Senin, 06 Agustus 2012

KEWIRAUSAHAAN PEMUDA SEBAGAI PELOPOR PEMBANGUNAN EKONOMI BANGSA




Oleh :
H.M. Norsanie Darlan

Materi ini dipaparkan pada acara Pelatihan PasukanPengibar Bendera Pusaka 
(Paskibraka) Dinas Olahraga Provinsi Kalimantan Tengah, 8 Agustus 2012
Di Palangka Raya
Pendahuluan
Memang menciptakan sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas, tidak semudah membalik telapak tangan. Apa lagi dalam dunia kewirausahaan. Tantangan yang dihadapi hanya segelintir pemuda yang mau bertindak setelah memperoleh pelatihan seperti ini. Namun pemerintah sudah berupaya sejak dini, seperti para peserta pelatihan Paskibraka sekarang. Tapi yang mau turun langsung untuk berwirausaha pasti ada diantara peserta ini. Padahal bagi mereka yang memilih dunia wirausaha jauh lebih besar perolehannya setiap bulan dibanding mereka bekerja di dunia perkantoran.
Materi dalam buku ini, akan membahas berupa: Kewirausahaa Pemuda, Pemuda Harus Jadi Pelopor,  pembangunan masyarakat Ekonomi Bangsa, Anak Usia Dini di PKBM, 3 Tantangan Generasi Muda, Pemuda Pejuang Bangsa, Jiwa Kepeloporan Pemuda, Diksar Kepeloporan Pemuda, Revitalisasi Kepeloporan Pemuda,  Problematika pemuda, Menumbuhkan Semangat Wirausaha, dan lain-lain.
Untuk lebih jelasnya hal-hal di atas, akan diuraikan satu persatu secara sederhana. Namun sebelumnya mari kita ketahui dulu berbagai pengertian ini :

Arti Berwirausaha
Bila kita ingin mengetahui apa arti berwiraswasta menurut: Norsanie Darlan (2011) adalah:”...merupakan suatu perbuatan dalam mempersiapkan diri untuk kini dan masa datang. Apakah untuk diri pemuda pelopor itu sediri, ataukah buat orang lain. Berwiraswasta tentu saja melatih diri untuk keterampilan hidupnya…”. Sehingga tidak ada merasa ketergatungan pada orang lain.

Arti Pemuda
Pemuda menurut Abdul Gafur (1980) Norsanie Darlan (2011) adalah:”... seseorang yang mempersiapkan dirinya untuk maju kebih dahulu ke depan dalam berbagai hal...”. demikian juga pemuda pelopor pembangunan pedesaan yang maksudnya seorang pemuda yang berjiwa kesatria dalam membantu pempelopori sesuatu pekerjaan atau program guna kemajuan desa di mana yang bersangkutan bertugas. Tujuannya tidak lain adalah membangun desa dan masyarakat demi kemajuan bangsa dan negara.

Pemuda Harus Jadi Pelopor
Bila kita ingin tahu apa sebenarnya arti Pemuda menurut Hasan Alwy (2000; 847) dan Poerwadarmita (1986) Darlan (2011) ia adalah: ”...seorang  laki-laki, remaja, taruna, yang bakal menjadi pemimpin....”. Pemuda di sini menurut penulis tidak sebatas kaum lelaki. Tapi kalangan pemudi sekalipun juga masuk. Disadari atau tidak bahwa pemuda berperan sebagai pengganti generasi sebelumnya. Pemuda adalah menjadi sasaran pemikir agar lebih baik dari masa sebelumnya. Karena di pundak pemudalah masa depan bangsa.
Sedangkan apa itu arti pelopor menurut Hasan Alwy (2000;846) adalah:”...(1) yang berjalan terdahulu; yang berjalan di depan perarahakan dan sebagainya; (2) perintis jalan; pembuka jalan; pionir; dia dipandang orang sebagai yang yang paling terdepan dalam gerak pembaharuan (tanpa memperhitungkan resiko yang akan dialami)...”.  Dengan demikian pelopor tidak lain adalah orang yang berani mengambil resiko dalam berbuat mendahului pekerjaan orang lain, demi kepentingan pembangunan bangsa dan.
Dengan demikian pemuda pelopor adalah tidak lain, para pemuda yang punya kreativitas tinggi dalam berbagai kegiatan pembangunan. Misalnya seorang pemuda membuat berbagai kegiatan dalam menjelang HUT proklamasi, membuat kreasi baru dalam pembangunan, seperti: membuat karya cipta tertentu dalam pemanfaatan apa saja di lingkungan alam  sekitar. Misalnya memanfaatkan tenaga air menjadi listrik, tenaga angin menjadi sumber energi listrik, sinar matahari menjadi tenaga listrik, limbah sabut kepala jadi sapu, dll. Inilah kepeloporan pemuda. Dan banyak lagi masalah lain yang yang dipelopori pemuda. Apakah atas usahanya sendiri, ataukah bersama orang lain. Di Kalimantan Tengah sumber daya alam terkandung di dalam perut buminya banyak hal salah satunya ”batu bara”. Kenapa tidak ada kepeloporan pemuda membuat batu bara sebagai pemanas air agar mendidih dan memimbulkan uap menjadi tenaga listrik. Pemuda pelopor juga dalam bidang olahraga, seperti: tinju, bulu tangkis, sepak bola, basket, tens dsb.
Bila kita mencari ”pemuda Pelopor”, Kalau perlu kita akan melibatkan seluruh lapisan masyarakat. Agar betul-betul didapatkan hasil yang baik. Menurut Budi Setiawan (2010) adalah:”... tujuan program Pemuda Pelopor ini, untuk  mengapreasi keberadaan pemuda Indonesia yang memiliki peran strategis sebagai pelopor dalam bidang pembangunan sosial kemasyarakatan, dan memiliki potensi memberikan motivasi dan inspirasi kepada masyarakat. ”Untuk itu pemerintah terus mendorong untuk mewujudkan pemuda yang memiliki kemampuan menjadi pelopor...”.
Sementara itu, peraih Pemuda Pelopor banyak yang mendefinisikan pemuda pelopor sebenarnya manusia merdeka, berkarya tanpa pamrih. Karya atau tindakan yang mereka lakukan itu datangnya dari Yang Maha Kuasa. Menurut: Huala Siregar  (1991) adalah:“...Mereka melakukan semua itu tanpa berharap sesuatu. Jadi mari kita betul-betul menyeleksi sehingga kita menemukan pemuda merdeka dan berkarya tanpa pamrih...”. 
Sebelumnya, Staf Khusus Menpora Lalu Wildan (1991) mengusulkan, agar penilaian Pemuda Pelopor tidak hanya dibatasi pada 4 bidang saja masing-masing kewirausahaan, pendidikan, teknologi tepat guna serta seni budaya dan pariwisata), karena saat ini ada perubahan-perubahan permasalahan di masyarakat dibanding tahun-tahun sebelumnya. ”Misalnya saya mengusulkan ada pelopor bidang perubahan iklim, pertanian, informasi teknologi atau pemuda relawan bencana,” katanya.


Pembangunan Masyarakat
Arti Pembangunan menurut Hasan Alwi (2002;103) adalah:”…sebuah proses pembangunan yang dimulai dari negara maju melalui pemerintah negara berkembang…”. Sehubungan dengan pembangunan daerah berbasis kearifan lokal (Huma Betang) ini, adalah tentu sangat erat hubungannya dengan pembinaan masyarakat yang lebih maju dari masa-masa sebelumnya. Karena harapan pembangunan ini tidak sekedar di perkotaan, melainkan juga pedesaan sangat diimpikan masyarakat.
Arti Masyarakat menurut: Shadily (1980), Harsono (1997) Darlan (2002) adalah:”…sekumpulan manusia yang saling berinteraksi dalam suatu wilayah tertentu dengan berbagai kesamaan tujuan satu sama lainnya…”. Dengan demikian interaksi masyarakat dalam suatu wilayah pembangunan daerah berbasis kearifan lokal (Huma Betang) ini, adalah adanya sifat saling menghormati, saling menghargai satu sama lain. Walau masyarakat Dayak berbeda suku, agama dan keyaninan. Tapi juga saling Bantu membantu satu sama lain, bergotong royong adalah budaya masyarakat sejak nenek moyang.
Arti Kearifan asal katanya arif, menurut Hasan Alwi (2002;65) adalah:”…dalam melakukan sesuatu dengan secara bijaksana, cerdik dan pandai,    dan berilmu…”.  Atau istilah lain:”harati” Untuk membangunan tanpa ada pemihakan terhadap kelompok tertentu.
Arti Karakter, menurut: Moeliono (1989; 389) dan Poerwadarminta (1986) Norsanie Darlan, (2011) menyebutkan:"...sifat-sifat kejiwaan, akhlak atau budi pekerti yang membedakan seseorang dengan yang lain...".
Sedangkan menurut: Esau dan Yakub (2010) dalam kamus umum bahasa Indonesia, adalah:"...karakter ialah tabiat, watak, sifat-sifat kejiwaan, akhlak atau budi pekerti yang membedakan seseorang dari yang lain...". Kemudian Leonardo A. Sjamsuri (2010) dalam bukunya "'Kariama Versus Karakter" mengatakan bahwa karakter adalah:"...merupakan siapa ands sesungguhnya...". Sedangkan karakter dalam arti PLS, menurut Sutaryat (2010) bahwa:"...dalam menyusun kurikulum bersifat fleksibelitas bagi pamong belajar, tutor, instruktur dapat dilaksanakan dengan musyawarah dengan WB dan dalam penggunaan metoda pembelajaran yang bersifat partisipatif...". Hal ini menunjukkan kepada kegunaan dan keunggulan suatu produk manusia. Dengan demikian karakter yang dimaksudkan adalah sikap yang jujur, rendah hati, sabar, tutus ikhlas dan sopan dalam pergaulan. Artinya tidak berkarakter atau tabiat yang keras. Sebagai tenaga  yang dalam jabatan fungsional, tentu harapan kita semua punya karakter yang santun, murah hati, berwawasan luas dan bisa mengayomi kepada semua orang. Termasuk anak didiknya.
Tokoh yang memperkenalkan istilah “masyarakat madani” di Indonesia menggambarkan masyarakat madani sebagai sistem sosial yang subur yang berazaskan moral Pancasila yang menjamin keseimbangan antara kebebasan perorangan dengan kestabilan masyarakat. Ia juga memberikan gambaran kondisi yang bertentangan dengan masyarakat, yaitu adanya kemelut yang diderita oleh umat manusia seperti meluasnya keganasan, sikap melampaui batas, kemiskinan, ketidak adilan, kebejatan sosial, kejahilan, kelesuan intelektual, dan kemunduran budaya yang merupakan manifestasi pembangunan masyarakat yang kritis.
Walaupun ide-ide masyarakat terhadap kearifan lokal menurut: Hidayat, (2008) bertolak dari:”... konsep civil society, namun ide-ide itu juga terdapat dalam konsep yang disebut Gelner dengan, budaya tinggi yang juga terdapat dalam sejarah Asia Tenggara di kalangan Melayu Indonesia...”.
Pernyataan, Komaruddin Hidayat (1999: 267) bahwa:”... dalam wacana di Indonesia, istilah “pembangunan masyarakat” kali pertama diperkenalkan oleh Nurcholish Madjid, yang spirit serta visinya terbukukan dalam nama yayasan yang Pendidikannya...”. Secara “semantik” artinya kira-kira ialah, sebuah excellent [paramount] yang misinya ialah untuk membangun sebuah peradaban, “Pembaharuan Pendidikan. Selanjutnya, ia mempopulerkan istilah itu dalam wacana dan ruang lingkup yang lebih luas yang kemudian diikuti oleh para pakar yang lain.
Menurut: Nurcholish Madjid (2000: 80) dalam Hidayat (2008) bahwa:”... pembangunan masyarakat merupakan masyarakat yang sopan, beradab, dan teratur dalam bentuk negara yang baik...”. Menurutnya pembangunan masyarakat dalam semangat modern tidak lain dari civil society, karena kata  ”pembangunan” menunjuk makna peradaban atau kebudayaan. Oleh karena ide-ide dasar pembangunan masyarakat dan substansi civil society yang berkembang di dunia Eropa sama, maka Dawam Raharjo (2000) dalam Hidayat (2008) berpendapat bahwa:”...substansi pembangunan masyarakat dalam istilah civil society di dunia Barat adalah suatu konsep pembangunan masyarakat...”. Teori civil society dapat dipinjam untuk menjelaskan istilah pembangunan masyarakat yang digali dari khazanah sejarah bangsa. Senada dengan hal ini Nurcholish Madjid, tidak membedakan antara pembangunan masyarakat yang lahir dari khazanah sejarah dan peradaban Islam dengan civil society yang lahir dari sejarah Eropa atau peradaban Barat.
Sementara itu, Emil Salim dalam Hidayat (2008) adalah:”...sebagai ketua Gerakan Masyarakat Madani, pernah mengatakan bahwa masyarakat madani sebenarnya telah ada di Indonesia...”. Wujud pembangunan masyarakat ini sesungguhnya telah tertanam dalam masyarakat  paguyuban yang dominan di masa lalu, ketika kelompok masyarakat berkedudukan sama dan mengatur kehidupan bersama dengan musyawarah. Selanjutnya ia menambahkan, bahwa substansi pembangunan masyarakat telah lama ada dalam etika sosial politik masyarakat Indonesia yang berkembang dalam kultur masyarakat Indonesia.
Semangat  berbudaya, sosial politik yang mengedepankan mekanisme musyawarah dalam penyelenggaraan kehidupan sosial dan politik merupakan budaya masyarakat Indonesia yang menonjol. Dalam perspektif civil society (Barat) mekanisme musyawarah dalam menyelesaikan permasalahan adalah merupakan salah satu prosedur demokrasi yang substantif bagi pembangunan bangsa di daerah.

Ekonomi Bangsa 
Beberapa tahun terakhir ini, menurut: Husein Mubarok (2009) bahwa perekonomian dunia semakin bergejolak saja. Bahkan Negara besar seperti Amerika, mulai kelihatan kehancurannya. Mengapa bisa demikian? Hal ini disebabkan oleh berbagai hal, diantaranya adalah baby birth dan biaya perang yang besar. Sebelum Perang Dunia II sedikit sekali bayi yang lahir di Amerika.
Sebaliknya, pasca perang dunia II angka kelahiran meningkat drastis. Nah, yang menjadi masalah adalah generasi dengan jumlah kelahiran luar biasa tersebut sekarang tengah menjadi pensiunan. Diperkirakan pada tahun 2016 nanti jumlah pensiunan Amerika mencapai 75 juta. Bagaimana menggaji mereka? Ini sebagai akibat angka kesehatan yang membaik.
Bahkan, tidak ada satupun pengamat ekonom yang optimis bahwa Amerika akan tetap berdiri. Yang kedua adalah dikarenakan Amerika selalu mengalokasikan dana yang besar untuk perang.Sebagai contoh saja, berdasarkan data statistik perekonomian pemerintah Amerika, dana yang diajukan untuk kasus perang Israel-Palestina adalah senilai kurang lebih $1200 triliun sedangkan yang di acc adalah kurang lebih $900 triliun. Perlu diketahui bahwa pada Tahun 2008 terjadi krisis ekonomi yang hebat di AS, Apakah Obama sanggup mengatasi masalah ini kedepannya?
Sebenarnya tidak masalah jika Amerika hancur. Yang menjadi masalah adalah siapa-siapa yang berada di belakang Amerika, yaiu para Yahudi dan Israel. Pada dasarnya orang-orang Amerika itu baik dan toleran. Yang kurang ajar adalah para pemimpinnya, yaitu para Yahudi yang telah dikuasai Dajjal. Lalu apakah Amerika tinggal diam melihat kondisi perekonomian yang seperti itu.
Bicara tentang ekonomi maka  Muizzuddin (2009)  adalah:”...Sistem ekonomi yang diterapkan, seharusnya mampu mewujudkan kesejahteraan bagi seluruh masyarakat berdasarkan asas demokrasi, kebersamaan, dan kekeluargaan yang melekat, serta pada akhirnya mewujudkan ketentraman bagi manusia. Akan tetapi Rentetan peristiwa akibat sistem ekonomi yang diterapkan terus memberikan dampaknya...”. sehingga apa yang diharapkan selalu berhasil baik.

Anak Usia Sekolah di PKBM
Fasilitas pendidikan di atas tidak saja untuk sekolah dasar. Padahal wajib belajar kita tidak lagi Wajar 6 tahun. Tapi sudah bergeser ke 9 – 12 tahun. Sementara gedung SMP dan SLTA belum juga tersedia hingga anak mau belajar ke SMP dan SLTA terkendala. Hal ini menuntut agar kita dapat memikirkan bersama masalah tersebut. Karena kesempatan pendidikan yang ada di negeri kita disebabkan fasilitas pndidikan yang masih dirasakan kurang. Dipihak lain menurut M. Saad Arfani (2011) ia mengungkapkan bahwa: ”...jauhnya sekolah jadi penyebab anak-anak pedesaan tak melanjutkan pendidikan...”. kalimat di depan sungguh di temukan di mana-mana baik di daerah kita maupun di daerah lain.
Hal seperti di atas, tidak saja dirasakan di pedesaan. Tapi di perkotaan sekalipun penduduk kita yang fasilitas pendidikan sudah dianggap mendekati cukup, namun masih ditemukan penduduk kota yang belum berkesempatan mecicipi pendidikan formal. Sehingga pemulis berasumsi tidak tuntas pendidikan ini, kalau hanya dipikirkan dan di fasilitas Cuma pada pendidikan formal. Peran pendidikan non formal, ternyata sangat penting, namun  karena ketidak mengertian, ketidak fahaman mereka yang didudukkan pada bidang pendidikan non formal. Maka hal-hal di atas, tidak bisa dituntaskan. Alasan yang penulis asumsikan adalah mereka yang ditempatkan pada Subdin/Bidang pendidikan non formal masih tidak profesional. Penempatan sarjana “...atau tenaga yang bukan ahlinya, tunggu kehancurannya...”.

Ada 3 Tantangan Generasi Muda
Menurut Darlan (2011) bahwa ada 3 (tiga) tantangan yang dihadapi para pemuda generasi muda  dewasa ini, yang ternyata tidak sebatas pada kaum muda saja yang merasakannya. Tapi orang tuapun juga merasakan hal itu. Ke 3 hal tersebut di atas adalah:
1.Tantangan masuk sekolah;
2.Tantangan masuk Perguruan Tinggi; dan
3.Tantangan masuk lapangan kerja.
Untuk lebih jelasnya ke 3 hal di atas, secara sederhana akan diuraikan satu persatu sebagai berikut:

Tantangan masuk sekolah
Sejak akhir tahun 70-an sudah melaui bermunculan satu-persatu di daerah yang menginformasikan bahwa tahun demi tahun anak usia sekolah dirasakan untuk masuk sekolah apakah sekolah dasar ataukah SLTP mapun SLTA ternyata jumlah kursi tidak sebanding dengan jumlah anak yang mau masuk sekolah. Hal ini pasti jauh berbeda.  Dengan kata lain daya tampung sekolah mulai kurang. Sementara penambahan setiap tahun sepertinya tetap tidak terbendung. Sekolah-sekolah swasta dengan tampil seadanya pun di daerah tertentu, juga dengan sangat banyak masih ada yang tak tertampung. Ini sebuah akibat ledakan penduduk masa lalu.
Dalam istilah lain adalah, “Sejak lama di negeri ini”, masuk sekolah ”para calon murid” sudah mendapatkan tantangan yang terkadang di perkotaan terdapat komentar masyarakat ”siapa berduit, ialah yang bakal dapat” dalam meraih pendidikan anaknya yang lebih baik dan kualitasnyapun tidak diragukan.
Namun kita sama maklumi bersama bahwa masyarakat pemukimannya tidak menumpuk di perkotaan. Melainkan mereka sebagian besar penduduk negeri ini, bertempat tinggal di pedesaan. Kita sama maklumi  tidak seluruh desa terlebih masa lalu terdapat sekolah dasar. Sehingga tidak menutup kemungkinan ada warga masyarakat kita yang karena sesuatu dan lain hal selama hidupnya, tidak sempat mengenyam atau menikmati dunia pendidikan formal. Atau bersekolah.

Tantangan Pemuda masuk Perguruan Tinggi
Kalau kita melihat mulai munculnya istilah: “UMPTN” yang kepanjangannya adalah Ujian masuk perguruan tinggi negeri ini, digulir juga sejak tahun 80-an juga. Yang terkadang anak lulusan SLTA yang mau masuk perguruan tinggi tujuan Bandung, ternyata tes-nya lulus di Palangka Raya. Kenapa demikian seperti uraian ini masyarakat turut berpartisipasi menyelenggarakan pendidikan tinggi. Ternyata perguruan tinggi swasata tidak masuk UMPTN sehingga dengan tidak diperkirakan sebelumnya ia harus kuliah di Unpar-Universitas Palangka Raya. Karena di kota Bandung juga ada perguruan tinggi diberi nama Unpar. Tapi punya yayasan swasta.
Dengan seleksi yang relatif ketat disertai beratnya persaingan, 1 berbanding 15 maka tidak menutup kemungkinan calon mahasiswa yang kapasitasnya bila dibawah standar dengan sangat menyesal terpaksa harus tidak lulus pada jurusan/program studi pilihannya. Karena dengan system seleksi sekarang calon dari sumatera utara, Aceh, Papua, Sulawesi dan berbagai provinsi di Jawa dengan mudah lulus di Unpar. Sementara putra daerah, hanya gigit jari. Karena ada dugaan standar pendidikan yang ada di provinsi kita relatif rendah. Mudah-mudahan mulai terjadi perbaikan masa sekarang dan masa datang. Sehingga standar kita sama dengan kawasan yang lebih maju.

Kita sama maklumi bahwa dalam 20 tahun terakhir, sudah dirasakan di tanah air kita bahwa tes masuk perguruan tinggi negeri sungguh dirasakan betapa sulitnya. Namun seleksi ini, semakin tahun semakin tambah berat. Sehingga upaya memberikan berbagai pendidikan luar sekolah atau pendidikan non formal pada lembaga kursus pada bidangnya oleh orang tua kepada anaknya sungguh memberatkan biaya. Terlebih biaya yang diperlukan. Ada kalanya sang anak kurang perhatian, tapi orang tuanya justru sibuk mendaftar anak untuk kursus itu dan ini, dengan tujuan bahwa anaknya berhasil lulus dalam seleksi masuk perguruan tinggi

Tantangan masuk lapangan kerja
Kaum generasi muda dewasa ini menghadapi masa sulit, sebagai akibat ledakan pendudukan di negeri kita masa lalu sangat tinggi. Hal itu memberikan efek negatif kepada generasi mncari  kerja  dimasa  sekarang.
Selain hal di atas, bergulirnya era reformasi, yang selama ini, kurang mendukung terhadap kebijakan masa lalu. Ebagai contoh yang sdr boleh perhatikan. Kebijakan masa lampau, dinas pendidikan yang doeloe disebut.
Kantor Wilayah Pendidikan. Kepala Katornya paslu lulusan ”alumnus” IKIP atau FKIP. Dewasa ini ternyata dapat diduduki oleh bukan kesarjaan itu. Sehingga pastilah ada bagai perahu layar putus kemudi. Contoh lain dengan kebebasan dewasa ini, bisa terjadi juga kepala Rumah Sakit dipimpin oleh bukan dokter. Kepala Kejaksaan bisa dipimpin oleh orang yang bukan Sarjana Hukum. Jika hal itu terjadi, apa yang bakal terjadi. Ini sebagai bukti derasnya arus reformasi.


Sekarang bagaimana dengan tantangan pada sarjana sekarang. Ada dugaan kemudahan yang muncul dari pihak penentu kebijakan, seperti: penerimaan calon pegawai negeri diusulannya sangat tidak sesuai dengan tenaga kerja pada bidang-bidang yang ada di instansi yang di pimpinnya. Karena ada indikasi untuk menolong keluarga terdekat. Sehingga setelah ia masuk, apa yang harus ia kerjakan. Karena KKN-nya sudah bisa dimunculkan.

Pemuda pelopor bisa juga ia melepaskan diri dari perbuatan yang melanggar budaya, agama dan kebiasaan di masyarakat yang bersifat negatif seperti:
Menghindari 5 M + 1 P untuk lebih jelasnya adalah:
1.                   Minun;
2.                   Main;
3.                   Madat;
4.                   Madon;
5.                   Maling dan;
 +   Polisi

Jika bisa mengajak sesama pemuda, remaja untuk tidak berbuat 5 M di atas, maka pemuda itu bisa disebut juga sebagai seorang pemuda pelopor.

Pemuda Pejuang Bangsa

Pemuda merupakan pemimpin di masa depan bangsa. Aset bangsa yang akan menentukan mati atau hidup, maju atau mundur, jaya atau

hancur, sejahtera atau sengsaranya suatu bangsa. Sesuai pernyataan Ali Bin Abi Thalib: “Sesungguhnya di tangan pemudalah segala urusan umat, dan di telapak tangannya hidup dan matinya umat”.  Pemuda memberikan peran yang sangat penting dalam perubahan bangsa Indonesia. Dari perjalanan bangsa yang terbagi dalam beberapa fase seperti fase perjuangan kemerdekaan, fase mempertahankan kemerdekaan atau fase orde lama, fase orde baru dan fase reformasi diisi oleh kekuatan pemuda. Kekuatan pemuda terletak pada semangatnya yang tidak pernah putus asa dalam dinamika pergerakan, perjuangan dan karya dalam berbagai bidang baik politik, ekonomi, sosial, budaya dan sebagainya.
Pada fase perjuangan melahirkan tokoh muda yang peran dan pemikirannya menjadi tonggak sejarah perubahan bangsa. Sebut saja nama-nama besar seperti Soekarno, Hatta, Tan Malaka, HOS Cokroaminoto, Kh. Ahmad Dachlan, dan para pejuang prakemerdekaan yang lain. Tokoh-tokoh Sumpah Pemuda 1928 pun telah memberikan semangat nasionalisme bahasa, bangsa dan Tanah Air yang satu, yaitu Indonesia. Semangat  Sumpah Pemuda telah menggetarkan relung-relung kesadaran generasi muda untuk bangkit, berjuang dan berperang melawan kolonialisme penjajah .masa itu.
Masa kepemimpinan Soekarno yang kemudian dikenal dengan sebutan orde lama pun tak lepas dari semangat pemuda untuk mempertahankan kemerdekaan. Pada masa itu juga melahirkan tokoh muda yang sangat fenomenal. Soekarno dan Hatta belum genap 40 tahun ketika mewakili bangsa Indonesia memproklamirkan kemerdekaan Indonesia. Sutan Sjahrir juga masih sangat muda ketika berjuang mewujudkan kemerdekaan Indonesia. Muhammad Natsir yang menjadi perdana menteri juga merupakan tokoh muda yang berusaha mempertahankan kemerdekaan ketika ada konflik antarelit pada masa itu. Para pemuda bahu-membahu mengumpulkan semangat demi mempertahankan kemerdekaan yang telah susah payah dicapai saat adanya ancaman disintegrasi bangsa.
Fase orde baru merupakan masa yang sangat panjang dan praktis sangat sedikit tokoh muda yang dapat bernafas lega ketika memperjuangkan idealismenya. Kekuasaan yang sangat otoriter menyebabkan gerakan generasi muda menjadi mandul. Tindakan represif penguasa menyebabkan pemuda tiarap dengan paksa karena dominasi kekuasaan yang berkolaborasi dengan penguasa modal sangat kuat. Peristiwa Malari (15 Januari 1974) adalah contoh nyata peran kaum muda terutama mahasiswa melawan perselingkuhan kekuasaan dan kapital. Pada masa itu muncul nama-nama seperti Hariman Siregar, Arif Budiman dan lain-lain. Pada akhir kekuasaan orde baru, gerakan untuk melawan kekuasaan yang korup, otoriter dan represif kembali menguat.Namun, gerakan itu ditumpas habis oleh penguasa.
Fase reformasi yang menjadi tonggak besar perubahan dan perkembangan Indonesia. Hegemoni kekuasaan yang telah berjalan selama 32 tahun tumbang karena desakan mahasiswa secara nasional. Pada 22 Mei 1998 adalah hari bersejarah bagi keberhasilan gerakan kaum muda melawan kekuasaan yang lalim. Presiden Soeharto terpaksa lengser setelah gedung DPR/MPR diduduki mahasiswa berhari-hari. Lagi-lagi kaum muda berperan menumbangkan rezim tirani dan membawa perubahan bagi bangsanya.
Pemuda sebagai kelompok kritis diharapkan mampu menangkap getar-getar nurani rakyat dan berani menyuarakan nilai-nilai kebenaran. Itulah sebabnya dalam setiap perubahan sosial selalu menghadirkan pemuda sebagai aktor penting. Karakter kaum muda dituntut untuk responsif, inisiatif, kritis serta optimis. Semoga generasi muda memiliki fisik yang kuat, otak yang cerdas, waktu yang luang, jiwa yang waras, niat yang tulus, budi yang luhur untuk membangun bangsa.

Jiwa Kepeloporan Pemuda
DAPAT kita simpulkan, judul di atas merupakan hikmah terbesar yang bisa kita petik dari setiap peringatan Hari Sumpah Pemuda yang jatuh kemarin, 28 Oktober. Jiwa Kepeloporan Pemuda yang kemudian menyatukan kita sebagai sebuah bangsa!
Delapanpuluh tiga tahun lalu, saat Sumpah Pemuda dideklarasikan, pada saat itulah ikatan kita—dari Sabang sampai Merauke—mulai tersimpulkan. Para pemuda bangsa inilah yang mempeloporinya. Mereka membuang sekat-sekat dalam isme-isme yang kental saat itu, seperti kedaerahan, keagamaan, dan sebagainya.
     Sumpah Pemuda hanyalah satu titik tinta emas sejarah kepeloporan pemuda Indonesia. Seiring perjalanan hidup, gerak, dan dinamika bangsa ini, pemuda tidak pernah kehilangan jiwa kepeloporannya itu. Paling tidak, tinta emas itu masih segar dalam ingatan kita pada 1998 ketika para pemuda menjadi pionir bagi lahirnya Era Reformasi.
     Kini, bangsa Indonesia seakan hidup dalam era kekelaman. Praktik kehidupan berbangsa, bernegara, dan bermasyarakat, penuh dengan masalah-masalah fundamental yang mengikis perlahan-lahan semangat yang digaungkan Sumpah Pemuda.
     Korupsi menggerogoti setiap lini kehidupan bangsa ini. Bukan hanya di kalangan penyelenggara negara, tetapi bahkan merasuki sebagian jiwa kalangan elite bangsa ini, misalnya para pemimpin bangsa. Semangat kegotongroyongan memudar. Sikap tak acuh kian kuat dalam kehidupan masyarakat. Paham-paham kedaerahan menjadi wajah dominan dalam era otonomi daerah. Isme keagamaan juga mengesankan mengesampingkan keberagaman. Benih separatisme masih hidup di sebagian tempat.
     Di antara banyak jalan keluar yang bisa kita tempuh, salah satunya ialah melalui jiwa kepeloporan para pemuda seperti yang diteladankan pada 1928 lalu. Namun, pertanyaannya: masih adakah jiwa kepeloporan itu? Bagaimana kepeloporan pemuda seperti dalam pelatihan paskibraka sekarang.
Tidak sedikit dari rakyat negeri ini yang ragu akan masih hidupnya jiwa itu di kalangan pemuda. Paling tidak, argumentasinya ialah berdasarkan kenyataan yang mereka jumpai atau alami sehari-hari. Pemuda kita seakan hidup dalam dunianya sendiri. Minim sekali sosok pemuda yang muncul laksana bintang terang yang bisa menjadi harapan masa depan bangsa. Sosok-sosok yang pernah digadang-gadang, sebagian besar ternyata kemudian hilang karena hancur oleh perbuatannya sendiri, misalnya terlibat praktik tercela dalam mengemban amanat rakyat dan bangsa ini.
Bukan cuma itu. Tidak sedikit pula para pemuda yang hidupnya berselimutkan pragmatisme sehari-hari. Demikian juga, masih banyak dari para pemuda yang meluntur jiwa kepeloporannya. Misalnya, meski mengemban gelar sarjana—yang berarti merupakan sosok cendekia—namun minim kontribusi baik bagi diri sendiri maupun masyarakat luas.
Haruskah kita pesimis dengan kondisi ini? Tidak! Sebab, tidak sedikit pula para pemuda Indonesia yang masih memiliki jiwa kepeloporan itu. Sayangnya, sebagian besar dari mereka bekerja dalam diam. Jauh dari hiruk-pikuk sehingga tidak tertangkap dalam denyut kehidupan generasi muda kita secara umum. Mereka ialah sosok-sosok pilihan yang di pundaknya kita bisa menggantungkan harapan masa depan bangsa ini.
Akhir-akhir ini, muncul keprihatinan bersama bahwa para pemuda seperti tidak pernah diberi peran untuk bersama-sama mengelola kehidupan berbangsa dan bernegara. Bisa jadi itu benar. Namun, begitulah pesona kekuasaan. Para pemegangnya tentu tidak ingin kehilangan kekuasaannya. Apalagi, secara sukarela menyerahkannya kepada orang lain. Ini merupakan sikap yang jamak terjadi di manapun di belahan dunia ini.
Pilihan yang ada bagi pemuda bangsa ini tidak lain ialah membangun panggung eksistensinya sendiri. Sudah saatnya pemuda Indonesia menunjukkan bahwa tanpa diberipun mereka mampu berperan, memberi pengaruh, dan memimpin kehidupan bangsa ini. Untuk itu, semangat kolektivitas dan kepeloporan harus kembali digelorakan.
Dengan jiwa dan semangat kepeloporan dan kegotongroyongan itu, pemuda Indonesia masa lalu berperan besar memerdekakan bangsa ini dari kolonialisme. Jadi, sungguh merupakan sebuah keniscayaan bahwa dengan berbekal keduanya itu juga para pemuda Indonesia bisa berjuang melepaskan bangsa ini dari keterpurukan dan kehancuran yang membayang di depan mata!


      Diksar Kepeloporan Pemuda
Medan Bisnis – Medan. Pendidikan Dasar Pemanduan Bakat dan Minat Bagi Pemuda (Diksar Pekat) yang digelar Wahana Alam Terbuka Indonesia (What-In) diharap mampu mewujudkan kepeloporan pemuda, serta meningkatkan kemandirian dan kewirausahaan kalangan generasi penerus bangsa tersebut.

      Revitalisasi Kepeloporan Pemuda

Pemuda memiliki posisi penting dalam pembangunan bangsa. Mereka menjadi major human resources, kelompok strategis dengan vitalitas “agent of change” (unsur perubahan) dalam kehidupan berbangsa, bermasyarakat, dan bernegara. Ia juga menjadi pewaris regenerasi masa depan peradaban bangsa.

Karena itu, pemuda harus ditempatkan sebagai kelompok strategis dan potensial untuk kepemimpinan nasional. Yang menjadi sumber daya produktif pembangunan di bidang politik, ekonomi, sosial, budaya, pertahanan, dan keamanan.

Pemuda mesti diposisikan sebagai pemilik idealisme yang bisa menentukan paradigma seluruh sendi-sendi kehidupan bangsa, negara, dan masyarakat. Sehingga, pemuda ditempatkan sebagai agent of change dalam melakukan perubahan yang sangat fundamental sekalipun. Karena, ternyata pemuda sebagai salah satu pusat perubahan alternatif seringkali menjadi tumpuan dan harapan, bila peran perubahan yang seharusnya diemban oleh Negara tidak memuaskan atau terkendala oleh berbagai masalah.

Ada beberapa kilasan sejarah yang mencatat peran pemuda sebagai anak bangsa yang turut berkontribusi terhadap kehidupan berbangsa dan bernegara, yaitu: Pertama, peran dalam kemerdekaan sebuah bangsa. Kedua, peran dalam reformasi Politik sdebuah bangsa. Ketiga, Peran dalam Rekonstruksi idiologi sebuah bangsa.

Dalam konteks sejarah Indonesia. Para pemuda Indonesia telah terlibat dalam membebaskan bangsanya dari penjajahan. Mereka melakukan konsolidasi nasional dalam bentuk Sumpah Pemuda 1928 untuk memadukan militansi, kemampuan berorganisasi, dan sensitivitas global yang menjadi modal semangat perjuangannya mencetuskan Proklamasi Kemerdekaan Tanggal 17 agustus 1945.

Selanjutnya, melalui sejarah pergerakan yang cukup panjang, gerakan pemuda pelajar dan mahasiswa telah memberikan bukti perubahan yang signifikan. Titik-titik sejarah gerakan pemuda pelajar dan mahasiswa di Indonesia dapat dilihat pada tahun 1966 (menuntut pembubaran PKI), tahun 1974 (peristiwa Malari), dan tahun 1998 perjuangan pemuda pelajar dan mahasiswa berhasil meruntuhkan rezim pemerintahan Orde Baru sehingga Indonesia memasuki Orde Reformasi.

Citra positif yang melekat pada gerakan pemuda merupakan modal sosial yang cukup untuk menjadi bahan bakar perubahan. Modal dan citra positif tersebut adalah kepercayaan sosial (social trust) yang mendorong pada sebuah kolaborasi sosial (koordinasi dan kooperasi) untuk kepentingan bersama.


Problematika pemuda

Lain kenyataan dulu, maka lain pula kenyataan kondisi pemuda saat ini. Upaya mempersiapkan, membangun dan memberdayakan pemuda agar mampu berperan serta sebagai pelaku-pelaku aktif pembangunan bangsa Indonesia ternyata bukan persoalan sederhana. Upaya ini masih dihadapkan pada berbagai permasalahan dan tantangan. Ironinya, berbagai permasalahan sosial yang muncul tersebut ternyata melibatkan atau dilakukan pemuda.

Problemtika dan permasalahan kekinian pemuda yang erap kali muncul di kalangan pemuda seperti tawuran dan kriminalitas, penyalahgunaan Narkoba dan Zat Adiktif lainnya (NAZA), minuman keras, penyebaran penyakit HIV/AIDS dan penyakit menular, penyaluran aspirasi dan partisipasi, serta apresiasi terhadap kalangan pemuda. Apabila permasalahan ini tidak memperoleh perhatian atau penanganan bijaksana, maka akan memiliki dampak yang luas dan mengganggu kesinambungan, kestabilan dalam pembangunan nasional, bahkan mungkin akan mengancam integrasi bangsa.

Permasalahan lain adalah ketahanan budaya dan kepribadian nasional di kalangan pemuda yang semakin luntur, yang disebabkan cepatnya perkembangan dan kemajuan teknologi komunikasi, akibat dari derasnya arus informasi global yang berdampak pada penetrasi budaya asing. Hal ini mempengaruhi pola pikir, sikap, dan perilaku pemuda Indonesia. Persoalan tersebut dapat dilihat kurang berkembangnya kemandirian, kreativitas, serta produktivitas di kalangan pemuda. Sehingga pemuda kurang dapat berpartisipasi dalam proses pembangunan karakter bangsa.

Permasalahan yang tidak kalah pentingnya adalah era globalisasi yang terjadi di berbagai aspek kehidupan sangat mempengaruhi daya saing pemuda. Sehingga pemuda baik langsung maupun tidak langsung dituntut untuk mempunyai keterampilan baik bersifat keterampilan praktis maupun keterampilan yang menggunakan teknologi tinggi untuk mampu bersaing dalam menciptakan lapangan kerja/mengembangkan jenis pekerjaan yang sedang dijalaninya.

Berbagai permasalahan tersebut dihadapkan pada tantangan pembangunan yang masih kompleks. Setidaknya, tantangan pembangunan bidang pemuda dalam kurun waktu ke depan adalah munculnya gerakan demokrasi dan era globalisasi yang akan memunculkan persoalan baru di bidang kepemudaan. Hal ini akan memberikan dampak pada persoalan indentitas dan integritas bangsa di kalangan pemuda juga akan mengancam kesatuan dan persatuan bangsa.
Tantangan lain adalah belum terumuskannya kebijakan pembangunan bidang pemuda secara serasi, menyeluruh, terintegrasi dan terkoordinasi antara kebijakan di tingkat nasional dengan kebijakan di tingkat daerah.

Dalam problema pemuda tentu tidak terlepas juga dengan 5 M + 1 P seperti disebutkan pada bagian: terdahulu. Yang ujung-ujungnya harus berurusan dengan pihak berwajib. Sehingga catatan hidup bagi yang berbuat dalam perjalanan hidupnya. Namun sebagai pemuda pelopor harus tidak boleh berbuat seperti 5 M + 1 P di atas. Karena hal itu memberikan contoh yang tidak benar dalam keleloporannya.


Menumbuhkan Semangat Wiraswasta Pemuda

Sejak tahun 1997-1998 Indonesia mengalami krisis ekonomi yang sangat parah dan menjadikan kondisi perekonomian negara kita semakin sulit. Banyak perusahaan yang terpaksa gulung tikar dan merumahkan ribuan karyawannya. Dampaknya bagi negara yang termasuk dalam negara yang sedang berkembang seperti Indonesia, kemiskinan yang ditandai dengan banyaknya pengangguran, daya beli masyarakat yang

rendah, tingkat kesejahteraan yang kecil, tingkat kesehatan yang rendah dan angka pendidikan yang semakin menurun menjadi sebuah kondisi yang tidak terelakkan.
Akibat krisis ekonomi tersebut tidak hanya dirasakan oleh mereka yang tinggal di kota-kota saja, namun hampir semua sendi masyarakat, termasuk masyarakat yang tinggal di pedesaan. Sementara di sisi yang lain kita  ketahui bahwa desa menyimpan kekayaan yang luar biasa, yang apabila ditangani secara serius dan profesional dapat menjadi lahan pemasukan yang tidak sedikit. Hanya saja, mungkin kepekaan dari masyarakat desa dirasakan masih kurang sehingga potensi yang besar tadi hanya terabaikan begitu saja.           

 

Menumbuhkan Semangat Wirausaha

Untuk mengatasi permasalahan  tersebut  ada salahsatu solusi yang bisa dilaksanakan yaitu melalui penggalian potensi yang dimiliki desa. Potensi tersebut dapat berupa sumber daya alam, jumlah penduduk dengan usia produktif  yang besar,  dan lain-lain. Modal dasar yang telah dimiliki tadi, dapat dimanifestasikan ke dalam usaha-usaha yang bersifat produktif, pembinaan kewirausahan yang belum ada maupun peningkatan kewirausahaan yang selama ini telah eksis. Masyarakat desa harus diyakinkan bahwa mereka sebenarnya mampu dan layak mendapat tingkat kesejahteraan yang lebih tinggi.

      Hanya saja, upaya–upaya produktif yang berasal dari desa harus ditumbuhkembangkan agar tidak berhenti di tengah jalan. Oleh karena itu, perlu adanya pembinaan kepada masyarakat yang berkesinambungan. Keberadaan pihak-pihak yang terkait sangat diperlukan, misalnya tambahan modal, perluasan pemasaran, peningkatan kemampuan dalam berusaha/berwirausaha (management) dan sebagainya.
      Secara sederhana seorang wirausaha adalah adalah seseorang yang mampu mengatur, menjalankan, menanggung resiko bagi pekerjaan-pekerjaan yang ditempuhnya dalam dunia usaha. Para wirausahawan dengan sifat alamiahnya tidak mengenal golongan karena di dapat berupa seorang laki-laki muda yang menjual kaset musiknya di pasar, seorang wanita muda yang menjual hasil lilin hasil buatannya sendiri, atau sepasang suami istri yang memasok barang-barang kebutuhan rumah tangga.  Dia bisa bekerja sendirian seperti mengambil barang dagangan dan menjualnya di pasar-pasar atau bisa mengolah hasil panen di desanya untuk dipasarkan dalam bentuk yang berbeda dari aslinya. Yang terpenting adalah tidak menggantungkan hidupnya dengan orang lain, dia bersifat mandiri dan memenuhi kebutuhannya sendiri.
      Seorang wirausahawan dapat berkembang dari minat atau bakat yang mereka miliki, akan tetapi kreatifitas dalam berusaha justru akan membantu kelancaran usahanya. Ada beberapa watak seorang wirausahawan yang harus dipahami dalam menjalankan sebuah usaha. Berikut ada 7 langkah yang perlu diikuti seperti berikut ini:
1.       Disiplin diri, yaitu selalu berpegang teguh komitmen atau mematuhi aturan yang dibuatnya sendiri.
2.       Rincian, yaitu usaha-usaha kreatif yang selalu belajar mendisiplinkan diri untuk berurusan dengan rincian-rincian sepeti keuangan, pendataan/administrasi dan pembuatan rencana-rencana kegiatan.
3.       Menghargai, yaitu memberikan penghargaan atas hasil yang diterima. Guna watak ini adalah selalu memberikan kesempatan untuk mengembangkan diri dan menghargai hasil karya.
4.       Kreativitas, yaitu semakin kita berbeda dalam menghasilkan sebuah produk yang dibutuhkan pasar akan berkecenderungan untuk diminati.
5.       Bentuk atau Gaya, yaitu bagaimana seorang wirausahawan akan membentuk karakter diri dan produk yang membedakan dengan orang dan produk lain.
6.       Keluwesan, yaitu mampu untuk menyesuaikan diri dan mampu melihat berbagai cara pemecahan suatu masalah.
7.       Komitmen, yaitu keteguhan untuk melakukan sesuatu yang kita yakini dalam perbuatan dan tidak menjadikan contoh yang negatif.

Daftar Pustaka
Alwy Hasan, 2000. Kamus Umum Bahasa Indonesia, Balai Pustaka, Jakarta.
Arfani, M. Saad, 2011. Jauhnya Sekolah Jadi Penyebab Anak-anak Pedesaan Tidak Melanjutkan Pendidikan, Kompas, Jakarta.
Darlan, H.M.Norsanie, 1982. Pendidikan Kewiraswastaan, PLS, FKIP Unpar, Palangka Raya
------------, 2010. Pemuda Harus Jadi Pelopor, Dispora KalTeng, Palangka Raya.
------------, 2011.Kewiraswastaan  Pemuda  Sebagai   Pelopor Pembangunan  Ekonomi   Bangsa, Dispora, Palangka Raya.
Gafur, Abdul, 1980. Pidato Ceramah Umum dalam P-4 Pemuda type 140 jam, Menteri Pemuda dan Olahraga, Jakarta.

Harsono, 1997. Pembinaan Masyarakat Desa Hutan, Kementrian Kehutanan Republik Indonesia, Jakarta.

Hidayat , Komaruddin, 1999. Ormas Keagamaan dalam Pemberdayaan Politik Masyarakat Madani: Telaah Teoritik - Historis”, dalam komunitas,
jurnal Pengembangan Masyarakat,  Volume 4, Nomor 1, Juni 1999. Jakarta. jurnal Pengembangan Masyarakat,  Volume 4, Nomor 1, Juni 1999. Jakarta.
Husein, Mubarok , 2009. Wirausaha Untuk Mengatasi Perampokan Ekonomi Bangsa, mahasiswa  jurusan Teknik Elektro dan Teknologi Informasi,UGM, angkatan, Yogyakarta.
Moeliono, Anton, 1989. Kamus Besar Bahasa Indonesia,  Kementrian Pendidikan Nasional RI, Jakarta.
Muizzuddin, 2009. Mewujudkan Kesejahteraan dengan Menerapkan Ekonomi Islam, Mahasiswa Berprestasi UNSRI, Palembang.
Rohanah,Hj.Aan, 2010. Revitalisasi Kepeloporan, Artikel, Anggota DPR RI dari Fraksi PKS, Pembina Pesantren Al-Hikmah Bobos Cirebon.
Moeliono, Anton, 1989. Kamus Besar Bahasa Indonesia,  Kementrian Pendidikan Nasional RI, Jakarta.
Muizzuddin, 2009. Mewujudkan Kesejahteraan dengan Menerapkan Ekonomi Islam, Mahasiswa Berprestasi UNSRI, Palembang.
Rohanah,Hj.Aan, 2010. Revitalisasi Kepeloporan, Artikel, Anggota DPR RI dari Fraksi PKS, Pembina Pesantren Al-Hikmah Bobos Cirebon.
Tohir. M, 2010. Diksar Pekat Diharap Mampu Wujudkan Kepeloporan Pemuda, Dispora Sumut, Medan.
Poerwadarminta, WJS, Kamus Umum Bahasa Indonesia, Balai Pustaka, Jakarta.
Setiawan, Budi, 2010. 2010. Tujuan program Pemuda Pelopor, Kementrian Pemuda dan Olahraga, Jakarta.
Siregar, Huala,  1991. Mendefinisikan Pemuda Pelopor Manusia Merdeka, Berkarya Tanpa Pamrih, Jakarta.
Shadily, Hassan, 1980. Ensiklopesia Indonesia, Ichtiar Baru, Jakarta.
Wildan, Lalu, 1991. Agar penilaian Pemuda Pelopor tidak hanya dibatasi pada 4 bidang saja, Staf Ahli Menporan RI, Jakarta.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar