin diserta selembar tanda penghargaan dari pimpinan perguruan tingginya itu sendiri. Penulis sedih melihat dan mendengar jawaban seorang calon dosen muda yang baru diterima bekerja di suatu perguruan tinggi. Setelah penulis bertanya kepadanya “...sudah berapa buku yang sdr tulis untuk jadi dosen di sini...” ? jawabannya belum ada. Karena jadi dosen tidak saya rencanakan !!!. sedih rasanya mendengar perkataan demikian. Bagaimana ia nanti di depan kelas dengan mahasiswa...”? tentu saja perbuatan seperti itu tidak dapat dijadikan teladan tertunya. Kalau jawabnya demikian, ada berapa buku yang kau siapkan untuk mengajar nanti ? jawabnya sangat sedikit, “...belum ada dan belum beli...” apa di Palangka Raya banyak toko buku ? penulis tersenyum dan si calon dosen perlahan-lahan bergeser ke tempat lain untuk menghindar segala pertanyaan. Penulis ingin jika seorang dosen mau diteladani tentu telah memiliki sejumlah buku karya tulisnya. Kesenangannnya. Terlebih dalam bidang keilmuannya. Demikian juga mahasiswa teladan punya karya yang memadai. Dan pernah dipublikasikan di media cetak baik lokal maupun nasional. Seorang calon Prof. Sudah sejak lama diminta untuk melampirkan karya tulisnya apakah pada jurnal terakreditasi nasional maupun internasional. Dan sebaiknya harus karya sendiri, sehingga hak cipta betul-betul sesuai nama sipenulis sendiri. Tapi bagaimana hak ciptanya, jika karya tulis ilmiah itu tulisan orang lain. Ini perlu dilakukan penilaian tersendiri tentunya. Buku bagaikan jendela rumah zaman teknologi yang serba modern sekarang tidak ada yang sulit. ,masa lampau ditahun tujuh puluhan, waktu menulis skripsi sarjana muda ada seorang dosen yang ditakuti kawan-kawan untuk menjadi pembimbing. Penulis maju memberanikan diri. Apa yang ditakuti teman-teman mahasiswa itu bagaimana. Dan kalau terpaksa harus dibimbing oleh beliau tidak mungkin bisa lulus sesuai dengan jadwal yang ditetapkan. Hal ini pasti kesulitan memenuhi tuntutan terhadap buku literatur yang dijadikan pustaka dalam penulisan skripsi. Penulis dalam tugas akhir ditahun 1979 betul-betul berhadapan dengan dosen yang paling ditakuti kawan-kawan mahasiswa itu. Setelah dalam keputusan rapat fakultas penulis melihat dosen yang paling ditakuti itu ternyata membimbing saya. Dan inisiatip yang segera ditempuh adalah mencari judul-judul buku yang erat hubungannya dengan judul skripsi yang disepakati oleh ketua tim penetap judul karya tulis ilmiah itu. Setelah mendapatkan di perpustakaan Universitas buku-buku yang terkait. Penulis segera datang menghadap beliau dan disuruh mencari buku. Dan disaat itu pula penulis menyerahkan kepada beliau (pembimbing) skripsi itu. dan buku-buku yangsudah dibaca di perpustakaan. Tentu saja mudah hanya satu, dua saja lagi yang disuruh cari. Dan proposalpun segera diselesaikan. Dengan demikian buku sebagai jendela rumah, menurut: Prof. HAMKA, itu sungguh benar karena dizaman sekarang mahasiswa takut datang keperpustakaan adalah tanda tanya. Kenapa alasannnya ? apakah dosen pembimbingnya tidak pernah menyuruh mahasiswa bimbingannya untuk datang ke perpustakaan (mencari buku) atau si mahasiswanya yang tidak kreatif. Malas daatang pekerpustakaan. Karena perpustakaan itu adalah tumpukan buku semata. Padahal perpustakaan itu adalah jantung pergururuan tinggi. 2 tahun lebih penulis melakukan pertanyaan (yang sebetulnya penelitian) kepada sarjana yang mau di yudisium dan wisuda. Betul-brtul ada mahasiswa dengan segan is berkata: :”...tidak sempat saya ke perpustakaan karena kesibukan kuliah...”. benar atau tidak wallah hua’alam. Ini suatu kejadian sang calon sarjana tanpa datang membaca, meminjam buku di perpustkaaan kok dapat lulus jadi sarjana. Bagi perpustakaan tidak rugi, tapi bagi si sarjana baru ini, mampukah menghadapi tantangan hidup di era buku digital nanti ? apakah tidak malu dengan menyandang gelar tapi tidak bermutu ? Mahasiswa kreatif adalah mahasiswa yang rajin membaca, rajin berdiskusi dan juga rajin menulis. Buku apapun yang ada disekitar kita, perlu kita baca. Membanca ini sungguh banyak manfaat. Seperti orang tidak pernah jalan-jalan ke ibu kota negara. Tapi karena membaca sejarah berdirinya Jakarta, maka ia tahu tentang jakarta dan sebagainya. Apalagi mendiskusikannnya sehingga ia banyak tahu tentang itu. Prancis Baccon Diabat pertengahan terlahir seorang tokoh diberi nama: Prancis Baccon, ia saat itu dapat mengkalisifikasikan manusia dalam 3 kelompok besar. Yaitu: kelompok Pertama adalah bisa membaca berarti manusia itu dapat mengetahui apa isi alam ini. Dengan mengetahui isi alam ini, maka ia pasti punya otak mencerna apa saja yang diciptakan oleh Yang Maha Kuasa sebagai isi alam ini. Kelompok ke dua berdiskusi. Seseorang yang karena membaca pasti mencari teman, kawan dalam memecahkan permasalahan yang ia hadapi. Seperti saat ini kenapa anak usia sekolah dibatasi dalam kelopok usia tertentu. Bagaimana yang usianya diluar kelompok itu?. Bagaimaha mereka yang karena sesuatu hal tidak sempat belajar, karena faktor, ekonomi, lingkungan atau jarak geografis yang tidak memungkin seperti di pedalam kalimantan tengah ?. tapi sekarang hal-hal di atas sebagai tantangan telah terpecahkan. Mau sekolah tapi sekolah menutup pintu kepadanya. Ini perlu pemikiran dan banyak diskusi. Tentu melalui diskusi yang panjang. Padalah dalam Undang-Undang nomor 2 tahun 2003 secara jelas penduduk Indonesia wajib belajar. Bahkan sekarang sampai lulus SLTA. Kelompok ke Tiga bisa menulis. Adalah sebuah pertnyaan. Menulis apa ? yang dimaksud menulis disini menurut: Prancis Baccon adalah meng analisa permasalahan yang ada dihadapi dan menguraikannya secara cermat dan rinci terhadap permasalahan yang dihadapi itu, apa berbentuk buku, artikel dan karangan lainnya. Bahkan dapat dipublikasikan dalam media cetak dan elektronika. Perpustakaan Seorang mahasiswa mau mengantar skripsinya pergi ke perpustakaan. Kok sedikit agak lucu, dalam suasana kebengungan, sehingga kemana ia harus menyerahkan buku karya tulis ilmiahnya seperti: Skripsi, Thesis dan Disertasinya. Penulis tersenyum sambil bertanya dihati “...apakah mahasiswa ini belum pernah datang ke perpustakaan ini untuk membaca...?. karena diperpustakaan perguruan tinggi ia kuliah selama 4 – 7 semester tidak tahu ke mana ia menyerahkan karya tulisnya. Apakah dosen pembimbing mahasiswa dan dosen pembimbing skripsinya ybs tidak pernah menyuruh si mahasiswa itu mencari buku ke perpustakaan di perguruan tingginya. Lalu apa kerjaan mahasiswa selama kuliah itu. Apakah si mahasiswa itu sudah punya buku literatur yang lengkap ? sehingga ia tidak perlu datang ke perpustakaan untuk mencari buku sebagai literatur skripsinya?. Kepada mahasiswa alangkah indahnya jika sudah terdaftar sebagai mahasiswa, ia boleh datang dan membaca buku-buku yang ada kaitannya dengan jurusan/program studi yang akan ia tekuni. Penulis jadi ragu kalau seorang mahasiswa tidak pernah membaca, meminjam buku di perpustakaan. Keraguan itu ada yang katanya: mahasiswa tapi tidak pernah membaca. Padahal perpustakaan adalah antung perguruan tinggi. Katanya mahasiswa tapi tidak pernah menulis. Pertanyaan lebih jauh ke masa depan, bagaimana jika ia bekerja nanti, kemana ia harus mencari buku sebagai sumber ilmu. Atau setelah bekerja tidak bisa kerja. Disuruh atasan membuat konsep berminggu-minggu tak kunjung jadi. Padahal katanya “ seorang sarjana”. Ini menurunkan harga diri seseorang kalau terjadi hal yang demikian. Perpustakaan Digital Di Universitas palangka Raya sejak 27 maret 2019 universitas sudah dapat julukan perpustakaan digital. Kelemahan kita tidak punya modal membeli sampai 35 ribu judul buku digital yang banyak perpustakaan universitas di tanah air telah membelinya. Untuk menciptakan perpustakaan digital khusus untuk awalnya akan melayangkan hasil-hasil penelitian mahasiswa. Apakah skripsi, thesis ataupun disertasi. Sayangnya sejak awal tahun 2019 mencoba ke arah itu. Sehingga skripsi, thesis dan diserta alumnus kita bisa dibaca walau mereka berada di negeri seberang. Misalnya mahasiswa dan dosen Malaysia, Singapura University, Berunai, Philipina atau Australia. Karena mereka tekun mencari data untuk mengontak berbagai perpustakaan universitas untuk kepentingan penelitiannya. Di UPT. Perpustakaan Universitas Palangka Raya lebih dari 8000 (delapan Ribu) skripsi yang sudah didukomentasikan. Namun karena media kita masih belum memadai sangat terpaksa masih disimpan dulu dalam hardis external yang risiko rusaknya tinggi. Karena keterbatasan komputer yang ada. Penulis berharap Teknologi Informasi Komunikasi (TIK) yang ada di UPR bisa segera berjalan seiring dalam mempublikasi hal di atas. Walau disadari sebelumnya cukup besar tantangan UPT. Perpustakaan untuk beriringan tangan pada program digital perpustakaan kita. Dan sekedar ditahui silahkan ambil komputer buka google “tulis norsanie darlan “ nanti akan muncul sederet karya tulis putra Anjir Serapat Kabupaten Kapuas Kalteng di sana. Penulis berharap dosen-dosen juga demikian. Pernulis pernah dikunjungi tamu asing, seorang dosen dari canberra university Australia ia saat itu menginap di Aquarius Hotel Palangka Raya. Semula ia datang ke STAIN atau IAIN sekarang. Lalu ia menanyakan /mencari nama penulis dan dari IAIN mengantarnya tamu yang bersangkutan ke rumah dan buku itu memang pernah ditulis judul yang ia cari itu,sudah tergolong lama tahun 1996. Dalam diskusi kecil kami, dari mana ia menemukan judul buku itu. Ia mengatakan judul buku itu di internet, ternyata saat penulis sebelum guru besar setiap buku, artikel, dan hasil penelitian dimasukkan kesebuah buku kecil. Sebagai daftar buku yang pernah penulis tulis, karangan sederhana itu dibawa oleh sejawat kita itu ke Australia sebagai bahan ajarnya. Dalam pemikiran penulis, mau saja ia datang mencari hal demikian, karena yang dipublikasikan itu hanya judul-judulnya saja. Sementara bagaimana isi silangkan membaca di perpustakaan pribadi penulis di rumah. Sukses selalu

Senin, 04 Mei 2020

JANGAN BERHARAP LIBUR BERARTI TIDAK KULIAH

Dalam kasus corona seperti sekarang sdr jangan mengharap libur. Harusnya menghitung untung ruginya membayar APP yang telah sdr bayar. Itulah berbagai cara dosen untuk sdr selama libur perkuliahan tetap jalan. Walau tidak tatap muka, via internet, foto copy dll agar waktu kuliah kalian tidak dirugikan. Ada sejumlah mata kuliah yang tidak diajarkan, tentu saja kalian rugi. Teknologi sudah canggih kenapa tidak cara lain ? Jika sdr diliburkan, kuliah jangan ditiadakan SIAPA YANG RUGI. Padahal sdr datang ke Palangka Raya untuk kuliah. Sekarang karena wabah corona kuliah sebaiknya jangan ditiadakan. tapi manfaatkan cara lain agar sdr tidak maka dan tidur di rumah.

Senin, 18 November 2019

MENGENALI PERPUSTAKAAN PERGGURUAN TINGGGI DI ERA DIGITAL

MENGENALI PERPUSTAKAAN PERGGURUAN TINGGGI DI ERA DIGITAL Oleh : H. M. Norsanie Darlan (Tulisan ini hasil mengikuti Konperensi Perpustakaan Digital di Banda Aceh 12-15 Nopember 2019) Pendahuluan Tulisan ini diturunkan dengan menyadari sebelumnya bahwa penulis tidak berlatar belakang pustakawan. Namun karena ingin mengemukakan pendapat dalam di perpustakaan Digital Indonesia ke 12 di Banda Aceh, maka penulis mencoba mengemukakan sekelumit pengalaman apa yang menjadi permasalah yang dirasakan selama bertugas di UPT. Perpustakaan Universitas Palangka Raya. Dalam pengembangan manajemen perpustakaan perguruan tinggi di era digital ini, kita tentu turut mencurahkan perhatian dan pikiran demi pegembangan untuk menuju kemajuan perguruan tinggi. Sebagai tantangan jika kurang memperhatian terhadap berbagai kemajuan ternologi digital di berbagai Perpustakaan yang ada di perguruan tingggi lain, membuat perpustakaan kita tertinggal. Lebih-lebih kalau pimpinan perguruan tinggi hanya menganggap perpustakaan perguruan itu sebagai pelengkap saja, namun disini sangat ini memerlukan tenaga profesional kreatif tentunya. Bagaimana kalau perpustakaan dianggap sebagai jantung di sebuah perguruan tinggi seharusnya ia mendapatkan perhatian khusus, terlebih dalam mempersiapkan akreditasi. Jika sebuah perpustakaan yang tidak mendapat perhatian dengan segala kurangannya, tentu menyeret akan kualitas lulusan (alumnus) kita sendiri. Apalagi jika dosen-dosen tidak pernah memberikan penugasan ke perpustakaan kepada mahasiswanya, membuat mahasiswa akan dangkal pemilikan pengetahuan pada bidang ilmunya. Harapan kita semua, para pimpinan perguruan tinggi yang mengharap alumnusnya bermutu, tentu perpustakaan juga harus turut diperhatikan, terlebih jumlah buku yang memadai, pelayanan tenaga pustakawan selalu senyum dan ramah kepada setiap pengunjung. Tentu mahasiswa/ mahasiswi akan senang untuk datang meminjam, membaca buku dan berdiskusi di perpustakaan. Apalagi buku yang tersedia cukup, maka hasil lulusannya tidak meragukan semua orang. Sebaliknya jika buku serta tidak tersedia pelayanan yang kurang menyenangkan, membuat perpustakaan kita kurang diminati mahasiswa dan dosen untuk datang berkunjung ke perpustakaan. Namun harapan kita semua dalam pelayanan di perpustakan itu, adalah supaya ramah layanan. Tujuan Penulisan Adapun tujuan dari penulisan artikel ini adalah: 1.Ingin mengajak para dosen agar mau memotivasi mahasiswanya untuk datang ke perpustaaan. 2.Ingin menyampaikan keadaan yang sebenarnya yang ada di perpustakaan sebagai upaya saling tukar-menukar informasi tertulis kepada sesama tentang perpustakaan perguruan tinggi di tanah air. 3.Ingin mengajak agar karyawan di perpustakaan dapat memberikan layanan yang ramah, sehingga penggunjung tidak malas datang ke perpustakaan. Berubah menjadi sebaliknya. 4.Ingin menggajak para mahasiswa dan dosen untuk menyambut kehadiran era digital di dunia perpustakaan sekarang. Forum Perpustakaan Digital Berbicara tentang Forum perpustakaan digital di Indonesia saat ini mewadahi pengembangan jejaring perpustakaan digital sebagai salah satu spesies ekosistem digital Indonesia. Perpustakaan digital bersama spesies lainnya saling berintegrasi untuk menjawab kepentingan masyarakat dengan menjaga keseimbangan antara kemajuan ekonomi dan penyesaian masalah sosial yang terintegrasi dengan ruang internet dan fisik dalam kontek tersebut, perpustakaan digital diharapkan dapat mendorong transformasi masyarakat yang bermasis pengetahuan dengan norma yang ada serta berkompetesi sehingga inklusi sosial perpustakaan daya saing bangsa dapat tercapai. Metoda Dalam karya tulis ini, penulis menggunakan metoda pendekatan deskriptif dengan bahan dan cara yang seminimal mungkin di disekitar perpustakaan itu sendiri, caranya mewawancarai sejumlah karyawan/karyawati dan mendukomentasi serta hasil wawancara itu dianalisis. dengan apa adanya serta mengurai satu demi satu dari sekelumit yang ada dan membedakan dan kesamaan antara perpustakaan yang ada dengan sejumlah perpustakaan yang dijadikan sasaran. tentu ada satu sama yang lain terdapat perbedaan tentunya. Dari hasil analisis tersebut diuraikan sesuai dengan yang diharapkan dalam tulisan ini, sehingga dapat dimanfaatkan untuk penulisan berikutnya. Bukan Pustakawan Penulis adalah bukan seorang pustakawan yang berpikir bagaimana mengklasifikasikan buku berdasar teori Jonh Dewey, kita masih belum banyak tahu. Karena bukan ahlinya hal ini, akibat proses SK menduduki kepala UPT Perpustakaan merupakan masalah yang sangat berat penulis pikul, karena beda keilmuan sangat sulit rasanya untuk dipecahkan. Apalagi status akreditasi perpustakaan saat itu, tidak terakreditasi sama sekali. Sementara bagaimana cara memberikan katalog buku yang benar belum tahu. Dihari pertama penulis meminta seluruh karyawan tua muda, PNS dan Pengawai Kontrak yang bekerja di perpustakaan itu, untuk berkumpul disaat waktu mereka harusnya istirahat, dengan konsekwensi makan siang bersama dengan menugaskan seseorang untuk mencari nasi kotak dan makan siang bersama. Penulis ingin tahu secara persis kenapa UPT Perpustakaan Universitas itu jadi tidak terakreditasi, sehingga informasi inilah dijadikan bahan untuk melakuan perubahaan. Dalam bulan yang sama sejumlah karyawan dibentuk tim untuk menyusun/mengisi borank akreditasi dan mengantarnya ke perpustakaan nasional di Jakarta. Ternyata borank itu juga diserahkan juga dengan Dinas perpustakaan provinsi supaya diusulkan Dinas Perpustakaan Provinsi untuk mengusulkan ke Jakarta agar gedung yang penuh buku itu terakreditasi. Sehingga disaat yang ditentukan datanglah tim asesor melakukan visitasi ke UPT Perpustakaan Universitas Palangka Raya (UPR) di kawasan Kalimantan Tenggah itu. Pada awal tahun 2019 tim asesor datang dan melakukan visitasi, akhirnya kami dengan mengucap syukur Alhamdulillah, perpustakaan kami mendapat penilaian B. Sebuah anugrah dan berkat kerja keras kawan-kawan dalam tim kami dalam upaya untuk melakukan perbaikan. Sebab penulis beranggapan kalau perpustakaan tidak terakreditasi maka bagaimana pandangan mahasiswa dan dosen melihat perpustakaan kita, walau gedungnya paling tinggi di kampus Tunjung Nyaho Palangka Raya. Selain itu, tentu untuk usulan program studi dan jurusan fakultas-fakultas yang mau akreditasi. Tentu status perpustakan dipertanyakan. Sehingga penulis yang dibantu tim berupaya agar terakreditasi. Dan dengan mengucap syukur kepada Yang Maha Esa, bahwa perjuangan dan kerja keras tim kami berhasil menjadikan kenyataan. Metoda Dalam karya tulis ini penulis menggunakan metoda pendekatan secara deskriptif sedangkan alat dan bahan yang ada, memanfaatkan apa yang ada di sekitar perpustakaan itu sendiri, dengan alat yang mempersiapkan berupa instrumen sebagai bahan wawancara kepada sejumlah karyawan/karyawati dan mendukomentasi dari hasil wawancara itu dianalisis. dengan apa adanya serta mengurai satu-demi satu dari sekelumit membedakan dan kesamaan antara perpustakaan yang ada dengan sejumlah perpustakaan yang dijadikan obyek. tentu ada satu sama yang lain terdapat perbedaan tentunya. Belajar Pengalaman Dari Penggalaman Sunggguh menakjubkan, peristiwa sebagai akademisi yang kebetulan puluhan tahun bergulat di luar dunia pustaka, memang pada awal menerima surat tugas hampir setengah bulan penulis tidak ada minat turun ke perpustakaan. Ada perasaan di hati wah apakah ini saya dibuang ?. Ataukah masa suram penulis akan tiba, setelah pernah duduk di eselon II / a baik di kampus maupun di luar kampus (pemerintah daerah provinsi Kalimantan Tengah). Tiba-tiba seorang karyawan perpustakaan menjemput, dikira penulis tidak pernah menerima Surat Keputusan. Sebab saat pelantikan penulis sedang berada di kota Semarang. Ajakan itu penulis terima, namun apa yang penulis perbuat, sebab penulis bekerja bukan ahlinya, dan takut kalau terjadi di perpustakaan yang lebih tidak populer lagi. Karena perpustakaan itu harus dikelola oleh mereka yang berlatar belakang ilmu perpustakaan, sedangkan penulis bukan seorang pustakawan. Kerjasama Dosen Tujuan kita menulis ini tidak lain sebuah keinginan bahwa para dosen sebaiknya mengajak mahasiswa untuk turut serta datang ke perpustakaan. Karana tentu saja ada mata palajaran tertentu memerlukan buku bacaan tambahan dalam tugas setiap mahasiswa. Dosen yang mau dengan ringan hati da menyisihkan waktu untuk datang ke perpustakaan atau secara sendirian ataukah bersama sejumlah mahasiswa untuk mencari bahan penggayaan dalam proses pembelajaran adalah suatu perbuatan terpuji dalam membina mahasiswa setiap proses perkuliahan. Sebaliknya dosen yang tak pernah datang membaca ke perpustakaan adalah salah satu kelemahan dosen yang merasa sudah pandai dengan ilmu yang ia miliki. Padahan di perpustakaan setiap tahun buku selalu bertambah, dan tidak menutup kemungkinan materi yang disampaikan dengan mahasiswa di saat perkuliahan berlangsung sudah mulai kurang aktul lagi. Sementara buku-buku baru sudah bertambah disertai temuan-temuan baru yang ada kalanya tidak sesuai lagi dengan teori-teori masa lalu. Ajakan dosen-dosen kepada mahasiswa untuk datang ke perpustakaan itu adalah sebuah perbuatan “...terpuji...” oleh dosen itu sendiri. Karena siapa lagi yang mengajak mahasiswa untuk datang ke perpustakaan kalau tidak dosen yang menyerukan mahasiswa untuk datang ke perpustkaan. Karena mahasiswa yang kurang memiliki bahan pustaka dan sedikit membaca tentu saja alumnus kita ini akan kurang ilmu pengetahuan dan berakibat juga mutu lulusan kurang berkualitas. Sebab perpustakaan itu adalah jantung dari sebuah pergruan tinggi. Sebaliknya karya dosen yang tak kanal lelah mengajar mahasiswanya untuk belajar di perpustakaan itu adalah suatu perbuatan yang terpuji. Walau tidak mendapat imbalan jasa apa-apa demikian juga mahasiswa yang rajin belajar di perpustakaan tentu akan tampil beda jika ia pada waktunya nanti sebagai seorang sarjana. Sebab alumnus kita yang seperti itu, pasti punya banyak ilmu pengetauannya sebagai akibat ia banyak membaca. Ramah Layanan Memang sebuah pelayan itu memerlukan yang ramah. Hal itu tidak sebatas melayani mahasiswa dan dosen tapi siapa saja yang datang ke perpustakaan harus diberikan senyum dan keramahan. Setiap petugas layanan penulis ajak agar memberikan pelayanan sebesar kemampuan yang kita miliki. Mahasiswa dan dosen ataupun tamu lain yang datang ke perpustakaan harus diberikan kesan bahwa perpustakaan itu, adalah milik bersama. Bukan perpustakaan milik pribadi, tapi perpustakaan adalah milik kita bersama. Orang datang ke perpustakaan pasti ada keperluan yang di rumanya tidak ia miliki. Buku-buku di perpustakaan adalah salah satu bantuan untuk apa yang mereka cari. Jangan tamu datang ke perpustakaan dibiarkan begitu saja. Apa lagi jumlah judul buku yang banyak membuat tamu bengung mencari buku yang ia cari. Oleh sebab itu peran petugas perpustakaan membantu memberikan layanan sehingga buku yang ia cari segera ditemukan, sitamupun muncul rasa kepuasan. Akhirnya dilain waktu mereka akan datang lagi untuk mencari apa yang mereka perlukan. Keramah tamahan tenaga pelayanan di perpustakaan merukan cerminan untuk baik tidaknya pelayanan yang ada di perpustakaan ini sendiri. Sehingga dengan keramahan pelayanan yang diberikan kepada tamu, dapat meningkatkan harkat dan martabat UPT. perpustakaan itu sendiri. Dosen dan Buku Penulis bertanya kepada dosen-dosen muda sesaat mereka diterima sebagai Ass dosen baru, yang pertanyaannya adalah: siapa yang memiliki banyak buku bacaan ? dan siapa yang saat ini, telah memiliki buku di atas 20 judul materi kuliah di jurusan/program studinya?. Pertanyaan tentang siapa yang memiliki banyak buku bacaan hanya 30 % yang mengangkat tangan dan menyatakan memiliki banyak buku bacaan. Walau masih umum, buku bacaan ini tentu sangat luas. Dan setelah ditanya siapa yang telah memiliki buku di atas 20 judul materi kuliah di jurusan/program studinya hanya 10 % yang mempersiapkan dirinya untuk jadi dosen. Karena sebagian besar lainnya dosen termasuk pilihan paling akhir untuk menjadi pegawai. Sunggguh kasihan kalau dosen mau mengajar mata kuliah tertentu yang ditunjuk oleh jurusan/program studinya, sang dosen muda ini sana-sini cari buku literaturnya. Ini suatu kemiskinan seseorang dosen, yang miskin bahan belajar. Kalau begitu bagaimana kualitas ilmunya?. Siapa tahu ia tidak pernah secara rutin datang ke perpustakaan dimasa ia mahasiswa. Saran penulis sebaiknya walau tak mampu membeli buku yang terkait dengan jurusan/program studi, saat mahasiswa memperoleh buku-buku dari perpustakaan. Sangat disesalnya kalau mau yudisium atau wisuda baru memiliki kartu perpustakaan. Karena kartu perpustakaan sebagai syarat tidak ada pinjaman buku lagi di perpustakaan. Cendera Mata Sebuah peristiwa terjadi yang katanya seumur-umur UPT. Perpustakaan Universitas Palangka Raya belum pernah terjadi. Sebagai kepala perpustakaan tentu mengumpulkan daftar kehadiran mahasiswa masing-masing fakultas. Jadi setiap fakultas disediakan 1 buku agenda kehadiran. Beda dengan tahun sebelumnya. 2 peristiwa menarik minat mahasiswa untuk datang berkunjung ke perpustakaan dari masing-masing fakultas siapa yang paling sering datang dan absen juga mencantumkan nomor HP mereka agar bila berhasil mengantungi kehadiran terbanyak ia mudah dihubungi petugas. Ditahun 2019 tepatnya bulan mei dihari Pendidikan Nasional, mahasiswa kaget sehari sebelumnya mereka ditelpon oleh petugas perpustakaan agar ikut apel bendera, dilengkapi dengan baju seragamnya. Selain itu habis upacara bendera mereka dibawa ke lobi perpustakan untuk menerima sertifikat sebagai penghargaan yang telah ditanda tangani Rektor dan kepala UPT. Perpustakaan. Selain itu mahasiswa menerima sejumlah buku yang sesuai dengan bidang keilmuanya. Misal mahasiswa yang aktif datang dari jurusan biologi. Maka mahasiswa itu diberikan buku biologi. Kehadiran mahasiswa itu baik pinjam, baca buku dan berdiskusi di ruang yang telah disiapkan. Maka mahasiswa itu dianggap sebagai duta baca. Dan ia diberikan buku yang yang sesuai dengan bidang ilmu yang ia tempuh, seperti disebutkan di atas. Mahasiswa yang mendapat hadiah ini tentu tidak tinggal diam. Yang mengabarkan kepada sesama mahasiswa satu sama lain, membuat temannyapun juga termotivasi untuk datang meminjan, membaca dan berdiskusi di perpustakaan. Betapa gembiranya seorang mahasiswa yang menerima buku yang ada kalanya sulit dicari di toko buku. Apalagi setelah menerima sertifikan dan sebutan Duta Baca oleh rektor dan kepala perpustakaan dan mahasiswa yang dengan bagganya dan meletakan sertifikan yang sudah dibingkai dengan pigura yang cukup mahal membuat namanya terangkat ke permukaan dan kabar gembira itu ia tunjukan kepada semua orang termasuk dosen, keta jurusan dan Dekan fakultasnya. Peristiwa yang sama juga dilakukan di hari kemerdekaan Repubik Indonesia, 17 Agustus 2019 lalu. Dan dihari kemerdekaan ini para Duta Baca mahasiswa dipanggil satu persatu untuk diwawancara oleh Rektor beserta Wakil-wakil Rektor, tentu mahasiswa yang dijadikan Duta Baca ini betul-betul tersanjung. Apa lagi saat itu dihadapat mahasiswa yang baru yang mengikuti upacara hari kemerdekaan, membuat motivasi tersendiri untuk mahasiswa baru agar mereka datang berkunjung dan menjadi angggota perpustakaan di Universitasnya. Layanan Meningkat Dari 2 peristiwa di tahun 2019 ini sangat terlihat minat mahasiswa untuk berkunjung ke perpustakaan, apakah hanya membaca, pinjam buku ataukah berdiskusi di ruang yang disediakan. Ternyata ada peningkatan yang sangat signifikan dari masa sebelumnya. Bahkan mahasiswa sambil menunggu jam perkuliahan menyempatkan datang ke perpustakaan karena belum waktunya, bahkan para petugas pelayanan kita masih belum datang mereka sudah menunggu di loby untuk tujuan pinjam buku yang mereka perlukan. Adapun 2 peristiwa di atas adalah pertama: hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) yaitu pada tanggal 2 Mei dan Kedua: hari Kemerdekaan RI tanggal 17 Agustus 2019 lalu. Dan daya tarik untuk meningkatkan minat mahasiswa ke perpustakaan itu, tentu berbagai macam yang satu dengan yang lain bisa juga sama dan bisa pula beda tentunya. Karena perpustakaan di negeri kita sangat banyak, penulis menyadari tentu pasti sudah ada kesamaan ada pula perbedaan. Perpustakaan Digital Salah satu contoh penulis mencoba dalam rangka meningkatkan layanan digital, UPT. Perpustakaan Universitas Palangka Raya mulai tanggal 25 Mei 2019 Rektor melakukan peluncuran pertamanya dalam mempermudah layanan mahasiswa dan dosen sudah mulai memanfaatkan hal itu. Tapi disisi lain tentu belum seluruhnya mahasiswa dan dosen familiar dengan peralatan supercangggih saat sekarang (pada masanya). Sehingga para mahasiswa dan dosen masih lebih banyak menggunakan cara lama dan datang ke perpustakaan untuk memperoleh data yang mereka butuhnya. Permintaan yang sering datang adalah para mahasiswa yang ingin tahu, melalui internet. Namun hal ini masih sangat terbatas. Selama ini kita bekerjasama antara orang dalam dengan pusat layanan UPT TIK (Teknologi Informasi dan Komunikasi) dan dengan pihak luar kepada pihak Telkom. Memang dengan TIK ini, masih diperlukan peningkatan kualitas peralatan sehingga bisa menjangkau areal kampus. Selama ini hanya di sekitar kantor perpustakaan, kalau hal ini ditingkatkan dapat jangkau dari fakultas-fakultas yang ada di sekitar perpustakaan itu. Ini yang sangat diharapkan. Para mahasiswa dalam harapan bersama disiapkan tempat-tempat duduk yang teduh bisa membuka internet guna kepentingan mereka. Artinya tidak perlu untuk mereka berjubel membuka internet pada di lantai tertentu pada perpustakaan itu. Tapi bisa pemakai sudah banyak bisa dibuka pada kursi yang disiapkan dan mahasiswa bisa membuka internet di tempat-tempat yang disediakan apakah siang ataukah petang walau jam kerja perpustakaan sudah tutup, tapi pelayanan internet masih dapat dipakai. Kehadiran perpustakaan Digital adalah dambaan banyak orang. namun dengan hadirnya perpustakaan digital ini dapat memerikan era baru di zaman milinial dewasa ini. Para mahasiswa mahasiswa dan dosen harusnya dengan kehadiran era digital ini dapat termotivasi untuk berpartisipasi dan menyambut kehadiran teknologi baru ini. Mari kita sambut dengan penuh kegembiraan. Skripsi, Thesis dan Disertasi Dalam rangka meningkatkan pubikasi ke dunia luar, mulai bulan agustus 2019 dengan mencoba bekerjasama dengan fakultas yang paling besar jumlah alumnusnya yaitu: Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan ternyata berhasil. Jadi setiap mahasiswa yang sudah menyelesaikan Skripsi, Thesis dan Disertasi diminta sub copynya untuk diserahkan dengan CD dan sudah dimulai dipublikasikan. Namun masih terkendala kapasitas paralatan yang sangat terbatas. Dengan demikan sudah disusun juklak materi yang akan ditayangkan apakah seluruh dari judul hingga daftar pustaka, ataukah pada bagian-bagian tertentu saja. Dan bagaimana hakciptanya nanti agar dapat dipertanggung jawabkan. Tumpukan Skripsi Saat pertama kali penulis datang ke perpustakaan sudah melihat tumpukan skripsi di lantai 5 yang muncul dalam pemikiran penulis bahwa diapakan skripsi mahasiswa yang ditempatkan sebagai difosit karya ilmiah yang tak berguna. Kenapa tidak dtempatkan disebuah bangunan tersendiri agar tidak terjadi mubazir seperti itu. Kenapa demikian karena skripsi yang jumlahnya ribuah buah diletakan di lantai paling atas, apakah tidak disuatu saat terjadi runtuh karena faktor keberatan. Maunya penulis skripsi yang banyak itu dibangunkan sebuah bangunan yang menampung karya ilmiah mahasiswa itu sebaggai kekayaan intelektual mereka. Untuk menghindari faktor keruntuhan disebabkan beratnya beban kekayaan intelektual itu, alanggkah indahnya jika sekiranya disediakan tempat pada bangunan tertentu untuk menyimpan Hak intelektual Indonesia itu, skripsi, thesis dan disertasi ditempatkan dibanggunan tersendiri. Sementara ruang tersebut bisa dijadikan ruang diskusi dan rapat-rapat. Agar di lantai tersebut sangat berat menyimpan rak yang berisi karya ilmiah mahasiswa itu. Dan dketahui bersama di Universitas Palangka Raya dilaksanakan wisuda 3 kali dalam setahun, jika mahasiswa yang diluluskan hampir 2000 orang, maka beban yang disandang di atas akan tambah berat setiap 4 bulan sekali. Sehingga beban yangg berat di atas itu bisa menghindari dari kerusakan. Lokasi Perpustakaan Istilah jauh dekat sebenarnya di jaman teknologi digital sekarang membuat perpustakaan ada di rumah kita. Kenapa demikian? Karena asalkan kita punya wifi, kita dapat membuka buku yang tersimpan di perpustakaan. Jadi buku-buku yang tersedia serta disimpan di perpustakaan walau jaraknya nan jauh di sana, tapi dengan kecanggihan teknologi dewasa ini, kita bisa dapat membaca tulisan-tulisan ilmiah tersebut. Jadi dengan demikian perpustakaan walau dengan jarak nanjauh di sana, tapi masih sangat penting bagi kalanggan mahasiswa dan dosen untuk mencari data dan masyarakat untuk kepentingan ilmiah. Perpustakaan Unsiayah Sebelum perpustakan di ujung barat kepulawan RI yakni Universitas Syeh Kuala Banda Aceh, yangg memiliki 2 tangga dan 2 lips sehingga memberikan kenyamanan bagi mahasiswa dan dosen serta karyawan baik untuk naik maupun turun. Perbedaan dengan kebanyakan perpustakaan perguruan tinggi layanan perguruan tingginya. Untuk sebagian besar pergguruan tinggi punya mahasiswanya warga negara Indonesia sedangkan di Banda Aceh banyak mahasiswa berasal dari dari negeri tetangga seperti malaysia dan singapora. Jam Pelayanan Dengan banyaknya mahasiswa dan tentu saja pelayanan tidak cukup kalau dilaksanakan dari jam 08.00 – 16.00 maka pelayanan ditambah berangsung jam 21.00 sehingga pelayanan dapat membantu mahasiswa yang seharian di siang hari kuliah. Maka mereka mencari buku di malam hari ke perpustakaan pada jam-jaam yang ditentukan. Kesimpulan 1.Penulis mengajak para dosen agar mau memotivasi mahasiswanya untuk datang ke datang berkunjung perpustaaan. Tapi bukan hanya berkunjung tapi juta meminjam buku, membaca dan berdiskusi di tempat-tempat yang telah disediakan. Sebagai upaya mencerdaskan kehidupan bangsa di era digital sekarang. 2.Penulis mencoba mengurai dan menyampaikan keadaan yang sebenarnya tentang perpustakaan sebagai upaya saling tukar-menukar informasi tertulis kepada sesama tentang perpustakaan perguruan tinggi di tanah air. 3.Penulis mengajak agar karyawan di perpustakaan dapat memberikan layanan yang ramah kepada semua tamu, sehingga penggunjung tidak lagi malas untuk datang ke perpustakaan. Akhirnya setiap pengunjung tidak akan jera berkunjung ke perpustakaan dan dengan terjadinya pemikiran bahwa perpustakaan tidak lagi menggoleksi buku-buku lama dan kurang menyenangkan. Tapi terdapat buku-buku baru dan layanan baru seperti fasilitas digital. 4.Penulis berupaya menggajak para mahasiswa dan dosen untuk menyambut kehadiran era digital di dunia perpustakaan membuktikan bahwa era digital adalah sebuah cakrawalan baru balam dunia pendidikan. Keterangan: Penuis adalah: H.M.Norsanie Darlan, kepala UPT. Perpustakaan Universitas Palangka Raya.

MELIRIK PENGEMBANGAN MANAJEMEN PERPUSTAKAAN

MELIRIK PENGEMBANGAN MANAJEMEN PERPUSTAKAAN PERGGURUAN TINGGGI DI ERA DIGITAL Oleh : H. M. Norsanie Darlan Peserta Fucos Group Discussion Universitas Airlanggga 15 – 16 Oktober 2019 Pendahuluan Tulisan ini diturunkan dengan menyadari sebelumnya untuk diketahui bahwa penulis tidak berlatar belakang pustakawan. Namun karena ditugasi hal ini dan turut menghadiri Fucos Group Discussian (FGD) di perpustakaan Universitas Airlangga, maka penulis mencoba mengemukakan sekelumit pengalaman apa saja yang menjadi permasalah yang dirasakan selama bertugas di UPT. Perpustakaan Universitas Palangka Raya. Dalam pengembangan manajemen perpustakaan perguruan tinggi di era digital ini, kita tentu turut mencurahkan pikiran demi pengembangan untuk menuju kemajuan perguruan tinggi. Sebagai tantangan, jika kurang memperhatian terhadap berbagai kemajuan UPT. Perpustakaan di perguruan tingggi lain, membuat perpustakaan kita tertinggal. Lebih-lebih kalau manager. perguruan tinggi kebetulan belum banyak tahu dan hanya menganggap sebuah perpustakaan perguruan sebagai pelengkap saja, namun sekarang hal ini sangat memerlukan tenaga yang kreatif tentunya. Perpustakaan sebagai jantung di sebuah perguruan tinggi seharusnya mendapatkan perhatian, terlebih dalam mempersiapkan akreditasi. Jika sebuah perpustakaan yang tidak mendapat perhatian dengan segala kurangannya, tentu menyeret akan kualitas lulusan kita sendiri. Apalagi jika dosen-dosen belum pernah memberikan penugasan ke perpustakaan kepada mahasiswanya, membuat mahasiswanya akan dangkal pemilikan pengetahuan pada bidang ilmunya. Harapan kita semua, para pimpinan perguruan tinggi yang mengharap alumnusnya bermutu, tentu perpustakaan juga harus turut diperhatikan, terlebih jumlah buku yang memadai, pelayanan tenaga pustakawan selalu senyum dan ramah. Tentu mahasiswa/ mahasiswi akan senang untuk datang meminjam, membaca buku dan berdiskusi di perpustakaan. Apalagi buku yang tersedia cukup, maka hasil lulusannya tidak meragukan semua orang. Sebaliknya jika buku serta tidak tersedia pelayanan yang kurang menyenangkan, membuat perpustakaan kurang diminati mahasiswa dan dosen untuk datang ke perpustakaan. Namun harapan kita semua dalam pelayanan di perpustakan itu adalah supaya ramah layanan. Tujuan Penulisan Adapun tujuan dari penulisan artikel ini adalah: 1.Ingin memenuhi permintaan pihak panitia FGD agar membuat sebuah karangan /tulisan/artikel guna dipublikasikan di kalangan pustakawan di tanah air. 2.Ingin menyampaikan keadaan yang sebenarnya yang ada di perpustakaan yang kita tempati sebagai upaya saling tukar menukar informasi sesama tentang perpustakaan perguruan tinggi negeri di tanah air. 3.Ingin memberikan infomasi apa sebenarnya kelebihan dan kekurangan yang kita miliki di masing-masing perpustakaan di tanah air. Bukan Pustakawan Penulis adalah bukan seorang pustakawan yang berpikir bagaimana mengklasifikasikan tumpukan buku berdasar teori Jonh Dewey, masih belum banyak tahu. Karena bukan ahlinya hal ini akibat proses SK menduduki kepala UPT Perpustakaan merupakan masalah yang sangat berat penulis pikul, karena beda keilmuan sangat sulit rasanya untuk dipecahkan. Apalagi status akreditasi perpustakaan saat itu tidak terakreditasi sama sekali. Sementara bagaimana cara memberikan talog buku yang benar belum tahu. Dihari pertama penulis meminta seluruh karyawan tua muda, PNS dan Pengawai Kontrak yang bekerja di perpustakaan itu, untuk berkumpul disaat waktu mereka harusnya istirahat, dengan konsekwensi makan siang bersama dengan menugaskan seseorang untuk mencari nasi kotak dan makan siang bersama. Penulis ingin tahu secara persis kenapa UPT Perpustakaan Universitas itu jadi tidak terakreditasi, sehingga informasi inilah dijadikan bahan untuk melakuan perubahaan. Sekedar retrospektif kebelakang dengan memperhatikan belumnya terakreditasi UPT Perpustakaan maka dalam bulan yang sama sejumlah karyawan dibentuk tim untuk menyusun/mengisi borank akreditasi dan mengantarnya ke perpustakaan nasional di Jakarta. Ternyata borank itu juga diserahkan dengan Dinas perpustakaan provinsi supaya diusulkan oleh Dinas Perpustakaan Provinsi mengusulkan ke Jakarta agar gedung yang penuh buku di Kampus UPR itu, segera terakreditasi. Sehingga dampak dari usulan itu, datanglah tim asesor melakukan visitasi ke UPT Perpustakaan Universitas Palangka Raya (UPR) di kawasan Kalimantan Tenggah itu. Pada awal tahun 2019 tim asesor datang dan melakukan visitasi, akhirnya dengan mengucap syukur Alhamdulillah, perpustakaan kami mendapat penilaian B. Sebuah anugrah dan berkat kerja keras kawan-kawan (karyawan) dalam tim kami, dalam upaya untuk melakukan perbaikan ke masa depan. Sebab penulis beranggapan kalau perpustakaan tidak terakreditasi maka bagaimana pandangan mahasiswa dan dosen serta masyarakat umum melihat perpustakaan kita, walau gedungnya paling tinggi di kampus Tunjung Nyaho Palangka Raya. Selain itu, tentu untuk usulan program studi dan jurusan fakultas-fakultas yang mau akreditasi. Tentu status perpustakan dipertanakan. Sehingga penulis yang dibantu tim berupaya agar terakreditasi. Dan dengan mengucap syukur kepada Yang Maha Esa, bahwa perjuangan dan kerja keras tim kami, ternyata berhasil menjadi kenyataan. Permasalahan Kata best practice dalam permasalahan FGD di surabaya digunakan untuk mendeskripsikan/ menguraikan “pengalaman terbaik” dari keberhasilan, termasuk dalam mengatasi berbagai masalah dalam lingkungan tertentu. Jadi Memang tidak ada disemuan pekerjaan yang tidak menemukan masalah. Apakah masalah itu kecil-kecilan atau masalah yang cukup berat dalam dunia pustaka. Namun ada pula masalah itu yang mendatangkan nikmat bagi seseorang yang menekuninya. Penulis selama setahun lebih di tempatkan rektor di UPT. Perpustakaan dikarenakan seringkali menulis baik dalam bentuk artikel maupun bentuk buku kecil sederhana, demikian juga berkomentar di media cetak baik pusat maupun daerah. Sehingga terpikir bagi penulis dengan tumpukan buku yang terdiri sejumlah lemari di rumah itu sebaiknya agar dibaca banyak orang akan dipindahkan saja ke UPT. Perpustakaan universitas Palangka Raya. Karena dulu waktu di rumah menulis menyediakan tempat sebagai Taman Bacaan Masyarakat (TBM). Namun rupanya taman bacaan itu, tidak relevan materinya bagi mereka yang datang hanya untuk belajar membaca. Karena tulisan yang dimuat dalam buku-buku bacaan itu lebih cenderung untuk kalangan mahasiswa atau SLTA ke atas. Secara bebetulan saya melihat di berbagai ruangan di perpustakaan masih ada ruangan yang kosong dan mampu di muat 5-6 lemari besi untuk buku. Sehingga bagi mahasiswa yang ingin memperdalam bidang keilmuan pendidikan masyarakat silahkan membacara di ruang tersebut. Buku-buku itu sebagian sekitar hampir 200 judul hasil karya tulis penulis selama menyandang guru besar bidang Pendidikan luar sekolah atau pendidikan non formal dan kini disebut juga pendidikan masyarakat, sejak tahun 2001. Sebab hampir setiap bulan diminta oleh masyarakat dan pemerintah daerah memapar makalah. Demikian juga dalam sejumlah pertemuan nasional pada bidang keilmuan yang sama. Dan makalah yang ditulis, diupayakan disusun dalam bentuk buku dengan jumlah terbatas. Hasil dari permintaan memberi ceramah itu (honor) yang diterima selalu disisihkan untuk biaya percetakan, maka sekali memberi ceramah, seminar, kuliah umum, dan sejeniskan dijadikan buku kecil dan sederhana. Untuk diketahui penulis sudah memiliki lebih dari 2000 ekseplar selain buku-buku tulisan sendiri. Pekerjaan sejak menyandang gelar guru besar membuat penulis harus menitif sebagian ilmu penggetahuan yang dimiliki nanti akan memberikan manfaat bukan saja bagi mahasiswa di jurusan/program studi pendidikan luar sekolah/pendidikan masyarakat, tapi juga mereka sedang menimba ilmu di proggram stranta satu (S-1) ataupun (S-2). Dan tidak menutup kemunggkinan mereka mahasiswa (S-3). Tujuan memempatkan buku di perpustakaan itu adalah selain disebutkan di atas, juga sambil mengajak siapa tahu ada dosen lain yang punya buku lebih banyak mau menyimpan karyanya atau koleksinya yang ada di rumah agar dibaca mahasiswa lain selain buku-buku keleksi yang ada di perpustakaan universitasnya sendiri. Metoda Dalam karya tulis ini, penulis menggunakan metoda pendekatan deskriptif dengan bahan dan cara yang seminimal mungkin di disekitar perpustakaan itu sendiri, caranya mewawancarai sejumlah karyawan/karyawati dan mendukomentasi serta hasil wawancara itu dianalisis. dengan apa adanya serta mengurai satu demi satu dari sekelumit yang ada dan membedakan dan kesamaan antara perpustakaan yang ada dengan sejumlah perpustakaan yang dijadikan sasaran. tentu ada satu sama yang lain terdapat perbedaan tentunya. Dari hasil analisis tersebut diuraikan sesuai dengan yang diharapkan dalam tulisan ini, sehingga dapat dimanfaatkan untuk penulisan berikutnya. Pengalaman sebelum di perpustakaan Sunggguh menakjubkan, peristiwa sebagai akademisi yang kebetulan puluhan tahun berggulat di luar dunia pustaka, memang pada awal menerima surat tugas hampir setengah bulan penulis tidak ada minat turun ke perpustakaan. Ada perasaan di hati wah apakah ini saya dibuang ?. Ataukah masa suram penulis akan tiba, setelah pernah duduk di eselon II / a baik di kampus maupun di luar kampus (pemerintah daerah provinsi Kalimantan Tengah). Tiba-tiba seorang karyawan perpustakaan menjemput saya yang menduga, saya tidak menerima SK. Sebab saat pelantikan penulis sedang berada di Semarang. Ajakan itu penulis terima, namun apa yang penulis perbuat, sebab penulis bekerja bukan ahlinya, dan takut kalau terjadi di perpustakaan yang lebih tidak populer lagi. Karena perpustakaan itu harus dikelola oleh mereka yang berlatar belakang ilmu perpustakaan, sedangkan penulis bukan seorang pustakawan. Ramah Layanan Memang sebuah pelayan itu memerlukan yang ramah. Hal itu tidak sebatas melayani mahasiswa dan dosen tipi siapa saja yang datang ke perpustakaan harus diberikan senyum dan keramahan. Setiap petugas layanan penulis ajak agar memberikan pelayanan sebesar kemampuan yang kita miliki. Mahasiswa dan dosen ataupun tamu lain yang datang ke perpustakaan harus diberikan kesan bahwa perpustakaan itu, adalah milik bersama. Bukan perpustakaan milik pribadi, tapi perpustakaan adalah milik kita bersama. Orang datang ke perpustakaan pasti ada keperluan yang di rumanya tidak ia miliki. Buku-buku di perpustakaan adalah salah satu bantuan untuk apa yang mereka cari. Jangan tamu datang ke perpustakaan dibiarkan begitu saja. Apa lagi jumlah judul buku yang banyak membuat tamu bengung mencari buku yang ia cara. Oleh sebab itu peran petugas perpustakaan membantu memberikan layanan sehingga buku yang ia cari segera ditemukan, sitamupun muncul rasa kepuasan. Akhirnya dilain waktu mereka akan datang lagi untuk mencari apa yang mereka perlukan. Keramah tamahan tenaga pelayanan di perpustakaan merukan cerminan untuk baik tidaknya pelayanan yang ada di perpustakaan ini sendiri. Sehingga dengan keramahan pelayanan yang diberikan kepada tamu, dapat meningkatkan harkat dan martabat UPT. perpustakaan itu sendiri. Disamping itu para tamu akan termotivasi untuk datang lagi ke perpustakaan. Cendera Mata Sebuah peristiwa terjadi yang katanya seumur-umur UPT. Perpustakaan Universitas Palangka Raya belum pernah terjadi. Sebagai kepala perpustakaan tentu mengumpulkan daftar kehadiran mahasiswa masing-masing fakultas. Jadi setiap fakultas disediakan 1 buku agenda kehadiran. Beda dengan tahun sebelumnya. 2 peristiwa menarik minat mahasiswa untuk datang berkunjung ke perpustakaan dari masing-masing fakultas siapa yang paling sering datang dan absen juga mencantumkan nomor HP mereka agar bila berhasil mengantungi kehadiran terbanyak ia mudah dihubungi petugas. Ditahun 2019 tepatnya bulan mei dihari Pendidikan Nasional, mahasiswa kaget sehari sebelumnya mereka ditelpon oleh petugas perpustakaan agar ikut apel bendera, dilengkapi dengan baju seragamnya. Selain itu habis upacara bendera mereka dibawa ke lobi perpustakan untuk menerima sertifikat sebagai penghargaan yang telah ditanda tangani Rektor dan kepala UPT. Perpustakaan. Selain itu mahasiswa menerima sejumlah buku yang sesuai dengan bidang keilmuanya. Misal mahasiswa yang aktif datang dari jurusan biologi. Maka mahasiswa itu diberikan buku biologi. Kehadiran mahasiswa itu baik pinjam, baca buku dan berdiskusi di ruang yang telah disiapkan. Maka mahasiswa itu dianggap sebagai duta baca. Dan ia diberikan buku yang yang sesuai dengan bidang ilmu yang ia tempuh, seperti disebutkan di atas. Mahasiswa yang mendapat hadiah ini tentu tidak tinggal diam. Yang mengabarkan kepada sesama mahasiswa satu sama lain, membuat temannyapun juga termotivasi untuk datang meminjan, membaca dan berdiskusi di perpustakaan. Betapa gembiranya seorang mahasiswa yang menerima buku yang ada kalanya sulit dicari di toko buku. Apalagi setelah menerima sertifikan dan sebutan Duta Baca oleh rektor dan kepala perpustakaan dan mahasiswa yang dengan bagganya dan meletakan sertifikan yang sudah dibingkai dengan pigura yang cukup mahal membuat namanya terangkat ke permukaan dan kabar gembira itu ia tunjukan kepada semua orang termasuk dosen, keta jurusan dan Dekan fakultasnya. Peristiwa yang sama juga dilakukan di hari kemerdekaan Repubik Indonesia, 17 Agustus 2019 lalu. Dan dihari kemerdekaan ini para Duta Baca mahasiswa dipanggil satu persatu untuk diwawancara oleh Rektor beserta Wakil-wakil Rektor, tentu mahasiswa yang dijadikan Duta Baca ini betul-betul tersanjung. Apa lagi saat itu dihadapat mahasiswa yang baru yang mengikuti upacara hari kemerdekaan, membuat motivasi tersendiri untuk mahasiswa baru agar mereka datang berkunjung dan menjadi angggota perpustakaan di Universitasnya. Layanan Meningkat Dari 2 peristiwa di tahun 2019 ini sangat terlihat minat mahasiswa untuk berkunjung ke perpustakaan, apakah hanya membaca, pinjam buku ataukah berdiskusi di ruang yang disediakan. Ternyata ada peningkatan yang sangat signifikan dari masa sebelumnya. Bahkan mahasiswa sambil menunggu jam perkuliahan menyempatkan datang ke perpustakaan karena belum waktunya, bahkan para petugas pelayanan kita masih belum datang mereka sudah menunggu di loby untuk tujuan pinjam buku yang mereka perlukan. Adapun 2 peristiwa di atas adalah pertama: hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) yaitu pada tanggal 2 Mei dan Kedua: hari Kemerdekaan RI tanggal 17 Agustus 2019 lalu. Dan daya tarik untuk meningkatkan minat mahasiswa ke perpustakaan itu, tentu berbagai macam yang satu dengan yang lain bisa juga sama dan bisa pula beda tentunya. Karena perpustakaan di negeri kita sangat banyak, penulis menyadari tentu pasti sudah ada kesamaan ada pula perbedaan. Perpustakaan Digital Dalam rangka meningkatkan layanan digital, UPT. Perpustakaan Universitas Palangka Raya mulai tanggal 25 Mei 2019 Rektor melakukan peluncuran pertamanya dalam mempermudah layanan mahasiswa dan dosen sudah mulai memanfaatkan hal itu. Tapi disisi lain tentu belum seluruhnya mahasiswa dan dosen familiar dengan peralatan supercangggih itu. Sehingga para mahasiswa dan dosen masih lebih banyak menggunakan cara lama dan datang ke perpustakaan untuk memperoleh data yang mereka butuhnya. Permintaan yang sering datang adalah para mahasiswa yang ingin tahu, melalui internet. Namun hal ini masih sangat terbatas. Selama ini kita bekerjasama antara orang dalam dengan pusat layanan UPT TIK (Teknologi Informasi dan Komunikasi) dan dengan pihak luar kepada pihak Telkom. Memang dengan TIK ini, masih diperlukan peningkatan kualitas peralatan sehingga bisa menjangkau areal kampus. Selama ini hanya di sekitar kantor perpustakaan, kalau hal ini ditingkatkan dapat jangkau dari fakultas-fakultas yang ada di sekitar perpustakaan itu. Ini yang sangat diharapkan. Para mahasiswa dalam harapan bersama disiapkan tempat-tempat duduk yang teduh bisa membuka internet guna kepentingan mereka. Artinya tidak perlu untuk mereka berjubel membuka internet pada di lantai tertentu pada perpustakaan itu. Tapi bisa pemakai sudah banyak bisa dibuka pada kursi yang disiapkan dan mahasiswa bisa membuka internet di tempat-tempat yang disediakan apakah siang ataukah petang, bahkan malam hari. Walau jam kerja perpustakaan sudah tutup, tapi pelayanan internet masih dapat dipakai. Skripsi, Thesis dan Disertasi Dalam rangka meningkatkan pubikasi ke dunia luar, mulai bulan agustus 2019 dengan mencoba bekerjasama dengan fakultas yang paling besar jumlah alumnusnya yaitu: Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan ternyata berhasil. Jadi setiap mahasiswa yang sudah menyelesaikan Skripsi, Thesis dan Disertasi diminta sub copynya untuk diserahkan dengan CD dan sudah dimulai dipublikasikan. Namun masih terkendala kapasitas paralatan yang sangat terbatas. Dalam penyerahan CD tersebut bukan asal diserahkan, tapi alumnus kita segera membukan dan berdiskusi walau hanya sebentar, sambil melihat apakah copy an skripsi, thesis ataukah disertasi itu betul-betul lengkap termasuk siapa pembimbing mahasiswa itu. Jika sudah lengkap baru si alumnus kita boleh meninggalkan petugas. Sebab kalau terjadi kekuranggan sulit mencari si pemilik hak cipta itu untuk perbaikan. Dengan demikan sudah disusun juklak materi yang akan ditayangkan apakah seluruh dari judul hingga daftar pustaka, ataukah pada bagian-bagian tertentu saja. Dan bagaimana hakciptanya nanti agar dapat dipertanggung jawabkan. Tumpukan Skripsi Saat pertama kali penulis datang ke perpustakaan sudah melihat tumpukan skripsi di lantai 5 yang muncul dalam pemikiran penulis bahwa diapakan skripsi mahasiswa yang ditempatkan sebagai difosit karya ilmiah yang tak berguna. Kenapa tidak dtempatkan disebuah bangunan tersendiri agar tidak terjadi mubazir seperti itu. Kenapa demikian karena skripsi yang jumlahnya ribuah buah diletakan di lantai paling atas, apakah tidak disuatu saat terjadi runtuh karena faktor keberatan. Maunya penulis skripsi/thesis, disertasi yang banyak itu, sebaiknya dibangunkan sebuah bangunan yang menampung karya ilmiah mahasiswa itu sebaggai kekayaan intelektual mereka. Untuk menghindari faktor keruntuhan disebabkan beratnya beban kekayaan intelektual itu, alangkah indahnya jika sekiranya disediakan tempat pada bangunan tertentu untuk menyimpan Hak intelektual Indonesia itu, skripsi, thesis dan disertasi ditempatkan dibanggunan tersendiri. Sementara ruang tersebut bisa dijadikan ruang diskusi dan rapat-rapat. Agar di lantai tersebut sangat berat menyimpan rak yang berisi karya ilmiah mahasiswa itu. Dan dketahui bersama di Universitas Palangka Raya dilaksanakan wisuda 3 kali dalam setahun, jika mahasiswa yang diluluskan hampir 2000 orang, maka beban yang disandang di atas akan tambah berat setiap 4 bulan sekali. Sehingga beban yang berat di atas itu bisa menghindari dari kerusakan. Lokasi Perpustakaan Istilah jauh dekat sebenarnya di jaman teknologi digital sekarang membuat perpustakaan ada di rumah kita. Kenapa demikian? Karena asalkan kita punya wifi, kita dapat membuka buku yang tersimpan di perpustakaan. Jadi buku-buku yang tersedia serta disimpan di perpustakaan walau jaraknya nan jauh di sana, tapi dengan kecanggihan teknologi dewasa ini, kita bisa dapat membaca tulisan-tulisan ilmiah tersebut. Jadi dengan demikian perpustakaan walau dengan jarak nanjauh di sana, tapi masih sangat penting bagi kalanggan mahasiswa dan dosen untuk mencari data dan masyarakat untuk kepentingan ilmiah. Kesimpulan 1.Tulisan ini tidak lain adalah sebuah permintaan pihak panitia penyelenggara Fucos Group Discussion (FGD) di Universitas Airlanggga yang menginginkan setiap peserta menulis sebuah artikel yang tujuan akhirnya guna dipublikasikan untuk kalangan pustakawan di tanah air. 2.Tulisan ini adalah sekelumit mengangkat keadaan sebenarnya yang ada di perpustakaan di mana tempat penulis berada sebagai upaya saling tukar menukar informasi sesama tentang petugas perpustakaan perguruan tinggi negeri di tanah air. 3.Kesimpulan dari tulisan ini adalah untuk memberikan infomasi apa yang sebenarnya kelebihan dan kekurangan yang kita miliki di masing-masing perpustakaan di tanah air. Keterangan: Penuis adalah: H.M.Norsanie Darlan, kepala UPT. Perpustakaan Universitas Palangka Raya.

Jumat, 23 Agustus 2019

Riwayat Prof. Norsanie Darlan

Profil Norsanie Darlan IDENTITAS PRIBADI : 1. Nama lengkap : Prof. Dr. H.M. Norsanie Darlan, MS PH 2. Tempat tanggal lahir : Anjir Serapat Kapuas, 14 Oktober 1956 3. NIP : 19521014197701100 1 4. Agama : Islam 5. Jabatang fungsional : Guru Besar PLS FKIP Universitas Palangka Raya 6. Pangkat/Golongan : Pembina Utama ( IV/ E ) 7. Alamat : Jalan Sangga Buana Selatan 059/A Telp (0536) 3222070 Palangka Raya – 73112 Hp 08122170038-081352837138 8. Pengalaman Jabatan : 1. Pembantu Dekan III Kemahasiswaan FKIP Sturuktural Universitas Palangka Raya tahun 1995 Eselon II/A 2. Kepala Badan DIKLAT Provinsi Kalimantan Tengah tahun 2002 Eselon II/A 3. Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Pendidikan Lembaga Penelitian Universitas Palangka Raya tahun 2006. 4. Ketua Program Magister PLS Universitas Palangka Raya tahun 2018 5. Kepala Perpustakaan Universitas Palangka Raya 2018 hingga sekarang. 9. Mengajar Untuk S-1 Pendidikan Luar Sekolah Untuk S-2 1.Program Magister Pascasarjana PLS/PNF Universitas Palangka Raya 2.Pascasarjana SIAIN sekarang IAIN Palangka Raya 3.Pascasarjana MAP Univ. Muhammadiyah Palangka Raya 4.Pascasarjana IAIN Antasari Banjarmasin. 5.Penguji Eksternal Promosi doktor di IAIN Antasari Banjarmasin. 10.Ketua Badan Stándar Pendidikan (Nasional) Pendidikan Non Formal 2016-2018. 11.Aktif memamapar makalah dalam berbagai Seminar lokal, regional dan Nasional 12.Aktif memberikan komentar dalam hal sosial dan kemasyarakatan pada media cetak dan elektronik. 13.Sudah menikah dengan Ny. Hj. Rosiati Imanuel Dimang, S.Pd. dan dikaruniai 2 orang putra. Mereka menekuni profesi sebagai dokter umum. 14.Hobby menulis dan olahraga tens lapangan

Selasa, 27 November 2018

UPAYA MENGOPTIMALKAN FUNGSI DAN PERAN PKBM SEBAGAI LEMBAGA PENGEMBANG SUMBERDAYA MASYARAKAT

oleh : H.M. Norsanie Darlan Pendahuluan Dalam upaya mencerdaskan kehidupan bangsa di negeri tercinta ini, guna mengantisipasi tantangan dunia pendidikan yang semakin hari ternyata semakin sulit. Terlebih dalam jalur pendidikan luar sekolah. Dipihak lain, angka tuna aksara tak kunjung henti dalam arti Kuantitas, bahkan ada kalanya jumlahnya semakin meningkat. Apakah betul jumlahnya semakin bertambah, ataukah cara pengelolaannya yang kurang relevan. Karena tugas-tugas PLS lebih banyak dikerjakan oleh orang-orang bukan PLS. Sebetulnya hal itu warga PLS sangat bersyukur, asal harapan yang kita inginkan dalam upaya mencerdaskan keghidupan bangsa dapat terwujud. Selain itu tokoh PLS di sektor formal yang menangani Pendidikan Luar Sekolah dengan melihat jumlah angka tuna aksarana yang semakin membengkak menyatakan bahwa hal ini adalah kegagalan pendidikan formal. Sehingga setelah mereka putus sekolah, maka kasus ini menjadi pekerjaan bagi mereka yang peduli pada pekerja PLS. PKBM dalam memberikan sumbangannya pada negara di negeri tercinta ini cukup besar bagi kita yang menilik hal itu dari sudut pandang luar sekolah. Namun dipihak lain mereka melihat dalam sudut pandang pendidikan formal, apalah artinya PKBM itu. Bahkan mereka menganggap PKBM hanya sekedar pekerjaan orang-orang PLS yang akal-akalan untuk menambah penghasilan. Bicara tentang kualitasnya? Dan mana hasilnya mereka pasti belum seluruhnya tahu. Walaupun dalam Undang-Undang nomor 20 tahun 2003, secara jelas dalam pasal 13 butir (1) menurut Hamid, (2003) bahwa :”...jalur pendidikan terdiri atas pendidikan formal, nonformal dan informal yang dapat saling melengkapi dan meperkaya...”. Dalam sudut lain, dalam pasal 28 bahwa pendidikan nonformal berfungsi sebagai pengganti, penambah, dan/atau pelengkap pendidikan formal dalam rangka mendukung pendidikan sepanjang hayat. Hal inilah yang perlu kita bicarakan dalam upaya mencerdaskan kehidupan bangsa di negeri tercinta ini. Beberapa Pengertian Dalam bagian ini, penulis menguraikan secara sederhana minimal 4 hal dalam pengertian istilah PKBM secara rinci dan sederhana masing-masing sebagai berikut: 1. Optimal menurut Echols dan Shadily (1982; 407) adalah:”...suatu pekerjaan ataupun perbuatan yang paling bagus...”. Sehinga menghasilkan sesuai dengan yang diharapkan; 2. Adapun fungsi menurut Poerwadarminta (1986) yaitu: ”...kegunaan sesuatu lembaga....”. Termasuk lembaga PKBM dalam upaya mencerdaskan kehidupan bangsa, yang semakin hari semakin bertambah. Namun beragam pula klasifikasinya; 3. Peran menurut Moeliono (1989; 667) adalah: ”...seperangkat peralatan yang diharapkan dimiliki oleh suatu lembaga atau orang tertentu yang berkedudukan di masyarakat.... Peran di sini tidak laih sebuah usaha individu ataupun sekelompok orang yang berperan pada PKBM dalam jalur pendidikan luar sekolah untuk mencerdaskan kehidupan bangsa; 4. Pusat adalah menurut ahli bahasa Moeliono (1989; 712) dan Poerwadarminta (1986) adalah :...suatu pokok pangkal berbagai-bagai urusan...”. Sehingga dapat membantu seseorang atau sekelompok orang dalam proses belajar membelajarkan dalam jalur pendidikan nonformal untuk menyelesaikan studinya yang karena faktor usia, ia harus turut serta belajar pada PKBM; 5. Kegiatan menurut Poerwadarminta (1986; 322) adalah: ”...suatu kekuatan dan ketangkasan dalam berusaha dengan penuh kearifan pada program tertentu...”. Termasuk dalam kegiatan proses belajar pendidikan luar sekolah; 6. Belajar menurut Moeliono (1989; 13) yaitu:”...berusaha untuk memperoleh kepandaian atau suatu ilmu tertentu....”. Ahli lain, seperti Shadily (1980; 434) adalah:”...seseorang dapat mempelajari sesuatu, sehingga ia dapat memperoleh pengetahuan tentang sesuatu yang baru yang memungkinkan yang bersangkutan untuk berprestasi...”. Sehingga di tempat ini seperti PKBM akan dapat membantu kepada mereka yang karena sesuatu dan lain hal tidak sempat mengikuti pendidikan formal. Dengan adanya PKBM ini, warga masyarakat dapat belajar dalam menuntaskan wajar 9 tahun untuk mempu calistung seperti kebanyakan orang; 7. Masyarakat menurut Poerwadarminta (1986; 636) adalah:”...sekumpulan orang yang hidup bersama dalam sesuatu tempat dengan dengan ikatan-ikatan aturan tertentu. Sedangkan moeliono (1989; 564) adalah: ”...sejumlah manusia diartikan seluas-luasnya dan terikat oleh suatu kebudayaan yang mereka anggap sama...”. Dan mereka ini, berminat dalam jalur pendidikan luar sekolah; 8. Pengembangan menurut Moeliono (1989; 414) dan Poerwadarminta (1986) adalah:”...suatu proses, cara, perbuatan mengembangkan secara bertahap...”. Termasuk dalam dunia pendidikan luar sekolah tidak serta merta mendaftarkan diri ia dapat ijazah. Tapi mereka harus belajar dalam kurun waktu tertentu. Dan hal seperti ini harus dipertahankan. 9. Sumberdaya lebih cenderung pada manusia, menurut Zein (1982; 4) menegaskan adalah :’’...tidak sekedar terbatas pada barang (termasuk manusia) atau substansi yang digunakan dalam upaya untuk mencapai sesuatu tujuan, tetapi yang terpenting adalah peran benda atau substansi tersebut dalam proses atau operasi, yakni fungsinya secara operasional di dalam proses tercapainya tujuan...”. Fungsi PKBM Adapun fungsi sebetulnya tidak sekedar memanfaatkan kegunaan sesuatu lembaga saja. Tapi juga termasuk lembaga PKBM ini, dalam upaya mencerdaskan kehidupan bangsa, yang semakin hari semakin bertambah jumlahnya. Namun beragam pula klasifikasinya. Dengan demikian fungsi PKBM dimasa datang setelah dialkukan sertifikasi dan akreditasi akan terlihat mana yang benar-benar menjalankan tugas PLS dan mana yang tidak. Dalam rangka sosialisasi Forum Komunikasi Pendidikan Keaksaraan (FKPK) di tanah air. Terdapat keluhan tokoh formal Ichwanuddin (2006) bahwa:”... pernah menyulitkan pihak Diknas (Dikjar) bila bakal terjadi Pemilu dan Pilkada, ada orang-orang tertentu, yang mendesak agar ikut serta dalam program paket C. Tidak itu saja, kepala Dikjar (Dinas pendidikan dan pengajaran) agar diikutsertakan ujian paket C. Hal tersebuat ia pernah juga diperiksa oleh pihak kejaksaan, karena ada indikasi bahwa lulusan paket C diperoleh tanpa melalui kegiatan pendidikan luar sekolah yang wajar...”. Hal seperti ini, fungsi PKBM perlu dijaga, bukan hanya sekedar kasihan. Tapi dengan terbitnya Undang-Undang nomor: 20/2003 dalam Bab XX ada pula sanksinya. Kebanggaan kita semua memang lulusan paket C sudah ada yang jadi Bupati. Tidak terhitung yang menjadi anggota DPR. Dalam kegagalan pendidikan formal tahun 2006 lalu, bisa kita ingat 15-20 tahun mendatang, lulusan paket C akan bermunculan menjadi pejabat di negeri ini. Dengan demikian fungsi PKBM setara juga dengan pendidikan formal. Hanya yang kita jaga kualitasnya. Peran PKBM Berbicara tentang peran PKBM dalam upaya mencerdasken kehidupan bangsa di tanah air tercinta ini, masih belum maksimal. Ketidak maksimalan ini didasari oleh : 1. Kesiapan tenaga terdidik; 2. Fasilitas yang memadai; 3. Keragaman program; 4. Uluran tangan pemerintah. Kesiapan tenaga terdidik, masih kurang, dari hasil observasi dan evaluasi selama beberapa tahun terakhir, Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) ini baik di dalam maupun di luar daerah Kalimantan Tengah tenaga yang mengelola mayoritas mereka yang bukan berpendidikan luar sekolah. Sehingga pengelola pemula tentu akan mendapat kesulitan dalam hal-hal tertentu. Sementara tenaga berpendidikan PLS yang mendapatkan pekerjaan sebagai PNS diterima pada jalur pendidikan formal, sehingga kurang memperhatikan ciri kesarjanaannya. Bila kita mempelajari teori PLS tentu saja sangat sederhana, sebab fasilitas untuk belajar membelajarkan ini, dapat di rumah penduduk, balai desa, atau di mana saja. Yang proses belajar membelajarkan ini sebelumnya terjadi kesepakatan antara warga belajar dengan tutor. Sehingga fasilitas yang ada dewasa ini, masih belum seluruhnya memadai sebagai tempat (ruang) belajar mengajar. Akibatnya kurang menciptakan kenyamanan dan sudut pandang orang luar PLS menjadi kurang tertarik untuk memilih jalur PLS. PAUD PKBM Tilung Raya Palangka Raya Dalam hal keragaman program, sebaiknya PKBM mengembangkan berbagai hal selain sesuai dengan upaya wajar 9 tahun, juga ada PAUD, Paket C bahkan berbagai hal sesuai dengan kebutuhan yang ada di masyarakat sekitar. Masalnya dengan mengangkat sumber daya alam yang ada di sekitar dan dapat pula dipasarkan ke daerah lain. Sehingga materi life skills ini, akan dapat membantu masyarakat banyak. Dan PKBM jadi dikenal oleh masyarakat banyak. Seperti di kota Solo, PKBM banyak berperan. Termasuk merias pengantin. PKBM Mendawai Palangka Raya Uluran tangan pemerintah yang mulai terlihat setelah angka buta aksara latin dan angka ternyata tak kunjung hilang. Walau kita merdeka sudah setengah abad lebih. Karena si warga tuna aksara ada perasaan segan untuk ikut belajar di tempat tersebut. Mengapa? karena tempatnya terkadang sungguh menyedihkan. Sehingga walau ada kesadaran mereka bahwa belajar itu penting bagi dirinya. Tapi kalau buku bacaan, tempat belajar, tenaga tutor belum memadai dan tidak mendapatkan uluran tangan pemerintah, baik berupa perbaikan fasilitas belajar, maupun keperluan tenaga tutor belum memadai. Membuat para peminat untuk bergabung pada jalur PLS ini, menjadi rendah. Oleh sebab itu, perlu perhatian kita semua. Terlebih bagi mereka yang bertugas dan berkecimpung sehari-hari di Dirjen, Dinas, Subdin PLS, Kasi PLS menjadi kurang perhatian. Kurangnya perhatian di atas, menurut hasil pengamatan sementara ini, ada hubungannya dengan tenaga kerja yang ditempatkan menangani PLS tidak seluruhnya berlatar belakang pendidikan luar serkolah. Namun Pendidikan nonformal meliputi pendidikan kecakapan hidup, pendidikan anak usia dini, pendidikan kepemudaan, pendidikan pemberdayaan perempuan, pendidikan keaksaraan pendidikan keterampilan dan pelatihan kerja, pendidikan kesataraan, serta pendidikan lain yang ditunjuk untuk mengembangkan kemampuan peserta didik. Dengan demikian PKBM akan dapat memilah mana yang dapat kita lakukan. Taman Bermain Shalahuddin Palangka Raya Dari 4 hal dalam upaya mengoptimalkan PKBM merupakan ssesuatu yang tidak dapat ditunda-tunda. Karena negeri kita yang sejak lama masih saja bergelut dalam dunia keaksaraan ini, akan tertinggal jauh di belakangan oleh negara-negara lain, kini mereka telah maju jamping ke depan seperti negeri tetangga kita Malaysia. Kibijakan Strategis Pemerataan dan Perluasan Dalam upaya menetapkan kebijakan strategi pemerataan dan perluasan, mutu dan relevasi serta governance dan akuntabelitas menurut Ace Suryadi (2005) adalah sebagai berikut: a. Penanganan program pemberantasan buta akasara di prioritaskan pada kantong-kantong daerah pemukiman penduduk yang jumlah buta aksaranya tinggi. b. Berusaha mengerahkan dan bekerja sama dengan berbagai organisasi sosial kemasyarakatan, lembaga swadaya masyarakat dan lembaga pendidikan formal pada semua tingkatan. Mutu dan Relevansi Untuk melihat bagai mana muti dan relevansi menurut pejabat formal di atas adalah: a. Melakukan hasil pengujian terhadap hasil belajar peserta didik berdasarkan standar yang telah dibakukan sehingga program pembelajaran yang telah dilaksanakan selama ini dapat diketahui sejauh mana tingkat penguasaan peserta didik. b. Berusaha melakukan peningkatan pelayanan pendidikan keaksaraan melalui kegiatan pembelajaran yang berkelanjutan dan relevan sesuai dengan kebutuhan peserta didik dalam mengembangkan pengetahuan dan keterampilannya melalui program life skills. Governance dan Akuntabilitas Berusaha mewujudkan pengelolaan pendidikan keaksaraan secara intensif melalui sistem pengendalian mutu secara internal baik dari masyarakat maupun pemerintah secara menyeluruh dan berkelanjutan. Ada Kesepakatan Untuk kalangan tenaga pendidikan khususnya alumnus PLS yang berkiprah pada pendidikan tinggi, sebaiknya ada kesepakatan dalam mempersiapkan untuk melatih mahasiswa agar tidak terlalu berharap dalam pekerjaan dunia formal. Mereka sejak awal kita untuk turun ke masyarakat dalam menekuni jalur pendidikan luar sekolah. Sehingga sekembalinya mereka di masyarakat alumnus kita tidak terlalu kaget dalam berhadapan dengan PKBM, Kursus-kursus dan sebagainya. Data Peringkat Dari data lain yang disajikan pada Sosialisasi Gerakan Nasional Pemberantasan Buta Aksara Intensif menurut: Ace Suryadi, (2005) di Hotel Sahid Raya Solo Tanggal 18 Desember 2005 itu, dengan mengutip dari laporan UNDP tahun 2004, peringkat HDI Indonesia berada pada posisi 111 dari 177 negara. Sementara peringkat HDI Indonesia dibandingkan dengan negara-negara di kawasan Asia pada tahun-tahun sebelumnya dapat dilihat pada tabel berikut: Tabel Perbandingan HDI Indonesia dengan Negara lain Negara Tahun 1995 2000 2002 2003 2004 Thailand 58 76 70 74 76 Malaysia 59 61 59 58 59 Philipina 100 77 77 85 83 Indonesia 104 109 110 112 111 China 111 99 96 104 94 Vietnam 120 108 109 109 112 Sumber: UNDP HDI Rank (1995, 2000, 2002, 2003, dan 2004) Dari tabel di atas, dapat terlihat betapa posisi Indonesia tidak jauh berubah sejak tahun 1995, bahkan antara tahun 2003 dan 2004 tidak mengalami perubahan peringkat, bila dilihat dari jumlah negara yang di survei. Indonesia berada diperingkat 112 dari 175 negara (2003) dan 111 dari 177 negara (2004). Berdasarkan data BPS tahun 2005 posisi kebutaaksaraan penduduk Indonesia dapat digambarkan sebagai berikut: 1. Untuk kelompok usia 10 tahun ke atas masih 15.04 juta orang; 2. Usia 15-44 tahun sebesar 3.519.970 orang; dan 3. Usia 45 tahun ke atas 11.075.118 juta. Sedangkan kemampuan pemerintah melalui APBN setiap tahun hanya mampu membelajarkan sekitar 150.000 orang dan diperkirakan untuk tahun 2006 sekitar 420.000 orang. Dengan demikian bila hanya mengandalkan pada kemampuan pemerintah, target penyelesaian rencana pembangunan jangka menengah sebanyak 1.500.000 orang pertahun pesimis bisa tercapai. Rendahnya penurunan angka di atas, menurut penulis diantaranya adalah karena besarnya jumlah penduduk, luasnya wilayah negeri ini, tenaga pengelolanya yang sangat beragam. PENYEBAB TERJADINYA BUTA AKSARA INDONESIA Ada beberapa faktor yang dapat menyebabkan terjadinya buta aksara di Indonesia adalah : 1. Putus Sekolah Dasar (SD) Masih banyak anak Indonesia, yang belum memiliki kesempatan untuk masuk sekolah dikarenakan berbagai hal. Pertama: karena orang tua atau keluarganya tidak mampu. Kondisi ini memaksa orang tua untuk mempekerjakan anak-anak mereka, terutama dimusim pertanian yaitu waktu mengolah sawah, menanam, mengetam dan lain lain. Kedua: kondisi daerah yang terisolasi atau daerah transmigrasi yang jauh dari sekolah, daerah yang terkena bencana alam atau konflik, seperti Aceh, Nabire, Poso, Atambua, dan sebagainya. Kedua penyebab ini, tidak menutup kemungkinan akan menambah buta aksara jumlah buta aksara di Indonesia. AKTIVITAS MAHASISWA PLS UNPAR DI PKBM DALAM UPAYA CALISTUNG TUA/MUDA KAUM IBU BELAJAR BERSAMA Salah satu faktor lagi, yang kurang diperhatikan penyebab buta aksara di Indonesia adalah DO program-program pendidikan luar sekolah (PLS) baik yang dilakukan melalui pendidikan keaksaraan maupun kesetaraan. Angka putus belajar, terutama dalam program pemberantasan buta aksara, cukup tinggi karena kurangnya motivasi dan warga belajar tidak merasakan manfaat yang segera dapat digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Termasuk juga seperti dalam uraian peran PKBM terdahulu, bahwa pendidikan keterampilanpun tidak akan menarik minat masyarakat buta aksara. Apabila mereka tidak merasakan akibat langsung untuk meningkatkan pendapatan, memperoleh lapangan kerja, dan memperbaiki status sosial-ekonomi mereka. Hal ini menjadi tantangan bagi kita dalam pengelolan PKBM yang dapat dimaksimalkan. Berdasarkan pengamatan UNESCO kompetensi keaksaraan lulusan pendidikan dasar masih belum memadai. Padahal menurut Direktur Jendral UNESCO Koichi Matsura pendidikan keaksaraan merupakan sarana pembangunan berkelanjutan. Kemampuan keaksaraan begitu penting bagi setiap orang, kelompok dan masyarakat. Kemampuan keaksaraan memiliki kontribusi terhadap pembangunan ekonomi, sosial dan kelestarian lingkungan (Suryadi, 2005). 2.Demografis dan Geografis Dilihat dari segi demografi dan geografis bagian terbesar dari jumlah penduduk tinggal di pedesaan, sekitar 70-80% penduduk dunia terutama di negara-negara miskin dan yang sedang berkembang termasuk Indonesia bermukim di pedesaan. Tenaga terdidik masih sangat kurang karena sebagian penduduk menempati kawasan pedesaan dengan tingkat pendidikan relatif rendah. Data yang dapat dipercaya bahwa 1/5 atau 20% dari penduduk dunia, masih buta aksara dan sebagian besar mereka tinggal di daerah pedesaan. Begitupun yang terjadi di Indonesia yang berpenduduk 206 juta yang sebagian besar tinggal di pedesaan di hampir 17.000 pulau yang semua itu perlu ditangani. Diproyeksikan pada tahun 2004, angka penyerapan murni SD hanya sekitar 94,13% dari populasi anak SD yang masuk sekolah. Hal ini berarti masih ada sekitar 5,87% anak-anak yang perlu dicarikan alternatif pendidikannya agar dapat memperoleh pendidikan minimal setingkat SD. Sebagaimana kita tahu daya tampung SD tidak dapat menjangkau seluruh wilayah Indonesia, untuk itu perlu dicarikan alternatif untuk menangani mereka. Jika hal ini tidak tertangani tidak menutup kemungkinan mereka akan menjadi buta aksara dikemudian hari. Masalah geografi dan demografi ini merupakan masalah krusial dan perlu segera diatasi. Berdasarkan data BP3 (2003) penyebaran buta aksara berdasarkan geografi dapat dilihat pada gambar berikut: 3.Aspek Sosiologis Ditinjau dari segi sosiologis, sebagian besar masyarakat kita beranggapan bahwa harkat dan martabat seseorang akan meningkat apabila memiliki “Ijazah” yang diperoleh melalui jalur persekolahan, dengan orientasi ingin menjadi pegawai negeri atau bekerja di perusahaan-perusahaan atau bekerja pada sektor-sektor formal. Pada sisi lain, program pemberantasan buta aksara yang meskipun diintegrasikan dengan berbagai pendidikan keterampilan tidak memberikan “Ijazah” sebagai jawaban atas anggapan tersebut di atas. Sehingga program pemberantasan buta aksara kurang diminati oleh masyarakat yang tergolong miskin, dalam arti tidak mampu menyekolahkan anak pada jalur pendidikan persekolahan. Hasil penelitian juga memberi petunjuk bahwa sebagian besar masyarakat kita lebih menginginkan pendidikan sekolah bagi anak-anaknya, karena program pemberantasan buta aksara sendiri tidak memberikan ijazah yang diperlukan oleh mereka untuk meningkatkan status sosial ekonominya. Selain itu yang menjadi penyebab warga masyarakat buta aksara dari aspek sosiologis, adalah karena mereka hidup dalam keluarga yang berpendidikan rendah dan miskin, sehingga tidak mampu untuk membiayai pendidikanya. Sementara pada sisi lain, tidak ada kepedulian orang-orang terdidik disekitarnya untuk mendidik mereka. Begitu pula banyak perusahaan-perusahaan swasta yang tidak mensyaratkan latar belakang pendidikan bagi pekerjanya dengan alasan bahwa mereka membutuhkan pekerja-pekerja yang ber-upah rendah. Peranan keaksaraan dalam pengembangan sosiologis suatu masyarakat sebenarnya telah diakui oleh banyak pihak. Diakui pula, meskipun keaksaraan bukanlah satu-satunya program yang disiapkan untuk pengembangan sosial masyarakat, namun banyak keuntungan yang akan diperoleh apabila suatu masyarakat memiliki tingkat keaksaraan yang memadai. Keterampilan-keterampilan keaksaraan merupakan kondisi yang diperlukan sebagai alat yang efektif dalam pendekatan-pendekatan yang berurusan dengan kemiskinan. Hasil penelitian UNESCO juga menyatakan bahwa program Keaksaraan ternyata mempunyai implikasi langsung terhadap: (1) peningkatan pendapatan masyarakat; (2) peningkatan partisipasi masyarakat terhadap program pembangunan; (3) peningkatan gizi masyarakat; (4)peningkatan kesadaran masyarakat untuk menyekolahkan anaknya; (5) penurunan angka kematian bayi dan ibu melahirkan; (6) keberhasilan pelaksanaan program keluarga berencana; (7) peningkatan usia harapan hidup masyarakat; dan (8) menjadikan masyarakat semakin demokratis. 4. Issue Gender Mengamati kenyataan dalam masyarakat, bahwa peranan antara perempuan dan laki-laki dalam berbagai bidang kegiatan, terdapat banyak ketimpangan-ketimpangan yang cenderung merugikan dan atau membatasi ruang gerak kaum perempuan. Sebagai contoh, misalnya ketimpangan dalam hal mendapatkan kesempatan untuk mengemukakan pendapat dan turut menentukan keputusan dalam rumah tangga, dan dalam urusan-urusan yang berkaitan dengan kemajuan masyarakat, termasuk pendidikan yang diperlukan oleh dirinya. Banyak dari anak-anak perempuan yang kurang memiliki kesempatan untuk mengenyam pendidikan yang lebih tinggi dibanding laki-laki. Ada anggapan di masyarakat, bahwa sepandai-pandainya perempuan kembalinya ke dapur juga. Anggapan lain berdasarkan issue gender ini misalnya, bahwa perempuan itu tidak perlu sekolah yang penting bisa mengurus suami dan keluarga. Anggapan-anggapan yang tidak membangun seperti ini, yang menyebabkan kaum perempuan tertinggal dibanding laki-laki. Kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa sasaran program keaksaraan fungsional (KF) adalah perempuan (67,74%). Hal ini apabila program KF akan disosialisasikan dan diimplementasikan maka perlu memperhatikan isu gender ini, baik dalam strategi maupun pendekatannya. Rumusan yang biasa dipakai dalam analisis situasi kondisi jender dalam program keaksaraan fungsional adalah Index Paritas atau keseimbangan (Parity Index) angka buta aksara (IPBA) yaitu rasio angka buta aksara perempuan terhadap buta aksara laki-laki. Rendahnya tingkat keaksaraan perempuan semakin memarginalkan kedudukan mereka yang sebelumnya telah dipandang berbeda dan merupakan subordinasi dari laki-laki. Selain penyebab-penyebab tersebut di atas, kita juga harus memahami penyebab struktural mengapa di Indonesia lebih banyak perempuan buta aksara dibanding laki-laki. Hal ini dapat dijelaskan dari dua dimensi: Skala Makro: secara struktural pengambilan kebijakan diberbagai level dan bidang, termasuk bidang pendidikan didominasi oleh laki-laki dibanding perempuan, sehingga keputusan yang dihasilkanpun adalah berdasarkan kacamata (kepentingan) laki-laki. Skala Mikro: dalam skala keluarga misalnya, hampir semua keputusan yang berkaitan dengan keuangan, akan didominasi oleh figur laki-laki (Ayah), termasuk keputusan pembiayaan pendidikan bagi anak-anaknya. Dalam satu keluarga miskin, yang tidak semua anak tercukupi biaya sekolahnya, orang tua harus memilih (menentukan prioritas) yang mana diantara anak-anaknya yang akan di sekolahkan ke jenjang lebih tinggi. Dalam kaitan ini, biasanya pilihan jatuh pada anak laki-laki. Kenapa jatuh pada anak laki-laki? Hal ini juga dipengaruhi oleh faktor budaya atau pandangan stereotip, bahwa: (a) anak laki-laki adalah penerus keturunan; (b) laki-laki adalah calon kepala rumah tangga yang akan bertanggung jawab terhadap keluarga, khususnya berkaitan dengan persoalan pengambilan keputusan, sehingga laki-laki yang harus pintar dan harus memperoleh pendidikan lebih baik dibanding perempuan. Di samping itu, mengapa lebih banyak orang miskin yang buta aksara daripada orang kaya?. Hal ini dapat dijelaskan sebagai berikut: (1) orang kaya lebih mudah memperoleh akses untuk belajar diberbagai lembaga yang tersedia; (2) lebih mampu membeli bahan belajar yang diperlukan untuk menunjang pendidikan; (3) lebih mudah mendapatkan fasilitas belajar yang dibutuhkan; (4) lebih mudah mendapatkan informasi-informasi yang diperlukan, karena tersedianya berbagai fasilitas di rumahnya, dan sebagainya. Sementara untuk masyarakat miskin, hal-hal yang disebutkan di atas, akan terjadi sebaliknya. Kegagalan Sekolah Formal Berbicara tentang kegagalan sekolah formal selama ini, menurut Kepala Sub Direktorat Pendidikan Kesetaraan Departemen Pendidikan Nasional RI, Ella Yulaelawati (2006) bahwa :“…perlu dilakukan pengkajian yang sangat mendasar tentang kegagalan sekolah formal yang selama ini…”. Karena sekolah formal sebagai jalur pertama ternyata tidak seluruhnya menemukan cara efektif dalam penyelenggaraan pendidikan formalnya. Padahal pendidikan formal ini telah disiapkan dengan segala fasiltas, guru dan materi belajar yang cukup. Tapi kenapa setelah diserahkan tugas lewat pendidikan formal selalu kandas dalam penuntasan pendidikan dasar 9 tahun. Sementara kegagalan dalam menekan angka tuna aksara ini menurut: Singarasa (2006) adalah: ”…masa lalu, pihak pemerintah betul-betul membina masyarakat yang diikuti dengan kesadaran dan ketaatan masyarakat terhadap program yang dilancarkan pemerintah. Dan turut mendukung upaya menurunkan angka tuna aksara. Namun sekarang kita sadari bersama dengan kurangnya partisipasi masyarakat akan turut meninggikan angka buta huruf….”. Menurut Darlan, 2006. Bahwa:”... dalam wajar 9 tahun, bangsa kita di era pembangunan sekarang terjadi peningkatan angka tuna aksara selalu tinggi. Walau pemerintah sudah secara gencar melakukannya. Namun angka tuna aksara makin tahun masih bertambah. Hal ini perlu kita cari sebab akibatnya...”. Seorang dosen pendidikan luar sekolah (PLS) Universitas Palangka Raya: Ringkin (2006) bahwa ia: “…mengkritisi rumusan hasil pertemuan sarjana di Palangka Raya beberapa waktu lalu bahwa kalangan pendidikan sendiri yang duduk dalam komisinya masih terlupakan tentang pendidikan luar sekolah. Padahal jika menguasai terhadap Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional nomor: 20/2003 secara jelas ada 3 jalur pendidikan yakni: (a) Pendidikan Formal, (b) Pendidikan non formal dan (c) Pendidikan informal…”. PLS berada pada pendidikan non formal. Sementara dalam butir 2 Pendidikan nonformal meliputi pendidikan kecakapan hidup, pendidikan anak usia dini, pendidikan kepemudaan, pendidikan pemberdayaan perempuan, pendidikan keaksaraan pendidikan keterampilan dan pelatihan kerja, pendidikan kesataraan, serta pendidikan lain yang ditunjuk untuk mengembangkan kemampuan peserta didik. Ini juga memasuki pada jalur pendidikan informal kita. Kegagalan yang dikritik dosen senior PLS FKIP Unpar itu, tidak lain karena ketidak mengertian banyak orang tentang jalur pendidikan kita, baik dalam Undang-Undang Nomor 2 tahun 1989 maupun Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional yang berlaku dan ada di negeri kita cintai ini. Angka Tuna Aksara Membubungnya Angka Tuna Aksara memang terjadi di mana-mana. Apakah di perkotaan ataukah di pedesaan. Hal ini sebagai salah satu sebab tertutupnya kran PLS yang selama ini. Kita ketahui bersama para sarjana PLS hanya tersalurkan lewat Kran pendidikan formal. Artinya banyak sarjana PLS yang diluluskan oleh IKIP/FKIP selama ini, namun Kran untuk masuk diknas baik di kecamatan, Kabupaten/Kota dan Provinsi sepertinya masih terabaikan. Karena mereka tidak mendapat tempat untuk masuk ke Dikmas, Subdin PLS maka Kran yang ada hanya lewat pendidikan formal. Alias jadi guru. Sehingga kerja pekerjaan yang ia rencanakan selama 4 – 5 tahun di bangku kuliah, untuk membantu pemerintah supaya dalam upaya mencerdaskan kehidupan bangsa. Dengan berbagai teori pendidikan orang dewasa yang mereka pelajari. Setelah masuk kerja menjadi guru formal maka teori yang ia bangun bertahun-tahun terpaksa harus sirna atau patah, karena lapangan kerja yang mereka geluti dalam penerapan pendidikan biasa. Sementara pendidikan non formal digeluti bagi mereka yang tidak mendapatkan kesempatan pada bidang keahliannya. Apa boleh buat, dengan ilmu seadanya. Sehingga kegagalan pendidikan nonformal-pun mulai dirasakan, dengan membubungnya angka tuna aksara di mana-mana. Mewujudkan Wajar 9 Tahun Mewujudkan Wajar 9 Tahun memang tidak semudah membalik telapak tangan. Secara teori memang mengajak mereka yang karena sesuatu dan lain hal tidak sempat menikmati pendidikan formal atau istilah lama belajar pada sistem persekolahan. Sementara mereka usianya tidak lagi pada usia sekolah. Namun tuntutan pasal 31 UUD’45 harus diwujudkan, untuk itu setiap warga menagar harus kita ajak agar mereka mau belajar Baca Tulis dan Berhitung (Balistung) seperti kebanyakan orang. Supaya mereka tidak bergulat dengan kebodohan. Namun Dipihak lain, terjadi pula suatu upaya sadar para ibu dan bapak-bapak yang telah berusia, meminta agar mereka diberikan pendidikan di luar sekolah (pendidikan nonformal) kepada para mahasiswa PLS agar mereka dapat Balistung sebagaimana kebanyakan orang di sekitarnya. Untuk kegiatan seperti ini, adalah tugas kita semua untuk membantu mereka agar mereka tidak terjadi kesulitan dalam menghadapi masa depannya. Kalau kita cermati nasib warga masyarakat kita baik di perkotaan maupun di pedesaan, mereka ini karena tingkat pendidikannya tertinggal, maka selalu termarginalkan sebagai akibat bagi sekelompok kecil warga masyatakat kita yang belum berkesempatan mengikuti pendidikan formal dimasa mudanya. Ciri PLS Bila mengkaji berbagai literatur menyebutkan bahwa Pendidikan Luar sekolah (PLS) yang berdasarkan dalam Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional nomor 20 tahun 2003 seperti sekarang ini, jelas bahwa PLS atau pendidikan nonformal itu tidak dijelaskan secara rinci disebutkan. Penulis mencoba mengurai tentang PLS atau pendidikan nonformal ini adalah: (1) waktunya pendek; (2) materinya beragam; (3) siswanya bervariasi dan; (4) tempatnya menyesuaikan serta (5) dll. Untuk lebih jelasnya yaitu: waktunya pendek, artinya pendidikan luar sekolah atau pendidikan nonformal ini, tidak lebih dari 12 bulan. Bahkan ada yang hanya satu hari. Demikian juga jam belajarnya. Apakah pagi, sore atau malam hari. Sehingga tidak mengganggu jam kerja warga belajar. Dalam perkembangannya, pada pendidikan dasar dan menengah dewasa ini tentu ada yang lebih dari setahun. Misalnya dalam program paket A,B dan C. Guna meningkatkan kualitas disertai fungsi dan peran yang makin diperbaiki. Maka warga belajar paket A, B dan C tidak mungikin dalam waktu 3 – 4 bulan sudah terima ijazah. Mereka harus belajar dengan kesungguhan, disertai mengikuti ujian untuk menentukan kelulusan. Adapun materi pembelajaran pendidikan orang dewasa ini, beragam. Artinya menyesuaikan dengan kebutuhan masyarakat (belajar berdasarkan bebutuhan masyarakat). Beda dengan pendidikan persekolahan atau pendidikan formal. Dalam pendidikan luar sekolah atau pendidikan nonformal ini, materi dibuat berdasarkan kesepakatan. Para mahasiswa yang mengambil program studi / jurusan Pendidikan Luar Sekolah (PLS) tahu persis cara rancang bangun dan rekayasa dalam materi belajar yang berdasar kesepakatan itu. Kalau tidak maka kelompok belajarnya akan bubar. Siswanya atau istilah di PLS Warga belajarnya bervariasi, dengan berdasar konsep pendidikan luar sekolah atau pendidikan nonformal ini, kepada mereka yang karena sesuatu dan lain hal dalam pendidikan formal belum sempat menikmati dunia pendidikan. Namun telah berusia 35 tahun baru ia sadar akan pentingnya sekolah dasar. Padahal pada usia itu tidak akan ada lagi murid SD. Maka ia harus mengikuti jalur ke 2 yaitu pendidikan luar sekolah atau pendidikan nonformal ini, dengan belajar paket A. Sehingga ia harus mengikuti paket A-1 sampai A-100. Atau pendidikan keaksaraan lainnya. Selain itu tutor harus mengerti betul yang didik ini orang dewasa. Materi selingan perlu ada agar warga belajar tidak bosan, maka ia harus merancang bangun dan rekayasa materi belajar lain yang sesuai kebutuhan warga belajar (WB)-nya. Yang dimaksud bervariasi di atas tidak lain usia peserta beragam. Ada yang usia 25 tahun ada pula 35 tahun dan sebagainya. Bahkan pengalam penulis ada warga belajar (siswanya) lebih tua dari itu, dan motivasi ingin tahunya sangat tinggi. Bicara tentang tempat tidak seperti dunia persekolahan atau pendidikan formal. Melainkan pendidikan luar sekolah atau pendidikan nonformal ini, berdasarkesepakatan bersama. Terkadang di ruang kelas sekolah, di rumah ketua RT, RK/RW, di rumah warga belajar sendiri atau di balai desa. Yang penting ada kesepakatan. Dengan demikian dalam memperhatikan pendidikan luar sekolah atau pendidikan nonformal ini, tentang: waktu, materi, wb bervariasi dan tempat tentu beda dengan sistem persekolahan atau pendidikan formal. Dan kalau kita terpaku pada salah satu jalur saja di dunia pendidikan ini, maka kapan lagi kepincangan pendidikan itu dapat kita luruskan. Belajar Dari Sebuah Pengalaman Dalam mengakhiri tahun 2006, ada sebuah pekerjaan yang ditugasi oleh LPPM Universitas Palangka Raya untuk asistensi Wajib bejalar 9 tahun di Kabupaten Kotawaringin Timur Kalimantan Tengah, mendampingi para Camat, Diknas Kecamatan, Depag Kecamatan dan Kepala Desa serta tokoh masyarakat dalam membicarakan SD/SMP satu atap. Sebuah desa di tepi Laut Jawa tepatnya Desa Satiruk, kecamatan Pulau Hanaut ada 3 gedung sekolah dasar yang berdekatan setiap tahun meluluskan antara 18-20 orang/sekolah. Namun tidak ada SMP/MTs baik negeri maupun swasta. sehingga kepala desanya berinisiatif membentuk kelompok belajar paket B. Namun dalam segi usia 12-14 tahun. Sementara yang berusia 18 – 40 tahun tak pernah dapat sentuhan pendidikan baik formal SMP/MTs maupun nonformal paket B. Padahal negara kita sedang gigihnya menuntaskan wajar 9 tahun. Termasuk merealisasikan Instruksi Presiden nomor: 5 tahun 2006 tertenggal 9 Juni 2006. Tentang Gerakan Nasional Percepatan Penuntasan Wajar pendidikan dasar 9 tahun dan pemberantasan buta aksara. Pengalaman lain tahun 1992 penulis penelitian di kawasan pantai, menemui sebuah bangunan beratapkan daun nipah, dinding daun nipah ukuran 6 x 4 m dengan 10 orang muris 4 duduk di kelas 2. Saat bertemu dengan penulis penduduk di kecamatan Kumai Kabupaten Kotawaringin Barat Kalimantan Tengah ini, diajak membaca huruf latin dan angka belum sempurna. Tapi dituliskan huruf Arab mereka lancar membaca. Berarti penduduk pesisir tidak seluruhnya buta aksara, kecuali latin. Sedangkan huruf Arab mereka sudah bisa, karena setiap orang tua melatih anaknya untuk membaca Al-Qur’an. Kasus ini berada di kawasan selatan Kalimantan Tengah. Tepatnya di utara Laut Jawa. Perlu Perubahan Perlu merubah konsep yang selama ini, ternyata terjadi kesalahan dalam dunia pendidikan luar sekolah. Memang selama ini, pendidikan luar sekolah terlupakan. Bahkan jika pendidikan luar sekolah bagi pekerjanya seperti tutor misalnya mendapat imbalan lebih banyak dengan ucapan terima kasih. Sementara jika tersedia dana, untuk tenaga tutor hanya dengan imbalan yang jauh dari cukup. Padahal, petugas PLS jauh lebih sulit dibanding mereka yang bekerja di jalur pendidikan formal. Misal dalam pendidikan formal gedung sekolah, guru dan murid serta buku bacaan tersedia, semuanya serba ada. Sementara dalam jalur pendidikan luar sekolah terjadi sebaliknya. Ruang belajar terkadang di rumah penduduk, di balai desa dll. Murid dirayu agar mau belajar. Karena mereka dalam kondisi belajar tidak penting baginya. Hal itu perlu diberikan penyadaran diri individu yang masih belum tuntas wajar 9 tahun. Materinya elastisitas yang diberikan berdasarkan kesepakatan bersama. Dengan melihat hal di atas, saran dari penulis agar mulai sekarang kita adakan perubahan. Artinya dalam hal pendanaan, tidak selalu pada pendidikan formal yang besar. Tapi bagaimana jika kalau PKBM, yang tak punya gedung yang memadai. Pihak Diknas turut membantu mereka yang mendirikan pusat kegiatan belajar masyarakat ini, pada gedung mereka, buku bacaan dan honor tutor yang cukup. Jika hal ini direalisasikan, Insyaa Allah kegairahan belajar mesyarakat akan meningkat. Dan angka tuna aksara akan dapat ditekan. DAFTAR PUSTAKA Darlan, H. M. Norsanie, 2006. Pendidikan Luar Sekolah di Kalimantan Tengah, Makalah, Palangka Raya. -----------, 2006. Sulitnya Pemerataan Wajar Sembilan Tahun di Kalimantan Tengah, Universitas Mulawarman, Samarinda. ------------, 2014. Upaya Mengoptimalkan Fungsi Ddan PEran PKBM Sebagai Lembaga Pengengan Sumberdaya Masyarakat, Makalah, Palangka Raya Echols, Jonh M dan Shadily Hassan, 1982. Kamus Inggris Indonesia (An English-Indonesian Dictionary), PT. Gramaedia Pustaka Utama, Jakarta. Hamid, H. Dedi, 2003. Uuno 20 Tahun 2003, Tentang Sistem Pendidikan Nasional, Asokadikta, Jakarta. Ichwanuddin, 2006. Keberatan Kepala Dinas Pendidikan dan Pengajaran Kabupaten Kotawaringin Barat Kalimantan Tengah, Pangkalan Bun. Moliono, Anton M. 1989. Kamus Besar Bahasa Indonesia¸ Depdiknas RI, Jakarta. Poerwadarminta, WJS. 1986. Kamus Umum Bahasa Indonesia, Balai Pustaka, Jakarta. Ringkin, Don F, 2005. Kritik Pendidikan Luar Sekolah hanya dipandang dengan sebelah mata oleh banyak kalangan, Kal-Teng Pos Opini, Palangka Raya. Singarasa, Henry 2006. Diskusi Pendidikan Keaksaraan dengan Berbagai Latar Belakang Bidang Keilmuan, Rektor Universitas Palangka Raya, Palangka Raya. Suryadi, Ace, 2005. Kebijakan dan Strategi Gerakan Pemberantasan Buta Aksara Intensif, Hotel Sahid Raya Solo. Shadily , 1980. Ensiklopedi Indonesia, Jilid 1, Ictiar Baru, Jakarta. ------------, 1984. Ensiklopedia Indonesia, Jilid 5, Ictiar Baru, Jakarta. Yulaelawati, Ella, 2006. Kegagalan Sekolah Formal Dalam Melaksanakan Pendidikan, Direktur Pendidikan Kesetaraan Depdiknas RI, RRI, Jayapura. Zein, MT, 1982. Sumber daya konsep yang berubah sepanjang sejarah, Prisma Volume 11, Jakarta.

Kamis, 08 November 2018

PEMAPARAN MAKALAH DI MAKASSAR

Makalah : Kompetensi Untuk Memenangkan Kompetisi Pada Pasar Kerja Nasional dan Global Oleh : H.M. Norsanie Darlan Guru Besar PLS/PNF Univeritas Palangka Raya Pendahuluan Lembaga Kursus dan Lembaga Pelatihan merupakan dua satuan pendidikan Non formal seperti yang tertera dalam pasal 26 ayat (4) Undang-Undang Nomor: 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Secara umum dalam pasal 26 ayat (5) dijelaskan bahwa Kursus dan pelatihan diselenggarakan bagi masyarakat yang memerlukan bekal pengetahuan, keterampilan, kecakapan hidup, dan sikap untuk mengembangkan diri, mengembangkan profesi, bekerja, usaha mandiri, dan/atau melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Selain itu kembali diperlengkap dalam pasal 103 ayat (1) Peraturan Pemerintah Nomor: 17 tahun 2010 tentang pengelolaan dan penyelenggaraan pendidikan bahwa: kursus dan pelatihan diselenggarakan bagi masyarakat, dalam rangka untuk mengembangkan kepribadian profesional dan untuk meningkatkan kompetensi vokasional dari peserta didik (Warga Belajar) dalam sebuah kursus dan pelatihan guna meningkatkan kualitas generasi muda ke masa depan yang penuh tantangan. Pendidikan non formal/Pendidikan luar sekolah merupakan pendidikan yang juga harus dimiliki oleh setiap manusia Indonesia yang memerlukannya. Hal ini sebagai tatanan yang sangat penting dalam dunia pendidikan formal. Karena selama ini pendidikan formal yang sudah tersedia diberbagai bidang keahlian, namun masih dirasakan bahwa tidak cukup hanya dengan pendidikan formal, tapi peran pendidikan non formal (pendidikan luar sekolah) adalah pendidikan yang semakin tahun semakin dirasakan kalau pendidikan formal saja, sudah mulai dirasakan masih belum tuntas. Hal ini jika tidak dilengkapi dengan pendidikan non formal. Penulis pernah berdiskusi dengan seorang tokoh Pendidikan Nasional, Prof. Djudju Sudjana (1999). Beliau menggambarkan di Benua Erofa yang selama waktu beliau menempuh pendidikan bahwa sangat dirasakan pentingnya pendidikan luar sekolah. Untuk itu PNF harus ada di setiap bidang. Sehingga beliau memberikan /mengambil contoh di Indonesia peran pendidikan luar sekolah (Pendidikan Non Formal) belum banyak diperankan. Padahal makin maju suatu negara, maka makin maju pula pendidikan luar sekolah. Tapi nyatanya di tanah air kita, tidaklah demikian. Penulis tahun 2002 saat itu ditugasi oleh Bapak Gubernur Kalimantan Tengah sebagai kepala Badan Diklat Provinsi. Dan merasakan dalam Diklat Prajabatan ternyata tidak menemukan para Calon PNS saat itu, yang masuk kerja telah memiliki sertifikat kahlian. Kecuali guru dan dokter yang di Ijazahnya terlampir dengan Akta IV bagi guru sebagai sertifikat keahlian mengajar. Dan dokter dengan sertifikat Uji Kompetensi dokter Indonesia. Sementara CPNS yang lain saat itu, belum pernah mensyaratkan sertifikat kahliannya dalam memasuki lapangan kerja. Adapun sertifikat keahlian tersebut sama halnya dengan yang dikeluarkan Lembaga Kursus dan Pelatihan (LKP) salah satu diantaranya di kota Sampit LPP Quantum sekarang ini. Masih ada contoh singkat sebuah persyaratan kerja di Asia Timur Raya (Jepang) misal seseorang dalam kesarjanaannya Sarjana Listrik. Dalam tes masuk di perusahaan ia diterima bekerja di perusahaan Listrik. Tapi saat mau masuk kerja, ia belum boleh bekerja. Karena tidak memiliki sertifikat keahlian (kompetensi) dalam mengolah Listrik. Sehingga yang bersangkutan harus ikut kursus di LKP tentang Listrik. Kalau tidak. ia tidak boleh masuk kerja di perusahaan tempatnya ia diterima bekerja. Ini sebuah bukti peran Lembaga Kursus di negeri yang telah maju. Harusnya di Indonesia juga demikian. Berbagai pengertian Pengertian kompetensi adalah suatu kewenangan (kekuasaan) untuk menentukan (memutuskan sesuatu) dalam pemberian pengetahuan dan keterampilan kepada peserta didik (WB). Arti Memenangkan Kompetisi menyebabkan (menjadikan) menang contoh: 'bukan hanya kekuatan senjata, tetapi dengan melalui jalur pendidikan non formal bukan melalui kekuatan ekonomi juga dapat memenangkan memalui peperangan. Pasar tenaga kerja dapat diartikan sebagai suatu pasar yang mempertemukan pencari tenaga kerja. Dalam pasar ini, adalah para pencari kerja (Pemilik Tenaga Kerja), sedangkan sebagai pencari adalah lembaga yang memerlukan tenaga kerja. Arti Nasional dan Global adalah Nasional berlaku untuk menyatakan satu negara saja. Misalnya Nasional Indonesia, Nasional Singapura dan lainnya. Sedangkan Internasional berarti bersifat seluruh dunia. Jadi hubungan negara dari Asia Tenggara dengan negara dari Asia Timur itu bersifat internasional dan juga sebaliknya. Tujuannya: Bahwa ingin memberikan motivasi dan pemahaman yang baik kepada peserta didik (warga Belajar), dan telah merasakan pentingnya kompetensi dalam memenangkan persaingan kerja. Ingin memberikan wawasan kepada orang tua wisudawan akan pentingnya pendidikan secara formal maupun non formal (pendidikan luar sekolah) khususnya yang berbasis vokasional untuk modal mengembangkan krisis di masa depan mereka. Dalam Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 Bagian Kelima Pendidikan Non formal Pasal 26 secara jelas telah mengisyaratkan bahwa : (1)Pendidikan non formal diselenggarakan bagi warga masyarakat yang memerlukan layanan pendidikan yang berfungsi sebagai pengganti, penambah, dan/atau pelengkap pendidikan formal dalam rangka mendukung pendidikan sepanjang hayat (Leve Long Education). (2)Pendidikan non formal berfungsi mengembangkan potensi peserta didik (WB) dengan penekanan pada penguasaan pengetahuan dan keterampilan fungsional serta pengembangan sikap dan kepribadian yang profesional. (3)Pendidikan non formal meliputi pendidikan kecakapan hidup, pendidikan anak usia dini, pendidikan kepemudaan, pendidikan pemberdayaan perempuan, pendidikan keaksaraan, pendidikan keterampilan dan pelatihan kerja, pendidikan kesetaraan, serta pendidikan lain yang ditujukan untuk mengembangkan kemampuan peserta didik. (4)Satuan pendidikan non formal terdiri atas lembaga kursus, lembaga pelatihan, kelompok belajar, pusat kegiatan belajar masyarakat, dan majelis taklim, serta satuan pendidikan yang sejenis. (5)Para alumnus kursus dan pelatihan ini diselenggarakan bagi masyarakat yang memerlukan bekal pengetahuan, keterampilan, kecakapan hidup, dan sikap untuk mengembangkan diri, mengembangkan profesi, bekerja, usaha mandiri, dan/atau melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. (6)Adapun hasil pendidikan non formal dapat dihargai setara dengan hasil program pendidikan formal setelah melalui proses penilaian penyetaraan oleh lembaga yang ditunjuk oleh Pemerintah atau Pemerintah Daerah dengan mengacu pada standar nasional pendidikan. Sekilas kita berbicara tentang sertifikasi, hal ini secara jelas tertuang Dalam Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 pasal 16 sebagai berikut: (1)Sertifikat berbentuk Ijazah dan sertifikat kompetensi. (2)Ijazah diberikan kepada peserta didik sebagai pengakuan terhadap prestasi belajar dan/atau penyelesaian suatu jenjang pendidikan setelah lulus ujian yang diselenggarakan oleh satuan pendidikan yang terakreditasi. (3)Sertifikat kompetensi diberikan oleh penyelenggara pendidikan dan lembaga pelatihan kepada peserta didik dan warga masyarakat sebagai pengakuan terhadap kompetensi untuk melakukan pekerjaan tertentu setelah lulus uji kompetensi yang diselenggarakan oleh satuan pendidikan yang terakreditasi atau lembaga sertifikasi. Sedangkan pada bagian lain berbicara tentang Akreditasi termuat dalam Pasal 60 adalah: (1)Akreditasi dilakukan untuk menentukan kelayakan program dan satuan pendidikan pada jalur pendidikan formal dan non formal pada setiap jenjang dan jenis pendidikan. (2)Akreditasi terhadap program dan satuan pendidikan dilakukan oleh Pemerintah dan/atau lembaga mandiri yang berwenang sebagai bentuk akuntabilitas publik. (3)Akreditasi dilakukan atas dasar kriteria yang bersifat terbuka. (4)Untuk saat ini, Akreditasi terdiri atas sebutan: A, B dan C. Namun pemilik PKBM, LKP dan PAUD, tidak perlu harus A dan harus bercermin pada diri sendiri. Dewasa ini, dari Litbang Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan RI mengisyaratkan bahwa Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) dalam proses akreditasi harus diutamakan. Karena di PKBM ada pendidikan kesetaraan berupa paket A = setara sekolah Dasar/MI, paket B = setara dengan SLTP/MST demikian juga paket C = setara dengan SLA/MA. Lembaga ini harus mengutamakan akreditasinya, dengan alasan bahwa PKBM dalam ujian nasional mereka tidak bisa dilaksanakan di PKBM itu, kalau belum terakreditasi. Nah bagaimana warga belajarnya. Jadi agar mereka tidak kabur dalam ujian, maka PKBM tersebut harus di akreditasi. Tidak perlu: A, B atau C. yang penting sudah terakreditasi. Peran LKP Mencerdaskan bangsa Adapun Peran Lembaga Kursus dan Pelatihan, setiap hari para instruktur dalam lembaga pelatihan atau kursus melakukan berbagai kegiatan belajar mengajar dengan peserta kursus (WB) dan mereka juga harus berpikir tentang cara peserta kursus belajar dan pengetahuan yang diberikan agar dapat diserap oleh peserta kursus. Ketika instruktur ingin mengajarkan kepada peserta kursus (WB) tentang proses belajar sebagai suatu tugas terstruktur dan memiliki ragam metode, maka instruktur memperlihatkan media yang mampu memberi gambaran tentang hal itu. Dengan menunjukkan gambar atau alat media tertentu, instruktur mengatakan kepada peserta kursus dalam hal ini adalah WB: “Peserta kursus semua mencoba memperhatikan, inilah proses menggambar pola yang benar, lalu potongan pola dengan ukuran yang jelas pula” Metode ini, sering dijumpai di berbagai lembaga pelatihan. Melalui cara ini, peserta kursus lebih banyak diberikan berupa: pengetahuan tentang objek tanpa memberikan kesempatan pada mereka untuk terlibat atau menyentuh langsung dengan benda yang diperkenalkannya. Akibatnya mereka tidak mengetahui betul bagaimana prosesnya dan hasilnya jadi seperti apa atau gambar yang diberikan guru itu bagaimana. Para peserta kursus dengan pelatihan tidak bisa menggunakan seluruh panca inderanya untuk memahami benda atau gambar tersebut. Seandainya saja setiap peserta kursus diberikan kesempatan untuk melihat, menyentuh, menggunakan, mempraktikan bagaimana proses itu berlangsung. Pelajaran yang peserta kursus terima akan dapat lebih bermakna dan bisa diingat secara lebih baik. Instruktur bisa melakukan berbagai cara membangun pengetahuan peserta kursus. Misalnya mengenalkan tentang semua alat-alat yang akan digunakan dalam pelatihan itu. Peserta kursus harus dikenalkan dahulu, bagaimana cara menggunakannya dan kegunaan dari alat-alat yang digunkan tersebut. Jika guru, totur, Instruktur menginginkan peserta kursus untuk memiliki pemikiran yang lebih, mereka tidak hanya harus mengetahui konsep proses tetapi bagaimana mereka tahu dan mengerti serta bisa mempraktekkan bagaimana teknik-teknik menjahit /komputer, dan keterampilan lainya yang baik itu dan bagai mana teknik-teknik untuk menghasilkan suatu pekerjaan yang berkualitas. Menurut Piaget (dalam Foreman, 1993 : 121) cara yang dapat digunakan untuk membangun pengetahuan dalam proses pelatihan diantaranya adalah sebagai berikut : a.Pertanyaan atau melakukan tanya jawab dengan peserta kursus. Dalam suatu proses pelatihan dapat menggunakan untuk membangun pengetahuan dasar. Pertanyaan - pertanyaan tersebut secara tidak langsung dapat membangun pengetahuan baru dan membangun motivasi belajar, demikian juga dalam menghadapi perkejaan. b.Menghadirkan semua hal yang dibutuhkan dalam proses pelatihan selama proses belajar itu berlangsung. Lembaga harus mampu menyediakan sarana praktek yang lengkap, dan metode yang digunakan dalam pelatihan atau kursus lebih menekankan pada kerja nyata atau praktek langsung bukan pada pemberian materi secara teori saja, ketersediaan alat-alat sebagai sarana belajar yang berupa benda yang tidak dapat diubah atau benda yang dapat diubah menjadi sangat vital. Fungsi pendidik dalam proses pembelajaran orang dewasa adalah membantu belajar orang dewasa yang mengandung makna membantu. Tujuan pelatihan Karyawan: 1. Untuk meningkatkan keterampilan para karyawan sesuai dengan perubahan teknologi. 2. Untuk meningkatkan produktivitas kerja organisasi kerja. 3. Memberi wawasan kepada para karyawan untuk lebih mengenal organisasinya dan meningkatkan kemampuan peserta latihan mengerjakan tugasnya yang sekarang. 4. Memberikan kemampuan menumbuhkan sikap empati dan melihat sesuatu dari “kacamata” orang lain. 5. Meningkatkan kemampuan menginterpretasikan data dan daya nalar para karyawan dan meningkatkan kemampuan dan keterampilan para karyawan dalam menganalisis suatu permasalahan serta pengambilan keputusan. 6. Meningkatkan kualitas keahlian karyawan sejalan dengan majunya perubahan teknologi. Melalui pelatihan, pelatih (trainer) memastikan bahwa setiap karyawan dapat secara efektif dan efisien mengembangkan kapasitas potensi yang dimilikinya. 7. Menghemat waktu belajar karyawan untuk menjadi kompeten dalam pekerjaan membantu memecahkan persoalan operasional secara kreatif. 8. Mendorong setiap karyawan memahami dan menjalankan visi dan misi organisasi. 9. Mengembangkan kemampuan di atas rata-rata (extra miles) dalam melaksanakan tugas dalam bekerja. 10.Mempertajam dan memperlengkapi tingkat professionalisme para karyawan dengan standar terbaik. Manfaat Pelatihan Di LKP Adapun tujuan umum pelatihan dan pengembangan, harus diarahkan untuk meningkatkan produktifitas organisasi perusa-haan. Tujuan pelatihan di LKP dan pengembangan merupakan langkah untuk meningkatkan produktivitas organisasi melalui berbagai kegiatan antara lain: 1. Mengembangkan pengetahuan, sehingga pekerjaan di perusahaan dapat diselesaikan secara rasional. 2. Dengan Pelatihan akan mengembangkan keterampilan atau keahlian, sehingga pekerja di perusahaan dapat diselesaikan lebih cepat dan efektif. Tujuan pengembangan : 1. Mewujudkan hubungan yang serasi antara atasan dan bawahan di perusahaan. 2. Menyiapkan para manajer yang berkompeten untuk lebih cepat masuk ke tingkat senior (promosi jabatan). 3. Untuk membantu mengisi lowongan jabatan tertentu. 4. Meningkatkan semangat kerja seluruh tenaga kerja dalam organisasi dengan komitmen organisasional yang lebih tinggi. 5. Mendorong sikap keterbukaan manajemen melalui gaya manajerial yang partisipatif. 6. Meningkatkan kepuasan kerja. 7. Memperlancar jalannya komunikasi yang efektif yang dapat memperlancar proses perumusan kebijakan organisasi dan operasionalnya. 8. Mengembangkan atau merubah sikap, sehingga menimbulkan kemauan kerja sama dengan sesama karyawan dan manajemen ( pimpinan ) di perusahaan yang dipimpin. Manfaat Pelatihan dan Pengembangan Adapun manfaat dari suatu pelatihan dan pengembangan sumber daya manusia di LKP seperti LPP Quantum dapat dilihat dalam dua sisi diantaranya: a) Dari sisi individu pegawai: 1. Menambah pengetahuan terutama penemuan terakhir dalam bidang ilmu pengetahuan yang bersangkutan, misalnya prinsip dan filsafat manajemen yang terbaik dan terakhir. 2. Menambah dan memperbaiki keahlian dalam bidang tertentu sekaligus memperbaiki cara pelaksanaan yang lama. 3. Merubah sikap jadi positif 4. Memperbaiki atau menambah imbalan atau balas jasa yang diperoleh dari organisasi tempat bekerja. b) Dari sisi organisasi: 1. Menaikkan produktivitas pegawai. 2. Menurunkan biaya. 3. Mengurangi turn over pegawai. 4. Kemungkinan memperoleh keuntungan yang lebih besar, karena direalisirnya kedua manfaat tersebut terlebih akan terlihat lebih mudah. Dalam segi pendidikan atau education secara umum, training merupakan usaha yang sengaja diadakan dan dilakukan secara sistematis serta terus-menerus dalam jangka waktu tertentu, sesuai dengan tingkatannya, guna menyampaikan, menumbuhkan dan mendapatkan pengetahuan, sikap, nilai, kecakapan atau keterampilan yang dikehendaki. Banyak sekali manfaat yang dapat dieksplore dari hasil training atau pelatihan pengembangan. Berikut ini adalah sejumlah ringkasan manfaat training dan pelatihan karyawan secara umum, dari sudut pandang berbagai pihak yang terlibat di dalamnya. Manfaat training bagi perusahaan : Bila perusahaan mengirimkan tenaga kerjanya ke LKP akan tercipta hal-hal sebatai berikut : 1. Memiliki tenaga kerja yang ahli dan terampil 2. Meningkatkan efisiensi dan efektivitas kerja 3. Meningkatkan produktivitas kerja 4. Mengurangi biaya karena waktu yang terbuang akibat kesalahan-kesalahan 5. Meningkatkan mutu hasil kerja 6. Meningkatkan sales dan profit Manfaat training bagi manajer : Dalam setiap perusahaan, pasti memiliki manajer yang seringkali terlupakan untuk training. Dengan demikian maka LKP merasakan adanya manfaat bagi manajer sebagai berikut: 1. Memiliki anak buah yang ahli dan terampil 2. Dapat mendelegasikan lebih banyak tugas dan tanggung jawab kepada bawahan 3. Terlepas dari hal-hal kecil yang bukan porsinya untuk ditangani 4. Tugas dan pekerjaan berjalan lancar walau anda tidak di tempat 5. Menunjang karir anda untuk memperoleh jabatan yang lebih tinggi Menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) Pada bagian Akhir orasi saya kali ini, bagaimana LPP Quantum dalam menghadapi masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) sebuah bentuk integral dalam artian adanya sistem perdagangan bebas dan pasar kerja antar negara-negara Asean. Indonesia dan 9 negara anggota yang menyepakati perjanjian dalam Asean Ekonomic Comunity (AEC). Pada KTT di Kuala Lumpur Desember 1997 para pemimpin ASEAN memutuskan untuk mengubah ASEAN menjadi kawasan yang stabil, makmur, dan sangat berkumpetitif dengan perkemangan ekonomi yang adil, dan mengurangi kemiskinan kesenjangan sosial-ekonomi (ASEAN Vision 2020) mendatang. Dengan konsep di atas, kesiapan tenaga yang terlatih, sejak sekarang sudah memikirkan dalam menghadapi pasar kerja melalui pendidikan dan pelatihan kearah itu. Termasuk akan didirikannya Pendidikan Perhotelan dan Pariwisata setingkat DIPLOMA I untuk meningkatkan Kompetensi warga belajar Untuk Memenangkan Kompetisi Pada Pasar Kerja Nasional dan mengglobal tersebut. Dengan demikian kita harus bersusah payah dalam tahun-tahun belakangan ini, mempersiapkan kurikulum, instruktur yang berkualitas demi menghasilkan pasar kerja alumnusnya yang kompetitif. Daftar Pustaka Darlan, H.M. Noesanie, 2005. Konsep Dasar PLS, FKIP Unpar, Palangka Raya. ------------, 2003. Pendidikan dan Latihan Calon Pegawai Negeri, Diklat Provinsi Kalteng, Palangka Raya. ------------, 2015. Peran dan Ekspektasi Pendidikan Non Formal Dalam Menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA), Seminar Nasional Ikatan Akamemisi PNF, Semarang. Peaget dan Foreman, 1993. Pendidikan dan Latihan dalam Masyarakat Sedang Berkembang, Jakarta. Sudjana, Djudju, 1999.Pendidikan Non Formal di Erofa, IKIP Bandung. ------------, 2001. Pendidikan dan Pelatihan di Masyarakat Pedesaan, Al-Flah, Bandung. Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional Nomor 20 tahun 2003, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI Jkt. sanie_da@yahoo.co.id +62 813-5283-7138