Kamis, 16 Juli 2020
MAKALAH UPAYA MEMASYARAKATKAN BUDAYA BACA
Makalah:
UPAYA MEMASYARAKATKAN BUDAYA BACA
DI PROVINSI KALIMANTAN TENGAH
Oleh :
H.M.Norsanie Darlan
Pendahuluan
Buku kecil berjudul Upaya Pemasyarakatan Perpustakaan dan Minat Baca Masyarakat ini, merupakan sebuah tulisan sederhana, yang dituangkan di atas kertas untuk tujun agar menjadi bahan bacaan masyarakat luas, berbagai bahan bacaan telah warga dituangkan baik dalam sebuah buku, majalah, koran, spanduk, poster dan berbagai media lainnya. Hal itu tidak lain adalah sebagai bagian untuk mensejahterakan setiap pembaca dalam upaya menuntasan buta aksara di negeri tercinta ini. Namun dalam dunia pendidikan luar sekolah/pendidikan non formal yang penulis tekuni, sebenarnya belajar membaca itu, tidak seluruhnya dalam bentuk tulisan seperti: buku, majalah, koran, tabloit dan sebagainya. Tapi kita bisa belajar pada lingkungan alam sekitar. Dan jika lingkungan sekitar itu, bisa kita tulis dan dituangkan dalam sebuah buku, alangkah indahnya karya kita itu. Dan dapat disumbangkan bagi generasi penerus bangsa. Walau masa sudah berlalu, tapi ide yang kita tulis selama masih belum hilang buku yang kita tulis itu, walau seabad atau lebih berlalu, ia tersimpan di perpustakaan dengan rapi, maka generasi penerus bangsa dapat membacanya apa dan bagainya peristiwa masa lampau. Hal ini terbukti seperti: teori Fransys Bacon, David Jones: Adult Education And Cultural Development, Alan Rogers, Ivan Elich, Paulo Freire, John Loce. Jhon Dewey, dll (mohon ma’af kalau keliru menulis namanya). Buku ini mengurai berbagai masalah tentang pemanfaatan perpustakaan dan motivasi budaya membaca yang dewasa ini siapapun yang kurang membaca, ia akan ketinggalan. Untuk lebih jelaskan isi buku ini, penulis akan mengurai secara sederhana hal-hal yang berkaitan dengan tersebut akan di urai di bagian lain:
Arti Upaya Apa pengertian dari kata "upaya"? Yaitu:
upaya adalah usaha yang dilakukan untuk tujuan tertentu ( dalam arti sebuah proses yang ditujukan untuk mencapai tujuan tertentu) usaha; ikhtiar untuk mencapai suatu maksud, memecahkan persoalan, mencari jalan keluar, dsb. Arti Memasyarakatkan Berbicara apa sebenarnya memasyarakatkan adalah:
1 berupaya menjadikan seseorang sebagai anggota di masyarakat yang gemar membaca;
2 menjadikan sesuatu program agar mudah dikenal oleh masyarakat. Apakah dalam budaya baca ataupun yang lainnya : usaha - gerakan budaya membaca itu sudah menunjukkan hasil.
Rendahnya Budaya Baca Bila kita berbicara tentang rendahnya budaya baca, di berbagai kalangan memang tidak semua perpustakaan dapat dikunjungi masyarakat. Karena budaya membaca tentu sebaiknya tertanam sejak dari anak-anak. Karena kalau sudah dewasa baru muncul minat baca adalah sebagai kesadaran yang hampir terlambat. Kita sama maklumi setiap tanggal 17 Mei di peringati sebagai Hari Buku Nasional. Memang, pamor momentum tersebut, kalah jika dibandingkan dengan momentum lainnya, seperti Hari Pendidikan Nasional (2 Mei) atau Hari Kebangkitan Nasional (21 Mei). Itu disebabkan banyak faktor, salah satunya ialah karena buku dan aktivitas yang terkait dengannya, seperti membaca dan menulis, tidak begitu populer di kalangan masyarakat Indonesia. Benarkah demikian? Tentu tergantung pada kemajuan daerahnya. Menurut Admin, (2008) adalah: “...Semasa ia duduk di bangku sekolah, ada satu ungkapan menarik yang sering diungkapkan oleh guru-gurunya. Yaitu, ungkapan “membaca adalah kunci ilmu, sedangkan gudangnya ilmu adalah buku.” Sepintas ungkapan itu sederhana, namun di dalamnya terkandung makna penting...”. Bahwa membaca (iqra) ternyata merupakan perintah Allah SWT kepada seluruh umat manusia, sebagaimana tertuang dalam QS Al-Alaq [96] ayat 1-5. Selain itu artinya membaca menurut Admin, (2008) dan Norsanie Darlan (2014): “...Bacalah dengan nama Tuhanmu Yang Menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah. Yang mengajarkan (manusia) dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya....”
Dengan demikian, berkat membaca kelak kita bisa lebih mengenal apa yang ada di sekitar kita. Tak hanya itu, kita juga bisa mengenal alam semesta beserta ininya dan diri kia sendiri. Sedangkan menurut:
writingsdy, (2007) bahwa:”...bagaimana kondisi minat baca di Indonesia?...”. sebuah pertanyaan di atas dengan berat hati kita katakan, minat baca masyarakat Indonesia masih sangat rendah. Itu terlihat dari data yang dikeluarkan Badan Pusat Statistik (BPS) pada 2006. Bahwa:”... masyarakat kita belum menjadikan kegiatan membaca sebagai sumber utama mendapatkan informasi. Orang lebih memilih menonton TV (85,9%) dan/atau mendengarkan radio (40,3%) ketimbang membaca koran (23,5%)...”. Data lainnya, misalnya International Association for Evaluation of Educational (IEA). Tahun 1992, IAE melakukan riset tentang kemampuan membaca murid-murid sekolah dasar (SD) kelas IV 30 negara di dunia. Kesimpulan dari riset tersebut menyebutkan bahwa Indonesia menempatkan urutan ke-29. Angka-angka itu menggambarkan betapa rendahnya minat baca masyarakat Indonesia, khususnya anak-anak SD. Data di atas, sungguh mencengangkan dengan kita semua. Padahal, jika dikaitkan dengan perintah Yang Maha kuasa di atas, seharusnya bangsa Indonesia yang mayoritas penduduknya beragama Islam mampu melakukan aktivitas membaca. Apa pasal? Sebab, aktivitas membaca merupakan suatu perintah dari Allah SWT melalui Al-quran. Jadi, aktivitas membaca bisa dianggap sebuah kewajiban bagi setiap manusia. Hanya saja, dalam realitasnya aktivitas tersebut tidak gampang diwujudkan. Banyak faktor yang menyebabkan kemampuan membaca anak-anak Indonesia tergolong rendah, adalah sebagai berikut:
Pertama: ketiadaan sarana dan prasarana, khususnya perpustakaan dengan buku-buku yang bermutu dan memadai. Bisa dibayangkan, bagaimana aktivitas membaca anak-anak kita tanpa adanya buku-buku bermutu. Untuk itulah, ketiadaan sarana dan prasarana, khususnya perpustakaan dengan buku-buku bermutu menjadi suatu motivasi tinggi bagi kita. Kalimat di atas dengan kata lain, ketersediaan bahan bacaan memungkinkan tiap orang dan/atau anak-anak untuk memilih apa yang sesuai dengan minat dan kepentingannya. Dari situlah, tumbuh harapan bahwa masyarakat kita akan semakin mencintai bahan bacaan. Implikasinya, taraf kecerdasan masyarakat akan kian meningkat; dan oleh karena itu, isyarat baik bagi sebuah kerja perbaikan mutu perikehidupan suatu masyarakat dengan motivasi membaca.
Kedua: banyaknya keluarga di Indonesia yang belum mentradisikan/membudayakan kegiatan membaca.
Padahal, jika ingin menciptakan anak-anak yang memiliki pikiran luas dan baik akhlaknya, mau tidak mau kegiatan membaca perlu ditanamkan sejak dini. Bahkan, Fauzil Adhim, (2007) dalam bukunya Membuat Anak Gila Membaca mengatakan, bahwa semestinya memperkenalkan membaca kepada anak-anak sejak usia 0-2 tahun. Dan sebenarnya pada usia ini bukan dalam arti membacara tulisan, melainkan mereka membaca gambar-gambar yang disediakan oleh orang tua. Sebab, pada masa 0-2 tahun perkembangan otak anak amat pesat (80% kapasitas otak manusia dibentuk pada periode dua tahun pertama) dan amat reseptif (gampang menyerap apa saja dengan memori yang kuat). Bila sejak usia 0-2 tahun sudah dikenalkan dengan membaca, kelak mereka akan memiliki minat baca yang tinggi. Dalam menyerap informasi baru, mereka akan lebih enjoy membaca buku ketimbang menonton TV atau mendengarkan radio. Namun, apa sajakah usaha-usaha yang perlu dilakukan guna menumbuhkan minat baca anak-anak sejak dini? Dalam buku Make Everything Well, khusus bab “Menciptakan Keluarga Sukses buah karya Mustofa W Hasyim ” (2005), menganjurkan :”...agar tiap keluarga memiliki perpustakaan keluarga...”. Sehingga perpustakaan bisa dijadikan sebagai tempat yang menyenangkan ketika ngumpul bersama istri dan anak-anak. Di samping itu, orangtua juga perlu menetapkan jam wajib baca. Tiap anggota keluarga, baik orangtua maupun anak-anak diminta untuk mematuhinya.
Di tengah kesibukan di luar rumah, semestinya orangtua menyisihkan waktunya untuk membaca buku, atau sekadar menemani anak-anaknya membaca buku. Dengan begitu, anak-anak akan mendapatkan contoh teladan dari kedua orang tuanya secara langsung. Penulis setiap bepergian ke luar kota, apakah ke Banjarmasin, Jakarta, Surabaya, Makassar, Medan selalu membeli buku bacaan. Alangkah indahnya buku bacaan yang dibeli selain untuk keperluan orang tua, juga buka bacaan untuk anak-anak di rumah. Sehingga anak lebih banyak di rumah untuk membaca dari pada pergi ke luar rumah untuk bermain ke tempat teman-temannya. Sedangkan di tingkat sekolah, rendahnya minat baca anak-anak bisa diatasi dengan perbaikan perpustakaan sekolah. Seharusnya, pihak sekolah, khususnya Kepala Sekolah bisa lebih bertanggung jawab atas kondisi perpustakaan yang selama ini cenderung memprihatinkan. Padahal, perpustakaan sekolah merupakan sumber belajar yang sangat penting bagi siswanya. Dengan begitu, masalah rendahnya minat baca akan teratasi. Padahal perpustakaan adalah “...jantung sekolah...”. artinya perpustakaan yang di dalamnya tersedia buku bacaan. Dan penulis pernah menyebutkan di berbagai tempat bahwa:”...buku adalah guru ke dua dari orang sukses...”. Selanjutnya, pemerintah daerah dan pusat bisa juga menggalakkan program perpustakaan keliling atau perpustakaan menetap di daerah-daerah. Sementara soal penempatannya, pemerintah bisa berkoordinasi dengan pengelola RT/RW atau pusat-pusat kegiatan masyarakat desa (PKMD). Semakin besar peluang masyarakat untuk membaca melalui fasilitas yang tersebar, semakin besar pula stimulasi membaca sesama warga masyarakat. Selain hal-hal di atas, rendahnya budaya membaca menurut pustawan Indonesia H.Athaillah Baderi (2005) adalah:”...Kemampuan membaca (Reading Literacy) anak-anak Indonesia sangat rendah bila dibandingkan dengan negara-negara berkembang lainnya, bahkan dalam kawasan ASEAN sekali pun. International Association for Evaluation of Educational (IEA) pada tahun 1992 dalam sebuah studi kemampuan membaca murid-murid Sekolah Dasar Kelas IV pada 30 negara di dunia, menyimpulkan bahwa Indonesia menempati urutan ke 29 setingkat di atas Venezuela yang menempati peringkat terakhir pada urutan ke 30....”. Data di atas relevan dengan hasil studi dari Vincent Greannary yang dikutip oleh Worl Bank dalam sebuah Laporan Pendidikan “Education in Indonesia From Cricis to Recovery“ tahun 1998. Hasil studi tersebut menunjukkan bahwa kemampuan membaca anak-anak kelas VI Sekolah Dasar kita hanya mampu meraih kedudukan paling akhir dengan nilai 51,7 setelah Filipina yang memperoleh nilai 52,6 dan Thailand dengan nilai 65,1 serta Singapura dengan nilai 74,0 dan Hongkong yang memperoleh nilai 75.5 Buruknya kemampuan membaca anak-anak kita sebagaimana data di atas berdampak pada kekurangmampuan mereka dalam penguasan bidang ilmu pengetahuan dan matematika. Hasil tes yang dilakukan oleh Trends in International Mathematies and Science Study (TIMSS) dalam tahun 2003 pada 50 negara di dunia terhadap para siswa kelas II SLTP, menunjukkan prestasi siswa-siswa Indonesia hanya mampu meraih peringkat ke 34 dalam kemampuan bidang matematika dengan nilai 411 di bawah nilai rata-rata internasional yang 467. Sedangkan hasil tes bidang ilmu pengetahuan mereka hanya mampu menduduki peringkat ke 36 dengan nilai 420 di bawah nilai rata-rata internasioal 474. Dibandingkan dengan anak-anak Malaysia mereka telah berhasil menduduki peringkat ke 10 dalam kemampuan bidang matematika yang memperoleh nilai 508 di atas nilai rata-rata internasional. Dan dalam bidang ilmu pengetahuan mereka menduduki peringkat ke 20 dengan nilai 510 di atas nilai rata-rata internasional. Dengan demikian tampak jelas bahwa kecerdasan bangsa kita sangat jauh ketinggalan di bawah negara-negara berkembang lainnya. Data dalam berita TVRI Palangka Raya, tanggal 9 Desember 2011. jam 18.30 mnyebutkan bahwa ada 200 desa telah memiliki perpustakaan masing-masing desa 1000 eks buku. Tidak jelas apakah hal ini Taman Bacaan Masyarakat (TBM) ataukah Perpustakaan Desa. Penyediaan buku ini harus diikuti dengan serkuliasi. Kalau buku yang tersedia tidak terjadi perubahan, minat baca mereka tentu akan turun. Rendahnya tingkat Pendidikan Masyarakat Menurut H. Athaillah Baderi (2005) adalah: ”...United Nations Development Programme (UNDP) menjadikan angka buta huruf dewasa (adult illiteracy rate) sebagai suatu barometer dalam mengukur kualitas suatu bangsa...”. Tinggi rendahnya angka buta huruf akan menentukan pula tinggi rendahnya Indeks Pembangunan Manusia (Human Development Index – HDI) bangsa itu. Berdasarkan laporan UNDP tahun 2003 dalam “Human Development Report 2003” bahwa Indeks Pembangunan Manusia (Human Development Indeks – HDI) berdasarkan angka buta huruf menunjukkan bahwa “pembangunan manusia di Indonesia“ menempati urutan yang ke 112 dari 174 negara di dunia yang dievaluasi. Sedangkan Vietnam menempati urutan ke 109, padahal negara itu baru saja keluar dari konflik politik yang cukup besar. Namun negara mereka lebih yakin bahwa dengan “membangun manusianya“ sebagai prioritas terdepan, akan mampu mengejar ketinggalan yang selama ini mereka alami. Melihat beberapa hasil studi di atas dan laporan United Nations Development Programme (UNDP) maka dapat diambil kesimpulan (hipotesis) bahwa “ kekurangmampuan anak-anak kita dalam bidang matematika dan bidang ilmu pengetahuan, serta tingginya angka buta huruf dewasa (adult illiteracy rate) di Indonesia adalah akibat membaca belum menjadi kebutuhan hidup dan belum menjadi budaya bangsa. Oleh sebab itu membaca harus dijadikan kebutuhan hidup dan budaya bangsa kita. Mengingat membaca merupakan suatu bentuk kegiatan budaya menurut H.A.R Tilaar (1999; 381) maka untuk mengubah perilaku masyarakat gemar membaca membutuhkan suatu perubahan budaya atau perubahan tingkah laku dari anggota masyarakat kita. Mengadakan perubahan budaya masyarakat memerlukan suatu proses dan waktu panjang sekitar satu atau dua generasi, tergantung dari “politicaal will pemerintah dan masyarakat“ Ada pun ukuran waktu sebuah generasi adalah berkisar sekitar 15 – 25 tahun. Merperhatikan Minat Baca Dalam mencari Cara Meningkatkan Minat Baca Siswa di Sekolah menurut Ari Es (2011) adalah:”...Masyarakat di Indonesia memiliki karakter yang berbeda-beda di setiap daerah begitu juga dengan karakter pelajar di sekolah. Dalam bidang budaya membaca seringkali media dalam mempublikasikan selalu di dominasi dengan pemberitaan yang menyatakan bahwa minat baca pelajar di Indonesia Rendah. Padahal secara fakta pasti ada (mungkin banyak) sekolah yang pelajarnya banyak yang suka membaca tapi hampir tidak pernah (sangat jarang) di publikasikan…”. Berdasarkan pengalaman penulis yang sering berkunjung di beberapa sekolah dan mendengarkan “…curhatan dari pengelola perpustakaan sekolah…” melalui jejaring social menyatakan, jika sebenarnya minat baca pelajar tinggi. Melalui tulisan ini penulis ingin berbagi tips bagaimana supaya minat baca siswa di sekolah, tinggi. Untuk lebih jelasnya ada 3 hal dalam uraian sebagai berikut: 1. Tersedianya Perpustakaan yang Dikelola dengan Baik Bicara terkait dengan budaya baca tidak lepas dengan adanya peran penting sebuah perpustakaan terlebih di lingkungan sekolah. Sebuah perpustakaan harus memberikan pelayanan dan manajemen yang baik, dalam memberikan kebutuhan referensi siswa di sekolah. Jika perpustakaan adalah sebuah produk maka dia harus menjamin kwalitasnya dengan baik dan disukai oleh konsumen dalam hal ini oleh pelajar. Pustakawan juga harus cerdas dalam menganalisa koleksi buku apa yang diinginkan dan disukai oleh pelajar, jika perlu dilakukan penelitian atau request. 2. Promosi Gerakan Gemar Membaca di Lingkungan Sekolah Jika belajar dari perusahaan produk-produk yang mendunia, akan tahu betapa faktor penentu laku tidaknya sebuah produk adalah ditentukan faktor promosi (iklan), Tentunya poin pertama diatas (kwalitas) harus diutamakan. Jika poin pertama (Tersedianya Perpustakaan yang Dikelola dengan Baik) sudah terpenuhi, maka promosi wajib gencar dilakukan. Cara untuk melakukan promosi ini bisa bekerjasama dengan pihak kepala sekolah bersama jajaranya. Akan lebih baik lagi jika Kepala Sekolah, Guru, dan staff sekolah menjadi orang pertama yang mengawali gerakan gemar membaca di sekolahnya. Bisa juga membuat baliho atau spanduk di sekitar sekolah yang berisi seruan rajin membaca misalnya “Kami Ingin Pintar makanya Kami Suka Membaca”, Ingin jadi Juara dan Berprestasi ? Rajinlah Membaca” begitu dan sejenisnya. Cara lain bisa juga dengan cara kebijakan sekolah yang mewajibkan semua siswa pada seminggu sekali atau dua kali diwajibkan membaca sebuah buku diperpustakaan yang kemudian disuruh merangkum buku yang dipinjam serta menjelaskan apa point penting dari buku yang sudah mereka baca. Selanjutnya jangan terlalu sering menyalahkan para siswa ”malas membaca” jika para guru di sekolah sendiri tidak pernah memberikan contoh bahwa para guru juga gemar membaca. Pemasyarakatan Adapun apa maksud pemasyarakatan ini tidak lain adalah sosialisasi perpustakaan agar menjadi sumber belajar masyarakat di mana saja. Termasuk di Perpustakaan Daerah Kalimantan Tengah. Sedangkan arti secara harpiah dari pemasyarakatan menurut Syaikh Taqyuddin An-Nabhani (2007) adalah:”... sekelompok manusia dapat dikatakan sebagai sebuah masyarakat apabila memiliki pemikiran, perasaan, serta sistem/aturan yang sama. Dengan kesamaan-kesamaan tersebut, manusia kemudian berinteraksi sesama mereka berdasarkan kemaslahatan...”. Sedangkan arti pemasyarakatan adalah keselompok manusia yang terpelajar dalam budaya membaca, untuk masa depan yang lebih baik dari masa sebelumnya. Menurut: Darlan (2011) adalah Masyarakat. Jika kita mengkaji konsep lama tentang masyarakat adalah sekelompok manusia yang menempati di suatu wilayah. Penulis mengambil pendapat salah seorang tokoh senior PLS kita: Sanapiah Faisal (1981) bahwa: “… masyarakat dibagi dalam 3 kelompok besar, masing-masing; Pertama: masyarakat perkotaan; Kedua: masyarakat pinggiran kota; dan Ketiga: masyarakat desa pedesaan...”. Dengan demikian dalam hal minat membaca bagi masyarakat ini, apakah di perkotaan, pinggiran kota, apa lagi desa pedesaan masih sulit kita wujudkan. Kecuali ada jamping yang sungguh dapat menjadikan masyarakat berdaya. Arti Budaya Membaca Budaya merupakan pikiran, akal budi, adat istiadat, sesuatu yang sudah menjadi kebiasaan yang sudah sukar diubah (KBBI,2007: 169). Budaya adalah bentuk jamak dari kata budi dan daya yang berarti cinta, karsa, dan rasa. Kata budaya sebenarnya berasal dari bahasa sanskerta buddhayah yaitu bentuk jamak kata buddhi yang berarti budi atau akal. Ahmadi membedakan pengertian budaya dan kebudayaan. Budaya adalah daya dari budi yang berupa cipta, karsa, dan rasa, sedangkan kebudayaan adalah hasil dari cipta, karsa dan rasa tersebut (Ahmadi,2007: 58). Menurut tokoh Antropolog Indonesia Koentjraningrat dalam Setiadi (2008: 26), kebudayaan adalah keseluruhan sistem gagasan, milik diri manusia dengan belajar. Menurut Selo soemardjan dan soelaiman soemardi, mengatakan bahwa kebudayaan adalah semua hasil karya, rasa, dan cipta masyarakat.Sedangkan menurut Tylor dalam Setiadi (2008: 27), budaya adalah suatu keseluruhan kompleks yang meliputi pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, keilmuan, hukum, adat istiadat, dan kemampuan yang lain serta kebiasaan yang didapat oleh manusia sebagai anggota masyarakat. Berdasarkan definisi tersebut dapat diperoleh pengertian mengenai budaya, yaitu sistem pengetahuan yang meliputi sistem ide atau gagasan yang terdapat dalam pikiran manusia menjadi suatu kebiasaan yang diperoleh melalui belajar. Sedangkan kebudayaan merupakan hasil dari karya, rasa, dan cipta yang di dapat oleh manusia sebagai masyarakat. Membaca adalah melihat serta memahami isi dari apa yang ditulis (dengan melisankan atau hanya dalam hati), mengeja atau melafalkan apa yang tertulis, mengucapkan, mengetahui, meramalkan, memperhitungkan, dan memahami (KBBI,2007: 83). Menurut Bond dan Wagner dalam Bafadal, (2008: 192 – 193) mendefinisikan membaca sebagai suatu proses menangkap atau memperoleh konsep – konsep yang dimaksud oleh pengarangnya, menginterpretasi, mengevaluasi konsep – konsep pengarang, dan merefleksikan atau bertindak sebagaimana yang dimaksud dari konsep tersebut. Menurut Soedarso dalam Abdurrahman (2003: 200), mengemukakan bahwa membaca merupakan aktivitas kompleks yang memerlukan sejumlah besar tindakan terpisah pisah, mencakup penggunaan pengertian, khayalan, pengamatan dan ingatan. Berdasarkan uraian tersebut, budaya membaca adalah suatu kebiasan yang didalamnya terjadi proses berfikir yang kompleks, terdiri dari sejumlah kegiatan seperti keterampilan menangkap atau memahami kata – kata atau kalimat yang tertulis, menginterpretasikan, dan merefleksikan. Dalam kegiatan membaca juga perlu memiliki kondisi fisik yang baik sehinnga konsentrasi tercurahkan sepenuhnya kepada teks atau tulisan yang sedang dibaca. Selanjutnya Sutarno (2006: 27), mengemukakan bahwa budaya baca adalah suatu sikap dan tindakan atau perbuatan untuk membaca yang dilakukan secara teratur dan berkelanjutan. Seorang yang mempunyai budaya baca adalah bahwa orang tersebut telah terbiasa dan berproses dalam waktu yang lama di dalam hidupnya selalu menggunakan sebagian waktunya untuk membaca. Budaya membaca adalah keterampilan seseorang yang diperoleh setelah seseorang dilahirkan, bukan keterampilan bawaan. Oleh karena itu budaya baca dapat dipupuk, dibina dan dikembangkan. Untuk tujuan akademik membaca adalah untuk memenuhi tuntutan kurikulum. Buku sebagai media transformasi dan penyebarluasan ilmu dapat menembus batas – batas geografis suatu negara, karena itulah buku disebut jendela dunia (Wikipedia,2011) Agar siswa dapat membaca dengan efesien perlulah memiliki kebiasaan – kebiasaan yang baik. Kebiasaan – kebiasaan membaca yang baik itu menurut Gie dalam Slameto, (2003: 84) adalah sebagai berikut: memperhatikan kesehatan membaca, ada jadwal, membuat tanda – tanda/ catatan – catatan, memanfaatkan perpustakaan, membaca sungguh – sungguh semua buku yang perlu untuk setiap mata pelajaran sampai menguasai isinya, dan membaca dengan konsentrasi penuh. Menurut Rozin (2008) Budaya membaca adalah kegiatan positif rutin yang baik dilakukan untuk melatih otak untuk menyerap apa – apa saja informasi yang terbaik diterima seseorang dalam kondisi dan waktu tertentu. Sumber bacaan bisa diperoleh dari buku, surat kabar, tabloid, internet, dan sebagainya. Dianjurkan untuk membaca berbagai hal yang positif. Informasi yang baik akan membuat hasil yang baik pula bagi anda. Salah satu sarana yang sangat menunjang tercapainya tujuan pendidikan adalah budaya membaca. Melalui perpustakaan siswa / mahasiswa dapat menambah wawasan dan pengetahuan yang dimiliki, sehingga dapat menunjang proses belajar mengajar. Salah satu unsur penunjang yang paling penting dalam dunia pendidikan adalah keberadaan sebuah perpustakaan. Adanya sebuah perpustakaan sebagai penyedia fasilitas yang dibutuhkan terutama untuk memenuhi kebutuhan belajar akan sangat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat sekolah itu sendiri. Pada dasarnya Perpustakaan Perguruan Tinggi merupakan sebuah pusat pelayanan dan informasi. Untuk itu setiap pengunjung terutama civitas akademik, berhak mengetahui palayanan dan informasi apa saja yang dapat diperoleh di Perpustakaan Perguruan Tinggi Tersebut. Berdasarkan pada Peraturan Pemerintah/PP No.5 tahun 1980 tentang pokok-pokok organisasi universitas atau institute, bahwa Perpustakaan Perguruan Tinggi termasuk kedalam Unit Pelayanan Teknis (UPT), yaitu sarana penunjang teknis yang merupakan perangkat kelengkapan universitas atau institute dibidang pendidikan dan pengajaran, penelitian dan pengabdian pada masyarakat (Fahmi, 2008). Menurut Bafadal (2008: 8) fungsi perpustakaan adalah sebagai berikut:
1. Fungsi edukatif Adanya perpustakaan sekolah dapat meningkatkan kemampuan membaca siswa, guru, dan karyawan. Selain itu, perpustakaan sekolah tersedia buku – buku yang sebagian besar pengadaannya disesuaikan dengan kurikulum sekolah sehingga dapat menunjang penyelenggaraan pendidikan di sekolah.
2. Fungsi informasi Bahan – bahan perpustakaan yang disediakan oleh perpustakaan sekolah baik buku – buku maupun non – buku seperti majalah, koran peta dan sebagainya, semua ini akan memberikan informasi atau keterangan yang diperlukan siswa, guru dan karyawan.
3. Fungsi riset Adanya bahan pustaka yang lengkap, siswa dan guru dapat melakukan riset yaitu mengumpulkan data atau keterangan – keterangan yang diperlukan.
Tersedianya sarana dan prasarana perpustakaan yang ada diharapkan dapat menumbuhkan budaya membaca oleh seluruh warga sekolah / perguruan tinggi. Perpustakaan menjadi salah satu faktor penunjang dalam melestarikan budaya membaca. Selain itu, yang menjadi pendorong atas bangkitnya minat baca ialah ketertarikan, kegemaran dan hobi membaca. Sedangkan pendorong tumbuhnya kebiasaan membaca adalah kemauan dan kemampuan membaca. Kebiasaan membaca terpelihara dengan tersedianya bahan bacaan yang baik, menarik, memadai baik jenis, jumlah maupun mutunya. Oleh karena itu, kebiasaan membaca dapat menjadi landasan bagi berkembangnya budaya membaca. Sehubungan dengan minat, kebiasaan dan budaya membaca tersebut Sutarno (2006: 28 - 29) mengemukakan paling tidak ada 3 tahapan yang harus dilalui, yaitu:
1.Dimulai dengan adanya kegemaran karena tertarik bahwa buku – buku tersebut dikemas dengan menarik, baik desain, gambar, bentuk dan ukurannya.
2.Setelah kegemaran tersebut dipenuhi dengan ketersediaan bahan dan sumber bacaan yang sesuai dengan selera, ialah terwujudnya kebiasaan membaca. Kebiasaan itu dapat terwujud manakala sering dilakukan, baik atas bimbingan orang tua, guru atau lingkungan di sekitarnya yang kondusif, maupun atas keinginan anak tersebut.
3.Jika kebiasaan membaca itu dapat terus dipelihara, tanpa “gangguan” media elektronik, yang bersifat “entertainment”, dan tanpa membutuhkan keaktifan mental. Oleh karena seorang pembaca terlibat secara konstruktif dalam menyerap dan memahami bacaan, maka tahap selanjutnya ialah bahwa membaca menjadi kebutuhan yang harus dipenuhi.
Menanamkan Minat Baca Dan Budaya Baca Minat seseorang terhadap sesuatu adalah kecendrungan hati yang tinggi, gairah atau keinginan seseorang tersebut terhadap sesuatu. Minat baca seseorang dapat dartikan sebagai kecendrungan hati yang tinggi orang tersebut kepada suatu sumber bacaan tertentu. Sedangkan budaya adalah pikiran atau akal budi yang tercermin di dalam hidupnya. Budaya diawali dari sesuatu yang sering atau biasa dilakukan sehingga akhirnya menjadi suatu kebiasaan atau budaya. Menurut Sutarno NS, (2001) Budaya baca seseorang adalah suatu sikap dan tindakan atau perbuatan untuk membaca yang dilakukan secara teratur dan berkelanjutan. Seorang yang mempunyai budaya baca adalah bahwa orang tersebut telah terbiasa dalam waktu yang lama di dalam hidupnya selalu menggunakan sebagian waktunya untuk membaca. Pendorong bagi bangkitnya minat baca ialah kemampuan membaca, dan pendorong bagi berseminya budaya baca adalah kebiasaan membaca, sedangkan kebiasaan membaca terpelihara dengan tersedianya bahan bacaan yang baik, menarik, memadai, baik jenis, jumlah, maupun mutunya. Inilah formula secara ringkas untuk pengembangan minat baca dan budaya baca. Dari rumus tersebut tersirat tentang pentingnya minat baca itu dikembangkan sejak dini, dimulai dengan perkenalan bentuk-bentuk huruf dan angka pada masa prasekolah hingga mantap penguasaan baca-tulis-hitung pada awal pendidikan di Sekolah Dasar. Perlu dicatat bahwa dalam dunia belajar modern setiap anak mulai berkenalan dengan bentuk-bentuk huruf dan tanda-tanda yang mempunyai arti tertentu. Menurut Fuad Hasan, (2001) akan lebih baik lagi kalau anak tersebut mulai menyadari bahwa rangkaian huruf-huruf itu mempunyai suatu cerita yang menarik, maka tentu mendorongnya untuk berkenalan dengan kata-kata dan selanjutnya berniat untuk dapat membaca. Demikianlah perkembangan anak sejak usia dini sudah mengenal berbagai bentuk huruf dan tanda yang kemudian diketahuinya memiliki makna. Oleh karenanya sangat diperlukan untuk membangkitkan rasa ingin tahu (curlousity) yang kuat pada diri seorang anak. Dengan begitu sejak usia dini pula perlu sudah tersedia bahan bacaan yang menarik, baik untuk dibacakan kepada anak atau dibaca sendiri olehnya sebagai titik awak membangkitkan minat baca. Bangkitnya minat baca juga terdorong sejauh mana perkenalan anak dengan bacaan dalam bentuk buku. Minat baca yang dikembangkan pada usia dini selanjutnya dapat dijadikan landasan bagi berkembangnya budaya baca. Subur dan terpupuknya perkembangan budaya baca tentu sangat bergantung pada tersedianya bahan bacaan yang memadai. Kita baru bisa bicara tentang budaya baca apabila membaca sudah terasa sebagai kebutuhan dan menjadi kebiasaan untuk dilakukan secara berkelanjutan. Jadi, tanpa tersedianya bahan bacaan kebutuhan tersebut tidak dapat dipenuhi atau dipuaskan, dan mungkin saja kebiasaan tersebut akan menyusut. Apalagi kalau kebiasaan membaca tersebut mudah dipengaruhi oleh kebiasaan menonton melalui media elektronik yang sajiannya bersifat audio visual dan tidak dapat di pungkiri di zaman modern seperti ini kehadirannya semakin canggih dan suguhannya juga bervariasi dan sangat menarik perhatian. Sehubungan dengan minat dan budaya baca tersebut paling tidak ada tiga tahapan yang harus dilalui, yaitu : pertama, dimulai adanya kegemaran karena tertarik bahwa di dalam bacaan tertentu terdapat sesuatu yang menyenangkan diri pembacanya. Kedua, setelah kegemaran tersebut terpenuhi dengan ketersediaan bahan dan sumber bacaan yang sesuai dengan selera, maka terwujudlah kebiasaan membaca. Kebiasaan tersebut dapat terwujud manakala sering dilakukan, baik atas bimbingan orang tua, guru atau lingkungan disekitarnya yang kondusif, maupun atas keinginan anak itu sendiri. Ketiga, jika kebiasaan membaca itu dapat terpelihara tanpa gangguan media elektronik yang bersifat entertainment, dan tanpa membutuhkan keaktifan fungsi mental, karena seorang pembaca terlibat secara konstruktif dalam menyerap dan memahami bacaan, maka tahap selanjutnya ialah bahwa membaca menjadi kebutuhan yang harus dipenuhi. Setelah tahap-tahap tersebut dapat dilalui dengan baik, maka pada diri seseorang tersebut mulai terbentuk adanya suatu budaya baca. Idealnya minat baca ditanamkan sejak dini dalam asuhan orang tua ketika mereka belum memasuki bangku sekolah. Kemudian minat ini ditumbuhkan mengikuti perkembangan dan pendidikan anak selanjutnya. Memang agak susah dalam meningkatkan minat baca pada anak kalau orang tua tidak memulai dari dirinya sendiri. Peran keluarga sangat dominan dalam perkembangan literasi anak. Hasil riset menunjukkan bahwa anak pada umumnya mulai belajar membaca dan menulis dari orang tua di rumah. Mereka akan gemar membaca jika melihat orang tua atau anggota keluarga lain di rumah sering membaca buku, koran, atau majalah. Anak sebenarnya sudah bisa dirangsang untuk gemar membaca bahkan ketika masih dalam kandungan ibunya. Bahkan Glenn Doman dalam bukunya “Mengajar Bayi Anda Membaca” menyebutkan bahwa anak usia 18 bulan hingga empat tahun memiliki “rasa ingin tahu” yang amat besar. Keingintahuan tersebut tidak hanya muncul ketika melihat simbol yang tertera dalam buku. Maka saat seperti itulah orang tua bisa memulai perannya untuk mengarahkan anak kepada bahan bacaan dalam upaya meningkatkan minat baca dan membudayakan membaca pada anak. Banyak orang sejak masa kanak-kanaknya sama sekali tidak pernah berkenalan dengan minat baca. Dengan demikian, usaha membudayakan minta baca (kegemaran dan kecintaan akan membaca) bukanlah usaha yang mudah dan dapat ditangani dalam waktu sesaat saja. Bagi orang tua, ada berbagai cara yang dapat dilakukan untuk menumbuhkan minat baca anak.
Pertama, Sediakanlah waktu luang untuk membacakan buku untuk anak setiap hari. Dengan membacakan menggunakan sara lantang pada anak secara rutin kepada anak akan menghasilkan perkembangan yang signifikan pada pemahaman membaca, kosakata, dan pemenggalan kata. Baik anak dalam usia belum sekolah maupun yang sudah, hal itu akan membuat mereka berkeinginan untuk membaca dengan sendirinya.
Kedua, Kelilingi anak-anak dengan berbagai buku bacaan. Bujuklah anak untuk membaca dengan mengoleksi buku-buku bacaan yang menarik dan majalah yang sesuai dengan umur mereka. Letakkan buku bacaan di mobil, tempat tidur, ruang keluarga, dan bahkan di ruang TV.
Ketiga, Buatlah waktu membaca bersama keluarga. Sediakan waktu setiap untuk seluruh anggota keluarga membaca bersama-sama dengan tenang. Dengan melihat anda membaca akan membuat anak anda ikut membaca.
Ke-empat, Berikan dukungan pada berbagai aktivitas membaca mereka. Jadikan membaca sebagai bagian dari kehidupan anak. Biarkan mereka membaca menu, rambu jalanan, petunjuk pada mainan, ramalan cuaca, acara TV, dan semua informasi praktis harian. Dan juga, pastikan mereka selalu memiliki bacaan untuk waktu luang mereka.
Kelima, Biasakan pergi ke perpustakaan. Ajak anak agar lebih banyak membaca dengan membawa mereka pergi ke perpustakaan setiap beberapa minggu untuk mendapatkan buku bacaan yang baru.
Ke-enam, Ikuti terus perkembangan membaca anak. Cari tahu kemampuan membaca yang bagaimana untuk setiap level kelas. Kurikulum sekolah akan memberikan informasi tentang ini. Ikuti terus perkembangan mereka mendapatkan kemampuan dasar membaca melalui raport mereka. Hal ini juga dapat dilakukan dengan meluangkan waktu untuk mendengarkan mereka membaca.
Ketujuh, Perlu diperhatikan oleh orang tua, apakah mereka ada kesulitan dalam membaca buku bacaannya. Cari tahu apakah anak dapat melafalkan kata-kata, mengetahui kata-kata yang dilihatnya, menggunakan susunan kalimat untuk mengidentifikasi kata-kata yang tidak diketahui, dan mengetahui sepenuhnya apa yang mereka baca. Jika terdapat masalah pada anak dalam membaca, maka orang tua dapat mengarahkan anak mengikuti bimbingan belajar untuk membaca. Masalah dalam membaca tidak dapat hilang begitu saja seiring berlalunya waktu jika dibiarkan saja.
Kedelapan, Pakailah cara yang bervariasi untuk membantu anak. Untuk membantu anak dalam mengembangkan kemampuan membaca mereka, gunakan berbagai buku pedoman, program komputer, tape, dan materi-materi lain yang tersedia di toko. Menggunaka permainan merupakan pilihan yang baik, karena cara ini akan dapat membantu anak-anak mengembangkan kemampuan mereka sambil bergembira. Perlihatkan pula antusias anda saat anak membaca buku bacaannya. Reaksi anda memiliki pengaruh yang besar pada seberapa tinggi motivasi mereka untuk berusaha menjadi pembaca yang baik. Pastikan anda memberikan pujian yang tulus atas usaha keras mereka. Apabila perlu beri incentive kepada mereka sebagai hadiah dan pendorong atas aktivitas mereka dalam membaca. Sehingga upaya ini akan memberikan dorongan bagi anak untuk lebih gemar membaca dan mencintai buku-buku. Tidak ada yang lebih penting untuk kesuksesan akademik seseorang, selain menjadi pembaca yang baik. Orang tua mengenal anak-anak mereka dengan baik dan dapat menyediakan waktu dan perhatian yang akan membimbing mereka berhasil dalam membaca. Kemudian menurut Oleh : Siti Sarina, (2014) meningkatkan minat membaca dan menulis merupakan sebuah investasi jangka panjang. Layaknya sebuah investasi, yang hasilnya mungkin baru bisa dirasakan lima, sepuluh atau duapuluh tahun kedepan, dengan jaminan akan generasi yang tanggap, cerdas dan cekatan. Aspek Budaya Iman Sukwana (2014) tentang Aspek budaya baca menyebutkan: “…Sebenarnya apabila dikatakan budaya baca masyarakat Indonesia rendah bisa jadi merupakan kesimpulan yang tergesa-gesa. Dalam kehidupan sehari-hari masih dapat kita jumpai pengemudi becak, supir angkot atau profesi lain yang tidak termasuk kumunitas masyarakat intelektual begitu bernafsu terhadap bahan bacaan….” Sering kita jumpai pengemudi becak yang menemukan sobekan koran tidak serta merta mereka membuangnya tetapi akan dinikmatinya terlebih dahulu. Tidak sedikit pula dari kalangan ini yang membeli koran untuk mengisi waktu luang mereka sembari menunggu penumpang. Apabila indikator budaya membaca adalah minat membaca koran, maka tidak dapat dikatakan bahwa masyarakat Indonesia tidak memiliki budaya membaca. Permasalahannya barangkali tidak dapat digambarkan sesederhana itu. Akan tetapi sejauh mana kemauan membaca tersebut mampu mendorong terwujudnya kualitas sumber daya manusia. Bagaimanakah golongan terpelajar sebagai kalangan yang diidam-idamkan sebagai agen perubahan memiliki kebiasaan membaca. Kebiasaan bukan sesuatu yang datang dengan tiba-tiba, demikian pula dengan membaca. Membaca bukan suatu yang menyangkut aspek vokasi sementara. Kebiasaan membaca juga tidak bisa ditumbuhkan secara instan, karema kebiasaan membaca menyangkut perilaku seseorang. Dalam teori prilaku, kebiasaan dapat ditumbuhkan kalau dilakukan secara terus menerus tetapi juga diperlukan pemaksaan, dalam artian hal ini diperlukan penekanan pada seseorang agar melakukan kegiatan membaca, sehingga terbentuk kebiasaan membaca. Kebiasaan membaca tidak bisa dilepaskan dari budaya masyarakatnya. Artinya, untuk menumbuhkan budaya membaca juga tidak lepas dari aspek yang menyangkut budaya. seperti telah kita ketahui bersama bahwa masyarakat Indonesia cenderung memiliki budaya lisan dibanding dengan budaya menulis, banyaknya seni pertunjukan rakyat yang diwariskan secara lisan adalah contoh kuatnya budaya lisan, demikian juga budaya yang berkembang di masyarakat sehari-hari. Masyarakat pedesaan dengan kultur petani tradisional memiliki kebiasaan sanja atau ngerumpi sambil mencari kutu bagi sebagaian kaum perempuan untuk mengisi waktu luang mereka. Atau tradisi orang tua dulu yang mempunyai kebiasaan mendongeng sebelum tidur, walaupun cerita yang disampaikan hanya berkisar pengulangan belaka. Lonjakan perubahan budaya masyarakat yang seharusnya dari lisan kemudian ke tulisan lalu membaca, diperparah dengan keadaan perkembangan teknologi komunikasi yang dahsyat. Masyarakat cenderung mengambil alih teknologi terlebih dahulu ketimbang membaca. Oleh karena itu, untuk menumbuhkan minat membaca apalagi menumbuhkan budaya membaca, selain membutuhkan waktu yang panjang juga dibutuhkan sentuhan yang bernuansa budaya dalam artian yang lebih luas. Secara teoritis, merubah perilaku bukan persoalan mudah, apalagi yang menyangkut persoalan sistem nilai. Budaya membaca lebih terkait pada pembiasaan. Merubah perilaku yang tidak terkait dengan nilai, memiliki kemungkinan untuk diubah dibanding dengan budaya yang menyangkut nilai. Untuk menumbuhkan budaya membaca perlu merubah pola pikir masyarakat. Artinya masyarakat perlu ditanamkan secara terus menerus arti penting dan keuntungan membaca. Dapat ditarik suatu pengertian bahwa secara kultural bangsa Indonesia adalah masyarakat yang lebih cenderung memiliki budaya melihat dan bicara dibanding budaya atau kebiasaan membaca. Dalam kehidupan sehari-hari, masyarakat Indonesia pada umumnya memiliki minat yang tinggi untuk melihat sesuatu. Keterbatasan Fasilitas Barangkali keterbatasan fasilitas merupakan permasalahan klasik. Akan tetapi hal tersebut merupakan fakta yang tak terbantahkan. Kondisi ini tidak lepas dari kebijakan makro dalam pelaksanaan pembangunan. Konsep pertumbuhan ekonomi yang sejak masa orde baru menjadi tema besar pembangunan nasional sehingga membawa konsekuensi yang bersifat ekonomis juga. Dalam artian ini dapat dikatakan juga bahwa faktor material menjadi ukuran dari berbagai aspek kehidupan masyarakat. Akibatnya, sesuatu yang tidak memberikan keuntungan ekonomis secara langsung cenderung tidak terprioritaskan. Dalam proses pembangunan harus diakui kemajuan fisik melesat secara spektakuler. Program pembangunan yang bernuansa ekonomis memperoleh porsi yang cukup menguntungkan. Sementara sektor yang tidak memberi keuntungan secara langsung cenderung kurang diperhatikan. Bidang perpustakaan, sekalipun diakui sebagai kunci dalam proses pembentukan dan pengembangan SDM tetapi tidak memperoleh porsi sebanding dengan sektor ekonomis. Akibatnya pemenuhan kebutuhan kepustakawanan relatif banyak menemui hambatan. Bahan pustaka, ruang baca, dan fasilitas lainnya jauh dari memadai. Kemauan masyarakat untuk membaca buku barangkali tidak diimbangi dengan kemampuan untuk membeli buku. Sisi lain lembaga publik di bidang perpustakaan pun belum mampu memenuhi kebutuhan masyarakat tersebut. Perkembangan Teknologi Informasi Masyarakat moderen sebagai produk globalisasi dan revolusi teknologi informasi memunculkan berbagai masalah sosial. Pengaruh kehidupan moderen, arus informasi maupun semakin membudayanya nilai sosial mempengaruhi tingkat perkembangan, perilaku, dan permasalahan yang dihadapi anak. Media masa, khususnya televisi merupakan biang keladi yang paling handal untuk mempengaruhi perilaku anak. Fenomena tersebut merupakan trend yang tidak dapat dihindari. Perkembangan teknologi informasi juga berdampak pada sikap dan perilaku siswa SD. Tidak sedikit dari mereka yang sudah menggunakan teknologi informasi baik berupa handphone, facebook, twiter maupun internet. Tidak jarang kondisi ini menimbulkan efek negatif bagi mereka. Kehadiran teknologi informasi semestinya disikapi secara proporsional. Sikap gagap teknologi adalah suatu yang tidak boleh terjadi, tetapi sikap kaget akan memalukan dan merugikan. Kecenderungan yang terjadi pada generasi muda pada umumnya saat ini adalah hanya mampu menggunakan teknologi komunikasi bukan memanfaatkannya. Istilah menggunakan lebih memberikan kesan netral yang belum tentu memiliki nilai positif, tetapi istilah memanfaatkan lebih memiliki nuansa positif. Selamat Membaca.
DAFTAR PUSTAKA
Bafadal, 2008. definisi membaca sebagai suatu proses Belajar, Artikel, Jakarta
Darlan, H.M. Norsanie, 2011. Upaya Pemasyarakatab Perpustakaan Dan Minat Baca Masyarakat, makalah, Badan Perpustakaan dan Arsip Daerah, Kalteng, Palangka Raya
Hasan, Fuad, 2001. Akan lebih baik lagi kalau anak tersebut mulai menyadari bahwa rangkaian huruf-huruf, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta.
Rozin, 2008, Budaya membaca adalah kegiatan positif dan rutin, Yogyakarta Sukwana, Iman, 2014, Peran Budaya Baca di masyarakat umum, Perpustakaan Daerah, Banten, Serang. Sutarno 2006, mengemukakan bahwa budaya baca adalah suatu sikap dan tindakan atau perbuatan, Jakarta.
Slameto, 2003, memperhatikan kesehatan membaca, Artikel, Jakarta. Ahmadi,2007, Budaya adalah daya dari budi yang berupa cipta, karsa, dan rasa, sedangkan kebudayaan adalah hasil dari cipta, karsa dan rasa, Jakarta.
Fahmi, 2008. pengabdian pada masyarakat, Artikel, Yogyakarta.
Sutarno NS, 2001. Budaya baca seseorang adalah suatu sikap dan tindakan atau perbuatan untuk membaca, Artikel, Jakarta.
Sutarno, 2006. mengemukakan paling tidak ada 3 tahapan yang harus dilalui, Artikel, Jakarta. Siti Sarina, 2014. meningkatkan minat membaca dan menulis merupakan sebuah investasi jangka panjang, Artikel, Jakarta. Sukwana, Iman, 2011. tentang Aspek budaya baca, Makalan, Jurnal Pendidikan, Jakarta.
Penulis: H.M.Norsanie Darlan, Prof. Dr. MS PH. Guru Besar S-1 dan S-2 PLS/PNF dan Kepala UPT Perpustakaan Universitas Palangka dipublikasikan, 28 Mei 2017
Sabtu, 11 Juli 2020
PENINGKATAN MUTU SDM
PENINGKATAN MUTU DAN SUMBER DAYA MANUSIA PENDIDIKAN NON FORMAL INFORMAL
Oleh :
H. M. Norsanie Darlan
PENDAHULUAN
Tulisan ini disiapkan dalam rangka menyongsong seminar nasional yang diselenggarakan Universitas Negeri Malang di penghujung bulan Oktober 2015. Dan kita sama maklumi bahwa Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 sangat menjanjikan terhadap tugas kita sebagai akademisi pendidikan luar sekolah/PNF untuk berkarya. Hanya saja tidak semua orang tahu dan mengayomi profesi kita. Apakah mereka memang tidak tahu, ataukah sengaja tidak menghiraukannya. Pendidikan Luar Sekolah/Pendidikan Non Formal ini seharusnya kita bersama-sama berupaya untuk meningkatkan. Tapi peningkatan itu, tidak akan terwujud kalau Sumber Daya Manusia yang kita produk sebagai sarjana PLS/PNF dan mari kita bersama-sama untuk memperbaikinya. Peningkatan kualitas selama mahasiswa kita bina dengan harus dapat terlihat nilai tambah di mata mereka. Baru sarjana PLS/PNF yang kita produk itu mau mereka pakai. Sebab disadari atau tidak oleh kita semua adalah mereka yang lain pun akan mengunggulkan kesarjanaan yang melekat pada diri. Sehingga bagaimana kesarjanaan PLS/PNF kita ini dapat diterima oleh banyak orang. Tentu tidak lain memperbaiki mutu/kualitas kesarjanaan kita. Apa lagi di akhir tahun 2015 ini, MEA mulai memasuki kawasan negeri kita dan berbagai negara di ASEAN. PENINGKATAN MUTU Menurut seorang ahli bernama Adi S, (2015) peningkatan berasal dari kata tingkat. Yang berarti lapis atau lapisan dari sesuatu yang kemudian membentuk susunan. Tingkat juga dapat berarti pangkat, taraf, dan kelas. Sedangkan peningkatan berarti kemajuan. Secara umum, peningkatan merupakan upaya untuk menambah derajat, tingkat, dan kualitas maupun kuantitas. Peningkatan juga dapat berarti penambahan keterampilan dan kemampuan agar menjadi lebih baik. Selain itu, peningkatan juga berarti pencapaian dalam proses, ukuran, sifat, hubungan dan sebagainya. Kata peningkatan biasanya digunakan untuk arti yang positif. Contoh penggunaan katanya adalah peningkatan mutu pendidikan, peningkatan kesehatan masyarakat, serta peningkatan keterampilan para penyandang cacat. Peningkatan dalam contoh diatas memiliki arti yaitu usaha untuk membuat sesuatu menjadi lebih baik daripada sebelumnya. Suatu usaha untuk tercapainya suatu peningkatan biasanya diperlukan perencanaan dan eksekusi yang baik. Perencanaan dan eksekusi ini harus saling berhubungan dan tidak menyimpang dari tujuan yang telah ditentukan. Kata peningkatan juga dapat menggambarkan perubahan dari keadaan atau sifat yang negatif berubah menjadi positif. Sedangkan hasil dari sebuah peningkatan dapat berupa kuantitas dan kualitas. Kuantitas adalah jumlah hasil dari sebuah proses atau dengan tujuan peningkatan. Sedangkan kualitas menggambarkan nilai dari suatu objek karena terjadinya proses yang memiliki tujuan berupa peningkatan. Hasil dari suatu peningkatan juga ditandai dengan tercapainya tujuan pada suatu titik tertentu. Dimana saat suatu usaha atau proses telah sampai pada titik tersebut maka akan timbul perasaan puas dan bangga atas pencapaian yang telah diharapkan. SUMBER DAYA MANUSIA Sumber daya manusia (SDM) adalah salah satu faktor yang sangat penting bahkan tidak dapat dilepaskan dari sebuah organisasi, baik institusi maupun perusahaan. SDM juga merupakan kunci yang menentukan perkembangan perusahaan. Sumber daya manusia (SDM) adalah salah satu faktor yang sangat penting bahkan tidak dapat dilepaskan dari sebuah organisasi, baik institusi maupun perusahaan. SDM juga merupakan kunci yang menentukan perkembangan perusahaan. Pada hakikatnya, SDM berupa manusia yang dipekerjakan di sebuah organisasi sebagai penggerak untuk mencapai tujuan organisasi itu. Dewasa ini, perkembangan terbaru memandang karyawan bukan sebagai sumber daya belaka, melainkan lebih berupa modal atau aset bagi institusi atau organisasi. Karena itu kemudian muncullah istilah baru di luar H.R. (Human Resources), yaitu H.C. atau Human Capital. Di sini SDM dilihat bukan sekedar sebagai aset utama, tetapi aset yang bernilai dan dapat dilipatgandakan, dikembangkan (bandingkan dengan portfolio investasi) dan juga bukan sebaliknya sebagai liability (beban,cost). Di sini perspektif SDM sebagai investasi bagi institusi atau organisasi lebih mengemuka. Pengertian SDM dapat dibagi menjadi dua, yaitu pengertian mikro dan makro. Pengertian SDM secara mikro adalah individu yang bekerja dan menjadi anggota menurut Zaien (1982) adalah:”…suatu perusahaan atau institusi dan biasa disebut sebagai pegawai, buruh, karyawan, pekerja, tenaga kerja dan lain sebagainya…”. Sedangkang pengertian SDM secara makro adalah penduduk suatu negara yang sudah memasuki usia angkatan kerja, baik yang belum bekerja maupun yang sudah bekerja. Berbicara tentang sumber daya menurut Sudjana (1982; 4) dan Darlan (2002; 13) bahwa: “…sumber daya terdiri dari sumber daya manusia, sumber daya alam, sumber daya buatan, sumber daya laut, sumber daya angina, sumber daya mata hari, sumber daya air, dsb…” Sedangkan Muhadjir (1987; 26 dan Prawoto (1980;19) adalah kualitas manusia dan interaksi yang berlangsung di dalam kelompok manusia itu sangat menentukan nilai penghargaan sebagai sumber daya manusia…”. Secara garis besar, pengertian Sumber Daya Manusia adalah individu yang bekerja sebagai penggerak suatu. organisasi, baik institusi maupun perusahaan dan berfungsi sebagai aset yang harus dilatih dan dikembangkan kemampuannya. Bila kita memperhatikan pemahaman tentang definisi manajemen sumber daya manusia yang dilontarkan oleh para ahli, diantaranya sebagai berikut:
1.Menurut Hasibuan Manajemen sumber daya manusia adalah ilmu dan seni mengatur hubungan dan peranan tenaga kerja agar efektif dan efisien membantu terwujudnya tujuan perusahaan, karyawan dan masyarakat. Permasalah yang kita`hadapi adalah erat hubungannya dengan sumber daya manusia PLS/PNF. Analisis: Dari definisi di atas dapat dilihat bahwa Hasibuan (2000; 16) memberikan penekanan dalam pemahaman MSDM yaitu: sebagai sebuah ilmu dan seni mengatur hubungan dan peranan tenaga kerja. Dalam melakukan kegiatan manajemen sumber daya tidak hanya bagaimana seseorang pimpinan mengetahui potensi pegawainya, namun lebih pada bagaimana seorang pemimpin mendesain sebuah formulasi tertentu dalam mengaplikasikan para sumber daya pegawai yang ada sesuai dengan kemampuan sumber daya yang kita dimiliki. Desain yang telah dibuat tersebut diharapkan mampu mengkoordinir keinginan-keinginan para pegawai serta koordinasi antara pegawai dan pimpinan serta antar pegawai. Melalui skema desain yang tepat diharapkan mampu meningkatkan kinerja para pegawai secara efektif dan efisien sehingga mampu mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
2. Moses N. Kiggundu (1989) dalam Ambar Teguh Sulistyani dan Rosidah (2003: 11); Human resources management is the development and utilization of personnel for the effective achievement of individual, organizational, community, national, and international goals and objectives. (MSDM adalah pengembangan dan pemanfaatan pegawai dalam rangka tercapainya tujuan dan sasaran individu, ….., masyarakat, bangsa dan internasioanal yang efektif). Analisis: Dalam definisi menurut Kinggundu (1989) tersebut dapat dilihat bersama bahwa pendapat Kiggundu (1989), memberikan penekanan pada kata “development and utilization of personnel for the effective achievement”. Secara garis besar kalimat tersebut memiliki pemahaman MSDM sebagai sebuah upaya mengembangkan potensi para pegawai melalui beberapa pelatihan, baik yang sifatnya umum maupun khusus guna memunculkan pegawai yang benar-benar berkompetensi dalam bidangnya termasuk dalam keahlian kita sebagai orang-orang PLS/PNF. Menurut Notoatmodjo (1992: 5) pengembangan sumber daya secara mikro adalah suatu proses perencanaan pendidikan dan pelatihan dan pengelolaan tenaga atau karyawan untuk mencapai suatu hasil yang optimum. Sebagai tindak lanjutnya ketika seorang pegawai sudah mampu meningkatkan kapasitasnya, para pegawai tersebut diproyeksikan dalam upaya mencapai tujuan yang telah ditetapkan di awal baik itu keberhasilan individu, masyarakat, maupun organisasi. Namun, dalam pemahaman tentang pengertian MSDM tersebut masih sangat terbatas belum terlalu kompleks hanya sebatas upaya pengembangan serta pendayagunaan pegawai saja dalam mencapai sebuah tujuan yang telah ditetapkan.
3. Menurut Tulus (1992) dalam Suharyanto dan Hadna (2005 : 13); Manajemen sumber daya manusia adalah perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, dan pengawasan atas pengadaan, pengembangan, pemberian kompensasi, pengintegrasian, pemeliharaan dan pemutusan hubungan tenaga kerja dimaksud membantu tujuan organisasi, individu dan masyarakat. Sedikit Analisis: Dalam pemahaman definisi MSDM menurut Tulus (1992) dirasa telah sedikit lebih kompleks jika dibandingkan dengan pemahaman yang sebelumnya dengan melihat beberapa fungsi yang telah mulai dijabarkan sebagai bagian penting dari kegiatan manajemen sumber daya manusia PLS/PNF. Dalam pendapat Tulus (1992) tersebut dapat dilihat bagaimana beliau mencoba menjabarkan pemahaman MSDM yang ditekankan pada empat fungsi yaitu perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, dan pengawasan. Selain itu, dalam definisi di atas dapat dilihat bagaimana Tulus (1992) mencoba memperjelas ataupun memberikan poin-poin penting dalam pemahamannya tentang MSDM, yaitu meliputi pengadaan, pengembangan, pemberian kompensasi, pengintegrasian, pemeliharaan, dan pemutusan hubungan kerja. Dalam poin-poin penting yang telah dijabarkan tersebut dinilai mampu melengkapi pemahaman yang digunakan Tulus (1992) dalam mendefinisikan MSDM. Melalui berbagai kegiatan-kegiatan dalam upaya meningkatkan kemampuan para pegawai diharapkan mampu bekerja secara efektif serta efisien tersebut guna mewujudkan tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya baik itu individu, masyarakat
4. Menurut Armstrong (1990: 1) ; Sumber Daya Manusia adalah suatu pendekatan terhadap manajemen manusia yang berdasarkan empat prinsip dasar. Pertama, sumber daya manusia adalah harta paling penting yang dimiliki oleh suatu organisasi, sedangkan manajemen yang efektif adalah kunci bagi keberhasilan organisasi tersebut. Kedua, keberhasilan ini sangat mungkin dicapai jika peraturan atau kebijaksanaan dan prosedur yang bertalian dengan manusia dari perusahaan tersebut saling berhubungan, dan memberikan sumbangan terhadap pencapaian tujuan perusahaan dan perencanaan strategis. Ketiga, kultur dan nilai perusahaan, suasana organisasi dan perilaku manajerial yang berasal dari kultur tersebut akan memberikan pengaruh yang besar terhadap hasil pencapaian yang terbaik. Serta yang terakhir adalah manajemen sumber daya manusia berhubungan dengan integrasi yakni semua anggota organisasi anggota tersebut terlibat dan bekerja sama untuk mencapai tujuan bersama.
Analisis: Dari definisi di atas dapat dilihat bagaimana MSDM mempunyai empat prinsip dasar yang utama, diantaranya adalah sumber daya manusia menjadi harta paling penting dalam sebuah organisasi (termasuk organisasi PLS), harus dikelola dan diatur dengan baik, sehingga dapat menimbulkan peran aktif dari pegawai sehingga manajemen organisasi yang efektif serta efisien. Yang kedua adalah keberhasilan sangat mungkin dicapai jika kebijaksanaan dan prosedur yang berkenaan dengan manusia dari perusahaan tersebut saling berhubungan dan memberikan sumbangan terhadap pencapaian tujuan dan perencanaan strategis perusahaan. Dari pernyataan tersebut dapat dipahami sebagai pentingnya bagaimana suatu kebijakan dibuat serta bagaimana perlakuan yang diberikan kepada para pegawai sehingga dapat meningkatkan kinerja pegawai untuk mau berkontribusi secara optimal dalam upaya mencapai tujuan suatu organisasi. Yang ketiga adalah kultur dan nilai perusahaan, suasana organisasi dan perilaku manajerial yang berasal dari kultur tersebut akan memberikan pengaruh yang besar terhadap hasil pencapaian yang terbaik. Dari pernyataan tersebut dapat dipahami bahwa kultur, nilai, suasana serta perilaku manajerial organisasi memiliki pengaruh yang cukup besar dalam mempengaruhi tingkat kinerja pegawai agar sesuai dengan harapan suatu organisasi. Ketika suasana kekeluargaan dibawa dalam sebuah sistem manajerial suatu organisasi kiranya akan lebih efektif dibanding dengan gaya kepemimpinan yang otoriter, serta mengaanggap bahwa pegawai bukan hanya sekedar mesin akan tetapi diperlakukan sebagai sekelompok rekan kerja dalam sebuah tim. Hal tersebut harus dikelola dengan baik sehingga apa yang menjadi tujuan organisasi bisa tercapai. Yang terakhir adalah MSDM menjadikan semua anggota organisasi terlibat dan bekerja sama untuk mencapai tujuan bersama. Melalui fungsi yang terakhir tersebut dapat dilihat bagaimana para pegawai menjadi sebuah faktor penting dalam sebuah kinerja suatu organisasi dalam mencapai tujuan suatu organisasi secara efektif serta efisien. Dari seluruh definisi serta pemahaman yang telah dilampirkan, penulis dapat membangun sebuah definisi serta pemahaman pribadi tentang manajemen sumber daya manusia yaitu merupakan sebuah ilmu serta seni dalam kegiatan perencanaan, pengelolaan dan pengembangan segala potensi sumber daya manusia yang ada serta hubungan antar manusia dalam suatu organisasi ke dalam sebuah desain tertentu yang sistematis sehingga mampu mencapai efektifitas serta efisiensi kerja dalam mencapai tujuan, baik individu, masyarakat, maupun organisasi. PENDIDIKAN NON FORMAL INFORMAL 1. Pendidikan formal : pendidikan yang didapat dari suatu lembaga pendidikan (sekolah sd/smp/sma). 2. Pendidikan nonformal : pendidikan yang didapat dari lembaga pendidikan selain sd/smp/sma (bimbingan belajar/kursus). 3. Pendidikan informal : pendidikan yang didapat dari lingkungan keluarga. PELUANG SDM NON FORMAL Dari awal tahun 2015 tenaga SDM Non Formal memang tidak seluruhnya menguntungkan. Namun dipenghujung tahun ini, Akademisi mendapatkan tawaran untuk menunjukkan kepiawan profesinya dalam pendidikan luar sekolaah/pendidikan non formal. Karena ada surat dari Direktorat Jend Pendidikan Anak Usia Dini dan Pendidikan Masyarakat nomor: 70C.C3/TU/2015. yang menawarkan kalangan akademisi profesional PLS untuk ikut pelatihan calon pelatih Nasional Pendidikan Keluarga. Pekerjaan itu tidak haanya sampai pelatihan ”TOT” itu saja, tapi sudah dijadwal di negeri ini setiap provinsi menyemenggarakan pelatihan pendidikan keluarga. Tenaga instrukturnya adalah mereka yang pernah dilatih pada tanggal 19-23 oktober 2015 di Bogor. Ini baru salah satu peluang dan masih banyak peluang lainnya yang terkadang tidak diketahui oleh dosen/akademisi yang terkadang kita sering lalai dalam menghadapi keadaan. Peluang akademisi sungguh banyak, tapi mungkin tidak semua hal itu kita mengetahui atau belum menemukan jalan menuju hal itu. Karena tidak semua akademisi PLS/PNF dikenal oleh kita dimana tempat-tempat pelayanan PLS/ pendidikan non formal. Karena tempat-tempat penyelenggara PLS/PNF tidak seluruhnya diselenggarakan oleh akademisi dan sarjana PLS/PNF. SUMBER DAYA PLS/PNF Memang sering kita terperanjat dalam melihat keadaan di masyarakat. Sepertinya keadaan ini seharusnya pekerja kita tenaga sarjana dari PLS/PNF, tapi kenyataannya di kerjakan oleh mereka yang berlakang belakang pendidikan lain. Salah satu contoh: tenaga lapangan dikmas (TLD). Trus kenapa hal ini terjadi ?. penulis menganggap hal seperti ini, adalah kelalaian kita semua. Dan bagaimana memperbaikinya ?. Sungguh banyak keperluan Sumber Daya Manusia seperti: Bidang/Subdin PLS, BP2PNFI, SKB, PKBM, LKP dll. Namun masih dapat dihitung dengan jari jumlah sarjana PLS/PNF yang diserap di sana. Tapi anehnya dizaman reformasi ini, tenaga kita tidak seluruhnya dipakai. Apakah karena dengan jalur bebas menerima tenaga kerjanya ataukah sarjana PLS/PNF sendiri yang mulai kehilangan arah. Pengalaman penulis ikut duduk di pemerintah daerah di awal reformasi menunjukan bahwa setiap tahun dari badan kepegawaian daerah (BKD) menyurati / meminta kepada semua Dinas, Badan di lingkungan pemerintah daerah untuk masing-masing instansi mendapat jatah tenaga / SDM baru dalam tahun berikutnya. Namun siapa calon yang akan diterima adalah atas usul kepala instansi itu. Sarjana PLS/PNF tidak mereka usulkan. Padahal sangat diperlukan. Karena Sarjana PLS/PNF tidak banyak mereka kenal, karena masih banyak sarjana lain. Oleh sebab itu, mari kita sama-sama mempromosikan PLS/PNF kita secara bersama-sama. Dan belajar dari pengalaman tersebut, kalau seseorang kepala Dinas, Badan mengingat keluarganya tidak bekerja. Maka keluarganya itulah yang ia usulkan. Walau di instansi tersebut tidak memerlukan tenaga sarjana yang ia usulkan. Akhirnya munculah sarjana yang tidak seharusnya dikehendaki yang berdasarkan kebutuhan. Dan sarjana PLS/PNF jadi ditinggalkan lambat laun tentu jadi tertinggal. Contohnya penerimaan tenaga TLD tidak memperhatikan kesarjanaan. Sehingga setelah mereka selesai prajabatan, pegawai baru ini mulai mengurus pindah. Karena alasannya kesarjaannya tidak cocok dengan pekerjaan PLS/PNF tadi. Dan kita ketahui bersama, bahwa Subdin PLS itu adalah mengerjakan, pekerjaan teknis. MENGHADAPI MEA Setuju atau tidak setuju, masyarakat ekonomi asean (MEA) akan menggrogoti PLS. Kenapa ?, karena nama PLS sudah tidak aktual lagi. Mengingat pasar bebas Indonesia Desember 2015 mulai memasuki kawasan negeri kita. Sehingga tidak jadi terkenal sarjana PLS dimata, telinga negara-negara Asean. Karena sarjana-sarjana mereka menggunakan nama bahasa Inggris Non Formal Education. Sedangkan PLS pasarannya hanya terbatas di tanah air, tapi kalau kita membawa ijazah sarjana PLS ke Singapora nama PLS tidak mereka kenal. Yang mereka kenal adalah sarjana Pendidikan Non Formal. Demikian juga negara-negara lainnya seperti: Piliphina, Thailand, Laos dan berbagai negara Asean lainnya. Dengan demikian hasil rapat kita di Surabaya tahun 2013 lalu, perlu kita ulang lagi ke Dirjen Pendidikan tinggi, agar sarjana-sarjana PLS laku dan dipakai hanya di tanah air, tapi juga di berbagai negara Asean lainnya. Bila kita tidak menghiraukan ini, nasip mahasiswa kita jadi suram. Bila kita para akademisi PLS/PNF membiarkan hal seperti sekarang, maka suram nasib kita semua. Sekarang kita perlu bangkit dengan menyamakan status sarjana kita antara pendidikan non formal dari berbagai negara mereka akan masuk ke berbagai negeri. Termasuk ke Indonesia. Tapi bagaimana sarjana PLS, kalau namanya saja tetap PLS, maka ke Singapora pun orang tidak tahu dengan PLS. Apa lagi ke Philina, Laor, Muang Thai. Pasti tidak laku sarjana kita. Karena nama kesarjanaan kita masih PLS. Karena problema tidak diketahui orang apa itu PLS. Berarti kita membuat nama yang dikenal orang lain seperti: Sarjana Pendidikan Non Formal. SARJANA PLS PUNYA JALAN Bila kita memperhatikan terhadap kesarjanaan PLS/PNF yang punya pengalaman lapangan, punya keterampilan pendidikan kewiraswastaan, dan berbagai pengalaman mereka dalam pengelola kelompok belajar masyarakat tentu. Sekarang apa harusnya sarjana PLS agar punya jalan di luar PNS. Bila sarjana PLS/PNF menekuni pengalaman pendidikan kewirausahaan di saat ia mahasiswa. Maka ia mengetahui warga masyarakat Indonesia membutuhkan pendidikan yang layak. Kenapa tidak setelah menjadi sarjana PLS/PNF ? kenapa tidak mendirikan Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM). Pendirian PKBM oleh seorang sarjana PLS/PNF berarti membuka kesempatan kepada sarjana lain. Artinya dengan PKBM dibuka oleh sarjana PLS/PNF secara profesional, maka PKBM merupakan sebuah lapangan kerja usaha. Ia dapat mempekerjakan para sarjana lain. Misalnya PKBM merasa perlu ada kursus bahasa Inggris, maka sarjana bahasa Inggris, bisa kita jadikan tutor/instruktur bahasa di PKBM. Demikian juga sarjana matimateka. Dengan memperkatikan hal di atas, para sarjana PLS/PNF akan` dapat sejahtera kalau kita dapat menanfaatkan ilmu kita sebagai bidang ilmu yang luas sekali. Tapi kalau akademisi memberikan wacana kepada mahasiswa agat tidak selalu berharap ke PNS. Tapi arahkan mahasiswa kita agar bisa berwira usaha. PELIBATAN SDM PLS/PNF Peningkatan Sumber daya manusia pendidikan luar sekolah/pendidikan non formal adalah dengan berbagai cara yaitu: tenaga pendidikan luar sekolah tidak hanya sekedar berteori. Tapi bagaimana para sarjana PLS/PNF berjuang aktif dalam mendirikan PKBM-PKBM baru untuk berwirausaha dalam pendidikan luar sekolah. Selain itu, bagi penyelenggara pendidikan luar sekolah/pendidikan non formal harusnya ada menempatkan tenaga sarjana PLS/PNF sebagai tenaga ahlinya. Karena selama ini, di kawasan Kalimantan Tengah dari hasil penelitian penulis tempat-tempat penyelenggaraan pendidikan luar sekolah/Pendidikan Non Formal hanya sebagai penonton. Dan para penyelenggara di atas, bebas berasal dari berbagai bidang keilmuan. Sehingga muncul anggarapan masyarakat pendidikan non formal itu tanpa dengan tenaga ahli PLS/PNF mereka sudah bisa menyenggarakan pendidikan non formal. Dan untuk apa melibatkan tenaga ahli PLS/PNF ?. Sementara dalam pendirian PKBM, Lembaga Kursus dan Pelatihan, masih belum mempersyaratkan adanya keterlibatan sarjana PLS/PNF. Mudah-mudahan dimasa datang ada peraturan ke arah ini. Dan bagi pemilik PKBM/LKP dan sejenisnya, harus mendidikan keluarganya ke PLS/PNF.
DAFTAR PUSTAKA
Adi S, 2015. Greer, Charles R, 1995. Strategy and Human Resources: a General Managerial Perspectiv, Peningkatan, New Jersey.
Armstrong, 1990. Manajemen sumber daya manusia, suatu pendekatan terhadap manajemen manusia, makalah, Jakarta.
Darlan, H.M. Norsanie, 2002. Pengembangan Model Pelatihan Keterampilan Bagi Masyarakat Desa Tertinggal Kawasan Pantai (Studi Kasus Pemberdayaan Kaum Perempuan Keluarga Nelayan Desa Sei Pudak Kecamatan Kahayan Kuala Kabupaten Kapuas Kalimantan Tengah), Disertasi, Bandung.
Hasibuan 2000, Manajemen sumber daya manusia, Artikel, Jakarta. N. Kiggundu, Moses. 1989.
Sulistyani, Ambar Teguh dan Rosidah 2003. pengembangan dan pemanfaatan pegawai dalam rangka tercapainya tujuan, Makalah, Jakarta.
Muhadjir, Noeng, 1987. Kepemimpingan Adopsi Untuk Pembangunan Masyarakat, Disertasi, Rake Press, Yogyakarta.
Notoatmodjo, 1992. pengembangan sumber daya secara mikro,
Prawoto, Ruslan, H. 1980. Ekonomi Sumber daya manusia, Alumni, Bandung.
Sudjana, Djudju, 1982. Pendidikan Luar Sekolah, (wawasan Sejarah perkembangan filsafat, teori pendukung Asas), Al-Falah Production, Bandung.
Tulus, 1992 dalam Suharyanto dan Hadna, 2005. Manajemen sumber daya manusia, pengarahan, dan pengawasan atas pengadaan,
Zein, M.T. 1981. Manajemen sebuah rintisan. membantu dengan mengembangkannya.
------------, 1982. Sumber daya Konsep yang berubah sepanjang sejarah, Prisma Volume 11, Jakarta.
Prof. Dr. H.M. Norsanie Darlan, MS PH, guru besar program Studi S-1 dan S-2 PLS/PNF Pascasarjana Universitas Palangka Raya. Malang, 30 Oktober 2015
Rabu, 08 Juli 2020
PERPUSTAKAAN JANTUNG PERGURUAN TINGGI
PERPUSTAKAAN JANTUNG PERGURUAN TINGGI
Oleh:
H.M.Norsanie Darlan
Pendahuluan
Penulis pernah menawarkan sebuah lomba bagi kalangan dosen yang isinya siapa diantara dosen yang banyak menulis apakah dalam bentuk: buku, artikel dan karangan lainnya. Namun tak ada jawaban atas ide yang digulirkan itu. Kalau demikian sudahlah untuk seadanya.
Memang sebaiknya ada pula yang mensponsorinya seperti pemberian hadiah walau sekecil mungkin diserta selembar tanda penghargaan dari pimpinan perguruan tingginya itu sendiri. Penulis sedih melihat dan mendengar jawaban seorang calon dosen muda yang baru diterima bekerja di suatu perguruan tinggi. Setelah penulis bertanya kepadanya “...sudah berapa buku yang sdr tulis untuk jadi dosen di sini...” ? jawabannya belum ada. Karena jadi dosen tidak saya rencanakan !!!. sedih rasanya mendengar perkataan demikian. Bagaimana ia nanti di depan kelas dengan mahasiswa...”? tentu saja perbuatan seperti itu tidak dapat dijadikan teladan tertunya. Kalau jawabnya demikian, ada berapa buku yang kau siapkan untuk mengajar nanti ? jawabnya sangat sedikit, “...belum ada dan belum beli...” apa di Palangka Raya banyak toko buku ? penulis tersenyum dan si calon dosen perlahan-lahan bergeser ke tempat lain untuk menghindar segala pertanyaan.
Penulis ingin jika seorang dosen mau diteladani tentu telah memiliki sejumlah buku karya tulisnya. Kesenangannnya. Terlebih dalam bidang keilmuannya. Demikian juga mahasiswa teladan punya karya yang memadai. Dan pernah dipublikasikan di media cetak baik lokal maupun nasional. Seorang calon Prof. Sudah sejak lama diminta untuk melampirkan karya tulisnya apakah pada jurnal terakreditasi nasional maupun internasional. Dan sebaiknya harus karya sendiri, sehingga hak cipta betul-betul sesuai nama sipenulis sendiri. Tapi bagaimana hak ciptanya, jika karya tulis ilmiah itu tulisan orang lain. Ini perlu dilakukan penilaian tersendiri tentunya.
Buku bagaikan jendela rumah
zaman teknologi yang serba modern sekarang tidak ada yang sulit. ,masa lampau ditahun tujuh puluhan, waktu menulis skripsi sarjana muda ada seorang dosen yang ditakuti kawan-kawan untuk menjadi pembimbing. Penulis maju memberanikan diri. Apa yang ditakuti teman-teman mahasiswa itu bagaimana. Dan kalau terpaksa harus dibimbing oleh beliau tidak mungkin bisa lulus sesuai dengan jadwal yang ditetapkan. Hal ini pasti kesulitan memenuhi tuntutan terhadap buku literatur yang dijadikan pustaka dalam penulisan skripsi.
Penulis dalam tugas akhir ditahun 1979 betul-betul berhadapan dengan dosen yang paling ditakuti kawan-kawan mahasiswa itu. Setelah dalam keputusan rapat fakultas penulis melihat dosen yang paling ditakuti itu ternyata membimbing saya. Dan inisiatip yang segera ditempuh adalah mencari judul-judul buku yang erat hubungannya dengan judul skripsi yang disepakati oleh ketua tim penetap judul karya tulis ilmiah itu. Setelah mendapatkan di perpustakaan Universitas buku-buku yang terkait. Penulis segera datang menghadap beliau dan disuruh mencari buku. Dan disaat itu pula penulis menyerahkan kepada beliau (pembimbing) skripsi itu. dan buku-buku yangsudah dibaca di perpustakaan. Tentu saja mudah hanya satu, dua saja lagi yang disuruh cari. Dan proposalpun segera diselesaikan.
Dengan demikian buku sebagai jendela rumah, menurut: Prof. HAMKA, itu sungguh benar karena dizaman sekarang mahasiswa takut datang keperpustakaan adalah tanda tanya. Kenapa alasannnya ? apakah dosen pembimbingnya tidak pernah menyuruh mahasiswa bimbingannya untuk datang ke perpustakaan (mencari buku) atau si mahasiswanya yang tidak kreatif. Malas daatang pekerpustakaan. Karena perpustakaan itu adalah tumpukan buku semata. Padahal perpustakaan itu adalah jantung pergururuan tinggi. 2 tahun lebih penulis melakukan pertanyaan (yang sebetulnya penelitian) kepada sarjana yang mau di yudisium dan wisuda. Betul-brtul ada mahasiswa dengan segan is berkata: :”...tidak sempat saya ke perpustakaan karena kesibukan kuliah...”. benar atau tidak wallah hua’alam. Ini suatu kejadian sang calon sarjana tanpa datang membaca, meminjam buku di perpustkaaan kok dapat lulus jadi sarjana. Bagi perpustakaan tidak rugi, tapi bagi si sarjana baru ini, mampukah menghadapi tantangan hidup di era buku digital nanti ? apakah tidak malu dengan menyandang gelar tapi tidak bermutu ?
Mahasiswa kreatif adalah mahasiswa yang rajin membaca, rajin berdiskusi dan juga rajin menulis. Buku apapun yang ada disekitar kita, perlu kita baca. Membanca ini sungguh banyak manfaat. Seperti orang tidak pernah jalan-jalan ke ibu kota negara. Tapi karena membaca sejarah berdirinya Jakarta, maka ia tahu tentang jakarta dan sebagainya. Apalagi mendiskusikannnya sehingga ia banyak tahu tentang itu.
Prancis Baccon
Diabat pertengahan terlahir seorang tokoh diberi nama: Prancis Baccon, ia saat itu dapat mengkalisifikasikan manusia dalam 3 kelompok besar. Yaitu: kelompok Pertama adalah bisa membaca berarti manusia itu dapat mengetahui apa isi alam ini. Dengan mengetahui isi alam ini, maka ia pasti punya otak mencerna apa saja yang diciptakan oleh Yang Maha Kuasa sebagai isi alam ini. Kelompok ke dua berdiskusi. Seseorang yang karena membaca pasti mencari teman, kawan dalam memecahkan permasalahan yang ia hadapi. Seperti saat ini kenapa anak usia sekolah dibatasi dalam kelopok usia tertentu. Bagaimana yang usianya diluar kelompok itu?. Bagaimaha mereka yang karena sesuatu hal tidak sempat belajar, karena faktor, ekonomi, lingkungan atau jarak geografis yang tidak memungkin seperti di pedalam kalimantan tengah ?. tapi sekarang hal-hal di atas sebagai tantangan telah terpecahkan. Mau sekolah tapi sekolah menutup pintu kepadanya. Ini perlu pemikiran dan banyak diskusi. Tentu melalui diskusi yang panjang. Padalah dalam Undang-Undang nomor 2 tahun 2003 secara jelas penduduk Indonesia wajib belajar. Bahkan sekarang sampai lulus SLTA. Kelompok ke Tiga bisa menulis. Adalah sebuah pertnyaan. Menulis apa ? yang dimaksud menulis disini menurut: Prancis Baccon adalah meng analisa permasalahan yang ada dihadapi dan menguraikannya secara cermat dan rinci terhadap permasalahan yang dihadapi itu, apa berbentuk buku, artikel dan karangan lainnya. Bahkan dapat dipublikasikan dalam media cetak dan elektronika.
Perpustakaan
Seorang mahasiswa mau mengantar skripsinya pergi ke perpustakaan. Kok sedikit agak lucu, dalam suasana kebengungan, sehingga kemana ia harus menyerahkan buku karya tulis ilmiahnya seperti: Skripsi, Thesis dan Disertasinya. Penulis tersenyum sambil bertanya dihati “...apakah mahasiswa ini belum pernah datang ke perpustakaan ini untuk membaca...?. karena diperpustakaan perguruan tinggi ia kuliah selama 4 – 7 semester tidak tahu ke mana ia menyerahkan karya tulisnya. Apakah dosen pembimbing mahasiswa dan dosen pembimbing skripsinya ybs tidak pernah menyuruh si mahasiswa itu mencari buku ke perpustakaan di perguruan tingginya. Lalu apa kerjaan mahasiswa selama kuliah itu. Apakah si mahasiswa itu sudah punya buku literatur yang lengkap ? sehingga ia tidak perlu datang ke perpustakaan untuk mencari buku sebagai literatur skripsinya?.
Kepada mahasiswa alangkah indahnya jika sudah terdaftar sebagai mahasiswa, ia boleh datang dan membaca buku-buku yang ada kaitannya dengan jurusan/program studi yang akan ia tekuni. Penulis jadi ragu kalau seorang mahasiswa tidak pernah membaca, meminjam buku di perpustakaan. Keraguan itu ada yang katanya: mahasiswa tapi tidak pernah membaca. Padahal perpustakaan adalah antung perguruan tinggi. Katanya mahasiswa tapi tidak pernah menulis. Pertanyaan lebih jauh ke masa depan, bagaimana jika ia bekerja nanti, kemana ia harus mencari buku sebagai sumber ilmu. Atau setelah bekerja tidak bisa kerja. Disuruh atasan membuat konsep berminggu-minggu tak kunjung jadi. Padahal katanya “ seorang sarjana”. Ini menurunkan harga diri seseorang kalau terjadi hal yang demikian.
Perpustakaan Digital
Di Universitas palangka Raya sejak 27 maret 2019 universitas sudah dapat julukan perpustakaan digital. Kelemahan kita tidak punya modal membeli sampai 35 ribu judul buku digital yang banyak perpustakaan universitas di tanah air telah membelinya.
Untuk menciptakan perpustakaan digital khusus untuk awalnya akan melayangkan hasil-hasil penelitian mahasiswa. Apakah skripsi, thesis ataupun disertasi. Sayangnya sejak awal tahun 2019 mencoba ke arah itu. Sehingga skripsi, thesis dan diserta alumnus kita bisa dibaca walau mereka berada di negeri seberang. Misalnya mahasiswa dan dosen Malaysia, Singapura University, Berunai, Philipina atau Australia. Karena mereka tekun mencari data untuk mengontak berbagai perpustakaan universitas untuk kepentingan penelitiannya.
Di UPT. Perpustakaan Universitas Palangka Raya lebih dari 8000 (delapan Ribu) skripsi yang sudah didukomentasikan. Namun karena media kita masih belum memadai sangat terpaksa masih disimpan dulu dalam hardis external yang risiko rusaknya tinggi. Karena keterbatasan komputer yang ada. Penulis berharap Teknologi Informasi Komunikasi (TIK) yang ada di UPR bisa segera berjalan seiring dalam mempublikasi hal di atas. Walau disadari sebelumnya cukup besar tantangan UPT. Perpustakaan untuk beriringan tangan pada program digital perpustakaan kita. Dan sekedar ditahui silahkan ambil komputer buka google “tulis norsanie darlan “ nanti akan muncul sederet karya tulis putra Anjir Serapat Kabupaten Kapuas Kalteng di sana. Penulis berharap dosen-dosen juga demikian.
Pernulis pernah dikunjungi tamu asing, seorang dosen dari canberra university
Australia ia saat itu menginap di Aquarius Hotel Palangka Raya. Semula ia datang ke STAIN atau IAIN sekarang. Lalu ia menanyakan /mencari nama penulis dan dari IAIN mengantarnya tamu yang bersangkutan ke rumah dan buku itu memang pernah ditulis judul yang ia cari itu,sudah tergolong lama tahun 1996. Dalam diskusi kecil kami, dari mana ia menemukan judul buku itu. Ia mengatakan judul buku itu di internet, ternyata saat penulis sebelum guru besar setiap buku, artikel, dan hasil penelitian dimasukkan kesebuah buku kecil. Sebagai daftar buku yang pernah penulis tulis, karangan sederhana itu dibawa oleh sejawat kita itu ke Australia sebagai bahan ajarnya. Dalam pemikiran penulis, mau saja ia datang mencari hal demikian, karena yang dipublikasikan itu hanya judul-judulnya saja. Sementara bagaimana isi silangkan membaca di perpustakaan pribadi penulis di rumah.
Sukses selalu
Senin, 04 Mei 2020
JANGAN BERHARAP LIBUR BERARTI TIDAK KULIAH
Dalam kasus corona seperti sekarang sdr jangan mengharap libur. Harusnya menghitung untung ruginya membayar APP yang telah sdr bayar. Itulah berbagai cara dosen untuk sdr selama libur perkuliahan tetap jalan. Walau tidak tatap muka, via internet, foto copy dll agar waktu kuliah kalian tidak dirugikan. Ada sejumlah mata kuliah yang tidak diajarkan, tentu saja kalian rugi. Teknologi sudah canggih kenapa tidak cara lain ?
Jika sdr diliburkan, kuliah jangan ditiadakan SIAPA YANG RUGI. Padahal sdr datang ke Palangka Raya untuk kuliah. Sekarang karena wabah corona kuliah sebaiknya jangan ditiadakan. tapi manfaatkan cara lain agar sdr tidak maka dan tidur di rumah.
Senin, 18 November 2019
MENGENALI PERPUSTAKAAN PERGGURUAN TINGGGI DI ERA DIGITAL
MENGENALI PERPUSTAKAAN
PERGGURUAN TINGGGI DI ERA DIGITAL
Oleh :
H. M. Norsanie Darlan
(Tulisan ini hasil mengikuti Konperensi Perpustakaan Digital di Banda Aceh 12-15 Nopember 2019)
Pendahuluan
Tulisan ini diturunkan dengan menyadari sebelumnya bahwa penulis tidak berlatar belakang pustakawan. Namun karena ingin mengemukakan pendapat dalam di perpustakaan Digital Indonesia ke 12 di Banda Aceh, maka penulis mencoba mengemukakan sekelumit pengalaman apa yang menjadi permasalah yang dirasakan selama bertugas di UPT. Perpustakaan Universitas Palangka Raya.
Dalam pengembangan manajemen perpustakaan perguruan tinggi di era digital ini, kita tentu turut mencurahkan perhatian dan pikiran demi pegembangan untuk menuju kemajuan perguruan tinggi. Sebagai tantangan jika kurang memperhatian terhadap berbagai kemajuan ternologi digital di berbagai Perpustakaan yang ada di perguruan tingggi lain, membuat perpustakaan kita tertinggal. Lebih-lebih kalau pimpinan perguruan tinggi hanya menganggap perpustakaan perguruan itu sebagai pelengkap saja, namun disini sangat ini memerlukan tenaga profesional kreatif tentunya.
Bagaimana kalau perpustakaan dianggap sebagai jantung di sebuah perguruan tinggi seharusnya ia mendapatkan perhatian khusus, terlebih dalam mempersiapkan akreditasi. Jika sebuah perpustakaan yang tidak mendapat perhatian dengan segala kurangannya, tentu menyeret akan kualitas lulusan (alumnus) kita sendiri. Apalagi jika dosen-dosen tidak pernah memberikan penugasan ke perpustakaan kepada mahasiswanya, membuat mahasiswa akan dangkal pemilikan pengetahuan pada bidang ilmunya. Harapan kita semua, para pimpinan perguruan tinggi yang mengharap alumnusnya bermutu, tentu perpustakaan juga harus turut diperhatikan, terlebih jumlah buku yang memadai, pelayanan tenaga pustakawan selalu senyum dan ramah kepada setiap pengunjung. Tentu mahasiswa/ mahasiswi akan senang untuk datang meminjam, membaca buku dan berdiskusi di perpustakaan. Apalagi buku yang tersedia cukup, maka hasil lulusannya tidak meragukan semua orang. Sebaliknya jika buku serta tidak tersedia pelayanan yang kurang menyenangkan, membuat perpustakaan kita kurang diminati mahasiswa dan dosen untuk datang berkunjung ke perpustakaan. Namun harapan kita semua dalam pelayanan di perpustakan itu, adalah supaya ramah layanan.
Tujuan Penulisan
Adapun tujuan dari penulisan artikel ini adalah:
1.Ingin mengajak para dosen agar mau memotivasi mahasiswanya untuk datang ke perpustaaan.
2.Ingin menyampaikan keadaan yang sebenarnya yang ada di perpustakaan sebagai upaya saling tukar-menukar informasi tertulis kepada sesama tentang perpustakaan perguruan tinggi di tanah air.
3.Ingin mengajak agar karyawan di perpustakaan dapat memberikan layanan yang ramah, sehingga penggunjung tidak malas datang ke perpustakaan. Berubah menjadi sebaliknya.
4.Ingin menggajak para mahasiswa dan dosen untuk menyambut kehadiran era digital di dunia perpustakaan sekarang.
Forum Perpustakaan Digital
Berbicara tentang Forum perpustakaan digital di Indonesia saat ini mewadahi pengembangan jejaring perpustakaan digital sebagai salah satu spesies ekosistem digital Indonesia. Perpustakaan digital bersama spesies lainnya saling berintegrasi untuk menjawab kepentingan masyarakat dengan menjaga keseimbangan antara kemajuan ekonomi dan penyesaian masalah sosial yang terintegrasi dengan ruang internet dan fisik dalam kontek tersebut, perpustakaan digital diharapkan dapat mendorong transformasi masyarakat yang bermasis pengetahuan dengan norma yang ada serta berkompetesi sehingga inklusi sosial perpustakaan daya saing bangsa dapat tercapai.
Metoda
Dalam karya tulis ini, penulis menggunakan metoda pendekatan deskriptif dengan bahan dan cara yang seminimal mungkin di disekitar perpustakaan itu sendiri, caranya mewawancarai sejumlah karyawan/karyawati dan mendukomentasi serta hasil wawancara itu dianalisis. dengan apa adanya serta mengurai satu demi satu dari sekelumit yang ada dan membedakan dan kesamaan antara perpustakaan yang ada dengan sejumlah perpustakaan yang dijadikan sasaran. tentu ada satu sama yang lain terdapat perbedaan tentunya.
Dari hasil analisis tersebut diuraikan sesuai dengan yang diharapkan dalam tulisan ini, sehingga dapat dimanfaatkan untuk penulisan berikutnya.
Bukan Pustakawan
Penulis adalah bukan seorang pustakawan yang berpikir bagaimana mengklasifikasikan buku berdasar teori Jonh Dewey, kita masih belum banyak tahu. Karena bukan ahlinya hal ini, akibat proses SK menduduki kepala UPT Perpustakaan merupakan masalah yang sangat berat penulis pikul, karena beda keilmuan sangat sulit rasanya untuk dipecahkan. Apalagi status akreditasi perpustakaan saat itu, tidak terakreditasi sama sekali. Sementara bagaimana cara memberikan katalog buku yang benar belum tahu.
Dihari pertama penulis meminta seluruh karyawan tua muda, PNS dan Pengawai Kontrak yang bekerja di perpustakaan itu, untuk berkumpul disaat waktu mereka harusnya istirahat, dengan konsekwensi makan siang bersama dengan menugaskan seseorang untuk mencari nasi kotak dan makan siang bersama. Penulis ingin tahu secara persis kenapa UPT Perpustakaan Universitas itu jadi tidak terakreditasi, sehingga informasi inilah dijadikan bahan untuk melakuan perubahaan.
Dalam bulan yang sama sejumlah karyawan dibentuk tim untuk menyusun/mengisi borank akreditasi dan mengantarnya ke perpustakaan nasional di Jakarta. Ternyata borank itu juga diserahkan juga dengan Dinas perpustakaan provinsi supaya diusulkan Dinas Perpustakaan Provinsi untuk mengusulkan ke Jakarta agar gedung yang penuh buku itu terakreditasi. Sehingga disaat yang ditentukan datanglah tim asesor melakukan visitasi ke UPT Perpustakaan Universitas Palangka Raya (UPR) di kawasan Kalimantan Tenggah itu.
Pada awal tahun 2019 tim asesor datang dan melakukan visitasi, akhirnya kami dengan mengucap syukur Alhamdulillah, perpustakaan kami mendapat penilaian B. Sebuah anugrah dan berkat kerja keras kawan-kawan dalam tim kami dalam upaya untuk melakukan perbaikan. Sebab penulis beranggapan kalau perpustakaan tidak terakreditasi maka bagaimana pandangan mahasiswa dan dosen melihat perpustakaan kita, walau gedungnya paling tinggi di kampus Tunjung Nyaho Palangka Raya. Selain itu, tentu untuk usulan program studi dan jurusan fakultas-fakultas yang mau akreditasi. Tentu status perpustakan dipertanyakan. Sehingga penulis yang dibantu tim berupaya agar terakreditasi. Dan dengan mengucap syukur kepada Yang Maha Esa, bahwa perjuangan dan kerja keras tim kami berhasil menjadikan kenyataan.
Metoda
Dalam karya tulis ini penulis menggunakan metoda pendekatan secara deskriptif sedangkan alat dan bahan yang ada, memanfaatkan apa yang ada di sekitar perpustakaan itu sendiri, dengan alat yang mempersiapkan berupa instrumen sebagai bahan wawancara kepada sejumlah karyawan/karyawati dan mendukomentasi dari hasil wawancara itu dianalisis. dengan apa adanya serta mengurai satu-demi satu dari sekelumit membedakan dan kesamaan antara perpustakaan yang ada dengan sejumlah perpustakaan yang dijadikan obyek. tentu ada satu sama yang lain terdapat perbedaan tentunya.
Belajar Pengalaman Dari Penggalaman
Sunggguh menakjubkan, peristiwa sebagai akademisi yang kebetulan puluhan tahun bergulat di luar dunia pustaka, memang pada awal menerima surat tugas hampir setengah bulan penulis tidak ada minat turun ke perpustakaan. Ada perasaan di hati wah apakah ini saya dibuang ?. Ataukah masa suram penulis akan tiba, setelah pernah duduk di eselon II / a baik di kampus maupun di luar kampus (pemerintah daerah provinsi Kalimantan Tengah). Tiba-tiba seorang karyawan perpustakaan menjemput, dikira penulis tidak pernah menerima Surat Keputusan. Sebab saat pelantikan penulis sedang berada di kota Semarang. Ajakan itu penulis terima, namun apa yang penulis perbuat, sebab penulis bekerja bukan ahlinya, dan takut kalau terjadi di perpustakaan yang lebih tidak populer lagi. Karena perpustakaan itu harus dikelola oleh mereka yang berlatar belakang ilmu perpustakaan, sedangkan penulis bukan seorang pustakawan.
Kerjasama Dosen
Tujuan kita menulis ini tidak lain sebuah keinginan bahwa para dosen sebaiknya mengajak mahasiswa untuk turut serta datang ke perpustakaan. Karana tentu saja ada mata palajaran tertentu memerlukan buku bacaan tambahan dalam tugas setiap mahasiswa. Dosen yang mau dengan ringan hati da menyisihkan waktu untuk datang ke perpustakaan atau secara sendirian ataukah bersama sejumlah mahasiswa untuk mencari bahan penggayaan dalam proses pembelajaran adalah suatu perbuatan terpuji dalam membina mahasiswa setiap proses perkuliahan. Sebaliknya dosen yang tak pernah datang membaca ke perpustakaan adalah salah satu kelemahan dosen yang merasa sudah pandai dengan ilmu yang ia miliki. Padahan di perpustakaan setiap tahun buku selalu bertambah, dan tidak menutup kemungkinan materi yang disampaikan dengan mahasiswa di saat perkuliahan berlangsung sudah mulai kurang aktul lagi. Sementara buku-buku baru sudah bertambah disertai temuan-temuan baru yang ada kalanya tidak sesuai lagi dengan teori-teori masa lalu.
Ajakan dosen-dosen kepada mahasiswa untuk datang ke perpustakaan itu adalah sebuah perbuatan “...terpuji...” oleh dosen itu sendiri. Karena siapa lagi yang mengajak mahasiswa untuk datang ke perpustakaan kalau tidak dosen yang menyerukan mahasiswa untuk datang ke perpustkaan. Karena mahasiswa yang kurang memiliki bahan pustaka dan sedikit membaca tentu saja alumnus kita ini akan kurang ilmu pengetahuan dan berakibat juga mutu lulusan kurang berkualitas. Sebab perpustakaan itu adalah jantung dari sebuah pergruan tinggi. Sebaliknya karya dosen yang tak kanal lelah mengajar mahasiswanya untuk belajar di perpustakaan itu adalah suatu perbuatan yang terpuji. Walau tidak mendapat imbalan jasa apa-apa demikian juga mahasiswa yang rajin belajar di perpustakaan tentu akan tampil beda jika ia pada waktunya nanti sebagai seorang sarjana. Sebab alumnus kita yang seperti itu, pasti punya banyak ilmu pengetauannya sebagai akibat ia banyak membaca.
Ramah Layanan
Memang sebuah pelayan itu memerlukan yang ramah. Hal itu tidak sebatas melayani mahasiswa dan dosen tapi siapa saja yang datang ke perpustakaan harus diberikan senyum dan keramahan. Setiap petugas layanan penulis ajak agar memberikan pelayanan sebesar kemampuan yang kita miliki. Mahasiswa dan dosen ataupun tamu lain yang datang ke perpustakaan harus diberikan kesan bahwa perpustakaan itu, adalah milik bersama. Bukan perpustakaan milik pribadi, tapi perpustakaan adalah milik kita bersama.
Orang datang ke perpustakaan pasti ada keperluan yang di rumanya tidak ia miliki. Buku-buku di perpustakaan adalah salah satu bantuan untuk apa yang mereka cari. Jangan tamu datang ke perpustakaan dibiarkan begitu saja. Apa lagi jumlah judul buku yang banyak membuat tamu bengung mencari buku yang ia cari. Oleh sebab itu peran petugas perpustakaan membantu memberikan layanan sehingga buku yang ia cari segera ditemukan, sitamupun muncul rasa kepuasan. Akhirnya dilain waktu mereka akan datang lagi untuk mencari apa yang mereka perlukan.
Keramah tamahan tenaga pelayanan di perpustakaan merukan cerminan untuk baik tidaknya pelayanan yang ada di perpustakaan ini sendiri. Sehingga dengan keramahan pelayanan yang diberikan kepada tamu, dapat meningkatkan harkat dan martabat UPT. perpustakaan itu sendiri.
Dosen dan Buku
Penulis bertanya kepada dosen-dosen muda sesaat mereka diterima sebagai Ass dosen baru, yang pertanyaannya adalah: siapa yang memiliki banyak buku bacaan ? dan siapa yang saat ini, telah memiliki buku di atas 20 judul materi kuliah di jurusan/program studinya?.
Pertanyaan tentang siapa yang memiliki banyak buku bacaan hanya 30 % yang mengangkat tangan dan menyatakan memiliki banyak buku bacaan. Walau masih umum, buku bacaan ini tentu sangat luas. Dan setelah ditanya siapa yang telah memiliki buku di atas 20 judul materi kuliah di jurusan/program studinya hanya 10 % yang mempersiapkan dirinya untuk jadi dosen. Karena sebagian besar lainnya dosen termasuk pilihan paling akhir untuk menjadi pegawai.
Sunggguh kasihan kalau dosen mau mengajar mata kuliah tertentu yang ditunjuk oleh jurusan/program studinya, sang dosen muda ini sana-sini cari buku literaturnya. Ini suatu kemiskinan seseorang dosen, yang miskin bahan belajar. Kalau begitu bagaimana kualitas ilmunya?. Siapa tahu ia tidak pernah secara rutin datang ke perpustakaan dimasa ia mahasiswa. Saran penulis sebaiknya walau tak mampu membeli buku yang terkait dengan jurusan/program studi, saat mahasiswa memperoleh buku-buku dari perpustakaan. Sangat disesalnya kalau mau yudisium atau wisuda baru memiliki kartu perpustakaan. Karena kartu perpustakaan sebagai syarat tidak ada pinjaman buku lagi di perpustakaan.
Cendera Mata
Sebuah peristiwa terjadi yang katanya seumur-umur UPT. Perpustakaan Universitas Palangka Raya belum pernah terjadi. Sebagai kepala perpustakaan tentu mengumpulkan daftar kehadiran mahasiswa masing-masing fakultas. Jadi setiap fakultas disediakan 1 buku agenda kehadiran. Beda dengan tahun sebelumnya. 2 peristiwa menarik minat mahasiswa untuk datang berkunjung ke perpustakaan dari masing-masing fakultas siapa yang paling sering datang dan absen juga mencantumkan nomor HP mereka agar bila berhasil mengantungi kehadiran terbanyak ia mudah dihubungi petugas. Ditahun 2019 tepatnya bulan mei dihari Pendidikan Nasional, mahasiswa kaget sehari sebelumnya mereka ditelpon oleh petugas perpustakaan agar ikut apel bendera, dilengkapi dengan baju seragamnya. Selain itu habis upacara bendera mereka dibawa ke lobi perpustakan untuk menerima sertifikat sebagai penghargaan yang telah ditanda tangani Rektor dan kepala UPT. Perpustakaan. Selain itu mahasiswa menerima sejumlah buku yang sesuai dengan bidang keilmuanya. Misal mahasiswa yang aktif datang dari jurusan biologi. Maka mahasiswa itu diberikan buku biologi. Kehadiran mahasiswa itu baik pinjam, baca buku dan berdiskusi di ruang yang telah disiapkan. Maka mahasiswa itu dianggap sebagai duta baca. Dan ia diberikan buku yang yang sesuai dengan bidang ilmu yang ia tempuh, seperti disebutkan di atas.
Mahasiswa yang mendapat hadiah ini tentu tidak tinggal diam. Yang mengabarkan kepada sesama mahasiswa satu sama lain, membuat temannyapun juga termotivasi untuk datang meminjan, membaca dan berdiskusi di perpustakaan. Betapa gembiranya seorang mahasiswa yang menerima buku yang ada kalanya sulit dicari di toko buku. Apalagi setelah menerima sertifikan dan sebutan Duta Baca oleh rektor dan kepala perpustakaan dan mahasiswa yang dengan bagganya dan meletakan sertifikan yang sudah dibingkai dengan pigura yang cukup mahal membuat namanya terangkat ke permukaan dan kabar gembira itu ia tunjukan kepada semua orang termasuk dosen, keta jurusan dan Dekan fakultasnya.
Peristiwa yang sama juga dilakukan di hari kemerdekaan Repubik Indonesia, 17 Agustus 2019 lalu. Dan dihari kemerdekaan ini para Duta Baca mahasiswa dipanggil satu persatu untuk diwawancara oleh Rektor beserta Wakil-wakil Rektor, tentu mahasiswa yang dijadikan Duta Baca ini betul-betul tersanjung. Apa lagi saat itu dihadapat mahasiswa yang baru yang mengikuti upacara hari kemerdekaan, membuat motivasi tersendiri untuk mahasiswa baru agar mereka datang berkunjung dan menjadi angggota perpustakaan di Universitasnya.
Layanan Meningkat
Dari 2 peristiwa di tahun 2019 ini sangat terlihat minat mahasiswa untuk berkunjung ke perpustakaan, apakah hanya membaca, pinjam buku ataukah berdiskusi di ruang yang disediakan. Ternyata ada peningkatan yang sangat signifikan dari masa sebelumnya. Bahkan mahasiswa sambil menunggu jam perkuliahan menyempatkan datang ke perpustakaan karena belum waktunya, bahkan para petugas pelayanan kita masih belum datang mereka sudah menunggu di loby untuk tujuan pinjam buku yang mereka perlukan.
Adapun 2 peristiwa di atas adalah pertama: hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) yaitu pada tanggal 2 Mei dan Kedua: hari Kemerdekaan RI tanggal 17 Agustus 2019 lalu. Dan daya tarik untuk meningkatkan minat mahasiswa ke perpustakaan itu, tentu berbagai macam yang satu dengan yang lain bisa juga sama dan bisa pula beda tentunya. Karena perpustakaan di negeri kita sangat banyak, penulis menyadari tentu pasti sudah ada kesamaan ada pula perbedaan.
Perpustakaan Digital
Salah satu contoh penulis mencoba dalam rangka meningkatkan layanan digital, UPT. Perpustakaan Universitas Palangka Raya mulai tanggal 25 Mei 2019 Rektor melakukan peluncuran pertamanya dalam mempermudah layanan mahasiswa dan dosen sudah mulai memanfaatkan hal itu. Tapi disisi lain tentu belum seluruhnya mahasiswa dan dosen familiar dengan peralatan supercangggih saat sekarang (pada masanya). Sehingga para mahasiswa dan dosen masih lebih banyak menggunakan cara lama dan datang ke perpustakaan untuk memperoleh data yang mereka butuhnya.
Permintaan yang sering datang adalah para mahasiswa yang ingin tahu, melalui internet. Namun hal ini masih sangat terbatas. Selama ini kita bekerjasama antara orang dalam dengan pusat layanan UPT TIK (Teknologi Informasi dan Komunikasi) dan dengan pihak luar kepada pihak Telkom. Memang dengan TIK ini, masih diperlukan peningkatan kualitas peralatan sehingga bisa menjangkau areal kampus. Selama ini hanya di sekitar kantor perpustakaan, kalau hal ini ditingkatkan dapat jangkau dari fakultas-fakultas yang ada di sekitar perpustakaan itu. Ini yang sangat diharapkan. Para mahasiswa dalam harapan bersama disiapkan tempat-tempat duduk yang teduh bisa membuka internet guna kepentingan mereka. Artinya tidak perlu untuk mereka berjubel membuka internet pada di lantai tertentu pada perpustakaan itu. Tapi bisa pemakai sudah banyak bisa dibuka pada kursi yang disiapkan dan mahasiswa bisa membuka internet di tempat-tempat yang disediakan apakah siang ataukah petang walau jam kerja perpustakaan sudah tutup, tapi pelayanan internet masih dapat dipakai.
Kehadiran perpustakaan Digital adalah dambaan banyak orang. namun dengan hadirnya perpustakaan digital ini dapat memerikan era baru di zaman milinial dewasa ini. Para mahasiswa mahasiswa dan dosen harusnya dengan kehadiran era digital ini dapat termotivasi untuk berpartisipasi dan menyambut kehadiran teknologi baru ini. Mari kita sambut dengan penuh kegembiraan.
Skripsi, Thesis dan Disertasi
Dalam rangka meningkatkan pubikasi ke dunia luar, mulai bulan agustus 2019 dengan mencoba bekerjasama dengan fakultas yang paling besar jumlah alumnusnya yaitu: Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan ternyata berhasil. Jadi setiap mahasiswa yang sudah menyelesaikan Skripsi, Thesis dan Disertasi diminta sub copynya untuk diserahkan dengan CD dan sudah dimulai dipublikasikan. Namun masih terkendala kapasitas paralatan yang sangat terbatas.
Dengan demikan sudah disusun juklak materi yang akan ditayangkan apakah seluruh dari judul hingga daftar pustaka, ataukah pada bagian-bagian tertentu saja. Dan bagaimana hakciptanya nanti agar dapat dipertanggung jawabkan.
Tumpukan Skripsi
Saat pertama kali penulis datang ke perpustakaan sudah melihat tumpukan skripsi di lantai 5 yang muncul dalam pemikiran penulis bahwa diapakan skripsi mahasiswa yang ditempatkan sebagai difosit karya ilmiah yang tak berguna. Kenapa tidak dtempatkan disebuah bangunan tersendiri agar tidak terjadi mubazir seperti itu. Kenapa demikian karena skripsi yang jumlahnya ribuah buah diletakan di lantai paling atas, apakah tidak disuatu saat terjadi runtuh karena faktor keberatan.
Maunya penulis skripsi yang banyak itu dibangunkan sebuah bangunan yang menampung karya ilmiah mahasiswa itu sebaggai kekayaan intelektual mereka. Untuk menghindari faktor keruntuhan disebabkan beratnya beban kekayaan intelektual itu, alanggkah indahnya jika sekiranya disediakan tempat pada bangunan tertentu untuk menyimpan Hak intelektual Indonesia itu, skripsi, thesis dan disertasi ditempatkan dibanggunan tersendiri. Sementara ruang tersebut bisa dijadikan ruang diskusi dan rapat-rapat. Agar di lantai tersebut sangat berat menyimpan rak yang berisi karya ilmiah mahasiswa itu. Dan dketahui bersama di Universitas Palangka Raya dilaksanakan wisuda 3 kali dalam setahun, jika mahasiswa yang diluluskan hampir 2000 orang, maka beban yang disandang di atas akan tambah berat setiap 4 bulan sekali. Sehingga beban yangg berat di atas itu bisa menghindari dari kerusakan.
Lokasi Perpustakaan
Istilah jauh dekat sebenarnya di jaman teknologi digital sekarang membuat perpustakaan ada di rumah kita. Kenapa demikian? Karena asalkan kita punya wifi, kita dapat membuka buku yang tersimpan di perpustakaan. Jadi buku-buku yang tersedia serta disimpan di perpustakaan walau jaraknya nan jauh di sana, tapi dengan kecanggihan teknologi dewasa ini, kita bisa dapat membaca tulisan-tulisan ilmiah tersebut.
Jadi dengan demikian perpustakaan walau dengan jarak nanjauh di sana, tapi masih sangat penting bagi kalanggan mahasiswa dan dosen untuk mencari data dan masyarakat untuk kepentingan ilmiah.
Perpustakaan Unsiayah
Sebelum perpustakan di ujung barat kepulawan RI yakni Universitas Syeh Kuala Banda Aceh, yangg memiliki 2 tangga dan 2 lips sehingga memberikan kenyamanan bagi mahasiswa dan dosen serta karyawan baik untuk naik maupun turun.
Perbedaan dengan kebanyakan perpustakaan perguruan tinggi layanan perguruan tingginya. Untuk sebagian besar pergguruan tinggi punya mahasiswanya warga negara Indonesia sedangkan di Banda Aceh banyak mahasiswa berasal dari dari negeri tetangga seperti malaysia dan singapora.
Jam Pelayanan
Dengan banyaknya mahasiswa dan tentu saja pelayanan tidak cukup kalau dilaksanakan dari jam 08.00 – 16.00 maka pelayanan ditambah berangsung jam 21.00 sehingga pelayanan dapat membantu mahasiswa yang seharian di siang hari kuliah. Maka mereka mencari buku di malam hari ke perpustakaan pada jam-jaam yang ditentukan.
Kesimpulan
1.Penulis mengajak para dosen agar mau memotivasi mahasiswanya untuk datang ke datang berkunjung perpustaaan. Tapi bukan hanya berkunjung tapi juta meminjam buku, membaca dan berdiskusi di tempat-tempat yang telah disediakan. Sebagai upaya mencerdaskan kehidupan bangsa di era digital sekarang.
2.Penulis mencoba mengurai dan menyampaikan keadaan yang sebenarnya tentang perpustakaan sebagai upaya saling tukar-menukar informasi tertulis kepada sesama tentang perpustakaan perguruan tinggi di tanah air.
3.Penulis mengajak agar karyawan di perpustakaan dapat memberikan layanan yang ramah kepada semua tamu, sehingga penggunjung tidak lagi malas untuk datang ke perpustakaan. Akhirnya setiap pengunjung tidak akan jera berkunjung ke perpustakaan dan dengan terjadinya pemikiran bahwa perpustakaan tidak lagi menggoleksi buku-buku lama dan kurang menyenangkan. Tapi terdapat buku-buku baru dan layanan baru seperti fasilitas digital.
4.Penulis berupaya menggajak para mahasiswa dan dosen untuk menyambut kehadiran era digital di dunia perpustakaan membuktikan bahwa era digital adalah sebuah cakrawalan baru balam dunia pendidikan.
Keterangan:
Penuis adalah: H.M.Norsanie Darlan, kepala UPT. Perpustakaan Universitas Palangka Raya.
MELIRIK PENGEMBANGAN MANAJEMEN PERPUSTAKAAN
MELIRIK PENGEMBANGAN MANAJEMEN PERPUSTAKAAN
PERGGURUAN TINGGGI DI ERA DIGITAL
Oleh :
H. M. Norsanie Darlan
Peserta Fucos Group Discussion Universitas Airlanggga
15 – 16 Oktober 2019
Pendahuluan
Tulisan ini diturunkan dengan menyadari sebelumnya untuk diketahui bahwa penulis tidak berlatar belakang pustakawan. Namun karena ditugasi hal ini dan turut menghadiri Fucos Group Discussian (FGD) di perpustakaan Universitas Airlangga, maka penulis mencoba mengemukakan sekelumit pengalaman apa saja yang menjadi permasalah yang dirasakan selama bertugas di UPT. Perpustakaan Universitas Palangka Raya.
Dalam pengembangan manajemen perpustakaan perguruan tinggi di era digital ini, kita tentu turut mencurahkan pikiran demi pengembangan untuk menuju kemajuan perguruan tinggi. Sebagai tantangan, jika kurang memperhatian terhadap berbagai kemajuan UPT. Perpustakaan di perguruan tingggi lain, membuat perpustakaan kita tertinggal. Lebih-lebih kalau manager. perguruan tinggi kebetulan belum banyak tahu dan hanya menganggap sebuah perpustakaan perguruan sebagai pelengkap saja, namun sekarang hal ini sangat memerlukan tenaga yang kreatif tentunya.
Perpustakaan sebagai jantung di sebuah perguruan tinggi seharusnya mendapatkan perhatian, terlebih dalam mempersiapkan akreditasi. Jika sebuah perpustakaan yang tidak mendapat perhatian dengan segala kurangannya, tentu menyeret akan kualitas lulusan kita sendiri. Apalagi jika dosen-dosen belum pernah memberikan penugasan ke perpustakaan kepada mahasiswanya, membuat mahasiswanya akan dangkal pemilikan pengetahuan pada bidang ilmunya. Harapan kita semua, para pimpinan perguruan tinggi yang mengharap alumnusnya bermutu, tentu perpustakaan juga harus turut diperhatikan, terlebih jumlah buku yang memadai, pelayanan tenaga pustakawan selalu senyum dan ramah. Tentu mahasiswa/ mahasiswi akan senang untuk datang meminjam, membaca buku dan berdiskusi di perpustakaan. Apalagi buku yang tersedia cukup, maka hasil lulusannya tidak meragukan semua orang. Sebaliknya jika buku serta tidak tersedia pelayanan yang kurang menyenangkan, membuat perpustakaan kurang diminati mahasiswa dan dosen untuk datang ke perpustakaan. Namun harapan kita semua dalam pelayanan di perpustakan itu adalah supaya ramah layanan.
Tujuan Penulisan
Adapun tujuan dari penulisan artikel ini adalah:
1.Ingin memenuhi permintaan pihak panitia FGD agar membuat sebuah karangan /tulisan/artikel guna dipublikasikan di kalangan pustakawan di tanah air.
2.Ingin menyampaikan keadaan yang sebenarnya yang ada di perpustakaan yang kita tempati sebagai upaya saling tukar menukar informasi sesama tentang perpustakaan perguruan tinggi negeri di tanah air.
3.Ingin memberikan infomasi apa sebenarnya kelebihan dan kekurangan yang kita miliki di masing-masing perpustakaan di tanah air.
Bukan Pustakawan
Penulis adalah bukan seorang pustakawan yang berpikir bagaimana mengklasifikasikan tumpukan buku berdasar teori Jonh Dewey, masih belum banyak tahu. Karena bukan ahlinya hal ini akibat proses SK menduduki kepala UPT Perpustakaan merupakan masalah yang sangat berat penulis pikul, karena beda keilmuan sangat sulit rasanya untuk dipecahkan. Apalagi status akreditasi perpustakaan saat itu tidak terakreditasi sama sekali. Sementara bagaimana cara memberikan talog buku yang benar belum tahu.
Dihari pertama penulis meminta seluruh karyawan tua muda, PNS dan Pengawai Kontrak yang bekerja di perpustakaan itu, untuk berkumpul disaat waktu mereka harusnya istirahat, dengan konsekwensi makan siang bersama dengan menugaskan seseorang untuk mencari nasi kotak dan makan siang bersama. Penulis ingin tahu secara persis kenapa UPT Perpustakaan Universitas itu jadi tidak terakreditasi, sehingga informasi inilah dijadikan bahan untuk melakuan perubahaan.
Sekedar retrospektif kebelakang dengan memperhatikan belumnya terakreditasi UPT Perpustakaan maka dalam bulan yang sama sejumlah karyawan dibentuk tim untuk menyusun/mengisi borank akreditasi dan mengantarnya ke perpustakaan nasional di Jakarta. Ternyata borank itu juga diserahkan dengan Dinas perpustakaan provinsi supaya diusulkan oleh Dinas Perpustakaan Provinsi mengusulkan ke Jakarta agar gedung yang penuh buku di Kampus UPR itu, segera terakreditasi. Sehingga dampak dari usulan itu, datanglah tim asesor melakukan visitasi ke UPT Perpustakaan Universitas Palangka Raya (UPR) di kawasan Kalimantan Tenggah itu.
Pada awal tahun 2019 tim asesor datang dan melakukan visitasi, akhirnya dengan mengucap syukur Alhamdulillah, perpustakaan kami mendapat penilaian B. Sebuah anugrah dan berkat kerja keras kawan-kawan (karyawan) dalam tim kami, dalam upaya untuk melakukan perbaikan ke masa depan. Sebab penulis beranggapan kalau perpustakaan tidak terakreditasi maka bagaimana pandangan mahasiswa dan dosen serta masyarakat umum melihat perpustakaan kita, walau gedungnya paling tinggi di kampus Tunjung Nyaho Palangka Raya. Selain itu, tentu untuk usulan program studi dan jurusan fakultas-fakultas yang mau akreditasi. Tentu status perpustakan dipertanakan. Sehingga penulis yang dibantu tim berupaya agar terakreditasi. Dan dengan mengucap syukur kepada Yang Maha Esa, bahwa perjuangan dan kerja keras tim kami, ternyata berhasil menjadi kenyataan.
Permasalahan
Kata best practice dalam permasalahan FGD di surabaya digunakan untuk mendeskripsikan/ menguraikan “pengalaman terbaik” dari keberhasilan, termasuk dalam mengatasi berbagai masalah dalam lingkungan tertentu. Jadi Memang tidak ada disemuan pekerjaan yang tidak menemukan masalah. Apakah masalah itu kecil-kecilan atau masalah yang cukup berat dalam dunia pustaka. Namun ada pula masalah itu yang mendatangkan nikmat bagi seseorang yang menekuninya. Penulis selama setahun lebih di tempatkan rektor di UPT. Perpustakaan dikarenakan seringkali menulis baik dalam bentuk artikel maupun bentuk buku kecil sederhana, demikian juga berkomentar di media cetak baik pusat maupun daerah. Sehingga terpikir bagi penulis dengan tumpukan buku yang terdiri sejumlah lemari di rumah itu sebaiknya agar dibaca banyak orang akan dipindahkan saja ke UPT. Perpustakaan universitas Palangka Raya. Karena dulu waktu di rumah menulis menyediakan tempat sebagai Taman Bacaan Masyarakat (TBM). Namun rupanya taman bacaan itu, tidak relevan materinya bagi mereka yang datang hanya untuk belajar membaca. Karena tulisan yang dimuat dalam buku-buku bacaan itu lebih cenderung untuk kalangan mahasiswa atau SLTA ke atas. Secara bebetulan saya melihat di berbagai ruangan di perpustakaan masih ada ruangan yang kosong dan mampu di muat 5-6 lemari besi untuk buku. Sehingga bagi mahasiswa yang ingin memperdalam bidang keilmuan pendidikan masyarakat silahkan membacara di ruang tersebut.
Buku-buku itu sebagian sekitar hampir 200 judul hasil karya tulis penulis selama menyandang guru besar bidang Pendidikan luar sekolah atau pendidikan non formal dan kini disebut juga pendidikan masyarakat, sejak tahun 2001. Sebab hampir setiap bulan diminta oleh masyarakat dan pemerintah daerah memapar makalah. Demikian juga dalam sejumlah pertemuan nasional pada bidang keilmuan yang sama. Dan makalah yang ditulis, diupayakan disusun dalam bentuk buku dengan jumlah terbatas. Hasil dari permintaan memberi ceramah itu (honor) yang diterima selalu disisihkan untuk biaya percetakan, maka sekali memberi ceramah, seminar, kuliah umum, dan sejeniskan dijadikan buku kecil dan sederhana. Untuk diketahui penulis sudah memiliki lebih dari 2000 ekseplar selain buku-buku tulisan sendiri.
Pekerjaan sejak menyandang gelar guru besar membuat penulis harus menitif sebagian ilmu penggetahuan yang dimiliki nanti akan memberikan manfaat bukan saja bagi mahasiswa di jurusan/program studi pendidikan luar sekolah/pendidikan masyarakat, tapi juga mereka sedang menimba ilmu di proggram stranta satu (S-1) ataupun (S-2). Dan tidak menutup kemunggkinan mereka mahasiswa (S-3).
Tujuan memempatkan buku di perpustakaan itu adalah selain disebutkan di atas, juga sambil mengajak siapa tahu ada dosen lain yang punya buku lebih banyak mau menyimpan karyanya atau koleksinya yang ada di rumah agar dibaca mahasiswa lain selain buku-buku keleksi yang ada di perpustakaan universitasnya sendiri.
Metoda
Dalam karya tulis ini, penulis menggunakan metoda pendekatan deskriptif dengan bahan dan cara yang seminimal mungkin di disekitar perpustakaan itu sendiri, caranya mewawancarai sejumlah karyawan/karyawati dan mendukomentasi serta hasil wawancara itu dianalisis. dengan apa adanya serta mengurai satu demi satu dari sekelumit yang ada dan membedakan dan kesamaan antara perpustakaan yang ada dengan sejumlah perpustakaan yang dijadikan sasaran. tentu ada satu sama yang lain terdapat perbedaan tentunya.
Dari hasil analisis tersebut diuraikan sesuai dengan yang diharapkan dalam tulisan ini, sehingga dapat dimanfaatkan untuk penulisan berikutnya.
Pengalaman sebelum di perpustakaan
Sunggguh menakjubkan, peristiwa sebagai akademisi yang kebetulan puluhan tahun berggulat di luar dunia pustaka, memang pada awal menerima surat tugas hampir setengah bulan penulis tidak ada minat turun ke perpustakaan. Ada perasaan di hati wah apakah ini saya dibuang ?. Ataukah masa suram penulis akan tiba, setelah pernah duduk di eselon II / a baik di kampus maupun di luar kampus (pemerintah daerah provinsi Kalimantan Tengah). Tiba-tiba seorang karyawan perpustakaan menjemput saya yang menduga, saya tidak menerima SK. Sebab saat pelantikan penulis sedang berada di Semarang. Ajakan itu penulis terima, namun apa yang penulis perbuat, sebab penulis bekerja bukan ahlinya, dan takut kalau terjadi di perpustakaan yang lebih tidak populer lagi. Karena perpustakaan itu harus dikelola oleh mereka yang berlatar belakang ilmu perpustakaan, sedangkan penulis bukan seorang pustakawan.
Ramah Layanan
Memang sebuah pelayan itu memerlukan yang ramah. Hal itu tidak sebatas melayani mahasiswa dan dosen tipi siapa saja yang datang ke perpustakaan harus diberikan senyum dan keramahan. Setiap petugas layanan penulis ajak agar memberikan pelayanan sebesar kemampuan yang kita miliki. Mahasiswa dan dosen ataupun tamu lain yang datang ke perpustakaan harus diberikan kesan bahwa perpustakaan itu, adalah milik bersama. Bukan perpustakaan milik pribadi, tapi perpustakaan adalah milik kita bersama.
Orang datang ke perpustakaan pasti ada keperluan yang di rumanya tidak ia miliki. Buku-buku di perpustakaan adalah salah satu bantuan untuk apa yang mereka cari. Jangan tamu datang ke perpustakaan dibiarkan begitu saja. Apa lagi jumlah judul buku yang banyak membuat tamu bengung mencari buku yang ia cara. Oleh sebab itu peran petugas perpustakaan membantu memberikan layanan sehingga buku yang ia cari segera ditemukan, sitamupun muncul rasa kepuasan. Akhirnya dilain waktu mereka akan datang lagi untuk mencari apa yang mereka perlukan.
Keramah tamahan tenaga pelayanan di perpustakaan merukan cerminan untuk baik tidaknya pelayanan yang ada di perpustakaan ini sendiri. Sehingga dengan keramahan pelayanan yang diberikan kepada tamu, dapat meningkatkan harkat dan martabat UPT. perpustakaan itu sendiri. Disamping itu para tamu akan termotivasi untuk datang lagi ke perpustakaan.
Cendera Mata
Sebuah peristiwa terjadi yang katanya seumur-umur UPT. Perpustakaan Universitas Palangka Raya belum pernah terjadi. Sebagai kepala perpustakaan tentu mengumpulkan daftar kehadiran mahasiswa masing-masing fakultas. Jadi setiap fakultas disediakan 1 buku agenda kehadiran. Beda dengan tahun sebelumnya. 2 peristiwa menarik minat mahasiswa untuk datang berkunjung ke perpustakaan dari masing-masing fakultas siapa yang paling sering datang dan absen juga mencantumkan nomor HP mereka agar bila berhasil mengantungi kehadiran terbanyak ia mudah dihubungi petugas. Ditahun 2019 tepatnya bulan mei dihari Pendidikan Nasional, mahasiswa kaget sehari sebelumnya mereka ditelpon oleh petugas perpustakaan agar ikut apel bendera, dilengkapi dengan baju seragamnya. Selain itu habis upacara bendera mereka dibawa ke lobi perpustakan untuk menerima sertifikat sebagai penghargaan yang telah ditanda tangani Rektor dan kepala UPT. Perpustakaan. Selain itu mahasiswa menerima sejumlah buku yang sesuai dengan bidang keilmuanya. Misal mahasiswa yang aktif datang dari jurusan biologi. Maka mahasiswa itu diberikan buku biologi. Kehadiran mahasiswa itu baik pinjam, baca buku dan berdiskusi di ruang yang telah disiapkan. Maka mahasiswa itu dianggap sebagai duta baca. Dan ia diberikan buku yang yang sesuai dengan bidang ilmu yang ia tempuh, seperti disebutkan di atas.
Mahasiswa yang mendapat hadiah ini tentu tidak tinggal diam. Yang mengabarkan kepada sesama mahasiswa satu sama lain, membuat temannyapun juga termotivasi untuk datang meminjan, membaca dan berdiskusi di perpustakaan. Betapa gembiranya seorang mahasiswa yang menerima buku yang ada kalanya sulit dicari di toko buku. Apalagi setelah menerima sertifikan dan sebutan Duta Baca oleh rektor dan kepala perpustakaan dan mahasiswa yang dengan bagganya dan meletakan sertifikan yang sudah dibingkai dengan pigura yang cukup mahal membuat namanya terangkat ke permukaan dan kabar gembira itu ia tunjukan kepada semua orang termasuk dosen, keta jurusan dan Dekan fakultasnya.
Peristiwa yang sama juga dilakukan di hari kemerdekaan Repubik Indonesia, 17 Agustus 2019 lalu. Dan dihari kemerdekaan ini para Duta Baca mahasiswa dipanggil satu persatu untuk diwawancara oleh Rektor beserta Wakil-wakil Rektor, tentu mahasiswa yang dijadikan Duta Baca ini betul-betul tersanjung. Apa lagi saat itu dihadapat mahasiswa yang baru yang mengikuti upacara hari kemerdekaan, membuat motivasi tersendiri untuk mahasiswa baru agar mereka datang berkunjung dan menjadi angggota perpustakaan di Universitasnya.
Layanan Meningkat
Dari 2 peristiwa di tahun 2019 ini sangat terlihat minat mahasiswa untuk berkunjung ke perpustakaan, apakah hanya membaca, pinjam buku ataukah berdiskusi di ruang yang disediakan. Ternyata ada peningkatan yang sangat signifikan dari masa sebelumnya. Bahkan mahasiswa sambil menunggu jam perkuliahan menyempatkan datang ke perpustakaan karena belum waktunya, bahkan para petugas pelayanan kita masih belum datang mereka sudah menunggu di loby untuk tujuan pinjam buku yang mereka perlukan.
Adapun 2 peristiwa di atas adalah pertama: hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) yaitu pada tanggal 2 Mei dan Kedua: hari Kemerdekaan RI tanggal 17 Agustus 2019 lalu. Dan daya tarik untuk meningkatkan minat mahasiswa ke perpustakaan itu, tentu berbagai macam yang satu dengan yang lain bisa juga sama dan bisa pula beda tentunya. Karena perpustakaan di negeri kita sangat banyak, penulis menyadari tentu pasti sudah ada kesamaan ada pula perbedaan.
Perpustakaan Digital
Dalam rangka meningkatkan layanan digital, UPT. Perpustakaan Universitas Palangka Raya mulai tanggal 25 Mei 2019 Rektor melakukan peluncuran pertamanya dalam mempermudah layanan mahasiswa dan dosen sudah mulai memanfaatkan hal itu. Tapi disisi lain tentu belum seluruhnya mahasiswa dan dosen familiar dengan peralatan supercangggih itu. Sehingga para mahasiswa dan dosen masih lebih banyak menggunakan cara lama dan datang ke perpustakaan untuk memperoleh data yang mereka butuhnya.
Permintaan yang sering datang adalah para mahasiswa yang ingin tahu, melalui internet. Namun hal ini masih sangat terbatas. Selama ini kita bekerjasama antara orang dalam dengan pusat layanan UPT TIK (Teknologi Informasi dan Komunikasi) dan dengan pihak luar kepada pihak Telkom. Memang dengan TIK ini, masih diperlukan peningkatan kualitas peralatan sehingga bisa menjangkau areal kampus. Selama ini hanya di sekitar kantor perpustakaan, kalau hal ini ditingkatkan dapat jangkau dari fakultas-fakultas yang ada di sekitar perpustakaan itu. Ini yang sangat diharapkan. Para mahasiswa dalam harapan bersama disiapkan tempat-tempat duduk yang teduh bisa membuka internet guna kepentingan mereka. Artinya tidak perlu untuk mereka berjubel membuka internet pada di lantai tertentu pada perpustakaan itu. Tapi bisa pemakai sudah banyak bisa dibuka pada kursi yang disiapkan dan mahasiswa bisa membuka internet di tempat-tempat yang disediakan apakah siang ataukah petang, bahkan malam hari. Walau jam kerja perpustakaan sudah tutup, tapi pelayanan internet masih dapat dipakai.
Skripsi, Thesis dan Disertasi
Dalam rangka meningkatkan pubikasi ke dunia luar, mulai bulan agustus 2019 dengan mencoba bekerjasama dengan fakultas yang paling besar jumlah alumnusnya yaitu: Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan ternyata berhasil. Jadi setiap mahasiswa yang sudah menyelesaikan Skripsi, Thesis dan Disertasi diminta sub copynya untuk diserahkan dengan CD dan sudah dimulai dipublikasikan. Namun masih terkendala kapasitas paralatan yang sangat terbatas. Dalam penyerahan CD tersebut bukan asal diserahkan, tapi alumnus kita segera membukan dan berdiskusi walau hanya sebentar, sambil melihat apakah copy an skripsi, thesis ataukah disertasi itu betul-betul lengkap termasuk siapa pembimbing mahasiswa itu. Jika sudah lengkap baru si alumnus kita boleh meninggalkan petugas. Sebab kalau terjadi kekuranggan sulit mencari si pemilik hak cipta itu untuk perbaikan.
Dengan demikan sudah disusun juklak materi yang akan ditayangkan apakah seluruh dari judul hingga daftar pustaka, ataukah pada bagian-bagian tertentu saja. Dan bagaimana hakciptanya nanti agar dapat dipertanggung jawabkan.
Tumpukan Skripsi
Saat pertama kali penulis datang ke perpustakaan sudah melihat tumpukan skripsi di lantai 5 yang muncul dalam pemikiran penulis bahwa diapakan skripsi mahasiswa yang ditempatkan sebagai difosit karya ilmiah yang tak berguna. Kenapa tidak dtempatkan disebuah bangunan tersendiri agar tidak terjadi mubazir seperti itu. Kenapa demikian karena skripsi yang jumlahnya ribuah buah diletakan di lantai paling atas, apakah tidak disuatu saat terjadi runtuh karena faktor keberatan.
Maunya penulis skripsi/thesis, disertasi yang banyak itu, sebaiknya dibangunkan sebuah bangunan yang menampung karya ilmiah mahasiswa itu sebaggai kekayaan intelektual mereka. Untuk menghindari faktor keruntuhan disebabkan beratnya beban kekayaan intelektual itu, alangkah indahnya jika sekiranya disediakan tempat pada bangunan tertentu untuk menyimpan Hak intelektual Indonesia itu, skripsi, thesis dan disertasi ditempatkan dibanggunan tersendiri. Sementara ruang tersebut bisa dijadikan ruang diskusi dan rapat-rapat. Agar di lantai tersebut sangat berat menyimpan rak yang berisi karya ilmiah mahasiswa itu. Dan dketahui bersama di Universitas Palangka Raya dilaksanakan wisuda 3 kali dalam setahun, jika mahasiswa yang diluluskan hampir 2000 orang, maka beban yang disandang di atas akan tambah berat setiap 4 bulan sekali. Sehingga beban yang berat di atas itu bisa menghindari dari kerusakan.
Lokasi Perpustakaan
Istilah jauh dekat sebenarnya di jaman teknologi digital sekarang membuat perpustakaan ada di rumah kita. Kenapa demikian? Karena asalkan kita punya wifi, kita dapat membuka buku yang tersimpan di perpustakaan. Jadi buku-buku yang tersedia serta disimpan di perpustakaan walau jaraknya nan jauh di sana, tapi dengan kecanggihan teknologi dewasa ini, kita bisa dapat membaca tulisan-tulisan ilmiah tersebut.
Jadi dengan demikian perpustakaan walau dengan jarak nanjauh di sana, tapi masih sangat penting bagi kalanggan mahasiswa dan dosen untuk mencari data dan masyarakat untuk kepentingan ilmiah.
Kesimpulan
1.Tulisan ini tidak lain adalah sebuah permintaan pihak panitia penyelenggara Fucos Group Discussion (FGD) di Universitas Airlanggga yang menginginkan setiap peserta menulis sebuah artikel yang tujuan akhirnya guna dipublikasikan untuk kalangan pustakawan di tanah air.
2.Tulisan ini adalah sekelumit mengangkat keadaan sebenarnya yang ada di perpustakaan di mana tempat penulis berada sebagai upaya saling tukar menukar informasi sesama tentang petugas perpustakaan perguruan tinggi negeri di tanah air.
3.Kesimpulan dari tulisan ini adalah untuk memberikan infomasi apa yang sebenarnya kelebihan dan kekurangan yang kita miliki di masing-masing perpustakaan di tanah air.
Keterangan:
Penuis adalah: H.M.Norsanie Darlan, kepala UPT. Perpustakaan Universitas Palangka Raya.
Langganan:
Postingan (Atom)