Minggu, 08 Juli 2012

Kepeloporan Pemuda Harus Ditingkatkan

                                                                     0leh:
                                                          H.M.Norsanie Darlan


Pemuda Harus Jadi Pelopor
Bila kita ingin tahu apa sebenarnya arti Pemuda menurut Hasan Alwy (2000; 847) dan Poerwadarmita (1986) adalah:”...orang  laki-laki, remaja, taruna, yang bakal menjadi pemimpin....”. Pemuda di sini menurut pemulis tidak sebatas kaum lelaki. Tapi kalangan pemudi sekalipun juga masuk. Disadari atau tidak bahwa pemuda berperan sebagai pengganti generasi sebelumnya. Pemuda adalah menjadi sasaran pemikir agar lebih baik dari masa sebelumnya. Karena di pundak pemudalah masa depan bangsa.
Sedangkan apa itu arti pelopor menurut Hasan Alwy (2000;846) adalah:”...(1) yang berjalan terdahulu; yang berjalan di depan perarahakan dan sebagainya; (2) perintis jalan; pembuka jalan; pionir; dia dipandang orang sebagai yang yang paling terdepan dalam gerak pembaharuan (tanpa memperhitungkan resiko yang akan dialami)...”.  Dengan demikian pelopor tidak lain adalah orang yang berani mengambil resiko dalam berbuat mendahului pekerjaan orang lain, demi kepentingan pembangunan bangsa dan negara.
Dengan demikian pemuda pelopor adalah tidak lain, para pemuda yang punya kreativitas tinggi dalam berbagai kegiatan pembangunan. Misalnya seorang pemuda membuat berbagai kegiatan dalam menjelang HUT proklamasi, membuat kreasi baru dalam pembangunan, seperti: membuat karya cipta tertentu dalam pemanfaatan apa saja di lingkungan alam  sekitar. Misalnya memanfaatkan tenaga air menjadi listrik, tenaga angin menjadi sumber energi listrik, sinar matahari menjadi tenaga listrik, limbah sabut kepala jadi sapu, dll. Inilah kepeloporan pemuda. Dan banyak lagi masalah lain yang yang dipelopori pemuda. Apakah atas usahanya sendiri, ataukah bersama orang lain. Di Kalimantan Tengah sumber daya alam terkandung di dalam perut buminya banyak hal salah satunya ”batu bara”. Kenapa tidak ada kepeloporan pemuda membuat batu bara sebagai pemanas air agar mendidih dan memimbulkan uap menjadi tenaga listrik dsb. 

Bila kita mencari ”pemuda Pelopor”, Kalau perlu kita akan melibatkan seluruh lapisan masyarakat. Agar betul-betul didapatkan hasil yang baik. Menurut Budi Setiawan (2010) adalah, tujuan program Pemuda Pelopor ini, untuk  mengapreasi keberadaan pemuda Indonesia yang memiliki peran strategis sebagai pelopor dalam bidang pembangunan sosial kemasyarakatan, dan memiliki potensi memberikan motivasi dan inspirasi kepada masyarakat. ”Untuk itu pemerintah terus mendorong untuk mewujudkan pemuda yang memiliki kemampuan menjadi pelopor...”.
Sementara itu, peraih Pemuda Pelopor menurut: Huala Siregar  (1991) ia mendefinisikan pemuda pelopor sebenarnya manusia merdeka, berkarya tanpa pamrih. Karya atau tindakan yang mereka lakukan itu datangnya dari Yang Maha Kuasa. “...Mereka melakukan semua itu tanpa berharap sesuatu. Jadi mari kita betul-betul menyeleksi sehingga kita menemukan pemuda merdeka dan berkarya tanpa pamrih...”. 
Sebelumnya, Staf Khusus Menpora Lalu Wildan (1991) mengusulkan, agar penilaian Pemuda Pelopor tidak hanya dibatasi pada 4 bidang saja masing-masing kewirausahaan, pendidikan, teknologi tepat guna serta seni budaya dan pariwisata), karena saat ini ada perubahan-perubahan permasalahan di masyarakat dibanding tahun-tahun sebelumnya. ”Misalnya saya mengusulkan ada pelopor bidang perubahan iklim, pertanian, informasi teknologi atau pemuda relawan bencana,” katanya.

Pendidikan Mana Untuk Pemuda/Remaja
Perlu mengetahui pendidikan mana yang dapat membantu kalangan pemuda/remaja yang secara kebetulan, karena sesuatu lain hal belum sempat mengeyam pendidikan formal. Saat sekarang ternyata faktor usia, ternyata tidak biasa lagi belajar di pendidikan formal. Maka mari kita cari pendidikan lain seperti pendidikan non formal.
Bila kita merasakan ketinggalan dalam dunia pendidikan sementara kawan seusia kita ternyata  sudah berpendidikan dan berpredikat sarjana. Maka para pemuda harus belajar. Bagaimana kalau usia sudah tidak dapat bersekolah. Untuk itu, pemerintah telah menetapkan jalur pendidikan luar sekolah atau istilah pendidikan nonformal akan dapat membatu para pemuda untuk memperoleh pendidikan melalui pendidikan nonformal. Apakah ia di pusat kegiatan belajar masyarakat (PKBM) ataukah di kelompok belajar lainnya. ’karena PKBM cukup membantu para pemuda yang putus sekolah dan sudah berusia untuk belajar apakah paket A, B ataukah paket C.  

Kreativitas Pemuda Pelopor
Kreativitas pemuda yang sangat diperlukan oleh masyarakat, saat mereka bertugas melaksanakan tugasnya atau hal-hal lain ada di wilayah Kalimantan Tengah, dunia kewirausahaan sungguhlah beragam. Para pemuda sangat bagus kalau punya kreativitasnya saat di lapangan. Walau menanamkan nilai kewirausahaan, sungguhlah tidak semudah membalik telapak tangan. Namun demikian, seorag pemuda ia harus punya konsep yang secara spontan muncul di lapangan, kalau ia mereka memperhatikan sumber daya alam di sekitar desa itu bisa diolah dan dijadikan sumber penghasilan masyarakat.
Sumber daya alam yang berlimpah, membuat manusia manja. Tapi kalau sumber daya manusia yang berkualitas, walau sumber daya alam yang terbatas, kalau SDMnya baik. Maka apa yang mereka hadapi di sekitar alam dapat ia olah menjadi apa saja yang akhirnya dapat menjadikan kesejahteraan manusianya.
Bagi pemuda yang kurang kreatif, mudah putus asa, suka menyalahkan orang lain, kurang mendukung terhadap keberhasilan dalam bertugas di pedesaan.

Kewirausahaan
 Indonesia Butuh Pemuda Kreatif, Indonesia butuh lebih banyak pemuda yang kreatif, pemimpin tua saat ini harus memberikan kepercayaan dan kesempatan kepada para pemuda untuk berkembang membangun dan merubah Indonesia. Dari dahulu hingga saat ini pemuda adalah pemicu perubahan-perubahan di negeri ini, mulai dari peristiwa Sumpah Pemuda hingga peristiwa Reformasi. Pemuda adalah aktor dalam perubahan namun yang meneruskan perubahan tersebut adalah (tetap) golongan tua kembali. Kreatifitas para pemuda di negeri ini lama-kelamaan tidak mendapat perhatian dari pemerintah. Banyak para pemuda yang telah mengharumkan nama bangsa dengan kreatifitasnya, dari bidang Sains, dunia kreatif, budaya dan seni, hingga bidang olahraga namun apresiasi pemerintah terhadap pemuda masih sangat kurang. 
Mungkin dari dahulu pemuda dicetak menjadi pegawai melalui pendidikan yang diterimanya selama bertahun-tahun, bukan dicetak menjadi seorang pengusaha yang dapat membuka lapangan kerja. Coba pemerintah memberi bantuan modal kepada para pemuda yang memiliki kreatifitas untuk mengembangkan kreatifitasnya, kita tidak akan perlu lagi mengirim berjuta-juta TKI ke luar negeri untuk menambah devisa negara, tidak perlu meminjam dana ke negara lain untuk pembangunan negeri ini, kemiskinan akan perlahan menurun dan tentunya korupsi tidak akan merajalela di negeri ini karena para pemuda yang akan membuka negara kreatif yang menghasilkan pemasukan lebih besar untuk pembangunan negeri ini. Namun hingga saat ini, pemuda masih dipandang sebelah mata oleh golongan tua dan tidak diberi kesempatan. Perjuangan para pemuda tidak akan berhenti sampai disini karena para pemuda adalah pemicu perubahan di dunia.
 Pendidikan kewirausahaan sebetulnya ditanamkan sejak lama. Bukan setelah sarjana. Kenapa demikian?. Pertanyaan di atas, merupakan bahan berpikir kita semua. Penulis sangat setuju kalau di semua perguruan tinggi pendidikan kewirausahaan dijadikan materi kuliah seperti: Ilmu Alamiah Dasar di perguruan tinggi.
Alangkah indahnya mahasiswa disaat memperdalam konsep perkuliahan diantara pada semester 6 – 7 mengembangkan pendidikan kewirausahannya yang terkait dengan konsep keilmuannya. Saat itu, mahasiswa tidak lagi berpikir agar mencari kerja ke PNS tapi ia sudah berpikir usaha apa yang bakal ia jadikan sebagai lapangan  kerja untuk diri.  Kalau hal itu kita lakukan retrospektif di awal tahun 80-an bahwa agar sarjana bisa memberikan lapangan kerja bagi orang lain. Bukankah hal itu, konsep kewirausahaan. Saat itu pemerintah pernah memberikan: pinjaman berupa kredit  mahasiswa Indonesia (KMI) yang dikecurkan via bank tidak lain sebagai modal usaha untuk mahasiswa yang sudah berada pada semester-semester akhir.
Dosen pembina mata kuliahnya harus membawa ke lapangan terhadap mahasiswa yang sedang memprogramkan / merencanakan mata kuliah kewirausahaan ini. Kalau perlu dosen yang mengajar harusnya mereka pengusaha berhasil. Atau ada dosen yang punya usaha kecil-kecilan dan berhasil yang dapat diperlihatkan kepada mahasiswa.
Dengan demikian hal di atas, merupakan pendidikan kewirausahaan dalam pendidikan formal di perguruan tinggi.

Pemuda Pelopor Punya Kelebihan
Dalam bertugas melaksanakan tugasnya sebagai pemuda harus punya program inovasi, karena sebagai seorang pemuda terlatih yang tentunya di tempat tugasnya dalam berkarya, tentu tidak boleh sama dengan kebanyakan orang.
Kalau seorang pemuda yang terkadang hanya beberapa orang berpendidikan  di dewsa, maka seorang sarjana baru yang bertugas ini harus punya kelebihan dari kebanyakan orang. Seorang pemuda masuk desa harus punya kesan tersendiri dari masyarakat.
Pengembangan usaha yang cukup signikan juga dirasakan Henky Eko Sriyantono, pemilik Bakso Malang Kota Cak Eko, yang menjadi pemenang Wirausaha Mandiri 2008 kategori pascasarjana dan alumni bidang usaha boga. Sebelumnya ia baru mempunyai 80 gerai. Saat ini berkembang menjadi 135 gerai. Karyawan pun menjadi 500-an orang dari sebelumnya sekitar 300. Omzet pun rata-rata naik 20 persen per tahun. “Branding usaha juga menjadi lebih dikenal masyarakat,” ujar Cak Eko. Sumber : Booklet Tempo.
Para tokoh nasional kita dalam berbagai event memberikan berbagai konsep kewiraswastaan diantaranya seperti: ".  Kala itu, Ciputra mencontohkan Singapura memiliki wirausahawan sekitar 7,2 persen Ciputra, Fransiskus Saverius, Herdiman (2011) adalah:"…Suatu bangsa akan maju bila memiliki jumlah entrepreneur (wirausahawan) minimal 2 persen dari total jumlah penduduk…, dan Amerika Serikat memiliki 2,14 persen entrepreneur. Bagaimana dengan Indonesia? 
Kalau kita memperhatikan terihadap manusia kita 220 juta lebih penduduk, Indonesia hanya memiliki sekitar  400.000 pelaku usaha mandiri, atau sekitar 0,18 persen  wirausahawan dari jumlah penduduknya. Hal ini tentu memrihatinkan. Padahal, menurut pendiri University  of Ciputra Entrepeneurship Center (UCEC) ini, potensi Indonesia  terbilang besar. Indonesia memiliki kekayaan alam melimpah siap diolah. Indonesia termasuk dalam ranking 10 besar penghasil tembaga, emas, natural gas, nikel, karet, dan batubara. Dan, masih  banyak lagi keunggulan komparatif yang kita miliki. Karena itu,  jika menyedikan stok enterpreneur yang cukup dan potensial,  Indonesia bisa menjadi pemain internasional yang handal.
Peraih penghargaan Kewirausahaan Sosial (Social Entrepreneurship)  Ernst and Young Entrepreneur tahun 2006 bernama: Bambang Ismawan  mengatakan:”... wirausahawan muda di Indonesia mulai bangkit...”. Hal itu  dapat dilihat dari minat dan pelaku wirausaha muda yang semakin  bertumbuh. Namun dibandingkan jumlah penduduk, jumlah entrepreneur  muda yang kita miliki memang masih sangat kurang.
Rendahnya minat dan pertumbuhan wirausahawan muda, menurut: Bambang (2006), Wiswawa (2011) adalah:”... terutama disebabkan oleh minimnya dorongan lingkungan keluarga sang anak. Orang tua lebih banyak mengharapkan anaknya bekerja sebagai pegawai negeri atau pegawai kantor. Pasalnya, pekerjaan seperti itu dinilai memiliki risiko kecil dibandingkan menjadi pengusaha. "Orang tua menginginkan anak mereka mendapatkan gaji tetap setiap bulan, daripada harus menunggu keuntungan yang memakan waktu lama...".
Harapan orang tua ini didukung pula oleh lesunya sektor kewirausahaan dalam negeri. Sektor ini dinilai memiliki risiko tinggi, sementara itu kurang menjanjikan penghidupan yang layak. Karena itu, orang tua petani rela mengeluarkan biaya tinggi untuk menyekolahkan anaknya agar mereka tidak kembali kepada pertanian. Bambang mencontohkan, tamatan Institut Pertanian Bogor (IPB) lebih banyak menjadi wartawan atau pegawai, daripada menjadi petani.
Selain pengaruh lingkungan dalam keluarga, kata Bambang, rendahnya minat kaum muda terjun dalam bidang wirausaha, juga disebabkan oleh arah dan sistem pendidikan yang kurang mendukung. Pendidikan malah tampil sebagai alat untuk menumpulkan semangat berwirausaha. Metode menghafal, misalnya, membuat anak tidak memiliki daya kreasi dan inovasi, yang sangat dibutuhkan dalam dunia kewirausahaan. Karena itulah, Bambang mendesak agar pendidikan, terutama pendidikan tinggi segera dibenahi.
Desakan agar perguruan tinggi melakukan pembenahan - bahkan perubahan paradigma - juga disuarakan Ciputra. Menurutnya, salah satu penyebab rendahnya jumlah entrepreneur di Indonesia adalah sistem pendidikan yang hanya fokus pada penciptaan tenaga kerja, bukan menciptakan enterpreneur-enterpreneur potensial.
"Setiap tahun, lembaga-lembaga pendidikan menghasilkan pengangguran, karena mereka tidak didorong untuk menjadi pelaku wirausaha," ujarnya.
Menurut Ciputra, setiap tahun perguruan tinggi Indonesia melahirkan sekitar 750 lebih sarjana yang menganggur. Karena itu, tantangan perguruan tinggi di Indonesia ke depan, katanya, adalah melahirkan wirausahawan muda. 
Menjawab tantangan itulah Ciputra mendirikan sekolah yang fokus pada upaya mengembangkan semangat kewirausahawan siswa, seperti Sekolah Ciputra, Sekolah Citra Kasih, Sekolah Citra Berkat, Sekolah Global Jaya, Sekolah Pembangunan Jaya. Terakhir, ia mendirikan University of Ciputra Entrepreneurship Center (UCEC). Program yang disiapkan UCEC antara lain mempersiapkan modul pengayaan kewirausahaan untuk kurikulum nasional, mengembangkan kurikulum kewirausahaan di Universitas Ciputra, dan mengadakan pelatihan tiga bulan kepada masyarakat.
Selain dukungan keluarga dan perguruan tinggi, pertumbuhan wirausahawan muda juga membutuhkan peran dunia usaha dan lembaga dunia usaha. Bambang memberi contoh peran pengusaha yang tergabung dalam Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi). Organisasi ini seharusnya tidak hanya mendorong lahirnya pengusaha kaya dan bergerak dalam bidang usaha yang membutuhkan penyertaan modal tinggi, tapi juga harus mendorong munculnya pengusaha kecil yang bergerak dalam sektor kecil dan mikro (UMKM).
Menurut: Very Herdiman dan Bambang, (2011) bahwa Potensi sektor UMKM,  sesungguhnya sangat menjanjikan. Dari seluruh entitas dunia usaha yang kita miliki, 95 persen (43 juta) merupakan usaha yang bergerak dalam sektor usaha mikro. Data ini, kata Bambang, memperlihatkan bahwa Indonesia potensial melahirkan wirausahawan yang bergerak dalam usaha mikro dan kecil. 

Ekonomi Bangsa 
Beberapa tahun terakhir ini, menurut: Husein Mubarok (2009) bahwa perekonomian dunia semakin bergejolak saja. Bahkan Negara besar seperti Amerika, mulai kelihatan kehancurannya. Mengapa bisa demikian? Hal ini disebabkan oleh berbagai hal, diantaranya adalah baby birth dan biaya perang yang besar. Sebelum Perang Dunia II sedikit sekali bayi yang lahir di Amerika.
Sebaliknya, pasca perang dunia II angka kelahiran meningkat drastis. Nah, yang menjadi masalah adalah generasi dengan jumlah kelahiran luar biasa tersebut sekarang tengah menjadi pensiunan. Diperkirakan pada tahun 2016 nanti jumlah pensiunan Amerika mencapai 75 juta. Bagaimana menggaji mereka? Ini sebagai akibat angka kesehatan yang membaik.
Bahkan, tidak ada satupun pengamat ekonom yang optimis bahwa Amerika akan tetap berdiri. Yang kedua adalah dikarenakan Amerika selalu mengalokasikan dana yang besar untuk perang.Sebagai contoh saja, berdasarkan data statistik perekonomian pemerintah Amerika, dana yang diajukan untuk kasus perang Israel-Palestina adalah senilai kurang lebih $1200 triliun sedangkan yang di acc adalah kurang lebih $900 triliun. Perlu diketahui bahwa pada Tahun 2008 terjadi krisis ekonomi yang hebat di AS, Apakah Obama sanggup mengatasi masalah ini kedepannya?
Sebenarnya tidak masalah jika Amerika hancur. Yang menjadi masalah adalah siapa-siapa yang berada di belakang Amerika, yaiu para Yahudi dan Israel. Pada dasarnya orang-orang Amerika itu baik dan toleran. Yang kurang ajar adalah para pemimpinnya, yaitu para Yahudi yang telah dikuasai Dajjal. Lalu apakah Amerika tinggal diam melihat kondisi perekonomian yang seperti itu.
Bicara tentang ekonomi maka  Muizzuddin (2009)  adalah:”...Sistem ekonomi yang diterapkan, seharusnya mampu mewujudkan kesejahteraan bagi seluruh masyarakat berdasarkan asas demokrasi, kebersamaan, dan kekeluargaan yang melekat, serta pada akhirnya mewujudkan ketentraman bagi manusia. Akan tetapi Rentetan peristiwa akibat sistem ekonomi yang diterapkan terus memberikan dampaknya...”. sehingga apa yang diharapkan selalu berhasil baik.

Ditunggu Pemuda Kreatif
Pemuda yang kreatif, tidak lain adalah seorang pemuda yang tidak mudah tinggal diam di mana saja ia berada. Pemuda kreatif, setiap saat dia selalu melahirkan pekerjaan yang inovatif.
Pemuda kreatif bila melihat sesuatu, otaknya berpikir. Mau dijadikan apa hal ini, sehingga mempersembahkan sesuatu kepada orang lang di desanya. Misal saja: seperti kasus di atas, tinggal di desa, mau mengumpulkan sabut kelapa. Sabut adalah limbah perkebunan yang tidak ada harganya. Tapi degan di olah sabut bisa dijadikan bahan/alat rumah tanggal yang setiap rumah pasti memerlukan sapu.
Sapu dari sabut, sama nilainya dengan sapu dari ijuk, yang berasal dari pohon enau untuk membuat gula merah. Sabut punya cara lain bisa dibuat jadi tambang, bisa pula jadi berbagai hal seperti jok mobil, jadi kasur, jadi bahan kerajinan lainnya.
Para pemuda pelopor pembangunan di desa harus tahu apa potensi desa itu. Sehingga potensi desa bisa dijadikan olahan yang ternyata bisa menghasilkan sesuatu yang berharga. Ini sebetulnya pemuda pelopor dari pemuda yang  ditunggu masyarakat. Karena kreativitasnya.
Kumpulkan orang dewasa yang masih belum bisa membaca dan menulis, berikan pelajaran kepada mereka tentang sesuatu yang mereka butuhkan. Jika ternyata mereka masih buta huruf, lajari mereka membaca dan menulis. Ini sebuah sumbangan pemuda pelopor yang sangat besar terhadap masyarakat kita di pedesaan.
Jika pemuda pelopor pedesaan secara kreativitas bisa melakukannya, maka betapa besar sumbangan saudara-saudara terhadap bangsa di negeri kita tercnta ini. Walau sekecil mungkin, namun jasa kepeloporan saudara sangat dinantikan masyarakat di pedesaan. Hal ini, tidak terbatas dengan contoh di atas, tapi dalam bentuk apapun.

Menciptakan Lapangan Kerja
Saat penulis menyelesaikan studi Program Doktor di kota Bandung, tidaklah salah mengunjungi kecamatan Raja Polah. Karena di desa-desa mereka walau sumber daya alamnya rusak akibat meletusnya gunung Galunggung di awal tahun 1980-an. Para pemuda dan masyarakat mencari nafkah dengan memanfaatkan apa saja dijadikan usaha kreatif. Misal sebatang pohon padi menghasilkan banyak hal seperti tanggkainya menjadi sapu, batangnya dibuat ayaman, dll.
Sebatang pohon yang tumbang di pinggir jalan, memberikan berkah pada penduduk. Karena batang, dahan hingga akarnya, bisa diolah dengan kerajinan mereka jadi berbagai cendera mata.
Putra putri Kalimantan Tengah belum sampai di sana untuk berwira usaha. Kita terlena dengan indahnya alam, terlena dengan berbagai hasil bumu dan alam. Namun belum banyak memberi manfaat kepada penduduknya.

TIGA TANTANGAN BESAR BAGI GENERASI PENERUS BANGSA

                                                                            Oleh:
                                                                 H.M.Norsanie Darlan


Ada 3 (tiga) tantangan yang dihadapi para pemuda generasi muda  dewasa ini, yang ternyata tidak sebatas pada kaum muda saja yang merasakannya. Tapi orang tuapun juga merasakan hal itu. Ke 3 hal tersebut di atas adalah:
1.Tantangan masuk sekolah;
2.Tantangan masuk Perguruan Tinggi; dan
3.Tantangan masuk lapangan kerja.
Untuk lebih jelasnya ke 3 hal di atas, secara sederhana akan diuraikan satu persatu sebagai berikut:

Tantangan masuk sekolah
Sejak akhir tahun 70-an sudah melaui bermunculan satu-persatu di daerah yang menginformasikan bahwa tahun demi tahun anak usia sekolah dirasakan untuk masuk sekolah apakah sekolah dasar ataukah SLTP mapun SLTA ternyata jumlah kursi tidak sebanding dengan jumlah anak yang mau masuk sekolah. Hal ini pasti jauh berbeda.  Dengan kata lain daya tampung sekolah mulai kurang. Sementara penambahan setiap tahun sepertinya tetap tidak terbendung. Sekolah-sekolah swasta dengan tampil seadanya pun di daerah tertentu, juga dengan sangat banyak masih ada yang tak tertampung. Ini sebuah akibat ledakan penduduk masa lalu.
Dalam istilah lain adalah, “Sejak lama di negeri ini”, masuk sekolah ”para calon murid” sudah mendapatkan tantangan yang terkadang di perkotaan terdapat komentar masyarakat ”siapa berduit, ialah yang bakal dapat” dalam meraih pendidikan anaknya yang lebih baik dan kualitasnyapun tidak diragukan.

Namun kita sama maklumi bersama bahwa masyarakat pemukimannya tidak menumpuk di perkotaan. Melainkan mereka sebagian besar penduduk negeri ini, bertempat tinggal di pedesaan. Kita sama maklumi  tidak seluruh desa terlebih masa lalu terdapat sekolah dasar. Sehingga tidak menutup kemungkinan ada warga masyarakat kita yang karena sesuatu dan lain hal selama hidupnya, tidak sempat mengenyam atau menikmati dunia pendidikan formal. Atau bersekolah.
Fasilitas pendidikan di atas tidak saja untuk sekolah dasar. Padahal wajib belajar kita tidak lagi Wajar 6 tahun. Tapi sudah bergeser ke 9 – 12 tahun. Sementara gedung SMP dan SLTA belum juga tersedia hingga anak mau belajar ke SMP dan SLTA terkendala. Hal ini menuntut agar kita dapat memikirkan bersama masalah tersebut. Karena kesempatan pendidikan yang ada di negeri kita disebabkan fasilitas pndidikan yang masih dirasakan kurang. Dipihak lain menurut M. Saad Arfani (2011) ia mengungkapkan bahwa:”...jauhnya sekolah jadi penyebab anak-anak pedesaan tak melanjutkan pendidikan...”. kalimat di depan sungguh di temukan di mana-mana baik di daerah kita maupun di daerah lain.
Hal seperti di atas, tidak saja dirasakan di pedesaan. Tapi di perkotaan sekalipun penduduk kita yang fasilitas pendidikan sudah dianggap mendekati cukup, namun masih ditemukan penduduk kota yang belum berkesempatan mecicipi pendidikan formal. Sehingga pemulis berasumsi tidak tuntas pendidikan ini, kalau hanya dipikirkan dan di fasilitas Cuma pada pendidikan formal. Peran pendidikan non formal, ternyata sangat penting, namun  karena ketidak mengertian, ketidak fahaman mereka yang didudukkan pada bidang pendidikan non formal. Maka hal-hal di atas, tidak bisa dituntaskan. Alasan yang penulis asumsikan adalah mereka yang ditempatkan pada Subdin/Bidang pendidikan non formal masih tidak profesional. Penempatan sarjana “...atau tenaga yang bukan ahlinya, tunggu kehancurannya...”.

Tantangan masuk Perguruan Tinggi
Kalau kita melihat mulai munculnya istilah: “UMPTN” yang kepanjangannya adalah Ujian masuk perguruan tinggi negeri ini, digulir juga sejak tahun 80-an juga. Yang terkadang anak lulusan SLTA yang mau masuk perguruan tinggi tujuan Bandung, ternyata tes-nya lulus di Palangka Raya. Kenapa demikian seperti uraian ini masyarakat turut berpartisipasi menyelenggarakan pendidikan tinggi. Ternyata perguruan tinggi swasata tidak masuk UMPTN sehingga dengan tidak diperkirakan sebelumnya ia harus kuliah di Unpar-Universitas Palangka Raya. Karena di kota Bandung juga ada perguruan tinggi diberi nama Unpar. Tapi punya yayasan swasta.
Dengan seleksi yang relatif ketat disertai beratnya persaingan, 1 berbanding 15 maka tidak menutup kemungkinan calon mahasiswa yang kapasitasnya bila dibawah standar dengan sangat menyesal terpaksa harus tidak lulus pada jurusan/program studi pilihannya. Karena dengan system seleksi sekarang calon dari sumatera utara, Aceh, Papua, Sulawesi dan berbagai provinsi di Jawa dengan mudah lulus di Unpar. Sementara putra daerah, hanya gigit jari. Karena ada dugaan standar pendidikan yang ada di provinsi kita relatif rendah. Mudah-mudahan mulai terjadi perbaikan masa sekarang dan masa datang. Sehingga standar kita sama dengan kawasan yang lebih maju.
Kita sama maklumi bahwa dalam 20 tahun terakhir, sudah dirasakan di tanah air kita bahwa tes masuk perguruan tinggi negeri sungguh dirasakan betapa sulitnya. Namun seleksi ini, semakin tahun semakin tambah berat. Sehingga upaya memberikan berbagai pendidikan luar sekolah atau pendidikan non formal pada lembaga kursus pada bidangnya oleh orang tua kepada anaknya sungguh memberatkan biaya. Terlebih biaya yang diperlukan. Ada kalanya sang anak kurang perhatian, tapi orang tuanya justru sibuk mendaftar anak untuk kursus itu dan ini, dengan tujuan bahwa anaknya berhasil lulus dalam seleksi masuk perguruan tinggi.

Tantangan masuk lapangan kerja
Kaum generasi muda dewasa ini menghadapi masa sulit, sebagai akibat ledakan pendudukan di negeri kita masa lalu sangat tinggi. Hal itu memberikan efek negatif kepada generasi mncari kerja dimasa sekarang.
Selain hal di atas, bergulirnya era reformasi, yang selama ini, kurang mendukung terhadap kebijakan masa lalu. Ebagai contoh yang sdr boleh perhatikan. Kebijakan masa lampau, dinas pendidikan yang doeloe disebut Kantor Wilayah Pendidikan. Kepala Katornya paslu lulusan ”alumnus” IKIP atau FKIP. Dewasa ini ternyata dapat diduduki oleh bukan kesarjaan itu. Sehingga pastilah ada bagai perahu layar putus kemudi. Contoh lain dengan kebebasan dewasa ini, bisa terjadi juga kepala Rumah Sakit dipimpin oleh bukan dokter. Kepala Kejaksaan bisa dipimpin oleh orang yang bukan Sarjana Hukum. Jika hal itu terjadi, apa yang bakal terjadi. Ini sebagai bukti derasnya arus reformasi.
Sekarang bagaimana dengan tantangan pada sarjana sekarang. Ada dugaan kemudahan yang muncul dari pihak penentu kebijakan, seperti: penerimaan calon pegawai negeri diusulannya sangat tidak sesuai dengan tenaga kerja pada bidang-bidang yang ada di instansi yang di pimpinnya. Karena ada indikasi untuk menolong keluarga terdekat. Sehingga setelah ia masuk, apa yang harus ia kerjakan. Karena KKN-nya sudah bisa dimunculkan.

Tren pendidikan sudah berubah
Tempo doeloe, sejak tahun 60-an penulis rasakan bahwa pendidikan kejuruan betul-betul kurang diminati. Asumsi masyarakat bahwa ikut belajar di sekolah kejurusan seperti sekolah toempoe doeloe: SPG, PGA, SMOA, SPR kurang diminati oleh anak para pejabat atau orang tua tergolong mampu. Namun dewasa ini, sekolah kejuruan mulai akhir tahun 90-an, lapangan kerja sarjana seperti Hukum, Ekonomi, teknik, Pertanian, Kehutanan, Perikanan, Sosial Politik, dll. Sedikit kesulitan mencari lapangan kerja sederhananya ”jenuh”. Namun sarjana FKIP/IKIP dari berbagai jurusan/Program studi yang tempo doeloe mulai dipermudah mencari kerja. Karena tenaga guru, selalu dicari di mana-mana. Karena upaya meningkatkan kualitas SDM masyarakat diawali dengan wajib belajar di tanah air kita mulai diterapkan. Sehingga lapangan kerja sekolah guru dari Diploma hingga sarjana sungguh dicari pemerintah.
Sayangnya dalam kurun waktu tertentu proses ini, ”terkontaminasi” karena ada penyelenggaraan kursus yang salah. Sebetulnya kursus akta IV, adalah untuk seorang dokter mengajar di sekolah pengatur rawat (SPR). SIM mengakarnya adalah: Akta IV. Demikian juga seorang Ir. Pertanian yang mengajar di SPMA, ia sudah punya NIP tapi belum punya Akta mengajar IV sebagai SIM nya. Tapi nyatanya ada sarjana tertentu di luar sekolah guru, memiliki Akta IV untuk melamar kerja. Dan diterima ternyata tidak mampu menajar, membuat RPP, media pendidikannya kurang sehingga jadi bahan tertawaan murid di depan kelas. Untuk itu, ada istilah profesional tidak saja pada dunia perkantoran, dunia usaha, tapi juga berdiri di depan kelas-pun harus profesional.

MENGENALI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM PROSES PENGEMBANGAN PEMBELAJARAN



Oleh:
H. M. Norsanie Darlan
Pendahuluan
Dalam tulisan yang yang sederhana ini membahas tentang mengenali pendidikan karakter dalam Proses pengembangan pembelajaran ini, sungguh sulit ditemukan/dicari buku sumber. Apakah judul buku secara khusus ataukah dalam jurnal-jurnal ilmiah lainnya. Namun penulis mencoba mengurai hal ini dan mengambil berbagai sumber tulisan terdahulu, dengan keterkaitan dengan masalah-masalah yang dihadapi saat ini, sambil melacak info mealui media internet..
Untuk mengetahui secara rinci hal-hal yang berhubungan dengan permasalahan di atas, penulis satu-persatu akan mengurai materi ini, dari berbagai pendapat ahli, Sekelumit Pendidikan, Peran Pendidikan Keluarga Dalam Pembentukan Karakter,
Peran Pendidikan Karakter dari Guru, dan Sistem Belajar Membelajarkan, Mengenali 3 Jalur Pendidikan, Upaya Meningkatkan Mutu Pendidikan, Cita-Cita Bangsa, Life-long Education, Kegagalan Pendidikan Formal, Konsep Pendidikan Luar Sekolah Ke Masa Depan, Kualifikasi Pendidik, Promosi dan Sertifikasi, Dalam Menggulir Bola Panas, tentang Karakter Bangsa, Karakter Bangsa yang diharapkan, Karakter bangsa yang ber-etika dan Pendidikan Tidak Semata Tugas Guru. Dari berbagai sub permasalahan di atas akan diuraikan secara sederhana satu demi satu berikut ini:

Berbagai Pendapat Ahli Pendidikan
Berbicara tentang pendidikan, banyak pendapat ahli yang dirasa perlu untuk kita uraikan guns mencari apa dan bagaimana bentuk pendidikan tersebut. Kamus umum bahasa Indonesia karangan WIA. Poerwadarminta, (1986; 520), menyebutkan tentang: konsep itu berarti "rancangan". Dengan demikian maka konsep disini berarti rancangan materi perkuliahan yang ada pada jurusan dimaksud.
Rancangan perkuliahan tentu memerlukan suatu adanya gambaran yang akan dilaksanakan pada suatu ketentuan tertentu. Jadi rancangan pembelajaran ini dapat jugs penulis jadikan dengan istilah dasar (pengantar) dalam rancangan pendidikan luar sekolah yang sebenarnya.
Jadi yang dimaksud dengan konsep adalah "rancangan", sebagai mana pengertian di atas. Sedangkan pengertian PLS itu penulis kutip tulisan: M Soedomo dalam bukunya berjudul : Pendidikan Non Formal di Indonesia, Malang tahun 1974. menyebutkan :
"Pendidikan Luar Sekolah adalah setiap kesempatan dimana dan terdapat komunikasi yang teratur dan terarah, di luar sekolah, di mana seseorang memperoleh informasi, pengetahuan, latihan ataupun bimbingan sesuai dengan usia dan kebutuhan hidupnya, dengan tujuan mengembangkan tingkat keterampilan, sikap dan nilai-nilai yang memungkinkan baginya menjadi peserta aktif yang efisien dan efektif dalam keluarganya, pekerjaannya bahkan lingkungan masyarakat dan negaranya".

Sedangkan penulis mengambil pengertian tentang pendidikan luar sekolah adalah : suatu pendidikan yang dilaksanakan di luar sistem persekolahan.
Jadi jelas bagi kita bahwa pendidikan luar sekolah dalam arti konsep, merupakan suatu konsep (rancangan) pendidikan yang berpikirnya di luar pendidikan sistem persekolahan (formal). Artinya ia lebih menitikberatkan terhadap pendidikan di kalangan masyarakat. Sehingga terlihat jelas beda antara pendidikan di bidang studi PLS ini, dari pada bidang studi lainnya.
Bila kita mengurai apa itu pendidikan, maka secara luas pendidikan (Lat.: educare = mengantar keluar). Proses membimbing termasuk membimbing jamaah haji seperti yang kita hadapi sekarang adalah bimbingan dari manusia kepada manusia. Menurut Shadily (1984; 2627) Dari "....kegelapan kebodohan ke kecerahan pengetahuan...". Dengan demikian pendidikan sangat panting dijadikan salah satu upaya meningkatkan kualitas SDM bangsa. Sebab tanpa memiliki SDM yang memadai bangsa akan menjadi sapi perch bangsa lain di planet bumi ini.

Karakter
Mengenai apa itu karakter, Moeliono (1989; 389) dan Poerwadarminta (1986) menyebutkan:"...sifat-sifat kejiwaan, akhlak atau budi pekerti yang membedakan seseorang dengan yang lain...".
Sedangkan menurut: Esau dan Yakub (2010) dalam kamus umum bahasa Indonesia, adalah:"...karakter ialah tabiat, watak, sifat-sifat kejiwaan, akhlak atau budi pekerti yang membedakan seseorang dari yang lain...". Kemudian Leonardo A Sjiamsuri (2010) dalam bukunya "'Kariama Versus Karakter" mengatakan bahwa karakter adalah:"...merupakan siapa ands sesungguhnya...". Sedangkan karakter dalam arti PLS, menurut Sutaryat (2010) bahwa:"...dalam menyusun kurikulum bersifat fleksibelitas bagi pamong, tutor, instruktur dapat dilaksanakan dengan musyawarah dengan WB dan dalam penggunaan metoda pembelajaran yang bersifat partisipatif...". Hal ini menunjukkan kepada kegunaan dan keunggulan suatu produk manusia. Dengan demikian karakter yang dimaksudkan adalah sikap yang jujur, rendah hati, sabar, tutus ikhlas dan sopan dalam pergaulan. Artinya tidak berkarakter atau tabiat yang keras. Sebagai tenaga guru yang dalam jabatan fungsional, tentu harapan kita semua punya karakter yang santun, murah hati, berwawasan luas dan bisa mengayomi kepada semua orang. Termasuk anak didiknya.

Proses
Pengertian proses menurut Hasan Alwi (2000) adalah: ”...sebuah runtunan perubahan (peristiwa) dalam sesuatu perkembangan. Istilah lain perkembangan kemajuan sosial dalam perjalanan tertentu....”.  Dengan demikian, proses dimaksud tidak lain adalah cenderung dalam bidang pendidikan.Kita sama mengetahui bahwa setiap orang mendapatkan konsep pembelajaran apakah ia orang muda ataukah dewasa, tentu akan mendapatkan suatu proses dalam pendidikan. Dari tahap yang sederhana, hingga yang lebih tinggi.

Pengembangan
Menurut Hasan Alwi (2002; 538) adalah:"...suatu proses mengembangkan secara bertahap yang selalu berusaha menjurus pada suatu sasaran yang diinginkan...". Termasuk bahan ajar yang dipegang oleh kalangan pendidik baik dalam jalur formal maupun non formal. Pengembangan bahan ajar harus berkembang menyesuaikan dengan perkembangan zaman.

Perangkat
Memperhatikan apa sebenarnya arti perangkat, menurut Alwi Hasan (2002) adalah:"...sesuatu peralatan yang lengkap untuk sesuatu kegiatan. Dalam pemerintahan desa tentu ada kepala desa, sekretaris desa dan sekretariatnya. Bagi kalangan guru, media belajar, mated belajar disertai peralatan penunjang lainnya...". Penulis lebih menitikberatkan perangkat dimaksud adalah: peralatan dalam proses belajar mengajar. Lebih jauh lagi dalam hal pengakat pembelajaran, tentu buku sebagai jantung pendidikan. Tanya buku materi belajar seorang guru, tentu tidak memiliki perangkat belajar mengajar yang baik. Dengan demikian seseorang yang telah memilih jabatan fungsional guru, ia harus memperhatikan pengangkat belajar mengajar. Baik secara tradisional maupun modem. Alangkah indahnya jika seorang guru punya kreativitas dalam rangcang bangun dan rekayasa bahan ajar. Termasuk juga segala perangkatnya. Perangkat di sini dapat juga berupa media belajar.

Pembelajaran
Sedangkan Pembelajaran menurut Moeliono (1986) dan Alwi Hasan (2002) adalah:"...suatu proses, cara perbuatan mengembangkan sesuatu program tertentu....". Dalam masalah ini, pengembangan berarti suatu proses pembuatan media belajar yang dikembangkan dari tahap dasar hingga yang lebih maju.
Seorang guru yang mempunyai kreativitas dalam merancang bangun dan rekayasa mated pembelajaran, maka ia akan memiliki nilai lebih dibanding sejawatnya yang bersifat pasif dan menunggu bahkan selalu menyalahkan kreativitas orang lain.
Dikalangan dosen mereka yang punya kreativitas dan memiliki minat, bakat, motivasi tinggi Berta tidak mudah putus asa. Maka nasibnya jauh lebih baik dan maju dalam berbagai hal, dibanding dengan dosen yang hanya bersifat pasif, sutra menyalahkan dan hanya sebatas menunggu dengan apa adanya.

Sekelumit Pendidikan
Arti Pendidikan menurut Shadily (1984; 2628) adalah:"...berdasarkan sejarahnya didirikan di Yogyakarta dalam akhir December 1931, atas anjuran Sutan Syachrir, oleh anggota-anggota PNI lama yang tidak setuju dengan membubaran PNI – Lama yaitu perikatan golongan merdeka yang semula bergabung dalam club pendidikan nasional Indonesia. Para pemimpinnya ialah Mohamad Hatta. Sutan Syachrir, Sukemi, Inu Perbatasari, T.A. Murad, Subagyo. Tujuan: membangun masyarakat berdasarkan Baling kerjasama dan persamaan hak, dan yang membahas dari segala unsur KAPITALIAME, IMPERIAUSME. Menghapuskan masyarakat berkelas, milik perseorangan, dan alat produksi ditangan negara. Berhaluan non koperasi. Atas tuduhan menghasud pemberontakan, beberapa pemimpinnya ditangkap: Moh. Hatta, Sutan Syachrir, Maskun, Burhanuddin, Murwoto, dan Bondan, dibuang ke Digul hulu (1934).
Bila kita mengurai apa itu pendidikan, maka secara luas pendidikan (Lat.: educare = mengantar keluar). Proses membimbing termasuk membimbing jamaah haji seperti yang Vita hadapi sekarang adalah bimbingan dari manusia kepada manusia. Menurut Shadily (1984; 2627) Dan "....kegelapan kegelapan kebodohan ke kecerahan pengetahuan...". Dalam arti luas, pendidikan baik yang formal, nonformal maupun informal meliputi segala hal yang memperluas pengetahuan manusia tentang dirinya sendiri dan tentang dunia di mana mereka itu hidup. Menurut pendidikan terbagi dalam 3 macam seperti secara sederhana telah diuraikan di atas yakni:
1.       Dresur yakni pendidikan yang berdasarkan paksaan; dilakukan pada anak-anak yang umurnya belum 1 tahun;
2.       Latihan, dimaksudkan untuk membentuk kebiasaan yang dilakukan sedapat-dapatnya secara radar oleh anak didik;
3.       Pendidikan, dimaksud untuk membentuk kata hati; anak didik, warga belajar agar berbuat menurut kesanggupan sendiri, dan menentukan kelakuan sendiri atas tanggung jawab sendiri pula.
Pendidikan dimaksud diberikan agar mereka sampai dianggap sanggup berdiri sandhi pada bidangnya. Dalam jalur pendidikan-pendidikan orang dewasa tentu pendidikan tidak semudah pendidikan formal. Pendidikan orang dewasa menurut: Lyra Srinivasan (1981; 20) bahwa:"...lebih cenderung menggunakan pendekatan tersendiri, karena warga belajarnya orang dewasa ini jauh berbeda dengan yang lain, maka pendekatannyapun tidak semudah pada jalur pendidikan formal. Pendidikan orang dewasa lebih banyak menggunakan andragogi suatu teknologi keterlibatan atau partisipasi masyarakat dalam pendidikan orang dewasa itu sendiri...".
Pendidikan orang dewasa menurut tokoh di atas sangat luas. Memerlukan beberapa pendekatan. Karena kita ketahui bersama bahwa pendidikan kepada mereka yang tidak pernah bersekolah atau karena putus sekolah itu, mereka harus mengikuti pendidikan nonformal, dengan harapan mereka akan memiliki seperangkat pengetahuan dan keterampilan serta perubahan sikap psikologis, khas diantaranya: memiliki rasa rendah did jika berada di ruang belajar. Walau secara praktek jika ia mengemukakan suatu pengalamannya ada kalanya jauh lebih baik dalam pada bidang tertentu dibanding mereka yang telah memperoleh pendidikan formal.

Peran Pendidikan Keluarga Dalam Pembentukan Karakter
Esau dan Yakub (2010) Seorang anak pertama kalinya memperoleh pendidikan adalah dari keluarga. Dengan demikian keluarga dapat dikatakan adalah peletak dasar bagi pendidikan seorang anak. Artinya keluarga sangat berperan dalam perkembangan kepribadian anak. Dalam Ilmu perkembangan anak, ada 3 (tiga) teori yang mempelajari tentang pengaruh dalam perkembangan kepribadian seseorang, yakni :
1.       Teori Tabularasa oleh John Loche yang mengatakan bahwa kepribadian seorang anak 100% ditentukan oleh lingkungannya atau dunia lingkungan milionya. Dalam hal ini pendidikan adalah maha kuasa dalam membentuk anak. Sianak bagaikan selembar kertas putih. Dengan demikian lingkungan adalah penentu menjadi apa sianak tersebut diinginkan.
2.       Teori Nativiame oleh Scopenhover yang mengatakan bahwa perkembangan anak 100% tergantung kepada pembawaan. Dalam hal ini pendidikan tidak mempunyai peran dalam perkembangan anak sebab sudah ditentukan dari lahirnya.
Teori Convergensi oleh William Stern yang mengatakan bahwa baik pembawaan dan lingkungan mempunyai pengaruh terhadap hasil perkembangan anak. Dalam hal ini pendidikan diartikan sebagai pertolongan yang diberikan lingkungan kepada anak untuk mengembangkan pembawaan yang baik dan mencegah pembawaan yang buruk.

Peran Pendidikan Karakter dan Guru
Jika kita mempelajari terhadap anak, mereka setelah melalui pendidikan keluarga dan mereka beranjak mulai bergaul dengan lingkungan sekitar, setelah dengan keluarga, maka teman bermain dan guru sangat besar dalam turut serta membentuk karakter anak. Peran pendidikan dalam membentuk karakter anak sebagai generasi penerus bangsa sangatlah besar. Karena guru sungguh masih punya peran dalam membentuk kepribadian anak.
Mara lalu, guru dianggap masyarakat orang pandai, terpelajar, dan perlu dicontoh baik dalam kehidupan maupun perilakunya. Untuk itu guru harus berhati-hati dalam mengemban tugasnya baik dalam menjalankan tugas di sekolah, maupun di masyarakat. Kalau guru berbuat yang kurang baik, maka muridnya-pun akan ketularan.

Sistem Belajar Membelajarkan
Sedangkan proses sistem belajar membelajarkan mahasiswa pada bidang studs (program) pendidikan luar sekolah: H.M., Norsanie Darlan, (2005) adalah :
a.       Perkuliahan diberikan sama dengan cara perguruan tinggi lainnya. Artinya tetap seperti pendidikan formal. Dan dilangsungkan dalam sistem persekolahan.
b.       Sedangkan materi perkuliahan mahasiswa diajak (diarahkan) berpikir ke luar sistem persekolahan (PLS) yang dewasa ini disebut dengan pendidikan formal.
c.       Disamping ke 2 hal di atas, mahasiswa berpraktek di masyarakat. Artinya waktu akan menyelesaikan studinya ia paling tidak praktikum selama jangka waktu tertentu di masyarakat, sesuai kebutuhannya. Selain itu juga mahasiswa PLS ikut juga praktek mengajar di sekolah-sekolah sebagai pemenuhan pendidikan formal, yang nantinya sewaktu mencari kerja ia ternyata mengambil pilihan menjadi guru, mahasiswa PLS-pun punya kemampuan ganda. Ia akan dapat menjadi guru di sekolah formal karena memiliki sertifikat akta 4 selain ijazah sarjana yang ia peroleh.

Sabtu, 07 Juli 2012

EVEKTIVITAS PENGELOLAAN PROGRAM PAUDNI





Oleh :

H.M.Norsanie Darlan
Pendahuluan
Dalam Pembangunan Dunia Pendidikan Dewasa ini, upaya pemerintah dalam mencerdaskan kehidupan bangsa sungguh mulai menggembirakan. Namun jika dikaji secara mendalam memang memerlukan keterlibatan berbagai komponen masyarakat, dan pemerintah.
Dalam penulisan materi kali ini, akan diuraikan berbagai hal sejak memperhatikan terhadap efektivitas kerja, pengelolaan program, prinsip tahapan secara sederhana apakah perencanaan, pelaksanaan sampai dengan evaluasi pekerjaan yang kita programkan. Untuk lebih jelasnya uraian tersebut, secara sederhana diuraikan sebagai berkut:

Pengertian Efektivitas Kerja
Pengertian Efektif menurut Moeliono (1989; 219) dan Poerwadarminta (1986) adalah:”…yang dapat membawa hasil atau dengan kata lain berhasil guna tentang suatu tindakan dalam usaha tindakan…”.

Pengertian efektivitas kerja adalah kemampuan untuk memilih tujuannya tepat atau peralatan-peralatan untuk pencapaian tujuan yang telah ditetapkan. Efektifitas adalah hasil membuat keputusan untuk menunjukkan pengarahan tenaga kerja bawahan atau disebut juga manajemen efektivitas kepemimpinan, yang membantu memenuhi misi suatu perusahaan atau pencapaian tujuan.

Efektivitas adalah keadaan dan kemampuan berhasilnya suatu kerja yang dilakukan oleh manusia atau seseorang untuk memberikan guna yang diharapkan. Untuk melihat efektivitas kerja pada umumnya dipakai empat macam pertimbangan, yaitu: Pertimbangan ekonomi, pertimbangan fisiologi, pertimbangan psikologi dan pertimbangan sosial.

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Efektivitas Kerja
Efektivitas yang diartikan sebagai keberhasilan melakukan program dipengaruhi oleh berbagai faktor-faktor yang dapat menentukan efektivitas kerja karyawan berhasil dilakukan dengan baik atau tidak dipengaruhi oleh gaya kepemimpinan. Tugas bawahan dapat berjalan dengan baik apabila dilakukan pemberitahuan (komunikasi) tentang pendelegasian tugas/tanggung jawab serta adanya evaluasi kerja dari pimpinan. Ada 8 Faktor   yang mempengaruhi efektivitas kerja dalam organisasi, dapat pula kita lihat pada hal-hal berikut ini:

1. Waktu
Ketepatan waktu dalam menyelesaikan suatu pekerjaan merupakan faktor utama. Semakin lama tugas yang dibebankan itu dikerjakan, maka semakin banyak tugas lain menyusul dan hal ini akan memperkecil tingkat efektivitas kerja karena memakan waktu yang tidak sedikit.

2. Tugas
Bawahan harus diberitahukan maksud dan pentingnya tugas-tugas yang didelegasikan kepada karyawan tidak juga dilepas begitu saja. Seorang manajer perlu dilakukan pngawasan namun tidak perlu mencampuri pekerjaan mereka.

3. Produktivitas
Seorang karyawan mempunyai produktivitas kerja yang tinggi dalam bekerja tentunya akan dapat menghasilkan efektivitas kerja yang baik demikian pula sebaliknya. Sebagai manajer ia memotivasi karyawan lain agar mereka merasa dilibatkan. Disaat itu pula seorang pemimpin melihat hasil kerja karyawan keseluruhan. Apakah yang lain termotivasi atau tidak dalam pekerjaan itu.

4. Motivasi
Manajer dapat mendorong bawahan melalui perhatian pada kebutuhan dan tujuan mereka yang sensitif. Semakin termotivasi karyawan untuk bekerja secara positif semakin baik pula kinerja yang dihasilkan. Disini peran atasan dalam menjalankan suatu roda pekerjaan apakah motivasi yang muncul itu memang dari dalam (intrensic) terhadap pkerjaannya. Ataukah motivasi dari luar (extrensic) karena melihat kawan sekerjannya bekerja baik, maka ia ikut juga mempertahankan atau meningkatkan kualitas kerjanya.

5. Evaluasi Kerja
Manajer memberikan dorongan, bantuan dan informasi kepada bawahan, sebaliknya bawahan harus melaksanakan tugas dengan baik dan menyelesaikan untuk dievaluasi tugas terlaksana dengan baik atau tidak. Dorongan bantuan dan informasi seperti ini, juga salah satu upaya meningkatkan efektivitas dalam PAUDNI kita.

6. Pengawasan
Dengan adanya pengawasan maka kinerja karyawan dapat terus terpantau dan hal ini dapat memperkecil resiko kesalahan dalam pelaksanaan tugas. Pengawasan disini lebih dari yang dijelaskan di atas seperti upaya produktivitas dan motivasi. Tapi pengawasan dengan tujuan pembinaan. Pengawasan bisa dilakukan langsung seoran pimpinan menemui bawahan. Tapi bisa juga secara tidak langsung tapi tujuannya untuk alasan tidak tersedia waktu, namun perlu menciptakan pengawas orang lain guna perpanjangan tangan pimpinan.

7. Lingkungan Kerja
Lingkungan kerja adalah menyangkut tata ruang, cahaya alam dan suara yang mempengaruhi konsentrasi seseorang karyawan sewaktu bekerja. Tempat kerja juga tidak perlu terlalu sepi. Upaya banyak orang ada TV, Radio membuat suasana lingkungan kerja jadi hidup.

8. Perlengkapan dan Fasilitas
Adalah suatu sarana dan peralatan yang disediakan oleh pimpinan dalam bekerja. Fasilitas yang kurang lengkap akan mempengaruhi kelancaran karyawan dalam bekerja. Semakin baik sarana yang disediakan oleh kantor atau perusahaan akan mempengaruhi semakin baiknya kerja seorang dalam mencapai tujuan atau hasil yang diharapkan. Demikian sebaliknya.
Sehubungan dengan 8 hal di atas, maka akan tercipta hal-hal tersebut di atas, Nitta, Puspitasari,  (2009) adalah:
”…1)mengembangkan wawasan, pengetahuan, pemahaman dan keterampilan komunikasi secara profesional;
2) membawa peserta didik melaksanakan proses matematika;
3) mengemukakan pendapat dan pikiran dengan jelas dan dalam tingkat keresmian yang tinggi secara lisan dan tulisan; dan yang paling penting
4)meningkatkan kemampuan peserta didik mengemukakan temuan dan ide matematika dengan bahasanya sendiri (mathematical communication) serta meningkatkan daya abstraksi peserta didik….”.
Untuk lebih jauh kita dalam membicarakan tentang efektivitas pengelolaan PAUDNI ini, mari kita lihat hal-hal sebagai berikut:

Beda Efektivitas dengan Efisiensi
Efektivitas adalah pencapaian tujuan secara tepat atau memilih tujuan-tujuan yang tepat dari serangkaian alternatif atau pilihan cara dan menentukan pilihan dari beberapa pilihan lainnya. Efektifitas bisa juga diartikan sebagai pengukuran keberhasilan dalam pencapaian tujuan-tujuan yang telah ditentukan. Sebagai contoh jika sebuah tugas dapat selesai dengan pemilihan cara-cara yang sudah ditentukan, maka cara tersebut adalah benar atau efektif.
Sedangkan efisiensi adalah penggunaan sumber daya secara minimum guna pencapaian hasil yang optimum. Efisiensi menganggap bahwa tujuan-tujuan yang benar telah ditentukan dan berusaha untuk mencari cara-cara yang paling baik untuk mencapai tujuan-tujuan tersebut. Efisiensi hanya dapat dievaluasi dengan penilaian-penilaian relatif, membandingkan antara masukan dan keluaran yang diterima. Sebagai contoh untuk menyelesaikan sebuah tugas, cara A membutuhkan waktu 1 jam sedang cara B membutuhkan waktu 2 jam, maka cara A lebih efisien dari cara B. Dengan kata lain tugas tersebut dapat selesai menggunakan cara dengan benar atau efisiensi.
Untuk melihat bagaimana sebuah pengertian pengelola program, prinsip, tahapam pelaksanaan sejak dari perencanaan, pelaksanaan dampai pada evaluasi akan diuraikan berikut ini:

1.Pengertian Pengelolaan Program
Berbicara apa arti pengelolaan secara sederhana Rokhmin Dahuri (2001) lebih menjelaskan mengenai definisi dan pengertian Pengelolaan dengan menggunakan beberapa pemahaman:
Definsi adalah:“…Proses Pengelolaan yang mempertimbangkan hubungan timbal balik antara kegiatan pembangunan (manusia) yang terdapat secara potensial terkena dampak kegiatan-kegiatan tersebut…”. Efektivitas pengelolaan program PAUDNI tidak lain adalah suatu upaya mencerdaskan kehidupan bangsa yang tentunya tidak lain adalah peningkatan Sumber Daya Manusia. Dan kepentingan ilmiah dengan pengelolaan pembangunan dalam menyusun dan mengimplementasikan suatu rencana terpadu untuk membangun (memanfaatkan) dan melindungi ekosistem pesisir beserta segenap sumberdaya alam yang terdapat didalamnya, bagi kemakmuran/kesejahteraan umat manusia secara adil dan berkelanjutan.
Menurut akhli perencaan Mulyasa (2006; 91) adalah: “... suatu pengelolaan yang merupakan keterampilan untuk menciptakan suatu iklim pembelajaran yang kondusif dan mengendalikan penyajian terjadi ganggunan dalam proses pembe;ajaran…”.
Sedangkan menurut Sudirman (dalam Djamarah, 2006:177) yaitu:”...Pengelolaan kelas adalah upaya mendaya-gunakan potensi tempat belajar...”. Ditambahkan lagi oleh Nawawi (dalam Djamarah 2006:177) adalah:”...Manajemen atau pengelolaan kelas dapatdiartikan sebagai kemampuan guru dalam mendayagunakan potensi kelas berupa pemberiankesempatan yang seluas-luasnya pada setiap personal untuk melakukan kegitan-kegiatanyang kreatif dan terarah...”. Arikunto (dalam Djamarah 2006:177) juga berpendapat bahwa:”... penelolaan kelas adalah suatu usaha yang dilakukan oleh penanggung jawab kegiatan belajar mengajar atau yang membantu dengan maksud agar dicapai kondisi optimal sehingga dapatterlaksana kegiatan belajar yang seperti diharapkan...”.
Pengelolaan dapat dilihat dari dua segi, yaitu pengelolaan yang menyangkut  pengelolaan fisik (ruangan, perabot, alat pelajaran). Berdasar pendapat para ahli diatas maka dapat disimpulkan bahwa pengelolaan kelasmerupakan usaha sadar untuk mengatur kegiatan proses belajar mengajar secara sistematisyang mengarah pada penyiapan sarana dan alat peraga, pengaturan ruang belajar, mewujudkan situasi atau kondisi proses belajar mengajar berjalan dengan baik dan tujuankurikuler dapat tercapai.

2.Tahapan Program
    a. Perencanaan Kegiatan
Aspek-aspek pengembangan menurut Rohmin Dahuri (2001) pengaturan harus berorientasi kepada 4 aspek masing-masing:
(a)jenis kegiatan yang akan dikembangkan didalam sesuatu pengembangan agar dapat disinergikan secara optimum dengan kegiatan lainnya sesuai dengan daya dukungnya;
(b)volume kegiatan antara setiap jenis kegiatan perlu ditetapkan pembatasannya agar tidak memberikan pengaruh negatif terhadap jenis-jenis kegiatan lainnya. Untuk itu perlu ditetapkan baku mutu untuk setiap komponen sumberdaya sesuai dengan peruntukannya;
(c)Introduksi Teknologi perlu disesuaikan dengan upaya mempertahankan baku mutu setiap komponen sumberdaya yang telah ditetapkan. Misalnya introduksi paket teknologi untuk tambak intensif perlu dicegah mengingat dampak negatif yang ditimbulkannya;
(d)Pengembangan Sarana dan Prasarana disesuaikan dengan program yang mempergunakan prinsip “More uses less area”.

Proses Penyusunan rencana program dilakukan dengan pemanfaatan secara optimal pada sumber daya manusia. Artinya bahwa pemanfaatan sumberdaya tersebut harus dilakukan dengan memperhatikan kemampuannya untuk memenuhi kebutuhan saat ini, tanpa mengabaikan kepentingan generasi masa datang. Untuk itu azas-azas rencana yang efektif dalam pengelolaan secara optimal dan berkelanjutan yang dapat diterapkan adalah:

    b. Pelaksanaan
Setelah kita membicarakan tentang perencanaan, maka di bagian ini akan diuraikan secara sederhana tentang implementasi program sebagai berikut:
Dengan pelaksanaan ini, menurut Inne, (2009) adalah :
• Terdiri dari aktivitas atau even apakah program yang akan/
   sedang/telah berjalan itu?
• Metode apa yang digunakan dalam menjalankan program?
• Siapa yang sebenarnya menjalankan program dan
  seberapa baik mereka melakukannya?
• Siapa yang berpartisipasi dan dalam aktivitas apa?
  Apa semua pihak yang telibat memiliki akses yang adil terhadap program?
• Sumber daya dan input apakah yang di investasikan dalam program?
• Apakah sumber daya keuangan dan manusia tersedia dengan cukup?

Tahap Pelaksanaan (Implementasi) Rencana
      Pada tahap implementasi (pelaksanaan) pada perencanaan, diperlukan kesiapan dari semua pihak yang terlibat didalamnya, seperti masyarakat itu sendiri, tenaga pendamping dan pihak lainnya.  Selain itu juga diperlukan koordinasi dan keterpaduan antar sektor dan stakeholder yang ada sehingga tidak terjadi tumpang tindih kepentingan dan ego sektoral.  Dalam hal ini diperlukan adanya lembaga pelaksana yang melibatkan semua pihak yang berkepentingan seperti Pemerintah Daerah, masyarakat lokal, Investor/swasta, instansi sektoral, Perguruan Tinggi dan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM).
Pada tahap implementasi (pelaksanaan) ini juga diperlukan kesamaan persepsi antara masyarakat sekitar dengan lembaga atau orang-orang yang terlibat dalam pelaksanaan kegiatan ini sehingga masyarakat benar-benar memahami rencana yang akan dilaksanakan.
Untuk diketahui pula ada kendala SKB di kabupaten/kota yang telah bersudah payah mengajukan permohonan ke DPRD, tentunya melalui Dinas Pendidikan dan pimpinan daerahnya. Namun ternyata usulan anggaran yang diharapkan buat masyarakat kelas bawah ini, tidak kunjung tiba. Bagaikan cerita di TV-0ne yang pihak KPK telah berupaya meminta untuk anggaran  pembangunan gedung, namun DPR-RI merasa pasti tidak mendapatkan imbalan. Kalau mendapat imbalan pasti 2 hal yang dihadapi. Imbalan: pertama akan mendapatkan uang segar; yang kedia akan mendapatkan hukuman seperti halnya sejumlah anggota DPR-RI yang menjadi kasus di KPK.
Menurut Zamani dan Darmawan (2000) kegiatan-kegiatan yang perlu dilakukan pada tahap implementasi ini adalah:
“…(1)Integrasi ke dalam masyarakat, dengan melakukan pertemuan dengan masyarakat untuk menjawab seluruh pertanyaan yang berhubungan dengan penerapan konsep dan mengidentifikasi pemimpin potensial yang terdapat di lembaga masyarakat local;
(2)Pendidikan dan pelatihan masyarakat, metoda pendidikan dapat dilakukan secara non formal menggunakan kelompok-kelompok kecil  dengan cara tatap muka sehingga dapat diperoleh informasi dua arah dan pengetahuan masyarakat lokal (indigenous knowledge) dapat dikumpulkan untuk dimasukkan dalam konsep penerapan;
(3)Memfasilitasi arah kebijakan, dalam hal ini segenap kebijakan yang berasal dari masyarakat dan telah disetujui oleh koordinator pelaksana hendaknya dapat didukung oleh pemerintah daerah, sehingga kebijakan bersama tersebut mempunyai kekuatan hukum yang jelas; dan
(4) penegakan hukum dan peraturan, yang dimaksudkan agar seluruh pihak yang terlibat akan dapat menyesuaikan tindakannya dengan hukum dan peraturan yang berlaku...”.
Dan kita sama maklumi bersama bahwa secara sederhana dalam implementasi (pelaksanaan) ada banyak program yang harus dipikirkan dan bagaimana menuntaskan seperti:
1.Pendidikan Keaksaraan Fungsional;
2.PAUD;
3.Kesataraan
4.Kursus Wirausaha Pedesaan (KWD)
5. Kursus Wirausaha Pedesaan ( KWD) dan Perkotaan (KWK)
6. Penyelenggaraan Magang/Beasiswa
7.Pendidikan Mata Pencaharian ( kelompok Belajar Usaha)
8.Dan berbagai program lainnya.
Dari sekian program di atas, masih banyak lagi yang tak dapat penulis sebut satu-persatu dalam tulisan ini. Namun program-progam yang ada tersebut sungguh besar manfaatnya dalam membantu dalam upaya mencerdaskan kehidupang bangsa. Sehingga harapan kita semua bahwa akan tercipta efektivitas pengelolaan PAUDNI dengan baik dan lancar.

    c. Evaluasi
      Monitoring dan Evaluasi
 Bila berbicara tentang monitoring dan evaluasi, yang dilakukan sejak dimulainya proses perencanaan dan implementasi dimaksudkan untuk mengetahui efektivitas kegiatan, permasalahan yang timbul dalam implementasi kegiatan.  Monitoring dilakukan dengan melibatkan seluruh pihak yang ada.  Setelah monitoring selanjutnya dilakukan evaluasi bersama secara terpadu dengan melibatkan seluruh pihak yang berkepentingan.  Melalui evaluasi ini akan diketahui kelemahan dan kelebihan dari perencanaan yang ada guna perbaikan untuk pelaksanaan tahap berikutnya.
Efektivitas Pengelolaan Program PAUDNI ini di masyarakat sesuai dengan prinsip Ko-manajemen perikanan yaitu pembagian atau pendistribusian tanggung jawab dan wewenang antara pemerintah dan masyarakat lokal dalam mengelola sumber daya perikanan.
Evaluasi berasal dari kata evaluation (bahasa inggris). Suchman (1961 ,dalam Anderson 1975)   yang ditulis (dalam Inne, 2009) memandang evaluasi sebagai sebuah proses menentukan hasil yang telah dicapai beberapa kegiatan yang direncanakan untuk mendukung tercapainya tujuan.
Stufflebeam (1971, dalam Fernandes 1984) mengatakan bahwa evaluasi merupakan proses penggambaran, pencarian dan pemberian informasi yang sangat bermanfaat bagi pengambil keputusan dalam menentukan alternative keputusan.
Dari beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa evaluasi adalah kegiatan untuk megumpulkan informasi tentang bekerjanya sesuatu, yang selanjutnya infromasi tersebut digunakan untuk menentukan alternative yang tepat dalam mengambil sebuah keputusan.
Ada dua pengertian untuk istilah program, yaitu pengertian secara khusus dan umum. Menurut pengertian secara umum,program dapat diartikan sebagai rencana. Apabila program ini langsung dikaitkan dengan evaluasi program maka program didefinisikan sebagai suatu unit atau kesatuan kegiatan yang merupakan realisasi atau implementasi dari suatu kebijakan, berlangsung dalam proses yang berkesinambungan, dan terjadi dalam suatu organisasi yang melibatkan sekelompok orang.

Ciri-Ciri Dan Persyaratan Evaluasi Program
Evaluasi memiliki ciri-ciri dan persyaratan:
a.Proses kegiatan penelitian tidak menyimpang dari kaidah-kaidah yang berlaku bagi peneliti pada umumnya.
b.Dalam melaksanakan evaluasi, peneliti harus berfikir secara sistematis, yaitu memandang program yang diteliti sebagai sebuah kesatuan yang terdiri dari beberapa komponen atau unsur yang saling berkaitan satu sama lain dalam menunjang keberhasilan kinerja dari objek yang dievaluasi.
c.Agar dapat mengetahui secara rinci kondisi dari objek yang dievaluasi perlu adanya identifikasi komponen yang berkedudukan sebagai factor penentu bagi keberhasilan program.
d.Menggunakan standar, kriteria, atau tolak ukur sebagai perbandingan dalam menentukan kondisi nyata dari data yang diperoleh untuk mengambil kesimpulan.
e.Kesimpulan atau hasil penelitian digunakan sebagai masukan atau rekomendasi bagi sebuah kebijakan atau rencana program yang telah ditentukan. Dengan kata lain, dalam melakukan kegiatan evaluasi program, peneliti harus berkiblat pada tujuan program kegiatan sebagai standar, kriteria atau tolak ukur.
 f.Agar informasi yang diperoleh dapat menggambarkan kondisi nyata secara rinci untuk mengetahui bagaimana dari program yang belum terlaksana, maka perlu ada identifikasi komponen yang dilanjutkan dengan identifikasi subkomponen, sampai pada indicator komponen yang dilanjutkan dengan identifikasi subkomponen, sampai pada indicator dari program yang dievaluasi.
g.Standar, kriteria, atau tolak ukur diterapkan pada indicator, yaitu bagian yang paling kecil dari program agar dapat dengan cermat diketahui letak kelemahan dari proses kegiatan. Dari hasil penelitian harus dapat disusun sebuah rekomendasi secara rinci dan akurat sehingga dapat ditentukan tindak lanjut secara tepat.

Selasa, 03 Juli 2012

BANYA ORANG TIDAK TAHU APA ITU PENDIDIKAN LUAR SEKOLAH

Oleh:
H.M.Norsanie Darlan

Terkadang orang sering bertanya apa itu pendidikan luar sekolah? Pendidikan luar sekolah dalam Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional nomor 20 tahun 2003, secara jelas ia masuk dalam 3 jalur pendidikan. Pertama: Pendidikan formal, Kedua: Pendidikan Nonformal, dan ketiga: pendidikan informal. Untuk lebih jelasnya, mari kita pelajari satu persatu jalur pendidikan itu, secara sederhana sebagai berikut:

1.Pendidikan Formal yang termuda
Pendidikan formal yaitu sistem persekolahan yang mana anak sampai dewasa bisa belajar disana. Karena pendidikan formal ini sejak sekolah dasar (SD) sampai pendidikan tertinggi. Artinya pendidikan formal berjenjang dari sekolah dasar, SLP, SLA, Perguruan Tinggi yang menghasilkan Diploma dan S-1, kemudian Pendidikan Tertinggi yaitu Pascasarjana yang menelurkan Magister dan Doktor.
Pertanyaan berikut bagai mana pendidikan nonformal. Pendidikan non formal ini proses pendidikannya ada yang formal dan ada pula yang murni pendidikan di luar sistem persekolahan. Pendidikan nonformal atau PLS ini, yang disebut formal ada di beberapa perguruan tinggi. Kalau di IKIP masa lalu dan dewasa ini disebut dengan Universitas Negeri seperti IKIP Malang disebut dengan Universitas Negeri Malang (UNM), di Jakarta Universitas Negeri Jakarta (UNJ) tapi IKIP Bandung menyebut diri UPI artinya Universitas Pendidikan Indonesia. Di IKIP sebutan lama jurusan PLS ada di Fakultas Ilmu Pendidikan. Bagaimana kalau di Universitas ? PLS ada di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP). Tapi tidak semua FKIP di Universitas Memiliki Jurusan/Program Studi PLS. Untuk Kalimantan hanya ada di Universitas Palangka Raya. Universitas Tanjung Pura (Untan), Universitas Mulawarman (Unmul) dan Universitas Lambung Mangkutan tidak bisa mendirikan, karena tenaga dosennya belum mencukupi. Demikian juga di perguruan tinggi lainnya.

2.Pendidikan Nonformal
Pendidikan Luar Sekolah yang berada betul-betul di luar sekolah seperti pada: Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) yang harusnya ada di seluruh kabupaten. Namun kalimantan tengah baru 7 kabupaten yang memiliki SKB. Pendidikan luar sekolah juga ada di Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) yang tersebar di berbagai kabupaten dan kota di Kalimantan Tengah. Untuk kota Palangka Raya ada 18 PKBM yang aktif dan sejumlah PKBM yang memerlukan uluran tangan pihak terkait. Apa sebenarnya tujuan berdirinya PKBM ?. PKBM didirikan adalah karena kesadaran para anggota masyarakat terhadap nasib para warga masyarakat yang karena sesuatu dan lain hal mereka tidak sempat menikmati pendidikan formal dimasa mudanya. Setelah dewasa ia baru sadar pentingnya belajar. Mau masuk ke SD tidak mungkin, karena faktor usia. Maka PKBM akan memapung mereka untuk belajar kembali. Dengan program paket A dan ijazah mereka berdasarkan Undang-Undang setera dengan SD. Paket B setara SMP dan paket C setara dengan SMA.
Dalam PKBM juga berbagai program belajar di masyarakat tersedia  Keberagaman dimaksud  adalah bermacam-macam kursus seperti: kursus menjahit, menyetir, fotografir, komputer, sablon, salon kecantikan, tata rias, kursus bahasa, kesetinian, dan lain-lain. Seluruhnya menggunakan waktu yang relatif pendek, tapi berguna dan dapat menolong warga belajarnya dalam mencari nafkah untuk diri dan keluarganya. Dan jangan hanya terbatas pada program pemberantasan buta huruf. Tapi PLS berpikir jauh dari itu.
Kalangan pejabat sering tidak mengenal pendidikan luar sekolah seperti pendidikan nonformal ini. Pada ia sebelum atau setelah baru menjabat ikut Diklat kepemimpinan tingkat IV, III, II dan I. Hal itu adalah proses di luar sekolah. Artinya kursus kepemimpinan seperti ini ditak pernah diselenggarakan di persekolahan, melainkan melalui jalur pendidikan luar sekolah.

3.Pendidikan Informal
Sekarang bagaimana yang disebut pendidikan informal ?. pendidikan informal adalah pendidikan tertua di dunia. Karena belajar dari sejarah pendidikan bahwa pendidikan informal ini sejak zaman Nabi Adam sudah terjadi. Karena pendidikan ini berada dalam keluarga.
Pendidikan dalam keluarga ini yang disebutkan dalam teori Tabolarasa, anak yang terlahir dalam sebuah keluarga itu bagaikan kertas putih. Maka lingkungannya yang memberikan warna terhadap anak itu.
Kita sama maklumi jika anak berasal dari keluarga nelayan. Sangat mustahil kalau ia tidak mengerti cara menangkap ikan. Demikian juga jika anak terlahir di keluarga perkebunan. Anak akan bisa dengan mudah melakukan tanaman karena ia sejak dari lahir sudah melihat dari ayah ibu, nenek kakeknya dalam berkebun walau dengan serba sederhana.
Dalam kesempatan ini, penulis mengemukakan kenapa 2 atau 3 pelita lalu, putra dan putri kalteng dalam PON mendulang piala emas dicabag olah raga dayung. Karena saat itu jalan darat belum menjadi primadona berbagai even ke mana-mana. Zaman penulis masa sekolah, anak sebelum sekolah sudah bisa berenang dan mendayung. Karena mau kesekolah harus ke desa seberang. Kalau tidak bisa berenang, orang tua murid enggan melepas anaknya untuk sekolah. Para petani ke ladang harus naik perahu. Sehingga putra-putri kita saat itu menjuarai olah raga dayung. Karena mendayung muncul dalam pendidikan informal. Petalihan hanya senambah teknik meraup kemenangan. Sekarang kita ketahui bersama bahwa jalan sungai sudah mulai ditinggalkan. Karena jalan darat lebih mudah, lebih cepat untuk perjalanan dari desa ke desa. Namun cabang olahraga dayung kejuaraan hanya sebagai kenangan masa lampau.

Ciri-Ciri Pendidikan Luar Sekolah


Bila mengkaji berbagai literatur menyebutkan bahwa Pendidikan Luar sekolah (PLS) yang berdasarkan dalam Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional nomor 20 tahun 2003 seperti sekarang ini, jelas bahwa PLS atau pendidikan nonformal itu tidak disebutkan secara rinci disebutkan. Penulis mencoba mengurai tentang PLS atau pendidikan nonformal ini dalam 4 ciri adalah:
(1) waktunya pendek;
(2) materinya beragam;
(3) warga belajarnya bervariasi dan;
(4) tempatnya menyesuaikan. 

Untuk lebih jelasnya ke 4 hal di atas, secara rinci dan sederhana akan diuraikan berikut ini:
 Waktunya pendek; adalah dalam pendidikan luar sekolah dengan memerhatikan faktor kesibukan warga belajar (WB) maka proses pembelajaran diberikan harus sependek mungkin. Namun tidak merugikan teradap wbnya. Pendeknya waktu dalam pendidikan luar sekolah atau nonformal ini tidak menutup kemungkunan hanya  dalam 1 hari sudah selesai. Tapi warga belajar yang menerimanya sudah dapat memanfaatkannya. Dan tidak ada pendidikan luar sekolah menggunakan waktu lebih dari setahun. Karena kalau satu tahun berarti sudah Diploma I dalam pendidikan formal.
Materinya beragam; adalah akan menysuaikan dengan kebutuhan di masyarakat saat itu. Sehigga nampak ciri PLS itu. Misalnya saja dalam kehidupan masyarakat sehari-hari membutuhkan keterampilan otomotif yang kebetulan banyaknya kendaraan roda 2 yang di tempat itu belum tersedia bengkel kendaan roda 2, maka di tempat itu diperlukan kursus montir otomitif kendaraan bermotor roda 2. waktunya tidak perlu bertahun-tahun karena kalau betahun-tahun seperti sekolah formal di pada SMK, atau Diploma.
Keberagaman dimaksud  adalah bermacam-macam kursus seperti: kursus menjahit, menyetir, fotografir, komputer, sablon, salon kecantikan, tata rias, kursus bahasa, kesetinian, dan lain-lain. Seluruhnya menggunakan waktu yang relatif pendek, tapi berguna dan dapat menolong warga belajarnya dalam mencari nafkah untuk diri dan keluarganya.
Warga belajarnya bervariasi; adalah ada kalanya usia mereka tidak sama ada yang masih dewasa muda dan ada pula yang sudah dewasa. Kerena belajar tidak membedakan kelas usia. Beda dengan di pendidikan formal misalnya kelas I SMA, usia berkisar antara 15-16 tahun. Demikian juga jenis kelamin peserta didik di pendidikan luar sekolah ada kalanya laki-laki dan perempuan tidak perlu dibedakan. Kecuali atas permintaan mereka sendiri.
Tempatnya menyesuaikan; adalah sebuah kebiasaan dalam dunia pendidikan luar sekolah atau pendidikan nonformal tidak terlalu mementingkan tempat. Apakah di balai desa, di rumah penduduk, ataukan di pusat kegiatan belajar masyarakat (PKBM). Namun tujuan utamanya tidak lain materi belajar harus mereka terima dengan baik.