Selasa, 30 November 2021

ntropologi ke tiga belas

INGAT INDENTITAS sDR 1.Apa ciri masyarakat perkotaan ? Jelaskan Apa menurut kota menurut Talcott Parson yang sdr ketahui 3.Sedangkan menurut Menurut Roucek – Warren: Kelompok primer itu bagaimana ? 4.Bagaimana Typologi perkembangan desa Yang sdr ketahui? 5. Bagaimana mengubah-masyarakat-primitif-menjadi-masyarakat-moder menurut: MUHAMMAD SYIHABUDDIN QOSTHALAN 6.Bagaimana Menurut Mayor Polak: Bersifat kekeluargaan dalam kehidupan masyarakat itu ? 7.Bagaimana penggunaan bahasa modern pada masyarakat ? 8Bagaimana menghadap masyarakatt terasing yang tidak mau dihubungi oraang dua seperti di pulau andaman selatan negeri India itu. 9. Bagaimana masyarakat yang primitif terhadap kehidupan modern yang semakin lama menghimpit kehidupannya. ? jelaskan SELAMAT BLAJAR

Minggu, 28 November 2021

konsep Pendidikan ke 13

ingat identitas Sdr. 1. kenapa kawasan ada istilah kawan utara dan selatan itu ? Jelaskan 2.Apa saja yang termasuk kesetaraan itu ? Jelaskan satu-persatu. 3.Kepada harus ada dalam sebuah kelompok belajar ada istilah siswa berprestasi dan tidak berprestasi itu ? Jelaskan. 4.Mengapa menurut David Cooper yang membedakan mutu pendidikan dalam dua kategori. Sebutkan. 5.Apa sebetulya tujuan dari pendidikan kesetaraan itu? Jelaskan 6.Mengapa ada yang disebut dengan standar kompetisi itu? Jelaskan. 7.Sasaran pendidikan kesetaraan antara lain usia 15-45 tahun jelaskan 8. Nara Sumber Teknis (NST) dengan kompetensi /kualifikasi sesuai dengan mata pelajaran keterampilan yang diampunya, seperti penyuluh pertanian. Jelaskan 9. Jelaskan untuk apa saja masing-masing paket itu seperti peket A, b dan C 10.Apa maksud dari Proses belajar mengajar dapat dilaksanakan di berbagai tempat yang sudah ada baik milik pemerintah ? Jelaskan. 11.Betulkah Paket C bisa kuliah ? Jelaskan. 12.Kenapa otang tuna juga bisa ikut Paket C elaskan 13.Apakah seorang pegawai bisa ikut paket A, tau B dan paket C ? SELAMAT BELAJAR

Selasa, 23 November 2021

ANTROPOLOGI KE DUA BELAS

ingat identitsnya 1.Dalam antropologi ada istilah antropologi sosial, bisakah sdr menjelaskan dalam jika pada teman akrab sdr. 2.Bagaimana jika sdr bertemu dengan masyarakat terasing. Seagai orang Pendidikan Masyarakat . Apa yang sdr lakukan ? 3.Apa yang sdr lalukan dalam filsafat Antropologi dalam masyarakat terasing ? Jelaskan 4.Dalam filsafat psikoloagi apa yang kau ketahui tentang psikologi itu ? Jelaskan 5.Sebagai seorang pendidikan masyarakat, dalam bergau dengan masyarakat kota. Apa yang sdr lakukan ? jelaskan 6.Sebutkan minimal 7 tokoh Antropologi terkenal dunia. 7.Siapa sang Bapak Antropologi Indonesia, dan apa karyanya ? 8.Apa antropologi ragawi yang mereka lakukan ? 9. memelajari variasi biologis dan perilaku manusia, makhluk primata bukan manusia kenapa ? Jelaskan 10.Apa yang harus sdr lakukan dalam masa libur semester nan ? Jelaskan. SELAMAT BEKERJA.

Minggu, 21 November 2021

KONSEP DASAR PENDIDIKAN MASYARAKAT KE DUA BELAS

INGAT IDENTITAS SDR: 1.Bagaimana tanda-tanda orang cerdas ? Jelaskan. 2.Kenapa disebut pendidikan Holisik ? 3.Apa kata Ainun Najib ? Menurut sdr 4. Jelaskan 3 kecerdasan dalam pendidikan 5.Bagaimana konsep Burns menurut sdr. 6.Apa saja menurut para tokoh tentang pendidikan ? 7.Bagaimana menurut Sdr tentang watak 8.Apa sebenarnya tentang temperamen itu 9.Bisakah watak dan temperamen itu bersatu ? 10.Bagaimana menurut Arif Budiman ? Jelaskan 11.Adakah yang sdr tokohkan dari sejumlah tokoh yang diuraikan sebelumnya ? 12.Kenapa olah raga catur memakan waktu cukup panjang ? 13.Kalau sekiranya sdr punya keterampilan lebih dari kawan yang lain, dipertunjukan. Apakah sdr dilarang ? Jelaskan. SELAMAT BELAJAR

Minggu, 08 Agustus 2021

Tokoh Masyarakat Berkomentar: Jembatan Kahayan Perlu Perhatian Kita Semua

Kamis, 5 Januari 2012 - 11:55 Banjarmasin, Seruu.com - Seorang tokoh masyarakat Kalimantan Tengah, Prof HM Norsanie Darlan mengharapkan instansi berwenang untuk melakukan penelitian terhadap kekuatan Jembatan Barito di Kabupaten Barito Kuala (Batola) Kalimantan Selatan. "Pasalnya, tiap kali truk besar melintas jembatan tersebut sangat terasa ada goyangan di jembatan itu, seakan mau runtuh saja," kata guru besar Universitas Palangkaraya (Unpar), di Banjarmasin, Kamis (05/1/201). Melihat kondisi yang cukup rawan tersebut, sebaiknya instansi terkait melakukan penelitian ulang lagi atas kekuatan Jembatan tersebut, agar runtuhnya jembatan serupa, di Kutai Kertanegara, atau jembatan di Sungai Mahakam tak terulang lagi. Ia menyebutkan, Jembatan Barito yang diresmikan akhir dari era Orde Baru tersebut sangat membantu warga dua wilayah, untuk membuka keterisoleran antara Kalimantan Tengah dan Kalimantan Timur. "Dulu sebelum ada jembatan Barito berpergian antara Palangkaraya (Kalteng) ke Banjarmasin (Kalsel) menelan waktu berhari-hari sekarang setelah adanya jembatan itu disamping kian baiknya jalan trans wilayah itu perjalanan hanya sekitar tiga jam saja," tuturnya. Berdasarkan pengamatannya, intensitas lalu lintas menyeberangi Jembatan Barito begitu besar. Setiap hari raturan truk besar dan membawa beban yang sangat berat seperti, Besi Beton,pasir, batu, semen, kelapa sawit, bahkan truk kontainer melewati jembatan yang berada di Desa Anjir tersebut. Melihat intensitas lalu-lintas yang begitu tinggi membuat Pemerintah Kabupaten Barito Kuala hampir tidak pernah berhenti memperbaiki jalan di kawasan tersebut. Melihat kondisi jalan begitu cepat rusak berarti beban yang melalui jalan kawasan itu begitu berat, dan tentunya mempengaruhi terhadap kondisi Jembatan Barito. Belum lagi aktivitas lainnya di atas Jembatan Barito juga begitu tinggi,karena lokasi itu objek wisata seringkali terlihat mobil parkir di atas jembatan, bahkan begitu banyak orang menggelar dagangan di atas jembatan itu. Bicara jembatan Kahayan, semakin tahun semakin meningkat volume lalu lintas. termasuk mereka yang mau melintas mau ke Buntok, Bartim, Barut dan Murung Raya. Bisa pula dari Bartim ini untuk menuju ke Banjarmasin atau ke utara ke Samarainda. Selain hal itu, ada 1 kabupaten lagi ke arah Gunung Mas. Dengan memperhatikan banyaknya tujuan dari Palangka Raya yang ke 5 kabupaten di Kaliteng, dan 2 provinsi tetangga seperti Kalsel dan Kantim. bahkan ada pula ke Kalimantan Utara bisa melintas jembatan Kahayan ini. sehingga dengan faktor usia jembatan Kahayan yang kian tahun, kian memakan usia. dirasakan perlu untuk mendapatkan perhatian para teknisi jempatan di Kalimantan Tengah. agar tidak terjadi seperti di Kutai Kertanegara. Mengingat begitu berat beban jembatan itu maka sewajarnya adanya penelitian ulang,atau kalau perlu rehabilitasi atau penambahan material bangunan lagi guna memperkuat ketahanan jembatan tersebut, demikian Norsanie Darlan yang kelahiran Desa Anjir tersebut. [ndis]

SUMBANGAN BUKU KARYA TULIS ILMIAH KE REKTOR UPAR

Prof.Norsanie Darlan Sumbangkan Ribuan Buku Ke UPR BeritaKalteng.com 20/04/2021 Akademika Leave a comment 151 Views FOTO : Rektor Universitas Palangka Raya (UPR), Dr. Andrie Elia, SE,MSi ketika menerima sejumlah buku yang disumbangkan oleh Kepala Unit Pelayanan Terpadu (UPT) Perpustakaan UPR, Prof. Dr. H. M. Norsanie Darlan, MS PH, selasa (20/4/2021) Beritakalteng.com, PALANGKA RAYA -Rektor Universitas Palangka Raya (UPR), Dr. Andrie Elia, SE,MSi mendapat kunjungan dari Kepala Unit Pelayanan Terpadu (UPT) Perpustakaan UPR, Prof. Dr. H. M. Norsanie Darlan, MS PH diruang kerja Rektor, Selasa (20/4/2021). Pertemuan tersebut terkait dengan niat baik dari Prof. Dr. H. M. Norsanie Darlan, MS PH selaku Kepala Unit Pelayanan Terpadu (UPT) UPR yang berkeinginan untuk menyumbangkan koleksi buku yang ia miliki untuk koleksi perpustakaan UPR. Adapun koleksi buku yang akan disumbangkan untuk UPR berjumlah 4000 (empat ribu) exsemplar, 200 judul diantaranya adalah koleksi karya tulis pribadi yang dibukukan. “saya berharap buku yang ia sumbangkan kepada perpustakaan UPR dapat menjadi sumber ilmu dan literatur bagi seluruh warga UPR. Juga sebagai bentuk dukungan untuk meningkatkan SDM unggul dan berdaya saing serta memiliki tingkat literasi yang tinggi,” kata Norsanie Darlan. Hal tersebut bukan kali pertama Norsanie Darlan menyumbangkan buku koleksi pribadi nya. Dimana tahun 2011 lalu dirinya juga pernah menyumbangkan buku-buku ke Perspustakaan daerah Kalteng. Norsanie Darlan berharap buku-buku yang ia sumbangkan dapat berguna dan juga dapat tersimpan serta terpelihara dengan baik di perpustakaan UPR. Demikian juga untuk Dosen tenaga pengajar yang ada di UPR. Dirinya kembali berpesan agar turut serta menyimpan buku-buku yang dimiliki di perpustakaan UPR agar dapat dibaca oleh mahasiswa, dosen serta masyarakat lain yang memerlukan. Sementara Rektor UPR DR. Andrie Elia S.E.,, MS.i. menyampaikan ucapan terimakasih dan apresiasi atas keputusan Prof. Dr. H. M. Norsanie Darlan, MS PH yang telah menyumbangkan ribuan koleksi buku yang dimiliki untuk perpustakaan UPR. ” saya berharap bahwa dengan bertambahnya koleksi buku di UPR semakin memotivasi mahasiswa dan Masyarakat untuk berkunjung dan membaca secara aktif di perpustakaan UPR,” tutup Andrie Elia.(*)

Sabtu, 05 Juni 2021

PROF. NORSANIE SUMBANGKAN BUKU KARYA TULISNYA KE REKTOR UPR

Akademika Leave a comment 91 Views FOTO : Rektor Universitas Palangka Raya (UPR), Dr. Andrie Elia, SE,MSi ketika menerima sejumlah buku yang disumbangkan oleh Kepala Unit Pelayanan Terpadu (UPT) Perpustakaan UPR, Prof. Dr. H. M. Norsanie Darlan, MS PH, selasa (20/4/2021) Beritakalteng.com, PALANGKA RAYA -Rektor Universitas Palangka Raya (UPR), Dr. Andrie Elia, SE,MSi mendapat kunjungan dari Kepala Unit Pelayanan Terpadu (UPT) Perpustakaan UPR, Prof. Dr. H. M. Norsanie Darlan, MS PH diruang kerja Rektor, Selasa (20/4/2021). Pertemuan tersebut terkait dengan niat baik dari Prof. Dr. H. M. Norsanie Darlan, MS PH selaku Kepala Unit Pelayanan Terpadu (UPT) UPR yang berkeinginan untuk menyumbangkan koleksi buku yang ia miliki untuk koleksi perpustakaan UPR. Adapun koleksi buku yang akan disumbangkan untuk UPR berjumlah 4000 (empat ribu) exsemplar lebih, dan 200 judul adalah koleksi karya tulis pribadi serta sejumlah artikel yang telah dipublikasikan baik pada jurnal dalam maupun internasional. “saya berharap buku yang ia sumbangkan kepada perpustakaan UPR dapat menjadi sumber ilmu dan literatur bagi seluruh warga UPR. Juga sebagai bentuk dukungan untuk meningkatkan SDM unggul dan berdaya saing serta memiliki tingkat literasi yang tinggi,” kata Norsanie Darlan. Hal tersebut bukan kali pertama Norsanie Darlan menyumbangkan buku koleksi pribadi nya. Dimana tahun 2011 lalu dirinya juga pernah menyumbangkan buku-buku ke Perspustakaan daerah Kalteng tanggal 17 Agustus 2011 melalui gubernur Ir. Teras Narang. Hardiknas 2 Mei dengan Rektor Universitas Palangka Raya Drs. Henry Singarasa, MS dan Perpustakaan Universitas Muhammadiyah juga tahun yang sama. Norsanie Darlan berharap buku-buku yang ia sumbangkan dapat berguna dan juga dapat tersimpan serta terpelihara dengan baik di perpustakaan UPR. Demikian juga untuk Dosen tenaga pengajar yang ada di UPR. Dirinya kembali berpesan agar turut serta menyimpan buku-buku yang dimiliki di perpustakaan UPR agar dapat dibaca oleh mahasiswa, dosen serta masyarakat lain yang memerlukan. Sementara Rektor UPR DR. Andrie Elia S.E.,, MS.i. menyampaikan ucapan terimakasih dan apresiasi atas keputusan Prof. Dr. H. M. Norsanie Darlan, MS PH yang telah menyumbangkan ribuan koleksi buku yang dimiliki untuk perpustakaan UPR. ” saya berharap bahwa dengan bertambahnya koleksi buku di UPR semakin memotivasi mahasiswa dan Masyarakat untuk berkunjung dan membaca secara aktif di perpustakaan UPR,” tutup Andrie Elia.(*)

Senin, 24 Mei 2021

Prof. Norsanie, mengapa Jakarta Banjir ?

Jakarta Banjir Rabu, 30 Juli 2014 14:36 WIB Presiden Baru Tampilkan Model Baru BAMSOETNEWS-- Akademisi dari Universitas Palangka Raya, Kalimantan Tengah Prof Dr HM Norsanie Darlan MS, PH berpendapat, presiden baru harus menampilkan model baru pula. "Kalau tidak, kurang indah hanya melanjutkan program lama. Harusnya menunjukkan program baru pula," katanya menjawab Antara Kalimantan Selatan, di Banjarmasin, Selasa. Putra Kalteng dengan motto daerahnya Isen Mulang (Pantang Mundur) itu mencontohkan kota Jakarta sebagai Ibu Kota Negara RI yang beberapa tahun belakangan di mana-mana banjir. "Sedangkan lokasi baru di sekitar sulit atau tidak mungkin untuk menghindar dari banjir," ujar anak Desa Anjir Serapat, Kabupaten Kapuas, Kalteng yang berkarir dari pegawai rendahan (pesuruh) yang kini bergelar profesor itu. "Sementara Kalteng lahan tersedia yang luas. Kenapa tidak dialihkan ke Kalteng saja Ibu Kota Negara atau Pusat Pemerintahan Indonesia," lanjut Guru Besar Universitas Palangka Raya (Unpar) tersebut. Menurut dosen pascasarjana Pendidikan Luar Sekolah (PLS) Unpar tersebut, pengalihan pusat pemerintahan atau Ibu Kota Negara itu tentu ada ketertautan dengan pembangunan daerah tertinggal. "Sebenarnya masih banyak lagi program yang harus dialihkan dari Ibu Kota atau Pulau Jawa agar tidak terjadi kesenjangan sosial," tutur Koordinator Wilayah Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (Korwil ICMI) Kalteng itu. "Jadi kita tak perlu risih atas pemindahan Ibu Kota Negara atau pusat pemerintahan. Apalagi kita tahun tidak ada permasalahan mendasar dalam pemindahan pusat pemerintahan tersebut," lanjutnya. Sebagai contoh dalam pemindahan kota/pusat pemerintahan negara, antara lain Malaysia, Amerika Serikat, dan Australia, mereka tak pernah rugi, bahkan tambah maju, demikian Norsanie Darlan. Mantan aktivis Ikatan Pers Mahasiswa Indonesia (IPMI) atau pegiat pers kampus Unpar tahun 1980-an itu mengingatkan wacana presiden pertama Republik Indonesia Ir Soekarno yang mau mengalihkan Ibu Kota Negara ke Pahandut, Kalteng. Pahandut asal nama kota Palangkaraya, ibu kota Kalteng, yang peresmiannya oleh Presiden Soekarno pada 1957. Dalam perkembangannya provinsi yang luasnya hampir satu setengah kali luas Pulau Jawa tersebut, kini ada 14 kabupaten/kota. Sebelum era otonomi daerah tahun 1999, provinsi yang kaya dengan sumber daya hutan itu hanya terbagi delapan kabupaten/kota, yaitu Kota Palangkaraya, dan Kabupaten Kapuas. Selain itu, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Kotawaringin Barat (Kobar), Barito Selatan (Barsel) dan Kabupaten Barito Utara (Barut). Pada era reformasi/otonomi daerah terjadi pemekaran, Kabupaten Kapuas, Kotim dan Kobar masing-masing dimekarkan menjadi tiga kabupaten. Sementara Barsel dan Barut masing-masing dimekarkan menjadi dua kabupaten. Pemekaran dari Kabupaten Kapuas yaitu Kabupaten Pulang Pisau dan Gunung Mas, dari Kotim tambah Kabupaten Katingan dan Seruyan, Kobar tambah Kabupaten Lamandau dan Sukamara. Untuk pemekaran Basel tambah Kabupaten Barito Timur (Bartim) dan Barut ditambah Kabupaten Murung Raya (Mura). (ant)

Prof. Norsanie, Mengapa Keluhan Dosen Di Bandung itu ?

Keluhan Dosen Di Bandung Dosen-Dosen Pendidikan Luar Sekolah Menanti Perubahan Nomenklatur Sejak hari kamis 26 Juni 2014 para dosen Pendidikan Luar Sekolah (PLS) menanti realisasi surat dari Kementian Pendidikan dan Kebudayaan RI Dirjen Pendidikan tinggi saat itu dengan nomor: 2300/E3/2014, tertanggal 28 Mei lalu, yang isinya memerintahkan perubahan Nomenklatur Program Studi pendidikan luar sekolah (PLS) menjadi pendidikan non formal (PNF). Tujuannya agar sarjana PLS jika diganti nama, akan mempermudah komunikasi dengan alumnus mereka di berbagai negara. Karena ada kesamaan pendidikan non formal tersebut. Namun setelah dosen-dosen dan guru besar PLS seluruh jurusan/Program se-Indonesia bertemu di hotel Griyo AVI Jalan Raya Darmo nomor 6 Surabaya. Tepatnya sejak jam 08.00-15.00 bersepakat merubah nomenklatur dari jurusan/Program studi PLS menjadi Program studi Pendidikan Nonformal. Pada hari itu kamis 26 Juni 2014. kesepakatan itu dengan merubah nomenklaturnya dari PLS menjadi Pendidikan non formal (PNF). Tapi hingga saat ini surat resmi dengan berubahnya status Dirjen pendidikan tinggi dari kemendiknas ke kementrian lain. Belum ada realisasi nomenklatur itu. Hal tersebut dipertanyakan oleh dosen-dosen dalam seminar Nasional dan pertemuan Akademisi PLS di Universitas Pendidikan Indonesia Bandung belum lama ini. Ternyata satupun tidak ada perguruan tinggi dari 32 Perguruan tinggi di tanah air yang memiliki jurusan/program studi PLS yang menerima surat tentang perubahan nomenklatur itu dari Dikti. Sementara sejumlah perguruan tinggi sudah turut merubah nama ke pendidikan non formal (PNF) itu di negeri ini. Jika surat nomor 2300/E3/2014, tertanggal 28 Mei 2014 itu, tidak diturunkan. Bagaimana Universitas jurusan/Program Studi PLS itu sudah merubah nomenklaturnya tapi surat resminya tidak ada. Apa jadinya bagi sarjana PLS kami.

Prof. Norsanie, mengapa CPNS PERLU TES URINE ?

CPNS PERLU TES URINE D0211114000373 21-NOV-14 PLK BJM AKADEMISI PERTANYAKAN PEMINDAHAN PUSAT PEMERINTAHAN INDONESIA Oleh Syamsuddin Hasan Banjarmasin, 21/11 (Antara) - Akademisi Universitas Palangka Raya, Kalimantan Tengah, Prof Dr HM Norsanie Darlan mempertanyakan realisasi pemindahan pusat pemerintahan Indonesia dari Jakarta ke daerah lain. "Pasalnya banjir kembali melanda Jakarta, baik sebagai ibu kota negara maupun pusat pemerintahan Indonesia," ujarnya kepada Antara Kalimantan Selatan, di Banjarmasin, Kamis malam. Wacana pemintahan Ibu Kota Republik Indonesia dari Daerah Khusus Istimewa (DKI) Jakarta beberapa waktu lalu mendapat perhatian dan tanggapan beragam dengan tinjuan dari berbagai aspek. Namun mulai dilupakan, lanjutnya. Padahal, lanjut Guru Besar pada Universitas Palangka Raya (Unpar) yang merupakan perguruan tinggi negeri tertua di "Bumi Isen Mulang" (pantang mundur) Kalteng itu, musim penghujan tiap tahun terjadi. "Dengan musim penghujan tersebut, berarti Jakarta atau Betawi yang pada Hindia Belanda disebut Batavia itu bakal menjadi langganan banjir tahunan. Tinggil kondisi banjir itu sendiri, apakah kecil, sedang atau berat," katanya. Memang, lanjut sang profesor yang berkarir dari pegawai rendahan (pesuruh) itu, meninggalkan Ibu Kota yang sudah demikian maju, sulit rasanya untuk dipindahkan. "Tapi kalau banjir setiap tahun melanda Jakarta. Apakah tidak ada pemikiran untuk masa depan kita semua. Apakah dibiarkan seperti selama ini kota Jakarta selalu kebanjiran," ujarnya. "Padahal negeri kita sangat luas dan hampir sama dengan benua Eropa. Kenapa Jakarta dijadikan satu-satunya Ibu Kota Pemerintahan Indonesia," tanya anak Desa Anjir Serapat Kabupaten Kapuas, Kalteng itu. Mantan aktivis Ikatan Pers Mahasiswa Indonesia (IPMI) itu mengungkapkan, di banyak negara sudah memindahkan ibu kota pemerintahannya, seperti negeri jiran Malaysia, dan Australia. "Bahkan juga negeri Amerika Serikat atau United State of Amerika (USA) yang sangat terkenal itu, ibu kota pemerintahannya pindah ke daerah lain. Tentu mereka dengan perencanaan yang cukup matang," ungkapnya. "Mungkin istana negara 'Paman Sam' USA itu tidak sempat kebanjiran. Mereka sudah memindahkannya ke tempat yang aman. Selain itu, di kawasan baru akan berkembang lagi dengan penataan yang rapi tentunya," tuturnya. Menurut dia, Indonesia untuk memindahkan Ibu Kota pemerintahan ke Palangkaraya yang lokasinya di tengah-tengah negeri ini, mungkin tidak terlalu masalah, terutama dari segi keterdiaan lahan. "Apalagi 'kota cantik' Palangkaraya posisinya berada di tengah-tengah nusantara Indonesia, sehingga mempermudah pertemuan nasional baik yang dari Sabang maupun dari Merauke persis tidak sejauh masa sekarang," katanya. "Sementara ibu kota negeri kita saat ini sudah kebanjiran penduduk dan kebanjiran banjir. Jakarta saat sekarang sebaiknya mungkin menjadi pusat perdagangan. Sedangkan Ibu Kota pemerintahan perlu emikiran lebih jauh," demikian Norsanie. ***1*** (T.KR-SHN/B/H. Zainudin/H. Zainudin) 21-11-2014 18:48:16

Prof. Norsanie, MELIRIK KARAKTER ANAK BANGSA

MELIRIK KARAKTER ANAK BANGSA BAGAIMANA KARAKTER ANAK BANGSA Oleh : H.M. Norsanie Darlan Pendahuluan Karakter anak bangsa, memerlukan banyak pemikiran. Karena dewasa ini sering terjadiakibat perselisihan yang sederhana menimbulkan rasa permusuhan yang mendalam. Dan tidak menutup kemungkinan munculnya demo-demo. Walau sebenarnya persoalan sebelumnya tidaklah berat. Upaya dalam memecahkan masalah ini, mulai dirasakan. Terlebih di saat adanya pemilihan langsung pada calon-calon bupati/walikota termasuk juga gubernur. Peristiwa itu sering terjadi berbuntut anarkis. Apakah hal-hal seperti itu perlu diteruskan? Tentu kurang baik. Sehingga menimbulkan karekter anak bangsa sering kabablasan. Bisa terjadi pula menimbulkan perselisihan bersaudara, karena mereka tidak sama pilihan. Karakter Anak Bangsa Dewasa ini, sudah banyak yang menyangsikan bahwa masa depan lebih cerah. Namun sebaliknya bangsa kita dalam kurun waktu relatif singkat berubah menjadi karakter yang keras, mudah tersinggung, dan bisa dijual belikan oleh kelompok berkepentingan. Bila kita memperhatikan perubahan karakter dimaksud, seperti karakter keras dihampir setiap hari kita menyaksikan terjadinya perkelahian apakah adu mulut ataukan fisik, termasuk juga demo-demo terhadap hal-hal tertentu yang ditayangkan media cetak maupun elektronik. Demo atau tawuran di mana-mana tidak memandang manfaat atau modharat. Karakter masyarakat yang mudah tersinggung, seperti apa pun pernyataan kepala negara, ternyata ada yang menyanggah. Terlepas benar atau salah. Sehingga tidak terlihat lagi batas formal antara pemimpin dengan rakyat jelata. Bupati, KPU, Pores, pengadilan, Kejaksaan, perusahaan sering di demo oleh karyawanya dll. Tidak lepas dari sasaran masa untuk menyampaikan kebebasan berpendapat. Terlepas betul ataukah salah. Guru di demo oleh murid dan orang tuanya,. Hal ini betul-betul lupa ia dan anaknya diberikan didikan oleh sang guru. Kok guru itu di demo ?. Untuk kepentingan tertentu sekelompok masyarakat mau menerima bayaran untuk melakukan demo. Walau yang di demo itu adalah keluarga atau kerabatnya sendiri. Bila kita memperhatikan pada suatu peristiwa kejaksaan Batang Jawa Tengah di demo oleh mereka yang tidak puas terhadap tuntutan hukum. Hal-hal di atas adalah sebagian dari sekian contoh karakter bangsa kita yang saat ini disebut demokrasi yang kebablasan. Sehingga karakter bangsa kita dewasa ini, perlu diperbaiki. Namun belum diketahui dari mana memulai perbaikannya. Perubahan karakter bangsa memang punyaq proses yang sangat cepat. Sebab dengan berubahnya kondisi negeri ini dari masa orde baru menjadi orde reformasi terasa mencengangkan. Karena di masa sebelumnya rakyat dengan mentaati berbagai peraturan. Siapa yang berbuat kurang baik, apa lagi melakukan demo dan berbagai keonaran lainnya. Pemerintah segera mengatasi hal itu. Dan ternyata rakyat segera menurut. Sehingga jarang terjadi keonaran. Namun menjelang berakhir era ode baru bermunculan berbagai tuntutan. Tapi setelah dituruti, negeri cercinta ini jadi kebablasan. Karakter Bangsa yang diharapkan Dari karakter bangsa yang saat ini masih sulit dikendalikan, memang sebenarnya tidak terlintas dalam cita-cita semua orang. Masyarakat Indonesia, sebenarnya berharap negeri yang aman luh jinawi, Negeri yang baldatul thaybatun warabbun gafur, adalah impian semua rakyat bangsa di negeri ini. Hanya saja reformasi negeri kita yang belum tuntas ini, membuat bangsanya jadi beringas. Banyak upaya yang sudah dilakukan oleh berbagai pihak, namun belum juga terwujud. Mungkinkah ada istilah tantangan ini tidak semudah membalik telapak tangan ?. Kini kita sebagai anak bangsa, marl bersama-sama mencari pemecahan ini, agar situasi (karakter) bangsa kita jadi tidak mudah marah, bersikap Bantu-membantu, tut wuri handayani, yang punya prinsip saling menghargai, saling menghormati dan saling percaya mempercayai. Insya Allah negeri kita akan muncul kembali karakter bangsa yang diharapkan/diidam-idamkan masyarakat semua. Sebaiknya jika kita sebagai orang tua berprinsip seperti teori Langavelt yang bercita-cita:"...jika seandainya saya sebagai seorang buruh tani, maka ia berharap anaknya satupun tidak akan menjadi buruh tani. Tapi anak-anak saya akan menjadi juragan tani yang santun terhadap buruh taninya..." Hal ini sebuah karakter yang lebih maju dari masa sekarang. Proses untuk memperoleh harapan di atas, tentu saja proses pendidikan yang menanamkan karakter santun dan hormat-menghormati dengan sesamanya itu, membutuhkan waktu yang cukup panjang. Inipun jika sekiranya kurikulum yang disusun belum memenuhi harapan semua orang itu, tentu punya dampak ke masa depan anak bangsa. Karakter Ber-etika Sungguh sulit mencari manusia sekarang yang masuk pada golongan, Menurut Norsanie Darlan (2010) bahwa:”...masih banyak orang punya karakter ber-Etika. Namun dari hasil diskusi dikalangan dosen, ternyata masih banyak juga ditemukan manusia-¬manusia yang berkarakter sopan santun, tidak mudah terumbang ambing dari berbagai arus zaman yang dewasa ini sering menyesatkan...”. Kementrian pendidikan nasional sudah menetapkan:"... kode etik guru..." namun belum ditetapkan siapa wasitnya. Oleh sebab itu Kementrian Pendidikan Nasional bersama PB PGRI sudah mulai menata hal itu. Dewasa ini, dikalangan kampus sungguh banyak terjadi demo apakan mahasiswa dengan mahasiswa. Bahkan sering pula demo antara mahasiswa dengan doses. Peran Pembantu Rektor III bidang kemahasiswaan kurang nampak. Padahal jika dikaji secara etika, mahasiswa mendemo doses tidaklah wajar, Karena doses guru mereka sendiri. Karakter ber-etika juga di masyarakat. Para tokoh masyarakat dan tokoh agama adalah orang yang harus kita hormati. Ternyata sungguh tidak menggembirakan, sering kali etika itu di langgar. Senin pagi tanggal 2 Agustus 2010, jam 06.00 TV-One menyiarkan di bekasi Jawa Barat yang berbatasan dengan DKI Jakarta seorang pendeta mau memimpin kebaktian ditolak oleh kelompoknya sendiri. Karena dijauhkan hal-hal yang negatif. Sebenarnya perlu pemisahan antara kegiatan keagamaan dengan masalah demo. Pendidikan Karakter Tidak Semata Tugas Guru Berbicara pendidikan secara umum, maka tugas tersebut tidak seluruhnya dibebankan kepada guru. Sudah menjadi kesepakatan secara luas, bahwa pendidikan itu bisa berhasil dengan baik, bila adanya keterlibatan dari semua pihak. Guru, orang tua murid, masyarakat dan pemerintah. Karena pendidikan itu, tidak semata dibebankan kepada guru, melainkan tanggung jawab bersama. Untuk majunya suatu bangsa tentu kita saling menghargai, saling toleransi dan saling menghormati. Kenapa guru kurang dihargai masyarakat terlebih muridnya sendiri karena mereka melihat kehidupan guru dalam 25 tahun terakhir ini sungguh menyedihkan. Dulu guru kita hormati, karena mereka dianggap orang yang terpelajar, orang berilmu pengetahuan. Dalam kurun waktu tertentu menjadikan profesi guru sebagai pilihan paling akhir. Mudah¬-mudahan masa datang guru kembali menjadi yang dihormati. Dan geliat sekarang pendidikan guru menjadi rebutan. Karena lapangan kerjanya masih dicari. Dengan demikian, sebaiknya calon guru dicari orang pilihan. Sekiranya seleksinya ini betul-betul ketat dan tes wawancara betul-betul dilaksanakan berdasarkan apa syarat bagi seorang calon guru. Termasuk guru tidak merokok, tidak peminum dan pemabuk. Apa lagi pemain judi. Maka karakter guru masa depan tentu lebih baik, dari seleksi yang asal-asalan.

Prof. Norsanie, Siapa sebetulnya GURU nonformal ?

Siapa sebetulnya GURU nonformal • Beranda PERAN PENDIDIK DAN TENAGA KEPENDIDIKAN (Tutor) PENDIDIKAN NONFORMAL DALAM MENUNTASKAN WAJIB BELAJAR PENDIDIKAN DASAR 9 TAHUN BAGI MASYARAKAT DESA TERTINGGAL Oleh: H.M.Norsanie Darlan A. PENDAHULUAN Dalam pembangunan sekarang, masih ditemukan berbagai kesenjangan di masyarakat. Yang antara lain disebabkan oleh faktor kondisi geografis ataupun sosial budaya, sehingga dapat menyebabkan ketertinggalan dalam berbagai hal. Salah satu di antaranya yang kita bahas sekarang ialah ketertinggalan masalah pendidikan jalur luar sekolah yang bila tidak segera diatasi, ketertinggalan di bidang pendidikan tetap selalu muncul. Namun, dalam postulat yang ada bagi masyarakat desa tertinggal selama ini, belum dirasakan rendahnya pendidikan dapat berakibat suramnya masa depan mereka. Dengan demikian, tanpa peningkatan pendidikan, baik jalur sekolah maupun luar sekolah maka kualitas SDM kita tidak akan meningkat. Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 pasal 31 ayat (1) dan (2) serta Undang-Undang Nomor 2 tahun 1989 tentang sistem pendidikan nasional, secara tegas telah diatur oleh pemerintah tentang jenis dan jalur pendidikan. Lebih lanjut dalam pasal 10 ayat (3) Jalur pendidikan luar sekolah merupakan pendidikan yang diselenggarakan di luar sekolah, melalui kegiatan belajar-mengajar yang tidak harus berjenjang dan berkesinambungan. Dengan demikian, kita semua perlu dan terpanggil untuk turut melaksanakan amanat tersebut. Strategi menuntaskan wajib belajar 9 tahun bagi masyarakat desa tertinggal, perlu kita kaji permasalahannya dan dicari berbagai jalan penuntasannya. Konsep pembangunan di bidang pendidikan nasional yang berakar pada kebudayaan bangsa Indonesia, berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945 diarahkan untuk meningkatkan kecerdasan bangsa dan kualitas sumber daya manusia (SDM), mengembangkan manusia serta masyarakat Indonesia yang beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, budi pekerti luhur, memiliki pengetahuan, keahlian dan keterampilan, kesehatan jasmani dan rohani, serta kepribadian yang mantap dan mandiri. Pendidikan nasional juga harus menumbuhkan dan mempertebal rasa cinta tanah air, meningkatkan semangat kebangsaan, wawasan keunggulan, kesetia-kawanan sosial, dan kesadaran pada sejarah bangsa dan sikap menghargai jasa para pahlawan serta berorientasi masa depan. Pendidikan nasional perlu ditata, dikembangkan, dan dimantapkan secara terpadu dan serasi, baik antarjalur, jenis, dan jenjang pendidikan maupun antarsektor pendidikan yang makin berkembang, efektif dan efisien, serta meningkatkan, mengutamakan pemerataan, dan peningkatan kualitas pendidikan dasar, perluasan dan peningkatan kualitas pendidikan kejuruan, pendidikan profesional serta pendidikan keterampilan, dan meningkatkan pelaksanaan wajib belajar sembilan tahun. Masyarakat sebagai mitra pemerintah harus diberi kesempatan seluas-luasnya untuk berperan serta dalam penyelenggaraan pendidikan nasional sesuai dengan ilmu pengetahuan dan teknologi, tuntutan kebutuhan, serta perkembangan pembangunan bangsa sekarang dan masa datang. Namun bila kesadaran mereka belum tumbuh, maka pemerintah harus berperan aktif dalam menuntaskannya. B. KAJIAN TEORI Untuk menghindari kesalahpahaman pengertian di atas, maka akan diuraikan beberapa pengertian atau peristilahan, sebagai berikut : 1. Strategi pembangunan menurut Hasan Shadily (1984) bahwa tujuan utama untuk memenuhi kebutuhan dasar seluruh penduduk dalam kurun waktu satu generasi, yaitu menjelang tahun 2000. Untuk mencapai tujuan ini, rangkaian sasaran menyangkut jasa-jasa umum, termasuk penyediaan fasilitas pendidikan dan kesehatan. Strategi pembangunan yang mengutamakan pemenuhan kebutuhan dasar bagi seluruh penduduk yang memerlukan perubahan sosial dan struktur yang mendalam untuk mencapai sasaran yang diinginkan. Apa sebenarnya pengertian strategi pendidikan luar sekolah. Menurut Prof. Harsono (1997) dalam makalahnya di seminar nasional PLS dan Konferensi ISPPSI di Surabaya, bahwa ada hubungan erat antara peningkatan mutu sumber daya manusia dengan pembangunan telah dimengerti, dipahami, dan diterima oleh banyak pihak. Namun, dalam menentukan prioritas pelaksanaannya, banyak faktor yang perlu dipertimbangkan, salah satunya ialah faktor lingkungan strategis termasuk potensi tantangan dan peluang yang ada di dalamnya. Memasuki abad XXI bangsa Indonesia dihadapkan pada fenomena lingkungan internasional, regional, dan nasional. Sedangkan menurut Prof. Djudju Sudjana (1997) dalam seminar nasional PLS di Surabaya menguraikan agar dalam strategi meningkatkan peran PLS, SDM Indonesia siap menjadi pelaku yang memiliki daya saing komparatif, perlu memiliki sasaran yang jitu bagi para perencana pendidikan. Adapun pengertian strategi PLS menurut H.M.Norsanie Darlan (1996) suatu rencana yang cermat mengenai kegiatan pendidikan untuk mencapai sasaran. Sedangkan menurut Prof. Santoso S. Hamidjojo (1998) strategi PLS adalah untuk meletakkan sistem yang tangguh untuk menangani pendidikan sepanjang hidup, dengan jalur insidental, informal, nonformal dan formal bagi semua warga negara untuk menggalang masyarakat gemar belajar yang beradab dan demokratis (madani). 2. Menuntaskan, diambil dari istilah bahasa dengan asal kata tuntas (Moeliono, 1989). Yakni suatu kegiatan pendidikan bagi seseorang untuk menuntaskan atau menghabiskan (mencurahkan semua) masa pendidikan di sekolah atau pun di luar sekolah sehingga kualitas SDM semakin tahun semakin meningkat. Kendala dalam penuntasan wajib belajar 9 tahun erat hubungannya dengan faktor sosial ekonomi dan budaya. Sebagian besar orang tidak mampu menyekolahkan anaknya karena ekonominya lemah (miskin). Apalagi sejak terjadinya krisis moneter dan krisis ekonomi melanda Indonesia pada pertengahan tahun 1997. Hal ini menyebabkan semakin banyak penduduk menjadi miskin, jumlah orang miskin bertambah dari 20 juta sebelum krisis dan sekarang mencapai hampir 80 juta orang. Menurut Sanapiah Faisal (1998) hal tersebut berakibat banyak tenaga kerja yang di PHK, sehingga berdampak negatif pula terhadap penuntasan wajib belajar 9 tahun khususnya anak usia pendidikan dasar. 3. Wajib Belajar adalah suatu tuntutan zaman yang harus dilaksanakan kepada seluruh bangsa Indonesia baik laki-laki maupun perempuan; usia sekolah 7 - 15 tahun mapun bagi mereka yang karena sesuatu hal sehingga tidak ada kesempatan mengikuti pendidikan formal. Oleh karena itu, mereka harus di tolong dengan pendidikan luar sekolah. 3. Harsono (1997) mengartikan masyarakat dari 2 bahasa asing yakni (1) Dalam bahasa Arab yaitu Syrk yang artinya sekelompok manusia saling bergaul di suatu tempat dengan berbagai kesamaan. Kedua, bahasa Inggris Society yang artinya sekumpulan manusia saling berinteraksi dalam suatu wilayah tertentu dengan berbagai kesamaan satu sama lainnya. Pendapat tokoh lain seperti Poerwadarminto (1986) dan Moeliono (1989) mengartikan masyarakat adalah sekumpulan orang dalam arti seluas-luasnya terikat dalam kebudayaan yang dianggap sama. Misalnya terpelajar, cendekiawan, pedagang, pegawai, pengusaha, petani, nelayan dll. Dalam penjelasan lain masyarakat ada yang tinggal di kota dan di desa. Masing-masing istilah ini memiliki kekhassan tersendiri satu sama lainnya. C. MASYARAKAT DESA TERTINGGAL 1. Arti masyarakat desa adalah sejumlah manusia dalam arti seluas-luasnya dan terikat oleh suatu kebudayaan yang mereka anggap sama. Sedangkan arti tertinggal/terpencil adalah terpisah dengan yang lain (Poerwadarminta, 1986 dan Anton M. Moeliono, dkk, 1989). Dengan demikian yang dimaksud masyarakat desa tertinggal adalah mereka berada jauh dari pembangunan kota, karena ketertinggalan tersebut sehingga sulit mengikuti perkembangan pembangunan, termasuk ketertinggalan dalam dunia pendidikan. 2. Pada dasarnya rata-rata pendidikan dan pengetahuan masyarakat desa tertinggal relatif rendah. Demikian juga jiwa/semangat kewiraswastaan ini sudah jarang dijumpai (A.J. Nihin, 1990). Karena itu, kepada mereka perlu diperkenalkan pertimbangan-pertimbangan antara faktor out-put dan input dalam setiap usaha produksi, namun dalam bentuk yang sederhana dan terjangkau oleh pikiran masyarakat. Hal ini perlu dengan contoh, bukti, atau semacamnya. Untuk lebih mendalami arti pendidikan luar sekolah (Non Formal Education) menurut Prof. H.M. Sudomo (1974) adalah setiap kegiatan pendidikan yang diorganisir di luar sistem pendidikan formal, baik dilakukan sebagai kegiatan yang lebih luas untuk memenuhi kebutuhan pelajar (Clientele) dalam mencapai tujuan belajar. Pengertian pendidikan nonformal menurut Depdiknas adalah usaha sadar yang dilakukan untuk membentuk perkembangan kepribadian serta kemampuan anak luar sekolah atau tepatnya di luar sistem persekolahan sebagaimana yang kita kenal sekarang. PLS menurut Prof. Dr.H. Sutaryat Trisnamansyah (1997) adalah konsep pendidikan sepanjang hayat yang mengandung karakteristik, bahwa pendidikan tidak berakhir pada saat pendidikan sekolah selesai ditempuh oleh seorang individu, melainkan suatu proses sepanjang hayat, mencakup keseluruhan kurun waktu hidup seorang individu sejak lahir sampai mati. Pendidikan sepanjang hayat bukan hanya pendidikan orang dewasa, yang dimulai manakala seorang individu telah menyelesaikan pendidikan sekolah hingga berusia dewasa. Pengertian pendidikan secara umum menurut Prof. H. Fuad Ihsan (1996) bahwa pedagogy atau ilmu pendidikan ialah penyelidikan, merenungkan tentang gejala-gejala perbuatan mendidik. Pendidikan bagi kehidupan umat manusia merupakan kebutuhan mutlak yang harus dipenuhi sepanjang hayat. Tanpa pendidikan mustahil suatu kelompok manusia dapat maju berkembang sejalan aspirasi (cita-cita) untuk maju, sejahtera, dan bahagia menurut konsep pandangan hidup mereka. Soelaiman Joesoef dan Slamet Santoso (1981) menguraikan PLS sebagai upaya menolong masyarakat untuk mencapai kemajuan sosial ekonomi, agar mereka dapat menduduki tempat yang layak dalam dunia modern. Pendidikan ini jelas ditujukan kepada masyarakat dan daerah yang terbelakang agar masyarakat dan daerah ini dapat menyamai daerah lain yang tidak terbelakang. D. KEADAAN DI LAPANGAN Kesempatan untuk memperoleh pendidikan dan keterampilan di semua jalur, jenis, dan jenjang pendidikan yang diselenggarakan oleh pemerintah dan peran serta masyarakat, termasuk pendidikan di lingkungan keluarga dan masyarakat terus dikembangkan secara merata di seluruh tanah air dengan memberikan perhatian khusus kepada keluarga yang kurang mampu, penyandang cacat, dan yang bertempat tinggal di daerah terpencil/tertinggal di Nusa Tenggara Timur, sehingga makin meningkatkan kualitas serta jangkauannya. Peserta didik yang memiliki tingkat kecerdasan luar biasa mendapat perhatian dan pelayanan lebih khusus agar dapat dipacu perkembangan prestasi dan bakatnya tanpa mengabaikan potensi peserta didik lainnya. Pendidikan prasekolah, pendidikan dasar, pendidikan menengah, pendidikan tinggi, PLS, dan pendidikan kejuruan harus terus ditingkatkan pemerataan, kualitas, dan pengembangannya untuk menyiapkan peserta didik menjadi anggota masyarakat yang memiliki kemampuan akademik dan profesional serta kemampuan kepemimpinan yang tanggap terhadap kebutuhan pembangunan serta pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek), berjiwa penuh pengabdian dan memiliki rasa tanggung jawab yang besar terhadap masa depan bangsa dan negara. Kehidupan kampus dikembangkan sebagai lingkungan ilmiah yang dinamis sesuai dengan disiplin ilmu dan profesional, yang berwawasan budaya bangsa, bermoral Pancasila, dan berkepribadian Indonesia. Perguruan tinggi terus diusahakan untuk lebih mampu menyelenggarakan pendidikan, penelitian, dan pengkajian di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi, serta memberikan pengabdian kepada masyarakat yang bermanfaat bagi kemanusiaan dan sesuai dengan kebutuhan pembangunan sejalan dengan iklim yang makin demokratis yang mendukung kebebasan akademik, kebebasan mimbar akademik, dan otonomi perguruan tinggi. Pidato tertulis Mendikbud RI dalam rangka hari pendidikan nasional patut pula kita mengungkapkan rasa syukur yang mendalam bahwa ternyata hasil-hasil pembangunan yang telah kita capai selama ini, sangat menggembirakan. Kemajuan pendidikan di tanah air kita, menunjukkan peningkatan yang sangat pesat. Terutama dilihat dari kesempatan pendidikan yang semakin meluas pada semua jenis dan jenjang serta jalur pendidikan. Lebih-lebih kita telah berhasil meningkatkan program nasional wajib belajar pendidikan dasar dari 6 tahun menjadi 9 tahun sejak tahun 1994. Dengan tantangan globalisasi, kita harus menuntaskan wajib belajar pendidikan dasar 9 tahun dalam waktu yang sesingkat-singkatnya. Pada akhir tahun 2005 diharapkan anak usia 15 tahun telah bersekolah pada jenjang SLTP. Pembangunan di negeri kita dirasakan sangat banyak kendala dalam beberapa tahun terakhir. Dalam kaitan ini, kita hendaknya terus berusaha untuk melakukan upaya-upaya terobosan guna meningkatkan jumlah tempat-tempat belajar baru, agar seluruh kelompok umur 7-15 tahun dapat tertampung. Di antara terobosan yang telah dikembangkan selama ini untuk menuntaskan program wajib belajar adalah : (a) belajar melalui SLTP terbuka, (b) penyelenggaraan pendidikan luar sekolah melalui kejar paket A setara sekolah dasar (SD) dan kejar paket B setara SLTP, serta (c) upaya memanfaatkan teknik-teknik pendidikan jarak jauh, melalui media cetak maupun elektronik. Bahkan sudah ada juga Paket C setara SMA, namun kebutuhan itu harus mampu merealisasi pada lapisan yang lebih bawah. Perencanaan pengadaan alat fasilitas/sarana penunjang berupa tenaga, sarana dan prasarana. Perencanaan sarana penunjang baru dapat dilakukan setelah pola perintisan dengan menggunakan perangkat lunak seperti kurikulum, buku paket, modul, kaset, video, radio dll (Winarno Hani Seno 1990). Guna mendukung keberhasilan penuntasan wajib belajar pendidikan dasar 9 tahun dan upaya-upaya peningkatan mutu pendidikan, jalinan kerjasama antara tokoh-tokoh masyarakat (toma) tokoh-tokoh agama (toga) dan orang tua dengan pemerintah, hendaknya juga terus ditingkatkan. Hal ini penting karena tugas pendidikan merupakan tanggung jawab bersama antara pemerintah, masyarakat dan orang tua siswa. Tanpa keterlibatan semua pihak, upaya mencerdaskan kehidupan bangsa niscaya tidak akan berhasil dengan baik. Hal ini menurut Wardiman (1997) sangat pentingnya peran pemerintah daerah untuk menyukseskan program pendidikan nasional. Menurut Prof. Dr. H. Abdul Azis Wahab, MA (2000) ada kekeliruan strategi pembangunan dewasa ini. Strategi yang dijalankan pada pelita-pelita lalu lebih mengutamakan sektor ekonomi di garis depan. Sementara menurut ahli perbandingan pendidikan pemerintah Malaysia dan Jepang mengutamakan sektor pendidikan di garis depan. Sebagai bukti dapat kita lihat bahwa 2 atau 3 pelita silam warga Malaysia belajar di Indonesia dalam ilmu pendidikan, kedokteran, dan bahkan mereka berani mendatangkan tenaga-tenaga dosen bidang MIPA. Dalam tahun-tahun belakangan ini, ternyata negeri mereka jauh lebih maju dibanding pembangunan kita. Tidak sedikit pemuda kita yang belajar ke Malaysia di berbagai Universitas dan akademi. Di pihak lain sambutan Mendikbud RI, mengetuk hati kita bersama yang sekarang sedang membangun dengan melaksanakan program-program perluasan pendidikan. Keberhasilan ini serta laju kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) yang cenderung makin cepat mendorong kita untuk mencanangkan Gerakan Wajib Belajar Pendidikan Dasar 6 tahun pada tahun 1984. Selanjutnya, kita melangkah lebih maju lagi dengan melaksanakan wajib belajar pendidikan dasar 9 tahun. Mudah-mudahan krisis moneter yang melanda negeri kita tercinta, tidak berpengaruh besar dalam pembangunan bidang pendidikan. Di Indonesia pendidikan nonformal/pendidikan luar sekolah dikonsepkan bahwa setiap kesempatan di mana terdapat komunikasi yang teratur dan terarah di luar sekolah, di mana seseorang memperoleh informasi pengetahuan, latihan ataupun bimbingan sesuai dengan usia dan kebutuhan hidupnya, dengan tujuan mengembangkan tingkat keterampilan, sikap dan nilai-nilai yang memungkinkan baginya menjadi peserta aktif yang efisien dan efektif dalam lingkungan keluarganya, pekerjaanya bahkan lingkungan masyarakat negaranya (Sudomo, 1974, Sanapiah Faisal 1981). Sedangkan penulis mengambil pengertian tentang pendidikan luar sekolah yaitu suatu pendidikan tak terpisahkan dengan pendidikan formal, namun pelaksanaannya dilakukan di luar sistem persekolahan di antaranya berbagai kegiatan penyuluhan guna menunjang di berbagai bidang pembangunan bangsa (M.Norsanie Darlan, 1983). Dengan demikian PLS mempunyai tugas berat dalam memberdayakan masyarakat mulai usia 14 - 45 tahun di luar sekolah yang menjadi sasaran didiknya. Sehingga pendidikan harus memberikan berbagai kebutuhan masyarakat setempat. Menurut: H. Djudju Sudjana (2000) bahwa PLS sangat berkembang bagi masyarakat industri. Bila kita berpikir secara prospektif, maka dari sekarang kita mulai bergerak agar tidak tertinggal dari negara lain. Dalam kesempatan ini, kita menilik terhadap kehidupan masyarakat dengan pola perladangan/pertanian yang dilakukan masyarakat desa tertinggal. Kegiatan yang mereka lakukan dalam berladang dimulai dari menebas, menebang hutan, dan kemudian membakar. Namun, perlu digarisbawahi bahwa membakar hutan (hasil penelitian tahun 1997 sampai awal 1998), ternyata di musim kemarau panjang, belum ditemukan petani membakar hutan untuk perladangan mereka. Pembakaran terjadi oleh mereka, setelah hujan turun beberapa kali, mereka sudah menguasai ilmu falak, dengan melihat posisi bintang. Oleh para tokoh masyarakat (tomas) setempat dengan melihat keadaan bintanglah baru menentukan pembakaran ladang yang akan digarap. Dan cara membakar lokasi sudah mereka persiapan dengan membersihkan di sekelilingnya. Sehingga pembakaran hutan dan asap tebal di musim kemarau dari hasil penelitian penulis tidak seluruhnya benar oleh masyarakat peladang berpindah. Mereka sudah mengerti dampak/akibat dari pembakaran tersebut bagi habitat lingkungan di sekeliling mereka (H.M.Norsanie Darlan, 2000). Mereka yang dimaksud masyarakat desa tertinggal adalah bermukim di bukit-bukit, tepian sungai, di lembah, danau, kawasan pantai, dan sebagainya. Semuanya mendapatkan hak dan kesempatan yang sama dalam bidang pendidikan. Dalam strategi PLS untuk menuntaskan Wajar Dikdas 9 tahun, SKB bersama Pamong Belajar sebagai ujung tombak. Bila penempatan tenaga PLS tidak pada bidangnya, maka upaya pemerintah tidak akan segera terwujud. Sedangkan ciri Pendidikan Luar Sekolah secara spesifik menurut Saleh Marzuki (1981) adalah : 1. progam jangka pendek; 2. tidak dibatasi oleh jenjang-jenjang; 3. Usia didiknya tidak perlu sama/homogen; 4. sasaran didiknya beriorientasi jangka pendek dan praktis; 5. Diadakan sebagai respon kebutuhan yang mendesak; 6. Ijazah biasanya kurang memegang peran penting; 7. dapat diselenggarakan pemerintah dan swasta; 8. dapat diselenggarakan di dalam dan di luar kelas. Dalam hal ini, mungkin timbul bertanyaan mengapa di perguruan tinggi ada jurusan atau program studi PLS? Padahal di lain pihak pendidikan tersebut diselenggarakan di luar sistem persekolahan. Sebagian perguruan tinggi sejak lama telah menyelenggarakan PLS. Tujuannya adalah untuk memenuhi kebutuhan tenaga ahli pembangunan bidang PLS. Mahasiswa yang dididik pada jurusan atau program studi PLS adalah dididik dalam jalur pendidikan formal. Namun, sistem berfikir mahasiswa di luar sistem persekolahan. Seperti mengenal tuna aksara latin dan angka, ini konsep "tempoe doeloe". Sekarang mahasiswa lebih dititikberatkan pada masalah yang lain yaitu bagaimana agar warga masyarakat mampu menghadapi tantangan lebih jauh ke depan pada era globalisasi untuk berwiraswasta, mengenal berbagai kursus keterampilan, dan berbagai bentuk pendidikan di luar sistem persekolahan. Misalnya Bordir, Mejahit, Tata Rias, Pertanian, Elektronika, Jurnalistik, Komputer, pendidikan dan latihan berbagai cabang olahraga, penyuluhan kesehatan, KB, pertanian, sampai kursus berbagai bahasa dll (Oong Komar, 2000). Harapan masyarakat menurut Yus Darusman (2000) adalah aktivitas PLS melalui peran kelompok belajar masyarakat sebagai kelompok pengubah dan kelompok penyebar. Dampak perilaku moral ekonomi masyarakat tampil sebagai masyarakat yang maju, padat keterampilan, padat karya, padat usaha, padat kesejahteraan. Hal ini di selenggarakan oleh masyarakat, LSM, Dinas, dan instansi pemerintah. Karena tidak tuntas akibat dari ledakan penduduk berdampak menimbulkan kemiskinan dalam dunia pendidikan. Salah satu diantaranya ditutupnya kran-kran PLS di berbagai tempat dengan alasan yang tidak jelas di zaman orde baru. Sehingga di sana-sini munculnya anak jalanan, para galandangan, dan berbagai masalah sosial yang membuat pusing bagi pihak si penutup kran itu sendiri, dan siapa pembinannya? Penulis berasumsi bahwa sebagai dampak ditutupnya kran PLS sejak tahun akademi 1987/88, terjadinya kendala dalam penuntasan wajib belajar yang cukup berarti. Yang paling menyedihkan bagi lembaga yang ditugasi menuntaskan wajib belajar itu adalah menerima tenaga-tenaga di luar profesinya. Sehingga bukan teori andragogy yang diterapkan pada warga masyarakat, melainkan sebaliknya. Jadi keterampilan dalam berkomunikasi sebagai ahli PLS kepada warga masyarakat tidak bisa hanya belajar dalam 2, 3 bulan. Melainkan memerlukan cukup waktu, cukup SKS dan cukup praktik lapangannya. Sebab di masyarakat mereka tidak perlu banyak komentar, melainkan melihat bukti dan kenyataan. Sekarang sarjana PLS sebelum diyudisium harus memiliki keterampilan (Skill) tertentu yang diharapkan bisa menciptakan lapangan kerja sendiri di masyarakat. PLS adalah satu dari dua jalur pendidikan di Indonesia yang memiliki peran besar di masa depan. Sehingga sangat aneh, bila melihat calon mahasiswa S-2 dan S-3 PLS berdatangan dari bidang-bidang ilmu lain tidak terbatas dalam jurusan pendidikan semata, melainkan ilmu-ilmu nonkependidikan karena mereka tahu cerahnya masa depan PLS. Diharapkan pada penerimaan mahasiswa baru, Universitas Palangka Raya tidak menerima lewat undangan saja, namun harus juga lewat UMPTN. Kepada para rekan sejawat (dosen-dosen PLS) harus mampu mengubah sistem perkuliahan dengan mengutamakan teori-teori andragogy. Karena pasar kerja kita sudah jauh berbeda dari masa pendidikan masa 15 - 20 tahun silam. Pada waktunya nanti PLS sudah turut memikirkan pula terhadap mereka yang menghadapi pasca kerja di hari pensiun. Sebab Post Power Sindrom menunjukkan tanda-tanda kenaikan yang sangat bermakna dalam masa belakangan ini. Dalam hal PLS guna mewujudkan manusia Indonesia memajukan kesejahteraan, mencerdaskan kehidupan bangsa agar memiliki kemampuan baca tulis. Direktorat Pendidikan Masyarakat (Dikmas), Depdiknas perlu mengadakan pembenahan-pembenahan, sebab kalau masih berjalan seperti selama ini, maka PLS yang dititipkan oleh pemerintah tak akan mampu diwujudkan. 1. Gerakan Nasional Orang Tua Asuh agar diusahakan dapat sampai ke wilayah pedesaan, sehingga upaya menolong kaum lemah segera terwujud. 2. Memperbaiki kelemahan yang selama ini dirasakan misalnya penempatan tenaga, cenderung merekrut para guru atau tenaga yang telah bertugas bertahun-tahun. Mereka di tempatkan untuk mendidik masyarakat pada bidang PLS. Padahal ia telah terbiasa (berpengalaman) melakukan pengajaran pada pendidikan formal. Terhadap tugas yang berhubungan dengan masyarakat, bukan teori andragogy yang ia berikan, melainkan cenderung paedagogy. Sehingga berapapun anggaran yang disediakan secara objektif cenderung kurang memberi manfaat. Mahasiswa PLS telah dipersiapkan, namun tenaga mereka juga diserap oleh Dinas Instansi lain, terutama bagi yang memiliki Diklat Balai Latihan dan penyuluhan. 3. Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) perlu pembenahan, sebab kalau hanya sebagai tempat penampungan cenderung akan timbul keterlambatan untuk berpacu dan upayanya dalam pengentasan kemiskinan. Menurut U. Sihombing (2000) SKB hanya memiliki sejumlah papan nama kelompok belajar. Sehingga bila dicek di lapangan, ternyata kelompok belajar tersebut cenderung sudah bubar. Di sini ada dugaan ketidakmampuan para tenaga kita dalam menerapkan teori andragogy yang berbasis pada pendidikan orang dewasa, yang tidak dimiliki jurusan-jurusan lain. Mengupas manajemen dan kebijakan dalam otonomi pendidikan untuk pemberdayaan masyarakat menurut Saiful Sagala (2000) ada dua saingan utama profesi kependidikan. Salah satu diantaranya orang luar (external) pendidikan yang menyatakan bahwa semua orang bisa mengajar (guru/pendidik) dan menduduki jabatan pendidikan, tetapi bagaimana menjadi guru yang baik dan memahami aspirasi pendidikan dalam jabatan, maka sampai saat ini belum ada yang menyatakan pendidikan berkualitas di Indonesia. Hal ini disebabkan latahnya dalam penempatan tenaga kerja kita, termasuk dalam menangani PLS yang belum efektif. Bila kita menilik terhadap keterlibatan PLS dalam berbagai dinas/instansi di tanah air, maka hampir di seluruh instansi pemerintah maupun swasta pasti merasa memiliki ilmu ke-PLS-an ini. Sebab kalau kita mengkaji secara mendalam menurut Sarjan Kadir (1982) bahwa ada di beberapa negara termasuk Philipina menerapkan 4 jalur pendidikan, yakni Nonformal Education, Formal Education, Family Education dan Basic Education. Di Indonesia, dengan berlakunya Undang-Undang Pendidikan Nasional dewasa ini, menurut H. M. Norsanie Darlan (1998) bahwa pendidikan menerapkan 2 jalur saja, yakni pendidikan formal dan pendidikan luar sekolah. Dari uraian di atas, kalau pendidikan formal berada di bangku sekolah sejak dari sekolah dasar sampai pendidikan tertinggi, maka hampir semua orang mencari kerja sudah menggunakan hal itu. Namun bila setiap instansi pemerintah maupun swasta yang ingin meningkatkan kualitas tenaga kerjanya dalam waktu relatif singkat, maka pendidikan luar sekolahlah jalur yang tepat. Dengan berpatokan undang-undang yang ada dan ingin meningkatkan keprofesionalan, maka tenaga kependidikan luar sekolah harus diberikan tempat untuk turut membenahi kelemahan kita bersama. Salah satu contoh bila di dinas dan jawatan terdapat Diklat atau Balai Latihan Kerja, maka menilik UUPN no 2 tahun 1989 sebaiknya harus ada tenaga PLS yang turut menanganinya. Demikian juga pada penyuluhan, karena sedikit banyak telah ditanamkan dari berbagai teori andragogy selama di bangku kuliah. Di lembaga swasta sangat banyak corak dan ragamnya seperti kursus komputer, merias, menjahit dan bordir, berbagai keterampilan, serta kursus-kursus lainnya. Dalam aspek sosial budaya masyarakat desa tertinggal masyarakat memiliki konsep budaya yang masih tinggi dan sebetulnya hanya sebagian kecil yang memiliki budaya tertutup. Konsep pembangunan yang ditawarkan termasuk pendidikan sudah mereka sadari dewasa ini. Pendidikan punya andil besar terhadap masa depan. Hanya saja ada beberapa hal yang perlu kita perhatikan, yakni faktor kesulitan biaya, jauhnya lokasi rumah, dan terbatasnya fasilitas belajar, serta belum banyak pendidikan yang ditawarkan memberikan motivasi mereka belajar. Salah satu strategi dan upaya penuntaskan Wajar Dikdas 9 tahun bagi anak usia sekolah, yang lokasi rumahnya jauh dari SLTP disediakan asrama siswa. Dalam penanganan pendidikan di Indonesia menurut Satrio Sumantri (2000) adalah sangat diperlukan adanya keterlibatan masyarakat dalam masalah pendidikan. Hal ini sesuai pula dengan GBHN di negeri kita tercinta ini. Walau di berbagai daerah kondisi alam sangat menjanjikan terhadap kehidupan sosial budaya masyarakat sekitarnya, namun mereka belum dapat menyelesaikan pendidikan formal sementara usia kerja sudah sampai. Untuk mengantisipasi itu, PLS Universitas Palangka Raya juga harus tanggap terhadap tantangan ini, agar warga masyarakat dapat diberikan bekal dalam menghadapi pasar kerja. E. KESIMPULAN DAN SARAN 1. Kesimpulan a. Dikmas Depdiknas baik di tingkat kecamatan, kabupaten maupun propinsi harus menyediakan lebih banyak tenaga-tenaga profesional dibidangnya seperti sarjana PLS dan Diploma. Sehingga salah satu upaya menuntaskan wajar Dikdas 9 tahun segera terwujud. b. Dalam mendirikan SLTP-Terbuka, sebaiknya tidak satu tempat dengan lokasi paket B, karena programnya menjadi tumpang tindih. Kalaupun harus satu lokasi, perlu pemisahan yang jelas untuk SLTP-Terbuka bagi anak usia sekolah, dan bagi peserta paket B yang berusia 14 - 45 tahun. Dan bagi mereka yang belum tamat SD sebaiknya mengikuti program paket A fungsional. Atau pendidikan yang mampu mengantarkan kesejahteraan dia dan keluarganya. c. Kelemahan kita selama ini yang sangat dirasakan pada ujung tombak Dikmas adalah tak mampu berperan banyak. Sebab dalam penempatan tenaga, cenderung merekrut para guru atau tenaga lain yang telah bertugas bertahan-tahun. Mereka di tempatkan untuk mendidik masyarakat pada bidang PLS. Padahal ia telah terbiasa (berpengalaman) melakukan pendidikan formal. Sehingga berhadapan dengan masyarakat, bukanlah teori andragogy yang ia berikan, melainkan cenderung paedagogy. d. Salah satu strategi dan upaya penuntaskan Wajar Dikdas 9 tahun bagi anak usia sekolah, yang lokasi rumahnya jauh dari SLTP di sediakan Asrama Siswa. 2. Saran-saran Indonesia sudah memiliki program PLS Kepelatihan baik jenjang S1 dan S2, mereka dibiayai oleh Proyek PMPTK. Sayangnya dalam pertemuan para mahasiswa-mahasiswa PLS ini tak seorangpun ada utusan dari Nusa Tenggara Timur. Padahal mereka ini dipersiapkan untuk mengembangkan pendidikan luar sekolah didaerah. Ketertinggalan kita hanya 2 kemungkinan, apakah kalah bersaing dalam seleksi masuk calon S-1 dan S-2 yang lemah, ataukah memang kesempatan bagi kita tidak dimanfaatkan. DAFTAR PUSTAKA Darusman, Yus, 2000. Model Transformasi Moral Ekonomi Pengrajin Melalui Pendidikan Luar Sekolah, PPS UPI, Disertasi, Bandung. Darlan, M. Norsanie, 1983. Dasar-dasar Pendidikan Luar Sekolah di Berbagai Negara, Unpar, Palangka Raya. ------------, 2000. Strategi Menuntaskan Wajib Belajar Dikdas 9 tahun bagi masyarakat Desa Tertinggal, Orasi Ilmiah Pengukuhan Guru Besar, Universitas Palangka Raya. Djojonegoro, Wardiman, 1998. Tantangan Pembinaan Ketenaga Kerjaan Dalam Menghadapi Era, globalisasi, Seminar Nas. dan Temu PLS IKIP Malang. Hamidjojo, Santoso, S. , 1998. Tantangan PLS dalam Era Reformasi dan Globalisasi, Seminar Nasional dan Temu Alumnus, IKIP Malang. Koentjaraningrat, 1981. Pengantar Antropologi, UI Press, Jakarta. Komar, H. Oong, 2000. Spektrum Tenaga Kependidikan Pada Satuan Pendidikan Luar Sekolah Kursus, PPS UPI, Disertasi, Bandung. Manan, 1997. Keadaan Penduduk Buta Huruf dan Putus Sekolah, Kandep Kecamatan Kapuas Barat, Mandomai. Nihin, A.Dj. 1990. Pokok-pokok Pikiran Stategi Pembangunan Pedesaan, Muara Teweh. Sihombing, U. 2000. Kuliah Umum Perkembangan Dikmas Di Indonesia, UPI, Bandung. Sudjana, H.Djudju, 1997. Peranan PLS Dlm Pengembangan SDM Berkualitas, Makalah Seminar Nasional PSL dan Konperensi ISPPSI, Surabaya. Sumantri, Satrio, 2000. Rembuk Pendidikan Nasional, Temu Pemikiran Untuk Menyelamatkan Masa Depan Pendidikan Nasional, Makalah, Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung. Tim Wajar, 1991. Keputusan Menko Kesra tentang Wajar Pendidikan Dasar, Kantor Menko Kesra RI, Jakarta. Yusuf, Sulaiman, 1981. Pendidikan Sosial, Usaha Nasional, Surabaya

Prof. Norsanie, IBU KOTA PINDAH Ke Palangka Raya

IBU KOTA PINDAH Ke Palangka Raya Kalimantan Dinilai Siap dan Strategis Kamis, 24 Januari 2013 02:43 WIB | Newswire/JIBI/Kabar24 | | BANJARMASIN– Wacana pemindahan ibu kota Republik Indonesia dari Daerah Khusus Istimewa (DKI) Jakarta mendapat perhatian dan tanggapan beragam dengan tinjauan dari berbagai aspek. “Perhatian itu sebuah kewajaran. Karena wacana tersebut, bukan rahasia umum lagi,” ujar Wakil Ketua DPRD Provinsi Kalimantan Selatan (Kalsel) H Riswandi di Banjarmasin, Rabu (23/1/2013). “Apalagi kota metropolitan tersebut belakangan seakan sudah menjadi langganan banjir. Sementara pemerintah tampaknya masih kesulitan mencari solusi agar persoalan itu tidak lagi menghambat jalan roda pemerintahan,” katanya. Menurut anggota DPRD Kalsel dua periode dari Partai Keadilan Sejahtera (PKS) itu, pemindahan ibu kota RI bukan semudah membalik telapak tangan, namun bisa terwujud asalkan ada kesepahaman dan kajian lebih mendalam. “Karena pemindahan ibu kota RI tidak hanya memerlukan pemikiran, melainkan dari segi biaya juga harus menunjang serta berbagai pertimbangan lain,” kata mantan pegawai Departemen Keuangan itu. Menurut dia, memang sudah selayaknya ibu kota negara dipindah dari DKI. Kalimantan sangat siap dan merupakan kawasan strategis untuk menjadi tempat ibu kota RI. “Pulau Kalimantan yang dianggap strategis untuk pemindahan ibu kota RI tersebut. Karena Pulau Borneo bila dilihat dari sisi bencana sangat kecil, seperti gempa dan banjir,” kata politisi PKS tersebut. “Layak atau tidak layak, Kalimantan merupakan daerah yang sangat strategis. siap atau tidak siap, Kalimantan masih sangat luas untuk membangun pemerintahan RI,” demikian Riswandi. Sementara itu, guru besar Universitas Palangka Raya (Unpar) Prof Dr HM Norsanie Darlan mengungkit kembali keinginan Presiden RI Soekarno yang mau menjadikan ibu kota Kalimantan Tengah sebagai ibu kota negara. Presiden RI pertama melontarkan keinginannya itu pada tahun 1950-an saat peresmian kota Pahandut sebagai ibu kota Kalteng, yang belakangan ibu kota provinsi tersebut bernama Palangka Raya. “Saya kira pemikiran Bung Karno itu cukup beralasan dan visioner, bukan cuma untuk sesaat atau jangka pendek, tapi jauh ke depan,” kata putra Indonesia kelahiran “Bumi Isen Mulang” Kalteng tersebut. “Oleh karenanya pemikiran proklamator RI tersebut perlu menjadi perhatian bersama, guna masa depan bangsa dan negara yang sama-sama kita cintai,” demikian Norsanie Darlan.

Prof. Norsanie, KENAPA ORANG TIDAK TAHU APA ITU PENDIDIKAN NON FORMAL

KENAPA ORANG TIDAK TAHU APA ITU PENDIDIKAN NON FORMAL ? Oleh: H.M.Norsanie Darlan Terkadang orang sering bertanya apa itu pendidikan luar sekolah? Menurut: Anggit Setiawan (2012) Pendidikan luar sekolah dalam Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional nomor 20 tahun 2003, secara jelas ia masuk dalam 3 jalur pendidikan. Pertama: Pendidikan formal, Kedua: Pendidikan Nonformal, dan ketiga: pendidikan informal. Untuk lebih jelasnya, mari kita pelajari satu persatu jalur pendidikan itu, secara sederhana sebagai berikut: 1.Pendidikan Formal yang termuda Pendidikan formal yaitu sistem persekolahan yang mana anak sampai dewasa bisa belajar disana. Karena pendidikan formal ini sejak sekolah dasar (SD) sampai pendidikan tertinggi. Artinya pendidikan formal berjenjang dari sekolah dasar, SLP, SLA, Perguruan Tinggi yang menghasilkan Diploma dan S-1, kemudian Pendidikan Tertinggi yaitu Pascasarjana yang menelurkan Magister dan Doktor. Pertanyaan berikut bagai mana pendidikan nonformal. Pendidikan non formal ini proses pendidikannya ada yang formal dan ada pula yang murni pendidikan di luar sistem persekolahan. Pendidikan nonformal atau PLS ini, yang disebut formal ada di beberapa perguruan tinggi. Kalau di IKIP masa lalu dan dewasa ini disebut dengan Universitas Negeri seperti IKIP Malang disebut dengan Universitas Negeri Malang (UNM), di Jakarta Universitas Negeri Jakarta (UNJ) tapi IKIP Bandung menyebut diri UPI artinya Universitas Pendidikan Indonesia. Di IKIP sebutan lama jurusan PLS ada di Fakultas Ilmu Pendidikan. Bagaimana kalau di Universitas ? PLS ada di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP). Tapi tidak semua FKIP di Universitas Memiliki Jurusan/Program Studi PLS. Untuk Kalimantan hanya ada di Universitas Palangka Raya. Universitas Tanjung Pura (Untan), Universitas Mulawarman (Unmul) dan Universitas Lambung Mangkutan tidak bisa mendirikan, karena tenaga dosennya belum mencukupi. Demikian juga di perguruan tinggi lainnya. 2.Pendidikan Nonformal Pendidikan Luar Sekolah yang berada betul-betul di luar sekolah seperti pada: Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) yang harusnya ada di seluruh kabupaten. Namun kalimantan tengah baru 7 kabupaten yang memiliki SKB. Pendidikan luar sekolah juga ada di Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) yang tersebar di berbagai kabupaten dan kota di Kalimantan Tengah. Untuk kota Palangka Raya ada 18 PKBM yang aktif dan sejumlah PKBM yang memerlukan uluran tangan pihak terkait. Apa sebenarnya tujuan berdirinya PKBM ?. PKBM didirikan adalah karena kesadaran para anggota masyarakat terhadap nasib para warga masyarakat yang karena sesuatu dan lain hal mereka tidak sempat menikmati pendidikan formal dimasa mudanya. Setelah dewasa ia baru sadar pentingnya belajar. Mau masuk ke SD tidak mungkin, karena faktor usia. Maka PKBM akan memapung mereka untuk belajar kembali. Dengan program paket A dan ijazah mereka berdasarkan Undang-Undang setera dengan SD. Paket B setara SMP dan paket C setara dengan SMA. Dalam PKBM juga berbagai program belajar di masyarakat tersedia Keberagaman dimaksud adalah bermacam-macam kursus seperti: kursus menjahit, menyetir, fotografir, komputer, sablon, salon kecantikan, tata rias, kursus bahasa, kesetinian, dan lain-lain. Seluruhnya menggunakan waktu yang relatif pendek, tapi berguna dan dapat menolong warga belajarnya dalam mencari nafkah untuk diri dan keluarganya. Dan jangan hanya terbatas pada program pemberantasan buta huruf. Tapi PLS berpikir jauh dari itu. Kalangan pejabat sering tidak mengenal pendidikan luar sekolah seperti pendidikan nonformal ini. Pada ia sebelum atau setelah baru menjabat ikut Diklat kepemimpinan tingkat IV, III, II dan I. Hal itu adalah proses di luar sekolah. Artinya kursus kepemimpinan seperti ini ditak pernah diselenggarakan di persekolahan, melainkan melalui jalur pendidikan luar sekolah. 3.Pendidikan Informal Sekarang bagaimana yang disebut pendidikan informal ?. pendidikan informal adalah pendidikan tertua di dunia. Karena belajar dari sejarah pendidikan bahwa pendidikan informal ini sejak zaman Nabi Adam sudah terjadi. Karena pendidikan ini berada dalam keluarga. Pendidikan dalam keluarga ini yang disebutkan dalam teori Tabolarasa, anak yang terlahir dalam sebuah keluarga itu bagaikan kertas putih. Maka lingkungannya yang memberikan warna terhadap anak itu. Kita sama maklumi jika anak berasal dari keluarga nelayan. Sangat mustahil kalau ia tidak mengerti cara menangkap ikan. Demikian juga jika anak terlahir di keluarga perkebunan. Anak akan bisa dengan mudah melakukan tanaman karena ia sejak dari lahir sudah melihat dari ayah ibu, nenek kakeknya dalam berkebun walau dengan serba sederhana. Dalam kesempatan ini, penulis mengemukakan kenapa 2 atau 3 pelita lalu, putra dan putri kalteng dalam PON mendulang piala emas dicabag olah raga dayung. Karena saat itu jalan darat belum menjadi primadona berbagai even ke mana-mana. Zaman penulis masa sekolah, anak sebelum sekolah sudah bisa berenang dan mendayung. Karena mau kesekolah harus ke desa seberang. Kalau tidak bisa berenang, orang tua murid enggan melepas anaknya untuk sekolah. Para petani ke ladang harus naik perahu. Sehingga putra-putri kita saat itu menjuarai olah raga dayung. Karena mendayung muncul dalam pendidikan informal. Petalihan hanya senambah teknik meraup kemenangan. Sekarang kita ketahui bersama bahwa jalan sungai sudah mulai ditinggalkan. Karena jalan darat lebih mudah, lebih cepat untuk perjalanan dari desa ke desa. Namun cabang olahraga dayung kejuaraan hanya sebagai kenangan masa lampau. 4.Bagaimana PLS di Kalteng Bila mempelajari sejarah. Kita retrospektif 45-50 tahun silam. Di Palangka Raya ada 1 perguruan tinggi swasta yaitu: Fakultas Ekonomi dan 1 perguruan tinggi lagi IKIP Bandung cabang Palangka Raya. Di Bandung sudah negeri, di Palangka Raya sedang di tata. Dengan adanya istruksi Mendikbud RI bahwa setiap provinsi ada Universitas Negeri maka digabunglah IKIP Bandung cabang Palangka Raya dengan Fakultas Ekonomi. Dari peraturan saat itu, harus minimal 3 Fakultas maka didikannya Fakultas Pertanian yang lokasi perguruan tinggnya di Kuala Kapuas. Kapan PLS ada? Jawabnya di IKIP Bandung Cabang Palangka Raya saat itu di Fakultas Ilnmu Pendidikan disebut (FIP) ada 2 jurusan pendidikan luar sekolah (Pensos) dan satu lagi Pendidikan Umum (PU). Kalau demikian PLS sudah ada, sebelum berdirinya Universitas Palangka Raya. Hanya saja perjalanannya menemui pasang surut. Namun hidup sampai saat sekarang. Tahun 1986 ada beredar PLS di luar IKIP di non aktifkan. Di Kalimantan punya 2 PLS saat itu. Di Unlam Banjarmasin dan Unpar Palangka Raya. Unlam dan Unpar terancam ditutup. Artinya tidak menerirma mahasiswa baru. Sehingga dosen-dosennya kembali ke IKIP di berbagai tempat di tanah air. PLS Unpar tidak demikian. Walau tidak menerima input SLA, tapi kami menerima input Diploma !, II dan Sarjana Muda. Selama 10 tahun demikian. Prof. Norsanie mempelajari apakah di tanah air semua PLS yang ada di FKIP tutup semua. Ternyata di Universitas Jember (Jawa Timur) mereka bertahan hingga sekarang. Hal itu di konsultasikan dengan Rektor Univeraitas Palangka Raya Prof. Dr. Ir. Ali Hasmy, MS., MA bahwa PLS Di Jember tetap bertahan. Maka tahun 1996 PLS Unpar membuka kembali input SLA dalam berbagai jurusan. Maksudnya IPS, IPA dan Bahasa. Hal ini lestari hingga sekarang. Sekelmalinya pendidikan Doktor dari Bandung, Prof. Norsanie berniat meningkatkan tidak saja S-1 PLS. Tapi bagaimana S-2 PLS. Ternyata Mendiknas menyetujui dibukanya S-2 PLS hingga sekarang. Walau PLS IKIP Surabaya mencemooh penulis. Kok di Palangka Raya hanya 1 orang Profesor bisa berdiri S-2 PLS. Sedangkan kami di Surabaya 6 oranh Profesor berkali-kali mengirim berkas untuk membuka S-2 tidak di kabulkan. Dan untuk diketahui bersama bahwa S-2 PLS di Palangka Raya, satu-satunya S-2 PLS di luar Jawa saat ini. Bagi peminat yang mau masuk S-2 PLS sekarang masa pendaftaran di Universitas Palamgka Raya. Mahasiswanya ada yang dari Kaltim, Kalbar dan mayoritas dari Kalimantan Tengah.

Prof. Norsanie Melirik HARI AKSARAN INTERNASIONAL

MELIRIK HARI AKSARAN INTERNASIONAL (HAI) TINGKATKAN SDM YANG UNGGUL DAN BERKARAKTER MAKALAH DI KUALA KAPUAS Oleh : Prof. Dr.H.M.Norsanie Darlan, MS PH Guru Besar S-1 dan S-2 PNF/PLS Universitas Palangka Raya Dipaparkan pada Seminar Hari Aksara Internasinal 2014 Tanggal 15 September 2014 di kota Kuala Kapuas Pendahuluan Hari Aksara Internasional adalah sebuah peristiwa dunia, dalam bidang pendidikan. Tidak ada dari suatu negara yang bercita-cita bahwa warga negaranya agar terbelenggu sebagai akibat masyarakatnya masih dalam situasi budaya yang non literasi. Kemelek hurufan yang tinggi di suatu negara mencerminkan rendahnya keberhasilan tingkat pendidikan. Padahal di semua negara di dunia bercita-cita rakyatnya agar tidak satupun penduduk di negerinya yang buta huruf. Namun karena keterbatasan, membuat pengambil kebijakan jadi tidak berkutik. Oleh sebab itu, ada berbagai cara pihak pemerintah untuk mengatasinya. Agar negerinya terbebas dari bencana itu, karena rendahnya budaya membaca ini, berarti rendah pula tingkat pendidikan. Kita berharap negeri kita yang luas wilayahnya hampir sama dengan benua erofa ini, menjadi negara yang mampu menunjukkan bahwa warga negaranya terbebas dari ketunaan. Sejauh tidak dimanipulasi data, maka itulah sebuah tanda-tanda keberhasilan pembangunan di bidang pendidikan. Dari hasil penelitian yang disponsori oleh proyek UNESCO, nampak jelas bagi negara yang penduduknya sangat tinggi angka tuna aksara, maka negeri itu dianggap memiliki starata yang rendah pula. Sementara sebaliknya negara-negara yang maju, pasti tingkat buta hurufnya hampir dikatakan habis. Dalam buku kecil yang dipaparkan sekarang ini, sedikitnya ada beberapa hal yang penulis anggap adanya kerelevansian dengan bahasan kita, adalah: hari aksara, membangunan peradaban, keunggulan, berkelanjutan, meningkatkan SDM, SDM yang unggul dan berkarakter. Untuk lebih jelasnya sejumlah hal di atas, secara rinci akan diuraikan berikut ini. Hari Aksara Bila kita melirik terhadap apa makna dari Hari Aksara Internasional (HAI) seperti yang dimeriahkan saat ini, betapa besarnya perhatian pemerintah terhadap warga negeri ini agar kita semua dapat mengajak semua warga negara agar tidak terbelenggu dalam sebuah ketertinnggalan. Karena kita hidup dalam era reformasi dewasa ini, tentu aneh kalau masih ada segelintir penduduk kita, yang karena sesuatu hal. Mereka ini, tidak sempat menikmati alam kemerdekaan dalam dunia pendidikan. Sejenak melirik secara retrospektif ke belakang sejak 8 September 1964, UNESCO menetapkan 8 September sebagai Hari Aksara Internasional (HAI). Penetapan tersebut dilakukan untuk mengingatkan dunia tentang pentingnya budaya literasi. Sebagai upaya keberaksaraan, UNESCO mencanangkan United Nations Literacy Decade (UNLD) atau Dekade Keaksaraan. Menurut Kak Ichsan, (2012) bahwa:’…Dekade ini ditujukan untuk meningkatkan tingkat melek aksara dan memberdayakan seluruh masyarakat. Pada awal UNLD, tahun 2003, ada 15,41 juta orang buta aksara di Indonesia. Pada tahun 2010, jumlah itu menyusut menjadi 7,54 juta orang. Artinya, Indonesia lebih cepat melampaui target Millenium Development Goals (MDGs) yang menyepakati penurunan 50 persen buta aksara pada tahun 2015...’. Arti Literasi adalah informasi kemampuan untuk tahu kapan ada kebutuhan untuk informasi, untuk dapat mengidentifikasi, menemukan, mengevaluasi, dan secara efektif menggunakan informasi tersebut untuk isu atau masalah yang dihadapi. Budaya Membaca Merupakan Pendidikan Sepamnjang Hayat Menurut American Library Association (ALA), literasi informasi merupakan serangkaian kemampuan yang dibutuhkan seseorang untuk menyadari kapan informasi dibutuhkan dan kemampuan untuk menempatkan, mengevaluasi, dan menggunakan informasi yang dibutuhkan secara efektif. Kalau kita menengok Tema Hari Aksara Internasional tahun 2012 lalu, untuk kegiatan di tingkat pusat adalah "Aksara Membangun Perdamaian dan Karakter Bangsa", sedangkan untuk kegiatan di daerah adalah "Melalui Peringatan Hari Aksara Internasional Ke-47, Kita Tingkatkan Nilai Ke-Indonesiaan yang Berbudaya Damai dan Berkarakter". Sedangkan tema panitia daerah tahun ini yang disampaikan kepada saya adalah: Tema: AKSARA MEMBANGUN PERADABAN DAN KEUNGGULAN BERKELANJUTAN Sub tema: PERINGATAN HAI KITA TINGKATKAN SDM YANG UNGGUL DAN BERKARAKTER Membangunan peradaban Bila kita ingin memperhatikan apa maksud dari Membangun Peradaban Indonesia maka banyak sumber yang perlu kita perhatikan tapi juga, dari hasil: *Review buku "Renungan Bacharuddin Jusuf Habibie. Membangun Peradaban Indonesia. Setelah 10 Dasawarsa Kebangkitan Nasional, 10 Windu Sumpah Pemuda dan 10 Tahun Reformasi" karya Firdaus Syam (2012) lalu* Habibie Membangun Peradaban Bangsa "Sebuah peradaban adalah bentuk budaya paling tinggi dari suatu kelompok masyarakat yang dibedakan secara nyata dari makhluk-makhluk lainnya. Peradaban-peradaban tidak memiliki wilayah-wilayah, permulaan-permulaan dan akhir yang jelas. Peradaban itu menjadi entitas-entitas yang penuh arti, dan kadang terdapat batas-batas yang tajam dan nyata antara masing-masing peradaban." (Huntington). B.J. Habibie (2012) menyebutkan bahwa:"…Abad ke 21 adalah abad ilmu pengetahuan dan tekhnologi yang berarti abad sumber daya manusia. Hanya bangsa-bangsa yang memiliki sumber daya manusia yang relatif berkualitas, dan menguasai Iptek yang akan bertahan hidup…". Menurut B.J. Habibie (2012) yaitu:"…Apa yang dimaksud Peradaban Indonesia, tidak lain adalah "Peradaban manusia yang hidup di atas bumi Indonesia. Mereka hidup secara damai, tentram dan sejantera…". Bila kita memperhatikan tentang kebudayaan dan peradaban, maka Huntington (2012) adalah:"…Suatu peradaban adalah bentuk yang lebih luas dari kebudayaan. Kebudayaan merupakan tema umum dalam kaitan dengan setiap rumusan peradaban. Utamanya, melalui dua agaman besar, Islam dan Kristen yang mempu menaungi kelompok-kelompok masyarakat yang berasal dari pelbagai suku bangsa…". Tokoh Antropologi negeri ini Koentjaraningrat, (2012) menulis bahwa: "…Kebudayaan nasional sebagai keseluruhan kolektif dari semua warga negara Indonesia yang bhineka, yang beraneka warna itulah yang merupakan kebudayaan nasional Indonesia dalam fungsinya untuk saling berkominikasi dan memperkuat solidaritas bangsa…". Soenarto, (2011) adalah:"…Kerendahan hati elit politik, seniman dan intelektual untuk bersedia mengenal, memahami, menghayati dan menyatukan diri dengan kehidupan, akan sangat membantu proses pembangunan kebudayaan nasional...". Mantan Presiden RI ke 3 BJ. Habibie (2012) menyebutkan:”… Kebhinekaan bangsa Indonesia bila masyarakatnya mau dan mampu memanfaatkan ilmu pengetahuan dan teknologi, pada dasarnya akan menuju mengembangkan suatu peradaban yang berkualitas tinggi yang memberikan ketentraman dalam kehidupan. Jika seorang mengatakan ada budaya Indonesia maka jawabnya adalah tidak ada dan tidak akan ada budaya Indonesia. Yang ada adalah budaya yang hidup di dalam bumi Indonesia yang dinamakan Benua Maritim Indonesia…" Sayidiman, (2011) adalah:"…Karena kebudayaan Indonesia yang dilandasi kebudayaan daerah berbeda dari kebudayaan Barat, kebudayaan Cina, dan kebudayaan manapun, di samping ada beberapa persamaannya, maka bangsa Indonesia berhak untuk membangun peradaban Indonesia, tanpa harus menjadi bagian dari peradaban lain di dunia. Peradaban Indonesia itu Peradaban Pancasila…". Sayidiman, (2011)"Kebudayaan tidak hanya memerlukan kehidupan lahiriah yang maju dan menonjol, melainkan juga perlu ada kehidupan rohaniah yang mantap dan merata. Kehidupan beragama dilakukan oleh penduduk dengan penuh keimanan dan ketakwaan. Persatuan terpelihara dengan baik tanpa mengurangi hak dan kemampuan setiap unsur bangsa mengembangkan dirinya secara lahiriah dan batiniah...". B.J. Habibie (2012) adalah:"...Tiga tiang peradaban yang diperlukan dan dikembangkan untuk Membangun Peradaban Indonesia yang maju, sejahtera, mandiri dan kuat itu adalah: Manusia-manusia Indonesia yang memiliki keunggulan yaitu: 'HO2', 'Hati' (Iman dan Takwa). 'Otak' (Ilmu Pengetahuan) dan 'Otot' (Teknologi)...”. Penulis yang sama mengemukakan bahwa:"...Globalisasi dalam arti yang negatif adalah bila yang terjadi, bukan heterogenisasi, melainkan homogenisasi budaya dan gaya hidup dengan menempatkan nilai-nilai universal menjadi tereduksi oleh suatu kepentingan kekuatan dunia yang memang ingin memaksakan kehendak...". Chairul Irfani (2012) adalah:"...Indonesia harus meningkatkan peradaban yang sejahtera, damai, dan tentram dibangun sumber daya manusia yang terampil memanfaatkan ilmu pengetahuan dan teknologi, berbudaya dan bermoral yang berakar dari agama apa saja!....". Keunggulan Untuk mewujudkan suatu keunggulan, tidak terlepas dari kualitas SDM Merupakan Faktor Kunci Keunggulan Strategis Pertahanan Negara, yang didahului oleh pendidikan. Perkembangan lingkungan strategik di abad 21 dengan segala kompleksitasnya menuntut setiap negara untuk memiliki berbagai keunggulan strategis. Dalam pertahanan negara keunggulan ini ditentukan oleh banyak faktor antara lain keunggulan pada faktor manusia, alutsista dan teknologi, ekonomi, politik dan lain sebagainya. Kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) merupakan faktor kunci bagi faktor-faktor lainnya karena kualitas SDM mempengaruhi bagaimana elemen-eleman lainnya diadakan, dibina dan didayagunakan. Universitas Pertahanan (UNHAN) sejak awal dirancang untuk menjadi salah satu pilar utama yaitu pilar pendidikan yang berjalan seiring dan saling melengkapi dengan dua pilar lainnya yaitu pilar pelatihan dan penugasan dalam rangka mencetak SDM pertahanan yang lebih berkualitas. Demikian dikatakan Menhan dalam sambutannya yang dibacakan Sekjen Kemhan Marsdya TNI Eris Herryanto, S.Ip., M.A, (2011) dalam Wisuda Pasca Sarjana Program Studi Strategi Perang Semesta (SPS), Sekolah Pasca Sarjana Strategi (SPSS) Pertahanan UNHAN Tahun Akademik di Kemhan Jakarta. Lebih lanjut Menhan mengatakan bahwa tiga pilar utama penyiapan SDM pertahanan negara tersebut sudah lama diselenggarakan oleh Kemhan dan TNI namun pemerintah menilai dan berkomitmen bahwa pilar pendidikan harus mendapat perhatian yang lebih serius guna mencetak personel yang profesional dalam upaya pencapaian cita-cita yakni membangun keunggulan strategis pertahanan negara. Terdapat tiga keunikan yang dimiliki UNHAN dan merupakan potensi besar untuk didayagunakan dalam membangun keunggulan strategis pertahanan negara yaitu: pertama, UNHAN merupakan satu-satunya perguruan tinggi di Indonesia yang memfokuskan program pendidikannya pada bidang pertahanan. Kedua, UNHAN dirancang sebagai bagian penting dari institusi pertahanan guna memperkuat citra dan posisi Indonesia dalam kerjasama internasional di bidang pertahanan khususnya di kawasan Asia Tengara. Dan yang ketiga, UNHAN akan terus menerapkan standar internasional bagi proses pendidikan dan kualitas lulusannya dilihat dari sisi kelembagaan maupun sisi penyelenggaraan pendidikan. Disamping itu UNHAN juga memiliki arti penting dalam membangun keunggulan strategis SDM pertahanan negara. Konsep Menhan berharap dengan bekal ilmu yang diperoleh para lulusan UNHAN baik sipil maupun militer yang berasal dari institusi pemerintah maupun swasta dapat memberikan kontribusi yang baik. Tidak hanya berkontribusi dalam melahirkan kebijakan-kebijakan pertahanan negara yang unggul saja tetapi juga pada tataran implementasi sesuai level atau pangkat, jabatan ataupun lingkup penugasan dari tiap lulusan yang diharapkan mampu menginspirasi dan menjadi agen-agen perubahan di semua lini pemangku kepentingan. Selain itu Menhan berharap kepada para wisudawan untuk dapat membuktikan di tempat tugas masing-masing bahwa lulusan UNHAN memiliki kualitas internasional yang dapat memberikan kontribusi penting bagi pembangunan pertahanan negara serta menjadi motor dalam mewujudkan keunggulan strategis SDM pertahanan dalam bela negara. Dalam peningkatan sumber daya manusia (SDM) yang sangat ditekankan adalah majunya dunia pendidikan. Karena dengan majunya pendidikan tidak, tidak akan dapat didekte olah bangsa lain. Dengan majunya pendidikan, yang memberikan memberikan masa kejayaan bangsa. Bangsa yang maju dalam dunia pendidikan mereka tidak akan mudah diperdaya oleh bangsa lain. Peningkatan SDM tidak terlepas juga dengan ketersediaan anggaran pendidikan itu sendiri. Bagaimana untuk putra-putri Daerah? Dalam berbagai upaya untuk meningkatkan SDM di Kalimantan Tengah, kita tidak boleh lupa dengan konsep pembangunan daerah kita yang diberi nama: Kalimantan Tengah HARATI adalah sebuah konsep baru dalam upaya percepatan pencapaian tujuan dan misi pembangunan pendidikan di Kalimantan Tengah sebagaimana diamanahkan dalam UU No.20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pada Bab Il Psl 3 mengenai Tujuan Pendidikan Nasional. Konsep Kalimantan Tengah HARATI dicanangkan oleh Gubernur Kalimantan Tengah pada tanggal 3 Mei 2010 dengan mengedepankan 5 prioritas, yaitu : Kesejahteraan Guru; Pendidikan dan Pelatihan Guru; Beasiswa untuk siswa berprestasi; Penyediaan dan pendistribusian buku-buku pelajaran; Meningkatkan kualitas mutu belajar mengajar. Kesempatan belajar tak punya Ruang yang cukup. Di atas atappun bisa Kalimantan Tengah yang secara realita telah menjalani konsep upaya peningkatan kualitas SDM kita. Namun kegiatan kali ini telah mendapatkan anggaran khusus. Sementara konsep lama lebih memusatkan pada anggaran pribadi. Diharapkan dengan adanya konsep Kalteng Harati ini, kualitas sumber daya manusia jauh lebih baik dari masa lampau. Konsep pembangunan pendidikan tidak akan selesai dengan mulus kalau hanya pada jalur pendidikan formal. Karena tidak semua warga negara kita sempat mendapatkan layanan pendidikan formal. Oleh sebab itu pendidikan nonformal juga perlu diberikan kesempatan. Karena kita sadari semua bahwa bagaimana bagi mereka yang karena sesuatu dan lain hal, tidak sempat menerima pendidikan formal. Padahal mereka adalah seperti dalam pasal 31 UUD’45 setiap warga negara mendapatkan pendidikan. Anak Desa Pasir Sebangau Bangunan Sekolah sudah ada, tapi tak punya guru Pada tanggal 5 september 2014 ini, sambil mengonsep materi makalah ini, penulis mencoba turun ke sebagau Kuala. Ada sejumlah sekolah dasar di sana. Tapi di Kabupaten Pulang Pisau ini, masih ada lagi warga kita yang belum mendapatkan pelayanan pendidikan. Walau usia mereka sudah antara 7-13 tahun. Masyarakat saking inginnya anak mereka mendapatkan layanan pendidikan, mereka membangun sekolah 3 kelas lengkap dengan bangku murid, meja guru. Tapi karena belum ada guru, maka anak-anak warga kita ini, yang sangat memerlukan layanan pendidikan, masih tertinggal dalam dunia pendidikannya. Ke 26 warga kita yang membutuhkan layanan pendidikan itu terdiri dari 3 anak desa masing-masing memiliki anak usia sekolah yaitu: Anak desa Pasir 9 orang, Teluk Bayur 8 orang dan Sudimampir 7 orang. Mereka ini tanpa layanan pendidikan yang layak, bagaimana masa depan mereka. Penulis tidak menutup kemungkinan pada anak desa yang lain sedangkan guru yang untuk smentara siap membantu warga kita yang tak terlayani dalam dunia pendidikan itu, minimal ada 4 orang, masing-masing kepala SDN Panduran Sebangau 5 Syahruji, S.Pd dan dibantu 3 orang guru lainnya, masing-masing: Sumarno, S.Pd, Siti Asih Budimah, S.Pi dan Hertine, S.Pd. namun sangat disayangkan lokasi mereka ini sangat jauh dan hanya dapat dikunjungi dengan jalan sungai yang menelan biaya cukup mahal. Pembangunan Berkelanjutan Menurut Tb Mh Idris Kartawijaya (2008). Adalah:”...Pembangunan adalah sebuah proses produksi dan konsumsi dimana materi dan energi diolah dengan menggunakan faktor produksi, seperti modal, mesin mesin (capital), tenaga kerja (labor dan human resources), dan bahan baku (natural resources)...”. Tbidris, (2008). Dalam hal penyediaan bahan baku dan proses produksi kegiatan pembangunan dapat membawa dampak kepada lingkungan alam dan masyarakat sekitarnya, yang pada gilirannya akan berdampak kepada keberlanjutan pembangunan. Dalam memperhatikan keberlanjutan pembangunan yang tidak hanya memperhatikan kepentingan saat ini tapi juga memperhatikan kepentingan masa mendatang, maka pembangunan harus dilaksanakan secara berkelanjutan. Materi Belajar masih terbatas Pembangunan berkelanjutan adalah pembangunan yang memenuhi kebutuhan masa kini tanpa mengurangi kemampuan generasi masa mendatang. Didalamnya terdapat dua gagasan penting : Gagasan kebutuhan, yaitu kebutuhan esensial untuk memberlanjutkan kehidupan manusia Gagasan keterbatasan yang bersumber pada kondisi teknologi dan organisasi sosial terhadap kemampuan lingkungan untuk memenuhi kebutuhan kini dan hari depan. Tujuan yang harus dicapai untuk keberlanjutan pembangunan adalah : keberlanjutan ekologis, keberlanjutan ekonomi, keberlajutan sosial budaya dan politik, keberlanjutan pertahanan dan keamanan. Sedangkan pembangunan keberlanjutan mempunyai prinsip prinsip dasar dan prinsip dasar tersebut dari setiap elemen pembangunan berkelanjutan dapat diringkas menjadi 4 (empat), yaitu: pemerataan, partisipasi, keanekaragaman (diversity), integrasi dan perspektif jangka panjang. Kata “berkelanjutan” (sustainable) memiliki implikasi dalam suatu rentang waktu, dan pemanfaatan sumberdaya dapat dianggap berkelanjutan untuk rentang waktu tertentu, biasanya 10 hingga 20 tahun. Namun demikian, rentang waktu ini sering pula dianggap tidak cukup mewakili istilah “berkelanjutan” (Conrad, 1999). Bila istilah “berkelanjutan” berarti “dapat dipertahankan secara ad infinitum”, pemanfaatan sumberdaya oleh masyarakat primitif sekalipun – yang berburu dan mengumpulkan (hunting-gathering) – tidak dapat dikategorikan berkelanjutan. Hal ini berkaitan dengan konsep pembangunan (development) yang tidak mungkin dilakukan tanpa konsumsi. Sehingga dalam kenyataannya, pembangunan berkelanjutan seringkali memiliki kontradiksi dalam pelaksanaannya. Arti berkelanjutan secara ekstrim dapat dikatakan sebagai keseimbangan statis, dimana dalam keseimbangan tersebut tidak terdapat perubahan, meskipun tentu saja terdapat perubahan dalam lokasi dari waktu ke waktu (Boulding 1991. Pezzey 1992). Berkelanjutan dapat pula berarti keseimbangan yang dinamis (Clark, 1989) yang memiliki dua arti yaitu: pertama, keseimbangan sistem yang mengalami perubahan, dimana parameter perubahan dalam keseimbangan tersebut bersifat konstan; yang kedua adalah keseimbangan suatu sistem yang setiap parameternya mengalami perubahan, sehingga setiap perubahan misalnya dalam populasi akan memicu restorasi nilai populasi awal tersebut. Pembangunan berkelanjutan memastikan bahwa generasi yang akan dating memiliki kesempatan ekonomi yang sama dalam mencapai kesejahteraannya, sepertihalnya generasi sekarang. Untuk dapat melaksanakan pembangunan berkelanjutan diperlukan cara mengelola dan memperbaiki portofolio asset ekonomi, sehingga nilai agregatnya tidak berkurang dengan berjalannya waktu. Portofolio asset ekonomi tersebut adalah capital alami (Kn), capital fisik (Kp) dan capital manusia (Kh), secara sistematis pembangunan berkelanjutan dapat dijabarkan dalam gambar berikut: Dalam paradigma ekonomi, pembangunan berkelanjutan dapat diterjemahkan sebagai pemeliharaan kapital. Ada empat variasi kebijakan mengenai pembangunan berkelanjutan : Kesinambungan yang sangat lemah (very weak sustainabillity) atau “Hartwick-Solow sustainability” yang hanya mensyaratkan kapital dasar total yang harus dipelihara. Kesinambungan ini dapat dicapai dengan memastikan bahwa tingkat/ laju konsumsi berada di bawah Hicksian income, dimana Hicksian income ini didefinisikan sebagai tingkat konsumsi maksimum yang dapat membangun kondisi masyarakat yang lebih sejahtera di akhir periode pembangunan dibandingkan dengan kondisi awalnya. Diasumsikan natural capital dapat disubsitusi dengan kapital buatan manusia (man-made capital) tanpa batas. Dengan kata lain, deplesi sumberdaya alam tidak diperhitungkan dalam penilaian kegiatan ekonomi (Harnett, 1998) Kesinambungan yang lemah (weak sustainability), mensyaratkan pemeliharaan kapital total, dengan kendala bahwa modal alami yang penting (critical natural capital) harus dilestarikan. Misalnya : bila sumberdaya air dan keragaman spesies merupakan hal yang penting bagi stabilitas ekosistem, sumberdaya tersebut tidak dapat dikorbankan bagi alasan-alasan pertumbuhan ekonomi. Kesinambungan yang kuat (strong sustainability) mensyaratkan bahwa tidak ada substitusi bagi modal alami (natural capital), karena natural capital ini memperkuat kesejahteraan manusia dan degradasi natural capital tersebut dapat dikembalikan kondisinya ke kondisi awal. Kesinambungan yang kuat mensyaratkan pemeliharaan kapital total, dengan kendala bahwa agregrat kapital total harus dilestarikan. Kesinambungan yang sangat kuat (very strong sustainability) mensyaratkan bahwa kesinambungan sistem ekologi adalah esensi pembangunan ekonomi yang berkelanjutan. Pembangunan yang bergantung pada sumberdaya (resource-dependent “development”) diperbolehkan, namun demikian, pertumbuhan yang bergantung pada sumberdaya (resources-dependent “growth”) tidak dapat dibenarkan. Interpretasi ini mensyaratkan pemisahan setiap komponen dari natural capital. Pada kenyataannya, very strong sustainability lebih merupakan sistem daripada suatu konsep ekonomi. Tokoh lain Tietenberg, (2000) Sumberdaya pulih dibedakan dengan sumberdaya tak pulih berdasarkan pada kemampuan pemulihan alami yang dimiliki sumberdaya ini yang lajunya tak dapat diabaikan. Di samping itu, siklus pemulihan ini dapat kembali memperbesar jumlah sediaan yang berkurang akibat pemanfaatannya. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa, meskipun terbatas, aliran pemanfaatan sumberdaya ini dapat dipertahankan secara terus menerus. Volume dan kelanjutan aliran pemanfaatan beberapa siklus sumberdaya alam yang pulih sangat tergantung pada manusia. Misalnya, penangkapan ikan yang berlebihan akan mengurangi sediaan ikan secara alami yang lebih lanjut dapat menurunkan laju peningkatan alami dari populasi ikan tersebut. Jenis sumberdaya pulih yang lain, seperti energi surya, aliran pemanfaatannya tidak tergantung pada manusia. Pada pembangunan berkelanjutan yang berorientasi pada kepentingan ekonomi dan kepentingan lingkungan, terdapat 3 (tiga) pilar tujuan (Daniel M, 2003), yaitu : pembangunan ekonomi yang berorientasi pada pertumbuhan, stabilitas dan efisiensi. Pada pilar kedua pembangunan sosial yang bertujuan pengentasan kemiskinan, pengakuan jati diri dan pemberdayaan masyarakat. Sedangkan pilar kedua pembangunan lingkungan yang berorientasi pada perbaikan lingkungan lokal seperti sanitasi lingkungan, industri yang lebih bersih dan rendah emisi, dan kelestarian sumberdaya alam. Di sisilain, hal-hal sumber daya alam (SDA) ataukah sumber daya manusia (SDM) tidak akan memberikan manfaat yang tinggi, kalau tidak dimiliki oleh manusia di sekitarnya. Kita sama maklumi SDM yang baik tidak akan terlepas dengan peran dunia pendidikan. Apakah pendidikan formal ataukah pendidikan nonformal / PLS.Tanpa melalui pendidikan maka pembangunan berkelanjutan tidak akan mendapatkan hasil yang maksimal. Meningkatkan SDM Teori manajemen sumber daya manusia menurut para ahlinya M.T.E. Hariandja (2002) bahwa:”… of strategies to manage people for optimum business performance including the development of policies and process to support these strategies. (Strategi perancangan, pelaksanaan dan pemeliharaan untuk mengelola manusia untuk kinerja usaha yang optimal termasuk kebijakan pengembangan dan proses untuk mendukung strategi). Pengertian Manajemen Sumber Daya Manusia (MSDM), Manajemen Sumber Daya Manusia yang sering ditinggalkan dalam penyusunan konsep masa depan…”. Hubungan sosialisasi Dengan Kepribadian. tentang Komunikasi, Sosiologi, Filled under, (2013) adalah:”…Setiap kelompok memiliki aturan-aturan sendiri. Seseorang yang melanggar aturan dapat dikenai sanksi. Belajar tidak terbatas di dalam kelas Melalui peraturan, seseorang mempelajari berbagai nilai dan norma yang harus dipatuhi untuk mencapai tujuan, misalnya meningkatkan disiplin diri dan meningkatkan kerja sama dengan teman. Dalam hubungan sosial di lingkungan kerja, setiap orang harus menjalankan peranan sesuai dengan kedudukannya. Media Massa Media massa juga merupakan faktor pendukungnya… Pengaruh Globalisasi Terhadap Pendidikan Menurut Filled under (2013) yaitu:”…utama dalam alokasi dana rehabilitasi dan pengadaan sarana prasarana sekolah serta dana operasional sekolah. Temuan tersebut dipaparkan juga oleh Febri Hendri, Peneliti Senior Indonesia Corruption Watch (ICW) saat menyoal Evaluasi Kinerja Departemen Pendidikan Nasional Periode 2004 – 2009. Menurut Febri, selama kurun waktu 2004-2009, sedikitnya terungkap 142 kasus korupsi di sektor pendidikan. Kerugian negara mencapai Rp 243,3 milyar…”. Belum lagi pada kementrian yang lain. Ini tentu merugikan dana pembangunan untuk membangun bangsa. Artikel Globalisasi Pendidikan Lebih jauh dalam sebuah artikel yang ditulis Filled under (2013) bahwa…upaya m menghadapi tantangan bagi dunia pendidikan Indonesia, karena terbuka peluang lembaga pendidikan dan tenaga pendidik dari mancanegara masuk ke Indonesia. Untuk menghadapi pasar global maka kebijakan pendidikan nasional harus dapat meningkatkan mutu pendidikan, baik akademik maupun non-akademik, dan memperbaiki manajemen pendidikan agar lebih produktif dan efisien serta memberikan akses seluas-luasnya bagi masyarakat untuk mendapatkan pendidikan…”. Untuk anak bangsa SDM yang unggul Bila kita mencermasi bagaimana sumber daya manusia yang unggul, maka alangkah baiknya kita memperhatian apa itu Sumber daya manusia yang berkualitas adalah SDM yang komperhensip dalam berfikir dan selalu mengantisipasi tuntutan di masa depan, memiliki sikap positif, berperilaku terpuji, dan berwawasan, serta memiliki kemampuan, keterampilan, dan keahlian yang sesuai dengan kebutuhan diberbagai bidang serta sektor pembangunan. Untuk mewujudkan hal itu, perlu mengetahui sifat-sifat manusia yang berkualitas (unggul ) ialah “DJITU” : 1. Dedikasi Seseorang manusia yang unggul haruslah mempunyai rasa pengabdian terhadap tugas dan pekerjaannya. Dia harus memiliki visi jauh kedepan. Seorang yang berdedikasi ia adalah seorang yang disiplin karena terfokus kepada apa yang ingin diwujudkan. 2. Jujur Kejujuran memang penting tidak hanya jujur pada orang lain tapi jujur pada diri sendiri. Terhadap orang lain seorang harus dapat bekerja sama, dan didalam kerjasama itu harus dilandasi rasa saling percaya. Orang juga harus jujur pada kemampuan dirinya sendiri, umpamanya saja jujur pada apa yang dapat diperbuat dan apa yang tidak dapat diperbuat. 3. Inovatif Seorang manusia disebut unggul bukan lah manusia rutin yang puas dengan apa yang telah dicapainya, melainkan ia adalah manusia yang unggul yang kreatif, yang selalu aktif mencari hal-hal yang baru, dan inovatif. 4. Tekun Manusia unggul ialah seorang yang dapat memfokuskan perhatiannya kepada sesuatu yang dikerjakannya. Ketekunan akan menghasilkan sesuatu, karena manusia unggul tidak akan berhenti sebelum dia membuahkan sesuatu. 5. Ulet Manusia unggul adalah manusia yang tidak mudah putus asa. Dia kan terus-menerus mencari dan mencari, dibantu sikap tekun, maka keuletan akan membawa dia kepada sesuatu dedikasi pekerjaan yang baik dan bermutu. Keberhasilan SDM dicapai melalui guru ke 2 Dipihak lain yang perlu diperhatikan adalah untuk itu, anda harus memiliki rencana pengembangan SDM yang berkelanjutan dengan bertolak dari prinsip dasar yang harus ditumbuh kembangkan kedalam sikap dan perilaku pada setiap peran SDM sebagai komitmen. Bertolak dari pemikiran di atas, maka prinsip dasar yang harus di sosialisasikan sebagai suatu kebutuhan, apa yang kita sebut dengan prinsip-prinsip dasar yaitu : 1) Membangun kebiasaan yang produktif, menjadi suatu komitmen yang tumbuh dan berkembang atas kemauan sendiri atau berdikari. 2) Menumbuh kembangkan kemampuan menemukan jati diri tanpa topeng kepalsuan, dengan mendalami pemahaman manusia siapa, darimana dan kemana ? 3) Membangun kebiasaan bersikap dan berperilaku dalam aktualisasi tindakan yang bertolak dari prinsip menghindari dari pada mencegah. 4) Membangun kebiasaan memanfaatkan kekuatan pikiran dalam prinsip hidup bahwa menjadi manusia disatu sisi melihat kebawah dan disisi lain melihat keatas. 5) Membangun kebiasaan menjalankan visi hidup yang jelas dalam memberikan arah persfektif dalam peran. Dengan menjalankan prinsip-prinsip dasar yang dituangkan dalam usaha-usaha untuk membangun dan menumbuhkan SDM unggul berarti secara langsung melaksanakan perubahan sikap dan perilaku manusia itu sendiri yang sesuai dengan kebutuhan masa depan dalam dunia tanpa batas. Berkarakter Pendidikan Karakter dan Pengertian Pendidikan Berkarakter - Negara Indonesia memiliki jumlah penduduk yang besar. Dalam kaitannya dengan pendidikan karakter Indonesia sangat memerlukan SDM (Sumber Daya Manusia) yang besar pula dan harus bermutu untuk mendukung program pembangunan. Untuk menghasilkan SDM yang berkualitas peran pendidikan di Indonesia sangat penting, sama pentingnya dengan Sistem Pendidikan Di Indonesia. Pendidikan karakter sejak usia dini Apa sebetulnya arti dan pengertian pendidikan karakter itu Lihat topik Pengertian Pendidikan. Pendidikan karakter adalah sebuah sistem yang menamamkan nilai-nilai karakter kepada anak usia sekolah yang dimana nilai-nilai tersebut memiliki komponen pengetahuan, kesadaran individu, tekad, serta adanya kemauan dan tindakan untuk melaksanakan nilai-nilai baik terhadap Tuhan Yang Maha Esa (YME) baca( Artikel Ilmu Pendidikan Islam atau artikel pendidikan), diri sendiri, sesama manusia, dengan lingkungan, maupun kepada bangsa sehingga akan terwujud menjadi manusia insan kamil. Di negeri ada program pendidikan karakter terus digencarkan oleh Kementerian Pendidikan nasional. Pada bulan Juni tahun 2011 paling tidak ada 650.000 guru serta kepala sekolah dijenjang pendidikan tingkat SMP akan ditatar berkenaan dengan konsep pendidikan karakter. Harapan kedepannya mereka akan faham dan mengerti bagimana cara menerapkan pendidikan karakter kepada siswa yang di didiknya. Bila kita memperdalam tentang pendidikan karakter Prof Suyanto PhD (2011) "Kementerian Republik Indonesia akan melatih sebanyak 650.000 guru dan kepala sekolah, pada bulan Juni 2011. Tujuan pelaksanaan penataran terhadap guru dan kepala sekolah tersebut agar ada kesamaan mengenai pendidikan karakter," Hal ini dikatakan oleh Dirjen Pendidikan Dasar Kemendiknas, dalam seminar pendidikan karakter di Universitas Muhamamdiyah Surakarta (UMS), Sabtu (28/5/2011). Menurut Darlan (2011) bahwa:”...Peran Pendidikan Karakter dari Guru, dan Sistem Belajar Membelajarkan...”. Guru harus mengenali 3 Jalur Pendidikan, Upaya Meningkatkan Mutu Pendidikan, Cita-Cita Bangsa, Life-long Education, Kegagalan Pendidikan Formal, Konsep Pendidikan Luar Sekolah Ke Masa Depan, Kualifikasi Pendidik, Promosi dan Sertifikasi, Dalam Menggulir Bola Panas, tentang Karakter Bangsa, Karakter Bangsa yang diharapkan, Karakter bangsa yang ber-etika dan Pendidikan Tidak Semata Tugas Guru. Dari berbagai sub permasalahan di atas akan diuraikan secara sederhana satu demi satu agar dapat diterima oleh setiap orang. Dipihak lain tentang pendidikan karakter Mengenai apa itu karakter, Moeliono (1989; 389) dan Poerwadarminta (1986) menyebutkan:"...sifat-sifat kejiwaan, akhlak atau budi pekerti yang membedakan seseorang dengan yang lain...". Sedangkan menurut: Esau dan Yakub (2010) dalam kamus umum bahasa Indonesia, adalah:"...karakter ialah tabiat, watak, sifat-sifat kejiwaan, akhlak atau budi pekerti yang membedakan seseorang dari yang lain...". Kemudian Leonardo A Sjiamsuri (2010) dalam bukunya "'Kariama Versus Karakter" mengatakan bahwa karakter adalah:"...merupakan siapa ands sesungguhnya...". Sedangkan karakter dalam arti PLS, menurut Sutaryat (2010) bahwa:"...dalam menyusun kurikulum bersifat fleksibelitas bagi pamong, tutor, instruktur dapat dilaksanakan dengan musyawarah dengan WB dan dalam penggunaan metoda pembelajaran yang bersifat partisipatif...". Hal ini menunjukkan kepada kegunaan dan keunggulan suatu produk manusia. Dengan demikian karakter yang dimaksudkan adalah sikap yang jujur, rendah hati, sabar, tutus ikhlas dan sopan dalam pergaulan. Artinya tidak berkarakter atau tabiat yang keras. Sebagai tenaga guru yang dalam jabatan fungsional, tentu harapan kita semua punya karakter yang santun, murah hati, berwawasan luas dan bisa mengayomi kepada semua orang. Termasuk anak didiknya. Karakter Bangsa saat ini Dewasa ini, sudah banyak yang menyangsikan bahwa masa depan lebih cerah dan lebih baik. Namun sebaliknya bangsa kita dalam kurun waktu relatif singkat berubah menjadi karakter yang keras, mudah tersinggung, dan bisa dijual belikan oleh kelompok yang berkepentingan. Bila kita memperhatikan tentang perubahan karakter dimaksud, seperti karakter keras dihampir setiap hari, kita menyaksikan terjadinya perkelahian apakah adu mulut ataukan fisik, yang ditayangkan media cetak maupun elektronik. Demo atau tawuran di mans-mans tidak memandang manfaat atau modharat. Karakter masyarakat yang mudah tersinggung, seperti apa pun pernyataan kepala negara, ternyata ada yang menyanggah. Terlepas benar atau salah. Sehingga tidak terlihat lagi batas formal antara pemimpin dengan rakyat jelata. Bupati, KPU, Pores, pengadilan, Kejaksaan, perusahaan di demo oleh karyawanya dll. Tidak lepas dari sasaran masa untuk menyampaikan kebebasan berpendapat. Terlepas betul ataukah salah. Guru di demo oleh murid dan orang tua murid, lupa ia dan anaknya diberikan didikan oleh sang guru. Untuk kepentingan tertentu sekelompok masyarakat mau menerima bayaran untuk melakukan demo. Walau yang di demo itu adalah keluarga atau kerabatnya sendiri. Pada suatu peristiwa kejaksaan di Batang Jawa Tengah di demo oleh mereka yang tidak puas terhadap tuntutan hukum yang diusulkan oleh Jaksa. Hal-hal di atas adalah sebagian dari sekian contoh karakter bangsa kita yang saat ini disebut demokrasi yang kebablasan. Sehingga karakter bangsa kita dewasa ini, perlu diperbaiki. Namun belum diketahui dari mana memulai perbaikannya. Kasus karekter saat ini bagaikan benang kusut yang harus kita perbaiki melalui pendidikan. Karakter Bangsa yang diharapkan Dari karakter bangsa yang saat ini masih sulit dikendalikan, memang sebenarnya tidak terlintas dalam cita-cita semua orang. Masyarakat Indonesia, sebenarnya berharap negeri yang aman tentram yang luh jinawi, Negeri yang baldatul thaybatun warabbun gafur, adalah impian semua rakyat bangsa Indonesia. Hanya saja reformasi negeri kita yang belum tuntas ini, membuat bangsanya jadi beringas. Banyak upaya yang sudah dikerjakan oleh berbagai pihak, namun belum juga terwujud. Kita sebagai anak bangsa, mari kita bersama-sama mencari pemecahan ini, agar situasi (karater) bangsa kita tidak mudah marah, bersikap Bantu, tut wuri handayani, yang punya prinsip saling menghargai, saling menghormati dan saling percaya mempercayai. Insya Allah negeri kita akan muncul kembali karakter bangsa yang diharapkan/diidam-idamkan masyarakat semua. Sebaliknya jika kita sebagai orang tua berprinsip seperti teori Langavelt yang bercita-cita:"...jika seandainya saya sebagai seorang buruh tani, maka ia berharap anaknya satupun tidak akan menjadi buruh tani lagi. Tapi anak-anak saya akan menjadi juragan tani..." Hal ini sebuah karakter yang lebih maju dari masa sekarang. Karakter Ber-etika Sungguh sulit mencari manusia sekarang yang masuk pada golongan, Menurut Norsanie Darlan (2010) bahwa:”...masih banyak orang punya karakter ber-Etika. Namun dari hasil diskusi dikalangan doses ternyata masih banyak juga ditemukan manusia-¬manusia yang berkarakter sopan santun, tidak mudah terumbang ambit dari berbagai arus zaman yang dewasa ini sering menyesatkan...”. Kementrian pendidikan dan Kebudayaan sudah menetapkan:"... kode etik guru..." namun belum ditetapkan siapa wasitnya. Oleh sebab itu Kementrian Pendidikan kebudayaan bersama PB PGRI sudah mulai menata hal itu. Pendidikan Karakter diterapkan pada lingkungan Dewasa ini, di kalangan kampus sungguh banyak terjadi demo apakan mahasiswa dengan mahasiswa. Bahkan sering pula demo antara mahasiswa dengan doses. Peran Pembantu Rektor III bidang kemahasiswaan kurang nampak. Padahal jika dikaji secara etika, mahasiswa mendemo dosen tidaklah wajar, Karena dosen dan guru mereka sendiri. Karakter ber-etika juga di masyarakat. Para tokoh masyarakat dan tokoh agama adalah orang yang harus kita hormati. Ternyata sungguh tidak menggembirakan, sering kali etika itu di langgar. Senin pagi tanggal 2 Agustus 2010, jam 06.00 TV-One menyiarkan di bekasi Jawa Barat yang berbatasan dengan DKI Jakarta seorang pendeta mau memimpin kebaktian ditolak oleh kelompoknya sendiri. Karena dijauhkan hal-hal yang negatif. Sebenarnya perlu pemisahan antara kegiatan keagamaan dengan masalah demo. Di masyarakat dapat kita lihat, bahwa dihampir sebagian besar Pemili Kada terjadi demo yang menuntut ketidak puasan pada kelompok tertentu. Hal itu tidak saja hanya pada tingkat kabupaten/kota. Tapi juga pemilu Gubernur dan belum lama ini pemilu presiden. Yang melakukan demo di depan MK. Memperhatikan kejadian-kejadian di atas, maka pemilihan Bupaten/Walikota dan Gubernur kenapa tidak kita kembalikan kemasa lampau. Artinya melalui DPRD/DPR. Tentu ditinjau secara ekonomis lebih murah. Pendidikan Karakter diberkan pada mahasiswa Pendidikan Tidak Semata Tugas Guru Berbicara pendidikan secara umum, maka tugas tersebut tidak seluruhnya dibebankan kepada guru. Sudah menjadi kesepakatan secara luas, bahwa pendidikan itu bisa berhasil dengan baik, bila adanya keterlibatan dari semua pihak. Guru, orang tua murid, masyarakat dan pemerintah. Karena pendidikan itu, tidak semata dibebankan kepada guru semata, melainkan tanggung jawab bersama. Artinya orang tua dan masayarakat. Untuk majunya suatu bangsa tentu kita saling menghargai, saling toleransi dan saling menghormati. Kenapa guru kurang dihargai masyarakat terlebih muridnya sendiri karena mereka melihat kehidupan guru dalam 25 tahun terakhir ini sungguh menyedihkan. Dulu guru kita hormati, karena mereka dianggap orang yang terpelajar. Dalam kurun waktu tertentu menjadi adalah pilihan paling akhir. Mudah¬-mudahan masa datang guru kembali menjadi yang dihormati. DAFTAR PUSTAKA Conrad, 1999. Pembangunan Berkelanjutan dipertahankan secara ad infinitum”, makalah. ----------, 2010, Pendidikan Karakter Dalam Perangkat Pembelajaran, Makalah, Tamiang Layang. Darlan, H. M. Norsanie 2011, Mengapa Kita Harus Membaca, Palangka Raya. -----------, 2011. Mengenali Pendidikan Karakter Dalam Proses Pengembangan Pembelajaran, Makalah Seminar, Puruk Cahu. Esau dan Yakub, 2010. Karakter Sebuah Pengertian, Internet. Habibie, B.J. 2012. Peradaban manusia yang hidup di atas bumi Indonesia. Mereka hidup secara damai, tentram dan sejantera, Jakarta. Hariandja, M.T.E., 2002. 0f strategies to manage people for optimum business performance including the development of policies and process to support these strategies, artikel, Internet. Herryanto, Eris, 2011. Pidato Tertulis tentang: Strategi Perang Semesta (SPS) dalam Wisuda, Sekolah Pasca Sarjana Strategi (SPSS) Pertahanan UNHAN, Akademik di Kemhan, Jakarta. Huntington, 2012. Kebudayaan dan peradaban, tanggapan terhadap pembangunan peradaban, Jakarta. Ichsan, Kak, 2012. Makna Hari Aksara Internasional, Dalam makalah HAI, Jakarta. Irfani, Chairul, 2012. Indonesia meningkatkan peradaban yang sejahtera, damai, dan tentram dibangun sumber daya manusia, Artikel, Jakarta. Kartawijaya, Tb Mh Idris, 2008. Pembangunan sebuah proses produksi, Makalah, Seminar Pembangunan, Yogyakarta. Koentjaraningrat, 2012. Kebudayaan nag6 sional sebagai keseluruhan kolektif, Dian Rakyat, Jakarta. Moeliono, Anthon, 1989. Kamus Umum Bahasa Indonesia, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI, Jakarta. Poerwadarminta, WJS, 1986. Kamus Besar Bahasa Indonesia, Balai Pustaka, Jakarta. Soenarto, 2011. Kerendahan hati elit politik, seniman dan intelektual, artikel, Jakarta. Sayidiman, 2011. kebudayaan Indonesia yang dilandasi kebudayaan daerah, Artikel, Internet. Syam, Firdaus, 2012. Membangun Peradaban Indonesia, ICMI, Jakarta. Tietenberg, 2000. Sumberdaya berdasarkan pada kemampuan, makalah Seniar Sumber Daya, Jakarta. Tbidris, 2008. Dalam hal penyediaan bahan baku dan proses produksi kegiatan pembangunan masyarakat sekitarnya, makalah, Internet, TD, Surna, 2001. Pembangunan berkelanjutan memenuhi kebutuhan masa kini, artikel, Jakarta. Under, Filled, 2011. Hubungan sosialisasi Dengan Kepribadian Tentang Komunikasi, Sosiologi, artikel, Jakarta. Suyanto, 2011. pendidikan karakter, Kementerian Republik Indonesia, di Universitas Muhamamdiyah Surakarta UMS, Surakarta. Diposkan oleh norsanie darlan di 03.58 Tidak ada komentar: Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke FacebookBagikan ke Pinterest